Umat Islam Tidak Toleran?


Oleh : Adian Husaini

Pada 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.

Dr. Marwa hadir di sidang pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungi jempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.

Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalah umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. (17 Desember 2010***)

Belajar Fisika Secara Islami

Written by Usep Mohamad Ishaq

“Apakah Ilmu Fisika mungkin dipelajari tidak secara islami?” Dengan kata lain, “Apakah ada cara mempelajari Fisika yang Islami atau tidak Islami?”.

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, terutama karena ada kesalahfahaman yang menggelayuti banyak orang tentang konsep dan proses Islamisasi ilmu kontemporer. Masih ada saja yang membayangkan bahwa Islamisasi sains berarti membuat “pesawat terbang Islam”, atau “mesin islam”. Atau, masih ada juga yang mengira bahwa Islamisasi hanyalah semata-mata berarti “mencocok-cocokkan” atau menjustifikasi ayat al-Qur’an dengan temuan sains atau sebaliknya (lihat tulisan Budi Handrianto “Meluruskan Konsep Islamisasi Sains”).

Jika memang ada cara tertentu untuk mempelajari Fisika secara Islami, pertanyaan selanjutnya, “Apa perlunya mempelajari ilmu Fisika secara Islami? Hal ini dapat dijawab dari dua sisi. Pertama, bahwa dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.

Tak terkecuali saat seorang Muslim mempelajari Ilmu Fisika. Ia tak hanya bertujuan semata-mata untuk menghasilkan terobosan-terobosan sains atau temuan-temuan ilmiah baru; bukan pula menghasilkan tumpukan jurnal-jurnal ilmiah semata-mata atau gelimang harta kekayaan saja. Tapi, lebih dari itu, seorang Muslim melihat alam semesta sebagai ayat-ayat Alllah. “Ayat” adalah tanda.Tanda untuk menuntun kepada yang ditandai, yakni wujudnya al-Khaliq. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu ayat tanziliyah (wahyu yang verbal, seperti al-Quran) dan ayat-ayat kauniyah, yakni alam semesta. Bahkan, dalam tubuh manusia itu sendiri, terdapat ayat-ayat Allah.

Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi (QS 7:179).

Binatang ternak bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu mati. “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).

Kedua, tujuan pendidikan nasional adalah bahwa ia harus menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,..”. Pertanyaannya, “Apakah pendidikan dan pengajaran sains sudah ditujukan membentuk manusia beriman, bertakwa dan berakhlak mulia?”, “Apakah buku-buku pelajaran dan buku-buku teks Fisika sudah ditujukan untuk hal tersebut?”

*****
Mempelajari Ilmu Fisika secara Islami dimulai dari Islami atau tidaknya fikiran seorang fisikawan. Bagaimana cara pandang seorang fisikawan terhadap alam, bagaimana konsep ia tentang ilmu, dan bagaimana konsepnya tentang Tuhan. Cara pandang inilah yang menentukan apakah ia mempelajari sains secara islami atau tidak, dan cara pandang inilah yang dikenal sebagai pandangan-alam (worldview). Fikiran seorang fisikawan akan memahami benar bahwa ada keterkaitan yang erat antara ilmu (‘ilm), alam (‘alam), dan Pencipta (al-Khaliq).

Kata ‘ilm sendiri berasal dari kata dasar yang terdiri, ‘a-l-m, atau ‘alam. Makna yang dikandungnya adalah ‘alaamah, yang berarti “petunjuk arah”. Menurut al-Raghib al-Isfahani al-‘alam adalah “al-atsar alladzi yu’lam bihi syai’” (jejak yang dengannya diketahui sesuatu). Dalam karyanya Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Rosenthal memberikan pandangan tentang adanya keterkaitan erat secara bahasa antara ilmu pengetahuan dengan petunjuk jalan yaitu bahwa, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particularly close and takes on especial significance in the Arabian environment.

Mengenai keterkaitan antara adanya Pencipta dengan alam, sangat menarik jika kita simak pandangan Dr. Mohd. Zaidi Ismail, pakar Islamic Science, bahwa prototipe dari Natural Science khususnya dalam arti modernnya, dalam tradisi keilmuan dan sains Islam disebut sebagai ‘ilm al-tabii’ah (the science of nature). Kata al-tabii’ah tidak seperti kata bahasa Inggris “nature (alam)” yang menyiratkan keabadian dunia, diambil dari akar kata t-b-’a atau tab’a, yang berarti “dampak atas sesuatu (ta’thir fii…), “penutup (seal), atau “jejak (stamp)” (khatm), maka ia menyiratkan “sifat atau kecenderungan yang dengannya makhluk diciptakan” (al-sajiyyah allatii jubila ‘alayha). Semua arti tersebut “mengasumsikan” adanya Sang Pencipta.

Jadi alam tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab alam adalah “ayat” (tanda). Fisikawan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data ilmiah, tak ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang menunjukkannya pada sesuatu.

Hal ini sejalan dengan makna ilmu dalam Islam seperti ditunjukkan oleh Jurjani dalam at-Ta’rifaat bahwa ilmu adalah “hushuul shurat asy-Syai’ fi al-‘Aql” (sampainya makna sesuatu pada akal) namun juga “wushul an-nafs ilaa ma’na asy-syai’” (tibanya jiwa pada makna sesuatu). Sejalan dengan hal ini, pakar Filsafat Sains, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan:
“Pada hakikatnya sesuatu itu, seperti juga kata, adalah sebuah petunjuk (tanda) atau simbol, dan petunjuk atau simbol adalah sesuatu yang dzhair dan tak terpisahkan dari sesuatu yang lain yang tak dzahir. Sehingga tatkala yang pertama itu sudah dapat ditangkap, dan yang bersifat dengan sifat yang sama dengan yang pertama itu tadi dapat diketahui. Oleh sebab itu kami telah mendefisnisikan ilmu secara epistemologis sebagai sampainya arti sesuatu itu ke dalam jiwa, atau sampainya jiwa pada arti sesuatu itu. “Arti sesuatu itu” berarti artinya benar, dan apa yang kami anggap sebagai arti yang ”benar” itu, pada pandangan kami ditentukan oleh pandangan Islam (Islamic vision) tentang hakikat dan kebenaran sebagaimana yang diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.

Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya besarnya, Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual (lebih lanjut lihat tulisan Wendi Zarman “Fisika dan Metafisika Islam Perlu Disatukan Lagi”)

Konsep-konsep inilah yang akan membentuk cara pandang Fisikawan Muslim, dan dari pandangan-alam (worldview) inilah Fisika bisa dipelajari secara Islami. Aspek-aspek lain dalam dunia ilmiah seperti kejujuran ilmiah, “objektifitas”, sikap ilmiah seperti menerima kritik, mengakui kesalahan dan menerima kebenaran, lahir dari pandangan-alam ini. Sikap ilmiah dalam Islam bukan lahir semata-mata dari etika ilmiah itu sendiri, namun ia lahir dari suatu pandangan-alam (worldview) dan sebagai hasil dari pengenalannya terhadap Pencipta alam (ma’rifatullah). Worldview inilah yang telah membentuk pribadi para saintis Muslim terdahulu beserta karya-karya besar mereka yang gemilang (lihat “Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah”, John Adler).

*****
Konsep Adab terhadap alam juga kemudian lahir dari pandangan-alam Islam (Islamic worldview) ini. Dengannya, seorang saintis akan memperlakukan dan memanfaatkan alam dengan adab yang benar. Lalu lahirlah konsep sikap ramah lingkungan yang Islami, yang didasarkan bukan semata-mata karena alasan keterbatasan sumber daya alam, namun kesadaran bahwa alam ini bukanlah milik manusia, namun ia adalah amanah dan sekaligus juga ayat-ayat Allah. Hanya dengan pandangan-alam seperti inilah, akan lahir manusia beradab dan berakhlak, seperti yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan kita saat ini.
Prof. Naquib al-Attas mengingatkan, bahwa hilangnya adab terhadap alam – sebagai ayat-ayat Allah – inilah yang telah menyebabkan kerusakan besar di alam semesta. Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, alam mengalami kerusakan seperti saat ini, di mana ilmu pengetahuan sekuler merajai dunia ilmu pengetahuan. Akar kerusakan ini adalah ilmu pengetahuan (knowledge) yang disebarkan Barat, yang telah kehilangan tujuan yang benar.
Ilmu yang salah itulah yang menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; ilmu yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism). Bahkan ilmu pengetahuan sekuler ini untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.
Menurut al-Attas, dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), 2:231-240).

Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan sangat pesat, Ilmu Fisika terbukti telah membawa banyak manfaat bagi umat manusia. Wajib sebagian kaum Muslim menguasai ilmu ini. Tetapi, cara pandang dan cara belajar seorang Muslim akan berbeda dengan yang lain. Sebab, bagi Muslim, alam semesta adalah ayat-ayat Allah, yang dipelajari – bukan sekedar untuk mengungkap temuan-temuan baru – tetapi juga untuk mengenal Sang Pancipta. (***)

Mohammad Natsir


Pria yang lahir di Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat tanggal 17 Juli 1908 ini sosoknya lebih dikenal sebagai politisi dan aktivis dakwah. Namun sesungguhnya, pendidikan menjadi perhatian utama sepanjang hayatnya. Baginya pendidikan adalah fondasi utama untuk membangun peradaban dan kemajuan umat.

Pengalaman pendidikannya yang beragam mulai dari sekolah Belanda, pengajian di surau, sampai belajar agama secara khusus kepada A. Hassan, guru utama Persatuan Islam, di Bandung membawanya pada pemikiran-pemikiran penting dalam dunia pendidikan. Pergaulannya dengan para aktivis dan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia semakin menajamkan pandangannya terhadap kondisi riil yang dihadapi umat dan bangsanya.

Cita-cita pendidikan Natsir tersimpul pada satu prinsip dasar, yaitu bahwa pendidikan harus berdasarkan “tauhid”. Pendidikan yang berdasar tauhid ini bukan hanya pendidikan yang mengajarkan agama an sich, melainkan yang mampu memberi dasar pengetahuan Islam yang kuat kepada seluruh pelajar Muslim, apapun yang dipelajarinya; dan pada saat yang sama harus dikembangkan berbagai kepakaran di berbagai lapangan kehidupan. Itu artinya Islam dijadikan basis nilai fundamental dalam pengembangan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Apa yang dipikirkannya itu langsung ia praktikkan. Tahun 1927 ia mendirikan Pendidikan Islam (Pendis) yang membuka HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Bedanya dengan sekolah-sekolah yang sama saat itu adalah pada kurikulum. Natsir merancang pengajaran agama secara intensif di sekolahnya. Ia berharap lulusannya nanti tidak hanya menguasai ilmu-ilmu “umum”, namun lebih dari itu memiliki pengetahua agama ang memadai sebagai pegangan nilai dalam kehidupannya.

Pada saat yang sama Natsir pun men-support didirikannya Pesantren Persatuan Islam oleh A. Hassan, gurunya, pada tahun 1936. Pesantren ini memang menyiapkan calon-calon ahli agama, namun disamping itu diharapkan mereka pun menguasai isu-isu kontemporer yang berkembang. Oleh sebab itu, di pesantren A. Hassan, Natsir diberi tugas untuk mengajarkan pengetahuan-pengetahun umum kepada para santrinya seperti ilmu alam dan ilmu sosial. Tentu saja dalam kadarnya sebagai pengetahuan pelengkap bagi para calon ustadz dan kiai agar cakrawala pandangnya semakin luas.

Prinsip inilah yang terus menginspirasinya di dunia pendidikan. Saat aktif di politik bersama Masyumi, salah satu yang berhasil ia perjuangkan bersama kawan-kawannya adalah mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. Sejak ia menjadi perdana menteri tahun 1950, kebijakan itu diangkat menjadi Peraturan Pemerintah yang baru setahun kemudian(Kabinet Sukiman) disahkan. Tidak hanya itu, Natsir ikut juga memprakarsai berdirinya Universitas Islam Indonesia (sebelumnya Sekolah Tinggi Islam tahun 1945), universitas Islam pertama di Indonesia di Jakarta. Universitas ini menggambarkan bagaimana usaha integrasi ilmu seperti yang dipikirkannya.

Setelah tidak aktif lagi di politik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan semakin tampak. Melalui anjurannya dan bahkan tidak jarang ia ikut andil langsung, berdirilah universitas-universitas Islam di berbagai kota besar: Medan, Jakarta, Bandung, Makassar, dan sebagainya. Melalui Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikannya pada tahun 1967, ia pun menggagas pembaruan kurikulum pesantren. Salah satu tokoh pesantren yang digandengnya adalah K.H. Soleh Iskandar bari Bogor yang dipercaya memimpin lembaga kordinasi pesantren BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia).

Salah satu yang paling monumental adalah gagasannya tentang “dakwah kampus”. Natsir melihat bahwa mahasiswa yang belajar di PT-PT umum, terutama PTN favorit, masih belum terjamah “dakwah”. Melalui training-training bagi dosen-dosen agama dan mahasiswa, Natsir mempersiapkan kader-kader dakwah kampus. Tujuannya satu: agar mahasiswa yang belajar “ilmu-ilmu umum” memiliki pengetahuan agama memadai. Sebab, Natsir tahu bahwa gelombang sekularisme di PT umum yang ada saat itu begitu kuat sehingga agama dikesampingkan.

Atas prakarsa Natsir inilah lahir intelektual-intelektual Islam baru. Mereka berasal dari PT umum seperti UI, ITB, UGM, IPB, Unpad, Undip, Unair, dsb. Kepakaran mereka adalah bidang sains, namun pemahaman mereka terhadap agama cukup memadai sehingga mereka dapat tampil sebagai pemimpin-pemimpin Islam yang penuh komitmen terhadap keislamannya. Secara tidak langsung, melalui gerakannya ini, Natsir telah membuka jalan menuju Islamisasi ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer yang sekuler. (***)

(liat aja aslinya di www.insistnet.com)

Abdullah bin Nuh (1905-1987) Pelanjut Al-Ghazali di Indonesia

Abdullah bin Nuh. Namanya tidak bisa dipisahkan dari nama al-Ghazali. Ulama, cendekiawan, sastrawan, dan sejarawan ini bukan hanya dikenal sebagai penerjemah buku-buku al-Ghazali, tetapi juga mendirikan sebuah perguruan Islam bernama “Majlis al-Ghazali” yang berlokasi di Kota Bogor. Abdullah bin Nuh lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 30 Juni 1905 (26 Rabiul Tsani 1323H). Ia wafat di Bogor pada 26 Oktober 1987.

Abdullah bin Nuh memang terkenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang Al Ghazali. Pertama, ia mengajar rutin kitab Ihya’ Ulumiddin dalam pengajian mingguan yang dihadiri banyak ustadz-ustadz di Bogor, Sukabumi, Cianjur dan sekitarnya. Kedua, ia sejak kecil di rumah mendapat pelajaran dari ayahnya Muhammad Nuh bin Idris, kitab-kitab Imam al Ghazali, diantaranya Ihya’ Ulumiddin. Ketiga, ia menamakan pesantrennya dengan nama Pesantren al Ghazali.

Menurut putra bungsu Abdullah bin Nuh, Mustofa Abdullah bin Nuh, yang kini melanjutkan kepemimpinan di Perguruan Al Ghazali, pada awalnya tidak mudah untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran al-Ghazali di Bogor. Tidak sedikit orang-orang dekatnya yang menentang. Tapi, dengan ketekunannya, dia terus mengajar dan menulis tentang al-Ghazali, sehingga lama-kelamaan kesalahpahaman itu bisa dihilangkan.

Mustofa menceritakan, ayahnya memang mendapat pendidikan agama yang serius sejak kecil. Ketika umur belia, Abdullah telah menghafal kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik. Ia juga pintar bergaul, santun dan ramah. Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah I’anat ath Thalibin Muslimin, Cianjur. Madrasah ini didirikan oleh ayahnya. Keluarganya menanamkan percakapan bahasa Arab di rumah sejak kecil. Hingga ia mengusai bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Disamping itu, Abdullah bin Nuh juga menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis secara autodidak.

Kemampuannya dalam bahasa Arab memang mengagumkan. Abdullah bin Nuh mampu menggubah syair-syair dalam bahasa Arab. Ia juga menulis sejumlah buku dalam bahasa Arab. Mantan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni, yang pernah menjadi mahasiswanya di Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia, menceritakan bagaimana tingginya kemampuan bahasa Arab Abdullah bin Nuh. Di awal tahun 1960-an, Maftuh sempat membantu dosennya itu dalam menyiapkan naskah-naskah radio berbahasa Arab. Naskah yang disiapkan Maftuh selalu mendapat koreksi yang sangat teliti dari Abdullah bin Nuh. “Beliau sangat membimbing dan memberi semangat dalam mengkoreksi. Padahal, banyak sekali kesalahan yang saya buat,” kata Maftuh.

Selepas dari Madrasah Ianat ath Thalibin Muslimin, Abdullah melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Arabiyah di kota Semarang. Madrasah ini dipilih karena diasuh oleh seorang ulama yang berilmu luas asal Hadramaut, Sayyid Muhammad bin Hasim bin Thahir al Alawi al Hadad al Hadrami. Ketika usianya menginjak 17 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke Surabaya sekaligus merintis berdirinya lembaga pendidikan bernama Hadramaut School. Lembaga inilah yang memberi ruang kepada Abdullah untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya. Antara lain, mengajar, berdiskusi, ketrampilan berbahasa dan lainnya. Di Surabaya pula Abdullah menjadi seorang redaktur majalah mingguan berbahasa Arab, Hadramaut. (Lihat Herry Mohammad dkk., GIP:2006)

Kemahirannya dalam bahasa Arab mengantarkan Abdullah dikirim ke Universitas al Azhar, Kairo, Mesir. Di sana ia masuk ke Fakultas Syariah dan mendalami fiqih Mazhab Syafii. Setelah dua tahun belajar di Al Azhar, Abdullah berhasil mendapat gelar Syahadatul ‘Alimiyyah yang memberinya hak untuk mengajar ilmu-ilmu Keislaman. Ia lalu menetap di Ciwaringin Bogor dan mulai aktif berdakwah berbagai lembaga pendidikan di tanah air. Ia juga mendirikan Madrasah Pondok Sekolah Agama yang menjadi wadah bagi madrasah-madrasah yang ada di kota Bogor.

Pada masa mudanya, Abdullah juga gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air dari penjajah Belanda. Ia pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA), 1943-1945, wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Tahun 1945-1946 ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1948-1950, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta. Saat di Yogyakarta itu ia juga menjadi Kepala Seksi Siaran Bahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan Dosen Luar Biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).

Pada tahun 1950-1964 Abdullah memegang jabatan sebagai Kepala Siaran Bahasa Arab pada RRI Jakarta. Kemudian ia menjabat sebagai Lektor Kepala Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1969 ia mendirikan Majlis al Ghazali di Kota Paris Kota Bogor dan pada 29 Januari 1978 ia mendirikan Majlis al Ihya, di Ciomas, Bogor.

Lebih dari 20 buku telah dihasilkan oleh KH Abdullah bin Nuh dalam berbagai bahasa. Diantara karyanya yang terkenal adalah : (1) Kamus Indonesia-Inggris-Arab (bahasa Indonesia), (2) Cinta dan Bahagia (bahasa Indonesia), (3) Zakat dan Dunia Modern (bahasa Indonesia), (4) Ukhuwah Islamiyah (bahasa Indonesia), (5) Tafsir al Qur’an (bahasa Indonesia), (6) Studi Islam dan Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman Keemasan Banten (bahasa Indonesia), (7) Diwan ibn Nuh (syiir terdiri dari 118 kasidah, 2731 bait), (8) Ringkasan Minhajul Abidin (bahasa Sunda), (9) Al Alam al Islami (bahasa Arab), (10) Fi Zhilalil Ka’bah al Bait al Haram (bahasa Arab), (11) Ana Muslimun Sunniyun Syafi’iyyun (bahasa Arab), (12) Muallimul Arabiyyah (bahasa Arab), (13) Al Islam wa al Syubhat al Ashriyah (bahasa Arab), (14) Minhajul Abidin (terjemah ke bahasa Indonesia), (15) Al Munqidz min adl-Dlalal, (terjemah ke bahasa Indonesia), (16) Panutan Agung (terjemah ke bahasa Sunda).

Ada sejumlah sarjana yang menulis tentang Abdullah bin Nuh. Diantaranya adalah Prof. Dr. H. Ridho Masduki menulis Disertasi doktor tentang “Pemikiran Kalam dalam Diwan Ibn Nuh”. Drs. H. Iskandar Engku, menulis Tesis Master tentang “Ukhuwah Islamiyah menurut Konsep KH Abdullah bin Nuh.” E. Hidayat, menulis Skripsi untuk Sarjana S-1 tentang “KH Abdullah bin Nuh, Riwayat Hidup dan Perjuangannya.”. Dudi Supiandi, menulis Tesis Master tentang “Pemikiran KH Abdullah bin Nuh tentang Pendidikan Islam.”

Dr. Adian Husaini menuturkan pengalamannya berguru kepada Abdullah bin Nuh di Majlis al-Ghazali, Bogor. Ketika itu, Adian bersama sejumlah mahasiswa IPB secara rutin mengkaji kitab Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun. Menurut Adian, jika pembahasan memasuki masalah-masalah khilafiah, beliau mengatakan, “Ini pendapat Mamak, terserah Ananda untuk mengambil pendapat yang lain.” Mamak adalah sebutan akrab untuk Abdullah bin Nuh. Beliau juga tetap berusaha melaksanakan shalat berjamaah di mushalla al-Ghazali, meskipun sambil duduk. “Kadangkala rakaat pertama masih berdiri, tapi rakaat kedua sudah shalat sambil duduk,” kenang Adian. (***)

Penulis : Nuim Hidayat


Cerita Pendek Negara Israel

Pilu rasanya hati ini setiap kali menyaksikan kekejaman Israel terhadap bangsa tetangganya, Palestina. Setiap tahun, tidak …. Setiap bulan, Israel selalu memiliki alasannya sendiri untuk menyerang. Pemirsa televisi di seluruh dunia disuguhi kekerasan dan kekejaman yang tak berperikemanusiaan dan tak beralasan. Saya kuatir, kita didera compassion fatig, lunturnya rasa haru, akibat gambaran kekerasan yang terus menerus dan menjadi “hal lumrah”. Kita menjadi jenuh, bosan dengan laporan-laporan itu. Kemudian kita mengubah saluran televisi kita, atau mematikannya.

Bila itu yang terjadi, coba bayangkan: betapa sia-sianya para pelapor (jurnalis) itu terjun ke medan yang tak menyenangkan itu. Mereka telah bersusahpayah melakukan liputan –dengan taruhan nyawa- kemudian menayangkannya, agar kita mendapatkan informasi tentang sebuah Kekejaman Abad 21; dan kita mengabaikannya? Betapa nelangsanya para korban tertindas bila pemirsa televisi mulai berpaling dari laporan kekejaman Israel atas Palestina yang terjadi bertahun-tahun sejak 1948? Para jurnalis akan berhenti meliput (karena sia-sia), dan kedzoliman akan luput dari rekaman sejarah (karena jurnalisme adalah catatan sejarah yang paling jujur).

Tidak. Kita tak ingin itu terjadi. Kita harus terus menyaksikan laporan kekejaman Isarel itu. Kita tak boleh jenuh atau bosan. Justru kita harus terdorong untuk melakukan sesuatu. Apa yang dapat dilakukan oleh warga negara biasa seperti kita? Kita tentu saja bisa menyumbang untuk perjuangan rakyat Palestina, terutama agar mereka tercukupi kebutuhan dasarnya (pangan dan kesehatan). Ini dapat kita lakukan melalui berbagai saluran, di antaranya Bulan Sabit Merah dan lembaga-lembaga sejenis lainnya. Kita juga bisa menitipkan suara kita pada para wakil kita di DPR RI agar tak gampang-gampang menyetujui dibukanya hubungan dagang maupun diplomatik dengan Israel bila mereka tidak menerima masukan Indonesia tentang Konflik Israel-Palestina. Kita juga bisa melakukan demonstrasi dengan turun ke jalan, atau menuliskan pandangan kita melalui media massa. Paling sederhana adalah mendoakan. Semuanya memiliki kemungkinan untuk terjadinya sebuah perubahan.

Di Amerika sendiri perubahan tengah terjadi. Presiden AS sekarang, Obama, jelas berbeda dengan pendahulunya yang doyan perang dan terkesan anti-Islam. Di dunia internasional, semakin banyak negara menyadari kesewenang-wenangan Israel. Israel semakin terkucil. Secara diplomasi internasional jelas ada arah yang berbalik. Secara perang fisik, Israel boleh dikata tidak pernah menang. Para tokoh dari kalangan musuh, diantaranya pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrullah, tegas-tegas mengatakan bahwa militer Israel tak mampu berperang lebih dari 30 hari. Kegagah-perkasaan tentara Israel cuma mitos. Serangan di Lebanon tahun 2006 dan bombardier di Gaza tahun 2008, gagal total.

Mungkin ratusan bangunan hancur, dan ribuan nyawa gugur di Lebanon dan Gaza. Tetapi, apakah ini berarti kemenangan? Inilah pandangan seorang jurnalis dan intelektual Yahudi sendiri, Amira Hass: “Bagi kita, orang Israel, sejarah selalu dimulai ketika orang Palestina melukai kita (tidak sebaliknya). Kita berpikir bahwa bila kita menimbulkan luka yang lebih besar lagi di tubuh Palestina, mereka akhirnya akan mengambil pelajaran (untuk tidak macam-macam) . Sebagian orang menyebut hal ini sebagai ‘keberhasilan’.” Tentu saja, inilah keberhasilan semu itu, keberhasilan yang tak kunjung mewujud.

Lebih ekstrim lagi, lebih banyak intelektual dan kritikus Israel menganggap Israel tak memiliki masa depan. Mula-mula tentu saja, ini dibuktikan dengan semakin surutnya minat orang Yahudi untuk hijrah ke Israel. Kemudian tingginya angka homoseksualitas di Israel yang berakibat rendahnya angka pertumbuhan penduduk. Betapapun Israel merayu dan mengiming-imingi para pendatang, gayung tak bersambut seperti di awal-awal berdirinya negara Israel. Yang paling penting, berubahnya paradigma generasi muda Israel. Bila tadinya mereka rela menjadi serdadu penghancur tetangga dengan semangat patriotik, saat ini mereka merosot menjadi tentara pragmatis yang bekerja demi imbalan yang besar (dibayar mahal). Kelak, akan semakin terbukalah wawasan anak muda Israel tentang semangat pluralisme sebagai ganti sektarianisme, diplomasi sebagai ganti perang, dan kerjasama sebagai ganti penindasan. Indikai merosotnya moral tentara ini telah terjadi saat ini dengan banyaknya tentara desertir. Para penerbang dan pengebom, jumlahnya tak kurang dari 300 orang sejak Perang Lebanon 2006, rela masuk penjara karena menolak melakukan serangan lagi terhadap wilayah dan rakyat Palestina.

Lalu, bagaimana masa depan Israel? Daniel Gordis, penulis Yahudi Amerika, menulis satir jenaka tentang seorang penulis yang memeriksakan kesehatannya pada seorang dokter. Ketika dokter bertanya apa profesinya, sang penulis menjawab, “Penulis”. Dokter bertanya, apa yang ditulisnya. Sang penulis menjawab, “Masa depan Israel”. Sang dokter berkata, “Wah, kalau begitu Anda menulis cerita pendek ya?”

Sungguh telak. Sebuah negara tanpa masa depan. Kalau penulis/pasien tadi berumur pendek, dokter akan menasehatkan “Jangan menulis cerita bersambung”. Namun pasien diperkirakan berumur panjang, obyek penulisanlah yang berumur pendek. Sependek cerpen.

Mari kita lakukan sesuatu semampu kita untuk membantu rakyat Palestina. Setidaknya kita bisa mendoakan agar Allah melindungi kaum yang teraniaya dan melaknat kaum yang menindas sesamanya.

Sirikit Syah, Pengamat Media

April 2010

Michael Moore Membela Islam

Saya mengenal nama Michael Moore ketika pertamakali menonton film garapannya Fahrenheit 9/11, yang membongkar konspirasi klan Bush dengan klan Bin Laden. Ya benar, keluarga besar George Bush ternyata punya hubungan dagang/minyak dengan keluarga kerajaan Saudi, di antaranya klan Bin Laden). Film dokumenter yang mengungkap agenda sesungguhnya di balik peristiwa 9/11 2001 ini menjadi salah satu film terlaris di Amerika dan Eropah pada tahun 2004. Meskipun pemerintah AS gencar mempropagandakan bahwa Irak dan Afghanistan patut diserang karena merupakan pusat terorisme, rakyat Amerika, sebaliknya, mengagumi karya Michael Moore yang menyuarakan penentangan kepada rezim perang Bush. Salah satu fakta menarik yang terungkap dalam film ini adalah: pada hari kedua dan seterusnya pasca peristiwa 9/11 2001, semua bandara AS ditutup, tak ada pesawat boleh masuk atau keluar. Namun ada pesawat yang menerbangkan seluruh keluarga Bin Laden keluar dari AS.

Moore dianggap sebagai musuh Presiden George W. Bush nomor 1, karena seringnya dia membuat pernyataan, tulisan, atau film yang menentang kebijakan rezim Bush. Filmnya yang lain berjudul Bowling over Columbine, mengupas kebebasan memiliki senjata di AS, dengan nada kritik terhadap Asosiasi Senjata AS yang terus menentang lahirnya UU yang mengatur kepemilikan senjata. Film itu memotret fakta anak-anak sekolah membawa senjata lalu menembaki guru dan teman-temannya hingga tewas. Film Moore lainnya, Sycho, membongkar kelemahan kebijakan dan praktik kesehatan di AS. Moore bahkan membandingkannya dengan di negara Kuba, yang dipotretnya sebagai jauh lebih baik, lebih manusiawi dan lebih pro-rakyat dibanding kebijakan kesehatan di AS.

Baru-baru ini, Micahel Moore menulis di blognya, bahwa yang paling bersalah dalam tragedi kemanusiaan di Afghanistan dan Irak adalah kaum liberal dan koran The New York Times. Menurut Moore, Bush dan kawan-kawannya: Cheney, Rumsfeld, Wolfowitz, memang ‘bisa diduga’ akan berbuat apapun demi ideologi mereka. Namun The New York Times, menurut Moore, tidak diduga akan menjadi loud speaker. Pers seharusnya netral. Tidak demikian dengan TNYT dalam kasus perang melawan terorisme. TNYT memberi ruang seluas-luasnya pada para penggagas perang, termasuk dengan memberi dukungan alasan penyerangan. Para penggila perang itu bisa menggunakan sikap TNYT itu terhadap para penentangnya: “Lihat, bahkan koran TNYT saja mendukung perang.”

Michael Moore adalah warga Negara AS, agamanya kurang jelas, tetapi dia sangat peduli pada nasib bangsa-bangsa yang dihancurkan oleh AS dalam perang melawan terorisme, dalam hal ini Afghanistan dan Irak. Selain berempati pada bangsa-bangsa yang dihancurkan, Moore juga berempati pada keluarga veteran AS. Para prajurit muda usia yang pulang dengan hilang sebelah kaki atau tangannya, atau mengalami trauma dan gangguan psikologis lainnya. Anak-anak yang kehilangan orangtua, orangtua yang kehilangan anaknya, istri yang kehilangan suami, dan sebagainya. Semua untuk perang yang tidak memiliki alasan.

Saat ini Michael Moore sedang mengajak para pengikut dan pengagumnya untuk beramai-ramai menyumbang uang agar masjid di Ground Zero (bekas tempat WTC) tetap jadi dibangun. Setiap pengunjung bloknya dimintanya menyumbang satu atau sepuluh dolar, atau berapapun terserah, dikirim ke webguy@michaelmoore.com. Dia sendiri memulai dengan menyumbang US$10. Dia bertekad mendukung pembangunan masjid itu. Seperti diketahui, pembangunan masjid di dua blok dekat Ground Zero ini menimbulkan kontroversi. Di antaranya ada pendeta membakar Quran. Donald Trump, salah satu pengusaha real estate dan orang terkaya di AS, berniat membeli area bakal masjid itu dengan harga mahal agar masjid batal dibangun. Michael Moore memperkirakan penggalangan dananya melalui blognya akan akan mencapai US$6 juta, lebih dari yang ditawarkan Donald Trump. Umat islam bisa dengan tenang melanjutkan cita-citanya membangun masjid di Ground Zero.

Ingin tahu alas an Micahel Moore menyetujui dibangunnya amsjid di Ground Zero? Inilah beberapa di antaranya:

- Imam masjid adalah orang yang paling menyenangkan yang pernah ditemuinya.

- Ada sekitar 60 muslim menjadi korban WTC, dan ratusan anggota keluarganya masih menderita kehilangan. 19 pelaku 9/11 tidak peduli pada agama korbannya.

- Ada restoran McDonalds dua blok dari Ground Zero dan kata Micahel Moore: “Percayalah, McDonalds menewaskan lebih banyak orang daripada teroris.”

- Di setiap agama ada penganut agama yang “ngawur”. Misalnya Timothy McVeigh yang beragama Katolik, yang mengebom gedung federal di Oklahoma. Toh tak ada larangan membangun gereja katolik di dekat gedung yang dibom itu.

Sebetulnya ada 10 alasan Michael Moore mengapa dia setuju dibangunnya masjid dua blok dari Ground Zero. Dia bahkan tidak setuju dua blok, dia setuju tepat di Ground Zero. Namun alas an kesepuluh, yang paling saya sukai adalah ini (terjemahannya):

Seandainya saya mengalami nasib, tewas pada suatu insiden terorisme, janganlah Anda atau siapapun juga menggunakan kematianku sebagai justifikasi untuk menyerang atau mendiskriminasi siapapun atas nama saya. Kalau Anda lakukan, saya akan kembali dari alam baka, menghantui Anda, lebih mengerikan daripada Linda Blair (bintang film The Exorcist) dijadikan satu dengan Freddy Krueger (karakter film horror popular di AS).

Michael Moore setuju pembangunan masjid di jantung kota Manhattan, New York, itu karena dia percaya pada falsafah negaranya yang akan memberi perlindungan pada para korban kebencian dan prasangka. Amerika juga memberi kebebasan warganya untuk beragama apa saja dan beribadah dimana saja. “Jika ada segerombolan pembunuh mencuri agama Anda dan menggunakannya sebagai excuse (alasan) untuk membunuh 3000 jiwa, maka saya ingin membantu Anda mendapatkan kembali agama Anda, dan menempatkannya tepat di titik dimana agama Anda itu telah dicuri dari Anda.” Michael Moore menyampaikan pada kita bahwa agama Islam telah dicuri oleh segelintir manusia –di antaranya beragama Islam juga- yang memberi alas an pada rezim George W. Bush untuk berperang dan membunuh, dia ingin mengembalikan agama Islam kepada kita. Dia juga akan menempatkannya tepat di tempat Islam telah dikelirukan sedemikian rupa: di Ground Zero –eks-WTC.

September 2010

Sirikit Syah

Liputan Urban Garage Festival





Jangan ngaku metal kalau nggak shalat. Ketika Islam berfungsi sebagai kendali, banyak anak metal di komunitas underground menjemput hidayah. Mereka tidak menolak modernisasi, tapi menjegal westernisasi. Ada komitmen yang dibangun: No Drugs, No Alcohol, No Violence dan No Free sex. Just Metal.Menjelang malam, anak-anak metal itu sudah berkumpul di pelataran Gedung Rossi Musik di Jalan Fatmawati No. 30, Jakarta Selatan untuk menyaksikan pagelaran musik sekaligus penggalangan dana untuk Palestina. Konser musik yang bertajuk ”Urban Garage Festival” itu diorganize oleh Berandalan Puritan dan Mogers Infantry.Saat menanti band kesayangan mereka, azan Maghrib berkumandang. Siapa nyana, sebagian dari mereka berbondong-bondong menuju masjid, lalu segera membasuh wajah-wajah kumel itu dengan air wudhu. Sabili turut menyaksikan, anak-anak metal tengah merapikan shaftnya untuk shalat berjamaah. ”Sebagian dari mereka, anak-anak Mogers, sebuah komunitas fans band metal legendaris Purgatory,” kata salah seorang komunitas underground.Performance mereka memang eksentrik dan tampak cuek. Sekilas, seperti individu yang tak mau tahu dengan urusan agama. Tapi, lihatlah paradigma baru anak Metal hari ini. Mereka mulai bangga menunjukkan jatidirinya sebagai Muslim sejati. Jangan ngaku anak metal, kalau nggak shalat. Jangan sok metal kalau masih suka mabok (ngedrugs) dan free sex. ”Menyedihkan banget, jika anak metal malu menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Karena gengsi, mau shalat saja, bilangnya mau ke depan untuk beli rokok,” tukas Bonty, salah seorang personil Purgatory.Tak dipungkiri band metal lahir dari peradaban Barat yang bobrok. Peradaban itu memengaruhi jiwa anak-anak muda yang gelap. Mereka larut menjadi individu yang bingung menatap masa depan, tertipu oleh propaganda sesat kaum laknat, hingga menjadi pemuja setan, syahwat, anti kemapanan, bahkan mengabaikan Tuhan. Ketika hidayah Islam datang, pondasi itu terguncang.




Anak-anak Metal yang terlahir sebagai Muslim, mulai menyadari, bahwa mereka secara kultur dan karakter sudah dijadikan ’hamba-hamba sahaya’ yang terjajah. Eksistensi tumbuh, ketika Islam menjadi ideologi, kesadaran baru dan amaliyah mereka.Adalah Tengkorak dan Purgatory, dua kelompok band metal paling senior dan legendaris di kalangan underground, tampil sebagai pendobrak yang mengguncang ideologi band cadas keluar dari pakemnya, yakni dengan menjadikan Islam sebagai nafas hidup mereka. Eksistensi ”sang legend” sebagai agen perubahan menginspirasi generasi metal selanjutnya. Sebut saja seperti The Roots of Madinah, Punk Muslim, AfterMath, Keep it True, Stranded, Qishash, Salameh Hamzah, dan Barat Hijau Indonesia.Kesatuan visi inilah yang mempersaudarakan mereka sebagai komunitas yang unik dan berbeda.


Dari sinilah tercetus “Urban Garage Festival”, semacam forum mereka untuk berkumpul dan berkreasi, bahkan berdakwah dengan pendekatan yang mereka pahami. Dalam kapasitas itu, mereka tak sekadar tampil sebagai musisi beraliran cadas, melainkan juga sebagai dai.Kontra KulturTeman-teman aktivis harokah mungkin merasa aneh dengan fenomena baru ini. Namun, bagi yang belum mengenal komunitas ini dari dekat, jangan su’udzan dulu, apalagi melempar tuduhan anak metal melecehkan Islam. Sedikit yang tahu, bahwa anak metal pun berdakwah. Komunitas metal ini memang berbeda dengan komunitas metal yang lain. Mereka berniat untuk membentuk genre baru ke arah yang lebih Islami. Pertanyaan pun muncul, ini kebangkitan atau degradasi? Kok Muslim ”bermetal-metal ria”?Wawan, vokalis Aftermath, pernah berkonsultasi dengan rekan seniornya seputar stigma buruk yang dilekatkan pada musisi metal muslim. ”Setelah berkonsultasi, saya mendapat jawaban, bahwa segala sesuatu bergantung niatnya. Saya melihat fenomena ini sangat positif.




Apakah salah kalau kami mendekati ajaran-ajaran yang mendekati sang Khalik ke arah yang lebih Islami melalui musik? Saya sendiri lahir dari keluarga Muslim,” ungkap Wawan yang juga seorang enginer.Berangkat sebagai musisi, Wawan mengakui, sebatas inilah kontribusi yang bisa ia berikan untuk sementara waktu. ”Jika hari ini kami memperjuangkan Islam dengan mick dan gitar, kelak kami akan berjihad di jalan Allah dengan pedang dan senjata. Inilah cara kami memberi makan kepada jiwa ini melalui musik. Sebagai Muslim, tentu kami memimpikan tatanan dunia baru, di bawah kepemimpinan Islam dan khilafah,” ujar Wawan bersemangat.Menurut penggagas Urban Garage Festival, Thufail al Ghifari, yang juga vokalis The Roots of Madinah, kegiatan bermusik ini ingin membangun sebuah kontra-kultur untuk membuktikan, bahwa di komunitas ini ruangnya positif, band-bandnya pun bicara atas dasar Islam. ”Kita berangkat dari seorang Muslim yang punya visi untuk membangun komunitas musisi metal yang jauh dari drugs, alcohol, dan free sex. Inilah niat dan tujuan kami. Kita ingin mengembalikan identitas Indonesia atau ketimuran. Jangan berlagak Amrik. Kita Metal, tapi ada filter, tidak sampai tercerabut ketimuran kita sebagai jatidiri.”Senada dengan vokalis Tengkorak, Ombat. ”Penjajahan budaya oleh Barat memang lewat musik metal kayak gini, musik underground yang notebene keras dan brutal. Terus terang, saat ngeband, kita banyak lupanya, ya lupa shalat, lupa diri dan segala macam. Tapi, saat kita sadar, tatkala generasi ini menjadi santapan empuk zionis, maka inilah moment untuk mengubah paradigma lama menuju paradigma baru. Ngeband, tapi tetap menjalankan shalat lima waktu, dan rukun Islam lainnya.”Sejak metal lahir, kata Ombat, propaganda satanisme menjadi momok dan berkembang pesat di seluruh dunia. Ibarat di Medan Perang, jika musuh memerangi dengan senjata, maka harus dilawan dengan senjata. Begitu juga, jika musuh memerangi generasi muda dengan metal, maka kita lawan dengan metal pula. ”Melalui metal, kita bisa lakukan kickback,” kata Ombat.Bonty, personil Purgatory, berpendapat, dulu walisongo pun menyampaikan pesan dakwah dan syiar Islam dengan menggunakan wayang, sekarang eranya Metal sebagai media. ”Yang jelas, gue prihatin, jika generasi Islam di Timur Tengah malah bermetal ria dengan westernisasi-nya, sedangkan Purgatory justru ingin memanfaatkan Metal.”Sebagai musisi Muslim, konsep yang diusung Purgatory dalam bermusik cuma satu, yakni Islam. Prisipnya, Islam bukan dibawa ke dalam metal, tapi Islam itu dasar dari semua hal. ”Apapun yang kita lakukan harus berdasarkan Islam. Artinya, ketika bermusik, tidak pake yang haram-haram.




Pendekatan dakwah kami, nggak pake setting ala kelompok tarbiyah. Kuncinya adalah silaturahim. Biasanya, suatu komunitas tidak akan kuat, kalau silaturahimnya lemah,” tandas Bonty.Gitaris Purgatory ini juga mempertanyakan, jika pakem underground itu anti sistem, tapi kenapa mereka membuat sistem sendiri, seolah kalau metal harus mabok. Bagi anak band, awalnya, agama memang dianggap sebagai sesuatu hal yang privacy (pribadi). Komunitas Purgatory yang dinamakan Mogers sendiri, bukan orang-orang hebat dalam beragama. ”Kami lebih tepat disebut orang yang hijrah. Di komunitas ini, kami ingin mengajak agar generasi muda kembali pada Islam, dan mau mempelajari agamanya sendiri. Apa yang kita sampaikan ke public tentang Islam adalah apa yang kita tahu saja dan sudah dibuktikan. Yang jelas, kita tidak mau melakukan hal yang sia-sia. Kita hanya ingin belajar.”Pernah ada yang meledek Purgatory dengan pendekatan dakwahnya yang unik. ”Ngapain loh ngajak anak-anak yang sudah berantakan. Padahal untuk menolong orang yang tenggelam itu harus nyemplung. Apalagi pengetahuan agama mereka diakui sangat kurang,” kata Bonty berfalsafah.Pendekatan yang sama dilakukan Ahmad Zaki yang selama ini membina komunitas Punk Muslim. ”Ketika fase jemu, bingung itu menyatu, saya mencoba memberikan banyak alternatif dan energi positif.




Ternyata mereka welcome dan punya keinginan untuk bertobat dan merubah diri. Sebagian ada yang berubah drastis 80 derajat, ada juga yang baru 45-60 derajat.”Diakui Zaki, belakangan komunitas Punk Muslim banyak mengislamkan teman-teman punk di jalanan. ”Sejak menjadi Muslim, beberapa diantara mereka, ada yang meninggalkan kebiasaan Mohawk (gaya rambut berdiri) dan piercing (tindik di sejumlah anggota tubuh).




Bahkan, diantara mereka, ada yang nekad menghilangkan tato dengan menggunakan soda api atau PK, kendati resikonya bisa merusak kulit mereka,” ungkap Zaki.Metal pun BerdakwahIngin tahu, pendekatan dan model dakwah yang dilakukan komunitas metal yang satu ini? Hasil pengamatan Sabili di sarang underground, komunitas ini memang berbeda. Dalam hal performance, kaos-kaos distro yang mereka yang kenakan, terutama beberapa vokalis-nya, justru menunjukkan militansi dengan identitas keislamannya. Misalnya saja, kata Allahu Akbar (dalam bahasa Arab) pada kaos mereka. Pekikan Allahu Akbar mewarnai ”Urban Garage Festival” malam itu.Lirik-lirik yang mereka muntahkan lewat musik cadas ini sebagian besar mengecam sikap barbar Barat dan zionis Israel terhadap umat Islam di Palestina dan dunia Islam. Satu hal, mereka sangat membenci kemunafikan. Beberapa lirik mereka, ada yang terkesan ”utopia”, sebuah kerinduan tentang khilafah.Juga lihatlah teaterikal yang diperlihatkan personil Purgatory dengan topeng ”monsternya” di atas panggung. Band metal mana yang melafadzkan kalimah syahadat, selain yang satu ini. Asyhadualla, ilaaha illallah. Waasyhadu anna Muhammadarrasulullah. Nyeleneh? Tidak. Mereka tidak sedang melecehkan Islam. Inilah cara dakwah dan syiar Islam yang mereka pahami. Bukan hanya syahadat, mereka mengajak fans yang hadir untuk bersholawat.Yang menarik, Ombat, sang vokalis band Tengkorak, tak sungkan mengajak istrinya yang berjilbab bergabung di komunitas ini. Saat berinteraksi, Ombat, bukan sekadar growling (suara mengeram khas Metal), tapi layaknya dai yang berdakwah. Ia mengajak anak-anak muda untuk bangga sebagai muslim dan tidak meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan ia mengajak komunitasnya untuk mengubah posisi tangan metal dengan telunjuk ke arah langit, sebagai simbol ketauhidan.Awalnya mungkin ikut-ikutan, tapi kelak kesadaran baru itu tumbuh. Ombat yakin, komunitas metal muslim ini akan menjadi sebuah jamaah yang besar. ”Ini semua karena hidayah dari Allah. Sesama Muslim, sejatinya saling menasehati. Tak soal, jika bermula dari skala kecil lebih dulu. Jika berangkat dari yang besar, biasanya cepat tenggelam. Tapi kalau dipupuk, dari kecil hingga besar susah punahnya. Inilah tonggak awal, sejarah baru dari sebuah komunitas yang menjadikan Islam sebagai ideologi. Harus diakui, dulu kita pernah jadi korbannya, maka hari ini kita tunjukkan, kita metal, tapi tetap punya otak, punya akidah,” ujar lelaki botak yang berprofesi sebagai pengacara dari LBH Muslim ini.Bagaimanapun, harokah Islam harus menghargai ”ijthad” anak-anak metal yang ingin menjadikan Islam sebagai pondasi mereka dalam bermusik. Apalagi, ketika sebagian uang dari setiap lembar tiket yang terjual dalam konser musik itu disumbangkan untuk perjuangan rakyat Palestina.




Subhanallah. Siapa nyana, dibalik ruang yang pengap, masih ada yang menyerukan kebajikan, kendati dengan cara mereka sendiri. Tak terbayangkan, di sebuah komunitas underground, ada pelita yang menerangi jiwa-jiwa yang gelap. Ketika Islam menjadi nafas hidupnya, militansi mereka tak kalah dahsyat dengan aktivis harokah yang ada. Insya Allah. (dipaok, dicolong dari tulisan Adhes Satria. Sabili)

Interview dengan Adian Husaini

Saya mulai tahu tulisan-tulisan beliau ketika sering dimuat di majalah Suara Hidayatullah. Dari awal saya sudah mengira bahwa beliau punya spesialisasi dakwah di bidang pemikiran. Diluar itu, ternyata beliau juga menulis buku dengan cukup produktif. Beberapa judul yang menurut saya buku tersebut luar biasa adalah “Penyesatan Opini”, “Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam”, dan “Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran”. Beliau juga menulis catatan akhir pekan yang selalu update di dalam situsnya. Menarik, karena pengalaman dan wawasan beliau sangat luas.

 Nah, suatu hari saya menghampiri beliau selesai suatu kajian tentang peradaban Barat. Saya mencoba untuk berkenalan dan meminta kontaknya. Sambil sekalian waktu itu saya keluarkan beberapa eksemplar Sa’i zine untuk saya berikan kepada beliau. Syukur-syukur kalo dibaca. Kalo enggak, pasti karena nggak sempet, bukan nggak mau J.Beberapa hari kemudian saya kirim pertanyaan-pertanyaan ini via email, lalu saya sms beliau agar beliau menyempatkan diri untuk menjawabnya. Diluar dugaan, beberapa jam kemudian email masuk sudah berisi jawaban. Itu yang saya ingin bagikan sekarang.

 

Assalamualaikum wrwb. Saya dari SA’I ‘zine, ingin ngobrol-ngobrol sama antum, ust. Terutama tentang permasalahan media dan umat Islam. Menurut antum, seberapa penting peran media dalam dakwah? Selama ini sampai dimana posisi kita dalam memanfaatkan media sebagai sarana untuk berdakwah?

Jawab: Kita telah banyak memanfaatkannya. Tapi, masih belum benar-benar optimal. Untuk itu, perlu orang-orang yang profesional dalam media, sekaligus menguasai pemikiran Islam dengan baik, dan berjiwa dakwah yang tinggi. Di sini masih ada kesenjangan. pelaku dan praktisi media bnanyak yang tidak memahami pemikiran Islam dengan baik, begitu juga sebaliknya, banyak mubaligh, ulama, atau ustad yang tidak memahami ilmu media dan tidak punya ketrampilan memainkan media dengan baik. ini yang perlu diwujudkan.

 

Selama ini saya merasa kajian-kajian media (terutama disiplin-disiplin ilmu di perguruan tinggi) banyak berbasis ilmu sosial yang sekuler. Apakah karena sebab itu akhirnya hubungan media dengan Islam tidak begitu dekat, atau dengan kata lain, umat Islam tidak terlalu berpikir untuk melek media?

Jawab: Tentu saja pada semua bidang ilmu sekarang Barat yang sekuler dominan. karena itulah diperlukan ilomuwan dan praktisi media yang memahami Islam dengan baik, sehingga dia bisa mengislamkan ilmu media massa.

 

Yahudi sendiri dalam protokol of zion-nya pernah mengatakan bahwa target utama mereka adalah menguasai media massa di dunia. Hasilnya, seperti yang kita tahu, begitu banyak media massa international telah berhasil di kuasai Yahudi. Masihkah ada harapan bagi kita untuk mengungguli mereka? Usaha apa yang bisa kita lakukan untuk itu?

Jawab: Yahudi berkuasa di sektor ini karena kerja keras. Umat Islam juga bisa, kalau mau kerja keras. Media massa sekarang bisa eksis bukan hanya terkait dengan ilmu media saja, tetapi juga terkait dengan mentalitas masyarakat dan perekonomian nasional/global. sektor media perlu penanganan yang simultan. karena media bisa hidup kalau didukung oleh umat Islam. untuk itu perlu ada kaitan erat antara berbagai sektor. sekarang, di era informasi yang sangat terbuka, media internet/HP sangat terbuka untuk digunakan sebagai media dakwah yang sangat canggih. Yang masih berat bagi kita adalah TV. tapi, ini juga akan sangat mungkin kita masuki jika ada dukungan yang kuat dari kaum Muslim dari berbagai sektor. Insyaallah tidak lama lagi, kita akan bisa masuk ke sini.

 

Bagaimana dengan media internet, ust? Seberapa efektif penggunaan internet (blog, fesbuk, e-mail) sebagai media dakwah?

Jawab: Tentu saja, sangat potensial untuk digunakan sebagai media dakwah. sekali lagi, hyang diperlukan saat ini, utamanya adalah SDM yang menguasai teknologi informasi dan sekaligus pemikiran Islam, punya ketremapilan media yang tinggi, sehingga dia dapat mengolah informasi dengan baik.

 

Menurut antum, mungkinkah media internet suatu saat nanti menggantikan peran media cetak?

Jawab: Media internet jelas berdqampak besar terhadap media cetak. Ini sudah terjadi. tetapi tidak akan mengganti8kan sepenuhnya, karena masing-masing punya keunggulan. media cetak lebih mudah dan nyaman untuk dibaca. di Barat pun, media cetak tetap terbit, sekalipun didukung oleh internet.

 

Saya pernah membayangkan kelak umat Islam punya stasiun televisi sendiri J. Lalu saya berpikir tentang biayanya sangat besar dan juga sumber biaya tersebut melalui iklan-iklan. Sedangkan kita tahu sendiri iklan-iklan di tv kita sehari-hari punya banyak dampak negatif. Lalu bagaimana cara tv itu bertahan tanpa iklan? Mungkinkah yang beriklan hanya perusahaan yang bernuansa Islami saja? (pertanyaan awam ya? J)

Jawab: Ini tantangan besar. Ini ada kaitannya dengan gerakan pe,mberdayaan potensi ekonomi umat islam sebagai konsumen. banyak produsen yang sekarang non-muslim atau yang sekuler. kalau konsumen kita berdayakan secara Islami, maka mereka yang akan menentukan sikap terhadap suatu produk. jadi, TV Islam akan hidup bersamaan dengan program pemberdayaan konsumen Muslim. Kalau konsumen MUslim tidak mau membeli produk-produk yang pemiliknya tidak bersahabat dengan Islam -- termasuk dengan media Islam -- maka produsen itu akan terpaksa menghidupi juga TV Islam.

 

Saya pernah mendengar bahwa Ulil Abshar sedang membentuk semacam organisasi pers/wartawan liberal, ya? Bagaimana itu, ust? Saya sendiri kurang tahu berita itu? Bisa jelaskan? Lalu bagaimana antum dkk menyikapi ini?

Jawab: Maaf saya juga kurang mendalam dalam memahami ini. hanya baca sekilas.

 

Bagaimana kondisi media massa negeri ini sekarang dibandingkan dengan kondisi 20 tahun yang lalu? (tentang pandangan-pandangan mereka thd Islam, keliberalan mereka, dll)

Jawab: Banyak media yang masih tergantung pada iklan yang dikeluarkan oleh Biro Iklan atau produisen yang non-Muslim atau sekular. Sekarang media sangat tergantung kepada selera pasar yang memuja syahwat. jadi, banyak yang ikut arus. tapi ini juga ada kaitan dengan para praktisi media yang berpikiran sekular/liberal. secara prinsip, tidak banyak berubah. hanya sekjarang jah lebih bebas dan terbuka, karena media hanya bergantunjg kepada pemilik modal.

 

Bisa menyebutkan 5 judul buku terfavorit antum selama ini dan siapa penulisnya?

1. Islam and Secularism (Prof. Naquib al-Attas)

2. Islam at the Crossroads (Muhammad Asad)

3. Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa Hakadza 'Adat al-Quds (Dr. Majid Irsan al-Kilani).

4. Dll, agak susah disebut...

 

The last,...jazakumullah khair, ust. Kapan-kapan disambung lagi.

UNDERSTANDING MEDIA

words: aditya abdurrahman

 Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara terminologi, simpelnya, media adalah perantara untuk berkomunikasi. Sedangkan media massa, lebih sering diartikan sebagai media perantara untuk melakukan komunikasi terhadap suatu massa atau masyarakat yang sangat luas. 

 Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai macam media yang itu semua biasa di kelompokkan dalam 2 kategori saja yaitu; traditional media (media tradisional) dan new media (media baru). Sekedar tahu saja, yang tergolong dalam jenis media tradisional adalah surat kabar, majalah, televisi, dan radio. Sedangkan yang termasuk dalam jenis new media adalah internet. Namun ada yang berpendapat bahwa telepon seluler juga masih tergolong dalam kelompok new media.

 Harold Lasswell, pernah menerangkan tentang model komunikasi yang umum dijadikan pedoman bagi siapa saja yang mempelajari ilmu komunikasi yaitu; Siapa (who), Pesannya apa (says what), Saluran yang digunakan (in what channel), Kepada siapa (to whom), dan Apa dampaknya/pengaruhnya (with what effect).

 

ASPEK KEKUASAAN MEDIA

 Ketika kita berbicara tentang media. Maka tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan tentang pengaruh yang dihasilkan oleh media tersebut. Bagaimana media-media massa mempengaruhi kita?

 Secara sadar maupun tidak, seluruh gaya hidup masyarakat telah menjadi bukti atas masuknya pengaruh media pada kehidupan sehari-hari. Karena media memiliki aspek kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa dalam masyarakat. Diantaranya adalah:

 

Menarik dan Mengalihkan Perhatian Publik

 Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi heroik aparat kepolision negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.

 Satu lagi, masih ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih teroris dengan Amrozi dkk yang masih banyak kontroversi soal benar-salahnya? Tidak!!! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.

 

Memberikan Persuasi dan Merubah Opini Publik

 Media mampu memberikan persuasi dan merubah opini serta kepercayaan masyarakat tentang suatu hal. Masyarakat dibuat seolah tercuci otaknya, dan mau mempercayai apa saja yang dikatakan media tersebut. Ketika media mengatakan ‘tidak’, maka publik akan ikut berkata ‘tidak’. Ketika media mengatakan ‘ya’, maka publik pun akan terpengaruh untuk berkata ‘ya’ pula. Di kondisi seperti ini publik adalah audiens pasif yang cenderung lebih robot bodoh yang menyetujui seluruh apa yang diucapkan media. Setiap pesan yang disampaikan oleh media ibaratnya seperti peluru yang ditembakkan menembus otak kita secara langsung.

 Masih ingat pula berita tentang eksekusi Amrozi dkk di penghujung tahun 2008? Saat itu mendadak seluruh media ikut memberitakan tentang isu-isu terorisme. Banyak pula media televisi dan surat kabar yang berusaha membentuk opini publik bahwa Bom Bali dilakukan oleh Amrozi dkk, yang menjadi ‘teroris’ cuma yang beragama Islam dengan jenis aliran tertentu, tersangka ‘teroris’ (Amrozi dkk) adalah orang yang tidak berprikemanusiaan, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, media telah memberitakan itu semua dengan tidak adil. Banyak ratusan fakta memang, yang membuktikan bahwa media massa di negeri ini tidak pernah berpihak pada Islam kecuali hanya untuk profit dan rating saja!

 Kalau kita flashback pada ‘tragedi’ 11 september di gedung WTC, Amerika serikat, kita akan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang saat ini sudah bukan rahasia lagi. Kejanggalan-kejanggalan itu, konon merupakan kebohongan yang ditutup-tutupi oleh intelegen AS. Ketika itu seluruh media, bahkan tidak ada satupun media nasional maupun internasional yang memberikan berbeda tentang ‘tragedi’ tersebut. Semua seragam! Seolah semua memang diberi komando untuk meliputnya dari sudut pandang yang sama. Oleh sebab itulah konspirasi konyol ini berhasil dipahami seluruh dunia sebagai ‘tragedi’, padahal tidak lebih dari penipuan belaka. Walaupun banyak buku-buku dan VCD yang beredar diseluruh dunia pada beberapa bulan kemudian yang mengungkap banyak fakta janggal tentang ‘tragedi’ itu, tapi usaha-usaha tersebut tidak terlalu berarti. Karena mereka harus menghadapi musuh dari media-media raksasa yang itu sangat sulit bagi media kecil mengubah opini yang sudah terdoktrin dalam masyarakat melalui media massa. 

 

Media Mempengaruhi Perilaku

 Di dalam masyarakat, perilaku setiap orang dapat dipengaruhi oleh apa-apa yang ditayangkan di media. Jadi media bukan hanya sebatas mempengaruhi opini publik saja, namun bisa juga membuat orang berubah perilakunya. Sebut saja channel musik yang dulu pernah booming, MTV. Dulu, waktu saya masih duduk dibangku SMP kelas 2, saya inget benar bagaimana gaya hidup remaja berubah menjadi sok ke barat-baratan, nggak gaul kalo nggak tahu band-band pop/rock yang lagi trend ketika itu. Model pakaian dan model rambut juga jadi patokan. Saat ini misalnya, rata-rata mahasiswa kalo ingin dibilang modis dan gaul minimal harus mengikuti perkembangan fashion dan style yang lagi trend ketika itu. Lagi-lagi bentukan media. Yah, untung model rambut saya nggak ikutan gaya polem seperti kebanyakan personel band-band emo.

 Ketika pemilu, para calon yang ingin memenangkan pemilihan mulai melirik berbagai jenis media untuk kampanyenya. Lucu-lucu sih,... kesannya masih awam dan sembarangan. Tapi terbukti, semakin banyak fulus yang dimiliki suatu partai, semakin besar porsi pemakaian media sebagai alat kampanye, semakin mudah menancap dibenak audiens, semakin besar pula pengaruhnya pada perilaku memilih. Yah, kapitalisme lagi nih kayaknya,...yang menang yang duitnya banyak :P

 

Media dapat mengkonstruksi definisi tentang realitas atau menciptakan realitas sendiri.

 Setiap realitas yang kita lihat di media atau yang ditampilkan oleh media kepada kita bukanlah merupakan realitas yang sesungguhnya yang terjadi di dunia nyata (realitas objektif). Bahkan keduanya justru sering bertolak belakang. Sehingga realitas yang kita lihat di media sering disebut sebagai realitas media.

 Masih ingat film Rambo yang seri-nya sampai menyaingi sinetron Tersanjung (dari Rambo I sampe Rambo berapa tuh...lupa). Tokoh yang dibintangi Silvester Stalion ini walau cuma berbekal panah dan pisau aja bisa ngalahin ribuan tentara yang bersenjata lengkap. Seolah ribuan tentara musuh itu blo’on semua, nggak ngerti cara nangkep satu orang itu. Atau ingatkah kita dengan film McGyver yang kita dibuat terkagum-kagum karenanya. Ini orang kok pinter banget. Sayangnya realitas itu cuma ada di layar kaca. Mencoba mencari McGyver yang sesungguhnya? Silahkan cari kalau ada.

 Belum lagi para ibu yang kerjaannya melototi sinetron di televisi dari sejak jam sholat maghrib sampe jam sebelas malam, nyambung terus acaranya. Mereka secara sadar maupun tidak telah dijejali realitas konyol buatan sutradara keluarga Punjabi itu. Ibu-ibu dibuat gila dengan cerita-cerita kampungan yang tidak masuk akal. Setting sinetron-sinetron itu juga stereotype banget. Lokasinya selalu rumah mewah, masuk rumah selalu bersepatu, bermake-up tebal setiap hari dirumah, semua jadi berlogat “lu gue”, penuh konflik sampai tidak ada kesempatan untuk bernafas, belum lagi yang miskin selalu yang digambarkan merana, yang kaya selalu digambarkan powerful, dan puluhan kejanggalan lain pada realitas dalam tayangan sinetron.

 Beberapa tahun terakhir ini tayangan televisi kita dibanjiri satu genre acara konyol lagi, yaitu reality show. Penonton dibuat terharu dan menangis sambil manggut-manggut percaya sepenuhnya setiap kejadian dalam reality show itu nyata tanpa skenario sutradara. Naudzubillah, jangan sampai ada satupun aktivis dakwah yang suka tayangan reality show! Termehek-mehek misalnya, berhasil membuat seluruh pemirsanya menjadi orang gila yang suka menikmati konflik dan aib orang lain. Pemirsa dibuat asyik-asyikan nongkrong didepan tiap episode melihat orang digampar, dicaci maki, dan dijatuhkan martabatnya dimuka umum. Ini acara paling gila yang saya tahu! Selain itu, pernahkah kita menyangka disuatu acara reality show yang mengekspos kemiskinan suatu keluarga, lalu kemudian keluarga tersebut diberi kejutan berupa harta atau hadiah lainnya, jika orang itu tidak menampilkan ekspresi yang dramatis, maka bisa jadi episode itu tidak ditayangkan karena dianggap kurang ‘menggugah’ di hati pemirsa.

 Diatas adalah contoh sedikit dari kasus tak terhingga tentang realitas-realitas konyol buatan televisi. Namun media bisa juga mengkonstruksi definisi tentang realitas yang sebenarnya. Namun setelah definisi itu dikonstruksi, akhirnya realitas itu menjadi menyimpang dari definisi yang sebenarnya. Seperti yang dicontohkan pada poin-poin sebelumnya, misalnya tentang fenomena ‘terorisme’ yang sering jadi bahan pembicaraan media. Ketika di suatu koran menampilkan foto Amrozi dkk sedang tersenyum menjelang hari eksekusi, seenaknya media mencoba mengkait-kaitkan dengan anggapan bahwa mereka bertiga (Amrozi dkk) itu mencoba mengejek, atau mungkin kurang waras karena sudah melakukan kejahatan masih saja bisa tersenyum-senyum didepan orang. Nah, hal itu adalah usaha dari pihak media untuk mengkonstruksi sendiri suatu realitas, yang akhirnya menyimpang dari realitas yang seharusnya atau sebenarnya terjadi. Coba jika dulu media sempat menanyakan mengapa mereka bertiga akan dihukum mati tapi kok malah tersenyum-senyum. Pasti jawabannya berbeda dengan apa yang media selama ini kira.

 Aspek-aspek yang berkaitan dengan kuasa media ini seharusnya bisa kita tandingi dengan semangat jihad yang tinggi dalam perang besar yaitu perang pemikiran. Umat Islam seharusnya memiliki cara-cara tersendiri yang lebih bijak dalam memanfaatkan media untuk memenangkan agamanya. Bukan cara kotor dan licik yang dipakai oleh para kapitalis dan orang-orang Barat. Umat Islam memiliki Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman. Mari kita bangun dan warnai media kita dengan itu! (aa)