Re-Construct Your Dreams!

Orang-orang yang melamar pekerjaan, ketika ditanya motivasinya apa ketika job interview, jawabnya seringkali menunjukkan betapa dirinya tidak memiliki motivasi yang kuat dalam hidupnya. Ada yang mengatakan,”untuk supaya dapat penghasilan”, “untuk tambahan penghasilan”, “ingin nambah pengalaman”, “karena dari dulu ingin kerja disini”, dll. Yang saat ini jadi mahasiswa, kalo ditanya motivasinya kuliah apa, jawabnya standar, “biar bisa kerja”, “supaya dapat gelar sarjana”, “biar pinter”, dan banyak jawaban serupa lainnya. Ini semua adalah indikasi bahwa memang kita tidak punya cita-cita/impian yang BESAR dan TINGGI.

Bukan hanya itu, kalo kita tanyakan secara serius dan mendalam tentang planning-planning apa yang akan dilakukan oleh para mahasiswa nantinya setelah lulus dan gambaran hidup seperti apa yang menjadi tujuannya kelak, jawabannya rata-rata adalah sama, “belum tahu, ya nanti ngalir aja lah”, atau “nggak tahu, masih jauh, lihat dulu nanti gimana”.

Hal ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap prestasinya sehari-hari. Akan sangat berbeda tingkat produktifitas orang-orang yang tidak memiliki cita-cita/impian yang tinggi atau bahkan tidak punya cita-cita/impian dengan orang-orang yang sudah tahu apa tujuan/ impian/ cita-cita/ target hidupnya nanti. Orang-orang yang tidak punya cita-cita yang tinggi atau bahkan tidak memiliki cita-cita sulit untuk mau memaksimalkan seluruh potensi dirinya. Dirinya merasa tidak memiliki garis finish yang harus segera dicapai. Semangatnya dalam menyelesaikan setiap pekerjaannya hanya biasa-biasa saja. Nggak terlalu spesial. Bahkan masa depannya bisa jadi nggak jelas.

Sedangkan orang-orang yang punya cita-cita/impian yang besar akan terus mengingat-ingat impian itu sehingga tak akan mau dirinya melakukan hal yang sia-sia, yang menjauhkan dirinya dari tujuan, dan yang tidak produktif. Semangatnya, motivasinya, tidak mudah luntur. Karena dia tahu ada hal yang besar yang belum dia capai. 'Pandangan'nya fokus ke arah impiannya, tidak mudah menoleh untuk berbelok kepada lainnya.

Muslimin-muslimah muda sangatlah banyak yang terjangkit wabah 'nggak punya impian'. Mungkin secara langsung mereka akan menolak dikatakan begitu. Mereka pasti bilang bahwa saya punya impian. Namun impian itu hanya sebatas layaknya anak SD ketika ditanya “pengen jadi apa kalo udah gede nanti?”. Impian itu hanya sebatas obsesi spontan yang tidak terlalu mengakar dalam diri dan dipahami maknanya. Mungkin beberapa waktu kemudian berubah-ubah menjadi hal yang lain lagi. Jangan dipungkiri, kita semua pernah mengalami krisis ini. Tak terkecuali saya sendiri sampai 4-5 tahun lalu saya baru menyadarinya. Ternyata memang saya merasakan bara semangat yang berbeda ketika sudah menemukan impian/cita-cita itu. Saya sering menyebutnya Achievement Motive.

Rasulullah Saw dan para sahabat bisa berhasil membangun peradaban paling fenomenal sepanjang sejarah dunia karena dibangun berdasarkan cita-cita yang tinggi. Cita-cita yang besar tentang bagaimana menyempurnakan tugasnya dari Allah Ta'ala untuk umat manusia.

Impian yang benar itu harus memenuhi karakteristik yang benar pula. Saya menyimpulkannya dalam sebuah kata UMMAH. Berikut penjabarannya :

UKHRAWI
Impian kita jangan sampai tidak memiliki tujuan ukhrawi atau berorientasi pada kesuksesan di akhirat kelak. Duniawi boleh, namun nomor dua. Yang pertama tetap akhirat. Mengapa? Karena kalau kita hanya mengejar kepentingan dunia saja tanpa memiliki niat ikhlas dalam rangka mengabdi kepada Allah maka hanya dunia saja yang kita dapat. Akhiratnya nggak. Namun jika orientasinya akhirat, maka dua yang kita dapat. Akhirat iya, dunia juga iya. Allah berfirman:

“Carilah dari apa yang dianugerahkan Allah untuk meraih kehidupan akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia” (QS.Al-Qashash: 77)

Rasulullah bersabda:
“Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)

“Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Maksud hadits diatas, ketika jari dicelupkan ke dalam laut lalu diangkat, air yang menetes di ujung jari itulah perumpamaan dunia, sedangkan air laut yang terbentang dihadapannya adalah perumpamaan akhirat. Ini berarti orientasi akhirat sangat-sangat-sangat harus diprioritaskan. Apalagi Allah memberikan peringatan keras bagi pengumpul harta didunia untuk kepentingan dunianya saja.

MOTIVATIVELY.
Kalau punya cita-cita/impian itu harus yang memotivasi. Kalo punya cita-cita/impian tapi tidak membuat anda semangat untuk meraihnya maka itu bukan cita-cita/impian yang cocok untuk anda. Cari yang lain aja.

MEASURABLE
Impian yang bener harus bisa diukur, maksudnya diukur waktu pencapaiannya, bisa dibreakdown menjadi target-target jangka pendek yang spesifik, dan bisa digambarkan 'visualnya' (minimal dalam benak kita).

ACHIEVEABLE
Yang memungkinkan/masuk-akal untuk dicapai. Cita-cita tinggi boleh, tapi bukan ingin jadi Rambo, Superman, Spiderman atau Power Ranger. Haha! Yah, yang penting diri kita sendiri yang bisa mengira-ngira apakah cita-cita itu masuk akal atau tidak. Kadang cita-cita bisa masuk kategori 'gila' bagi orang lain. Namun ukuran itu kita sendiri yang tahu. Mungkin bagi orang lain tidak mungkin, namun jika kita katakan mungkin, ya mungkin saja tercapai.

HI-GROW
Yaitu impian yang tinggi dan selalu tumbuh lebih tinggi, tidak cepat puas dengan tercapainya impian-impian kecil, namun selalu tumbuh menjadi impian yang lebih besar.

InsyaAllah dengan kriteria ini impian kita jadi benar. Wallahua'lam. [aa]

No comments: