SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.
Fikih Pertemanan di Komunitas Musik Underground
SA'I MUSLIM MOVEMENT—Komunitas musik Underground dan berbagai sub-komunitas lain yang ada didalamnya (punk, hardcore, metal, dll) sebenarnya bukanlah suatu komunitas yang berisi orang-orang yang dekat dengan agamanya. Terlebih lagi dekat dengan Allah Swt. Jika kita mau melihat dan jujur, dalam komunitas underground justru lebih banyak orang-orang yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Seperti misalnya minum-minuman keras, merokok, ganja, obat bius, tato, maupun pergaulan bebas seringkali mewarnai kehidupan di scene Underground dimanapun diseluruh dunia. Dan sudah pasti pergerakan semacam Ghurabaa Militan Tauhid ini akan dianggap sesuatu yang aneh, asing, dan bahkan mungkin beberapa diantara mereka akan mengejek “kalian salah tempat jika berbicara agama di komunitas ini!”.
Setiap muslim ketika melihat suatu kemungkaran atau kemaksiatan maka sudah menjadi kewajibannya untuk mengingkarinya. Bahkan kaidah umumnya, kita tidaklah diperkenankan untuk berada ditengah-tengah kemungkaran itu kecuali dengan niat mendakwahinya. Bukan justru tergelincir kedalamnya dan ikut-ikutan teman-teman yang berada didalam komunitas itu untuk berbuat hal-hal negatif.
Begitu pula dengan kaidah-kaidah berteman, yang semua itu sudah diatut didalam ajaran Islam. Didalam agama ini kita dilarang menjadikan orang-orang yang jauh dari Allah Swt sebagai teman-teman dekat kita yang kita berloyal kepadanya.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadits shahih bersabda,”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidak-tidaknya engkau akan mendapatkan bau semerbak wangi (dari minyak wangi yang ia jual). Adapun bersama tukang pandai besi, engkau bisa terbakar karena apinya, atau jika tidak engkau pasti akan mendapati bau angus.”
Dalam sabda ini, Rasulullah Saw menjelaskan manfaat yang akan kita dapatkan jika kita gemar berteman dengan orang yang baik. Sebaliknya, beliau juga menjelaskan kerugian yang akan kita dapatkan jika kita berteman dengan orang yang buruk perangainya. Ini secara tidak langsung merupakan perintah dari Rasulullah Saw agar kita memilih orang yang baik sebagai teman karib atau teman dekat kita. Sebaliknya, beliau melarang kita untuk menjadikan orang-orang yang jahat sebagai teman karib kita.
Ustad Muhammad Shaleh Drehem pernah menjelaskan tentang bagaimana pendapat ulama tentang aturan pergaulan dalam Islam. Mereka (para ulama) membagi teman menjadi empat macam. Pertama, teman yang seperti makanan. Kita setiap hari pasti membutuhkan makanan. Tanpa makanan, kita akan mati. Makanan adalah sesuatu yang bisa membuat kita terus bertahan hidup. Demikian pula, kita membutuhkan teman yang seperti ini. Teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara ruhani. Rekan kerja dan rekan bisnis kita adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara jasmani. Ulama, pembimbing dan guru adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara ruhani. Itulah teman-teman yang senantiasa kita butuhkan setiap saat.
Kedua, teman yang seperti obat. Namanya obat pasti hanya kita perlukan saat sakit saja. Disamping itu, jenis obat yang kita konsumsi pun harus sesuai dengan sakit yang kita derita. Demikian pula takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan. Seperti inilah teman yang hanya kita butuhkan pada saat-saat tertentu saja. Tidak setiap saat kita membutuhkan kehadirannya. Demikian pula kita hanya perlu berhubungan dengannya seperlunya saja dan tidak boleh sampai berlebihan.
Teman macam pertama dan kedua inilah yang bisa kita jadikan sebagai teman karib atau teman dekat.
Ketiga, teman yang seperti penyakit. Tentu saja teman seperti ini tidak bisa kita jadikan sebagai teman karib. Akan tetapi, bukan berarti kita sama sekali memutus hubungan dengannya. Sebaliknya, kita memiliki kewajiban untuk berusaha menyembuhkannya. Sebagaimana penyakit ada yang ringan, ada yang sedang, dan ada yang parah, demikian pula teman yang satu ini. Keadaannya berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Namun bagaimanapun, ia tetap berpotensi menularkan penyakitnya kepada diri kita. Karena itu kita harus tetap berhati-hati ketika berinteraksi dengannya.
Keempat, teman yang seperti racun. Ini adalah teman yang mematikan! Sama sekali tidak ada kebaikannya bagi diri kita. Ia juga hampir-hampir tidak memiliki peluang lagi untuk berubah menjadi baik. Karena itu, kita harus ekstra waspada terhadap orang-orang semacam ini.
Pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan meningkatkan keimanan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Berbagai hal yang bermanfaat juga akan tercipta dari pertemanan dengan mereka.
Sebaliknya, pertemanan dengan orang-orang yang suka bermaksiat dan dalam rangka kemaksiatan adalah fatamorgana. Pertemanan dengan mereka adalah pertemanan yang bersifat semu. Sekalipun di dunia ini pertemanan semacam ini bisa berlangsung akrab, akan tetapi pada hari kiamat kelak justru akan menjadi penyesalan. ”Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Fulan sebagai teman akrabku.”
Ketika itu, satu orang dengan yang lainnya akan saling berlepas tangan. Seperti dalam firman Allah Swt :
“Ketika orang-orang yang diikuti (kesesatannya) berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (kesesatan temannya): ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka (teman-teman yang telah menyesatkan aku), sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah: 166-167)
Bahkan, pada hari kiamat itu orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling mempersalahkan. Allah Swt berfirman:
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).
Wallahu a’lam
(Aik, vokalis band hardcorepunk, The Fourty’s Accident)
Hati-hati! Media Massa Mampu Mengalihkan Perhatian Publik!
SA'I MUSLIM MOVEMENT--Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media massa mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Seperti yang baru-baru ini terjadi, pemberitaan di media tentang kasus korupsi yang melilit tokoh-tokoh partai Demokrat belum terselesaikan, tiba-tiba isu tentang pembubaran FPI muncul di media-media massa. Dimana-mana diskursus pembubaran FPI menjadi topik pembicaraan yang hangat gara-gara selalu dimunculkan sebagai headline atau topik utama pemberitaan.
Sebenarnya contoh-contoh yang bisa kita temui sangatlah banyak. Bukan hanya sesekali, tapi mengalihan isu media sudah berkali-kali terjadi jika media memiliki motif kepentingan atau politik terhadap pemberitaan tersebut. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi ‘heroik’ aparat kepolisian negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang kecurangan-kecurangan dalam pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.
Satu contoh lagi, masihkah ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih cocok dibilang teroris dengan pemberitaan hukuman mati bagi Amrozi dkk? Padahal fakta tentang Amrozi dkk sebagai ‘bomber’ masih belum jelas dan banyak kejanggalan, sedangkan Tibo sudah jelas! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.
Isu perlawanan umat Islam terhadap kaum liberal yang saat ini sedang panas dibicarakan merupakan reaksi yang tepat di sebagian masyarakat. Karena masyarakat sudah mampu membaca siapakah yang berperan dibalik isu pembubaran FPI di Indonesia. Kita tahu bahwa rencana busuk para aktivis liberal adalah menghilangkan ‘musuh besar’ mereka yaitu FPI, yang selama ini dianggap penghambat kebebasan mereka untuk bermaksiat.
Maka dari itu, jangan pernah diri kita dibodoh-bodohi oleh media massa. Jadilah audiens yang aktif dan kritis melihat suatu isu pemberitaan. Jangan mudah percaya dengan pemberitaan tentang Islam di media. Karena bisa saja itu semua adalah strategi media yang memiliki kepentingan politik untuk mengalihkan isu-isu di masyarakat.
[Curhat Mingguan ke-24, Abu Hafizh, 25-02-2012, 23:25]
Sebenarnya contoh-contoh yang bisa kita temui sangatlah banyak. Bukan hanya sesekali, tapi mengalihan isu media sudah berkali-kali terjadi jika media memiliki motif kepentingan atau politik terhadap pemberitaan tersebut. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi ‘heroik’ aparat kepolisian negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang kecurangan-kecurangan dalam pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.
Satu contoh lagi, masihkah ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih cocok dibilang teroris dengan pemberitaan hukuman mati bagi Amrozi dkk? Padahal fakta tentang Amrozi dkk sebagai ‘bomber’ masih belum jelas dan banyak kejanggalan, sedangkan Tibo sudah jelas! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.
Isu perlawanan umat Islam terhadap kaum liberal yang saat ini sedang panas dibicarakan merupakan reaksi yang tepat di sebagian masyarakat. Karena masyarakat sudah mampu membaca siapakah yang berperan dibalik isu pembubaran FPI di Indonesia. Kita tahu bahwa rencana busuk para aktivis liberal adalah menghilangkan ‘musuh besar’ mereka yaitu FPI, yang selama ini dianggap penghambat kebebasan mereka untuk bermaksiat.
Maka dari itu, jangan pernah diri kita dibodoh-bodohi oleh media massa. Jadilah audiens yang aktif dan kritis melihat suatu isu pemberitaan. Jangan mudah percaya dengan pemberitaan tentang Islam di media. Karena bisa saja itu semua adalah strategi media yang memiliki kepentingan politik untuk mengalihkan isu-isu di masyarakat.
[Curhat Mingguan ke-24, Abu Hafizh, 25-02-2012, 23:25]
Subscribe to:
Posts (Atom)
