Yang Bikin Dakwah Ente Jadi Gak Bener

Dakwah dengan cara yang kasar, tidak santun, atau suka menghakimi saudara sendiri dengan vonis sesat, bid’ah, kafir, dan sejenisnya ternyata punya beberapa penyebab utama. Kalau kita kaji lebih dalam, barangkali ini beberapa hal yang boleh dibilang ikut melatar-belakangi sikap-sikap itu, antara lain:

1. Kesalahan Paradigma Dakwah
Harus secara jujur kita akui bahwa masih seringkali kita -siapa pun juga- punya paradigma keliru terhadap dakwah. Rasanya kalau sudah bisa mentahdzir, memperingatkan, atau mengutuk perbuatan orang yang dianggap salah, berarti dakwah sudah selesai. Kalau sudah berhasil mencaci maki habis di media internet, rekaman ceramah atau lewat buku dan majalah, berarti urusan sudah selesai. Sedangkan bagaimana reaksi dan penerimaan mereka yang diingatkan, tidak ada urusan. Biar yang ditahdzir itu merasa terhina sekalian, dan itu memang disengaja, sebab hinaan justru itu dianggap sebagai hukuman atas kesahalannya. Astaghfirullah. Inilah bentuk paradigma yang salah kaprah. Kalau sampai seorang pimpinan kelompok punya pikiran seperti ini, memang masalahnya tidak akan selesai.

2. Rancunya Konsep Mabadi' dan Furu'iyah

Kesalahan kedua adalah tercampur baurnya konsep masalah pokok dengan masalah cabang. Kita sering lihat apa yang dijadikan bahan pertengkaran hanya urusan sepele, tidak jelas ujung pangkalnya. Bahkan para ulama besar pun masih berbeda pendapat. Tapi perbedaan pendapat itulah kemudian yang dijadikan 'amunisi' untuk menyerang saudaranya. Dan dianggapnya bahwa pendapat yang dibelanya itu adalah kebenaran hakiki. Siapa pun yang tidak setuju dengan pendapat dirinya, maka harus jadi musuhnya.
Kita memang harus tegas kepada kelompok yang jelas-jelas menyimpang dari aqidah, misalnya kalangan Ahmadiyah yang bernabi kepada Mirza Ghulam. Atau kepada kalangan Liberalis yang menyatakan semua agama sama dan benar serta diterima Allah. Tapi kalau urusan jenggot, isbal, baju kemeja dikeluarkan, minyak wangi, lebih dekat ke urusan furu'iyah, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah selesai masalahnya.

3. Kepentingan Pribadi
Dari sekian banyak kasus yang kami ketahui tentang perseteruan antar faksi dan kelompok, yang sangat kami sayangkan justru banyak yang dilatar-belakangi urusan pribadi. Ada yang urusan duit, ada juga yang terkait dengan masalah ketersinggungan personal, ada juga yang masalah sengketa keluarga.
Pokoknya, urusan pribadi sering kali ikut juga memperkeruh suasana. Namun tidak etis rasanya kalau contoh kasusnya dibedah di sini. Nanti malah akan jadi MGM. Apa itu MGM? 'Media Ghibah Nasional'.
Dan kasus-kasus model begini tidak lantas hanya dimiliki oleh satu kelompok saja. Coba kita lihat, nyaris hampir di semua kelompok dakwah, baik yang formal atau yang tidak formal, ternyata tidak juga sepi dari kasus dengan latar belakang seperti ini.

4. Faktor Gengsi
Ini penyakit manusia. Seorang bintang di atas panggung biasanya butuh tepuk tangan. Semakin ditepuki semakin bergayalah dia. Semakin bisa menghujat rekannya, maka semakin berkibarlah dia. Betapa banyak perseteruan itu kadang sudah lepas dari akar permasalahannya. Yang tersisa tinggal masalah dendam dan gengsi.
Tapi sekali lagi kami katakan ini justru sangat manusiawi. Rupanya tokoh besar pun juga punya titik-titik kelemahan, salah satunya adalah susahnya melawan gengsi. Tentu masih banyak analisis yang bisa dibedah, insya Allah kapan-kapan kita akan bicarakan lebih panjang, tanpa harus menunjuk hidung, tanpa menyebut nama, tanpa harus ada yang dijatuhkan atau merasa dijatuhkan. Karena penyakit itu adalah penyakit kita bersama, bukan monopoli kalangan tertentu. Semua akan jadi pelajaran penting bagi kita dalam menata umat ini ke depan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(dikutip dari salah satu jawaban konsultasi dalam www.eramuslim.com oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)

What Is SA'I ? (FAQ)

Q : Apakah arti kata “SA’I” ?
A : kata SA’I itu diambil dari salah satu rukun ibadah Haji. Yaitu berlari-lari kecil dari bukit Shofa dan Marwah. Dulu kan itu yang dilakukan Siti Hajar bekerja keras mencari air Zam-zam. Dengan keyakinan yang kuat, ikhlas karena Allah, dan istiqomah akhirnya Allah memberikan berkah air Zam-zam yang melimpah. Kami ingin memakai nama SA’I itu sebagai simbol kerja keras kami juga. Untuk mencari rezeki, untuk berdakwah, untuk menimba ilmu, untuk mempererat silaturahim, dsb. Semoga Allah Swt. memberi “Zam-zam” kelak di akhir usaha kami. Amin.

Q : Gimana asal-usul SA’I ?
A : SA’I, tadinya adalah sebuah toko muslim yang kami rintis bersama - satu keluarga. Kami memang menjadikan toko muslim ini tidak seperti toko biasanya yang ‘swalayan’, namun kami membuat suasana yang dirasakan pengunjung seperti sedang ‘bertamu’ ke rumah. Kami melayani para pengunjung sendiri. Dari sana kami ingin memperluas jaringan dengan mereka, sekaligus mempererat silaturahim antar sesama muslim. Semakin banyaknya orang-orang yang kami kenal akhirnya kami sepakat membentuk halaqah untuk menuntut ilmu sekaligus komunitas diskusi. Dari sini, bersama teman-teman, kami ingin memberikan kontribusi yang maksimal untuk umat ini. Mungkin mulai yang berskala kecil dulu. Diri sendiri, keluarga, teman-teman disekitar kami. Tapi kami juga berharap hingga yang berskala besar, yaitu negara ini dan dunia tentunya. Insya Allah.

Q : Lalu siapa saja yang terlibat dalam SA’I Newsletter ini ?
A : Kira-kira ada 7 orang. Yang 6 adalah teman satu halaqah, termasuk saya. Yang satu, dia sahabat seperjuangan, pecinta ilmu juga. Mereka semua masih muda-muda dan luar biasa. Sebenarnya kami berharap akan ada kontributor-kontributor lagi yang berdatangan ke SA’I. Kami ingin punya jaringan orang-orang yang pandai bikin website atau blog agar suatu saat kami bisa memiliki blog sendiri, juga yang pandai ilmu psikologi agar suatu saat kami bisa mendirikan homeschooling yang berbasis Islam, atau yang pandai dibindang pertelevisian agar suatu saat nanti kami bisa membangun stasiun televisi sendiri yang menggeser semua stasiun televisi sekuler di negeri ini. Kami juga mencari orang-orang yang pandai membina dan mengajarkan leadership, teamwork, dan berorganisasi agar suatu saat kami bisa mendirikan training center dengan materi itu. Kami juga mencari orang-orang yang menguasai pengelolaan zakat, infak dan shodaqoh agar suatu saat nanti kami bisa mendirikan lembaga amil zakat, infak dan shodaqoh. Dan masih banyak sekali orang-orang yang kami butuhkan untuk bahu-membahu bersama kami disini.

Q : Bagaimana caranya memberikan kontribusi untuk SA’I Newsletter ?
A : Disarankan untuk datang ke tempat kami agar bisa ngobrol-ngobrol saling kenal. Jika antum suka baca, suka meresensi buku-buku, suka menulis cerpen atau novel, suka menulis opini terhadap kondisi umat yang sedang ‘hangat’, suka wawancara tokoh, suka bikin artikel, silahkan datang atau kirim ke : Semolowaru Utara V-11 Komp. YPAC Surabaya. Atau lewat e-mail :
saimuslim@gmail.com ; moslem_youthcrew@yahoo.com . Mungkin bagi yang mengharapkan imbalan rupiah yang setimpal akan kecewa. Karena kami belum sebesar majalah Suara Hidayatullah. Kami masih ‘ecek-ecek’ tapi insya Allah semangat kami nggak kalah dengan mereka.

Q : Saya belum pernah tau newsletter ini sebelumnya, kenapa tau-tau udah edisi 11 ?
A : Sebelumnya, kami memang merilis newsletter ini dari edisi 2 – 10 dalam format 1 lembar folio yang dilipat (seperti selebaran jum’at). Hanya edisi pertama dan edisi ke-11 ini saja yang dirilis lebih dari 4 halaman. Jika ada yang ingin mendapatkan edisi-edisi sebelumnya bisa minta saja gratis ke tempat kami.

Q : Terbitnya setiap apa ?
A : Setiap bulan, Insya Allah. Kalo Allah belum mengijinkan terbit bulanan, ya dua bulanan.

Q: Berapa infaknya untuk 1 eksemplar ?
A : Insya Allah tidak lebih dari Rp. 1000,-. Atau Rp.2000,- untuk luar Surabaya. Dari setiap keuntungannya akan digunakan untuk membantu saudara-saudara kita di Gaza, Palestina. Sebagian lagi digunakan untuk biaya operasional. Ini adalah proyek non-profit. Tapi full-benefit! Insya Allah.

Oh, Anak…


Hafizhan Faiq Albani…

Abi memberimu nama ini karena abi ingin kelak dirimu menjadi seorang pemelihara umat Islam ini. Sebagai amanah dari Allah Swt untuk memeliharanya dari berbagai kerusakan akhlak dan akidah. Abi juga selalu berdo’a ketika mengingat kata Faiq dalam namamu, agar kelak dirimu juga menjadi seorang muslim yang unggul. Yang mampu memberikan contoh bagi keluarga, bagi masyarakat, bagi umat, memiliki kemandirian, memiliki prestasi yang luar biasa, memiliki banyak ilmu dan mengamalkannya sebagai bekal diakhirat. Yang kelak memberikan keturunan-keturunan yang unggul pula, sehingga kelak Abi dan Bunda bangga melihatmu di akhirat kelak ketika kita semua berkumpul.

Dulu ketika dirimu masih didalam kandungan, Abi dan Bunda selalu membacakan al-Qur’an didekat perut Bundamu. Abi dulu berharap kamu terbiasa mendengarnya walau masih dalam kandungan. Sehingga kelak ketika kau dilahirkan bisa begitu mencintai al-Qur’an. Dulu sering kali ketika perut Bundamu dibacakan al-Qur’an maupun doa dalam al-Ma’surat, kau lalu bergerak-gerak menendang. Kami begitu senang dan tertawa, seolah itu respon darimu dari dalam perut ibumu. Seolah kau menyukai apa yang Abi baca.

Abi dan Bunda rindu memiliki keluarga yang dekat dengan al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, namun keluarga yang berusaha mengerti dan memahami isinya, serta mengamalkannya. Abi dan Bunda memang bukan orang tua yang pandai membaca al-Qur’an, namun ingin rasanya waktu ini diulang sehingga Abi bisa belajar al-Qur’an dengan sebaik-baiknya sejak kecil. Sampai detik ini tekad itu ingin Abi kejar walau harus seiring dengan bertambah dekatnya maut atau berkurangnya usia ini. Maafkan Abi jika ketika mendidikmu masih jauh dari kesempurnaan. Tapi kami tak pernah menyerah untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kami kelak.

Saat hari-hari mendekati persalinan. Betapa rasa sayang Abi membuncah kepada bundamu. Seringkali Abi berdoa kepada Allah Azza wa Jalla semoga dosa-dosa bunda diampuni dan persalinan kelak diberi pahala jihad fi sabilillah. Tak terlukiskan hati Abi saat itu. Antara rasa kasih sayang, takut, dan bahagia menunggu engkau melihat dunia. Saat itu di bulan Ramadhan. Bulan ini begitu penuh dengan berkah. Allah melimpahkan seluruh nikmatnya bagi umat Islam dimuka bumi ini. Abi dan Bunda merasakan salah satu berkah yang sampai kepada kami adalah kelahiranmu dengan selamat.

Hari itu, sejak pagi kami sudah datang di rumah sakit bersalin untuk memeriksa kandungan Bundamu. Sekaligus menjalani proses induksi (meminum obat perangsang kontraksi). Karena kau mundur 4 hari dari jadwalmu dilahirkan. Kalau kau tahu betapa sakitnya Bundamu menjalani proses melahirkan dengan di induksi, mungkin tak akan ada satu kata dan perbuatanmu yang tega menyakiti hati ibundamu. Sejak pukul 9 pagi hingga pukul 15.00 lebih, bundamu kesakitan hampir setiap 5 menit. Dan itu semakin lama semakin cepat jarak waktunya hingga mungkin tiap 15 detik. Seluruh tubuhnya penuh peluh. Bundamu selalu berzikir kepada Allah ketika sakitnya mulai datang, “Astaghfirullah! Astaghfirullah! Sakit sekali, mas!..”. Dan Abi hanya bisa menjawab,”Iya, iya, istighfar ya..” Saat itu hampir tak pernah luput hati dan lisan ini mengingat kebesaran Allah Azza wa Jalla. Berdo’a agar semuanya berjalan lancar.

Kira-kira jam 15.45 akhirnya dirimu lahir, walau harus dibantu alat khusus semacam vacum untuk menarikmu keluar dari rahim bundamu, karena saat detik-detik terakhir bundamu semestinya harus mengejan, malah kehabisan tenaga dan badannya lemas. Subhanallah wal hamdulillah, akhirnya kau selamat dan bundamu pun selamat. Saat aku melihatmu keluar ruang bersalin, kau begitu gemuk dan kulitmu putih dan belum dimandikan. Aku bersujud syukur dihadapan Allah Swt. Tidak sadar air mataku sudah meleleh membasahi pipi. Aku tanya tentang keadaan bundamu, kata suster baik-baik saja. Namun belum boleh ditemui sampai selesai proses menutup dengan jahitan. Lalu kau ditimbang dan Abi mengadzani telingamu. Sebelumnya kamu menangis keras sekali, tapi anehnya, ketika abi bisikkan adzan ditelingamu, langsung kau terdiam seolah mendengarkan. Seolah-olah kau teringat bahwa kalimat tauhid ‘Laa ilaha illallah’ pernah diajarkan oleh Sang Khaliq kepadamu ketika kau dimintai persaksian ketika masih dalam perut ibundamu.

Setelah itu kau dimandikan dan dirawat oleh suster. Aku masuk melihat bundamu. Ketika bundamu melihatku, langsung saja dirinya menangis tersedu-sedu. Aku menangis memeluknya sambil mengucapkan hamdalah yang sudah tak terhitung jumlahnya. Aku mencium pipinya yang tadinya aku takut berpikir tak bisa melakukannya lagi setelah melahirkanmu. Aku jadi teringat betapa besar jasa ibuku melahirkanku. Sampai katanya nyawa ibuku hampir saja berakhir karena mengalami pendarahan. Benar-benar, semua ibu yang solehah, yang melahirkan anak-anaknya dengan ikhlas, layak diberi pahala berjihad. Sangat layak…

Hafizh, Abi tidak pernah tahu apakah nanti ketika kau membaca tulisan ini kami masih bersamamu. Seandainya kami sudah tidak lagi bersamamu secara fisik, minimal dengan tulisan ini kami bisa bersamamu didalam hatimu. Untuk menambahkan kecintaanmu kepada Allah Ta’ala. Untuk bekal ketaqwaan yang tak boleh surut ketika mengingat amanah ini. Do’akan kami disetiap waktu kau bersujud dihadapan Allah. Sampai kita berkumpul kelak diakhirat, menangis tersedu-sedu bersama karena bahagia di surga Allah.



Abimu tercinta,

Aditya Abdurrahman Yani

Independence Day


Mungkin ada yang mengira maksud judul diatas ada kaitannya dengan film yang dibintangi Will Smith beberapa tahun lalu yang sempat masuk box office. Tapi ini bukan, walaupun judulnya sama. Mungkin judul ini terlalu keren untuk hanya sekedar mengawali tulisan amatiran seperti ini.

Ikhwah fillah, setiap mendengar kata kemerdekaan, atau setiap tahun melihat Negara ini merayakan Hari Kemerdekaan, membuat kita kembali mengevaluasi kembali apa arti kemerdekaan bagi diri kita.

Ketika semua orang dikampung-kampung mengadakan lomba-lomba 17-an, menghias gapura-gapura di depan gang-gang rumah mereka, tapi saya malah terlintas pertanyaan “aneh”, “Benarkah kita sudah merdeka?”

Saya melihatnya dalam sudut pandang diri saya sebagai umat Islam, bahwa sebenarnya umat ini belum merdeka. Masih banyak umat Islam di berbagai penjuru dunia masih hidup dalam tekanan toghut. Dibantai habis-habisan dan kita umat Islam di Indonesia mayoritas asyik leha-leha menikmati hari kemerdekaan negaranya sendiri. Bukan kemerdekaan umat Islam…

Lihat saja, Palestina yang sudah 40 tahun lebih dijajah bangsa Yahudi. Ribuan umat Islam dibantai habis-habisan disana. Masjidil Aqsha tidak lagi dikenal oleh umat Islam di Indonesia selain hanya tahu bahwa itu tempat bersejarah Rasulullah Saw melakukan Isra’ Mi’raj. Selebihnya bagaimana kondisinya sekarang, mereka cuek bebek kayak komodo…

Sangat ironi…

Saat ini umat Islam bukan hanya terlena dan lupa akan memperjuangkan kemerdekaan tapi yang lebih menyedihkan mayoritas umat ini tidak lagi bersemangat untuk merdeka! Sibuk dengan urusan-urusan dunianya masing-masing. Lupa bahwa kita ini diperintahkan untuk menyeru kepada agama Allah Swt. Kita semua adalah da’i! Kita semua wajib meyakini terwujudnya janji Allah Ta’ala akan datangnya kemenangan, kemerdekaan, kejayaan Islam . Tapi kapan itu terjadi? Wallahu a’lam. Yang pasti tidak akan pernah terjadi kemenangan tanpa perjuangan kita!

Ok? siap ? Kepalkan tanganmu…genggam dengan penuh semangat. Azzamkan dalam hatimu, “AKU BISA!!!”

Perlukah Berhati-hati Dalam Menuntut Ilmu ?

Kita memang diperintah untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal kita didunia dan di akhirat. Namun menuntut ilmu pun kita dituntut untuk pandai dan berhati-hati. Kaidah terpenting kita berparameter pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebanyak apapun kajian yang pernah kita ikuti, sebanyak apapun buku yang kita habisi, kalo kita lupa bahwa kaidah dan rambu-rambu kita mempelajari itu adalah al-Qur’an dan As-Sunnah maka kemungkinan kita terjerumus dalam kesesatan lebih besar.

Di negeri ini menulis buku bertopik religius bisa dikatakan bebas. Selain dampak positifnya ada, tapi dampak buruknya adalah banyaknya peredaran buku-buku yang memiliki muatan penyimpangan. Di masyarakat yang minim akan ilmu ini, ketika ingin belajar Islam seringkali menuju rujukan yang salah. Ingin bisa giat berzikir, cari buku tentang zikir, ternyata yang beredar di pasaran banyak juga buku-buku yang menyarankan zikir-zikir yang tidak punya dalil. Ada yang ingin belajar mengimani Alam Ghaib, yang beredar dimana-mana buku yang ditulis oleh paranormal dan sejenisnya. Dan banyak lagi contoh lainnya, bahkan sampai pada buku-buku penyimpangan akidah pun bisa mudah kita temui.

Ya memang seharusnya bisa berhati-hati. Karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw. Selalu ada saja pengikutnya. Anda bisa bayangkan ketika itu jaman ketika Al-Qur’an baru aja diturunkan. As-Sunnah masih ‘hangat’ lahir dari perilaku Rasulullah Saw. Tapi tetap saja ada penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak ikhlas karena Allah Ta’ala, dan tidak memahami Kitabullah dan Sunnah Nabi Saw. Apalagi saat ini ?! Ketika di negeri ini cari rujukan sulit, ulama sangat minimal, yang minimal itu pun tersebar di berbagai kelompok-kelompok. Akhirnya masalah keilmuan umat Islam di Indonesia banyak yang di ambil alih oleh ‘ustadz-ustadz’ bersurban yang dirumahnya punya simpanan keris, paranormal, orang pinter dan lain sebagainya.
Kebebasan para penulis dan penerbit untuk mengedarkan buku-bukunya sekarang ini akhirnya memberikan rongga bagi orang-orang yang bukan AHLINYA atau orang yang tidak ber-spesialisasi berani menulis ilmu-ilmu agama yang seharusnya bukan bagiannya. Akhirnya banyak kita temui ada sarjana nuklir, tidak pernah punya pengakuan secara keilmuan akidah berani menulis pemikirannya tentang akidah Islam. Hasilnya ? Kemungkinan besarnya akan terjadi banyak kesalahan-kesalahan. Masalahnya hanya satu…ingat kaidah ini :
“Siapapun yang ingin mempelajari suatu ilmu, merujuklah pada ahlinya”.
Karena kalo anda sekolah kedokteran tidak akan pernah jadi dokter yang baik jika berguru kepada seorang Arsitek. Bener nggak, coy?! (kriuk…kriuk…-red)

Contoh Kasus Penyimpangan
Suatu hari saya berkenalan dengan seseorang. Waktu itu saya sedang berjualan buku di sebuah bazaar kecil-kecilan. Sebut saja namanya A. Seperti biasa, saya sangat menyukai obrolan mengenai buku. Saya sering bercerita tentang buku-buku yang saya jual, yang kebetulan dulu pernah punya untuk saya baca sendiri. Agak lama kami bicara tentang buku-buku Islami yang bagus topiknya. Lalu kebetulan saya membicarakan tentang banyaknya beredar buku-buku Islam yang pemahamannya menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Waktu itu saya menyebut salah satu judul buku ‘menyimpang’ yang laris manis seperti kacang sukro, yaitu buku karangan Agus Mustofa – “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”.

Waktu itu si A kaget sambil ngomong,”Lho! Iya to?”. Dia gak nyangka kalo buku itu ternyata masuk dalam kategori menyimpang, padahal dia baru aja mau cerita kalo buku itu bagus karena dia udah baca. Weleh..weleh...saya katakan bahwa saya juga pernah baca. Tapi ternyata dibalik keahliannya menulis, gaya bahasanya, kutipan-kutipan ayat-ayat Qur’an-nya banyak yang asal ‘comot’ lalu asal ‘tempel’.
Btw, saat ini betapa banyak faham Islam yang menyimpang di negeri ini?! Mulai sholat bilingual, pluralisme, liberalisme, ahmadiyah, LDII/Lemkari/Islam Jamaah, sampe yang ngaku Jibril, Imam Mahdi, dan Nabi seperti Aliran Eden dan Al-Qiyadah. Semua subur, bok, di negeri ini! Bahkan sampai berakar dalam sekali. Mungkin kalo ada yang bikin Sekte Islam Penyembah Kucing, juga bakal banyak pengikutnya....yah inilah Indonesia...

Kalo tentang buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” itu memang udah lama jadi kontroversi. Banyak sekali kajian-kajian Islam yang membahas penyimpangan buku yang satu ini. Disamping memang begitu marak di negeri ini anggapan bahwa setiap orang bebas menafsiri Al-Qur’an tanpa ilmu. Penafsiran yang ngawur ala Barat, ala orang Yahudi dan Nasrani. Antum semua pasti sering membaca dalam Al-Qur’an. Betapa Allah berulang-ulang menyebutkan bahwa akhirat itu (atas seijin Allah Ta’ala) adalah kekal, surga kekal, neraka kekal. Bahkan firqoh-firqoh (aliran Islam sempalan) yang sudah ada sejak jaman Nabi dan tabi’in dahulu, sesesat apapun mereka, mereka masih meyakini bahwa akhirat itu kekal. Lha ini ada orang tanpa ilmu mengatakan akhirat tidak kekal. Sebenarnya konyol, kan? TAPI KOK BISA LARIS YA?!

Penyimpangan pemikiran yang dihasilkan penulis buku itu, Agus Mustofa, dinilai cukup fatal oleh para ulama. Penyimpangannya sangat prinsip, yaitu penyimpangan akidah, iman kepada hari akhir, yang dalam hal ini setiap perbedaan tidak dapat ditolerir. Seluruh umat Islam sejak jaman Rasulullah Saw, para sahabat tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama besar, ulama 4 mahzab, semua sepakat bahwa akhirat itu kekal.
Kami memutuskan mengangkat masalah ini setelah kami tahu bahwa Agus Mustofa telah sering dikontak langsung, didakwahi secara baik-baik oleh beberapa Ustadz untuk meralat pemikiran dan kata-katanya. Namun beliau tidak juga berubah, malah menulis semakin banyak buku lain yang juga kontroversi.

Kaidah-Kaidah dan Rambu-Rambu Penting Dalam Memahami Al-Qur’an
Btw, menafsiri Al-Qur’an, firman Allah Ta’ala, memang gak boleh sembarangan. Karena ini bukan Bibel atau Taurat jaman sekarang yang bebas digunting, ditafsiri sembarangan dan diubah-ubah seenak udel umat Kristen dan Yahudi. Kalo menafsiri Al-Qur’an itu harus diserahkan kepada AHLINYA. Siapa ? Ya ulama-ulama tafsir yang diakui. Contoh paling mudah, Ibnu Katsir.

Berikut ini adalah kutipan dari materi yang kami dapat dari sebuah Dauroh Fahmil Qur’an. Ust. Muzhaffar, MA (PUSDA-Sby) meringkas dari berbagai sumber yang dipercaya. Yang dikutip ini hanya intisarinya saja. Selengkapnya antum bisa email ke kami (redaksi), maka kami akan kirim soft copy-nya.
Kaidah-kaidah dan rambu-rambu dalam memahami Al-Qur’an sangatlah penting karena sedemikian melemahnya pemahaman masyarakat muslim saat ini tentang Al-Qur’an, bahkan dalam hal-hal yang sangat prinsipil. Diantara kaidah-kaidah dan rambu-rambu tersebut adalah :
· mengimani Al-Qur’an dengan benar;
· berbekal kemampuan Bahasa Arab yang memadai;
· berbekal penguasaan dasar-dasar ilmu tafsir;
· memadukan metode riwayah dan dirayah;
· memahami Al-Qur’an melalui Al-Qur’an;
· memahami Al-Qur’an melalui hadits shahih;
· memahami Al-Qur’an melalui pemahaman as-salafush shalih;
· memahami Al-Qur’an dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir yang diakui;
· memperhatikan dan mengikuti tahapan-tahapan berinteraksi dengan Al-Qur’an;
· menjadikan Al-Qur’an sebagai imam bukan makmum;
· memiliki pandangan atau persepsi global dan menyeluruh tentang Al-Qur’an;
· memadukan antara ilmu, amal dan dakwah;
· membebaskan pemahaman terhadap Al-Qur’an dari batasan-batasan zaman dan tempat;
· melakukan perenungan dan pengkajian berulang-ulang terhadap ayat-ayat Al-Qur’an;
· menyadari dan merasa bahwa Al-Qur’an ditujukan kepada pembaca;
· berada dalam iklim dan nuansa Al-Qur’an;
· memahami ”kepribadian” dan ”karakter” khusus setiap surat Al-Qur’an;
· dan memanfaatkan berbagai ilmu pengetahuan modern.
Selain itu jika ingin lebih lengkap lagi ada sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Yusuf Al-Qardhawy berjudul “Berinteraksi Dengan Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Wallahua’alam


TV, Are You The Second God?


Televisi. Aku dulu pernah merasakan bagaimana bahagianya memiliki pesawat televisi baru. Ketika awalnya keluarga kami hanya punya TV tua, kecil, dan ketinggalan jaman, lalu tiba-tiba berubah memiliki TV 12”,betapa senangnya ketika melihat gambarnya menjadi lebar, tajam, dan lebih bersih. Tak pernah aku sadari bahwa biang kerusakan akhlak bangsa ini berawal dari benda yang satu itu.

Televisi. Begitu banyak orang mengatakan betapa penting rumahnya harus ada televisi. Karena adanya televisi sudah menjadi standar minimal setiap rumah. Awalnya televisi memang dibuat untuk tujuan menyampaikan informasi dengan suara dan visual (gambar). Namun fungsi televisi sebagai media informasi telah lama melenceng dan berubah menjadi media hiburan bagi pemirsanya. Perubahan fungsi ini menjadi sangat fatal. Tayangan-tayangan yang bersifat informasi positif bagi masyarakat telah berubah menjadi tayangan-tayangan infotainment yang hampir total adalah ghibah (gunjingan) dan fitnah. Bahkan lebih mengarah kepada membuka aib seseorang kepada publik. Begitu juga tayangan sinetron keluarga yang hampir tidak ada sama sekali manfaat yang kita dapatkan setelah menontonnya. Bukan cuma itu, tayangan sinetron secara tidak kita sadari telah mengajarkan lifestyle (gaya hidup) negatif sekalipun sinetron tersebut adalah sinetron religius.

Seperti yang dialami orang-orang disekitar saya, terlebih lingkungan keluarga saya sendiri. Para orang tua mengeluhkan betapa nakal anaknya, dari yang suka melawan perintah orang tua, suka usil kepada adik-adiknya, suka rewel, menangis hingga berteriak-teriak sampai berjam-jam lamanya. Mereka belum sadar bahwa semua itu sangat berhubungan dengan efek sebuah benda elektronik yang mereka pelototi setiap hari. Sang anak pun tak mungkin mau dengan ikhlas menekan tombol off pada televisi jika masih sering melihat orang tuanya sering ‘bertapa’ didepan televisi. Para orang tua pun beralasan bahwa nonton televisi adalah hiburan setelah seharian bekerja. Seolah pelampiasan setelah seharian harus melaksanakan kewajiban yang sebenarnya justru disitulah letak parameter keikhlasan dia bekerja.

Ustadz Mohammad Faudzil Adhim pernah menulis dalam bukunya, “Ada benarnya juga ketika ada yang mengatakan bahwa televisi sekarang ini bukan lagi menjadi The Second God ( Tuhan Kedua ), melainkan sudah menjadi The First God ( Tuhan Pertama ). Ia lebih ditaati manusia daripada Rabb Yang Maha Menciptakan.”

Disaat yang sama televisi juga telah menjadi Nabi. Bagaimana mungkin televisi tidak menjadi Nabi baru jika anak-anak saat ini lebih mengenal siapa Naruto dan bagaimana masa lalunya, daripada Rasulullah Saw yang memperjuangkan Islam ini hingga kita bisa memeluk agama ini dengan sempurna. Tak pernah terpikir sebagai orang tua juga menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Rasulullah Saw kepada anak-anaknya sejak dini. Mereka menganggap dengan menyekolahkan anaknya di sekolahan Islam sudah cukup mampu meng’handle’ kewajibannya sebagai orang tua yang menginginkan anaknya jadi anak soleh.

Televisi bahkan lebih ditaati daripada perintah Allah dalam Al-Qur’an. Jika remaja saat ini lebih PD berdandan seperti artis televisi daripada harus mengikuti syariat berjilbab. Orang-orang lebih terbiasa dengan kasus perselingkuhan, zina, dll dan secara tidak langsung menganggapnya menjadi hal biasa ketimbang harus menerima syariat poligami dalam Al-Qur’an. Betapa banyak orang tua yang santai melihat anak laki-lakinya mengajak pacarnya masuk kamar, tapi ketika mendengar kata poligami langsung antipati.

Saya sendiri sering merasa sedih mengapa saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Ketika umur sudah tak mungkin terulang lagi. Ketika mengingat betapa televisi telah membuat hidup saya jauh dari Allah. Jauh dari mengenal Rasulullah Saw. Sering mengingkari amanah orang tua. Sering terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Astaghfirullah…Jangan engkau jadikan generasi setelah kami ini mengulang kesalahan kami yang lalu. Jangan biarkan anak-anak kami lebih mencintai dunia daripada berjihad dijalanmu. Jauhkan mereka dari ke-jahiliah-an. Tanamkan ke dalam hatinya untuk mencintai ilmu-Mu. Amin, Allahumma Amin…

Kroscek, akh…kroscek…

Suatu ketika ana (saya -red) Sholat Jum’at di masjid sebuah kampus di Surabaya. Seperti biasa, ketika selesai berwudhu kalau akan masuk pintu masjid selalu melewati area tempat selebaran-selebaran dakwah ditaruh, dan ana pun mengambil beberapa lembar selebaran dari penerbit yang berbeda. Lalu ana segera mencari shaff yang kosong, lalu sholat Tahiyyatul Masjid. Sambil menunggu adzan dan khotib naik mimbar, ana baca beberapa selebaran tadi.

Sebagian selebaran terlihat jelas penerbitnya dari jamaah-jamaah yang berbeda-beda. Ana bangga dengan mereka yang eksis dengan dakwah di jalannya masing-masing. Namun aku cukup kaget membaca salah satu selebaran itu yang isinya giat memaki-maki kelompok umat Islam yang lain. Saat itu yang jadi bahan makian adalah umat Islam yang sedang konflik di Palestina. Memang waktu itu sedang panas-panasnya konflik antara kubu HAMAS dan FATAH perihal menghadapi penjajah Israel yang sedang ‘menginjak-injak’ Masjidil Aqsha. Dalam selebaran itu betapa banyak makian terhadap pihak umat Islam HAMAS maupun FATAH. Kata-kata yang digunakan sangat kasar, bahkan sampai menghukumi mereka berdua ‘murtad’.

Di waktu yang lain, ketika lagi gencar-gencarnya masyarakat berbicara tentang pemilu dan pilgub, di masjid kampus mulai banyak bulletin jum’at yang menyudutkan umat Islam yang berdakwah melalui partai. Bahkan tidak segan-segan menghukumi kufur mereka yang berpartai karena berhukum pada hukum buatan selain Allah. Memang betul seperti itu karena memang begitu seharusnya akidah kita. Namun sudahkah penuduh-penuduh kufur bagi aktivis dakwah dengan berpartai ini mengkroscek, mengklarifikasi para objek yang dituduh? Betulkah mereka beranggapan bahwa hukum buatan manusia (demokrasi –red) benar-benar lebih baik dari hukum Allah? Jangan-jangan mereka sedang memperjuangkan hukum Allah di tengah masyarakat yang sedang berhukum dengan hukum toghut. Kroscek, akh…kroscek…

Menghukumi dan menuduh tanpa ilmu, tanpa kroscek dahulu dan tanpa etika berbicara sepertinya sedang marak akhir-akhir ini. Membicarakan orang lain tanpa kroscek dahulu seperti orang yang suka ngobrolin berita infotainment. Belum jelas kabarnya tapi sudah berani ‘nyebar brosur’. Bisa malah jadi fitnah.

Iqro’! (Urgensi Membaca Bagi Kebangkitan Islam)

Urgensi Membaca
Begitu bunyi ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Saw. Hanya Allah Ta’ala yang tahu mengapa Allah memilih perintah untuk membaca sebagai perintah pertama yang diturunkan untuk umat manusia. Saya sendiri memang belum tahu apakah memang ada nash (teks) yang menjelaskan alasan itu dalam al-Qur’an sendiri maupun Hadits. Namun bisa dipastikan betapa pentingnya perintah ‘membaca’ ini bagi umat manusia, khususnya umat Islam.


Suatu ketika di rumah, sambil duduk-duduk di dekat rak bukuberisi berderet buku koleksi saya , saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Dia mengatakan,”Mas, kenapa ya, aku kok males banget kalo baca buku ? Bahkan komik aja yang banyak gambarnya, aku males baca “ (intinya begitulah kata-katanya-pen). Kalimat-kalimat serupa seperti ini sangat sering saya dengar dimanapun saya berada. Terutama ketika bersama teman-teman berkumpul lalu ada yang memulai membicarakan tentang bagusnya sebuah buku yang pernah dibaca. Saya juga sering mendengar dari orang-orang yang lalu lalang ketika saya sedang jualan buku di seminar-seminar kampus ataupun di training-training.

Seharusnya masalah kemalasan umat Islam untuk membaca merupakan isu penting yang harus sering diangkat. Suatu ketika saya menemukan buku-buku karangan M. Faudzil Adhim, juga buku-buku ‘kuno’ karangan DR. Yusuf al-Qardhawy yang saya temukan di perpustakaan masjid ITS, yang rata-rata didalamnya membahas tentang kemunduran umat Islam ini dibandingkan umat Yahudi yang ternyata juga berakar pada satu masalah, yaitu : MEMBACA!

Saya dan Buku
Memang orang tua saya bukan orang yang mendidik saya membaca sejak usia balita, apalagi dengan metode-metode khusus seperti era modern yang sekarang ini. Namun dalam hal membaca, Ayahku-lah yang paling memberikan contoh kepada kelima anaknya untuk cinta membaca. Walau sangat jarang kami diperintah spesifik untuk membaca, tapi aktifitas asiknya membaca, sering terlihat didepan mata kami anak-anaknya. Sehingga saya anggap kami berlima termasuk anak-anak yang relatif suka membaca. Buku yang paling saya ingat adalah “Oh Anak” karangan Imam Al-Ghazali, buku favorit Ayahku. Ketika kami masih kecil, seringkali setelah solat berjamaah Ayahku menceritakan apa-apa yang dibacanya dalam buku itu. Terkadang kami juga berdoa bersama dengan doa yang diajarkan dalam buku tersebut. Walaupun buku itu sudah lusuh, kertas-kertasnya berwarna coklat, dan sobekan disana-sini, bahkan terakhir buku itu robek jadi dua karena bekas lipatan yang terlalu sering, Ayahku tidak menyerah untuk mengajak kami (anak-anaknya) untuk mengetiknya kembali di program WS (waktu itu masih komputer kuno) maupun Microsoft Word.


Begitu juga almarhum kakak saya yang nomer kedua, Arief Budiman (alm), yang kira-kira sekitar 7 tahun sebelum Allah Ta’ala menjemputnya, hidupnya dipenuhi dengan kecintaan kepada ilmu. Saat itu Allah Swt. memang ingin segera menemuinya di usianya yang masih 29 tahun dan setelah melakukan banyak hal yang bermanfaat baginya dan orang-orang disekitarnya. Bagi saya, kakak saya yang satu ini adalah sahabat karib. Sejak kecil kami selalu memiliki banyak kenangan tersendiri. Sampai kami berdua juga memiliki cita-cita dakwah yang sama. Dia juga seorang mentor yang memberikan contoh betapa membaca adalah aktifitas yang luar biasa mengasyikkan. Dia rela mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk membeli setumpuk buku-buku. Mulai buku-buku tentang pengembangan kepribadian, kepemimpinan, strategi bisnis, sampai yang paling banyak adalah buku-buku agama. Yang paling ku ingat dulu, ketika awal-awal kami mulai mencintai belajar ilmu agama, buku-buku Aa’ Gym-lah yang banyak memberikan kontribusi bagi hati kami berdua. Bahkan hari ini buku-buku warisan kakak saya tercinta itu kebanyakan karangan Aa’ Gym dan masih terawat rapi.

Masalah membaca memang bukan hanya masalah sepele. Namun bisa jadi akar dari segala masalah yang sehari-hari kita hadapi. Masalah antar manusia maupun hubungan kita dengan Allah sebagai Rabb semesta alam. Karena membaca berarti menambah ilmu. Sedangkan setiap kesalahan, dosa, perpecahan, kebencian, salahpaham, dan yang lainnya sangat berkaitan dengan lemahnya ilmu/ kebodohan. Contoh, dalam hal ibadah, orang-orang yang melakukan kesyirikan melalui praktek perdukunan atau sejenisnya, tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang sering mempelajari dan memahami isi Kitabullah dan Sunnah. Orang-orang yang melakukan bid’ah dalam akidah juga semua berakar dari lemahnya ilmu. Bahkan bangsa Indonesia ini sangat terpuruk, jangan-jangan juga karena masalah kebodohan sendiri atau lebih khususnya karena malas belajar dan membaca.

Kalau kita mau mengingat ingat keseharian kita sejak kecil, memang umumnya didikan membaca hanya sebatas kita disekolah saja. Lingkungan kita tidak pernah dekat dengan dunia membaca, bahkan banyak yang malah merusak moral serta menjauhkan diri kita dari membaca. Waktu-waktu efektif kita sejak kecil telah habis dengan menonton acara televisi yang sudah cukup ‘berjasa’ membentuk karakter bangsa ini menjadi sangat jahil dan sangat ke’barat-baratan’, semakin jauh dari Allah Ta’ala. Sudah cukup masa muda saya menjadi korban TV.
Ketika kecil kita mungkin lebih sering di beri hadiah saat ultah atau lebaran berupa mainan, pakaian atau harta lainnya. Dan kita sangat menyukai itu, sehingga seandainya saat ini ada yang memberi kado kepada kita sebuah buku tebal tentang akidah atau fiqih, senyuman dan kegembiraan kita hanya sampai pada saat kertas kado akan dibuka. Ketika tahu kalau isinya buku, senyum lebar itu berubah menjadi senyuman ‘garing’ untuk menutupi penyesalan.
Tapi sungguh, bagi saya pribadi, saat ini buku adalah harta yang sangat berharga bagi saya. Bahkan seringkali saya harus menahan hati dan pandangan untuk melihat ‘indah’-nya buku-buku baru di toko-toko buku. Seringkali juga saya berharap ada yang menghibahkan atau memberi saya buku-bukunya yang sudah tak terpakai. Seringkali saya bercerita tentang buku-buku yang baru saya baca dengan harapan lawan bicara saya akhirnya tertarik ingin membacanya juga. Seringkali saya juga berharap menemukan pecinta-pecinta buku yang bisa menghabiskan waktu sambil berdiskusi tentang buku-buku tertentu yang kami masing-masing sukai.


Ketika anak saya yang pertama lahir, saya dan istri memberinya nama Hafizhan Faiq Albani. Nama Albani kami ambil dari nama seorang ahli hadits termasyur, Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Karena kami merindukan kelak anak kami menjadi orang yang soleh, banyak ilmu dan mampu memahami agama ini lebih baik dari kedua orang tuanya. Yang mampu membaca apa-apa yang Allah ajarkan di dunia. Yang mampu membaca hati kami, sehingga dapat menjadi penghibur hati kami ketika kami sedih, menjadi pengingat ketika kami lalai. Yang kelak darinya akan lahir orang-orang soleh yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan umat ini. Amin.

Umat Menyia-nyiakan Potensi Akalnya
Untuk bab yang satu ini ijinkan saya mengisinya dengan kutipan-kutipan yang berasal dari kata-kata seorang ulama kontemporer, Syaikh DR. Yusuf Al-Qardhawy. Beliau mengatakan :
“Kurikulum pelajaran kita hanya mampu mengeluarkan para pegawai, bukan para intelektual. Kemauan membaca tidak kita miliki, kita tidak suka membaca, karena membaca memerlukan keseriusan dan pemikiran agar dapat dipahami dan mampu mengikuti teori yang disuguhkan. Tetapi kemalasan pada diri kita terasa lebih manis dari madu!”


Suatu ketika, mantan Menhankam Israel, Moshe Dayan, menyatakan secara terbuka cita-cita dan ambisi negaranya. Dia mendapat serangan gencar dari bangsanya, karena mereka kuatir pernyataannya itu dibaca oleh bangsa Arab (umat Islam) dan rencana jahatnya diketahui. Namun dengan tenang ia menjawab serangan kaumnya, katanya,”Tenanglah. Percayalah padaku, bangsa Arab tidak akan membacanya, karena mereka tidak suka dan malas membaca.”
Hal ini sangat memprihatinkan. Padahal Allah menurunkan sebuah kitab yang sangat kaya akan ilmu kepada umat Islam ini. Menurunkan agama Islam ini yang ‘menyeluruh’ ilmunya, agar mampu memecahkan segala problematika hidup didunia. Bahkan lebih dari itu, setelah kita hidup didunia ini. Namun bagaimana mungkin saat ini kita tertinggal dengan semangat keilmuan orang-orang kafir yang jelas-jelas dilaknat oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memberikan alasan kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya, dari golongan musyrikin dan Yahudi karena mereka terdiri dari kaum yang tidak berakal (Qaumun laa yakqiluun), atau kaum yang tidak memahami (Qaumun laa yafqahuun). Saat ini keadaannya terbalik. Mungkin kita yang lebih pantas menyandang ‘gelar’ itu dibanding mereka.

Tak Ada Kata Terlambat
Bagi teman-teman sesama muslim yang belum memiliki semangat keilmuan, berusahalah sekuat tenaga untuk memperbaiki diri. Karena kelak ketika menikah, memiliki istri/suami, memiliki anak, kita akan dimintai pertanggungjawaban ketika kita salah memberikan bimbingan. Nanti akan ada saatnya ketika kita harus mampu memberikan contoh untuk lingkup keluarga kita bagaimana menjadi mukmin yang terbaik yang kita bisa. Ada saatnya kita harus mampu menjawab berbagai pertanyaan ‘penting’ dari anak-anak kita seperti : “Kenapa Allah tidak terlihat ?”, “Kenapa saya harus sholat?”, “Kenapa Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin?” dan segudang pertanyaan lainnya.


Jadikan ilmu menjadi kebutuhan yang urgen. Tidak bisa ditunda lagi. Malah seharusnya disetarakan dengan kebutuhan primer-mu. Yakinkan pada diri kita bahwa telah lama umat yang tadinya stagnan dan tak kunjung bangkit ini, tak akan lama lagi akan menggenggam kembali kejayaan yang Allah janjikan. InsyaAllah…

“Shaff Lurus dan Rapat” Diluar Shalat

Saat shalat berjamaah kita sering kali mendengarkan imam memberi perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaff pada makmum. Hal ini merupakan perintah dari Rasulullah Saw untuk imam agar selalu mengingatkan hal itu kepada makmum dibelakangnya. Begitu juga perintah bagi makmum untuk otomatis mengikuti perintah imam meluruskan dan merapatkan shaff tersebut. Hadits tentang hal ini sangatlah banyak kita temui;

Anas r.a. berkata, "Iqamah telah dikumandangkan, lalu Rasulullah menghadap kami dan bersabda, 'Luruskanlah shaf-shaf kamu dan rapatkanlah, karena sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku.' Salah seorang dari kami menempelkan pundaknya ke pundak kawannya, dan kakinya ke kaki kawannya." (HR. Bukhari)


Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Imam itu dijadikan untuk diikuti. Karena itu, janganlah kamu menyalahinya. Apabila dia sudah bertakbir, maka bertakbirlah kamu. Apabila dia ruku, maka rukulah kamu. Apabila dia membaca, 'Sami'allaahu liman hamidah' ; maka bacalah, 'Rabbana wa lakal hamdu.' Apabila dia sujud, maka sujudlah kamu. Apabila dia shalat dengan duduk, maka shalatlah kamu semua dengan duduk. Luruskan shaf (barisan) dalam shalat, sesungguhnya meluruskan shaf itu sebaik-baik shalat." (HR. Bukhari)

Anas mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf itu adalah termasuk kesempurnaan mendirikan shalat." (HR. Bukhari)

Dari Busyair bin Yasar al Anshari dari Anas bin Malik bahwasanya ia datang di Madinah lalu ditanyakan kepadanya, "Apakah ada sesuatu yang kamu ingkari (anggap tidak baik) dari apa yang kami semua lakukan sejak hari kamu bergaul bersama Rasulullah?" Ia berkata, "Saya tidak mendapat sesuatu yang patut saya ingkari kecuali kalian tidak meluruskan shaf pada waktu shalat." (HR. Bukhari)

Dari Nukman bin Basyir ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sebaiknya engkau mau meluruskan barisanmu atau Allah akan menancapkan rasa permusuhan di antara engkau. (Shahih Muslim)

Dan masih banyak lagi dengan riwayat-riwayat lainnya yang menjadi dalil pentingnya merapatkan dan meluruskan shaff saat kita melakukan shalat berjamaah. Jika sholat sendirian, tidak ada yang namanya perintah meluruskan shaff. Tapi jika kita sholat berjamaah di masjid, meluruskan dan merapatkan shaff menjadi suatu perintah. Perintah tersebut yang seolah terkesan sepele, tapi dalam satu hadits terakhir di atas, jika kita meremehkan perintah meluruskan dan merapatkan shaff maka Allah Swt. akan menancapkan rasa permusuhan diantara kita.

Shaff dan Ukhuwah Islamiyah
Makna yang bisa kita ambil adalah bahwa kelurusan dan kerapatan shaff itu memiliki kaitan langsung kepada Ukhuwah Islamiyah. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan diantara umat Islam adalah nilai penting yang harus dijaga dari lurusnya shaff kita dalam setiap shalat berjamaah. Jangan sampai diri kita menjadi orang yang tidak memahami makna ukhuwah ini hingga membuat kita suka sekali berseteru, berselisih, dan berpecah-belah antar sesama saudara seiman. Kerapatan dan kelurusan shaff bisa menjadi tak berarti apa-apa jika diluar shalat kita suka menyulut perpecahan, suka mengghibah, suka memfitnah, menuduh orang lain atau jamaah lain dengan tuduhan kafir, sesat, bid’ah, batil dengan mudah.

Umat ini belum bisa bersatu-padu. Untuk mencapai kebangkitan peradaban Islam yang kita rindukan bersama selalu menemui batu-batu sandungan dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Kalau kaum liberal dan sekuler sih memang jelas musuh kita, tapi jamaah-jamaah Islam tidak seharusnya suka saling berpecah hanya karena perbedaan kecil yang tidak prinsipil.

Oleh karena itu, ingatlah dalam hatimu. Ketika kita bersiap mengambil posisi solat berjamaah. Rapatkan telapak kaki pada makmum disamping kita. Luruskan tumit. Rapatkan bahu. Jangan berlebih-lebihan. Lalu ingatlah bahwa ini salah satu bentuk cinta kita kepada mereka semua dalam shalat berjamaah. Tebarkan senyum dan sapa ketika bertemu sesama jamaah diluar shalat. Jika ada yang belum merapatkan shaff, ingatkan mereka dengan cara yang ma’ruf, agar mereka ikut pada barisan kita. Insya Allah dengan ini satu tahap anak tangga menuju peradaban Islam ala Madinah yang kita cita-citakan itu sudah kita naiki. []

Dakwah ‘Mengajak’ Bukan ‘Menghakimi’

Latar belakang tulisan ini adalah fenomena banyaknya dai-dai dari sebuah jamaah yang senang sekali menyalahkan-nyalahkan dan dengan mudahnya membid’ah-bid’ahkan sesama kaum muslimin yang berbeda pendapat. Anak-anak muda yang baru saja belajar Islam, baru ikut ngaji sebulan-dua bulan sudah berani menghukumi saudaranya sesama muslim dengan “ini sesat!”, “itu bid’ah!”, “itu namanya khawarij!”, “itu fasik!”, dll. Yang lebih parah sampai mengkafir-kafirkan saudara sesama muslim.

Kami tertarik mengangkat masalah ini karena sudah hilangnya semangat ukhuwah Islamiyah yang ada diantara kelompok/jamaah-jamaah Islam.

Kalau dalam meraih kebangkitan Islam ini kita menghadapi musuh dari luar, itu suatu hal yang wajar. Sesuai dengan sunnah pertarungan antara yang haq dan yang batil. Namun kami merasa sangat prihatin jika musuh itu datang dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Tiap jamaah Islam yang satu dengan lainnya saling menjatuhkan. Padahal metode dakwah tiap jamaah Islam adalah ijtihad masing-masing jamaah, sesuai dengan penentuan sasaran, skala prioritas dan tahapannya.


Jenis-jenis Perbedaan dan Penyikapannya.

Memang sikap dakwah yang mudah menghukumi, menyesat-nyesatkan, membid’ah-bid’ahkan, mengkafir-kafirkan kelompok lain yang berbeda seharusnya dihindari oleh umat Islam. Apalagi perbedaan itu hanya permasalahan yang bersifat cabang (furu’) dan bukan permasalahan yang prinsip (ushul). Padahal permasalahan cabang (furu’) terkadang hanya disebabkan perbedaan pemahaman terhadap dalil maupun pelaksanaannya. Sebagian besar ulama menganggap bahwa masalah yang masuk kategori cabang, mustahil mencapai ijma’ (kesepakatan jumhur ulama-red).

Oleh karena itu tak perlu kita menyikapi sampai dengan cara sekasar itu karena sikap kita untuk perbedaan dalam masalah furu’/ cabang masih ditolerir. Sedangkan sering kita temui tuduhan-tuduhan yang kasar dan ‘berbahaya’ mulai yang ringan seperti tuduhan orang yang melakukan qunut subuh dianggap melakukan bid’ah, yang tarawih 23 rakaat dianggap ahlul bid’ah, sampai yang parah sampai berkoar-koar mengkafirkan-kafirkan, menyesat-nyesatkan aktifis harakah, Ikhwanul Muslimin, MMI, PKS, bahkan Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh pun kecipratan cap ‘sesat’, juga saudara-saudara kita umat Islam lainnya yang tidak sefaham.

Dalam sebuah selebaran Jum’at pernah kami menemui artikel yang menyebut-nyebut pergerakan Islam di Palestina bernama HAMAS dengan sebutan ‘murtad HAMAS’, karena HAMAS dituduh memicu pertikaian antar sesama rakyat Palestina. Yang mereka sebut itu (murtad-red) otomatis termasuk juga para pemimpin muslimin di dalamnya dan termasuk juga Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yassin dan Asy-Syahid DR. Abdul Aziz Ar-Rantisi yang mati-matian melindungi Masjidil Aqsha dari ancaman zionis Izrael. Apakah dakwah seperti ini yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Menuduh dan menghakimi tanpa kroscek dahulu yang bersangkutan tentang kebenarannya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membersihkan nama hambanya yang shaleh dari tuduhan-tuduhan yang tidak benar.

Kalau perbedaan yang bersifat prinsip (ushul), tidak dapat ditolerir karena sudah merupakan kesepakatan penafsiran sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan seluruh tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah sampai saat ini. Misalnya yang menyangkut Rukun Iman. Banyak juga golongan-golongan yang memiliki pemikiran menyimpang dalam masalah akidah yang sudah dikenal sejak masa sahabat, seperti Muktazilah, Khawarij, dan Syiah. Menghukumi prinsip menyimpang seperti itu dengan hukum sesat, sudah pasti disepakati oleh jumhur ulama sepanjang sejarah. Jadi sangat berbeda, sikap kita terhadap perbedaan yang hanya bersifat cabang (furu’) -seperti berbeda dalam hal mahzhab fikih dan lain-lain- dengan masalah-masalah yang prinsip (ushul). Masalah prinsip lebih prioritas untuk kita sikapi dibanding masalah cabang, namun tetap dalam koridor penyikapan yang baik dan bersifat mendakwahi atau menasehati pada kebenaran.


Tidak ada Satupun Orang yang Mau Di Hukumi Sembarangan

Dakwah dengan menghakimi itu adalah dakwah paling mudah. Karena tanpa ilmu dan asal bicara saja sudah bisa jadi juru dakwah seperti itu. Namun bukan itu tujuan kita, karena tak ada satupun orang yang mau dihakimi ahlul bid’ah, sesat atau kafir. Bahkan orang-orang kafir pun (misalnya orang kristen-red) tidak ada yang mau dituduh dengan kita mengatakan,“kamu itu kafir!”. Apalagi dalam hal ini yang dituduh saudara kita sesama muslim, yang mungkin ilmunya, kuantitas dan kualitas ibadahnya bisa jadi lebih baik dari yang menuduh sesat itu. Wallahu a’lam.

Banyak juga kelompok-kelompok yang mencela saudaranya sesama muslim dengan membid’ah-bid’ahkan sikapnya dalam berdakwah melalui politik. Hingga begitu mudahnya menghukumi tanpa mengkroscek yang bersangkutan mengenai alasan-alasan dan dalil-dalil yang mereka jadikan hujjah hingga harus berbuat demikian.


Dalil-dalil Larangan Dakwah dengan Menuduh dan Menghukumi.

Dalam satu kesempatan, Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) berkata,”Wajib atas penuntut ilmu dan ahlul ilmi untuk berhusnuzh-zhan terhadap saudara mereka para ulama. Mereka juga harus berkata yang baik dan menjauhi perkataan yang buruk. Sesungguhnya para dai yang menyeru ke jalan Allah ‘Azza wa Jalla itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat. Sehingga, yang seharusnya dilakukan oleh para penuntut ilmu (thullabul ‘ilmi) tersebut adalah membantu tugas mereka dengan cara berbicara yang baik-baik, dengan gaya bahasa yang santun, dan dengan sangkaan yang positif; tidak dengan cara yang keras dan kasar, tidak pula dengan cara mencari-cari kesalahan mereka dan menyebar-luaskannya untuk membuat orang lari dari si fulan dan fulan…”

Adapun Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah (w. 1423 H), ketika ditanya pendapat beliau tentang kebiasaan sebagian penuntut ilmu yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, beliau menjawab,”Ini tidak boleh! Mencari-cari kesalahan kaum muslimin apalagi para ulama, adalah haram. Dalam hadits dikatakan,”Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi imannya tidak masuk ke dalam hatinya; Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa yang suka mengumbar aurat saudaranya, maka Allah akan membuka auratnya, sekalipun dia berada di pangkuan ibunya,” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad) yakni -sekalipun ia berada- dirumah ibunya. Oleh karena itu, kita tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain. Bahkan, mencari-cari kesalahan orang lain itu sendiri adalah merupakan suatu kesalahan…”

Kesimpulannya…
Pada dasarnya dalam hal menghukumi dan menuduh sikap umat Islam yang lain itu harus ‘super’ hati-hati. Memerlukan bukti yang sangat jelas, pengakuan dari yang bersangkutan serta memerlukan kesepakatan ulama tentang sikap tersebut. Ditambah lagi setiap persoalan tidak bisa dipukul rata dan dihukumi sama sesatnya, atau sama bid’ahnya.