


SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.

Penulis : As’ad As-Sahamrani
Penerbit : ERA Intermedia
Buku ini sebenarnya dahulu adalah buku sisa dagangan SA’I Bookstore mini yang ada dirumah. Karena lama tidak terjual, saya justru tertarik untuk membuka segelnya lalu saya baca sendiri dan menjadi tambahan bagi perpustakaan literatur Islam di SA’I Media Center. Namun saya selalu merasa beruntung. Buku ini berisi topik pembahasan yang sangat tepat dengan minat saya. Saya sudah lama dan kedepannya akan terus mempelajari bagaimana Barat begitu memusuhi umat Islam. Disamping saya sendiri memiliki tuntutan untuk mengerjakan proposal calon disertasi saya nanti ketika S3 yang rencananya adalah tentang membongkar kebusukan media Barat melalui visual-visual yang dipakai media massa disaat tragedi 9/11 dan peringatannya setiap tahun.
Buku ini memberikan banyak pengetahuan tentang definisi ‘teror’ dalam berbagai sumber dan literatur. Cukup ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari setiap rujukan yang dipakainya. Selanjutnya dijelaskan bagaimana konsep jihad dan aturan perang yang benar didalam Islam. Disini penulis mendefinisikan jihad secara benar, yang jelas melemahkan definisi jihad yang umum dipakai ustad-ustad televisi di Indonesia: “Jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu”. Yang akhirnya sering disalah artikan, bahwa tidak perlu jauh-jauh berjihad bertaruh nyawa membela agama Allah, dan cukup berjihad menahan hawa nafsu saja. Selanjutnya, penulis menjelaskan dengan baik tentang hukum jihad yang bisa fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Dalam bab lain, penulis membedah bagaimana zionisme sudah lama lahir dan tumbuh di Amerika sejak abad ke-17an. Benar-benar surprising. Karena ilmu saya yang dangkal tentang faham ini, saya merasa buku ini menjawab kebutuhan ilmu saya tentang relasi AS-Zionisme. Dan yang terakhir, inti dari buku ini adalah tentang dasar pemikiran terorisme yang dianut zionisme. Pembahasannya yang straight to the point dan bahasa yang ringan membuat saya mudah mencernanya. Cocok untuk para beginner. Yah,..memang saya selalu beruntung menemukan buku-buku bagus untuk dibahas di resensi ini. Gimana dengan anda?
[abu hafizh]

Wajah Islam di dunia memang sudah mulai digambarkan ‘buruk rupa’ sejak tercetusnya Perang Salib abad XI hingga abad XIII. Sejak perang itu, umat Kristen (Barat) menyisakan dendam kesumat yang hingga kini masih membara dihati mereka. Mereka berupaya melakukan serangan-serangan lain kepada umat Islam di belahan bumi yang lain melalui penjajahan (yang sering mereka tutupi dengan dalih mencari rempah-rempah). Apa yang mereka bawa bukan hanya Gold (emas) dan Glory (kebanggaan) saja, namun mereka juga membawa Gospel (penyebaran Injil). Menurut sejarah, apa yang mereka lakukan untuk menyebarkan agama Kristen, selalu diiringi lumuran darah. Niat mereka bukan hanya sekedar menyebarkan agama, tapi mengikis dunia Islam dan menenggelamkan wajah kejayaan Islam.
Apa yang Barat lakukan untuk menghancurkan Islam penuh dengan taktik dan strategi yang matang. Mereka berupaya merepresentasikan wajah Islam sebagai wajah yang buruk rupa, sadis, monster dan menjijikkan didepan dunia. Hasilnya, saat ini tanyakan saja kepada orang-orang Islam yang awam di sekitarmu tentang image seperti apa yang mereka tangkap ketika melihat muslimah bercadar/burkah, atau laki-laki berjenggot, berdahi hitam, dan bercelana congkrang. Sudah bisa dipastikan mayoritas akan menjawab itu dandanan para ‘teroris’. Atau tanyakan juga siapakah Osama bin Laden. Rata-rata akan menjawab beliau adalah teroris. Bahkan yang sekelas aktivis masjid pun pernah ada yang berkata seperti itu.
Masih ingat surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, yang memuat karikatur Rasulullah Saw beberapa tahun lalu? Rasulullah Saw digambarkan buruk rupa, sadis, gila seks, dan phedophilia. Tidak beda apa yang terjadi dulu dan saat ini. Malahan sekarang lebih parah dibandingkan kondisi jaman dahulu.
Sebagai contoh lagi, Geert Wilder, politisi Belanda yang beberapa tahun lalu segaja membuat cari gara-gara dengan umat Islam demi popularitas politiknya melalui film Fitna. Melihat kondisi umat Islam yang adem-ayem (tenang-tenang) saja, dia memberanikan menghina Al-Qur’an dikatakan sebagai kitab suci yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan masal. Setelah itu, apa yang terjadi? Geert Wilder dianggap ‘pahlawan’ di negaranya, populer karena fitnahnya melalui Fitna (parahnya, umat Islam sendiri hanya bisa melakukan gertak sambal saja).
Upaya Barat untuk mencitrakan Islam dengan citra yang buruk sasarannya bukan hanya orang-orang awam di Barat saja, namun juga orang-orang muslim sendiri agar mereka phobia terhadap ajaran agamanya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Anwar al-Jundy sebagai ‘Westernisation in Islamic World’. Westernisasi jika diartikan dalam arti yang luas berarti mendorong umat Islam dan bangsa Arab untuk menerima pemikiran-pemikiran Barat dalam jiwa umat Islam, menanamkan prinsip-prinsip pendidikan ala Barat sehingga umat Islam tumbuh dalam kehidupan dan pemikiran Barat sehingga nilai-nilai keislamannya menjadi hampa dalam hati mereka.
Ketika umat Islam sendiri mulai phobia dengan ajaran agamanya, maka mereka akan melupakan bahwa Islam merupakan sistem hidup (way of life) yang terbaik dan paling sempurna bagi umat manusia. Jika sudah seperti itu, maka umat Islam sendiri ikut-ikutan memerangi syariat Islam sekaligus mencegah usaha kebangkitan Islam layaknya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam pada umumnya.
Seorang rapper muslim lokal, Abdul Aziz Al-Makassary, pernah menyebut perang pemikiran seperti ini merupakan perang panjang. Memang benar apa yang dikatakannya, bahwa kondisi seperti ini (ghazwul fikri) sebenarnya sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw masih hidup hingga saat ini. Hanya saja dalam versi yang berbeda-beda. Dulu Rasulullah Saw ketika menyampaikan wahyu dari Allah Ta’ala mereka citrakan sebagai orang gila yang berbicara nglantur, saat ini pun tak berubah. Tetap saja banyak musuh Islam yang mencitrakan seperti itu. Perang ini menjadi sangat panjang ketika umat Islam sendiri bukan hanya sudah tidak memiliki ‘persiapan perang’ yang cukup dengan ilmu dan pemahaman yang benar, namun sebagian besar umat Islam tidak memiliki tekad dan rasa cinta untuk membela agamanya yang sedang diinjak-injak. Para motivator, da’i, ustadz, bahkan ulama akan lebih banyak menghabiskan energinya untuk membangkitkan kedua aspek fundamental itu. Yah...memang tidak mudah membalikkan telapak tangan dalam membenahi ‘sisi dalam’ umat ini. Persiapan perangnya panjang, perangnya sendiri juga panjang...Wallahua’lam [aa]

Format : Majalah/ Buletin
Harga : Gratis
Topik Utama : Edisi Khusus ILGA 2010
Sepulang dari studi di Bandung selama 4 bulan, saya sempatkan masuk ruangan kerja saya di kampus untuk sekedar menengok meja kerja saya. Entah siapa yang menaruhnya, majalah ini sudah tergeletak di atas meja saya yang memang selalu terlihat berantakan dengan buku-buku dan kertas gak jelas. Kovernya gak menarik. Tapi yang membuat saya penasaran dengan isinya adalah slogan majalah ini, “karena indonesia tidak tunggal ika”. Tumben ada yang ‘agak’ kontroversi gini?
Sambil saya buka halaman pertama, saya jadi lebih tertarik lagi karena ternyata kepanjangan ILGA adalah International Lesbian and Gay Conference. Saya langsung bisa menebak kalau majalah ini adalah majalah buatan para aktivis gay dan lesbian. Pantes aja, la wong si hombreng Dede Oetomo ikutan nongol di daftar penasehat majalah ini.
Saya baca-baca cepat dari awal hingga akhir edisi ini. Isinya benar-benar tentang kekecewaan, kemarahan, dan rasa sebel mereka atas gagalnya konferensi gay dan lesbian (ILGA 2010) diadakan di Surabaya bulan Maret setahun yang lalu. Para penulis, redaktur, dan para kontributornya semua terlihat emosional dalam meliput bagaimana konferensi itu digagalkan oleh ormas-ormas Islam setempat. Hehehe..saya jadi ketawa-ketawa sendiri membacanya sambil ngebayangin kaum Luth yang pada ngambek karena sebel. Dalam hati saya berkali-kali mengucap “kapok! Rasakno!..” (rasain lu!).
Musuh utama mereka adalah syariat Islam dan orang-orang yang memperjuangkannya di negeri ini. Mereka sebut ormas-ormas Islam macam FPI atau HTI sebagai ‘teroris HAM’. Menurut saya julukan itu cukup keren kok. Gapapa, biarin aja. Karena kita senang-senang aja dianggap musuh. Karena musuh kemungkaran kan namanya kebaikan. Gay dan lesbi jelas mungkar, nah berarti kita jelas kebaikan.
Negara demokrasi emang memberikan ruang bagi mereka untuk eksis. Tameng mereka adalah HAM. Huh,..alasan yang membosankan. Saya sih waktu itu mikirnya simpel aja. Berharap suatu hari nanti ada anak-anak kecil main petasan di dekat markas mereka, pas mereka lagi ngadain konferensi, trus petasannya yang ukuran gede dilemparin ke tempat itu, lalu ngenain tabung elpiji, lalu Blaarrrr! Dan semua bencong-bencong, hombreng-hombreng, lesbian-lesbian terkutuk itu pada tamat riwayatnya.
Eh, btw, dimana tempat orang jual petasan?
Ups, kembali lagi ke topik. Majalah ini sebenarnya diisi oleh tulisan-tulisan yang tidak terlalu profesional. Masih amatiran lah. (mirip sa’i zine kali ya?hehe..). Yang membuat saya risih adalah mereka sering mencari legitimasi ke-gay-annya dan ke-lesbian-nya dengan dalil bahwa tuhan itu bijak kepada lesbian, gay, transgender, dan sebagainya. Bahkan mereka banyak yang ngaku gay-lesbian yang muslim dan agamis. Menurut saya itu malah keliatan banget bodohnya. Mungkin waktu kecil gak pernah tahu cerita kaum Luth kali ya? Apalagi sekarang udah telat kalo minta dicritain. Males banget.
Kalau ada yang mengatakan bahwa saya homophobic, maka anda salah. Saya bukan homophobic karena seorang homophobic membenci homoseksual karena dia benci tanpa alasan logis. Tapi saya? Saya membenci homoseksual dan sejenisnya karena hal itu dibenci pula oleh Allah Ta'ala. Tuhan semesta alam yang menciptakan kita semua di alam raya ini. Pihak yang paling berhak membenci siapapun. Logis kan?
Udah deh,..ini resensi majalah paling gak penting sedunia. Majalah cetakan hvs 56 halaman ini isinya terlalu banyak lelucon untuk dibahas di sa’i. Kalo kalian lagi sedih atau bete, silakan baca majalah ini. Pasti akan membantu anda senyum bahkan tertawa. :D [aa]

Penulis : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
Tahun : 2011
Memang waktu itu sudah lama saya tidak belanja buku. Sejak saya merasa terlalu ‘boros’ shopping buku-buku bagus di Bandung selama 4 bulan lalu. Ramadhan ini, alhamdulillah yah, selalu saja ada rejeki. Kali ini lagi-lagi bukan saya belikan baju baru, celana baru atau pakaian lainnya, tapi ehm...lagi-lagi buku.
Penulis ini, Raghib As Sirjani, seperti dalam resensi-resensi saya di edisi sebelumnya, selalu menghasilkan buku-buku terbaik dan pasti masuk dalam list buku favorit saya. Buku ini tidak tipis seperti sebelum-sebelumnya, namun tebalnya mencapai sekitar hampir 5 cm. Hardcover. Lengkap dengan ‘jaket’ bukunya yang didesain menarik. Benar-benar buku koleksi yang layak menghiasi perpustakaan pribadi anda, serta isinya yang cocok untuk menghiasi isi otak anda!
Lagi-lagi penulis selalu memberikan alasan-alasan logis dan kegelisahan-kegelisahan dirinya melihat umat ini yang selalu mengekor ke peradaban Barat. Seolah mereka buta dan tuli bahwa sebenarnya peradaban Islam sudah memberikan banyak ‘kontribusi’ bagi peradaban Barat yang sekarang begitu dipuja-puja seluruh dunia. Yah, mungkin terlalu halus kalo saya tuliskan dengan kata “kontribusi”, karena kenyataannya bukan Islam yang sengaja memberikannya pada mereka (Barat), tapi merekalah yang mencurinya dari umat Islam lalu seenaknya main klaim kepemilikan intelektual.
Sikap kaum muslimin yang pasif melihat tuduhan-tuduhan yang disematkan Barat kepada Islam benar-benar yang membuat penulis akhirnya meneliti dan menuliskan buku 862 halaman ini. Mereka adalah orang-orang pasif yang pesimis dengan agamanya sendiri. Mereka pesimis karena mereka sebenarnya buta akan sejarah! Mereka bodoh dengan sejarah agama Islam yang mereka peluk sendiri. Identitas mereka muslim, tapi tidak yakin bahwa Islam mampu mengatur dunia ini menjadi jauh lebih baik dari sistem apapun.
Dalam buku ini, awal-awal kita akan diajak menstudi peradaban-peradaban terdahulu-sekarang yang pernah eksis. Bagaimana kelebihan dan dimana letak cacatnya. Setelah itu kita akan dibawa untuk memahami bagaimana peradaban benar menjadi solusi sempurna dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia ini. It’s Excellent! It’s Great! Buku tebal ini emang paling cocok untuk menampar muka orang-orang yang memuja-muja peradaban Barat sebelum mempelajari Islam!
[abu hafizh]

Penulis : Muhaimin Iqbal
Penerbit : Gema Insani Press
Tahun : 2009
Beberapa bulan terakhir, memang saya mulai tertarik memperhatikan perkembangan Dinar-dirham dan emas. Sebelum saya mulai mencoba menginvestasikan uang saya dalam bentuk itupun, saya sudah mengajak-ajak saudara dan orangtua saya untuk memulainya. Sampai akhirnya bertepatan dengan momen krisis ekonomi di AS, saya mulai mantab untuk berinvestasi dengan mata uang Rasulullah Saw ini. Tapi buku apa yang tepat untuk saya baca agar saya tidak salah langkah? Akhirnya saya mendapatkan buku ini atas rekomendasi teman saya di kantor.
Tak lama kemudian saya beli buku ini dan cepat-cepat saya baca isinya. Saya penasaran karena penulisnya adalah seorang CEO Gerai Dinar yang blognya selalu uptodate dengan tulisan-tulisannya yang membuka wawasan saya. Saya penasaran apakah dalam buku ini pun mampu memuaskan saya akan wawasan tentang Dinar-dirham. Dan ternyata benar!
Dalam bab-bab awal saja saya sangat terhentak dengan cerita-cerita pengalaman penulis tentang masa depan uang kertas yang makin tidak ada harganya lagi. Kasus-kasus tentang tanda-tanda kehancuran uang kertas benar-benar membuka pikiran saya untuk segera mengalihkan investasi kedalam bentuk lain yang nilainya stabil dan kebal inflasi. Ya, dinar-emas yang saya maksud.
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan mengalir. Jangan bayangkan anda akan bertemu dengan tulisan-tulisan teoritis yang membosankan! Karena buku ini seperti dialog penulis dengan anda sebagai pembaca. Anda akan dibuat penulis terus menerus mengangguk-angguk seraya meng-iyakan setiap analogi dan alasan yang dia berikan. Menurut saya Ust Muhaimin Iqbal benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa dalam meyakinkan orang lain. Coba saja anda baca buku ini kalo berani! Saya pastikan anda akan mencabut seluruh tabungan anda di bank-bank konvensional maupun asuransi-asuransi yang sudah anda andalkan selama ini dan beralih ke investasi Dinar!
[abu hafizh]

DR. Zakir Naik, seorang ulama dari India pernah mengatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa dalam kurun waktu 150 tahun terakhir ini ada 60.000 buku yang ditulis untuk menghina dan melecehkan Rasulullah Saw di Barat. Tidak hanya itu, majalah-majalah milik Barat kelas dunia macam majalah TIME isinya selalu menyerang dan menyudutkan Islam. Bahkan seorang ulama kristologi tersohor asal Afrika, Ahmed Dedat, pernah mencoba menawarkan untuk membayar berapapun untuk ‘mengiklankan’ tentang prospek Al-Qur’an sebagai hukum masa depan dalam satu halaman saja di majalah tersebut tetap saja ditolak mentah-mentah. Itu berarti tak ada ruang bagi kita di media-media Barat. Mereka akan terus ‘mendandani’ wajah Islam layaknya monster dari waktu ke waktu.
Tetapi ada sesuatu yang ‘aneh’ terjadi. Dampak pencitraan buruk terhadap Islam justru membuat orang-orang di Barat semakin penasaran terhadap Islam. Intinya, semakin Islam dicitrakan buruk, maka semakin membuat orang-orang non-muslim di Barat penasaran untuk mencari tahu apa sebenarnya yang diajarkan dalam Islam. Faktanya, sejak kejadian 9/11, setiap tahun warga Amerika yang menyatakan diri masuk Islam semakin meningkat. Bahkan menurut kabar beberapa tahun terakhir, ada sekitar 20.000 orang warga di negara itu setiap tahunnya memilih Islam sebagai dien-nya. Kata salah satu situs media muslim lokal, mayoritas dari mereka adalah wanita.
Fenomena tersebut sudah bukan fenomena aneh lagi. Kita sudah sering mendengarnya di media-media muslim akhir-akhir ini. Namun yang menjadi menarik untuk dibahas adalah, mengapa hal itu bisa terjadi?
Seperti yang kita ketahui, peradaban Barat merupakan peradaban yang anti-agama. Meskipun mayoritas mereka memeluk kristen, namun sebenarnya sebagian besar dari pemeluk itu bukanlah pemeluk yang taat. Mungkin lebih cocok jika disebut sebagai “kristen KTP”. Dalam hati mereka sebenarnya memberontak terhadap agama. Mengapa bisa demikian? Karena mereka sudah lebih dari 1000 tahun lebih ditindas oleh agama. Dalam konteks ini adalah agama yang mereka anut; Kristen.
Scott Peck, seorang psikiater dan penulis terkenal di Barat mengatakan bahwa orang Barat jika mendengar kata “agama” akan langsung berpersepsi negatif. Hal itu disebabkan latar belakang sejarah mereka yang ratusan tahun lebih dijajah oleh gereja. Maka tidak heran simbol yang mereka pakai sebagai patung adalah “Liberty” yang berarti kebebasan. Bebas dari agama.
Jean Paul Sartre, seorang filosof dan eksistensialis dari Perancis, juga pernah mengatakan bahwa walaupun Tuhan itu ada, tapi lebih baik ide tentang adanya Tuhan itu harus ditolak, karena menurut Sartre hal itu sangat membatasi kebebasan. Begitulah respon Barat terhadap agama.
Namun, sejak 9/11 di tahun 2001 itu menjadi pembuka keingintahuan yang mendalam tentang Islam. Keingintahuan mereka yang tinggi membuat mereka bertanya, membaca, mempelajari apapun tentang Islam. Akhirnya dengan ‘tidak sengaja’ mereka mengetahui bagaimana konsep keTuhanan dalam Islam, bagaimana prinsip-prinsip agama Islam, dan lain sebagainya. Yang mereka harapkan klarifikasi akan buruknya Islam justru mereka mendapat informasi yang sebaliknya bahwa Islam merupakan agama yang paling logis, masuk akal, adil dan jelas konsepnya.
Tidak heran, dalam agama kristen sendiri, konsep keTuhanannya masih tidak jelas. Konsep trinitas begitu membingungkan dan tidak logis bagi mereka. Perdebatan tentang konsep itu sudah ada sejak kristen lahir, hingga detik ini belum juga selesai. Selain itu konsep tentang hak dan kewajiban dalam Islam, khususnya kepada perempuan, sangatlah adil dan logis. Jawaban yang mereka dapat justru bertolak belakang dengan apa yang digambarkan media-media Barat tentang Islam yang syariatnya menindas dan menyudutkan perempuan dibawah laki-laki. Mereka jadi tahu bahwa betapa Islam memuliakan wanita. Menempatkan wanita pada sektor-sektor peran yang penting dan mulia. Bahkan semakin media Barat sering membuat heboh dengan cara menghina Rasulullah Saw melalui karikatur dan isu-isu fitnah, justru membuat orang-orang Barat semakin ingin mengenal siapa sebenarnya Rasulullah Saw, untuk menjawab kebenaran isu tersebut. Dan apa yang mereka dapatkan? Lagi-lagi kajian-kajian tentang kemuliaan dan kehebatan Rasulullah Saw sebagai manusia terbaik yang diutus sebagai Rasul dimuka bumi.
Melempar isu negatif ke publik tentang ‘keburukan’ Islam, memang tetap memiliki dampak negatif pada orang-orang Islam di negara-negara yang justru mayoritas muslim. Mereka muslim namun menjadi phobia terhadap agamanya sendiri. Ikut-ikutan mengekor pada pemahaman Barat tentang Islam karena memang sebagian orang muslim sangat memuja peradaban Barat. Tapi bagi masyarakat di Barat sendiri, fenomena ini sama saja seperti melempar bumerang yang kembali mengenai jidat sendiri. Gereja-gereja semakin sepi ditinggalkan para jemaatnya. Puluhan ribu orang setiap tahunnya berbondong-bondong masuk Islam atas kesadaran sendiri tanpa sedikitpun paksaan. Sungguh kemenangan terasa semakin dekat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr 1-3)
Wallahua’lam
[abu hafizh]


“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik...” (QS. Al Maa’idah:82)
“...mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup...”(QS. Al Baqarah:217)
Media Barat memang lebay kalau memberitakan sesuatu yang negatif dari Islam. Tapi jika ada topik-topik yang positif tentang Islam, mereka tutup mata tutup telinga seolah tidak tahu menahu apa yang terjadi. Celakanya, trend dan pola pemberitaan semacam itu bukan lagi hanya dimiliki media-media Barat, tapi media-media massa di Indonesia ikut-ikut mengekor tradisi berita negatif tentang Islam. Sebut saja akhir-akhir ini, soal aliran-aliran yang nyleneh memilih untuk shalat Ied sehari lebih awal dari ormas apapun di Indonesia, diberitakan berlebihan seolah sengaja menonjolkan sisi buruknya Islam saja.
Menurut para kritikus media sering membuat sindiran bahwa prinsip media-media saat ini dalam mencari berita adalah “kalo ada anjing menggigit manusia, bukan berita namanya. Tapi kalo manusia menggigit anjing, itu baru berita.” Maka jelas apa yang dicari oleh media bukanlah sesuatu yang umum, wajar, dan baik-baik. Namun sesuatu yang nyleneh, bagi mereka adalah sesuatu yang layak untuk disebar luaskan. Nah, jika sudah begitu, yang menjadi masalah besar adalah ketika yang menjadi objek berita adalah Islam. Karena ketika itu diterapkan, maka media hanya akan mencari hal-hal yang memberikan citra negatif saja soal Islam. Topik-topik tentang perpecahan antar jamaah, perbedaan pendapat penentuan 1 Syawal, tuduhan teroris, menikahi gadis dibawah 15 tahun, poligami, jihad, dan lain sebagainya akan lebih ‘menarik’ bagi para wartawan media. Hal-hal positif yang mencitrakan bahwa Islam adalah sebuah sistem yang komprehensif, yang mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan dunia (dan akhirat juga tentunya), keberhasilan-keberhasilan penerapannya dalam kehidupan, kontribusinya terhadap kehidupan masyarakat, serta hal-hal positif lainnya tentang Islam tidak akan mendapat ruang dimedia.
Seorang orientalis senior dan ahli linguistik, Noam Chomsky, mengatakan bahwa usaha memperburuk citra Islam merupakan upaya negara-negara Barat (khususnya Amerika) untuk mengatur seluruh dunia sesuai dengan kepentingan mereka. Karena mereka mengklaim diri mereka sebagai pemegang supremacy of truth, sehingga siapapun yang dianggap ancaman bagi kepentingannya - termasuk Islam – maka akan disingkirkan dan di stempel dengan image ‘buruk’. Jika stempel itu disetujui oleh masyarakat luas (baca: dunia), maka terbentuklah public opinion tentang ‘bahaya’-nya Islam bagi umat manusia dunia, lalu berikutnya penindasan terhadap umat Islam akan mendapat dukungan dan legitimasi dari seluruh dunia pula.
Upaya Barat dalam mencitrakan negatif Islam sering disebut dengan istilah ‘demonologi Islam’ oleh Asep Syamsul. Yang arti langsungnya adalah “penyetanan Islam”. Agak kasar memang. Tapi memang seperti itulah perumpamaan yang tepat terhadap apa yang sedang dilakukan oleh Barat kepada Islam: menciptakan label-label negatif tentang Islam, gerakan-gerakan dakwah, tokoh-tokoh pejuang Islam, syariat Islam, agar Islam terlihat ‘menyeramkan’, layaknya setan. Label yang paling umum digunakan Amerika adalah ‘teroris’. Kita bahkan sudah hafal diluar kepala pelabelan itu. Noam Chomsky juga pernah menulis tentang ini dan dimuat dalam harian Republika dengan judul “AS Memanfaatkan Terorisme sebagai Instrumen Kebijakan”. Maksud Noam dalam tulisannya itu adalah Amerika sering berdalih memerangi ‘terorisme’ ketika membasmi gerakan-gerakan Islam yang menentang dirinya, dan seolah mereka sudah berada di ‘jalan yang benar’ untuk berbuat itu semua.
Objek-objek yang sering menjadi sasaran Barat dalam pencitraan negatif di media massa biasanya adalah organisasi-organisasi Islam, pemerintahan-pemerintahan yang dipimpin oleh pemimpin muslim dan berani terang-terangan melawan Barat, serta tokoh-tokoh aktivis/pejuang Islam.
Untuk ‘kategori’ organisasi-organisasi Islam, yang jadi sasaran adalah Ikhwanul Muslimin (Mesir), Front Islamique du Salut (FIS – Aljazair), Hamas (Palestina), Hizbullah (Lebanon), Jihad Islam (Palestina), dan lain-lain. Sedangkan untuk kategori pemerintahan; Imam Khomeini (Iran), Muammar Qaddhafi (Libya), Saddam Husein (Irak); juga Zia Ul-Haq (Pakistan), Hasan al-Basyir (Sudan), dan Taliban (Afghanistan) yang mencoba menerapkan syariat Islam dalam pemerintahannya. Untuk tokoh-tokoh/aktivis Islam sejak dulu hingga kini seperti Hasan Al-Banna (Mesir), Sayyid Quthb (Mesir), Osama bin Laden (Afghanistan/Saudi Arabia), Hasan Turabi (Sudan), Syeikh Ahmad Yasin (Palestina), Syeikh Omar Abdul Rahman (Mesir) dan masih banyak lagi lainnya.
Namun betapa pun besar usaha mereka dalam menjatuhkan Islam, Allah Ta’ala yang Maha Perkasa tidak akan tinggal diam. Karena sebesar apapun perbuatan makar (tipu daya) yang mereka lakukan, Allah akan membalas tipu daya mereka itu. Seperti janji dalam firmanNya:
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran:54)
Dan jika kita istiqomah membela agama ini, akan datang pula janji Allah untuk mengalahkan mereka.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan” (QS. Al-Anfaal:36)
Wallahu a’lam
[abu hafizh]


Out Now!! SA'I zine #10 and SUB CHAOS zine #9! Media dakwah yang sangat direkomendasikan untuk seluruh Ghurabba Militant Tawheed! sedot disini segera:
SA’I ZINE #10 Readable version :
http://www.4shared.com/document/8p-wRgVD/SAI_ZINE_10.html?
SA’I ZINE #10 Printed Version : http://www.4shared.com/document/3wuHYAuF/SAI_ZINE_10__imposition_.html?
SUB CHAOS ZINE #9 Readable Version :
http://www.4shared.com/document/GhyKwmt4/SUB_CHAOS_ZINE_9.html?
SUB CHAOS ZINE #9 Printed Version :
http://www.4shared.com/document/r31p2ctG/SUB_CHAOS_ZINE_9__impositioned.html?