MP3 Kajian Islam (I)


Sejarah Kodifikasi Hadits
Kaidah Memahami As-Sunnah
Jamaah-jamaah Islam (Jamaatul Muslimin)
Krisis Umat Islam
Pengaruh Media Massa Terhadap Opini Umat
Perbedaan-perbedaan dalam Islam (Ushul & Furu’)
Langkah Mengatasi Krisis Multidimensi
Fiqih Shalat (I)
Fiqih Shalat (II)
Qiyamul Lail
Fiqih Thaharah
Fiqih Dzulhijjah (Keistimewaan Bulan Dzulhijjah)

MENYINGKAP TERORISME DUNIA – Menyingkap Literer-Empiris Atas Doktrin Ideologis Aksi Terorisme


Penulis : As’ad As-Sahamrani

Penerbit : ERA Intermedia

Buku ini sebenarnya dahulu adalah buku sisa dagangan SA’I Bookstore mini yang ada dirumah. Karena lama tidak terjual, saya justru tertarik untuk membuka segelnya lalu saya baca sendiri dan menjadi tambahan bagi perpustakaan literatur Islam di SA’I Media Center. Namun saya selalu merasa beruntung. Buku ini berisi topik pembahasan yang sangat tepat dengan minat saya. Saya sudah lama dan kedepannya akan terus mempelajari bagaimana Barat begitu memusuhi umat Islam. Disamping saya sendiri memiliki tuntutan untuk mengerjakan proposal calon disertasi saya nanti ketika S3 yang rencananya adalah tentang membongkar kebusukan media Barat melalui visual-visual yang dipakai media massa disaat tragedi 9/11 dan peringatannya setiap tahun.

Buku ini memberikan banyak pengetahuan tentang definisi ‘teror’ dalam berbagai sumber dan literatur. Cukup ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari setiap rujukan yang dipakainya. Selanjutnya dijelaskan bagaimana konsep jihad dan aturan perang yang benar didalam Islam. Disini penulis mendefinisikan jihad secara benar, yang jelas melemahkan definisi jihad yang umum dipakai ustad-ustad televisi di Indonesia: “Jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu”. Yang akhirnya sering disalah artikan, bahwa tidak perlu jauh-jauh berjihad bertaruh nyawa membela agama Allah, dan cukup berjihad menahan hawa nafsu saja. Selanjutnya, penulis menjelaskan dengan baik tentang hukum jihad yang bisa fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

Dalam bab lain, penulis membedah bagaimana zionisme sudah lama lahir dan tumbuh di Amerika sejak abad ke-17an. Benar-benar surprising. Karena ilmu saya yang dangkal tentang faham ini, saya merasa buku ini menjawab kebutuhan ilmu saya tentang relasi AS-Zionisme. Dan yang terakhir, inti dari buku ini adalah tentang dasar pemikiran terorisme yang dianut zionisme. Pembahasannya yang straight to the point dan bahasa yang ringan membuat saya mudah mencernanya. Cocok untuk para beginner. Yah,..memang saya selalu beruntung menemukan buku-buku bagus untuk dibahas di resensi ini. Gimana dengan anda?

[abu hafizh]

Wajah Islam ala Barat: Dahulu dan Sekarang


Wajah Islam di dunia memang sudah mulai digambarkan ‘buruk rupa’ sejak tercetusnya Perang Salib abad XI hingga abad XIII. Sejak perang itu, umat Kristen (Barat) menyisakan dendam kesumat yang hingga kini masih membara dihati mereka. Mereka berupaya melakukan serangan-serangan lain kepada umat Islam di belahan bumi yang lain melalui penjajahan (yang sering mereka tutupi dengan dalih mencari rempah-rempah). Apa yang mereka bawa bukan hanya Gold (emas) dan Glory (kebanggaan) saja, namun mereka juga membawa Gospel (penyebaran Injil). Menurut sejarah, apa yang mereka lakukan untuk menyebarkan agama Kristen, selalu diiringi lumuran darah. Niat mereka bukan hanya sekedar menyebarkan agama, tapi mengikis dunia Islam dan menenggelamkan wajah kejayaan Islam.

Apa yang Barat lakukan untuk menghancurkan Islam penuh dengan taktik dan strategi yang matang. Mereka berupaya merepresentasikan wajah Islam sebagai wajah yang buruk rupa, sadis, monster dan menjijikkan didepan dunia. Hasilnya, saat ini tanyakan saja kepada orang-orang Islam yang awam di sekitarmu tentang image seperti apa yang mereka tangkap ketika melihat muslimah bercadar/burkah, atau laki-laki berjenggot, berdahi hitam, dan bercelana congkrang. Sudah bisa dipastikan mayoritas akan menjawab itu dandanan para ‘teroris’. Atau tanyakan juga siapakah Osama bin Laden. Rata-rata akan menjawab beliau adalah teroris. Bahkan yang sekelas aktivis masjid pun pernah ada yang berkata seperti itu.

Masih ingat surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, yang memuat karikatur Rasulullah Saw beberapa tahun lalu? Rasulullah Saw digambarkan buruk rupa, sadis, gila seks, dan phedophilia. Tidak beda apa yang terjadi dulu dan saat ini. Malahan sekarang lebih parah dibandingkan kondisi jaman dahulu.

Sebagai contoh lagi, Geert Wilder, politisi Belanda yang beberapa tahun lalu segaja membuat cari gara-gara dengan umat Islam demi popularitas politiknya melalui film Fitna. Melihat kondisi umat Islam yang adem-ayem (tenang-tenang) saja, dia memberanikan menghina Al-Qur’an dikatakan sebagai kitab suci yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan masal. Setelah itu, apa yang terjadi? Geert Wilder dianggap ‘pahlawan’ di negaranya, populer karena fitnahnya melalui Fitna (parahnya, umat Islam sendiri hanya bisa melakukan gertak sambal saja).

Upaya Barat untuk mencitrakan Islam dengan citra yang buruk sasarannya bukan hanya orang-orang awam di Barat saja, namun juga orang-orang muslim sendiri agar mereka phobia terhadap ajaran agamanya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Anwar al-Jundy sebagai ‘Westernisation in Islamic World’. Westernisasi jika diartikan dalam arti yang luas berarti mendorong umat Islam dan bangsa Arab untuk menerima pemikiran-pemikiran Barat dalam jiwa umat Islam, menanamkan prinsip-prinsip pendidikan ala Barat sehingga umat Islam tumbuh dalam kehidupan dan pemikiran Barat sehingga nilai-nilai keislamannya menjadi hampa dalam hati mereka.

Ketika umat Islam sendiri mulai phobia dengan ajaran agamanya, maka mereka akan melupakan bahwa Islam merupakan sistem hidup (way of life) yang terbaik dan paling sempurna bagi umat manusia. Jika sudah seperti itu, maka umat Islam sendiri ikut-ikutan memerangi syariat Islam sekaligus mencegah usaha kebangkitan Islam layaknya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam pada umumnya.

Seorang rapper muslim lokal, Abdul Aziz Al-Makassary, pernah menyebut perang pemikiran seperti ini merupakan perang panjang. Memang benar apa yang dikatakannya, bahwa kondisi seperti ini (ghazwul fikri) sebenarnya sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw masih hidup hingga saat ini. Hanya saja dalam versi yang berbeda-beda. Dulu Rasulullah Saw ketika menyampaikan wahyu dari Allah Ta’ala mereka citrakan sebagai orang gila yang berbicara nglantur, saat ini pun tak berubah. Tetap saja banyak musuh Islam yang mencitrakan seperti itu. Perang ini menjadi sangat panjang ketika umat Islam sendiri bukan hanya sudah tidak memiliki ‘persiapan perang’ yang cukup dengan ilmu dan pemahaman yang benar, namun sebagian besar umat Islam tidak memiliki tekad dan rasa cinta untuk membela agamanya yang sedang diinjak-injak. Para motivator, da’i, ustadz, bahkan ulama akan lebih banyak menghabiskan energinya untuk membangkitkan kedua aspek fundamental itu. Yah...memang tidak mudah membalikkan telapak tangan dalam membenahi ‘sisi dalam’ umat ini. Persiapan perangnya panjang, perangnya sendiri juga panjang...Wallahua’lam [aa]

BHINNEKA Vol.6 Mei 2010


Format : Majalah/ Buletin

Harga : Gratis

Topik Utama : Edisi Khusus ILGA 2010

Sepulang dari studi di Bandung selama 4 bulan, saya sempatkan masuk ruangan kerja saya di kampus untuk sekedar menengok meja kerja saya. Entah siapa yang menaruhnya, majalah ini sudah tergeletak di atas meja saya yang memang selalu terlihat berantakan dengan buku-buku dan kertas gak jelas. Kovernya gak menarik. Tapi yang membuat saya penasaran dengan isinya adalah slogan majalah ini, “karena indonesia tidak tunggal ika”. Tumben ada yang ‘agak’ kontroversi gini?

Sambil saya buka halaman pertama, saya jadi lebih tertarik lagi karena ternyata kepanjangan ILGA adalah International Lesbian and Gay Conference. Saya langsung bisa menebak kalau majalah ini adalah majalah buatan para aktivis gay dan lesbian. Pantes aja, la wong si hombreng Dede Oetomo ikutan nongol di daftar penasehat majalah ini.

Saya baca-baca cepat dari awal hingga akhir edisi ini. Isinya benar-benar tentang kekecewaan, kemarahan, dan rasa sebel mereka atas gagalnya konferensi gay dan lesbian (ILGA 2010) diadakan di Surabaya bulan Maret setahun yang lalu. Para penulis, redaktur, dan para kontributornya semua terlihat emosional dalam meliput bagaimana konferensi itu digagalkan oleh ormas-ormas Islam setempat. Hehehe..saya jadi ketawa-ketawa sendiri membacanya sambil ngebayangin kaum Luth yang pada ngambek karena sebel. Dalam hati saya berkali-kali mengucap “kapok! Rasakno!..” (rasain lu!).

Musuh utama mereka adalah syariat Islam dan orang-orang yang memperjuangkannya di negeri ini. Mereka sebut ormas-ormas Islam macam FPI atau HTI sebagai ‘teroris HAM’. Menurut saya julukan itu cukup keren kok. Gapapa, biarin aja. Karena kita senang-senang aja dianggap musuh. Karena musuh kemungkaran kan namanya kebaikan. Gay dan lesbi jelas mungkar, nah berarti kita jelas kebaikan.

Negara demokrasi emang memberikan ruang bagi mereka untuk eksis. Tameng mereka adalah HAM. Huh,..alasan yang membosankan. Saya sih waktu itu mikirnya simpel aja. Berharap suatu hari nanti ada anak-anak kecil main petasan di dekat markas mereka, pas mereka lagi ngadain konferensi, trus petasannya yang ukuran gede dilemparin ke tempat itu, lalu ngenain tabung elpiji, lalu Blaarrrr! Dan semua bencong-bencong, hombreng-hombreng, lesbian-lesbian terkutuk itu pada tamat riwayatnya.

Eh, btw, dimana tempat orang jual petasan?

Ups, kembali lagi ke topik. Majalah ini sebenarnya diisi oleh tulisan-tulisan yang tidak terlalu profesional. Masih amatiran lah. (mirip sa’i zine kali ya?hehe..). Yang membuat saya risih adalah mereka sering mencari legitimasi ke-gay-annya dan ke-lesbian-nya dengan dalil bahwa tuhan itu bijak kepada lesbian, gay, transgender, dan sebagainya. Bahkan mereka banyak yang ngaku gay-lesbian yang muslim dan agamis. Menurut saya itu malah keliatan banget bodohnya. Mungkin waktu kecil gak pernah tahu cerita kaum Luth kali ya? Apalagi sekarang udah telat kalo minta dicritain. Males banget.

Kalau ada yang mengatakan bahwa saya homophobic, maka anda salah. Saya bukan homophobic karena seorang homophobic membenci homoseksual karena dia benci tanpa alasan logis. Tapi saya? Saya membenci homoseksual dan sejenisnya karena hal itu dibenci pula oleh Allah Ta'ala. Tuhan semesta alam yang menciptakan kita semua di alam raya ini. Pihak yang paling berhak membenci siapapun. Logis kan?

Udah deh,..ini resensi majalah paling gak penting sedunia. Majalah cetakan hvs 56 halaman ini isinya terlalu banyak lelucon untuk dibahas di sa’i. Kalo kalian lagi sedih atau bete, silakan baca majalah ini. Pasti akan membantu anda senyum bahkan tertawa. :D [aa]

Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia


Penulis : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani

Penerbit : Pustaka Al Kautsar

Tahun : 2011

Memang waktu itu sudah lama saya tidak belanja buku. Sejak saya merasa terlalu ‘boros’ shopping buku-buku bagus di Bandung selama 4 bulan lalu. Ramadhan ini, alhamdulillah yah, selalu saja ada rejeki. Kali ini lagi-lagi bukan saya belikan baju baru, celana baru atau pakaian lainnya, tapi ehm...lagi-lagi buku.

Penulis ini, Raghib As Sirjani, seperti dalam resensi-resensi saya di edisi sebelumnya, selalu menghasilkan buku-buku terbaik dan pasti masuk dalam list buku favorit saya. Buku ini tidak tipis seperti sebelum-sebelumnya, namun tebalnya mencapai sekitar hampir 5 cm. Hardcover. Lengkap dengan ‘jaket’ bukunya yang didesain menarik. Benar-benar buku koleksi yang layak menghiasi perpustakaan pribadi anda, serta isinya yang cocok untuk menghiasi isi otak anda!

Lagi-lagi penulis selalu memberikan alasan-alasan logis dan kegelisahan-kegelisahan dirinya melihat umat ini yang selalu mengekor ke peradaban Barat. Seolah mereka buta dan tuli bahwa sebenarnya peradaban Islam sudah memberikan banyak ‘kontribusi’ bagi peradaban Barat yang sekarang begitu dipuja-puja seluruh dunia. Yah, mungkin terlalu halus kalo saya tuliskan dengan kata “kontribusi”, karena kenyataannya bukan Islam yang sengaja memberikannya pada mereka (Barat), tapi merekalah yang mencurinya dari umat Islam lalu seenaknya main klaim kepemilikan intelektual.

Sikap kaum muslimin yang pasif melihat tuduhan-tuduhan yang disematkan Barat kepada Islam benar-benar yang membuat penulis akhirnya meneliti dan menuliskan buku 862 halaman ini. Mereka adalah orang-orang pasif yang pesimis dengan agamanya sendiri. Mereka pesimis karena mereka sebenarnya buta akan sejarah! Mereka bodoh dengan sejarah agama Islam yang mereka peluk sendiri. Identitas mereka muslim, tapi tidak yakin bahwa Islam mampu mengatur dunia ini menjadi jauh lebih baik dari sistem apapun.

Dalam buku ini, awal-awal kita akan diajak menstudi peradaban-peradaban terdahulu-sekarang yang pernah eksis. Bagaimana kelebihan dan dimana letak cacatnya. Setelah itu kita akan dibawa untuk memahami bagaimana peradaban benar menjadi solusi sempurna dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia ini. It’s Excellent! It’s Great! Buku tebal ini emang paling cocok untuk menampar muka orang-orang yang memuja-muja peradaban Barat sebelum mempelajari Islam!

[abu hafizh]

DINAR THE REAL MONEY


Penulis : Muhaimin Iqbal

Penerbit : Gema Insani Press

Tahun : 2009

Beberapa bulan terakhir, memang saya mulai tertarik memperhatikan perkembangan Dinar-dirham dan emas. Sebelum saya mulai mencoba menginvestasikan uang saya dalam bentuk itupun, saya sudah mengajak-ajak saudara dan orangtua saya untuk memulainya. Sampai akhirnya bertepatan dengan momen krisis ekonomi di AS, saya mulai mantab untuk berinvestasi dengan mata uang Rasulullah Saw ini. Tapi buku apa yang tepat untuk saya baca agar saya tidak salah langkah? Akhirnya saya mendapatkan buku ini atas rekomendasi teman saya di kantor.

Tak lama kemudian saya beli buku ini dan cepat-cepat saya baca isinya. Saya penasaran karena penulisnya adalah seorang CEO Gerai Dinar yang blognya selalu uptodate dengan tulisan-tulisannya yang membuka wawasan saya. Saya penasaran apakah dalam buku ini pun mampu memuaskan saya akan wawasan tentang Dinar-dirham. Dan ternyata benar!

Dalam bab-bab awal saja saya sangat terhentak dengan cerita-cerita pengalaman penulis tentang masa depan uang kertas yang makin tidak ada harganya lagi. Kasus-kasus tentang tanda-tanda kehancuran uang kertas benar-benar membuka pikiran saya untuk segera mengalihkan investasi kedalam bentuk lain yang nilainya stabil dan kebal inflasi. Ya, dinar-emas yang saya maksud.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan mengalir. Jangan bayangkan anda akan bertemu dengan tulisan-tulisan teoritis yang membosankan! Karena buku ini seperti dialog penulis dengan anda sebagai pembaca. Anda akan dibuat penulis terus menerus mengangguk-angguk seraya meng-iyakan setiap analogi dan alasan yang dia berikan. Menurut saya Ust Muhaimin Iqbal benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa dalam meyakinkan orang lain. Coba saja anda baca buku ini kalo berani! Saya pastikan anda akan mencabut seluruh tabungan anda di bank-bank konvensional maupun asuransi-asuransi yang sudah anda andalkan selama ini dan beralih ke investasi Dinar!

[abu hafizh]

Pencitraan Islam di Barat: Bumerang yang Kembali Kena Jidat Sendiri


DR. Zakir Naik, seorang ulama dari India pernah mengatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa dalam kurun waktu 150 tahun terakhir ini ada 60.000 buku yang ditulis untuk menghina dan melecehkan Rasulullah Saw di Barat. Tidak hanya itu, majalah-majalah milik Barat kelas dunia macam majalah TIME isinya selalu menyerang dan menyudutkan Islam. Bahkan seorang ulama kristologi tersohor asal Afrika, Ahmed Dedat, pernah mencoba menawarkan untuk membayar berapapun untuk ‘mengiklankan’ tentang prospek Al-Qur’an sebagai hukum masa depan dalam satu halaman saja di majalah tersebut tetap saja ditolak mentah-mentah. Itu berarti tak ada ruang bagi kita di media-media Barat. Mereka akan terus ‘mendandani’ wajah Islam layaknya monster dari waktu ke waktu.

Tetapi ada sesuatu yang ‘aneh’ terjadi. Dampak pencitraan buruk terhadap Islam justru membuat orang-orang di Barat semakin penasaran terhadap Islam. Intinya, semakin Islam dicitrakan buruk, maka semakin membuat orang-orang non-muslim di Barat penasaran untuk mencari tahu apa sebenarnya yang diajarkan dalam Islam. Faktanya, sejak kejadian 9/11, setiap tahun warga Amerika yang menyatakan diri masuk Islam semakin meningkat. Bahkan menurut kabar beberapa tahun terakhir, ada sekitar 20.000 orang warga di negara itu setiap tahunnya memilih Islam sebagai dien-nya. Kata salah satu situs media muslim lokal, mayoritas dari mereka adalah wanita.

Fenomena tersebut sudah bukan fenomena aneh lagi. Kita sudah sering mendengarnya di media-media muslim akhir-akhir ini. Namun yang menjadi menarik untuk dibahas adalah, mengapa hal itu bisa terjadi?

Seperti yang kita ketahui, peradaban Barat merupakan peradaban yang anti-agama. Meskipun mayoritas mereka memeluk kristen, namun sebenarnya sebagian besar dari pemeluk itu bukanlah pemeluk yang taat. Mungkin lebih cocok jika disebut sebagai “kristen KTP”. Dalam hati mereka sebenarnya memberontak terhadap agama. Mengapa bisa demikian? Karena mereka sudah lebih dari 1000 tahun lebih ditindas oleh agama. Dalam konteks ini adalah agama yang mereka anut; Kristen.

Scott Peck, seorang psikiater dan penulis terkenal di Barat mengatakan bahwa orang Barat jika mendengar kata “agama” akan langsung berpersepsi negatif. Hal itu disebabkan latar belakang sejarah mereka yang ratusan tahun lebih dijajah oleh gereja. Maka tidak heran simbol yang mereka pakai sebagai patung adalah “Liberty” yang berarti kebebasan. Bebas dari agama.

Jean Paul Sartre, seorang filosof dan eksistensialis dari Perancis, juga pernah mengatakan bahwa walaupun Tuhan itu ada, tapi lebih baik ide tentang adanya Tuhan itu harus ditolak, karena menurut Sartre hal itu sangat membatasi kebebasan. Begitulah respon Barat terhadap agama.

Namun, sejak 9/11 di tahun 2001 itu menjadi pembuka keingintahuan yang mendalam tentang Islam. Keingintahuan mereka yang tinggi membuat mereka bertanya, membaca, mempelajari apapun tentang Islam. Akhirnya dengan ‘tidak sengaja’ mereka mengetahui bagaimana konsep keTuhanan dalam Islam, bagaimana prinsip-prinsip agama Islam, dan lain sebagainya. Yang mereka harapkan klarifikasi akan buruknya Islam justru mereka mendapat informasi yang sebaliknya bahwa Islam merupakan agama yang paling logis, masuk akal, adil dan jelas konsepnya.

Tidak heran, dalam agama kristen sendiri, konsep keTuhanannya masih tidak jelas. Konsep trinitas begitu membingungkan dan tidak logis bagi mereka. Perdebatan tentang konsep itu sudah ada sejak kristen lahir, hingga detik ini belum juga selesai. Selain itu konsep tentang hak dan kewajiban dalam Islam, khususnya kepada perempuan, sangatlah adil dan logis. Jawaban yang mereka dapat justru bertolak belakang dengan apa yang digambarkan media-media Barat tentang Islam yang syariatnya menindas dan menyudutkan perempuan dibawah laki-laki. Mereka jadi tahu bahwa betapa Islam memuliakan wanita. Menempatkan wanita pada sektor-sektor peran yang penting dan mulia. Bahkan semakin media Barat sering membuat heboh dengan cara menghina Rasulullah Saw melalui karikatur dan isu-isu fitnah, justru membuat orang-orang Barat semakin ingin mengenal siapa sebenarnya Rasulullah Saw, untuk menjawab kebenaran isu tersebut. Dan apa yang mereka dapatkan? Lagi-lagi kajian-kajian tentang kemuliaan dan kehebatan Rasulullah Saw sebagai manusia terbaik yang diutus sebagai Rasul dimuka bumi.

Melempar isu negatif ke publik tentang ‘keburukan’ Islam, memang tetap memiliki dampak negatif pada orang-orang Islam di negara-negara yang justru mayoritas muslim. Mereka muslim namun menjadi phobia terhadap agamanya sendiri. Ikut-ikutan mengekor pada pemahaman Barat tentang Islam karena memang sebagian orang muslim sangat memuja peradaban Barat. Tapi bagi masyarakat di Barat sendiri, fenomena ini sama saja seperti melempar bumerang yang kembali mengenai jidat sendiri. Gereja-gereja semakin sepi ditinggalkan para jemaatnya. Puluhan ribu orang setiap tahunnya berbondong-bondong masuk Islam atas kesadaran sendiri tanpa sedikitpun paksaan. Sungguh kemenangan terasa semakin dekat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr 1-3)

Wallahua’lam

[abu hafizh]

Media Massa : Alat Barat Hancurkan Image Islam




“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...” (QS. Al Maa’idah:82)

“...mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup...”(QS. Al Baqarah:217)

Media Barat memang lebay kalau memberitakan sesuatu yang negatif dari Islam. Tapi jika ada topik-topik yang positif tentang Islam, mereka tutup mata tutup telinga seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi. Celakanya, trend dan pola pemberitaan semacam itu bukan lagi hanya dimiliki media-media Barat, tapi media-media massa di Indonesia ikut-ikut mengekor tradisi berita negatif tentang Islam. Sebut saja akhir-akhir ini, soal aliran-aliran yang nyleneh memilih untuk shalat Ied sehari lebih awal dari ormas apapun di Indonesia, diberitakan berlebihan seolah sengaja menonjolkan sisi buruknya Islam saja.

Menurut para kritikus media sering membuat sindiran bahwa prinsip media-media saat ini dalam mencari berita adalah “kalo ada anjing menggigit manusia, bukan berita namanya. Tapi kalo manusia menggigit anjing, itu baru berita.” Maka jelas apa yang dicari oleh media bukanlah sesuatu yang umum, wajar, dan baik-baik. Namun sesuatu yang nyleneh, bagi mereka adalah sesuatu yang layak untuk disebar luaskan. Nah, jika sudah begitu, yang menjadi masalah besar adalah ketika yang menjadi objek berita adalah Islam. Karena ketika itu diterapkan, maka media hanya akan mencari hal-hal yang memberikan citra negatif saja soal Islam. Topik-topik tentang perpecahan antar jamaah, perbedaan pendapat penentuan 1 Syawal, tuduhan teroris, menikahi gadis dibawah 15 tahun, poligami, jihad, dan lain sebagainya akan lebih ‘menarik’ bagi para wartawan media. Hal-hal positif yang mencitrakan bahwa Islam adalah sebuah sistem yang komprehensif, yang mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan dunia (dan akhirat juga tentunya), keberhasilan-keberhasilan penerapannya dalam kehidupan, kontribusinya terhadap kehidupan masyarakat, serta hal-hal positif lainnya tentang Islam tidak akan mendapat ruang dimedia.

Seorang orientalis senior dan ahli linguistik, Noam Chomsky, mengatakan bahwa usaha memperburuk citra Islam merupakan upaya negara-negara Barat (khususnya Amerika) untuk mengatur seluruh dunia sesuai dengan kepentingan mereka. Karena mereka mengklaim diri mereka sebagai pemegang supremacy of truth, sehingga siapapun yang dianggap ancaman bagi kepentingannya - termasuk Islam – maka akan disingkirkan dan di stempel dengan image ‘buruk’. Jika stempel itu disetujui oleh masyarakat luas (baca: dunia), maka terbentuklah public opinion tentang ‘bahaya’-nya Islam bagi umat manusia dunia, lalu berikutnya penindasan terhadap umat Islam akan mendapat dukungan dan legitimasi dari seluruh dunia pula.

Upaya Barat dalam mencitrakan negatif Islam sering disebut dengan istilah ‘demonologi Islam’ oleh Asep Syamsul. Yang arti langsungnya adalah “penyetanan Islam”. Agak kasar memang. Tapi memang seperti itulah perumpamaan yang tepat terhadap apa yang sedang dilakukan oleh Barat kepada Islam: menciptakan label-label negatif tentang Islam, gerakan-gerakan dakwah, tokoh-tokoh pejuang Islam, syariat Islam, agar Islam terlihat ‘menyeramkan’, layaknya setan. Label yang paling umum digunakan Amerika adalah ‘teroris’. Kita bahkan sudah hafal diluar kepala pelabelan itu. Noam Chomsky juga pernah menulis tentang ini dan dimuat dalam harian Republika dengan judul “AS Memanfaatkan Terorisme sebagai Instrumen Kebijakan”. Maksud Noam dalam tulisannya itu adalah Amerika sering berdalih memerangi ‘terorisme’ ketika membasmi gerakan-gerakan Islam yang menentang dirinya, dan seolah mereka sudah berada di ‘jalan yang benar’ untuk berbuat itu semua.

Objek-objek yang sering menjadi sasaran Barat dalam pencitraan negatif di media massa biasanya adalah organisasi-organisasi Islam, pemerintahan-pemerintahan yang dipimpin oleh pemimpin muslim dan berani terang-terangan melawan Barat, serta tokoh-tokoh aktivis/pejuang Islam.

Untuk ‘kategori’ organisasi-organisasi Islam, yang jadi sasaran adalah Ikhwanul Muslimin (Mesir), Front Islamique du Salut (FIS – Aljazair), Hamas (Palestina), Hizbullah (Lebanon), Jihad Islam (Palestina), dan lain-lain. Sedangkan untuk kategori pemerintahan; Imam Khomeini (Iran), Muammar Qaddhafi (Libya), Saddam Husein (Irak); juga Zia Ul-Haq (Pakistan), Hasan al-Basyir (Sudan), dan Taliban (Afghanistan) yang mencoba menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Untuk tokoh-tokoh/aktivis Islam sejak dulu hingga kini seperti Hasan Al-Banna (Mesir), Sayyid Quthb (Mesir), Osama bin Laden (Afghanistan/Saudi Arabia), Hasan Turabi (Sudan), Syeikh Ahmad Yasin (Palestina), Syeikh Omar Abdul Rahman (Mesir) dan masih banyak lagi lainnya.

Namun betapa pun besar usaha mereka dalam menjatuhkan Islam, Allah Ta’ala yang Maha Perkasa tidak akan tinggal diam. Karena sebesar apapun perbuatan makar (tipu daya) yang mereka lakukan, Allah akan membalas tipu daya mereka itu. Seperti janji dalam firmanNya:

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran:54)

Dan jika kita istiqomah membela agama ini, akan datang pula janji Allah untuk mengalahkan mereka.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan” (QS. Al-Anfaal:36)

Wallahu a’lam

[abu hafizh]

Link SA'I ZINE #10 dan SUB CHAOS ZINE #9!



Out Now!! SA'I zine #10 and SUB CHAOS zine #9! Media dakwah yang sangat direkomendasikan untuk seluruh Ghurabba Militant Tawheed! sedot disini segera:

SA’I ZINE #10 Readable version :

http://www.4shared.com/document/8p-wRgVD/SAI_ZINE_10.html?

SA’I ZINE #10 Printed Version : http://www.4shared.com/document/3wuHYAuF/SAI_ZINE_10__imposition_.html?

SUB CHAOS ZINE #9 Readable Version :

http://www.4shared.com/document/GhyKwmt4/SUB_CHAOS_ZINE_9.html?

SUB CHAOS ZINE #9 Printed Version :

http://www.4shared.com/document/r31p2ctG/SUB_CHAOS_ZINE_9__impositioned.html?

SA’I zine #10 “Why Western Civilization Must Die?”


Format : PDF/Fotokopi (B5)

Terbit : Oktober 2011

Setelah lebih dari 6 bulan tidak muncul edisi baru, SA’I zine kembali menerbitkan nomor 10 dengan topik “Why Western Civilization Must Die?”. Awalnya edisi ini berencana akan muncul double-edition dengan edisi 11. Namun karena faktor waktu dan biaya akhirnya edisi 10 diterbitkan lebih dahulu.

Dalam edisi ini tidak seperti edisi-edisi sebelumnya, karena tidak ada interview/wawancara dengan nara sumber terkait isu yang diangkat dalam edisi tersebut. Namun artikel-artikel yang ada didalamnya lebih lengkap dalam membahas setiap sub-topik yang disuguhkan. Ada artikel tentang “Kebobrokan Peradaban Barat” yang disadur dari pesan-pesan yang disampaikan Mursyid Ikhwanul Muslimin, Mahdi ‘Akif. Lalu “Wajah Islam ala Barat” dari editor yang banyak membongkar bagaimana usaha-usaha Barat dalam membuat wajah Islam di dunia menjadi buruk rupa dan ditakuti oleh umat manusia. Tulisan ini dilanjutkan dengan tulisan tentang media massa yang sering dijadikan orang-orang salibis-zionis sebagai tools untuk menyebarkan isu-isu fitnah dan kebenciannya terhadap Islam. Juga “New Crusade War” yang menjelaskan bahwa perang salib belum usai. Dan sampai hari ini masih kita jalani dalam versi dan bentuk yang berbeda, serta masih banyak lagi artikel yang disuguhkan dalam edisi ini.

Segmen kolom untuk penulis-penulis tamu masih tetap menjadi pendukung utama untuk membuat zine ini lengkap untuk dibaca. Begitu juga dengan “Review” bertumpuk buku serta satu segmen baru berjudul “3 Most Phenomenal Books on Your List” melengkapi isi dari zine pemikiran Islam untuk pemula di edisi 10 ini.

So, jangan pernah percaya sama apa yang saya katakan diatas sebelum anda dapatkan zine ini ddega mendownload versi PDF di link ini :

http://www.4shared.com/document/3wuHYAuF/SAI_ZINE_10__imposition_.html?

Pemesanan berupa hasil cetak, silakan hubungi redaksi di 085733265655 dengan mengganti biaya cetak saja seharga Rp.2000/eks saja. Minimal pemesanan adalah 10 eksemplar. Harga belum termasuk ongkos kirim.

Wassalam!

Islamisasi Nusantara: Bukan Asal-Asalan


Judul Buku : Historical Fact and Fictions
Penulis : Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas
Penerbit : Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
Tahun : 2011
Halaman : xviii+170

Bagi majalah Media Hindu (edisi Oktober 2011), keberadaan Indonesia menjadi Negara mayoritas Muslim, patut disesali. Dalam laporan utamanya, Media ini menulis: “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit”. Menurut majalah ini, Islam dianggap sebagai agama yang menggusur nilai-nilai budaya bangsa, sehingga menghambat kemajuan Indonesia. “Namun atas dasar pendapat tersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila meyoritas rakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dan nilai-nilai luhur bangsa.”

Lalu, disimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”

Suara-suara sumbang yang menyesali pengislaman Nusantara bukanlah hal baru. Bahkan, sejak era penjajahan, berbagai suara dan upaya untuk mengecilkan kebaradaan dan peran Islam di negeri dan kawasan ini sudah dilakukan. Jangan heran! Meskipun Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim, simbol-simbol negara dan simbol-simbol sejarah, selama ini diusahakan untuk jauh dari warna Islam.

Di dalam Tafsir al-Azhar, yang ditulis tahun 1960-an, Prof. Hamka, sudah menyinggung upaya pengecilan peran Islam dalam sejarah dan kehidupan kenegaraan: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah.”

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah ilmuwan Muslim yang berpuluh tahun sangat gigih berusaha mematahkan dominasi kaum orientalis dalam pendidikan sejarah di wilayah Melayu ini. Sejak tahun 1970-an, al-Attas sudah bertungkus-lumus berupaya membongkar rekayasa sistematis untuk mengecilkan sejarah Islam. Prof. S.M.N. al-Attas merangkum pendapat para orientalis dan kaum kolonial: “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990).

Nama S.M.N. al-Attas selama ini sudah identik sebagai pendekar dalam sejarah Melayu. Sejak tahun 1980-an, bukunya, Islam and Secularism, sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Buku ini sudah menjelaskan proses Islamisasi di wilayah Nusantara. Bukunya yang lain, Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu, juga mengklarifikasi dan mengkritik sejumlah pendapat para orientalis tentang perkembangan Islam di Nusantara.

Kini, Prof. S.M. Naquib al-Attas sudah menginjak umur 80 tahun. Lahir di Bogor, tahun 1931, Naquib al-Attas adalah cucu seorang ulama besar di Bogor, Abdullah bin Muhsin al-Attas, yang juga guru sejumlah ulama terkenal di Jabodetabek, seperti KH Abdullah Syafii, dan sebagainya. Tapi, di usianya yang sudah sangat lanjut itu, Prof al-Attas masih berhasil menerbitkan sebuah buku yang luar biasa, berjudul Historical Fact and Fictions. Sama dengan buku Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu, seolah menegaskan pendapatnya selama ini, buku Historical… ini pun bergambar sampul kaligrafi “ayam jago”, sebagai simbol awal kehidupan baru.

Buku ini memang fantastis, melihat ketajaman analisis dan kekayaan referensi yang digunakannya. Melalui buku ini, al-Attas berhasil membalik berbagai pandangan umum tentang sejarah Islam dan Melayu yang sudah dianggap mapan, sebagaimana yang selama ini diteorikan oleh sejarawan lain. Bahkan, menurut al-Attas, mungkin inilah satu bentuk interpretasi sejarah yang belum pernah dikenal sebelumnya. (hal.xi).

Al-Attas, misalnya, mengungkap keberhasilan para pendakwah Islam (ia gunakan istilah “misionaris Islam”) dalam mengangkat dan mengislamkan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa persatuan di wilayah Nusantara. “The spread of the new and vibrant Malay language and literature as a vehicle of Islam and knowledge presently used by more than two hundred million people in the Malay Archipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood, the other factor being the religion of Islam itself.” (hal. xvi).

Analisis al-Attas itu menarik. Bisa dipahami, jika penggunaan bahasa Melayu ini sempat ditolak oleh kaum Kristen. J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia. Lihat juga buku Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009).

Peran bahasa Melayu dan agama Islam dalam pengislaman dan pernyatuan Nusantara ini diperjelas lagi oleh Prof. al-Attas dalam buku terbarunya ini. Penjelasan al-Attas ini sekaligus menepis anggapan yang dibangun selama ini, bahwa Majapahit di masa Gajah Mada-lah yang berhasil menyatukan Nusantara.

Salah satu kesimpulan penting dari buku Historical Fact and Fictions adalah, bahwasanya penyebaran Islam di Nusantara ini utamanya bukan dilakukan oleh pedagang, tarekat sufi, atau kaum Syiah, secara sambilan. Dengan bukti-bukti yang kuat dari karya para penulis Muslim klasik, sumber-cumber Cina dan Eropa, al-Attas sampai pada kesimpulan bahwa Islamisasi di Nusantara ini dilakukan dengan cara yang sistematis, terencana, konsisten, dan dilakukan oleh para misionaris Islam yang hebat.

Sejak awal, sangat mungkin, mereka sudah langsung diutus oleh Nabi Muhammad saw dan para khalifah sesudah beliau. Islamisasi di wilayah yang terdiri atas ribuan pulau dan bersuku-suku bukanlah sebuah pekerjaan sambilan dan asal-asalan, sebagaimana digambarkan dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah selama ini. Kata S.M.N al-Attas, “the spread of Islam by these Arab missionaries in the Malay world was not a haphazard matter, a disorganized sporadic affair … It was a gradual process, but it was planned and organized and executed in accordance with timelines and situation.” (hal. 32). Wallahu a’lam bil-shawab. (***)


wrds : ADIAN HUSAINI

Satu Tuhan, Satu Agama


Dalam beberapa hari belakangan, ada sejumlah SMS yang masuk ke HP saya. Isinya, meminta saya mengkaji sebuah buku berjudul Satu Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili, (Mizan, 2011). Rabu (19/10/2011), saya baru sempat mencari buku ini di sebuah toko buku. Setelah membaca dengan seksama, saya segera berusaha memberikan sejumlah ulasan berikut ini.

Dari segi penampilan luar, buku karya Dr. Media Zainul Bahri (dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta) tampak berwibawa, dengan tebal 500 halaman lebih. Ada pengantar dari Rektor UIN Jakarta, Prof. Komaruddin Hidayat dan juga pujian dari Prof. Kautsar Azhari Noer, guru besar Perbandingan Agama, UIN Jakarta. Dengan tampilan semacam itu, wajar jika orang menyangka bahwa buku ini berbobot ilmiah yang tinggi. Apalagi, ini juga disertasi doktor di UIN Jakarta.

Tentu, usaha penulis buku ini dalam mengkaji pemikiran-pemikiran tiga tokoh sufi tersebut perlu diberikan apresiasi. Harapannya, ke depan, makin terbuka kajian-kajian semacam ini yang lebih serius dan lebih Islami. Akan tetapi, sebagai karya terbuka, tentu buku ini wajib dikaji secara kritis. Berikut ini catatan kritis untuk buku ini:

Pertama, buku ini mengambil konsep Pluralisme, Perenialisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama/KTAA(Transcendent Unity of Religions) sebagai dasar analisis. Pemikiran tiga tokoh sufi dianalisis dari konsep ini. Tidak ada catatan kritis apa pun terhadap konsep KTAA tersebut. Penulis buku ini sudah meyakini kebenaran konsep tersebut dan kemudian berusaha mencari legitimasi pada karya-karya klasik dan kontemporer dari para ulama dan sarjana Muslim klasik dan kontemporer.

Padahal, jika ditelaah sepintas saja, kita akan menjumpai berbagai paradoks dan kerancuan dalam pemikiran-pemikiran yang disajikan. Sebagai contoh, tertulis: “Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi Ilahi ini dan bahwa setiap agama lahir dan terikat pada konteks tertentu menjadi argumen bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi/sempurna atas yang lain. Semua bentuk-bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Mahabenaran dan ke-Mahamutlakan Tuhan.” (hal. 21).

Itulah salah satu keganjilan pemikiran pluralisme agama. Mereka menolak “klaim kebenaran” dari masing-masing pemeluk agama, tetapi pada saat yang sama mereka justru menolak keberagaman. Mereka memaksa semua pemeluk agama melepaskan klaim kebenarannya masing-masing lalu dipaksa berpindah menuju satu keyakinan, bahwa “semuanya benar”, sebagaimana paham kaum pluralis tersebut. Bukankah ini satu sikap yang paradoks dan justru anti-pluralisme!

Simaklah, betapa paradoks dan absurdnya logika penganut pluralisme ini! Di dalam buku ini, dikatakan: “Semua jalan-jalan itu menuju kepada puncak yang sama. Ibarat ribuan bahkan jutaan aliran air sungai dan anak sungai semuanya mengalir dan sedang meluncur ke samudera yang sama.” (hal. 379).

Logikanya, jika ia mengakui kebenaran semua agama, aliran, atau paham, seharusnya dia juga mengakui kebenaran paham para penganut agama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri (bersikap eksklusif). Tetapi, anehnya, kita banyak menjumpai berbagai kecaman terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran pluralisme. Dikutip, misalnya, pendapat Paul F. Knitter, bahwa kita tidak dapat mengatakan agama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua agama adalah relatif, terbatas, parsial, tidak lengkap, satu cara melihat sesuatu. Saat ini, menganggap bahwa satu agama pada dirinya lebih baik dari agama lain adalah sebuah pandangan keliru, ofensif, dan berpandangan sempit. (hal. 379-380).

Kita balik bertanya, jika orang hanya mengakui paham Pluralisme saja yang benar, dan menyerang paham yang berbeda dengannya, bukankah orang itu juga berpandangan sempit? Seorang “pluralis sejati”, seharusnya bersikap permisif terhadap semua paham dan agama, karena semuanya dianggap benar! Terbuktilah, logika kaum pluralis ini memang mau menang sendiri dan asal-asalan: merasa benar sendiri dengan pendapatnya, tetapi menyalahkan umat beragama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri!

Kedua, dalam buku ini tidak didefinisikan apa yang disebut “agama” dan apa batasannya? Misalnya, ditulis: “Dengan kata lain, semua agama adalah sama, dalam arti sama-sama mengandung kebenaran yang terbatas. Tidak ada yang lebih baik atau lebih sempurna antara satu dengan yang lain. Tuhan Yang Mahabenar secara mutlak – meminjam ungkapan Schuon – tidak mungkin kebenaran-Nya secara sempurna dikandung hanya oleh satu agama atau berapa agama, bahkan jutaan agama sekali pun.” (hal. 380).

Mari kita uji logika Doktor lulusan UIN Jakarta ini. Ia tentu paham bahwa jumlah agama di dunia ini adalah ribuan. Ambillah satu contoh agama bernama Bhairawatantra yang hidup di Indonesia sebelum kedatangan Islam. Bhairawatantra memiliki ajaran, bahwa manusia hendaknya jangan menahan hawa nafsu, bahkan sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. (Dr. Prijohutomo. Sedjarah Kebudajaan Indonesia I: Bangsa Hindu. (J.B. Wolter, Jakarta-Groningen, 1953). Hal. 89). Salah satu bentuk ritual yang paling esoterik, adalah pemujaan yang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. (Paul Michel Munoz. Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Terjemahan. (Mitra Abadi, Yogyakarta, 2006). Hal. 253 dan 448). (Lihat lebih jauh tentang aliran ini di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 20 Oktober 2011).

Apakah agama Bhairawatantra yang mengajarkan ritual seks bebas dan penyembelihan manusia ini sama derajatnya dengan agama Islam? Di era modern ini, masih banyak dijumpai agama yang mengajarkan agar pemimpin dan jemaatnya semuanya bertelanjang bulat saat melakukan ritual. Ada juga agama pemuja setan. Maka, bisa juga ditanyakan, saat menulis bukunya ini, si dosen Ushuluddin UIN Jakarta tersebut sedang memeluk dan meyakini agama apa? Sulit dibayangkan, jika logika si dosen ini suatu ketika dipungut oleh para pelacur, sehingga mereka berlogika, bahwa praktik prostitusi adalah satu bentuk ritual suci kepada Tuhan!

Ketiga, sebagaimana kebiasaan kaum yang mengaku pluralis agama, penulis buku ini juga mengutip sejumlah ayat dari Kitab suatu agama menuruti pemahamannya sendiri, yang berbeda dengan pemahaman para pemeluk agama tersebut. Sebagai contoh, ia menulis: “Di antara agama-agama dunia, Hinduisme dan Bahaisme adalah dua agama yang secara eksplisit mengapresiasi pluralisme agama, dalam arti mengakui jalan-jalan keselamatan pada agama-agama lain, Bhagawatgita, salah satu kitab suci Hindu, memuat dua sloka popular yang selalu menjadi rujukan bagi pluralisme. Sloka itu berbunyi:

“Jalan mana pun ditempuh manusia

ke arah-Ku, semuanya Kuterima.

Wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku

pada semua jalan.” (hal. 381).

Benarkah agama Hindu kondisinya seperti itu? Ternyata, ungkapan itu hanya khayalan penulis saja! Tahun 2006, terbit sebuah buku berjudul Semua Agama Tidak Sama. Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?” Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian kaum Pluralis yang suka mengutip Bagawadgita IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”

Padahal, jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya.” (Lihat, Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006) hal. xxx.)

Bahkan, majalah MEDIA HINDU, edisi Oktober 2011, menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit” dengan menyimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju.”

Itulah agama Hindu yang ditulis oleh orang Hindu sendiri!

Sebagaimana sejumlah penganut paham pluralis, dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini pun mencoba mencari legitimasi pemikirannya dengan mengutip pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, yang – katanya – berpendapat, bahwa tidak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nasrani, dan Sabean untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw., karena masing-masing umat memiliki wahyu dan nabi yang khusus, unik dan berbeda satu sama lain. (hal. 382-383).

Jika si penulis buku tersebut mau meneliti dengan sungguh-sungguh dan jujur pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, tentu dia tidak akan berani menulis semacam itu. Dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, disebutkan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya dan kebenaran agama tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi.

Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), Abduh dan Ridha menetapkan lima syarat keselamatan, yaitu: (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat yang lainnya, karena al-Quran merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya, tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan, (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu') yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan yang dituntut oleh iman, (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apapun dari kesenangan dunia. (Lebih jauh tentang keselamatan Ahli Kitab, kekafiran dan kemusyrikannya, lihat, Dr. Hamim Ilyas, Dan Ahli Kitab Pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis Terhadap Keselamatan Non-Muslim, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2005), hal. 71-99).

Jadi, di sini tampak jelas kekeliruan si penulis. Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh sama sekali tidak berpendapat seperti yang ditulis oleh penulis buku ini. Secara ilmiah, cara-cara seperti ini tidak patut dilakukan, apalagi oleh seorang dosen Ushuluddin.

Keempat, penulis buku menyimpulkan bahwa dia telah mematahkan argumentasi dari para sarjana ISTAC, seperti Sani Badron, Syamsuddin Arif dan Anis Malik Thoha. (hal. 2). Sayangnya, penulis tidak mengkaji karya-karya para sarjana tersebut dengan mendalam dan cermat. Penulis hanya mengutip artikel Sani Badron di Majalah Islamia, Vol. 1, no. 3 (2004) yang berjudul “Ibn al-Arabi Tentang Pluralisme Agama.” Padahal, Dr Mohd. Sani bin Badron telah menulis Tesis yang serius berjudul “Ibn al-Arabi’s Conception of Religion.” Tesis Sani bin Badron ini tidak ditemukan dalam daftar referensi buku ini.

Di akhir kesimpulan Tesisnya, Sani bin Badron mengkritik cara berpikir kaum Transendentalis yang memaksakan posisi teologis Ibn Arabi ke dalam pola pikir mereka: “Then only may we see clearly – at least in the case of Ibn al-‘Arabi – how far the Trancendentalists have been right or have been deviated by their own belief.”

Dr. Syamsuddin Arif juga sudah melakukan kajian serius tentang konsep agama-agama Ibn Arabi yang mengkritik cara-cara kaum Transendentalis dalam membaca karya Ibn Arabi. Berikut ini petikan sebuah artikel Dr. Syamsuddin Arif berjudul “Pluralisme” dan Manipulasi Orientalis.” Oleh kaum Pluralis, Ibn Arabi ‘dijadikan bemper’ untuk melegitimasi asumsi para penganut ‘agama perennial’ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb). Pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon, S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini tampak mendapat banyak pengikut di Indonesia.

Untuk mendukung klaimnya, biasanya ‘kalangan’ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya,Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku.”

Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), SH Nasr menyimpulkan bahwa di sinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar, New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).

Sebenarnya, Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaituDzakha’ir al-A‘laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed. Dr. M.‘Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6).

Di situ dinyatakan bahwa yang ia maksudkan dengan ‘agama cinta’ adalah agama Nabi Muhammad saw., merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran 3 (Ali Imran):31, “Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku! --niscaya Allah akan mencintai kalian.”

Dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari‘at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba‘ li-rasulihi saw fima syara‘a). Jadi, ‘agama cinta’ yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam, yaitu agama syari‘at dan sunnah Nabi Muhammad saw, dan bukan ‘la religion du coeur’ versi Schuon dan para pengikutnya itu.

Menurut Ibn Arabi, semua agama dan kitab suci terdahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing -- yakni sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Validitas itu tidak berlanjut setelah kedatangan Rasulullah saw. “Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan mengimami kita, kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari‘at kita.” (Wa hadza ‘Isa idza nazala ma ya’ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu fina illa bi syar‘ina),” tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).

Sikap Ibn Arabi tentang konsep mukmin-kafir juga jelas. Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. (Futuhat, bab 495, fi Ma‘rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum ‘an dinihi fayamut wa huwa kafir”).

Demikian hasil kajian Dr. Syamsuddin Arif tentang konsep agama Ibn Arabi yang berbeda dengan cara pandang penulis buku ini, yang sudah beriman secara bulat-bulat kepada teori Transendentalisme Fritjoph Schuon. Pembaca bisa membandingkan hasil kajian Sani bin Badron dan Dr Syamsuddin Arif dengan kajian penulis disertasi ini.

Kelima, kesalahan fatal penulis buku ini adalah menjiplak mentah-mentah dan mengimani tanpa kritis sosok dan pemikiran KTAA, yaitu Fritjoph Schuon. Padahal, banyak sekali kritik terhadap pemikiran Schuon dan praktik ritual tarekat Maryamiyya yang dibentuknya. Salah satu kritik tajam disampaikan oleh Mark Sedwigk melalui bukunyaAgaints the Modern World. Sedwigk memaparkan beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh Schuon maupun tarekat Maryammiyah. (Mark Sedgwick, Against the Modern World ; Traditionalism and the Secret Intellectual History of Twentieth Century, Oxford University Press, 2004).

Mark Sedgwick menulis, bahwa Schuon sangat permisif dalam soal pelaksanaan syariat Islam. “He believed that esoteric practice was what really mattered and that its esoteric framework was less important.” (Ibid, hal. 124). Schuon memiliki hobi melukis. Ia juga tak segan-segan membuat lukisan telanjang, sebagai simbol esoterisme. (Ibid, hal. 148). Setelah mengaku “bertemu” dengan Bunda Maria (Virgin Mary), Schuon juga membuat lukisan yang terkadang menggambarkan Bunda Maria dalam keadaan telanjang bulat atau telanjang sebagian yang mempertontonkan payudaranya. Katanya, itu sebagai simbol untuk mengungkapkan kebenaran dan membebaskan kasih sayang. (to the unveiling of truth in the sense of gnosis and to liberating mercy.” (Ibid, hal 151). Tahun 1965, Schuon menikah lagi. Uniknya, kali ini ia menikahi salah satu muridnya sendiri, tanpa perlu bercerai dengan suaminya terdahulu. Perkawinan ini dijuluki sebagai “perkawinan vertikal” atau “perkawinan spiritual”. (Ibid, hal. 152-153).

Penutup. Sebenarnya, teori KTAA, bahwa semua agama menuju Tuhan yang sama, atau ibaratnya, semua sungai akan mengalir ke Laut yang sama, adalah sebuah teori fabrikasi dan khayalan belaka. Faktanya, tidak semua sungai mengalir ke laut. Ada sungai yang kering duluan. Faktanya juga, tidak semua sungai airnya jernih. Ada sungai yang airnya keruh, bahkan ada yang busuk dan beracun.

Faktanya, saat ini, ada agama yang mengajarkan bahwa zina adalah perbuatan bejat, tetapi ada juga agama yang mengajarkan praktik seks bebas! Ada agama yang mengharamkan babi. Tetapi ada juga yang menghalalkannya. Ada agama yang mewajibkan khitan. Tapi ada juga yang melarang khitan! Ada agama yang melarang kawin sejenis (homo/lesbi). Ada juga agama yang membolehkan kawin sejenis. Orang yang sehat akalnya pasti menyatakan, tidak mungkin semua ajaran itu sama-sama benar dan berasal dari Tuhan yang sama!

Adalah sebuah khayalan belaka, bahwa agama-agama akan bertemu pada level esoterik/transenden. Ingatlah, bahwa Iblis pernah berdialog dengan Allah di level itu. Faktanya, dia tetap iblis dan kafir. Jadi, di level transenden pun ada Iblis yang kafir.

Teori KTAA juga menafikan bahwa Tuhan Yang Satu itu sudah mengenalkan diri-Nya melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Terakhir, yakni Muhammad saw. Nama-Nya pun sudah disebutkan. Jadi, manusia tidak perlu mengarang nama Tuhan Yang Satu itu. Kalau ada orang menyebut Tuhan Yang Satu itu dengan nama “Setan Gundul” – menurut seorang Muslim – nama itu harus ditolak. Tapi, menurut penganut KTAA, nama apa pun untuk Tuhan, sah-sah saja! Kata mereka, yang penting Tuhan.

Lalu, juga sebuah khayalan dari pengikut paham KTAA, bahwa aspek esoterik (batin) lebih penting dari aspek eksoterik (aspek syariah). Seorang Muslim -- yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah – pasti meyakini bahwa salah satu tugas penting dari Nabi Muhammad saw adalah mengajarkan bagaimana cara menyembah Tuhan Yang Satu itu! Itu aspek syariat. Tanpa panduan dan contoh dari Nabi, manusia pasti akan menyembah Tuhan sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya masing-masing! Jika semuanya dikatakan sah dan benar, lalu untuk apa Nabi Muhammad saw diutus?

Yang bisa dinilai dari suatu agama adalah justru aspek eksoterisnya. Sedangkan aspek esoterik adalah sesuatu yang abstrak, yang dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari aspek syariat. Jika konsep eksoteris direlatifkan dan dibebaskan dalam bentuk apa pun, itu sama saja dengan merusak agama itu sendiri.

Jika kita renungkan, yang logis bukan konsep “Satu Tuhan, Banyak Agama”, tetapi yang benar adalah “Satu Tuhan, Satu Agama!” Sebagai Muslim, sesuai penjelasan ayat-ayat al-Quran, misalnya QS 16:36, 3:19, 85, saya memahami, bahwa Tuhan itu SATU, dan Tuhan yang SATU itu hanya menurunkan SATU agama kepada para Nabi-Nya, yaitu agama Tauhid. Selama tidak mengajarkan TAUHID – yakni mengakui dan tunduk kepada Allah, sebagai SATU-SATU-nya Tuhan – maka jelas itu bukan agama dari Allah, dan bukan agamanya para Nabi; bukan pula agama wahyu (revealed religion), melainkan agama budaya (cultural religion). Agama Tauhid menuhankan Allah, sebagai satu-satunya Tuhan; bukan menuhankan Iblis.

Dan untuk mengenal Allah – bukan Genderuwo atau Setan Gundhul – mutlak perlu beriman kepada kenabian Muhammad saw. Karena itulah, saya membaca syahadat: Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, Tuhan saya jelas,yaitu Allah! Bukan asal Tuhan, atau Tuhan asal--asalan. Itu karena posisi saya sudah jelas, yaitu saya Muslim, saya sudah memilih Islam. Saya bukan Kristen, saya bukan Yahudi, saya bukan Hindu, atau penganut paham kebenaran semua agama. Itu keyakinan saya, dan saya sangat menghormati keyakinan yang berbeda dengan saya, meskipun saya tidak membenarkannya. Saya tidak boleh memaksa orang lain mengikuti pendapat saya. Itulah makna toleransi dan mutual understanding.

Jadi, sejatinya, teori Kesatuan Transendensi Agama-agama (KTAA) adalah teori yang absurd (senseless). KTAA bukannya memperkuat basis ushuluddin (dasar-dasar agama) seorang Muslim, tetapi justru mengajak Muslim untuk menjadi “uculuddin” (bahasa Jawa: lepas agamanya). Padahal, penulis buku ini adalah dosen di Fakultas Ushuluddin, bukan Fakultas “Uculuddin”! Wallahu a’lam. (Depok, 20 Oktober 2011).

words : ADIAN HUSAINI