"Untuk jadi the great muslim, sepertinya otak kanan perlu lebih gede dikit dari otak kiri" - Aditya Abdurrahman.
Saya sempat sulit mencari kata-kata yang lebih terdengar keren untuk judul tulisan ini yang tadinya seharusnya berjudul “muslim hebat harus kreatif”. Karena kalo judulnya biasa-biasa aja, rasanya kurang nggreget, perlu yang agak keren dikit, agak mirip judul film-film holiwut (asal jangan boliwut), dan yang terdengar lebih anak muda banget, supaya yang ngliat penasaran, lalu baca tulisannku sampe abis. Itu trik, yang butuh porsi mikir lebih banyak, agar bagaimana apa aja yang kita lakukan itu punya posisi yang berbeda dari yang lainnya atau bahkan di atas standar rata-rata.
Pemuda kita, terutama yang tiap hari bergelut dengan ilmu-ilmu dan aktifitas otak kiri seperti rumus-rumus fisika, biologi, matematika (angka-angka), dan lain-lain, kadang lupa mengasah kemampuan otak kanannya. Padahal otak kanan itu basis dari kreatifitas kita. Sedangkan kreatifitas itulah nanti yang paling banyak dipakai untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan ini. Bukan dengan angka-angka, bukan dengan ilmu fisika dan biologi. Menghadapi krisis finansial, bisakah dengan ilmu biologi?
For The Dakwah
Pernah suatu kali saya menghadiri sebuah event kajian Islam di sebuah kampus di Surabaya. Namun nama event itu sama sekali nggak dipoles dengan bahasa yang lebih 'anak muda', lebih bersemangat, lebih terkesan nggak bikin boring, dan bikin orang penasaran. Jadi namanya tetap aja tipikal seperti “Kajian Islam Rutin Jurusan bla-bla-bla”, atau “Majelis Taklim bla-bla-bla”, dan sejenisnya. Terang aja tiap kajian yang dateng 4L alias Lu Lagi Lu Lagi, nggak ada perubahan.
Dalam dakwah sangat perlu adanya kreatifitas-kreatifitas. Supaya syi'ar Islam ini bisa mudah diterima juga dikalangan awam. Kalo kita yang udah totalitas belajar Islam, mungkin kuat berjam-jam duduk dengerin Ustadz memberikan ceramah atau mengkaji kitab, namun bagi masyarakat awam, itu kurang menarik. Mereka jadi sulit diajak untuk mau mendalami Islam jika kita sebagai pendakwah nggak muter otak kanan untuk menemukan metode-metode baru dalam menyampaikan pesan dakwahnya .
For Life
Kreatifitas dalam hidup itu statusnya bukan hanya 'perlu', tapi 'penting'atau 'urgent'. Di era globalisasi dan kemajuan persaingan ini yang nggak kreatif bakal dihabisi oleh orang-orang kreatif (apalagi berduit). Maka dari itu, walaupun masih sekolah atau kuliah, semestinya kita udah harus belajar kreatif dalam menyiasati hidup. Karena ketika kita lulus kuliah, jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang ada, sehingga bisa dipastikan akan banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang nganggur. Udah bisa disimpulkan, sebenarnya orang-orang yang lulusan perguruan tinggi atau bahkan SMU itu kalo sampe nggak bisa dapat penghasilan, itu bisa dikatakan kalo mereka nggak kreatif. Otak kanannya buntu, karena selama sekolah dicekoki ilmu-ilmu yang nggak praktis (tidak bisa dipraktekkan kecuali kalo jadi pegawai ) dan orang tua pun mendidiknya sejak kecil untuk menjadi nggak kreatif pula. Pokoknya, mindset mereka, kalo nggak dapet kerja diperusahaan, maka HABISLAH RIWAYATNYA.
Pertanyaannya, “Benarkah HABIS RIWAYAT KITA KALO NGGAK DAPET KERJA ?”. Jawabnya, “Emang rejeki itu hanya lewat jadi pegawai, hah?!”. Coba mulai puter otak kanan kita sampe 700 keliling! InsyaAllah nemu tuh jawabannya.
Kita dianugerahi Allah otak kanan itu harus disyukuri. Karena ketika manusia kepepet (terdesak) seringkali fungsi otak-kanannya langsung melejit. Ada yang langsung nyoba jualan, buka toko, depot/warung, ada yang nyoba buka konsultan sendiri, ada yang nyoba buka bengkel, dll. Begitu juga yang masih sekolah, harus mulai belajar kreatif menyiasati hidup.
How to be MAXIMUM?
Jika ingin menjadi kreatif, harus bisa berbeda dengan lainnya, namun 'berbeda' yang memiliki nilai positif dan menunjukkan ada keunggulan tertentu yang menonjol dibanding lainnya. Orang kreatif tidak mengambil ide orang lain mentah-mentah lalu menjiplaknya persis. Namun orang kreatif mengambil ide yang sudah ada lalu melakukan 2 hal kepada ide itu: DIRUBAH atau DITAMBAH.
DIRUBAH, artinya tiap ide itu jangan hanya mentah-mentah dijiplak, namun dirubah lebih dahulu beberapa bagiannya menjadi lebih unik, menarik, dan disukai oleh target segmennya. Misalnya, seperti yang kami lakukan di SA'I Magazine dan SA'I Newsletter. Tiap kali saya ke mesjid untuk Juma'atan. Banyak sekali buletin-buletin Jum'at dari jamaah-jamaah maupun gerakan-gerakan Islam disebarkan disitu. Saya sering mengumpulkannya jika topik yang dibahasnya menarik. Namun ada kekurangan yang sangat mendasar dari buletin-buletin ini, yang bikin membacanya agak kurang semangat, diantaranya ada 2 hal : GAYA BAHASANYA dan DESAIN/LAYOUT/TAMPILAN-nya. Dari masalah itu, saya punya cita-cita membuat suatu media dakwah yang gaya bahasanya sesuai dengan segmen yang saya tuju, misalnya jika disebarkan di kalangan remaja, berarti gaya bahasanya harus luwes, gaul, dan nggak mboseni. Disamping itu akan saya buat semenarik mungkin tampilan visualnya. Setelah sekian lama di empet-empet (baca: ditahan-tahan) akhirnya lahir juga SA'I Newsletter #1 sampai saat ini SA'I Newsletter sudah edisi 11 dan SA'I Magazine sampai edisi 3 ini.
Jadi, kesimpulan pertama yang harus diingat adalah,…..DIRUBAH!
Btw, yang berikutnya, DITAMBAH. Ditambah, bisa diartikan, bahwa ide-ide yang lama yang mau diadopsi dapat kita pakai tanpa merubahnya sama sekali namun yang kita lakukan adalah menambahnya dengan ide kita. Misal, mau jualan Pangsit Mie Ayam (hemm…nyem,nyem…ini favorit ane!). kalo mau buka Kedai Mie Ayam jangan hanya bikin masakan mie yang standar aja. Rasa dan penyajiannya sama. Itu nggak kreatif namanya. Yang kreatif itu kalo masakan yang sudah ada itu ditambahkan sesuatu. Mungkin penyajiannya ditambahkan dengan Udang Goreng atau Abon Ikan Tuna, jadilah Pangsit Mie Seafood. Atau jualan bakso, didalem pentol-nya (maaf, emang bahasa Indonesianya pentol apa ya?-pen) dikasih udang atau daging tuna. Wah…sip tuh..
So, inget! …..De-I- Te-A-eM-Be-A-Ha!....DITAMBAH!
Ok, terlalu banyak saya ngomong. Saya juga masih dalam proses menerapkannya dengan baik. Selamat menerapkan with your MAXIMUM RIGHT-BRAIN!!!! [aa]
SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.
Akselerasi Maksimum
Untuk menjadi pribadi yang hebat, para pemuda kita harus mengerti betul pentingnya waktu. Allah berkali-kali bersumpah atas nama waktu seperti dalam Al-Qur'an,”Demi waktu/masa”, “Demi siang”, “Demi malam”, dan seterusnya menunjukkan betapa Allah Swt benar-benar menekankan tentang pentingnya waktu. Banyak orang yang sedih, stres, gak rela, kalo kehilangan sendal, daripada kehilangan waktu. Padahal waktu yang efektif mampu menghasilkan bukan hanya sekedar sendal namun pabrik sendal pun bisa kita raih kalo kita benar-benar memahami betul konsep waktu. Orang yang benar-benar mengerti arti berharganya waktu tidak akan mudah dirinya melakukan hal-hal yang sia-sia. Seluruh waktunya diisi oleh aktifitas-aktifitas yang mempunyai nilai manfaat. Bahkan mereka juga punya urutan prioritas dari sekian banyak manfaat itu, mana yang manfaatnya paling tinggi, sedang-sedang, dan sedikit. Orang yang tau akan nilai waktu yang diberikan oleh Allah ini akan selalu peka terhadap setiap aktifitasnya. Mudah sekali dirinya sadar ketika mulai melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa orang yang tidak disibukkan dengan aktifitas-aktifitas kebaikan dalam hidupnya maka akan mengalami kerugian. Disini kita bisa mengambil pelajaran penting tentang memaknai waktu, yang mana waktu itu memiliki sifat yang terbatas dan tidak bisa kita mengulang kembali kejadian yang telah lewat. Orang yang sholat fardhu dengan asal-asalan, tidak akan dapat mengulang lagi sholatnya dikemudian hari. Karena waktu yang terlewat tidak bisa dikembalikan lagi. Catatan amal sholatnya akan dicatat oleh malaikat juga apa adanya, yaitu yang asal-asalan tadi. Kita bisa bayangkan selama ini, apakah sholat kita sudah maksimal? Sedangkan waktu tak mungkin diulang. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari nilai waktu agar setiap kesempatan kita manfaatkan untuk mengisi peluang-peluang ibadah yang diberikan oleh Allah disetiap waktu.
Jika mendengar kata “waktu” dan “pemuda”Saya jadi teringat hadits ini :
“Kelak pada hari kiamat, kaki seorang anak manusia tidak akan tergelincir (ke surga atau ke neraka) dari sisi Rabbnya, hingga lima perkara ditanyakan kepadanya: tentang usianya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia dapatkan, dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Tirmidzi)
Betapa Allah mengingatkan manusia tentang dua hal yang berkaitan dengan waktu, yaitu USIA dan MASA MUDA. Mengapa terpisah? Karena masa muda adalah masa produktif yang harus disorot lebih besar porsinya. Masa tua itu tergantung dari masa mudanya (sehingga orang tua yang menganggap bahwa anak-anaknya yang masih remaja diberi kebebasan bergaul dengan alasan “masih muda, jadi biarin aja”, bisa ditepis dengan hadits ini).
______
Batas waktu yang Allah berikan kepada manusia adalah 24 jam sehari. Semua manusia sama. Tak ada yang spesial untuk diberikan lebih dari itu. Ada yang 24 jam sehari hanya dihabiskan dengan makan dan tidur, nggak produktif sama sekali, bahkan ada yang ngatur diri sendiri aja nggak bisa, disisi lain ada juga yang dalam 24 jam sehari bisa mengatur negara atau perusahaan besar dengan ribuan karyawannya. Mengapa demikian? Satu kata. PERCEPATAN!
Percepatan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Ketika kita bisa memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif disaat orang lain diluar sana kebanyakan malah bermalas-malasan maka itu bisa dikatakan sebagai salahsatu bentuk percepatan. Misalnya, kenapa negara Jepang lebih maju ketimbang negara kita? Padahal kita merdeka duluan? Karena trik percepatan model ini. Budaya membaca masyarakat jepang sangat tinggi, sehingga ke stasiun-stasiun, dalam kendaraan umum, di ruang-ruang tunggu mereka selalu membaca buku. Jam kerja dan waktu-waktu produktif mereka tinggi. Itu percepatan. Namun percepatan yang lebih dahsyat adalah ketika kita bisa mengkader banyak orang untuk memiliki potensi yang sama dengan diri kita, sehingga mampu menggantikan sebagian besar peran kita bahkan melipatgandakan kinerja kita. Semakin banyak orang yang kita kader, kita organisir, kita bina, maka semakin berlipat produktifitas kita. Itulah percepatan.
Namun apa bisa melakukan percepatan/pelipatgandaan efektifitas waktu dalam hal mencari pahala? Jawabnya, insyaAllah bisa! Gimana? Ingat hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah ra. ini :
“Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan dalam Islam kemudian mengamalkan hal itu sepeninggalnya, maka bagi yang mengajak tadi pahalanya sama dengan yang diajak. Sedikitpun tidak mengurangi pahala yang diajak.” (HR. Muslim)
Artinya, semakin sering kita melakukan aktifitas dakwah dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka secara tidak langsung kita sedang berupaya melipatgandakan pahala disisi Allah. Semakin banyak orang yang melakukan kebaikan karena ajakan kita, semakin berkali-lipat pula pahalanya. Subhanallah!
Cukup banyak yang semestinya materi yang bisa dituliskan untuk membahas tentang efektifitas waktu. InsyaAllah akan dibahas di lain waktu. Terakhir, …satu hal yang harus anda ingat selalu dalam materi ini adalah “PERCEPATAN”. Ayo kita praktekkan sekarang juga! Ini urgent! [aa]
Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa orang yang tidak disibukkan dengan aktifitas-aktifitas kebaikan dalam hidupnya maka akan mengalami kerugian. Disini kita bisa mengambil pelajaran penting tentang memaknai waktu, yang mana waktu itu memiliki sifat yang terbatas dan tidak bisa kita mengulang kembali kejadian yang telah lewat. Orang yang sholat fardhu dengan asal-asalan, tidak akan dapat mengulang lagi sholatnya dikemudian hari. Karena waktu yang terlewat tidak bisa dikembalikan lagi. Catatan amal sholatnya akan dicatat oleh malaikat juga apa adanya, yaitu yang asal-asalan tadi. Kita bisa bayangkan selama ini, apakah sholat kita sudah maksimal? Sedangkan waktu tak mungkin diulang. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari nilai waktu agar setiap kesempatan kita manfaatkan untuk mengisi peluang-peluang ibadah yang diberikan oleh Allah disetiap waktu.
Jika mendengar kata “waktu” dan “pemuda”Saya jadi teringat hadits ini :
“Kelak pada hari kiamat, kaki seorang anak manusia tidak akan tergelincir (ke surga atau ke neraka) dari sisi Rabbnya, hingga lima perkara ditanyakan kepadanya: tentang usianya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia dapatkan, dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Tirmidzi)
Betapa Allah mengingatkan manusia tentang dua hal yang berkaitan dengan waktu, yaitu USIA dan MASA MUDA. Mengapa terpisah? Karena masa muda adalah masa produktif yang harus disorot lebih besar porsinya. Masa tua itu tergantung dari masa mudanya (sehingga orang tua yang menganggap bahwa anak-anaknya yang masih remaja diberi kebebasan bergaul dengan alasan “masih muda, jadi biarin aja”, bisa ditepis dengan hadits ini).
______
Batas waktu yang Allah berikan kepada manusia adalah 24 jam sehari. Semua manusia sama. Tak ada yang spesial untuk diberikan lebih dari itu. Ada yang 24 jam sehari hanya dihabiskan dengan makan dan tidur, nggak produktif sama sekali, bahkan ada yang ngatur diri sendiri aja nggak bisa, disisi lain ada juga yang dalam 24 jam sehari bisa mengatur negara atau perusahaan besar dengan ribuan karyawannya. Mengapa demikian? Satu kata. PERCEPATAN!
Percepatan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Ketika kita bisa memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif disaat orang lain diluar sana kebanyakan malah bermalas-malasan maka itu bisa dikatakan sebagai salahsatu bentuk percepatan. Misalnya, kenapa negara Jepang lebih maju ketimbang negara kita? Padahal kita merdeka duluan? Karena trik percepatan model ini. Budaya membaca masyarakat jepang sangat tinggi, sehingga ke stasiun-stasiun, dalam kendaraan umum, di ruang-ruang tunggu mereka selalu membaca buku. Jam kerja dan waktu-waktu produktif mereka tinggi. Itu percepatan. Namun percepatan yang lebih dahsyat adalah ketika kita bisa mengkader banyak orang untuk memiliki potensi yang sama dengan diri kita, sehingga mampu menggantikan sebagian besar peran kita bahkan melipatgandakan kinerja kita. Semakin banyak orang yang kita kader, kita organisir, kita bina, maka semakin berlipat produktifitas kita. Itulah percepatan.
Namun apa bisa melakukan percepatan/pelipatgandaan efektifitas waktu dalam hal mencari pahala? Jawabnya, insyaAllah bisa! Gimana? Ingat hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah ra. ini :
“Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan dalam Islam kemudian mengamalkan hal itu sepeninggalnya, maka bagi yang mengajak tadi pahalanya sama dengan yang diajak. Sedikitpun tidak mengurangi pahala yang diajak.” (HR. Muslim)
Artinya, semakin sering kita melakukan aktifitas dakwah dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka secara tidak langsung kita sedang berupaya melipatgandakan pahala disisi Allah. Semakin banyak orang yang melakukan kebaikan karena ajakan kita, semakin berkali-lipat pula pahalanya. Subhanallah!
Cukup banyak yang semestinya materi yang bisa dituliskan untuk membahas tentang efektifitas waktu. InsyaAllah akan dibahas di lain waktu. Terakhir, …satu hal yang harus anda ingat selalu dalam materi ini adalah “PERCEPATAN”. Ayo kita praktekkan sekarang juga! Ini urgent! [aa]
Re-Construct Your Dreams!
Orang-orang yang melamar pekerjaan, ketika ditanya motivasinya apa ketika job interview, jawabnya seringkali menunjukkan betapa dirinya tidak memiliki motivasi yang kuat dalam hidupnya. Ada yang mengatakan,”untuk supaya dapat penghasilan”, “untuk tambahan penghasilan”, “ingin nambah pengalaman”, “karena dari dulu ingin kerja disini”, dll. Yang saat ini jadi mahasiswa, kalo ditanya motivasinya kuliah apa, jawabnya standar, “biar bisa kerja”, “supaya dapat gelar sarjana”, “biar pinter”, dan banyak jawaban serupa lainnya. Ini semua adalah indikasi bahwa memang kita tidak punya cita-cita/impian yang BESAR dan TINGGI.
Bukan hanya itu, kalo kita tanyakan secara serius dan mendalam tentang planning-planning apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa nantinya setelah lulus dan gambaran hidup seperti apa yang menjadi tujuannya kelak, jawabannya rata-rata adalah sama, “belum tahu, ya nanti ngalir aja lah”, atau “nggak tahu, masih jauh, lihat dulu nanti gimana”.
Hal ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap prestasinya sehari-hari. Akan sangat berbeda tingkat produktifitas orang-orang yang tidak memiliki cita-cita/impian yang tinggi atau bahkan tidak punya cita-cita/impian dengan orang-orang yang sudah tahu apa tujuan/ impian/ cita-cita/ target hidupnya nanti. Orang-orang yang tidak punya cita-cita yang tinggi atau bahkan tidak memiliki cita-cita sulit untuk mau memaksimalkan seluruh potensi dirinya. Dirinya merasa tidak memiliki garis finish yang harus segera dicapai. Semangatnya dalam menyelesaikan setiap pekerjaannya hanya biasa-biasa saja. Nggak terlalu spesial. Bahkan masa depannya bisa jadi nggak jelas.
Sedangkan orang-orang yang punya cita-cita/impian yang besar akan terus mengingat-ingat impian itu sehingga tak akan mau dirinya melakukan hal yang sia-sia, yang menjauhkan dirinya dari tujuan, dan yang tidak produktif. Semangatnya, motivasinya, tidak mudah luntur. Karena dia tahu ada hal yang besar yang belum dia capai. 'Pandangan'nya fokus ke arah impiannya, tidak mudah menoleh untuk berbelok kepada lainnya.
Muslimin-muslimah muda sangatlah banyak yang terjangkit wabah 'nggak punya impian'. Mungkin secara langsung mereka akan menolak dikatakan begitu. Mereka pasti bilang bahwa saya punya impian. Namun impian itu hanya sebatas layaknya anak SD ketika ditanya “pengen jadi apa kalo udah gede nanti?”. Impian itu hanya sebatas obsesi spontan yang tidak terlalu mengakar dalam diri dan dipahami maknanya. Mungkin beberapa waktu kemudian berubah-ubah menjadi hal yang lain lagi. Jangan dipungkiri, kita semua pernah mengalami krisis ini. Tak terkecuali saya sendiri sampai 4-5 tahun lalu saya baru menyadarinya. Ternyata memang saya merasakan bara semangat yang berbeda ketika sudah menemukan impian/cita-cita itu. Saya sering menyebutnya Achievement Motive.
Rasulullah Saw dan para sahabat bisa berhasil membangun peradaban paling fenomenal sepanjang sejarah dunia karena dibangun berdasarkan cita-cita yang tinggi. Cita-cita yang besar tentang bagaimana menyempurnakan tugasnya dari Allah Ta'ala untuk umat manusia.
Impian yang benar itu harus memenuhi karakteristik yang benar pula. Saya menyimpulkannya dalam sebuah kata UMMAH. Berikut penjabarannya :
UKHRAWI
Impian kita jangan sampai tidak memiliki tujuan ukhrawi atau berorientasi pada kesuksesan di akhirat kelak. Duniawi boleh, namun nomor dua. Yang pertama tetap akhirat. Mengapa? Karena kalau kita hanya mengejar kepentingan dunia saja tanpa memiliki niat ikhlas dalam rangka mengabdi kepada Allah maka hanya dunia saja yang kita dapat. Akhiratnya nggak. Namun jika orientasinya akhirat, maka dua yang kita dapat. Akhirat iya, dunia juga iya. Allah berfirman:
“Carilah dari apa yang dianugerahkan Allah untuk meraih kehidupan akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia” (QS.Al-Qashash: 77)
Rasulullah bersabda:
“Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)
“Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Maksud hadits diatas, ketika jari dicelupkan ke dalam laut lalu diangkat, air yang menetes di ujung jari itulah perumpamaan dunia, sedangkan air laut yang terbentang dihadapannya adalah perumpamaan akhirat. Ini berarti orientasi akhirat sangat-sangat-sangat harus diprioritaskan. Apalagi Allah memberikan peringatan keras bagi pengumpul harta didunia untuk kepentingan dunianya saja.
MOTIVATIVELY.
Kalau punya cita-cita/impian itu harus yang memotivasi. Kalo punya cita-cita/impian tapi tidak membuat anda semangat untuk meraihnya maka itu bukan cita-cita/impian yang cocok untuk anda. Cari yang lain aja.
MEASURABLE
Impian yang bener harus bisa diukur, maksudnya diukur waktu pencapaiannya, bisa dibreakdown menjadi target-target jangka pendek yang spesifik, dan bisa digambarkan 'visualnya' (minimal dalam benak kita).
ACHIEVEABLE
Yang memungkinkan/masuk-akal untuk dicapai. Cita-cita tinggi boleh, tapi bukan ingin jadi Rambo, Superman, Spiderman atau Power Ranger. Haha! Yah, yang penting diri kita sendiri yang bisa mengira-ngira apakah cita-cita itu masuk akal atau tidak. Kadang cita-cita bisa masuk kategori 'gila' bagi orang lain. Namun ukuran itu kita sendiri yang tahu. Mungkin bagi orang lain tidak mungkin, namun jika kita katakan mungkin, ya mungkin saja tercapai.
HI-GROW
Yaitu impian yang tinggi dan selalu tumbuh lebih tinggi, tidak cepat puas dengan tercapainya impian-impian kecil, namun selalu tumbuh menjadi impian yang lebih besar.
InsyaAllah dengan kriteria ini impian kita jadi benar. Wallahua'lam. [aa]
Bukan hanya itu, kalo kita tanyakan secara serius dan mendalam tentang planning-planning apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa nantinya setelah lulus dan gambaran hidup seperti apa yang menjadi tujuannya kelak, jawabannya rata-rata adalah sama, “belum tahu, ya nanti ngalir aja lah”, atau “nggak tahu, masih jauh, lihat dulu nanti gimana”.
Hal ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap prestasinya sehari-hari. Akan sangat berbeda tingkat produktifitas orang-orang yang tidak memiliki cita-cita/impian yang tinggi atau bahkan tidak punya cita-cita/impian dengan orang-orang yang sudah tahu apa tujuan/ impian/ cita-cita/ target hidupnya nanti. Orang-orang yang tidak punya cita-cita yang tinggi atau bahkan tidak memiliki cita-cita sulit untuk mau memaksimalkan seluruh potensi dirinya. Dirinya merasa tidak memiliki garis finish yang harus segera dicapai. Semangatnya dalam menyelesaikan setiap pekerjaannya hanya biasa-biasa saja. Nggak terlalu spesial. Bahkan masa depannya bisa jadi nggak jelas.
Sedangkan orang-orang yang punya cita-cita/impian yang besar akan terus mengingat-ingat impian itu sehingga tak akan mau dirinya melakukan hal yang sia-sia, yang menjauhkan dirinya dari tujuan, dan yang tidak produktif. Semangatnya, motivasinya, tidak mudah luntur. Karena dia tahu ada hal yang besar yang belum dia capai. 'Pandangan'nya fokus ke arah impiannya, tidak mudah menoleh untuk berbelok kepada lainnya.
Muslimin-muslimah muda sangatlah banyak yang terjangkit wabah 'nggak punya impian'. Mungkin secara langsung mereka akan menolak dikatakan begitu. Mereka pasti bilang bahwa saya punya impian. Namun impian itu hanya sebatas layaknya anak SD ketika ditanya “pengen jadi apa kalo udah gede nanti?”. Impian itu hanya sebatas obsesi spontan yang tidak terlalu mengakar dalam diri dan dipahami maknanya. Mungkin beberapa waktu kemudian berubah-ubah menjadi hal yang lain lagi. Jangan dipungkiri, kita semua pernah mengalami krisis ini. Tak terkecuali saya sendiri sampai 4-5 tahun lalu saya baru menyadarinya. Ternyata memang saya merasakan bara semangat yang berbeda ketika sudah menemukan impian/cita-cita itu. Saya sering menyebutnya Achievement Motive.
Rasulullah Saw dan para sahabat bisa berhasil membangun peradaban paling fenomenal sepanjang sejarah dunia karena dibangun berdasarkan cita-cita yang tinggi. Cita-cita yang besar tentang bagaimana menyempurnakan tugasnya dari Allah Ta'ala untuk umat manusia.
Impian yang benar itu harus memenuhi karakteristik yang benar pula. Saya menyimpulkannya dalam sebuah kata UMMAH. Berikut penjabarannya :
UKHRAWI
Impian kita jangan sampai tidak memiliki tujuan ukhrawi atau berorientasi pada kesuksesan di akhirat kelak. Duniawi boleh, namun nomor dua. Yang pertama tetap akhirat. Mengapa? Karena kalau kita hanya mengejar kepentingan dunia saja tanpa memiliki niat ikhlas dalam rangka mengabdi kepada Allah maka hanya dunia saja yang kita dapat. Akhiratnya nggak. Namun jika orientasinya akhirat, maka dua yang kita dapat. Akhirat iya, dunia juga iya. Allah berfirman:
“Carilah dari apa yang dianugerahkan Allah untuk meraih kehidupan akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia” (QS.Al-Qashash: 77)
Rasulullah bersabda:
“Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)
“Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Maksud hadits diatas, ketika jari dicelupkan ke dalam laut lalu diangkat, air yang menetes di ujung jari itulah perumpamaan dunia, sedangkan air laut yang terbentang dihadapannya adalah perumpamaan akhirat. Ini berarti orientasi akhirat sangat-sangat-sangat harus diprioritaskan. Apalagi Allah memberikan peringatan keras bagi pengumpul harta didunia untuk kepentingan dunianya saja.
MOTIVATIVELY.
Kalau punya cita-cita/impian itu harus yang memotivasi. Kalo punya cita-cita/impian tapi tidak membuat anda semangat untuk meraihnya maka itu bukan cita-cita/impian yang cocok untuk anda. Cari yang lain aja.
MEASURABLE
Impian yang bener harus bisa diukur, maksudnya diukur waktu pencapaiannya, bisa dibreakdown menjadi target-target jangka pendek yang spesifik, dan bisa digambarkan 'visualnya' (minimal dalam benak kita).
ACHIEVEABLE
Yang memungkinkan/masuk-akal untuk dicapai. Cita-cita tinggi boleh, tapi bukan ingin jadi Rambo, Superman, Spiderman atau Power Ranger. Haha! Yah, yang penting diri kita sendiri yang bisa mengira-ngira apakah cita-cita itu masuk akal atau tidak. Kadang cita-cita bisa masuk kategori 'gila' bagi orang lain. Namun ukuran itu kita sendiri yang tahu. Mungkin bagi orang lain tidak mungkin, namun jika kita katakan mungkin, ya mungkin saja tercapai.
HI-GROW
Yaitu impian yang tinggi dan selalu tumbuh lebih tinggi, tidak cepat puas dengan tercapainya impian-impian kecil, namun selalu tumbuh menjadi impian yang lebih besar.
InsyaAllah dengan kriteria ini impian kita jadi benar. Wallahua'lam. [aa]
MOST WANTED: YOUNG & GREAT MUSLIMS
Tidak banyak umat Islam zaman sekarang ini yang menjadi orang-orang hebat. Kita lebih bisa dikenal sebagai umat ‘pengekor’ dimata umat yang lainnya. Bagaimana tidak, ketika di Indonesia umat Islam masih saja berdebat soal masalah perhitungan bulan (penentuan awal dan akhir Ramadhan), sedangkan orang Yahudi dan Nasrani sudah menginjakkan kaki di bulan. Kita telah lama menjadi bulan-bulanan dan bahan tertawaan kaum kuffar karena kebodohan kita. Kita dikatakan bodoh karena ketidak becusan diri kita memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang Allah berikan kepada kita. Betapa Allah berkali-kali berfirman dalam Al-Qur’an tentang kehebatan kita sebagai seorang muslim, sebagai umat Muhammad Saw.
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….” (QS. Mujadillah: 11)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Masih banyak lagi ayat dan hadits jelas menggambarkan potensi dahsyat sebagai seorang muslim.
Kalo kita membaca lagi prestasi yang telah dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat, cukup bagi kita memposisikan mereka sebagai bukti ‘the great of the muslim’. Rasulullah Saw itu sejak kecil sudah tidak punya ayah, nggak punya banyak modal, namun usia belasan tahun sudah berdagang hingga ke luar negeri. Bukan cuman sekali, tapi berkali-kali dia melakukan perjalanan dagang itu. Modalnya yang paling dahsyat hanya kejujuran beliau. Kehebatan itu disambung dengan menikahnya beliau dengan Khadijah dimana maharnya saja 100 ekor unta. Mungkin kalo dirupiahkan sekitar 1 Milyar rupiah. Dan tahukah anda usia berapa itu dilakukan? 20 Tahun!!!
Bukan hanya Rasulullah Saw saja, tapi para sahabat ketika itu banyak yang dalam usia masih sangat-sangat muda namun memiliki prestasi yang gemilang. Sebut saja Zaid bin Tsabit, Zubair bin Awwam, Mu’awwidz, Muadz, Ali bin Abi Thalib, dll.
Lalu bagaimana potret prestasi kita ketika masih muda? Saat belasan tahun, malah pas lagi bandel-bandelnya, manja, suka nakal, tiap hari yang dipikirkan cuma main melulu. Kata teman-teman “mumpung masih muda!”. Sejak kecil sudah suka nggak jujur. Udah gitu, ada juga saya temui, orang tua yang nyuruh anaknya nggak jujur! Misalnya, nyuruh anaknya nyontek kalo ujian, dan sebagainya. Pas, SMU, jijik banget kalo denger kata ‘jualan’. Entah takut dipikir ‘sales’ kali ye?! Kalo udah gitu mending minta aja terus sama emaknya. Tiap butuh apa aja langsung dituruti oleh orang tua. Si orang tua sendiri juga nggak pernah merasa bersalah mendidik anak dengan standar-standar kayak gitu. Yang jadi masalah adalah standar-standar yang dipakai itu justru menjadikan anak lebih jauh dari prestasi. Udah mentalnya jadi ‘mental kripik’, cengeng, dan gak mandiri.
Umat Islam juga masih banyak tertinggal dengan umat lain soal wawasan keilmuan. Betapa banyak umat Islam yang merasa cukup hanya belajar agama saja dan anti terhadap disiplin-disiplin ilmu lainnya. Padahal jika kita ingin membentuk peradaban maka Islam ini harus menjadi problem solver untuk segala aspek kehidupan. Jika kita merasa cukup dengan belajar Islam saja, maka bersiaplah kita menerima sektor-sektor kedokteran, arsitektur, mesin, manajemen, perbankan, ilmu sosial, industri, dll yang dikuasai orang-orang kafir. Jika itu terjadi, akan semakin tertinggal diri kita dengan lainnya.
Ilmu agama menjadi prioritas utama kita untuk dipelajari, namun untuk membangun peradaban yang perjalanannya berat dan panjang ini perlu juga kita masuki bidang-bidang keilmuan lainnya. Ilmu tentang syariat dapet, akidah manteb, ibadah sregep (rajin), akhlak juga sreg, sekaligus disiplin ilmu lainnya juga kita serep (serap). Siap sudah kita terjun ke lapangan menghadapi segala problematika umat ini. Lengkap! Didunia bisa berkarya sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan umat, akhirat udah menanti dapet catetan amalan yang melimpah.
Tidak semua orang harus seperti ini, memang, umat Islam harus eksis dengan job desk masing-masing. Ada yang ada di garis depan medan jihad, ada yang menjadi ulama, ada yang berjuang lewat politik, ada yang berjuang mensyi’arkan tauhid dan memberantas kemusyrikan, dll. Nah, kita bisa memposiskan diri sebagai da’i-da’i yang tersebar di berbagai bidang di masyarakat. Mungkin bisa dengan bentuk fisik sebagai entrepreneur, bisa jadi dosen, bisa jadi ahli-ahli kedokteran, ekonomi, dll.
Para pemuda kita, banyak juga diantara mereka yang merasa cukup belajar ilmu pengetahuan saja sedangkan ilmu agamanya sama sekali gak dilirik. Seperti yang terjadi di sebuah kampus di Surabaya, kalo udah ada kuliah agama Islam atau mentoring (semacam pembinaan Islam modelnya mirip halaqoh) langsung kumat virus malesnya. Mungkin ilmu agama bagi mereka nggak populer kali ya? Tapi cuman yang blo’on yang ngomong gitu! Emangnya ntar kalo di akhirat yang dihisab apa bukan keilmuan kita tentang agama dulu?!!Bisa-bisa yang gak tau agamanya sendiri bukan tersesat di dunia aja, tapi akhirat juga. Bukankah Einstein yang kafir aja bisa bilang kalo ilmu pengetahuan tanpa agama=pincang? Plis deh, gais! Yu yang nggak gaul!...(loh, kok jadi emosi gini ya?)
Ok, kembali lagi, kesimpulannya, dulu ketika Islam itu pernah jaya luar biasa itu sangat jelas dikarenakan oleh pribadi-pribadi muslim ketika itu yang luar biasa pula. Artinya, kejayaan Islam ini tak akan mungkin terulang kembali sebelum umat Islam kembali memaksimalkan potensi dirinya seperti dulu. Bukti-bukti telah banyak kita temui jika kita mempelajari sejarah Islam. Figur-figur legendaris waktu itu sudah banyak pula dihimpun ceritanya dalam buku-buku. Kini tongkat estafet itu kita yang pegang, ini sudah menjadi tanggungjawab kita semua sebagai umat Islam, jangan kita menuju finish hanya dengan berjalan kaki, tapi LAKUKAN YANG TERBAIK DARI DIRIMU! Berlarilah dengan seluruh potensi yang diberi Allah kepadamu! Ok?....Siap? ….tu, wa, ga, …FFFFFFIIIIIIIIIIIIIIIIIGHT!!!
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….” (QS. Mujadillah: 11)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Masih banyak lagi ayat dan hadits jelas menggambarkan potensi dahsyat sebagai seorang muslim.
Kalo kita membaca lagi prestasi yang telah dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat, cukup bagi kita memposisikan mereka sebagai bukti ‘the great of the muslim’. Rasulullah Saw itu sejak kecil sudah tidak punya ayah, nggak punya banyak modal, namun usia belasan tahun sudah berdagang hingga ke luar negeri. Bukan cuman sekali, tapi berkali-kali dia melakukan perjalanan dagang itu. Modalnya yang paling dahsyat hanya kejujuran beliau. Kehebatan itu disambung dengan menikahnya beliau dengan Khadijah dimana maharnya saja 100 ekor unta. Mungkin kalo dirupiahkan sekitar 1 Milyar rupiah. Dan tahukah anda usia berapa itu dilakukan? 20 Tahun!!!
Bukan hanya Rasulullah Saw saja, tapi para sahabat ketika itu banyak yang dalam usia masih sangat-sangat muda namun memiliki prestasi yang gemilang. Sebut saja Zaid bin Tsabit, Zubair bin Awwam, Mu’awwidz, Muadz, Ali bin Abi Thalib, dll.
Lalu bagaimana potret prestasi kita ketika masih muda? Saat belasan tahun, malah pas lagi bandel-bandelnya, manja, suka nakal, tiap hari yang dipikirkan cuma main melulu. Kata teman-teman “mumpung masih muda!”. Sejak kecil sudah suka nggak jujur. Udah gitu, ada juga saya temui, orang tua yang nyuruh anaknya nggak jujur! Misalnya, nyuruh anaknya nyontek kalo ujian, dan sebagainya. Pas, SMU, jijik banget kalo denger kata ‘jualan’. Entah takut dipikir ‘sales’ kali ye?! Kalo udah gitu mending minta aja terus sama emaknya. Tiap butuh apa aja langsung dituruti oleh orang tua. Si orang tua sendiri juga nggak pernah merasa bersalah mendidik anak dengan standar-standar kayak gitu. Yang jadi masalah adalah standar-standar yang dipakai itu justru menjadikan anak lebih jauh dari prestasi. Udah mentalnya jadi ‘mental kripik’, cengeng, dan gak mandiri.
Umat Islam juga masih banyak tertinggal dengan umat lain soal wawasan keilmuan. Betapa banyak umat Islam yang merasa cukup hanya belajar agama saja dan anti terhadap disiplin-disiplin ilmu lainnya. Padahal jika kita ingin membentuk peradaban maka Islam ini harus menjadi problem solver untuk segala aspek kehidupan. Jika kita merasa cukup dengan belajar Islam saja, maka bersiaplah kita menerima sektor-sektor kedokteran, arsitektur, mesin, manajemen, perbankan, ilmu sosial, industri, dll yang dikuasai orang-orang kafir. Jika itu terjadi, akan semakin tertinggal diri kita dengan lainnya.
Ilmu agama menjadi prioritas utama kita untuk dipelajari, namun untuk membangun peradaban yang perjalanannya berat dan panjang ini perlu juga kita masuki bidang-bidang keilmuan lainnya. Ilmu tentang syariat dapet, akidah manteb, ibadah sregep (rajin), akhlak juga sreg, sekaligus disiplin ilmu lainnya juga kita serep (serap). Siap sudah kita terjun ke lapangan menghadapi segala problematika umat ini. Lengkap! Didunia bisa berkarya sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan umat, akhirat udah menanti dapet catetan amalan yang melimpah.
Tidak semua orang harus seperti ini, memang, umat Islam harus eksis dengan job desk masing-masing. Ada yang ada di garis depan medan jihad, ada yang menjadi ulama, ada yang berjuang lewat politik, ada yang berjuang mensyi’arkan tauhid dan memberantas kemusyrikan, dll. Nah, kita bisa memposiskan diri sebagai da’i-da’i yang tersebar di berbagai bidang di masyarakat. Mungkin bisa dengan bentuk fisik sebagai entrepreneur, bisa jadi dosen, bisa jadi ahli-ahli kedokteran, ekonomi, dll.
Para pemuda kita, banyak juga diantara mereka yang merasa cukup belajar ilmu pengetahuan saja sedangkan ilmu agamanya sama sekali gak dilirik. Seperti yang terjadi di sebuah kampus di Surabaya, kalo udah ada kuliah agama Islam atau mentoring (semacam pembinaan Islam modelnya mirip halaqoh) langsung kumat virus malesnya. Mungkin ilmu agama bagi mereka nggak populer kali ya? Tapi cuman yang blo’on yang ngomong gitu! Emangnya ntar kalo di akhirat yang dihisab apa bukan keilmuan kita tentang agama dulu?!!Bisa-bisa yang gak tau agamanya sendiri bukan tersesat di dunia aja, tapi akhirat juga. Bukankah Einstein yang kafir aja bisa bilang kalo ilmu pengetahuan tanpa agama=pincang? Plis deh, gais! Yu yang nggak gaul!...(loh, kok jadi emosi gini ya?)
Ok, kembali lagi, kesimpulannya, dulu ketika Islam itu pernah jaya luar biasa itu sangat jelas dikarenakan oleh pribadi-pribadi muslim ketika itu yang luar biasa pula. Artinya, kejayaan Islam ini tak akan mungkin terulang kembali sebelum umat Islam kembali memaksimalkan potensi dirinya seperti dulu. Bukti-bukti telah banyak kita temui jika kita mempelajari sejarah Islam. Figur-figur legendaris waktu itu sudah banyak pula dihimpun ceritanya dalam buku-buku. Kini tongkat estafet itu kita yang pegang, ini sudah menjadi tanggungjawab kita semua sebagai umat Islam, jangan kita menuju finish hanya dengan berjalan kaki, tapi LAKUKAN YANG TERBAIK DARI DIRIMU! Berlarilah dengan seluruh potensi yang diberi Allah kepadamu! Ok?....Siap? ….tu, wa, ga, …FFFFFFIIIIIIIIIIIIIIIIIGHT!!!
The Power Of Believe
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Hampir setiap cermah, khotbah jumat, dan kajian-kajian Islam, seringkali ayat diatas dibacakan. Saya sangat yakin sebagian besar dari umat Islam pernah mendengar ayat ini sebelumnya. Ayat yang Allah memuji hambanya sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan beriman kepada Allah Ta’ala. Betapa Allah telah memberikan gelar kepada kita untuk masuk dalam kategori yang sangat mulia. Sangat terpuji. Sangat hebat. The Greatest Ummah! Tapi celakanya, TIDAK SEMUA YANG TAHU AYAT INI YAKIN BAHWA DIRINYA ADALAH UMAT YANG TERBAIK! Buktinya?! Lihat saja umat ini jadi jarang berprestasi. Bukankah keyakinan akan menumbuhkan motivasi yang luar biasa untuk melakukan sesuatu yang diyakininya itu? Tapi mana? Pemuda-pemuda muslim kita, (maaf)….mlempem.
Dengan meyakini bahwa kita adalah “umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” akan dapat menguatkan percaya diri kita. Kita akan merasa bangga berada dalam agama yang mulia ini. Kita akan memiliki kemauan yang kuat untuk membuktikan kepada setiap orang dan umat lain bahwa benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Dengan meyakini kita adalah umat yang terbaik tidak akan membuat diri kita lemah, tertinggal dan miskin prestasi.
Tanpa keyakinan yang kuat, tidak akan menghasilkan pribadi-pribadi yang memiliki strong will (Kemauan yang kuat). Tanpa keyakinan tidak akan lahir pribadi-pribadi yang kuat, optimis, unstoppable (takterhentikan) dan semangat 45 dalam meraih prestasi-prestasi yang pahalanya telah disiapkan oleh Allah Ta’ala.
Umat Islam ini dalam sejarah memiliki banyak prestasi yang luar biasa dalam hal peperangan melawan kaum kuffar yang zholim. Dalam yang sangat fenomenal sepanjang sejarang umat Islam, Perang Badar. Pasukan muslim yang hanya 300 orang ternyata bisa mengalahkan 1000 tentara kafir. Hal ini tidak akan terjadi tanpa KEYAKINAN DAN KEMAUAN YANG KUAT. Keyakinan dalam Islam bisa berupa keyakinan akan ketauhidan Allah Ta’ala, keyakinan akan Rasulullah Saw sebagai utusan yang mulia, keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, keyakinan bahwa Jihad adalah perintah mulia yang diberikan Allah Swt, keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambanya yang bertaqwa, keyakinan akan kemenangan Islam, keyakinan akan surga dan neraka, dan seterusnya, semuanya dapat menghasilkan Strong Will yang ber-output pada aksi nyata.
Afghanistan, Negara yang kecil jika dibandingkan dengan Rusia. Walaupun kecil, Afghanistan mampu mengalahkan Rusia dengan modal keyakinan yang kuat akan pahala syahid di sisi Allah Ta’ala. Saya pernah mendengar cerita bahwa ketika tentara-tentara Rusia itu bersiap akan berangkat perang melawan Afghanistan, banyak diantara mereka yang merasa gentar dan ketakutan. Mengapa? Apa yang ada dalam benak mereka? Ternyata karena mereka membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan berperang menghadapi tentara-tentara yang cita-cita tertingginya adalah MATI (baca: syahid –ed). Disini kita bisa mengukur betapa kadar keyakinan menumbuhkan pribadi-pribadi yang kuat. Yang mana musuh-musuh pun ikut digentarkan hatinya oleh Allah.
Begitu juga dalam hal ibadah, jika kita YAKIN bahwa Allah akan memberikan pahala surga bagi orang yang bertaqwa, maka setiap ibadah kita akan kita laksanakan dengan sepenuh hati. Pantang untuk menyia-nyiakan saat-saat bisa beribadah dengan maksimal. Tak ingin melewatkan setiap kekhusyukan pada tiap bermunujat kepada Allah. Karena tahu bahwa waktu tak akan terulang kembali. Setiap sholat wajib kita yang dilakukan dengan asal-asalan tak akan bisa ulangi lagi sewaktu-waktu. Kita juga akan memiliki tekad untuk menambah ibadah-ibadah sunnah untuk menutupi ketidaksempurnaan ibadah wajib kita. Hati kita akan terus merasa kurang dalam memaksimalkan potensi ibadah kita, sehingga berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki kualitasnya dan menambah kuantitasnya. Wallahu a’lam[aa]
Hampir setiap cermah, khotbah jumat, dan kajian-kajian Islam, seringkali ayat diatas dibacakan. Saya sangat yakin sebagian besar dari umat Islam pernah mendengar ayat ini sebelumnya. Ayat yang Allah memuji hambanya sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan beriman kepada Allah Ta’ala. Betapa Allah telah memberikan gelar kepada kita untuk masuk dalam kategori yang sangat mulia. Sangat terpuji. Sangat hebat. The Greatest Ummah! Tapi celakanya, TIDAK SEMUA YANG TAHU AYAT INI YAKIN BAHWA DIRINYA ADALAH UMAT YANG TERBAIK! Buktinya?! Lihat saja umat ini jadi jarang berprestasi. Bukankah keyakinan akan menumbuhkan motivasi yang luar biasa untuk melakukan sesuatu yang diyakininya itu? Tapi mana? Pemuda-pemuda muslim kita, (maaf)….mlempem.
Dengan meyakini bahwa kita adalah “umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” akan dapat menguatkan percaya diri kita. Kita akan merasa bangga berada dalam agama yang mulia ini. Kita akan memiliki kemauan yang kuat untuk membuktikan kepada setiap orang dan umat lain bahwa benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Dengan meyakini kita adalah umat yang terbaik tidak akan membuat diri kita lemah, tertinggal dan miskin prestasi.
Tanpa keyakinan yang kuat, tidak akan menghasilkan pribadi-pribadi yang memiliki strong will (Kemauan yang kuat). Tanpa keyakinan tidak akan lahir pribadi-pribadi yang kuat, optimis, unstoppable (takterhentikan) dan semangat 45 dalam meraih prestasi-prestasi yang pahalanya telah disiapkan oleh Allah Ta’ala.
Umat Islam ini dalam sejarah memiliki banyak prestasi yang luar biasa dalam hal peperangan melawan kaum kuffar yang zholim. Dalam yang sangat fenomenal sepanjang sejarang umat Islam, Perang Badar. Pasukan muslim yang hanya 300 orang ternyata bisa mengalahkan 1000 tentara kafir. Hal ini tidak akan terjadi tanpa KEYAKINAN DAN KEMAUAN YANG KUAT. Keyakinan dalam Islam bisa berupa keyakinan akan ketauhidan Allah Ta’ala, keyakinan akan Rasulullah Saw sebagai utusan yang mulia, keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, keyakinan bahwa Jihad adalah perintah mulia yang diberikan Allah Swt, keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambanya yang bertaqwa, keyakinan akan kemenangan Islam, keyakinan akan surga dan neraka, dan seterusnya, semuanya dapat menghasilkan Strong Will yang ber-output pada aksi nyata.
Afghanistan, Negara yang kecil jika dibandingkan dengan Rusia. Walaupun kecil, Afghanistan mampu mengalahkan Rusia dengan modal keyakinan yang kuat akan pahala syahid di sisi Allah Ta’ala. Saya pernah mendengar cerita bahwa ketika tentara-tentara Rusia itu bersiap akan berangkat perang melawan Afghanistan, banyak diantara mereka yang merasa gentar dan ketakutan. Mengapa? Apa yang ada dalam benak mereka? Ternyata karena mereka membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan berperang menghadapi tentara-tentara yang cita-cita tertingginya adalah MATI (baca: syahid –ed). Disini kita bisa mengukur betapa kadar keyakinan menumbuhkan pribadi-pribadi yang kuat. Yang mana musuh-musuh pun ikut digentarkan hatinya oleh Allah.
Begitu juga dalam hal ibadah, jika kita YAKIN bahwa Allah akan memberikan pahala surga bagi orang yang bertaqwa, maka setiap ibadah kita akan kita laksanakan dengan sepenuh hati. Pantang untuk menyia-nyiakan saat-saat bisa beribadah dengan maksimal. Tak ingin melewatkan setiap kekhusyukan pada tiap bermunujat kepada Allah. Karena tahu bahwa waktu tak akan terulang kembali. Setiap sholat wajib kita yang dilakukan dengan asal-asalan tak akan bisa ulangi lagi sewaktu-waktu. Kita juga akan memiliki tekad untuk menambah ibadah-ibadah sunnah untuk menutupi ketidaksempurnaan ibadah wajib kita. Hati kita akan terus merasa kurang dalam memaksimalkan potensi ibadah kita, sehingga berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki kualitasnya dan menambah kuantitasnya. Wallahu a’lam[aa]
Subscribe to:
Posts (Atom)