Mencintai Tapi Dijauhkan

Oleh : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh

Pernahkah anda mencintai seseorang didunia ini dengan sangat? Saya yakin semua orang pernah merasakan rasa cinta yang besar dan meluap-meluap kepada seseorang semasa hidupnya. Bisa kepada kedua orangtua, bisa kepada pasangan, bisa kepada anak, saudara, atau kerabat lainnya.

Ketika itu perasaan cinta kita itu hingga membuat kita merasa tidak bisa berpisah dengannya, atau bahkan seolah-olah kita tidak bisa hidup tanpanya. Jika sampai terjadi perpisahan dengan orang yang kita cintai tersebut, hidup ini seoleh akan berakhir saja rasanya. Benar-benar kondisi yang sama sekali tidak akan kita sukai. Sangat menyedihkan, dan benar-benar membuat kita putus asa, lemah, dan tidak berdaya karena perpisahan itu.

Namun disamping itu, pernahkah kita disaat kita mencintai seseorang dengan luar biasa itu tiba-tiba Allah Swt justru mengambilnya dari kita? Ketika kita mencintai orangtua kita dengan berlebih, tiba-tiba justru Allah Swt mengambilnya dari kita. Ketika kita menunggu-nunggu kehadiran anak semata wayang, yang lucu dan mungil, justru Allah Swt mengambilnya dari kita. Atau mungkin ketika kita merasa mencintai seseorang yang akan atau sudah menjadi pasangan hidup kita, justru Allah Swt menjauhkannya dari kita, memisahkan kita darinya.

Saya memang bukan ustad atau ahli agama yang pandai menjelaskan kenapa hal itu sering terjadi dalam kehidupan seseorang. Tapi setidaknya analisa singkat saya dalam tulisan ini bisa membantu saya berhusnuzan (berbaik sangka) kepada Allah Swt atas apa-apa yang Dia lakukan kepada saya. Sekaligus tulisan saya ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, mengafirmasi, menanamkan berulang-ulang agar tetap terus berprasangka baik kepadaNya.

Lalu mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa seringkali Allah justru mengambil, menjauhkan, memisahkan kita dari orang yang benar-benar kita cintai itu? Kenapa Allah Swt justru menghendaki kita seperti itu? Apa yang salah dari diri kita jika mencintai seseorang dalam hidup kita?

Diantara prasangka baik yang bisa saya simpulkan adalah, pertama, karena Allah Swt ‘cemburu’ terhadap kita. Allah Swt ‘cemburu’ karena kita menempatkan cinta kita melebihi atau setara dengan cinta kita kepada Allah. Allah ‘cemburu’ karena memang seharusnya hanya cinta kepadaNya-lah yang tertinggi yang harus kita miliki. Ketika Allah mulai mengindikasi cinta kita berlebihan kepada makhluk ciptaanNya, maka segera Allah Swt menjauhkan diri kita dari orang yang kita cintai itu. Mengambilnya, agar kita segera sadar bahwa seharusnya makhluk yang kita cintai itu milik Allah. Allah yang menciptakannya, yang mempertemukannya dengan kita, memberikan kita banyak kenikmatan-kenikmatan, namun kita malah mencintainya melebihi cinta kita pada Sang Pemberi cinta.

Ketika kita sudah mulai sering dan mudah rindu kepada orang yang kita cintai tersebut, sedangkan kepada Allah kita tidak memiliki kadar rindu yang lebih tinggi, maka saat itulah Allah ‘jealouse’ terhadap sikap kita. Ketika berkhalwat dengan Allah di sepertiga malam tidak lebih dirindukan daripada Ayah atau Ibu kita. Ketika getaran menyebut Asma-Nya tidak lebih terasa daripada saat disebut nama kekasih kita. Ketika hal-hal yang terkait dengan objek yang kita cintai lebih membuat kita bahagia daripada beribadah. Maka saat itulah Allah ‘cemburu’. Rasa ‘cemburu’ yang menjadi hak Allah sepenuhnya. Dan ke-Maha KuasaanNya-lah yang membuat Dia bebas dengan mudah memisahkan kita dengan objek yang kita cintai.

Kedua, karena Allah Swt sedang mengajari kita untuk bertawakal kepadaNya. Dia sengaja menguji kita dengan perpisahan dengan orang yang kita cintai tersebut agar kita pasrah terhadap keputusan Allah Swt itu. Menyerahkan segala urusan kepadaNya. Agar kita sadar bahwa semua yang kita cintai didunia ini adalah milik Allah.

Jika kita pikirkan lagi, sebenarnya Allah hanya sementara saja mengambil orang kita cintai itu. Allah menunggu sampai kita mampu mengembalikan porsi cinta kita kepada orang tersebut sesuai dengan porsi yang seharusnya. Allah menyuruh kita untuk bersabar dan belajar lagi tentang hikmah yang disiapkan Allah untuk kita atas kejadian-kejadian itu. Jika kita siap, kemudian Allah akan mengembalikan orang yang kita cintai tersebut kepada kita. Jika tidak didunia, pasti di akhirat nanti kita pasti akan dipertemukan dengan orang-orang itu lagi. Orang tua kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, pasangan hidup kita, yang mereka dulunya sangat kita cintai luar biasa.

Masih ingatkah bagaimana Allah Swt menguji Nabi Ibrahim as terhadap kecintaannya yang luar biasa kepada anaknya, Ismail as? Allah mengembalikannya setelah hatinya ikhlas dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah Swt.

Masih ingatlah dengan cerita tentang kecintaan Nabi Ya’qub as kepada Nabi Yusuf as hingga memenuhi semua hidup dan hatinya. Kemudian Allah mengambil Yusuf as selama dua puluh tahun sampai hatinya kembali dipenuhi rasa cinta kepada Allah Swt. Sampai setelah itu Allah Swt mengembalikan Yusuf as padanya.

Berat...

Memang sangat berat menjalaninya...

Tidak semudah kata-kata yang saya ketikkan dalam tulisan amatiran ini...

Tapi yakinlah bahwa setiap ujian kecintaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita adalah karena begitu besar cinta Allah kepada kita. Ketika dada ini sudah merasa sesak, hati merasa putus asa, dan semangat ini sudah mulai habis, maka satu hal saja yang coba dengung-dengungkan di pikiran: bahwa Allah sedang ingin mengangkat derajat kita. Derajat yang mungkin tidak dimiliki orang lain disekitar kita. Wallahu a’lam. []


[Curhat Mingguan Ke-69, 22/05/2013, 09:34]

SA’I ‘Zine #11 – “Ancaman Media & Dampak Globalisasi”

SA’I Zine adalah sebuah media dakwah independen dari Surabaya yang membahas tentang isu-isu ke-Islaman. Diedarkan dalam versi PDF dan versi Cetak. Adapun peminat dari media alternatif ini sudah tersebar di seluruh Indonesia.
Awalnya, kelahiran media ini dibidani oleh Pemimpin Redaksi Undergraound Tauhid jauh sebelum lahirnya Underground Tauhid. Saat ini SA’I Zine saling bersinergi dalam mengimplementasikan amar ma’ruf nahi munkar bersama situs Underground Tauhid.
Edisi ke-11 ini edisi yang membahas banyak tentang globalisasi dan kaitannya dengan perkembangan media. Isu ini sengaja dibuat untuk memberikan bekal bagi kita untuk bersikap dalam menghadapi globalisasi dan ancaman media-media Barat terhadap Islam. Jika kita meresponnya salah maka jelas hasilnya akan kontraproduktif.
Globalisasi pula yang menyebabkan munculnya penyesatan-penyesatan melalui media massa yang kita undang masuk kedalam rumah-rumah kita sendiri. Media massa mainstream selama hampir satu tahun terakhir ini (2012) sering bersikap sinis, negatif, dan dekonstruktif terhadap dakwah Islam. Bukan hanya di negeri ini, tapi juga di negara-negara lain. Mulai munculnya kartun Nabi Muhammad Saw, rilisnya film Innocent of Muslims, fitnah media dengan isu Rohis dan HASMI, pembelokan isu Syiah dan masih banyak lagi lainnya. Semua masalah itu tidak bisa kita biarkan saja dan ditelan mentah-mentah. Sebagai seorang muslim, kita wajib memberikan respon jika memang ada kemungkaran yang dilakukan institusi media disana.
Bagaimana penjelasan selanjutnya? Siapkan secangkir kopi sambil ikuti SA’I Zine #11 di link berikut ini:
Low-res PDF:
Print version PDF:

Pemesanan SA’I Zine versi cetak dapat menghubungi Redaksi :
Aditya Abdurrahman Abu Hafizh
+62 857 332 65655
saimuslim@gmail.com


Read more http://www.undergroundtauhid.com/sai-zine-11-ancaman-media-dampak-globalisasi/

Ramadhan Kali Ini, Nggak Boleh Ada yang Miss!


Hari-hari yang sangat ditunggu dalam bulan yang indah ini sebentar lagi datang. Memori tentang Ramadhan yang lalu-lalu rasanya kembali hadir di ingatan. Setiap tahun ke tahun, Ramadhan selalu memberikan kesan yang indah bagi aku. Mulai saat-saat masih Sekolah Dasar, disekolah selalu diadakan acara “Pondok Romadhon” yang mengharuskan siswa untuk mengikuti program tarbiyah Ramadhan dari pagi hari hingga keesokan harinya. Malah terkadang bisa sampai menginap tiga hari lebih. Perasaan yang membahagiakan karena berkumpul bersama teman-teman, rasa senang ketika bisa memakai baju muslim bebas, kenikmatan ketika berbuka bersama, termasuk pula rasa bosan ketika harus mengaji dan shalat tarawih sebelas rakaat serta mendengarkan ceramahnya yang panjang, semuanya masih melekat hingga saat ini. Haha!...Walaupun dulu belum terlalu memahami arti bulan Ramadhan yang sesungguhnya, tapi cukuplah pengalaman itu memberikan kesan yang mendalam. Dan memang setiap Ramadhan dari tahun ke tahun punya kesan tersendiri.

Bukan hanya soal Pondok Ramadhan,…tapi memang setiap Ramadhan yang pernah saya lewati dari tahun ke tahun bersama keluarga dari tahun ke tahun memang memilki kesan tersendiri. Hal itu membekas didalam dada. Indahnya suasana keluarga ketika itu yang masing-masing saling berlomba-lomba dalam beribadah, selalu menyempatkan untuk berbuka dan sahur bersama meski mata ini mengantuk, mendengarkan tausiyah-tausiyah di televisi setelah Subuh, dan bercengkrama bersama keluarga sambil menunggu adzan Maghrib adalah saat-saat yang tidak pernah terlupa. Keindahan-keindahan suasana Ramadhan itulah yang seringkali membuat air mata orang-orang yang beriman harus menetes mengalir di pipi ketika bulan itu berakhir.

Karena hanya orang-orang beriman-lah yang selalu bahagia menyambut kedatangan bulan tersebut. Dan hanya orang-orang beriman-lah yang sedih ketika berpisah dengannya. Mereka adalah orang-orang yang paham betul betapa dahsyatnya rahmat Allah Ta’ala didalam bulan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa didalam bulan tersebut Allah Ta’ala mengobral surga untuk hamba-hambaNya dan menyebar ampunan seluas-luasnya. Oleh karenanya orang beriman tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya bulan ini. Mereka adalah orang yang takut waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan tidak membuat mereka terampuni dosa-dosanya. Mereka takut tidak mendapat peluang surga yang dijanjikan Allah Swt lewat hadirnya bulan ini.

Mungkin saya bukanlah orang yang belum memiliki kesempurnaan iman. Karena nyatanya saya masih saja luput dalam memanfaatkan Ramadhan. Dan penyesalan baru saya rasakan ketika bulan berkah itu sudah di penghujungnya. Saat itu, di akhir Ramadhan tahun lalu, saya berdo’a kepada Allah Ta’ala agar kiranya mengampuni dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Dosa karena telah ‘mengecewakan’-Nya, atas pemberian bulan Ramadhan yang ketika itu tidak saya manfaatkan dengan yang amal-amal terbaik. Saat itu, semua kata hanya mampu terucapkan dalam hati. Sulit bagi lisan saya untuk mengungkapkan penyesalan-penyesalan itu. Saya sadar semua itu telah berlalu. Tak akan mungkin waktu yang telah terlewat bisa diulang kembali. Oleh karenanya kemudian saya kembali berdo’a agar Allah Swt memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Saya memohon dengan sangat agar jangan sampai nyawa ini dicabut-Nya sebelum mempertemukan saya kembali dengan bulan yang indah itu, dan membimbing saya melakukan segala ibadah dibulan tersebut semaksimal mungkin.

Amin Ya Rabb...

***

Sekarang, ketika saya tulis catatan ini, Ramadhan sudah menunggu di depan mata. Dua minggu lagi jutaan rahmat dan pahala sudah Allah siapkan untuk ditaburkan dimuka bumi. Dan kita bebas memanen pahala sebanyak mungkin disana. Tiba-tiba saya teringat tentang apa saja yang harus kulakukan. Saya juga teringat tentang doa yang pernah saya panjatkan ketika akhir Ramadhan tahun lalu. Jika Ramadhan yang tahun lalu saya belum beribadah dengan sekuat tenaga, maka Ramadhan ini saya harus melakukannya dengan maksimal! Tidak boleh ada yang miss lagi kali ini! Dan dalam dua minggu ini akan saya siapkan lebih dulu ‘perbekalan’ untuk menghadapinya. Karena akan datang sebuah ‘perang’ besar. Perang untuk ‘menaklukkan’ diriku sendiri. Perang untuk memenangkan ganjaran surga! Maka sekali lagi,...TAK BOLEH ADA MISS DALAM RAMADHAN KALI INI!!! []

[Curhat Mingguan Abu Hafizh ke-41, menjelang Ramadhan, 9 Juli 2012, 05:53]

Penulis : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh
Editor : Bey Erest

(Andaikan) Ini Ramadhan Terakhirku...


Hari ini (21/07/2012) adalah hari pertama saya melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa ormas Islam di Indonesia sudah mulai berpuasa sejak kemarin. Seperti biasa, sebagian orang yang tahu ingin mendapat pahala besar dari Allah Swt pasti akan memiliki target-target yang harus dicapai selama bulan mulia ini berjalan. Ada yang bertekad mengkhatamkan Al-Quran. Entah satu kali, dua, atau tiga. Ada yang bertekad untuk memperbanyak shalat sunnah. Ada yang bertekad untuk selalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk Qiyamul Lail. Mengisi setiap detik mereka dengan hal-hal yang bernilai ibadah. Jangankan diisi dengan yang haram, yang mubah saja bagi orang-orang yang mengerti potensi Ramadhan akan merasa sayang. Pokoknya setiap detik harus berpahala! Gitu kira-kira.

Namun pada pelaksanaannya, target-target Ramadhan tidaklah semudah yang dikatakan. Umumnya orang akan semangat 45 di awal-awal Ramadhan saja. Semakin berkurang hari-hari akhir Ramadhan. Lihat saja jamaah shalat Tarawih. Bandingkan saja ketika awal Ramadhan dengan akhir Ramadhan. Semua orang semakin hari semakin loyo untuk mengejar potensi bulan ini yang padahal sudah jelas-jelas sudah mereka dipahami sejak awal. Mengapa itu terjadi?

***

Siang itu saya ikut sebuah kajian Islam. Meski topiknya bukan tentang Ramadhan, tapi sang pembicara mengingatkan satu hal begitu besar manfaatnya untuk memacu diri di bulan yang suci ini. Dia mengatakan jika kita masih berpikir kalau kita masih akan bertemu dengan Ramadhan-ramadhan ditahun-tahun berikutnya, maka itu akan membuat kita lebih santai dalam melihat potensi Ramadhan kali ini. Namun jika kita mampu me-mindsetkan diri kita bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka sudah bisa dipastikan kita akan berjuang mati-matian untuk mengisi setiap detik waktu kita dengan hal-hal yang berpotensi pahala, bertaubat memohon ampun atas seluruh dosa-dosa yang kita pernah lakukan.

Seketika itu hati saya terhentak! Benar sekali apa yang pembicara ini katakan. Mungkin keyword ini yang saya cari selama ini untuk menstabilkan motivasi saya beribadah di bulan Ramadhan ini sampai detik-detik penghabisan. Saya jadi ingat bagaimana Rasulullah Saw berwasiat kepada kita dalam haditsnya,

"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu (ibadah) seolah-olah kamu akan mati besok pagi" (HR. Imam Al Baihaqi)

Sebuah hadits yang sangat populer. Siapapun pernah mendengar hadits ini. Namun ternyata bisa menjadi kunci untuk mengkonsistenkan semangat kita hingga akhir Ramadhan. Karena mungkin Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita! Bisa jadi usia kita tidak sampai pada Ramadhan tahun depan! Maka jangan pernah lewatkan sedikitpun waktu tanpa potensi pahala! Sampai akhir!

***

Ya Allah,...Jangan biarkan aku mati sebelum Engkau ampuni seluruh dosa-dosaku. Jangan biarkan aku menjadi orang yang merugi setelah Engkau anugerahkan Ramadhan ini kepadaku... Amin. []

[Curhat Mingguan Ke-43, Abu Hafizh, 21 Juli 2012, 20:51]

Penulis : Aditya Abdurrahman
Editor : Faiq

Membaca: Beban atau Kebutuhan?




Sa'i Muslim Movement--Pagi tadi saya memang berniat datang lebih pagi dari biasanya. Walaupun kenyataannya ketika sampai di kampus tetap saja seperti jadwal biasanya. Sekitar pukul 07:45. Tadinya saya berniat lebih pagi karena saya ingin segera membawakan tumpukan fotokopian buku ajar untuk mahasiswa-mahasiswa saya. Saya memang menawarkan diri untuk memfotokopikan buku ajar yang menjadi rujukan kuliah saya itu. Karena saya hanya ingin mereka segera bisa mempelajarinya dan mengerjakan tugas-tugas resume yang harus mereka kumpulkan minggu depan. Karena saya juga tahu bahwa tugas resume tersebut tidak sedikit. Asal tahu aja, bukunya lebih tebal dari batu bata yang mungkin bisa sekaligus cocok untuk nglempar kepala maling jemuran. Belum lagi, yang lebih ‘mengerikan’ bagi mereka adalah karena buku itu full berbahasa inggris! Suruh baca yang berbahasa indonesia aja susahnya seperti disuruh minum jamu, apalagi bahasa inggris. Hmm pasti bikin mual.  
“Tidak suka membaca”, memang problematika yang dialami oleh hampir seluruh manusia di negeri ini. Mulai yang terlibat dalam aktivitas akademik, maupun yang tidak. Para guru dan dosen mengeluh, betapa susahnya para mahasiswa dan muridnya untuk mau membaca. Meskipun sudah diberikan berbagai suntikan motivasi dosis tinggi kepada mereka. Tetap saja. Membaca masih mereka anggap sebagai aktifitas yang berat, membebani, dan sama sekali tidak mengasyikkan . Apalagi menjadikan aktifitas membaca sebagai kebutuhan. Duh! Bisa-bisa ini cuma jadi impian.
Dosen memang tidak semuanya adalah orang yang literate. Jika memang kenyataannya ada dosen yang malas belajar –yang salah satunya adalah dengan membaca—maka satu-satunya pihak paling harus dikasihani adalah: mahasiswanya. Karena bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengajar yang baik jika sisi keilmuannya tidak bertambah? Dengan kata lain, apa yang bisa menjadi ‘output’ ilmu dari orang seperti itu kalau tidak ada ‘input’ yang signifikan kedalam dirinya? Pasti kuliah kering, sepi, jayus, dan saya bisa membayangkan betapa beratnya perjuangan para mahasiswa yang diajarnya untuk tetap duduk manis menahan ngantuk. Bagaimana tidak, dosen yang dihadapannya ngajar kuliah seperti mendiktekan diktat kuliahnya kepada para mahasiswa.
Menyukai aktivitas membaca memang bukan hobby yang tiba-tiba turun dari langit. Atau hobby yang mudah ditiru seperti entengnya membalikkan telapak tangan. Tidak. Membaca merupakan hasil dari proses pembiasaan. Habit. Yang dibangun dan dilatih terus menerus hingga bertahun-tahun lamanya. Anak-anak yang sejak bayi sudah dibiasakan untuk mengenal benda bernama buku, dibiasakan familiar dengannya, lalu didukung dengan orangtuanya yang suka membacakan untuknya, maka anak tersebut besar kemungkinannya akan tumbuh dewasa seiring dengan interaksinya dengan buku yang semakin meningkat. Begitu pula sebaliknya. Jika sejak bayi, pembiasaan yang dilakukan orang tuanya kepada sang anak adalah mainan, televisi, dan video-game, maka bisa dipastikan mental anak tersebut ketika dewasa akan jauh dari buku. Ilustrasi yang terakhir inilah yang sekarang jumlahnya lebih banyak dimasyarakat. Saya jadi ingat lirik lagu band punk atheis dari California (AS), Bad Religion, ketika mengkritisi generasi muda sekarang yang sangat malas dan ‘no future’:
“...say I’m a 21st Century Digital BoyI don’t know how to readBut i have a lot of toys.My daddy is lazyMiddle class intelectualMy mommy on valiumSo ineffectual” –21st Century Digital Boy, Bad Religion
Meski lirik lagu tidak bisa dijadikan dalil, tapi apa yang mereka katakan memang terjadi dalam fenomena saat ini. Anak-anak yang lebih mencintai mainan, televisi dan video-game daripada ilmu. Figur ayah merasa tidak ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya. Semua dianggap sang ibu-lah yang menghandle semua urusan rumah dan pendidikan anak. Ditambah lagi ke-kurangfaham-an orang tua terhadap pentingnya ilmu yang ditanamkan sejak dini. Sehingga anak-anaknya tumbuh dewasa justru dengan bimbingan lingkungan pergaulannya disekolah. Tidak hanya itu, anak-anak tumbuh dengan didikan televisi dan video-game. Wajar jika fenomena seperti saat ini terjadi.
Mungkin, ini merupakan dampak buruk modernisasi menjadikan kehidupan generasi saat ini inginnya serba instan, manja, malas berpikir dan malas bekerja. Mereka mengira bisa dengan mudah lulus kuliah dengan nilai yang baik tanpa belajar keras setiap hari. Mereka pikir bisa lulus mendapat gelar dan IPK terbaik yang mereka inginkan ketika wisuda tanpa harus bergelut dengan tumpukan buku-buku bacaan. Tidak. Tidak akan mungkin terjadi.
Maka dari itu, mulailah berkenalan dengan buku-buku. Berbaik hatilah dengannya. Ajak mereka berkomunikasi. Kenali kepribadiannya. Maka selanjutnya kau akan jatuh cinta kepadanya. Jadikan mereka sesuatu yang berharga bagimu. Hingga jikalau tak ada mereka, hatimu terasa tidak lengkap. Sampai akhirnya kau sadar bahwa ketika itu kau sudah menjadikan aktifitas membaca sebagai kebutuhan primer dalam hidupmu. Bukan lagi tekanan dan beban seperti hal dahulu.[]
(Abu Hafizh, Catatan Mingguan Ke-3, Rabu, 26 oktober 2011. 9:33 AM)