SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.
Interview With Cholis Akbar (redaktur situs hidayatullah.com)
Isu apa saja yang lagi ‘in’ di hidayatullah saat ini, ust?
Alhamdulillah, kalau isyu sih banyak dan macam2. Tapi umumnya hal-hal yang berkaitan dengan Islam saja
Sebesar apa urgensi isu itu diangkat?
Ya karena banyak media berfokus pada masalah umum. Kita memilih lebih spesifik saja. Yakni masalah keislaman.
Kalo kita melihat sekian banyak media Islam dengan berbagai genre-nya, menurut saya hidayatullah itu lebih banyak misi ghazwul fikri-nya. Sehingga identiknya dikalangan aktivis kalo cari media yang spesialis meng-counter sekulerisme, pluralisme, dan pemikiran barat lainnya ya Hidayatullah. Bagaimana menurut antum tentang pendapat saya ini?
Mungkin benar dan alasan itu bisa kami dimaklumi. Memang ada beberapa rubrik dan fokus perhatian kita tentang paham sekularisme, pluralisme (kadang-kadang menggunakan istilah multikulturalisme) dan liberalisme ini. Tapi tak dominan isinya melulu itu. Ada rubrik2 akhlaq dan fikih yang itu juga tak kalah penting bagi umat. Tapi secara umum, media ini kami khususkan untuk semua harakah dan semua aktivis Islam. Mau HT, Tarbiyah, Salafi, NU, Muhammadiyah, Tabligh dan sebagainya. Walau tak semua bisa terwakili. Setidaknya, kita disatukan dengan isu bersama atau common enemy. Perasaan bersama itulah yang akan menjaga kita semua.
Apakah konsep awal Hidayatullah itu memang begitu? Apakah lalu konsep tersebut muncul ditengah perkembangan situasi?
Ya sejak lahir memang diniatkan itu. Tetap memang, sebagaimana yang kami sebutkan tadi, tak akan semua bisa terwakili. Kalau dalam istilah fikih, jika tidak bisa meraih semua ya jangan tinggalkan semua (maa yudriku kulluhu, laa yudriku kulluhu)."
Kalau di situs hidayatullah(dot)com, apa saja yang menjadi kendala didalamnya? Apakah berbeda dengan kendala pada media cetaknya?
Pertama, agak berbeda sedikit. Tapi umumnya prinsipnya sama. Kalau di situs ini kan tak perlu mencetak dan tak perlu halaman. Jadi lebih mudah. Kedua, media online tidak perlu menunggu sehari, seminggu atau sebulan. Dengan online kita bisa update tiap jam. InsyaAllah tak ada kendala serius. Kendala serius bagi kami adalah menemukan para reporter/penulis/kontributor bervisi mujjahid. Itu yang tak bisa dicari dalam waktu sekejab.
Menurut pendapat antum, apa yang membuat aktifitas menulis sebagai alat untuk berdakwah menjadi begitu penting (urgent) untuk dilakukan?
Nah, ini pertanyaan sangat menarik. Mengapa aktifitas menulis (khususnya jurnalistik itu penting) karena dengan menulis kita bisa berdakwah. Dengan ilmu jurnalistik kita bisa mengungkap fakta dan kebenaran Islam. Dalam teori komunikasi dikenal istilah komunikasi intrapersonal (pribadi) dan komunikasi massa. Nah, melalui media kita melakukan komunikasi massa yang efeknya luar biasa. Khususnya melalui media massa. Kekuatan tulisan di media massa bisa mengalahkan ceramah dai di mimbar jumat. Kenapa demikian? karena di mimbar jumat hanya didengerin tak lebih dari 5000 orang dan setelah khotbah orang sibu dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan mungkin bisa lupa ceramah sang ustad. Sedangkan dengan menulis di media massa, orang bisa membaca berulang-ulang, mengkopinya, memfarward bahkan mencetak ulang. Sifat inilah yang agak beda jika kita berceramah. Sayangnya, banyak aktifis Islam masih pada minta menulis hal-hal berbau fiksi seperti novel atau cerpen. Padahal banyak jenis menulis di media massa yang jauh lebih penting.
Tulisan-tulisan siapa saja yang selama ini antum suka ? (yang lokal, maupun luar negeri, beserta alasannya kenapa tulisan-tulisan orang-orang tersebut antum sukai)
Banyak lah. Pertama buku-buku karya para ulama salaf. Juga kalau urusan hukum saya terkadang suka para masyayyih-nya Salafy. Tetapi untuk yang kontemporer saya juga suka Syeikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Aid al Qarni dan Syeikh Wahbah Zuhaili. Juga tulisan2 Sayyid Sabiq, dan Ali Audah. Kalau tulisan-tulisan pemikiran Islam serius di Indonesia kami suka mas Adian Husaini, Dr. Hamid Zarkasy dan teman-teman INSISTS. Kadang-kadang untuk tulisan-tulisan Islam yang bergaya funky saya suka tulisannya Emha Ainun Nadjib, tapi dia sudah jarang menulis sibuk nyanyi melulu.
Tulisan para ulama salaf dan imam mahzab itu jauh lebih dewasa dibanding ulama kita sekarang ini. Antara imam Malik dan Imam Ahmad bisa pendapat soal hukum. Tapi beliau berdua tak pernah saling melakukan takfir atau mengkafir-kafirkan. Bedanya dengan kita, baru ngaji sebulan sudah saling mengkafirkan dan ogah berpelukan karena berbeda "bendera" atau beda harakah. Padahal kalau sudah menyangkut urusan Islam, urusan "bendera" itu sudah harus kita tinggalkan.
Kira-kira apa visi antum ke depan sebagai pimred situs hidayatullah(dot)com?
Saya ingin media Islam menjadi tempat rujukan kaum muslim dan aktivis Islam dalam melihat/mencari referensi sesuatu, khususnya referensi masalah keislaman. Ibaratnya, jangan mencari makanan halal di restoran china. Kecuali restoran itu sudah dalam label "halal" dai MUI. Hehehe. Nah, jika sikap kita masih sembarangan. Misalnya asal mencari makanan yang enak, bukan mencari yang enak dan tayyib (halal), itu artinya kita masih tidak pinter2 dalam urusan agama. Sebab dalam Islam itu tak hanya enaknya yang dicari. Harus enak tapi halal. Umumnya kita cuma cari enaknya bukan cari halalnya. Untuk apa hanya cari yang enak jika di akherat kita diminta pertanggungan jawab. Nah, hidayatullah.com itu kita usahakan ke sana. Bagaimana menjadi "makanan halal" dan "toyyib" bagi kaum Muslim dan aktifis harakah.
Menurut antum, media televisi Al-Jazeera selama ini menjadi petokan tiap berita dari timur tengah, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. selama ini kami belum bisa menilainya secara obyektif karena keterbatasan pengetahuan kami. kalo mau percaya 100% rasanya blum bisa. Mau nggak percaya, juga jaadi serba salah. Mungkin kami masih mempertanyakan bahwa benarkah mereka tidak ikut terhegemoni oleh pemikiran barat? btw, kami juga sempat kaget juga ada banyak reporter Al-Jazeera yang gak berjilbab. Bukan karena reporternya laki-laki lo,...waktu itu asli perempuan. Bagaimana menurut antum sebagai orang yang udah cukup lama di media?
Sumber kami banyak tidak hanya AlJazeera. Jazeera hanya salah satu. Ada Islam Today, Al Mafkarah Al Islami, Islamnemo, Islamonline, Al Arabiya, Qudpress, PressTV, Al misriyoon, Arabnews, ya banyak lah. Belum terhitung sumber-sumber dari Barat. Semisal AP, UP, AFP, Reuter dll.
Tentu bagi media seperti kami, akan mengutamakan berita bersumber dari kantor/media Islam jika menyangkut masalah keislaman. Dan tidak mendahulukan sumber asing. Hal yang sama juga saya sarankan untuk kaum muslim dan para aktifis Islam. Nah, kalau berita teknologi, umum kita baru mendahulukan sumber Barat. Bukan apa-apa, sebab selama ini mereka (memdia Barat) sudah punya maintream dan image buruk sendiri tentang Islam. Dan itu terus terbawa dalam tiap berita dan tulisan-tulisan mereka.
Afwan sebelumnya, ana sekalian tabayyun. ana emang nggak seberapa ngerti soal kepengurusan/hubungan antara Hidayatullah yang pesantren, majalah, BMH, dan cabang-cabang lainnya. Ana nanya soal koperasi Hidayatullah yang ada di keputih (yang namanya cukup dikenal itu-red), mengapa masih menjual produk-produk pro AS-Zionis ya? Apa kira-kira 'ijtihad' mereka hingga sangat kontras dengan ikhwah-ikhwah di Suara Hidayatullah dan para Ustadz yang ada di pesantren Hidayatullah yang ana tahu sangat ketat dalam hal-hal 'berbau darah' gitu....hiiii....
Pertanyaan bagus. Tapi ini harus dijawab agak panjang biar gak salah paham. Banyak gerakan Islam memiliki underbow. Tak hanya Muhammadiyah atau NU. Tabiyah misalnya memiliki underbow seperti PKS, IKADI, BSMI, PKPU, LMI, KAMMI dll, hidayatullah juga sama. Ada BMH di wilayah koordinasi zakat umat. Ada lembaga pendidikan berupa sekolah dan pesantren. Termasuk usaha koperasi berupa supermarker dan usaha bisa media massa berupa majalah dan media online. Hanya saja, masing-masing sangat mandiri dan tidak bisa saling melakukan intervensi.
Betul kami punya kendala. Sebelum mengeluarkan seruan boikot kami sudah melakukan interview beberapa ulama, ahli fikih dan tokoh-tokoh yang sangat pamah syariah. Memang kesimpulannya, dalam hukum jual beli yang penting tidak ada unsur haram. Kita sudah mengukur. Bahkan kalau kita semua jujur. Faktanya belum siap 100%. Saya memahami komentar miring seperti itu. Kita sudah ngobrol sama direkturnya, memang sebagian besar menghabiskan stok lama katanya. Setidaknya, katanya, akan terus diusakan tidak menjual produk seruan boikot yang sebagaimana dikeluarkan situs inminds.com. Sekedar catatan, Inminds.com tahun 2008 tak mencantumkan unilever dalam daftar boikot. Langkah ke depan kita akan terus melakukan edukasi untuk kalangan intern dan masyarakat. Bahwa, kasus ini harus membuat pelajaran bagi kita semua bahwa harus segera mencari produk pengganti dan tidak sekedar menyeru larangan. Saya masih berkhusnudzan dalam kasus ini. Kepada Allah saya beristighfar dan mohon ampunan.
Menurut antum, untuk benar-benar bisa menjadikan situs hidayatullah jadi bener-bener situs dakwah yang antum dambakan, kira-kira butuh berapa personel ? dan apa seharusnya tugas mereka masing-masing? syukron,...ini balasan interview tercepat yang pernah kami terima...
Memang idealnya banyak. Tapi harus bermutu. Yang penting bagi kami adalah baik secara ruhiyah, ilmu dan agamanya. Terakhir memiliki semangat (ruh) jihadiyah. Ketrampilan bisa sambil jalan. Visi kami saat perang Badar. Bahwa seorang "pejuang" muslim itu nilainya harus setara dengan 10 orang-orang kafir. Karenanya kepada teman2 reporter saya sering saya sampaikan begini, "For US, One Man Ten Jobs!". Syukron
Mendidik Para Mujahidin dengan Pena

“Ratusan tulisan dan pidatonya mampu menghidupkan ruh baru dalam diri umat islam. Seolah-olah beliau dipilih oleh Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan oleh sebagian besar umat islam, yaitu Jihad,” begitu komentar Dr Dahba Zahely, cendekiawan muslim asal Malaysia tentang Dr Abdullah Azzam.
Jum’at memang menjadi hari yang suci. Hari itu juga, seorang pejuang bersuci dengan darahnya. Tepat ketika sholat Jum’at akan ditegakkan. Dua puluh tahun yang lalu, seorang panglima kebanggaan umat telah pergi untuk selamanya. Cita-cita seorang mujahid memang tak pernah berubah. Ketika kematian menjadi sebuah kenikmatan dan ketika jasad dibumbui wangi syurga. Walaupun mobilnya diguncang, tubuh sang syuhada’ tetap rapih tanpa cacat.
Dilahirkan tahun 1941 di desa Silah Al Haristiya yang dikenal sebagai Qaryatul Jihad (desa jihad). Karena desa itu pernah melahirkan Mujahid bernama Yusuf Sa’id Abu Durrah. Kemudian pernah juga menjadi markas Mujahid legendaris Syaikh Izzuddin Al Qossam. Ia berasal dari keluarga yang religius, ia menjadi pribadi yang menarik bagi orang di sekitarnya. Ia dibiasakan orang tuanya untuk menghafal Qur’an, mengaji dan dekat interkasi dengan masjid. Azzam kecil dikenal sebagai sosok pemimpin yang cerdas, tegas, dan berani.
Sejak kelas 1 SMP, ia sudah bergabung dengan Persaudaraan Islam (Ikhwanul Muslimin). Bahkan ia langsung membentuk kelompok-kelompok dakwah yang berisikan teman-teman dekatnya. Ia pun semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti mengunpulkan dana sosial untuk anak yatim, janda dan fakir miskin serta membuka ladang-ladang dakwah baru.
Kesibukkannya dalam aktivitas dakwah bukan berarti ia lupa akan jihad akademiknya. Ia lulus di Fakultas Syariah Universitas Damaskus dengan predikat jayyid jiddan (baik sekali). Bahkan ketika ia disibukkan dengan aktivitas jihadnya melawan Israel di Palestina, ia mampu menyabet gelar Doktor dalam bidang Fiqh di Universitas Al Azhar dengan predikat Imtiyaz Bimartabah Syaraf ‘Ula (Cumlaude dengan pernghargaan tingkat pertama). Luar biasa…
Seandainya ia mau hidup mapan, mudah saja. Beberapa kali ia diminta untuk menjadi dosen dintaranya Universitas King Abdul Aziz. Tapi darah pejuang terlanjur mengalir dalam jiwanya. Ia berprinsip,“Berdiri satu jam dalam pertempuran di jalan Allah SWT, lebih baik daripada berdiri menunaikan sholat selama enam puluh tahun,”. Akhirnya, ia putuskan untuk menjadi ayah bagi para mujahidin Afghanistan.
Kemampuan orasinya, tulisannya, akhlaknya mampu menyihir pemuda-pemuda islam di kolong jagat raya. Yang paling top ya bukunya. Beberapa bukunya yang populer dalam membangkitkan semangat para mujahidin adalah Signs of Ar Rahman in the jihad of Afghan, Join the Caravan, Defence of the Moslem land and lovers of the Paradise Maidens. Tulisan-tulisan itu dibuat dibawah desing mortir dan dentum bom.
Apresiasi khusus untuk buku berjudul Ayatur Rahman fii Jihadil Afghan atau tanda-tanda keajaiban ayat-ayat Allah pada jihad di Afghanistan. Buku itu yang mengajak ribuan pemuda islam untuk berangkat jihad ke Afghanistan. Mereka ingin benar-benar menjadi saksi keajaiban itu.
Ajaib dimana ada cerita tentang dua puluhan orang mujahidin yang sukses membuat ribuan pasukan Rusia bersenjata lengkap, kocar-kacir. Atau kisah seorang bocah yang memamerkan korek api di depan tank Rusia yang sudah siap tembak. Mereka juga lari terbirit-birit. Atau kisah satu kuadron jet tempur Rusia yang jatuh karena tembakan sebuah pistol yang dibumbui kalimat takbir, Allahuakbar!!!.
Gimana nggak bergetar kalau membaca buku ini. Tulisan Dr Azzam memang sangat menginspirasikan. Tidak terkecuali, buku berseri berjudul Tarbiyah Jihadiyah. Sekali lagi, semua itu ditulis ketika ia sedang berperang. Bukan sedang bersantai. Kok bisa ya…sempat-sempatnya menulis. Beda dengan kita yang tidak produktif, padahal dalam kondisi damai.
Satu kalimat yang menarik dari beliau,”Islam diwarnai oleh dua hal. Hitam tinta para Ulama dan merah darah para Syuhada’,”. Sekali lagi saya bersepakat dengan pendapat beliau. Tinta-tinta orang yang berilmu tidak akan pernah luntur. Dan pahala seorang penulis tetap mengalir. Saya pun masih kesengsem dengan gaya tulisan Dr Azzam yang lugas, argumentatif, jujur dan terkesan merangkul pembaca.
Walau jasadnya tiada, ia tetap meninggalkan kenangan. Saksinya adalah 17 buku, 300 kaset ceramah, 50 video ceramah, dan ratusan tulisan pembela islam di media massa seantero dunia. Benar-benar seorang ulama yang komplit. Wahai Pemuda, Siapakah diantara kita yang ingin segera mengikuti jejaknya?
By: Bey erest
Menjaga Nyala Api

Api, ...untuk menyalakannya membutuhkan bahan bakar. Sedangka bahan bakar sendiri memiliki berbagai macam karakteristik. Ada yang hanya mampu menyalakan api kecil dalam waktu singkat saja, ada yang mampu menyalakan api kecil namun mampu bertahan hingga lama. Ada juga bahan bakar yang mampu menyalakan api hingga api tersebut besar berkobar. Namun hanya sebentar. Tapi ada juga yang mampu membuatnya berkobar dan bertahan begitu lama. Memang sesekali agak meredup, namun hanya sebentar, lalu api kembali berkobar.
Tak ada bedanya dengan diri kita. Ada kalanya kita menemui diri kita dan orang-orang disekitar kita memiliki berbagai jenis kobaran api keimanan dan ketaqwaan. Seringkali saya menemui teman-teman lama yang dulunya hidupnya belum mengenal hijab, namun saat ini telah diberi hidayah oleh Allah untuk menjaga kehormatannya dengan jilbab. Ada pula yang dulu hanya seminggu sekali menginjakkan kakinya di masjid ketika shalat Jum’at, namun sekarang kami sering bertemu dideretan jamaah shalat dhuhur dan ashar di masjid disekitar kantor. Bahkan ada pula yang dulu bergelimang isme-isme hasil produksi barat, saat ini getol (baca: ulet) berdakwah memperjuangkan Islam.
Bagi diri kita sendiri,...jangan terlalu bangga dulu dengan diri kita. Mungkin kita tidak seredup api iman dan ketaqwaan yang dirasakan contoh-contoh diatas, namun harus kita akui betapa beratnya menjaga ‘api’ keimanan ini untuk tetap dalam kondisi puncak. Berapa gunung dosa-dosa kecil yang kita tumpuk setiap harinya? Masih untung bagi kita yang tidak bergelimang dosa-dosa besar dalam keseharian kita. But, siapa yang menjamin diri kita bisa bertahan untuk menghindarinya?
Memang benar-benar berat bagi setiap muslim untuk terus menjaga kobaran semangatnya. Begitu pula yang saya rasakan setiap saat dan setiap waktu. Syetan terus mengutus anak buahnya untuk menggoda manusia untuk berbuat dosa dengan memercikkan (bahkan kadang menyiramkan-pen) air kearah bara api itu. Hanya yang memiliki unshakeable mentality yang mampu memenangkan pertarungan. Selain itu akan mudah sekali KO, futur, menyerah pada keadaan, dan akhirnya tersedot lebih dalam lagi ke arah dosa yang lebih berat.
Rasanya tidak ada lagi rumus yang paling tepat selain terus mengisi seluruh ruang dalam diri kita dengan mendekatkan diri kita kepada Allah. Carilah sesuatu dalam diri kita yang bisa memicu unshakeable mentality (mental yang tak tergoyahkan). Bagaikan sumber minyak yang tak ada habisnya. Yang terus mengalir keluar dan membuat api terus berkobar tanpa henti.
Tak Boleh Ada yang Miss (yang Terlewat)!

words: smokefreeyouth
Hari-hari yang sangat ditunggu dalam bulan yang indah ini akhirnya datang juga. Memori tentang Ramadhan yang lalu-lalu rasanya kembali hadir di ingatan. Setiap tahun ke tahun, Ramadhan selalu memberikan kesan yang indah bagi aku. Mulai saat-saat masih SD, disekolah selalu mengadakan acara “Pondok Romadhon” yang mengharuskan siswa untuk mengikuti program tarbiyah ramadhan di sekolah dari pagi hari hingga keesokan harinya. Perasaan ceria karena bersama teman-teman, rasa senang ketika bisa memakai pakaian muslim bebas, kenikmatan ketika berbuka bersama, termasuk pula rasa bosan ketika harus mengaji dan shalat tarawih 11 rakaat dan mendengarkan ceramahnya yang panjang. Haha!...Walaupun dulu belum terlalu memahami arti bulan penuh berkah ini, tapi cukuplah memberikan kesan yang mendalam, bahwa setiap Ramadhan punya kesan tersendiri.
Di akhir Ramadhan tahun lalu, aku berdo’a kepada Allah Ta’ala, agar Allah mengampuni dosa-dosaku. Dosa karena telah ‘mengecewakan’-Nya atas pemberian bulan yang berisi berkah tak terhingga ini tidak aku manfaatkan dengan yang terbaik. Waktu itu, semua kata hanya kuucapkan dalam hati. Sulit bagi lisan ini untuk mengungkapkan penyesalan-penyesalan itu. Tanganku menengadah ke atas dan tak terasa wajahku telah basah oleh air mata….Namun semua itu telah berlalu. Tak akan mungkin waktu yang telah terlewat bisa diulang kembali. Akhirnya aku berdo’a agar Allah Swt memberikanku kesempatan untuk mempertemukanku dengan Ramadhan yang berikutnya. Aku memohon agar jangan nyawa ini dicabut sebelum Allah Swt mempertemukanku kembali dengan bulan yang indah ini, lalu Dia membimbingku melakukan segala ibadah dibulan itu dengan maksimal, dan bersedia mengampuni seluruh dosa-dosaku.
Ketika aku tulis catatan ini, Ramadhan sudah menunggu di depan mata. Tiga minggu lagi jutaan rahmat dan pahala yang Allah taburkan disetiap aktifitas kita bebas kita panen sebanyak mungkin. Aku teringat apa saja yang harus kulakukan. Yang dulu belum kulakukan dengan sekuat tenaga, maka Ramadhan ini harus maksimal. Tidak boleh ada miss lagi kali ini! Ku siapkan lebih dulu ‘persenjataan’-ku. Karena berikut ini akan datang sebuah ‘perang’ besar. Perang untuk ‘menaklukkan’ diriku sendiri. Dan sekali lagi,...TAK BOLEH ADA MISS !
Fiqih Jihad Karya Yusuf Al-Qaradhawi (Sebuah Resensi Buku)
Judul: Fiqih of Jihad
Pengarang: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit: Wahba Bookshop
Tahun: 2009
Jumlah halaman: 1439
dakwatuna.com – Buku yang diberi judul “Fiqih of Jihad” ini ditulis oleh seorang mujahid dan ulama Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi, berjumlah lebih dari 1400 halaman dan diterbitkan oleh Wahba Bookshop, Cairo. Banyak para pembaca yang gelisah menunggu penerbitan buku ini dalam jangka waktu yang sangat lama. Namun demikian, Syeikh mempertimbangkan dan menundanya sampai buku ini sepenuhnya selesai ditulis, lalu, setelah merasa puas dengan isinya, beliau merilisnya sebagai sebuah cahaya petunjuk yang mengusir awan kegelapan menaungi ummat yang kebingungan ini.
Mengapa Yusuf Al-Qardhawi? Dan Mengapa Jihad?
Belakangan ini, banyak ulama yang diminta untuk meluaskan ruang lingkup ijtihad mengenai hal-hal yang berkaitan dengan jihad, sejak beberapa topik yang meliputi amal-amal ibadah atau transaksi, khususnya transaksi finansial, telah menerima hasil kontribusi dari ijtihad individu dan kolektif. Sedangkan, jihad belum pernah mendapatkan sebuah kontribusi (usaha) serupa walaupun betapa urgennya hal ini dan betapa butuhnya masyarakat terhadap hal ini di seluruh lapisan usia, khususnya di zaman sekarang di mana banyak negara mengajak negara lainnya untuk berkolaborasi melawan ummat layaknya orang banyak yang duduk mengelilingi piring makanan dan mengajak orang lain untuk memakannya.
Di sisi lain, orang lain merasa takut membuka pintu untuk penelitian dan penulisan pada topik jihad di zaman sekarang agar jangan sampai ijtihad muncul menjadi pembenaran dan lemah, seperti status ummat ini. Mereka takut bahwa ijtihad mungkin bisa berkembang menjadi pengkhidmatan dan pembenaran terhadap kenyataan pahit kita, menganjurkan kaum muslimin untuk mendukung perdamaian di zaman yang hanya mengenal bahasa agresi.
Mereka juga takut bahwa ijtihad mungkin menjadi sesuatu yang keras sebagai sebuah reaksi atas tumpahan darah di tangan musuh-musuh kita, pelanggaran atas kewajiban-kewajiban suci, dan penyerobotan atas lokasi-lokasi suci kita. Oleh karena itu, ia akan menjadi ijtihad yang bersifat balas dendam yang tidak menghormati hubungan kekerabatan atau ikatan perjanjian dan tidak menghormati kewajiban-kewajiban atau kesucian, yang memiliki motto perkataan Ibnu Zuhayr, “Barangsiapa yang tidak membahayakan orang akan dirugikan”.
Namun, Allah SWT membuka hati Syeikh yang berpendidikan tinggi dan memudahkan sarana untuknya untuk melakukan beban yang besar ini dan menyelesaikan dengan baik tugas ini sehingga hal tersebut tidak menjadi ijtihad yang bersifat pembenaran atau pun pembalasan. Dengan demikian, buku tersebut datang bersinar ketika syeikh melewati usia 80 tahunnya (lahir tahun 1926). Dalam usianya yang terbaik, orang ini tidak takut dan tidak pula tergoda oleh pedang maupun kekayaan dari penguasa, walaupun demikian faktanya kenyamanan hidup ada dalam genggamannya.
Dia bahkan harus dilengkapi dengan beberapa kenyamanan tersebut sehingga dia bisa menggunakannya untuk memenuhi proyek-proyek yang dia kerjakan dan cita-citakan. Dengan semua alasan ekstra, dia tidak memberikan perhatian kepada berbagai sikap menyalahkan sepanjang jalannya mengenai Tuhan setelah hidup yang panjang dalam ketekunan dan jihad. Walaupun dia menerima banyak gangguan dan marabahaya dari dalam maupun luar negerinya, dia tetap gigih dan tekun, mencari balasan dari Allah SWT, sampai dia memperoleh peringkat tinggi yang merubah hati dan pikiran orang-orang terhadapnya.
Selain itu, tidak ada seorang pun yang dapat meragukan usaha dan jihad yang diusung oleh Syeikh untuk mempertahankan kepentingan agama, dalam ketajamannya pada fundamental (pokok-pokok) agama, dan pertahanannya pada batas-batas agama sepanjang hidupnya. Beliau tidak pernah dipusingkan dalam mencari berbagai kenikmatan dunia, tidak pernah membujuk siapa pun dalam hal keselamatannya di akhirat, dan tidak pernah memberikan perhatian kepada berbagai sikap menyalahkan yang dia terima sepanjang jalannya menuju Tuhan.
Selain itu, tidak ada yang dapat menuduh dia fanatik atau ekstrim karena dia adalah pemimpin dan ahli teori dalam ke-moderat-an di era modern serta muballigh dan penganjur jalan tengah di dalam pikiran dan fiqih nya.
Dan lagi, kita menemukan bakat beliau dalam bidang hukum, pengetahuannya tentang realitas, keterikatannya yang kuat kepada hukum peninggalan zaman dulu, dan kompetensinya untuk berurusan secara benar dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi, dalam cahaya tersebut, kita berharap banyak bahwa banyak orang akan setuju dengan ijtihad dan pemikiran beliau.
Antara Fiqih Zakat dan Fiqih Jihad
Syeikh yang terpelajar menulis bukunya yang berjudul Fiqih Zakat (Fiqh of Zakah), di mana dia memperoleh gelar PhD., pada tahun 1973. Tiga puluh enam tahun kemudian, beliau mempublikasikan bukunya yang berjudul Fiqih Jihad (Fiqh of Jihad), dan dalam mukadimah buku tersebut beliau menyatakan:
Saya merasa berkewajiban untuk melakukan penulisan tentang topik ini setelah Allah membuka dadaku untuk itu. Beberapa kali, sejak saya menyelesaikan buku Fiqh Zakat, terlintas dalam pikiran saya ide untuk menulis sebuah buku serupa mengenai Fiqih Jihad. Dan, beberapa kali punya kawan-kawan terhormat yang meminta saya untuk menulis tentang hal ini di mana masyarakat luas terpecah-belah. Namun, saya meminta maaf kepada mereka, memberikan alasan bahwa saya tidak memiliki semangat untuk melakukan tugas seperti itu.
Meskipun demikian, saya menulis beberapa potongan tentang hal ini di masa lalu, menunggu saat yang tepat untuk menulisnya dengan cara yang reguler, cara yang tidak terputus-putus. Hal ini karena tema jihad adalah salah satu dari berbagai topik mendasar yang harus diarahkan melalui penulisan yang sistematis dalam rangka untuk (memenuhi) kebutuhan kaum muslimin, secara khusus, dan dunia, secara umum, agar memiliki pengetahuan yang benar tentang jihad, jauh dari melewati batas ekstrim dan – sebaliknya – kelalaian.
Meskipun pada dasarnya Fiqih Zakat mengarahkan zakat sebagai salah satu kewajiban yang dikenakan oleh Islam kepada kaum muslimin dan salah satu pilar dasar Islam (rukun Islam), hal ini juga dianggap sebagai jenis jihad; ini adalah jihad dengan harta. Jenis jihad ini, sangat dihormati dan sangat diperlukan, baik pada saat ini maupun saat yang lain.
Pentingnya Jihad dalam Fiqh yang Ditulis Yusuf Al-Qardhawi
Dari baris paling pertama pada mukadimah, Syeikh Yusuf Al-Qardhawi mengilustrasikan pentingnya kewajiban yang telah lepas ini dan bahaya yang dihasilkan untuk ummat saat ini dan yang akan datang. Beliau mengatakan:
Tanpa jihad, garis batas ummat akan dilanggar, darah orang-orang yang ada di dalamnya akan semurah debu, tempat-tempat sucinya akan tidak lebih baik dari pasir di gurun, dan ummat tidak akan bernilai signifikan di mata musuh-musuhnya. Sebagai akibatnya, si pengecut akan mengambil hati untuk menyerang ummat, budak akan tampak di atas dengan arogan, musuh-musuh akan menguasai lahannya, mendominasinya, dan mengontrol orang-orangnya. Ini karena Allah SWT telah menjauhkan rasa takut dari hati para musuh dalam menghadapi ummat.
Jauh di masa lalu, ummat ini akan diberikan kemenangan atas musuhnya dengan jaminan rasa kagum yang ditanamkan Allah SWT ke dalam hati musuh untuk jarak satu bulan perjalanan. Lebih serius dari hal itu – atau katakanlah, salah satu alasan dibalik itu – adalah kenyataan bahwa ummat telah mengabaikan jihad, atau mungkin bahkan menghapuskannya dari agenda. Ummat telah menghapusnya dalam berbagai aspek-aspeknya: fisik, spiritual, intelektual, dan kultural.
Ke-moderat-an Syeikh Al-Qardhawi dan Fiqh Jihad
Syeikh Al-Qardhawi berbicara tentang sikap orang-orang tentang jihad, membaginya ke dalam tiga kategori. Mengenai kategori pertama, beliau mengatakan,
Ini adalah sebuah kategori yang berusaha untuk memberikan selubung kelalaian terhadap jihad dan menjauhkan jihad dari kehidupan ummat. Mereka, malahan, menganggapnya sebagai kepedulian dan peran utama mereka meningkatkan nilai-nilai spiritual dan amal-amal kebajikan ummat – sebagaimana klaim mereka –, dan mempertimbangkan hal ini sebagai jihad yang utama: perjuangan terus-menerus melawan setan dan hawa nafsu seseorang.
Mengenai kategori kedua, beliau mengatakan,
Sebagai lawan dari kategori di atas, di sana ada yang lain lagi yang mempersepsikan jihad sebagai sebuah “perjuangan melawan seluruh dunia”. Mereka tidak membedakan antara yang memerangi kaum muslimin, berdiri di jalan dakwah, atau yang mencoba menjauhkan mereka dari agamanya, dan mereka yang melebarkan jembatan perdamaian kepada kaum muslimin dan menawarkan rekonsiliasi serta pemulihan hubungan dengan mereka, tidak menggunakan pedang kepada mereka dan tidak mendukung musuh dalam melawan mereka.
Menurut kategori ini, semua orang kafir adalah sama. Orang-orang yang tergolong kategori ini percaya bahwa ketika kaum muslimin memiliki kemampuan, mereka berkewajiban untuk memerangi orang-orang kafir hanya dengan pertimbangan kekafiran mereka, yang mereka anggap sebagai alasan yang memadai untuk memerangi orang-orang kafir tersebut.
Beliau lalu memilih pendekatan moderat yang direpresentasikan oleh kategori ketiga, beliau mengatakan,
Kategori ketiga adalah “ummat yang moderat” (ummat pertengahan) di mana Allah SWT telah memberi petunjuk kepada pendekatan moderat dan diberikan pengetahuan, kebijaksanaan, dan pemahaman yang dalam mengenai syariah dan realitas. Oleh karenanya, kategori ini tidak tergelincir kepada kelalaian dari kategori pertama yang berusaha untuk membiarkan hak ummat tanpa dipersenjatai dengan kekuatan, Al-Qur’an-nya tidak dijaga dengan pedang, serta rumah dan tempat-tempat sucinya tanpa penjaga untuk melindungi dan mempertahankan mereka.
Demikian juga, kategori ini tidak jatuh pada tindakan berlebihan dan ekstrimisme dari kategori kedua yang berusaha untuk memerangi orang-orang yang damai, dan mendeklarasikan perang melawan semua orang tanpa membeda-bedakan; putih atau hitam, di Timur atau di Barat. Tujuan mereka melakukan hal itu adalah untuk mengarahkan orang-orang ke (jalan) Allah SWT, mengantarkan mereka yang terbelenggu ke Surga dan membawa mereka secara paksa dengan tangan ke jalan yang lurus.
Mereka (kategori kedua itu) lebih lanjut menambahkan bahwa tujuan mereka adalah untuk menghilangkan hambatan-hambatan di depan orang-orang itu yang dibentuk oleh rezim yang zhalim yang tidak memungkinkan mereka untuk menyampaikan firman Allah dan seruan Rasul-Nya kepada masyarakat, sehingga mereka dapat mendengar dengan keras dan jelas dan bebas dari segala noda.
Kepada Siapa Buku Ini Ditujukan?
Iman Al-Qardhawi me-list beberapa kategori orang-orang yang membutuhkan buku ini dalam rangka untuk memperoleh sebuah pemahaman yang akurat terhadap tema jihad dengan jalan yang bebas dari kelalaian dan berlebihan. Seakan-akan kategori-kategori ini memadukan berbagai kategori dari seluruh masyarakat, muslim dan non-muslim, pemerintah dan yang diperintah, orang-orang sipil dan militer, dan para pemikir serta intelektual. Beliau memaparkan 10 kategori yang saya pikir mencakup kategori dari seluruh lapisan masyarakat.
1. Ulama Syariah. Kategori pertama yang membutuhkan studi semacam ini adalah para ulama bidang Syariah dan para imam fiqih, sebagaimana kebanyakan dari mereka menyuguhkan konsep-konsep yang sudah baku dan warisan budaya tentang jihad. Mereka, sebagai contoh, mempertahankan bahwa jihad adalah kewajiban kolektif dari ummat dan bahwa kewajiban ini mengharuskan kita untuk menyerbu negara-negara non-muslim sedikitnya setahun sekali, bahkan jika mereka tidak menunjukkan sikap permusuhan terhadap kita, hingga kini, daripada, mereka membentangkan tangan perdamaian dan rekonsiliasi. Meskipun pendapat ini menentang banyak ayat-ayat Al-Qur’an, efek dari ayat-ayat demikian – sebagaimana yang telah kami indikasikan di atas – ditiadakan dalam pandangan mereka atas dasar bahwa ayat-ayat tersebut telah dimansukh!
2. Mahasiswa-mahasiswa bidang ilmu hukum: Demikian juga, studi ini dibutuhkan oleh para ahli undang-undang dan para spesialis dalam hukum internasional, banyak dari mereka telah membentuk pandangan mereka sendiri tentang Islam dan Syariah, khususnya tentang jihad, perang, dan perdamaian. Mereka telah memperoleh pandangan-pandangan tersebut dari kutipan terkenal tertentu dari beberapa buku maupun dari informasi yang disebarkan oleh beberapa penulis dan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Orang-orang tersebut sampai batas tertentu tidak bisa disalahkan, karena para ulama Syariah sendiri bingung dalam hal ini. Maka apa yang akan terjadi dengan orang biasa?
3. Para Islamis: Lebih dari yang lain, studi tentang hal ini dibutuhkan oleh para Islamis. Oleh para “Islamis” di sini maksudnya adalah beberapa kelompok Islam yang bekerja dalam mendukung hal-hal Islami, dan yang disebut oleh beberapa pihak sebagai “kelompok politik Islam”. Kelompok-kelompok itu biasanya termasuk pemuda kebangkitan Islam di bawah bendera mereka masing-masing di berbagai negara, baik di dalam maupun di luar dunia Islam. Oleh karena itu, kelompok seperti ini, dengan perbedaan kecenderungan dan sikap mereka, apakah moderat atau ekstremis, benar-benar membutuhkan studi tentang hal ini, khususnya mereka yang dikenal dengan “kelompok kekerasan”.
4. Para sejarawan: Para sejarawan juga membutuhkan studi ini, khususnya mereka yang tertarik dengan biografi Nabi dan sejarah Islam, dan mereka yang mengintepretasikan berbagai peperangan yang dilakukan oleh Nabi SAW dengan cara yang tidak benar dan tidak adil, dengan memandang bahwa Rasulullah-lah yang memulai serangan dan perlawanan kepada para musyrikin. Mereka memberi contoh seperti perang Badar, penaklukan Mekah, dan perang Hunain. Mereka juga menyebutkan bahwa Nabi SAW memulai invasi melawan Yahudi di tempat dan di benteng mereka, menyebutkan perang Bani Qainuqa dan Bani An-Nadir, dan juga perang Tabuk di mana beliau memulai perang melawan Romawi.
5. Para intelektual: Studi ini juga diperlukan untuk orang-orang yang memiliki pemikiran, penelitian, dan perenungan, khususnya mereka yang tertarik dengan pemikiran Islami dan gerakan-gerakan Islam, baik moderat maupun ekstremis, yang timbul darinya, dan juga aksi-aksi kekerasan – atau terorisme sebagaimana yang telah dijelaskan – di mana sebagian dari kelompok-kelompok ini terlibat di dalamnya. Hal ini, sebagai hasilnya, menggiring beberapa orang untuk melontarkan tuduhan kekerasan dan terorisme kepada Islam, sebagaimana semua aksi kekerasan dan semua bentuk terorisme adalah Islam. Tentu saja, hal ini salah dan tidak benar.
6. Para orientalis: Non-muslim, seperti misalnya para orientalis dan mereka yang tertarik dengan studi Islam, juga membutuhkan studi semacam ini. Hal ini berlaku untuk mereka yang tertarik karena ingin mencari pengetahuan dan menemukan kebenaran, atau mereka yang tertarik dengan motivasi politik di mana dilakukan untuk melayani permintaan dari negara-negara tertentu, atau Barat secara umum. Hal ini juga berlaku untuk mereka yang memiliki motivasi keagamaan dalam rangka melayani gereja dan gagasan “Kristenisasi”.
7. Orang-orang yang terlibat dalam dialog: Studi ini sangat penting untuk mereka yang tertarik dalam dialog antar kepercayaan (antar agama), atau dialog antar budaya dan antar peradaban. Dari sudut pandang saya, studi ini merupakan sebuah batu bata yang signifikan dari dialog semacam itu, yang mana kuat di suatu waktu dan lemah di waktu yang lain; maju dan terbentur dari waktu ke waktu. Alasan untuk hal ini terletak pada pikiran yang picik dari beberapa pihak kepada pihak yang lain, kefanatikan yang mendominasi pikiran, dan pilihan cenderung kepada pemikiran turunan (warisan) daripada pemikiran yang tanpa paksaan. Tidak diragukan lagi, orang-orang tidak bisa berdialog jika mereka tidak memiliki pengetahuan tentang satu sama lain.
8. Para politisi: Selain itu, para politisi dan para pengambil-keputusan di seluruh dunia juga membutuhkan studi ini. Mereka membuat keputusan yang amat penting yang berdampak krusial pada nasib bangsa, kehidupan manusia, potensi bangsa, dan kesucian agama. Serangan mereka terhadap agama didasari pada konsep mental mereka terhadap agama tersebut. Mereka, pada kenyataannya, tidak mengetahui tentang hal ini, belum pernah membaca kitab-kitabnya atau kenal dengan biografi nabi SAW; mereka belum pernah mempelajari sejarah agama ini atau bahkan memperoleh informasi yang signifikan tentang iman dan syariat agama ini.
9. Militer: Sebagaimana para politisi membutuhkan studi ini untuk membentuk pendapat yang benar tentang jihad, begitu juga militer, baik itu dia muslim atau non-muslim. Mereka yang salah paham tentang realitas jihad di antara para pemimpin militer Barat, seperti misalnya para politisi Amerika, kebanyakan Jenderal di Eropa; juga – sayangnya – di seluruh dunia, harus membaca buku ini. Pada sisi kami, kami harus menerjemahkan buku ini untuk mereka sehingga mereka dapat membaca dan memahaminya dalam bahasa mereka sendiri. Tidak diragukan lagi, kebanyakan mereka, ketika nada logika disajikan secara jelas kepada mereka, tunduk padanya, dan tidak akan berdebat. Bahkan jika mereka perdebatkan di publik, mereka akan dikalahkan secara internal, dan ini adalah keuntungan yang besar.
10. Intelektual publik: Akhirnya, studi ini juga diperlukan oleh pembaca umum dan biasa, para intelektual yang belum diklasifikasikan di atas, muslim dan non-muslim. Orang-orang seperti ini merepresentasikan massa yang besar di berbagai negara. Mereka perlu mengetahui realitas pandangan dunia Islam dan realitas jihad di jalan Allah.
Pendekatan Al-Qardhawi dalam Memperkenalkan Fiqih Jihad
Yusuf Qardhawi
Kedudukan beliau, ulama, Al-Qardhawi, berbicara tentang pendekatannya dalam bukunya yang – sangat diharapkan – nyaman dan bermanfaat, mengatakan bahwa hal itu terletak pada enam pilar: yaitu, Al-Qur’anul karim, Sunnah yang suci, dan kekayaan Fiqih Islam. Selain itu, beliau mengatakan bahwa pendekatannya juga dibangun untuk membuat perbandingan antara undang-undang Ilahiyah dan sistem (hukum) positif, dengan memperhatikan realitas kontemporer di mana manusia hidup. Oleh karena itu, beliau juga mengadopsi pendekatan yang moderat sebagaimana yang selalu dia lakukan di setiap bukunya, penelitiannya, dan fatwanya. Dalam hal ini, Syeikh mengatakan,
Pendekatan yang saya adopsi dalam menulis buku ini tergantung pada sekelompok elemen:
Pertama, terutama bergantung pada teks-teks dari Al-Qur’anul karim, karena ini merupakan sumber yang pertama dan terpenting dalam Islam, di mana ini adalah kepastian dan tidak dapat dibantah. Hal ini telah dibuktikan secara pasti untuk menjadi (sumber yang) otentik/asli melalui sebuah mata rantai yang handal (tidak diragukan) dan tanpa ada gangguan, dihafal dalam hati, dilantunkan dengan ruh, dan ditulis dalam mushaf (salinan Al-Qur’an). Di sana tidak ada pertentangan tentang hal ini di kalangan para ulama.
Dari Al-Qur’an, kita bisa mendapatkan asli atau tidaknya (otentikasi/keaslian) sumber-sumber lain, termasuk sunnah Nabi itu sendiri. Oleh karena itu, keaslian dari Sunnah didirikan berlandaskan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, kita memahami Al-Qur’an dalam terangnya gaya ekspresi, dengan bahasa literal dan metaforanya, mempertimbangkan urutan dan konteks, menghindari (penafsiran) yang dibuat-buat dan sembarangan, dan menyesuaikan teks-teks, yakin bahwa ayat-ayat dalam kitab yang mulia ini saling menegaskan kebenaran antar satu sama lain, dan saling menjelaskan satu sama lain.
Kedua, gambaran pada narasi-narasi Sunnah yang terjamin yang benar-benar asli disampaikan dari Nabi SAW. Hal ini termasuk apa-apa yang beliau katakan, perbuatannya, dan persetujuannya yang telah disampaikan dalam hadits-hadits dengan mata rantai narasi yang dapat dipercaya (shahih), tanpa ada missing link, keganjilan, dan faktor-faktor yang mengacaukan.
Selain itu, hadits-hadits tersebut tidak boleh kontradiksi dengan yang lebih kuat dan lebih otentik: ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits lain, atau apa-apa yang telah didirikan atas dasar pengetahuan dan alasan. Jadi, mereka harus ilustratif terhadap apa yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an, dan harus berjalan sesuai dengan Kitab dan neraca (keadilan) yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa.
Ketiga, penggunaan dari perbendaharaan fiqih Islam dan gambaran pada sumber daya nya yang melimpah, dengan tanpa bias dalam mendukung fiqih mazhab tertentu melawan mazhab yang lain, atau secara eksklusif berpegang teguh pada satu imam seraya mengabaikan imam yang lainnya. Sebaliknya, kita harus mempertimbangkan warisan yang besar ini untuk dimiliki oleh semua peneliti, sehingga mereka dapat menyelidiki hingga ke dalamnya, mengerti rahasia-rahasianya, dan memanfaatkan berbagai simpanan yang tersembunyi di dalamnya.
Ketika melakukan hal tersebut, seorang peneliti harus membandingkan berbagai sudut pandang yang berbeda, tanpa mengambil posisi fanatik dalam mendukung pendapat tertentu, atau secara permanen mengikuti mazhab tertentu. Kita dapat mengambil pendapat Abu Hanifah dalam kasus tertentu, pendapat Malik pada kasus lainnya, dan Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Dawud dalam kasus lainnya, dan seterusnya. Bahkan kita boleh – dalam beberapa hal – merujuk pada mazhab non-Sunni, seperti Zaydi, Ja’fari, atau mazhab Ibadi, jika mereka memberikan solusi yang dibutuhkan. Selain itu, kita boleh mengambil pendekatan mazhab yang sudah usang, seperti Al Awza’i, Ath-Thawri, atau At-Tabari.
Keempat, tidak cukup bagi kita dengan hanya membandingkan mazhab-mazhab dan pendapat-pendapat dalam fiqih Islam serta institusi-institusinya. Sebaliknya, kita juga boleh membandingkan fiqih dari Syariat Islam secara keseluruhan dengan hukum positif Barat. Tujuan dari perbandingan ini adalah untuk mengilustrasikan tingkat keaslian dari Syariat, ketegasan prinsip-prinsipnya, ketidakterikatannya terhadap hukum-hukum lain, dan perpaduan Syariat antara idealisme dan realisme, serta antara hukum Ilahi dan manusia.
Kelima, menghubungkan fiqih kepada realitas kontemporer Ummat dan seluruh dunia. Hal ini karena fiqih dibuat untuk memecahkan berbagai masalah dari individu muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, negara muslim, dan ummat muslim melalui perundang-undangan yang toleran dari Syariah.
Dengan demikian, fiqih ini mencari penyembuhan-penyembuhan atau pengobatan-pengobatan terhadap berbagai penyakit muslim (dengan menggali sumber) dari dalam – bukan dari luar – khazanah Syariah yang mulia ini. Hal ini juga menjawab setiap pertanyaan yang diangkat oleh individu atau masyarakat tentang agama dan kehidupan. Fiqih juga menuntun perjalanan peradaban Ummat dalam cahaya hukum syariah yang mulia.
Keenam, seperti halnya pada semua buku-buku dan penelitian-penelitian kami, dalam buku ini kami mengambil pendekatan yang Allah SWT hidayahkan kepada kami untuk memilih dan mendahulukan dakwah, tarbiyah, iftaa’, penelitian, reformasi dan renovasi, yaitu pendekatan moderat dan kelembutan.
Di antara aspek-aspek pendekatan fiqih ini, pemahaman dan ijtihad, adalah bahwa kita harus memperbaharui agama dari dalam dan melakukan ijtihad yang cocok dengan kehidupan dan perkembangan zaman kita sebagaimana imam-imam terdahulu kita melakukan ijtihad yang cocok dengan kehidupan dan zamannya. Kita harus menggunakan sumber-sumber pengetahuan dari apa-apa yang mana pandang-pandangan mereka berasal darinya, memahami sebagian teks dalam kerangka tujuan secara keseluruhan, dan merunut masalah-masalah ambigu kembali kepada masalah-masalah yang sudah jelas, serta merunut dari hal yang khusus ke umum.
Selain itu, kita harus ketat ketika hal ini mengarah pada hal-hal mendasar, dan membuat sesuatu lebih mudah ketika hal ini mengarah pada masalah-masalah sekunder, memadukan antara ketetapan Syariat dan variabel-variabel (faktor-faktor) zaman, dan menghubungkan teks asli dengan kenyataan yang masuk akal.
Hal ini juga mengharuskan kita untuk menghindari sikap memihak terhadap sebuah pendapat lama atau meninggi-ninggikan pemikiran baru; untuk mematuhi prinsip bahwa tujuan-tujuan itu tidak berubah, namun metode-metode bisa fleksibel; dan untuk mendapatkan manfaat dari apa saja yang bermanfaat dari pandangan-pandangan lama sebagaimana kita juga menyambut setiap pemikiran baru yang berguna.
Sebagai tambahan, kita harus mencari inspirasi dari masa lalu, hidup pada saat ini, dan melihat ke masa depan, menggali hikmah yang muncul dalam setiap bahtera, dan mengukur berbagai prestasi dari pihak lain terhadap nilai-nilai yang kita miliki, dan dengan demikian, menerima apa-apa yang cocok untuk kita dan mengabaikan yang tidak bermanfaat untuk kita, dan seterusnya.
Kemasyhuran beliau, ulama besar, Syeikh Al-Qardhawi telah membagi buku “Fiqih of Jihad” ke dalam sebuah pendahuluan, sembilan BAB, dan sebuah kesimpulan. Jadi, Insya Allah, kita akan mendapatkan tambahan resensi terhadap masalah-masalah lain yang diangkat oleh Imam dalam setiap bagian pada studinya ini. Kita memohon kepada Allah SWT untuk hidayah dan pertolongan-Nya.
http://www.dakwatuna.com/2009/fiqih-jihad-karya-yusuf-al-qaradhawi-sebuah-resensi-buku/
Dra. Sirikit Syah, MA : Media Idealis Hampir Tak ada Lagi
Drama penggrebekan Densus 88 di Temanggung, Jawa Tengah, yang memakan waktu 18 jam dan penggrebekan di Jati Asih-Bekasi yang diliput berbagai media, menjadi tontonan gratis sebagian besar orang. Seakan-akan sebuah tayangan yang layak ditonton, atau perlu dipertontonkan. Peliputan tersebut lantas menyisakan banyak pertanyaan penting bagi mantan Ketua Presidium Dewan Kesenian Surabaya, Dra. Sirikit Syah, MA (49).
Perempuan yang pernah mengkampanyekan jurnalisme perdamaian (peace journalism) melalui lembaganya Lembaga Konsumen Media (LKM) --yang merupakan organisasi pemantau media pertama di Indonesia— seolah kecewa terhadap liputan berbagai media (khususnya TV) yang dirasakan lebih cenderung menjadi corong polisi dan kurang independen. “Seperti suting sinetron,” ujar alumnus Westminster University, London (2002) ini. Inilah petikan wawancaranya dengan www.hidayatullah.com.
Urgensi Dakwah Bil Qolam!

“Apabila media massa tidak berpihak kepada umat, dan bahkan menjadikan umat sebagai komoditas berita, maka sudah saatnya kita bangkitkan jurnalisme Islam!”
Menulis, akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan dalam diskusi-diskusi dan seminar-seminar. Semakin banyak diantara kita yang mulai tertarik untuk bisa menulis, walau tak banyak yang punya motivasi menulis khusus untuk berdakwah. Yeah,…istilah kerennya, “dakwah bil qolam” (tetep aja pake istilah “qolam” walau kenyataannya nulisnya pake mesin ketik atau komputer”-ed). Terus terang saya tidak ingin membahas soal menulis untuk selain berdakwah di tulisan saya ini. Kita akan fokuskan pembicaraan soal menulis untuk dakwah saja dulu. Mau? Mau? Mau?
Kalo ingin berbicara tentang urgensinya, menulis sebagai media dakwah saat ini sudah mencapai hampir puncak. Hal ini disebabkan semakin banyaknya media-media massa di Indonesia –yang menjadi sumber berita bagi mayoritas umat Islam– sudah jauh dari keberpihakannya kepada kepentingan umat Islam. Masyarakat terlanjur terhegemoni oleh kepentingan-kepentingan orang-orang dibalik media melalui agenda media massa, yang ‘celakanya’ sering ditelan mentah-mentah oleh umat Islam di negeri ini yang mayoritas masih awam. Pemberitaan tentang jihad yang selalu ‘miring’ ke teror, gerakan Islam yang selalu ‘radikal’, poligami yang selalu ‘tak adil’, syariat Islam yang ‘egois’, selalu mewarnai tiap tulisan mereka. Saya bersyukur kalo anda tidak lagi percaya dengan pemberitaan media tentang topik Islam, namun ada ratusan juta penduduk Indonesia yang lain masih belum mengerti dan menganggap pemberitaan itu sebagai ‘fakta’. Mungkin akan cukup jelas bagi anda jika anda mau membaca dua buah buku berjudul “Penyesatan Opini” dan “Demonologi Islam”.
Kita bisa mengingat kembali ketika beberapa bulan lalu geger pemberitaan tentang eksekusi Amrozi dkk di media-media massa (terlepas dari ikhtilaf tentang benar-salahnya ijtihad mereka-red). Tidak sedikit yang mengangkatnya sebagai headline news dalam waktu lebih dari tujuh hari. Bagi para ahli ilmu komunikasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa media massa selalu menunjukkan keberpihakan maupun kontra terhadap opini tertentu. Media selalu memiliki kepentingan, yang itu selalu tertuang pada sudut pandang pemberitaan mereka. Apakah terkesan pro atau sebaliknya. Nah,…dalam kasus ini, Amrozi dkk, coba anda baca dan rasakan setiap pemberitaan dimedia massa. Bagaimana pemilihan kata-katanya, bagaimana pengambilan foto-fotonya, bagaimana sudut pandangnya, dll. Anda akan merasakan bahwa pemberitaan itu mengarahkan kita sebagai pembaca untuk menghakimi Amrozi dkk bersalah, lalu judgement itu menurunkan bagi orang awam untuk menilai bahwa orang Islam yang berdandanan dengan celana congkrang dan berjenggot identik dengan teroris, garis keras, dan segudang persepsi lainnya.
Kita juga bisa melihat koran sekelas nasional itu pernah merangkul komunitas utan kayu yang berbasis liberal sebagai pengisi rubrik rutinnya. Dan dengan itu si Ulil jadi lebih bebas menyesatkan para pembaca. Tidak Cuma itu,...penulis buku nyleneh “Ternyata Akhirat tidak Kekal” berkali-kali mendapat ruang untuk mempromosikan karya-karya ‘aneh’-nya.
Sulit bagi muslim ‘abangan’ di negeri ini untuk mendapatkan pemahaman tentang agamanya dengan benar dari media. Sangat jarang kita menemui jurnalis-jurnalis muslim yang benar-benar memperjuangkan agamanya di negeri ini. Kalopun ada, pasti tak akan ada koran yang mau menerimanya sebagai wartawan. Sehingga memang tidak ada cara lain selain tangan kitalah yang harus kita gerakkan untuk mengambil pena dan kertas, atau hidupkan PC dan mengetikkan sesuatu yang bisa membuat perubahan bagi fenomena ini. Suatu karya tulis yang bisa menjelma menjadi senjata pemusnah massal bagi virus-virus pemikiran sesat para orientalis, untuk memberangus usaha-usaha pemurtadan dan mengembalikan umat ini kepada akidah yang benar dan lurus. Seperti yang selalu menjadi doa seorang ikhwah wartawan yang saya kenal di sebuah media dakwah, dia katakan bahwa setiap kali dia berdoa adalah “Ya Allah berikan saya kemampuan untuk membuat tulisan-tulisan yang mampu menggetarkan hati orang-orang kafir...”.
Make A ‘Zine Is Very Easy!
Kalo masalah malas dan rentetan alasan lain dalam membuat media dakwah, itu sudah merupakan hal yang biasa. Semua orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Namun kebanyakan yang berhasil adalah dengan melewatinya dengan penuh percaya diri. Nah, soal percaya diri ini memang selalu jadi masalah. Pernah beberapa kali saya memberikan motivasi dan pelatihan langsung tentang membuat media dakwah, namun hasilnya hampir nihil! Atau mungkin bisa dibilang hampir gagal total! Kenapa ada kata ‘hampir’? iya, karena untungnya masih ada satu-dua orang dari sekian banyak ikhwah yang akhirnya benar-benar merealisasikan media dakwah di organisasinya.
Ok, sekarang mari kita berbincang tentang membuat sebuah media dakwah. Saya lebih suka memakai istilah ‘zine’ untuk menamakan media seperti SA’I ini. Karena mau dibilang ‘magazine’ juga blum pantes. Mau dibilang bulletin atau newsletter tapi kok halamannya lumayan banyak. Ya, mungkin yang paling pas ya ‘zine’.
Dalam membuat zine untuk mempublikasikan tulisan-tulisan sendiri (seperti ini) tidak terlalu rumit yang dilakukan. Bahkan boleh dibilang kalo membuat zine itu sangat-sangat-sangatlah mudah! Nggak perlu banyak orang, bahkan satu orang pun bisa membuat media dakwah yang sederhana. Asal dia mampu meng-cover seluruh aktifitas yang saya sebutkan dibawah ini. Nah, inilah step-by-step bagi anda yang ingin memulai membuat media dakwah sendiri (personal) :
1. Tentukan Namanya
Nama dari media yang nantinya kita buat itu sangat mempengaruhi keberhasilan apakah media tersebut mudah dikenal dan diingat atau tidak. Sebaiknya pemilihan nama dipikirkan dengan matang-matang. Karena kadang nama yang sulit diucapkan menjadi sulit untuk diingat, sehingga kurang menancap di benak pembacanya.
2. Tentukan formatnya
Kita bisa memilih media tersebut berformat seperti apa. Apakah ukuran A4, atau separuhnya (A5), ataukah yang lainnya. Lalu berapa halaman? Dicetak dengan cara apa? Apakah dicetak offset? Full colour atau hitam putih? Atau cuma di fotokopi aja juga tidak masalah. Untuk yang terakhir ini jangan diremehkan, karena cikal-bakal SA’I dulunya hanya dengan dicetak fotokopi saja. Targetnya adalah “terbit!”. Jadi, nggak masalah walau cuma fotokopian.
Yang perlu kita perhatikan dari format media dakwah adalah efisiensi dan kemungkinannya untuk didokumentasikan oleh si pembaca. Saya sebenarnya prihatin melihat di masjid-masjid besar ketika selesai Shalat Jum’at seringkali berserakan bulletin-bulletin dakwah. Bahkan sering diinjak-injak di lokasi sepatu dan sandal. Selain karena kurangnya penghargaan yang dilakukan pembaca setelah mengambil bulletin itu, juga karena kurangnya pembuat bulletin tersebut untuk mengevaluasi apakah format media yang dipakai untuk berdakwah sudah efektif. Saya rasa pembaca akan malas mendokumentasikan/ menyimpan bulletin tersebut jika hanya berupa kertas satu lembaran saja.
3. Tentukan target segmennya
Kita harus tentukan lebih dahulu siapa yang menjadi sasaran pembaca media kita ini. Ini seringkali kelupaan, atau bahkan seringkali tidak diperhatikan. Jika kita memiliki sasaran pembaca adalah orang dewasa, masih perlu dibagi lagi menjadi 2 kategori; yang masih awam tentang Islam dan yang telah memiliki background pengetahuan yang baik tentang Islam (aktifis dakwah misalnya). Tentunya hal itu mempengaruhi bagaimana memilih topik yang diangkat serta cara kita bertutur/ menyampaikan pesan-pesan dakwah didalam media kita. Begitu juga dengan sumber-sumber rujukan yang diambil juga harus yang terpilih untuk sekiranya disukai oleh sasaran pembacanya. Jika sasaran pembacanya remaja, mahasiswa, dan masih awam tentang Islam, maka jangan sampai kita menggunakan bahasa yang terlalu formal, kaku dan topik-topik yaang berat untuk dimengerti mereka. Cara bertuturnya juga jangan terlalu keras, karena itu malah membuat mereka ‘lari’. Tapi dikondisi tersebut, berdakwahlah dengan cara merangkul mereka atau mengajak mereka. Bukan menakut-nakuti mereka.
4. Mulailah menjadi jurnalis independent
Setelah perencanaan awal selesai, mulailah menjadi jurnalis amatir yang berdiri sendiri (karena memang nggak ada yang menggaji kita-red). Mulailah menulis dan mengumpulkan tulisan-tulisan dari berbagai sumber. Dalam kita menulis, kita bisa mengawalinya dengan memilih isu apa yang ingin diangkat. Lalu carilah fenomena apa yang terjadi disekitar kita yang terkait dengan isu tersebut. Lalu carilah sumber yang ahli untuk kita kutip kata-katanya/ tulisannya. Jika memang memungkinkan, kita juga bisa mewawancara sumber melalui media telekomunikasi, email, telepon atau bahkan menemuinya secara langsung.
Buatlah tulisan sebanyak mungkin untuk stok anda. Sehingga sewaktu-waktu diperlukan, tulisan tersebut tinggal diterbitkan saja. Apakah pekerjaan seperti ini perlu team? Iya, jika memungkinkan! Tapi jika dalam team tersebut ada yang bergerak lambat, justru akan menghambat karena akan saling menunggu. Saran saya, lakukan saja sendiri terlebih dulu! Jika anda telah menunjukkan hasil, maka mereka yang memiliki kemauan dan keseriusan akan mendatangi anda sambil mengatakan,”gimana caranya saya bisa bergabung?”.
5. Lay-outing/ Designing
Jangan harap mendapatkan respon yang bagus dengan menerbitkan media tanpa mengemasnya dengan visual yang menarik. Masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat interest dengan visualisasi. Lagipula media yang menggunakan tulisan disertai lay-out/ design yang menarik setidaknya mampu menambah daya ingat bagi pembacanya hingga 30%.
Tinggalkan microsoft word dalam melakukan Lay-outing! Program itu bukan untuk melay-out media cetak macam bulletin dan majalah. Cobalah untuk mempelajari minimal adalah program Adobe Photoshop atau Corel Draw. Buku pembelajaran kedua program ini tidak mahal. Jika ingin maju, maka beli dan pelajari. Atau mintalah teman kita untuk mengajarinya, itu lebih murah meriah.
Di Indonesia, pernah ada sebuah komunitas anak-anak punk yang mereka sangat aktif dalam membuat media (baca: zine) dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran anarkisme-nya. Mereka tidak pernah merasa terbatas dengan kondisi diri mereka. Bahkan jika mereka tidak punya komputer, mereka membuat zine yang berisi lebih 24 halaman (mirip seperti SA’I zine ini-pen) hanya dengan menggunakan tulisan manual yaitu dengan spidol dan bolpoint. Mereka menggunting-tempel (cut-paste) visual-visual yang mereka ambil dari majalah maupun koran bekas. Hasilnya? Cukup baik, bahkan jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan apa-apa! Zine-zine seperti itu dahulu sangat mudah ditemukan di komunitas punk di Indonesia, dan pembuatnya sangat dihargai disana. Pembacanya, yang juga sesama dalam komunitas, dengan rela mengeluarkan Rp.1000 – 3000 untuk mensupport pembuat zine itu demi mengganti ongkos fotokopinya. Kadang juga mereka saling trade (saling tukar-menukar) zine. Apa saja dilakukan untuk memberikan dukungan.
Btw, afwan kalo terlalu melebar pembahasannya. The next,...
6. Last Correction
Lakukan koreksi dengan teliti pada hasil desain atau lay-out yang dilakukan dengan terlebih dahulu mencetaknya pake printer. Dari situ biasanya akan kita temukan beberapa kesalahan penulisan maupun editing yang terlewatkan. Setelah semua ok, tinggal tentukan dengan cara apa zine ini dicetak/ digandakan? Jika dengan fotokopi maka, buatlah masternya dengan menggunakan printer laser hitam-putih yang baik. Jika dicetak dengan mesin offset, maka konsultasikan file (softcopy) anda ke percetakan. Kelebihan fotokopi adalah kita bisa bebas menentukan jumlah yang sedikit terlebih dulu alias menyesuaikan dananya dengan jumlah eksemplarnya. Kalo di cetak offset, paling tidak minimal harus dicetak 500 eksemplar, dan itu cukup menguras kantong anda. Tapi jangan kuatir, anda juga bisa mencari sponsor untuk itu!
Selamat mencoba!
words: aditya abdurrahman
Berperang dengan Pena

Bismillaahirrohmaanirrohiim...
Ada beberapa pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Ketika kita melihat ratusan anak-anak Palestina dibunuh oleh tentara-tentara Israel dengan sadis di Gaza, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita melihat jasad anak-anak tersebut hancur, hangus, ususnya terburai, atau tanpa kepala, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar ratusan umat Islam di negeri ini dimurtadkan oleh gerakan kristenisasi, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mengetahui berkali-kali Rasulullah Saw kita tercinta dihina dan direndahkan oleh orang-orang kafir, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar Al-Qur’an – sebagai firman Allah Ta’ala- dilecehkan dengan menuduh Al-Qur’an adalah biang kerusakan dimuka bumi (teror-red), apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita tahu Si Ulil (seorang oknum JIL-red) menyebarkan faham liberal-nya meracuni pemikiran umat Islam di negeri ini, apa yang bisa kita lakukan? Dia seenaknya mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits juga perlu dikritik jika tidak rasional, sekali lagi, apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa kita lakukan terhadap musuh-musuh Islam itu? Apa yang bisa kita lakukan untuk membela agama ini?
Jawabannya,....Menulis, menulis dan menulis!
Mungkin saja kita bisa mengirimkan bantuan dana dan obat-obatan ke Gaza, mungkin kita juga bisa mengirimkan bantuan uang untuk menyantuni warga miskin agar tidak terjebak kristenisasi, mungkin kita juga bisa melakukan protes untuk mendesak penguasa agar memberikan solusi. Tapi seberapa besar kekuatan aksi yang bisa kita kontribusikan? Seberapa besar efeknya bagi umat Islam secara keseluruhan? Apakah bisa itu semua memberikan benteng-benteng pertahanan akidah kepada umat Islam?
Dengan menulis, kita bisa melakukan reaksi counter (menentang-red) terhadap pemikiran atau hegemoni musuh. Dengan menulis kita juga bisa melakukan pembentengan terhadap akidah. Dengan menulis kita juga bisa mempengaruhi pemikiran umat Islam untuk ikut bergerak/melakukan aksi nyata dalam membela Islam. Dengan menulis kita juga bisa menggetarkan hati musuh-musuh Allah. Dengan menulis kita juga bisa menyebarkan kebenaran yang haqiqi. Dengan menulis kita juga bisa menggerakkan seluruh umat Islam untuk membantu dengan lebih banyak untuk sasaran-sasaran kristenisasi. Dengan menulis kita bisa meng-edukasi umat Islam. Dan dengan menulis kita bisa menepis pemikiran-pemikiran para orientalis yang suka mengomentari Islam seenak udel-nya.
Kompleksitas urgensi menulis sebagai alat kita untuk berdakwah sudah mencapai puncaknya. Namun seringkali kami sedih mendengar tentang beratnya tangan-tangan umat ini untuk mengangkat pena dan menuliskan sesuatu untuk agama ini. Mereka pikir menulis adalah bakat alami. Mereka juga berdalih dengan bermacam-macam alasan. Yang tak lebih adalah untuk menutupi kemalasannya untuk belajar. Yang lebih parah lagi, jangankan menulis, membuka buku saja alerginya bisa kumat!
Semoga krisis menulis ini tidak berkelanjutan. Semoga di era ini akan lahir para da’i-da’i muda yang pandai menulis. Tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi Sayyid Quthb-Sayyid Quthb muda yang tulisannya mampu menggetarkan musuh-musuh Allah. Atau Imam Nawawi –Imam Nawawi muda yang mampu menulis buku-buku yang terus dipakai rujukan sepanjang sejarah. Amin.
words: aditya abdurrahman
Antara ”Miss Universe ” dan” Sapi Perah”

Tak akan ada gadis sumbing terpilih menjadi ratu kecantikan, meski IQ-nya tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-268
Oleh: Dr. Adian Husaini*
Hidayatullah.com--Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (Miss Universe) 2009.
Hasil jajak pendapat di missuniverse.com pada Kamis (20/8/2009) menunjukkan, Zizi – panggilan Zivanna – menduduki peringkat ketiga, satu prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang secara terbuka bangga dan berharap, Zizi akan menang dalam kontes Miss Universe tersebut.
Menariknya, hampir tidak tampak lagi suara yang mempersoalkan keikutsertaan wakil Indonesia tersebut di pentas pemilihan Ratu Sejagad. Nyaris tak terdengar suara MUI, Departemen Agama, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Seolah-olah kehadiran Zizi di pentas kecantikan internasional itu memang sudah direstui oleh bangsa Indonesia. Padahal, dalam kontes tersebut, Zizi menampilkan pakaian bikini yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu mengundang kontroversi.
Begitu kuatnya arus global informasi tersebut, sehingga mampu menyekat suara-suara yang berbeda. Semua seperti digiring untuk bungkam. Seolah-olah banyak yang sudah tahu akan resiko yang dihadapi jika berani mempersoalkan hal-hal seperti ini, maka akan dengan mudah dikecam sebagai manusia yang sok moralis, menghambat kebebasan berekspresi, kaum radikal, dan sebagainya.
Mungkin, sadar akan kekuatan besar seperti itulah, maka banyak yang memilih diam, atau enggan berkomentar. Semua seperti sadar bahwa sekarang adalah zaman kebebasan. Ini zaman liberal. Semua serba boleh. Maksiat atau tidak maksiat tidak peduli lagi. Yang penting seru! Yang penting enak ditonton! Yang penting menghibur! Yang penting menghasilkan uang! Persetan dengan semua nilai moral atau agama!
Padahal, diukur dari sudut pandang Islam, jelas keikutsertaan dalam kontes kecantikan seperti kontes Miss Universe adalah perbuatan haram. Itu jelas dosa! Itulah kemungkaran yang sangat nyata; mengumbar aurat di muka umum. Mungkin Zizi dan para pendukungnya berpikir bahwa tubuh yang dimilikinya adalah miliknya sendiri, dan dia merasa seratus persen berhak menggunakannya untuk tujuan apa saja sesuai kehendaknya. Tidak ada urusan dengan aturan Allah SWT. Mungkin, mereka juga berpikir, bahwa toh, tindakan itu tidak merugikan orang lain! Tidak mengganggu lain. Apa salahnya!
Salah satu media internet yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia dalam ajang Miss Universe 2009 itu adalah www.voa-islam.com. Situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban di mana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Saw? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban, di mana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”
Dalam suasana gegap gempitanya paham kebebasan dan – meminjam istilah Taufik Ismail -- ”Gerakan Syahwat Merdeka” di Indonesia, memang suara-suara yang menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia-manusia yang lebih adil dan beradab menjadi tenggelam. Padahal, ada al-Quran sudah mengajak perempuan untuk menutup auratnya: "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya" (QS An-Nur:31).
Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain, dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)
Betapa pun, Zizi adalah Muslimah. Bahkan, konon, ia adalah lulusan sebuah SMU Islam di Jakarta. Yang harus dilakukan jika seorang Muslim/Muslimah ketika melakukan tindakan dosa adalah bertobat. Bukan malah bangga dengan tindakannya dan mengajak orang lain untuk mengikuti tindakan dosanya. Apakah Zizi, kedua orang tua, dan pendukungnya yang Muslim tidak tahu bahwa tindakan mengumbar aurat seperti itu adalah tindakan dosa? Sebagai sesama Muslim, kita WAJIB mengimbau dan menasehatinya. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Masing-masing kita akan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri di hadapan Allah.
Sapi perah
Jika Zizi dan para pendukungnya enggan mendengar pendapat yang masih berbau agama, ada baiknya juga disimak pendapat Dr. Daoed Joesoef, seorang cendekiawan yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh sekular. Daoed Joesoef pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) selama satu periode (1977-1982). Semasa hidupnya, Daoed Joesoef dikenal dengan pemikirannya yang sekular.
Pemikirannya yang sekular telah banyak mengundang kritik dari para tokoh Islam. Tetapi, ada satu sisi pemikirannya sejalan dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, yaitu kritik-kritiknya yang keras dan tajam terhadap keberadaan kontes ratu-ratuan. Daoed Joesoef adalah doktor lulusan Sorbonne Perancis (1972) dan Ketua Dewan Direktur CSIS (1972-1998). Ia juga pernah menjadi anggota pengurus organisasi ”Angkatan Seni Rupa Indonesia” di Medan (1946), dan Ketua cabang Yogyakarta untuk organisasi ”Seniman Indonesia Muda” (1946-1947).
Betapa sekularnya pemikiran Daoed Joesoef bisa disimak dari sikapnya yang tidak mau mengucapkan salam Islam saat menjabat Menteri P&K. Dalam memoarnya yang terbit tahun 2006 berjudul ”Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran”, Daoed Joesoef memberikan alasan: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan negara agama dan pasti bukan negara Islam.”
Tentu saja, jika diukur pada tataran sekarang, pandangan dan sikap Daoed Joesoef semacam itu tampak ganjil. Tetapi, tidak semua pendapat Daoed Joesoef perlu ditolak. Ada pendapatnya yang sangat menarik untuk disimak dan direnungkan. Sebagai cendekiawan, pandangannya terhadap berbagai jenis kontes ratu kecantikan, bisa dikatakan sangat tajam dan mendasar.
Saat menjadi Menteri P&K pula, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Ketika itu memang sedang marak-maraknya promosi aneka ragam miss, ada Miss Kacamata Rayban, Miss Jengki, Miss Fiat, Miss Pantai, di samping pemilihan ratu ayu daerah, ratu ayu Indonesia, yang langsung dikaitkan dengan berbagai jenis keratuan internasional. Dan semuanya, tulis Daoed Joesoef, ”menyatakan demi manfaat dan kegunaan (pariwisata) serta keharuman nama dan martabat Indonesia.”
Apa kata Daoed Joesoef tentang semua jenis ratu-ratuan tersebut? ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.
Menurut mantan dosen FE-UI ini, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Lebih jauh, Daoed Joesoef menyampaikan kritik pedasnya: ”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”
Dari 900 halaman lebih memoarnya tersebut, Daoed Joesoef memberikan porsi cukup panjang (hal. 649-657) untuk menguraikan buruknya praktik-praktik ratu-ratuan bagi perempuan itu sendiri. Perempuan tentu boleh tampil cantik. Tapi, Daoed Joesoef mengingatkan tiga hal. Pertama, jangan ia diumbar, dibiarkan untuk dieksploitasi seenaknya oleh orang/pihak lain hingga membahayakan dirinya sendiri. Kedua, jangan memupuknya secara berlebihan, karena bagaimana pun kecantikan itu hanya setebal kulit. Ketiga, kecantikan yang dipupuk dan lalu dijadikan standar personalitas perempuan berpotensi menjadi liang kubur perempuan yang bersangkutan. Bila kecantikan itu redup, karena hanya setebal kulit, berarti perempuan itu tidak dapat lagi memenuhi standar yang telah dipatoknya sendiri. Orang lain, termasuk suaminya, akan membelakanginya, lalu berpaling ke perempuan cantik lain.
Semasa belajar di Paris, Daoed Joesoef mengaku pernah membaca sebuah kasus seorang guru matematika dipecat oleh Menteri Pendidikan Nasional Perancis, gara-gara guru tersebut mengikuti kontes ratu kecantikan daerah yang merupakan awal dari pemilihan ratu kecantikan nasional. Ketika itu tidak ada media yang membelanya, karena publik menganggap kegiatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang guru. Karena itu, menurutnya, jika ada pendidik yang membela kegiatan pemilihan ratu ayu, pantas sekali dipertanyakan bagaimana keadaan nuraninya.
”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,” tulis Daoed Joesoef.
Daoed Joesoef menolak argumentasi bahwa kontes kecantikan juga menonjolkan sisi-sisi intelektual perempuan dan banyak pesertanya yang mahasiswi. Juga ia menolak alasan bahwa penggunaan pakaian renang dalam kontes semacam itu adalah hal yang biasa. ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang,” tulis Daoed Joesoef lebih jauh.
Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: ”setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”
Terhadap orang yang menyatakan bahwa yang dinilai dalam kontes kecantikan bukan hanya kecantikannya, tetapi juga otaknya, sikapnya, dan keberaniannya, Daoed Joesoef menyatakan, bahwa semua itu hanya embel-embel guna menutupi kriterium kecantikan yang tetap diunggulkan. ”Percayalah, tidak akan ada gadis sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapa pun tinggi IQ-nya, terpuji sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan,” tulisnya.
Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai wishful thinking belaka, untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa on time, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa menarik wisatawan.
Lalu, apa jalan keluarnya? ”Stop all those nonsense! Hentikan semua kegiatan pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti merendahkan martabatnya!” seru Daoed Joesoef. “Namun,” lanjutnya, “kalau perempuan sendiri bergairah melakukan perbuatan yang tercela itu karena kepentingan materi sesaat tanpa mempedulikan masa depan anak-anak, ya mau bilang apa lagi!”.
Meskipun kita tidak sependapat dengan banyak pemikiran sekular Daoed Joesoef, tetapi pandangannya tentang ratu-ratuan ini patut kita acungi jempol. Kini, di tengah-tengah semakin menguatnya hegemoni liberalisme nilai-nilai moral dan menghunjamnya paham materialisme, pendapat jernih Daoed Joesoef dalam soal peran dan kedudukan perempuan perlu diperhatikan, khususnya bagi pejabat dan pemuka masyarakat. Secara terbuka Daoed Joesoef mengimbau:
“Kalaupun gadis-gadis kita yang cantik jelita lagi terpelajar, cerdas dan terampil serta berbudi pekerti terpuji dan berani, masih berhasrat menyalurkan energinya yang menggebu-gebu ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, siapkanlah diri mereka agar menjadi IBU yang ideal, memenuhi perempuan yang sebenarnya dalam keluarga, perannya yang paling alami. Jadi bukan peran sembarangan, karena mendidik makhluk ciptaan Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Jangan anggap bahwa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak secara benar bukan suatu pekerjaan yang terhormat. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan uang, pasti tidak membuahkan popularitas, tentu tidak akan ditampilkan oleh media massa dengan penuh kemegahan, tetapi ia pasti mengandung suatu misi yang suci…”
Demikianlah, sebuah contoh pemikiran yang jernih tentang kedudukan dan martabat perempuan. Mudah-mudahan masih ada petinggi negara dan elite masyarakat yang mendukung pemikiran semacam ini, dan kemudian berani melakukan tindakan untuk menegakkan kebenaran, meskipun resikonya, dia bisa jadi tidak akan populer. [Depok, 20 Agustus 2009/www.hidayatullah.com].
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Aku Tinggalkan Anak-anakku Demi Islam
Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam
Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.
Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.
Aku menyesal, banyak gelar duniawi yang sudah diraih, tapi aku belum melakukan apapun untuk kehidupan akhirat. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuk akhiratku.
Lingkungan tempat aku dibesarkan, adalah lingkungan Hindu ekstrimis yang sangat membenci Islam. Keluargaku bagian dari dari organisasi Hindu garis keras, Shiv Sena.
Aku menikah di Mumbai, dan memiliki dua orang putra. Bersama suami dan anak-anak, kami kemudian pindah ke Bahrain.
Aku memeluk Islam setelah menikah, tapi aku sudah tidak meyukai menyembah dewa-dewa pujaanku sejak aku beranjak dewasa. Aku ingat, suatu hari aku membuang sesembahanku ke kamar mandi. Ketika ibu menegur aku, kukatakan padanya bahwa benda-benda itu tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Jadi mengapa kita meminta berkah dari mereka, menyembah mereka. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita?
Ada sebuah ritual di keluarga kami, jika seorang gadis sudah menikah, maka ia membasuh kaki suaminya, lalu meminum air basuhannya. Tapi aku menolak melakukan hal itu sejak hari pertama menikah. Karena itu aku dimarahi habis-habisan.
Ketika masih sendiri aku pernah mengikuti sekolah pendidikan guru, dan aku suka mengendarai mobil sendirian. Aku kadang mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di sana, aku mendengarkan pembicaraan orang, dan akhirnya mengetahui bahwa orang Islam tidak menyembah dewa.
Mereka tidak mencari karunia dari seseorang yang lain. Mereka tidak punya Baghawan. Aku suka cara pandang mereka. Pada akhirnya aku mengetahui, yang mereka sembah ternyata adalah Allah, Yang Mengurus segala sesuatu.
Aku terkesan sekali dengan shalat. Awalnya aku tidak tahu itu adalah cara orang Islam berdoa. Yang aku tahu orang Islam sering melakukannya. Dulu kusangka itu semacam olahraga. Aku baru mengetahui gerakan itu dinamakan shalat ketika mulai mengunjungi Islamic Center.
Aku sering bermimpi setiap kali tidur. Aku melihat ada sebuah ruangan persegi empat. Mimpi itu selalu mengganggu tidurku dan membuat aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Ruangan yang sama selalu muncul dalam mimpi ketika aku tidur kembali.
Setelah menikah aku pindah ke Bahrain, tempat yang membantu aku memahami Islam dengan lebih baik. Karena itu adalah sebuah negara Muslim, maka aku dikelilingi oleh tetangga Muslim. Aku berteman dengan seorang Muslimah. Ia jarang mengunjungiku, tapi aku sering mengunjunginya.
Suatu hari ia melarang aku mengunjungi rumahnya, karena waktu itu bulan Ramadhan, bulan untuk beribadah. "Ibadahku terganggu karena kamu berkunjung ke rumah," begitu katanya.
Aku sangat ingin tahu tentang ibadah ritual yang dilakukan orang Islam. Oleh karena itu aku memintanya untuk tidak melarangku berkunjung ke rumahnya. Aku berkata, "Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya akan melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan berkata apapun, dan hanya akan mendengar apa yang kamu baca." Maka ia pun tidak melarangku berkunjung ke rumahnya.
Ketika aku melihatnya sedang beribadah, aku tertarik untuk menirukannya. Kemudian aku bertanya padanya tentang "gerak badan" itu. Ia memberitahu, itu namanya shalat. Dan buku yang selalu ia baca, adalah kitab suci Al-Quran.
Aku berharap bisa melakukan semua yang ia lakukan. Aku pulang ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku meniru semua apa yang dilakukan temanku secara diam-diam, meskipun aku tidak tahu banyak mengenai hal itu.
Suatu hari aku lupa mengunci kamar dan melakukan shalat, ketika itu suamiku masuk. Ia bertanya, apa yang aku lakukan. Aku bilang, "Aku melakukan shalat." Ia pun berkata, "Apakah kamu masih waras? Kamu tahu apa yang kamu katakan?"
Awalnya aku ragu. Mataku terpejam dan ketakutan. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada sebuah kekuatan besar dalam diriku, yang membuat aku berani untuk menghadapi situasi saat itu. Aku berkata bahwa aku sudah memeluk agama Islam, dan karena itu aku melakukan shalat.
Suamiku berseru, "Apa?! Apa kamu bilang? Coba kamu katakan sekali lagi?" Aku mengulangi ucapanku, sambil memberi tekanan, "Ya! Aku masuk Islam." Mendengar hal itu ia langsung memukuli aku.
Kakakku mendengar suara ribut-ribut dan mendatangi kami. Ia berusaha menyelamatkan aku. Tapi, ketika suamiku menceritakan semuanya, ia pun maju dan ikut memukuli aku.
Aku berusaha menghentikannya dengan berkata, "Kamu tidak perlu ikut campur. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk buatku. Aku telah memilih jalanku."
Mendengar perkataanku itu, suamiku semakin naik pitam. Ia menyiksaku sedemikian rupa hingga aku tidak sadarkan diri.
Ketika itu semua terjadi, kedua putraku berada di rumah. Saat itu putra pertamaku berusia 9 tahun dan adiknya 8 tahun.
Tapi setelah peristiwa itu, aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Aku dikurung dalam sebuah ruangan. Meskipun sebenarnya belum benar-benar memeluk Islam, tapi aku selalu mengatakan bahwa aku telah masuk Islam.
Suatu malam, ketika aku masih dikurung, putra sulungku datang dan menangis dalam pelukanku. Aku bertanya, kemana anggota keluarga yang lain. Ia bilang mereka semua pergi mengunjungi sebuah acara. Tak ada seorang pun di rumah. (Malam itu ada sebuah festival keagamaan).
Putraku minta agar aku kabur dari rumah, karena keluargaku akan membunuhku. Aku katakan padanya, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti aku. Dan kukatakan pada putraku, agar ia menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya.
Tapi ia terus memaksa dan memohon agar aku meninggalkan rumah. Aku berusaha membuatnya mengerti, jika aku pergi maka aku tidak bisa bertemu dirinya dan adiknya. Namun ia menjawab, aku akan bisa menemui mereka jika aku masih hidup. "Pergilah mama, mereka akan membunuhmu," katanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu, ketika putra pertamaku membangunkan adiknya dan berkata, "Bangunlah. Mama akan pergi meninggalkan rumah. Temuilah ia sekarang, karena kita tidak tahu apakah kita akan berjumpa lagi dengannya atau tidak."
Itu pertama kali si bungsu melihatku setelah kami tak jumpa sekian lama. Ia mengusap-usap matanya ketika melihatku. Ketika aku mendekatinya, ia pun memelukku dan menangis tersedu-sedu. Anak-anak mungkin sudah mengetahui semuanya. Ia hanya berkata, "Mama akan pergi?" Aku hanya mengangguk, dan meyakinkannya jika kami akan bertemu lagi.
Aku merasa meremukkan cinta seorang ibu dengan kakiku. Di satu tangan aku menggenggam cinta anak-anakku, dan di tangan lain aku menggenggam cintaku pada Islam yang akan menggantikannya. Aku merintih dan memeluk erat anak-anakku. Aku berusaha menghancurkan cintaku pada mereka.
Luka-lukaku masih segar, aku tidak bisa berjalan. Namun aku berusaha untuk melakukannya.
Kedua putraku menyaksikan kepergianku malam itu, di malam yang gelap dan dingin. Mereka melambaikan tangan sambil menangis di pintu gerbang.
Aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku teringat orang-orang yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi untuk Islam.
Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menuju ke kantor polisi. Masalahku saat itu, mereka tidak mengerti bahasaku. Untungnya, seorang di antara mereka bisa berbahasa Inggris.
Saat itu aku sulit bernapas dan tidak bisa bicara karena gemetaran. Aku memintanya agar mengizinkanku beristirahat sampai aku bisa memulihkan keadaanku.
Tak lama kemudian aku pun pulih. Aku katakan padanya kalau aku meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam. Aku ragu-ragu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Namun polisi itu berusaha menenangkanku dan berkata bahwa ia seorang Muslim, ia akan membantuku semaksimal mungkin. Kemudian aku diajak pulang ke rumahnya dan diberi tempat menginap di sana.
Pagi harinya, suamiku mendatangi kantor polisi meminta bantuan. Ia mengatakan bahwa istrinya telah diculik. Tapi kemudian dikatakan kepadanya bahwa istrinya tidak diculik. Istrinya datang sendiri ke kantor polisi. Karena ia ingin memeluk Islam, maka suaminya tidak lagi memiliki hubungan dengannya karena berbeda agama. Jadi istrinya tidak boleh pergi dengannya.
Suamiku memaksa, dan mulai mengancam. Tapi aku sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Aku mengatakan bahwa ia boleh mengambil semua perhiasanku, tabungan, dan rumah milikku. Tapi aku tidak akan pergi dengannya.
Awalnya ia tidak menyerah. Namun, karena melihat kegigihanku menolaknya, ia pun minta dibuatkan pernyataan tertulis bahwa ia mendapatkan semua harta bendaku.
Polisi yang menolongku berkata bahwa sekarang keluargaku tidak bisa menyakitiku lagi, dan aku bisa memeluk Islam. Aku berterima kasih padanya, lalu pergi ke rumah sakit, karena seluruh badanku penuh dengan luka.
Aku tinggal beberapa hari di rumah sakit. Suatu hari seorang dokter bertanya, "Dari mana asalmu? Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang datang menjengukmu ke rumah sakit." Aku diam, tidak menjawab. Sebab aku meninggalkan rumah karena mencari satu hal. Dan sekarang aku tidak memiliki rumah atau keluarga. Yang aku miliki hanya Islam.
Polisi Muslim yang menolongku, ia memanggilku sebagai seorang saudara perempuan. Dan ketika aku berada di rumahnya, ia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Ia telah memberiku tempat berteduh di malam yang dingin, ketika aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku tidak akan pernah melupakan jasanya.
Dan ketika aku berada di rumah sakit, aku bingung. Apa selanjutnya yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari tempat berlindung yang aman.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke Islamic Center. Saat itu tidak ada seorang pun, hanya ada seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di sana. Aku menemuinya, dan kukatakan maksud kedatanganku. Sejenak ia merasa ragu, lalu berkata, "Nak, sari ini bukanlah pakaian seorang Muslimah. Pergi dan pakailah kerudung, tutupilah dirimu sebagaimana orang Muslim."
Aku mempunyai sisa uang yang kubawa ketika meninggalkan kantor polisi. Kubeli seperangkat pakaian dengan uang itu, lalu kembali ke Islamic Center.
Pak tua itu mengajariku cara berwudhu. Setelah aku berwudhu, ia membawaku ke sebuah ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, aku melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Aku terdiam, karena aku melihat ruangan seperti yang ada dalam mimpiku. Seketika aku berseru, "Ini yang sering aku lihat dalam mimpiku. Yang selalu mengganggu tidurku."
Pak tua tersenyum, ia berkata bahwa itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke rumah itu untuk melakukan haji dan umrah. Namanya Baitullah. Aku terkejut mengetahuinya. Aku pun bertanya, "Apakah Allah tinggal di sebuah rumah?" Ia menjawab, pertanyaan-pertanyaanku dengan senyum dan penuh perhatian. Sepertinya ia tahu banyak tentang Islam.
Aku tidak mengalami kesulitan berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap hal dalam bahasa ibuku. Aku merasakan kebahagiaan yang aneh saat itu.
Ia membimbingku mengucapkan syahadat. Kemudian menjelaskan tentang Muslim dan Islam. Setelah itu aku merasa tidak takut dan juga tidak ada beban dalam pikiranku. Aku merasa diriku sangat cerah. Rasanya seperti berenang di tempat kotor, lalu pindah ke dalam air yang jernih.
Pengelola Islamic Center itu mengangkatku sebagai anak, dan membawaku pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikahkah aku dengan seorang Muslim. Keinginan pertamaku saat itu adalah melihat rumah Allah. Lalu aku pun pergi melakukan umrah.
Setelah aku memeluk Islam, aku tidak pernah kembali ke India, dan aku pun tidak ingin pergi ke sana. Keluargaku mempunyai hubungan dengan organisasi-organisasi politik dan Hindu di sana. Mereka bahkan telah menawarkan sejumlah uang untuk kepalaku.
Dulu aku diberitahu bahwa mujahidin adalah orang-orang yang suka menindas. Dan mereka sering melakukan penindasan melewati batas. Kami dibuat agar membenci mujahidin. Tapi sekarang aku telah mendapatkan kebenaran, dan aku mencintai mereka. Kuucapkan doa untuk mujahidin dalam setiap shalatku.
Aku juga berdoa kepada Allah, jika Ia mengaruniaiku dengan anak-anak laki-laki, aku akan sangat bahagia jika melihat mereka ada dalam barisan para mujahid. Aku akan mempersembahkan mereka untuk kejayaan Islam. Insya Allah.[di/iw/www.hidayatullah.com]
Mengapa Aku Tanggalkan Bikini untuk Niqab?

Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang model.Ia melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih bebas
Sebagai perempuan Amerika yang lahir di ‘Jantung’-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi pencari kehidupan glamour. Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa yang dilakukan oleh umumnya gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan penampilan fisik dan daya tarikku, mengukur nilai reputasiku dari banyaknya perhatian orang lain padaku. Aku berolahraga teratur hingga menjadi pelatih pribadi di sebuah perumahan mewah pinggir laut dan menjadi pengunjung setia pantai yang ‘suka pamer tubuh’ serta sukses mencapai taraf kehidupan yang ‘penuh gaya dan berkelas’.
Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya tarik kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku sungguh menjadi sandera dari penampilanku sendiri.
Oleh karena celah kosong antara kepuasan diri dan gaya hidup makin melebar, maka aku mencari perlindungan diri dari tindakan pelarian ke alkohol dan pesta-pesta, dengan cara mengikuti meditasi, menjadi aktivis, dan belajar kepercayaan-kepercayaan alternatif, dengan tujuan agar celah kosong itu terkoreksi dan terlihat lebih landai. Namun, akhirnya aku sadar bahwa semua itu hanya seperti obat pemati-rasa saja, yang sakitnya bisa terasa kembali, daripada sebuah pengobatan yang benar-benar efektif.
Kemudian terjadi peristiwa 11 September 2001. Sebagai saksi atas terjadinya serangan berkelanjutan pada Islam, pada nilai-nilai dan budaya Islam, dan adanya deklarasi yang berkonotasi negatif mengenai “Aktivis Salib Baru”, aku tergugah untuk mulai memperhatikan Islam. Hingga saat itu aku mengasosiasikan semua yang berbau Islam dengan perempuan-perempuan yang berbaju seperti ‘kemah’, tukang pukul isteri, harem, dan dunia teroris.
Sebagai aktivis pembebasan perempuan dan sebagai orang yang mengupayakan dunia yang lebih baik untuk semua, jalanku bersilangan dengan jalan aktivis lainnya yang telah memimpin tindakan reformasi dan keadilan untuk semua tanpa pandang bulu. Aku bergabung dalam kampanye pembimbing baruku yang saat itu masih berlangsung, salah satunya adalah reformasi pemilihan umum dan hak-hak sipil. Sekarang ini, kegiatan aktivisku sudah sangat berbeda. Daripada mendukung keadilan untuk sebagian orang secara ‘selektif’, aku belajar bahwa yang ideal seperti keadilan, kebebasan dan penghargaan benar-benar berarti dan intinya bersifat universal, lalu antara masing-masing kebaikannya dan dasar kebaikan ketiganya harus sejalan dan tidak konflik. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui sesungguhnya arti “semua orang diciptakan sederajat”. Tetapi yang sangat penting, aku belajar bahwa hanya perlu keyakinan untuk melihat dunia yang satu dan untuk melihat penyatuan dalam penciptaan.
Suatu hari aku melewati sebuah buku yang dikonotasikan negatif di Barat – Al-Quran Yang Suci. Tadinya aku tertarik pada gaya dan pendekatan Al-Quran dan kemudian minatku terbangkitkan lebih dalam pada pandangannya tentang keberadaan makhluk, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan penciptaan itu sendiri. Aku rasa Qur’an dapat menjadi sumber pembuka wawasan dan pengetahuan untuk hati dan jiwa tanpa perlu penerjemah atau pastor.
Akhirnya aku sampai pada momen penting yang mengubah kehidupanku selanjutnya: Pemahaman aktivis yang baru kurasakan untuk kepuasan diri baru-baru ini, ternyata tidak berarti apapun dibandingkan dengan memeluk sebuah keyakinan yang disebut Islam, yang memungkinkan aku hidup damai sebagai Muslim yang bisa bermanfaat.
Aku membeli sebuah gaun panjang yang cantik dan penutup kepala, mirip gaya busana Muslimah dan dengannya aku berjalan di jalan dan lingkungan tetangga yang sama, yang beberapa hari sebelumnya aku masih mengenakan celana pendek, bikini atau gaya busana Barat yang berkelas. Walaupun masyarakat, wajah dan toko semuanya tetap sama, ada satu hal yang sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya -aku bukan lagi-, rasa damai itu juga bukan yang sama sepanjang hidupku sebagai perempuan. Aku merasa seolah-olah semua rantai telah putus dan akhirnya aku bebas sebenar-benarnya. Sangat menyenangkan melihat wajah heran dari orang-orang lain dibandingkan dengan melihat wajah pemangsa yang siap menerkam korbannya, yang sering kutemui dulu. Tiba-tiba saja beban itu terangkat dari bahuku. Aku tidak lagi menghabiskan waktuku untuk berbelanja, membeli kosmetik, ke salon dan melatih fisik untuk penampilanku. Akhirnya aku bebas.
Dari semua tempat itu, aku menemukan Islamku tepat di pusat dari tempat yang sering disebut sebagian orang sebagai ‘tempat tersering terjadinya skandal di bumi’, bagaimanapun membuat semua itu menjadikannya penuh cinta dan spesial.
Walaupun bahagia dengan Hijab, aku menjadi ingin tahu mengenai Niqab (cadar), karena melihat peningkatan angka Muslimah yang mengenakannya. Aku bertanya kepada suamiku yang juga Muslim, yang menikah denganku setelah aku menjadi Muslimah, apakah aku diperbolehkan mengenakan Niqab atau cukup dengan hijab-ku yang sekarang telah kukenakan. Dengan santainya suamiku menanggapi bahwa ia percaya bahwa Hijab adalah sebuah kewajiban namun tidak demikian dengan Niqab. Saat itu, Hijabku terdiri dari penutup kepala yang menutupi semua rambutku kecuali wajah dan gaun hitam panjang yang longgar, biasa disebut dengan Abaya yang menutupi tubuh dari leher hingga kaki.
Satu setengah tahun berlalu, aku mengatakan kepada suamiku bahwa aku ingin mengenakan Niqab. Alasanku kali ini, bahwa aku merasa akan lebih menyenangkan Allah, Yang Maha Pencipta, dan akan meningkatkan rasa damai dalam diri bila berpakaian lebih tertutup. Ia mendukung keputusanku dan mengantarku membeli ‘Isdaal’, sebuah gaun hitam longgar yang menutup dari kepala hingga kaki dan ‘Niqab’ yang menutup seluruh kepalaku termasuk wajah kecuali mata.
Tak lama, media mulai memberitakan tentang para politikus, pemuka Vatikan, pendukung kebebasan, aktivis HAM palsu yang berkali-kali mengkritik pedas tentang Hijab, apalagi Niqab, yang bagi orang lain tampak sebagai bentuk yang sangat kejam terhadap kaum perempuan, juga dianggap gangguan dalam bersosialisasi dan baru-baru ini seorang pegawai Mesir mengatakan bahwa hal itu ‘sebagai tanda-tanda kemunduran’
Lalu aku menilai sebuah kemunafikan parah saat beberapa pemerintahan Barat dan juga kelompok pembela HAM palsu yang tergesa-gesa mencoba membela hak-hak perempuan ketika pemerintahan beberapa Negara lainnya memaksakan penggunaan kode berbusana tertentu untuk perempuan. Sekalipun begitu ‘Pejuang Kebebasan’ melihat sisi lainnya ketika kaum perempuan kehilangan hak-haknya, tidak dapat bekerja, belajar, hanya karena memilih untuk menggunakan haknya untuk mengenakan Niqab atau Hijab. Sekarang ini, terjadi peningkatan pembatasan kaum perempuan yang mengenakan Hijab atau Niqab dari kesempatan bekerja dan pendidikan, bukan hanya di bawah rejim yang totaliter seperti di Tunisia, Maroko dan Mesir, melainkan juga di Negara-negara demokrasi seperti Perancis, Belanda dan Inggris.
Saat ini, aku masih tetap menjadi aktivis perempuan, tepatnya aktivis perempuan Muslim, yang memanggil para Muslimah untuk mengambil tanggung jawab mereka memberi dukungan semampunya kepada suami agar menjadi Muslim yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang jujur dan bertanggungjawab, sehingga mungkin nanti bisa menjadi cahaya untuk kemanusiaan. Untuk memerintahkan kebaikan –kebaikan apapun- dan untuk mengharamkan kejahatan –kejahatan apapun-. Untuk berbicara tentang kebenaran dan kebajikan serta melawan semua keburukan-keburukan. Untuk memperjuangkan hak-hak kita mengenakan Niqab atau Hijab untuk menyenangkan Yang Maha Pencipta, apapun yang kita pilih. Dan juga penting, untuk membagi pengalaman mengenakan Niqab atau Hijab kepada teman perempuan yang mungkin belum pernah berkesempatan untuk mengerti apa arti sesungguhnya mengenakan Niqab atau Hijab bagi kita dan alasan-alasan kita sehingga, dengan penuh cinta, kita memeluknya.
Sebagian besar perempuan yang kuketahui mengenaikan Niqab adalah Muallaf Barat, sebagian dari mereka bahkan belum menikah. Yang lain mengenakan Niqab tanpa dukungan penuh dari keluarga maupun lingkungan dekatnya. Apa yang umumnya kita miliki adalah, bahwa semua itu adalah pilihan pribadi setiap orang atau masing-masing dari kita, yang tidak satupun dari kita menginginkan untuk menyerah.
Mau atau tidak mau, kaum perempuan dibombardir dengan gaya “berbusana minim hingga tanpa busana” secara virtual dalam setiap bentuk komunikasi dimanapun di dunia ini. Sebagai seorang bekas Non-Muslim, aku tetap menuntut hak-hak perempuan untuk sama-sama mengetahui mengenai Hijab, kebaikan-kebaikannya, dan kedamaian serta kebahagiaan yang dibawanya ke dalam kehidupan perempuan, seperti yang telah terjadi padaku.
Kemarin, bikini merupakan lambang kebebasanku, yang sesungguhnya membebaskanku dari kepercayaan-kepercayaanku dan sebagai manusia biasa.
Aku tidak dapat lebih gembira lagi karena telah menanggalkan bikiniku di Pantai Selatan dan gaya hidup Barat yang gemerlapan itu, untuk hidup damai dengan Penciptaku dan menikmati hidup di antara teman-teman sesama manusia sebagai pribadi yang layak menerimanya. Hal itu adalah alasanku untuk memilih mengenakan Niqab dan bersedia mati membela hakku yang tak mungkin bisa dicabut untuk mengenakannya.
Hari ini, Niqab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk menemukan siapa dirinya, apa tujuannya dan bagaimana bentuk hubungan yang dipilihnya agar bisa bersama Penciptanya.
Kepada perempuan yang menyerah terhadap anggapan buruk mengenai ketertutupan Hijab yang islami, aku bisa berkata: Engkau tidak mengetahui apa yang terlewatkan olehmu.
Kepadamu, penguasa peradaban yang korup dan tidak beruntung, juga para aktivis palsu, aku bisa berkata: Bawalah terus…
[Ditulis oleh Sara Bokker, dahulu seorang aktris/model/pelatih fitness dan seorang aktivis. Saat ini Sara Bokker adalah Direktur Komunikasi di “The March for Justice”, salah seorang pendiri ‘Global Sisters Network” dan Produser “Shock and Awe Gallery. Tulisan ini diambil dari situs www.marchforjustice.com. Cerita ini juga pernah dimuat di www.saudigazette.com.sa. Sara bisa dihubungi di srae@marchforjustice.com ]