Ramadhan Kali Ini, Nggak Boleh Ada yang Miss!


Hari-hari yang sangat ditunggu dalam bulan yang indah ini sebentar lagi datang. Memori tentang Ramadhan yang lalu-lalu rasanya kembali hadir di ingatan. Setiap tahun ke tahun, Ramadhan selalu memberikan kesan yang indah bagi aku. Mulai saat-saat masih Sekolah Dasar, disekolah selalu diadakan acara “Pondok Romadhon” yang mengharuskan siswa untuk mengikuti program tarbiyah Ramadhan dari pagi hari hingga keesokan harinya. Malah terkadang bisa sampai menginap tiga hari lebih. Perasaan yang membahagiakan karena berkumpul bersama teman-teman, rasa senang ketika bisa memakai baju muslim bebas, kenikmatan ketika berbuka bersama, termasuk pula rasa bosan ketika harus mengaji dan shalat tarawih sebelas rakaat serta mendengarkan ceramahnya yang panjang, semuanya masih melekat hingga saat ini. Haha!...Walaupun dulu belum terlalu memahami arti bulan Ramadhan yang sesungguhnya, tapi cukuplah pengalaman itu memberikan kesan yang mendalam. Dan memang setiap Ramadhan dari tahun ke tahun punya kesan tersendiri.

Bukan hanya soal Pondok Ramadhan,…tapi memang setiap Ramadhan yang pernah saya lewati dari tahun ke tahun bersama keluarga dari tahun ke tahun memang memilki kesan tersendiri. Hal itu membekas didalam dada. Indahnya suasana keluarga ketika itu yang masing-masing saling berlomba-lomba dalam beribadah, selalu menyempatkan untuk berbuka dan sahur bersama meski mata ini mengantuk, mendengarkan tausiyah-tausiyah di televisi setelah Subuh, dan bercengkrama bersama keluarga sambil menunggu adzan Maghrib adalah saat-saat yang tidak pernah terlupa. Keindahan-keindahan suasana Ramadhan itulah yang seringkali membuat air mata orang-orang yang beriman harus menetes mengalir di pipi ketika bulan itu berakhir.

Karena hanya orang-orang beriman-lah yang selalu bahagia menyambut kedatangan bulan tersebut. Dan hanya orang-orang beriman-lah yang sedih ketika berpisah dengannya. Mereka adalah orang-orang yang paham betul betapa dahsyatnya rahmat Allah Ta’ala didalam bulan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa didalam bulan tersebut Allah Ta’ala mengobral surga untuk hamba-hambaNya dan menyebar ampunan seluas-luasnya. Oleh karenanya orang beriman tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya bulan ini. Mereka adalah orang yang takut waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan tidak membuat mereka terampuni dosa-dosanya. Mereka takut tidak mendapat peluang surga yang dijanjikan Allah Swt lewat hadirnya bulan ini.

Mungkin saya bukanlah orang yang belum memiliki kesempurnaan iman. Karena nyatanya saya masih saja luput dalam memanfaatkan Ramadhan. Dan penyesalan baru saya rasakan ketika bulan berkah itu sudah di penghujungnya. Saat itu, di akhir Ramadhan tahun lalu, saya berdo’a kepada Allah Ta’ala agar kiranya mengampuni dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Dosa karena telah ‘mengecewakan’-Nya, atas pemberian bulan Ramadhan yang ketika itu tidak saya manfaatkan dengan yang amal-amal terbaik. Saat itu, semua kata hanya mampu terucapkan dalam hati. Sulit bagi lisan saya untuk mengungkapkan penyesalan-penyesalan itu. Saya sadar semua itu telah berlalu. Tak akan mungkin waktu yang telah terlewat bisa diulang kembali. Oleh karenanya kemudian saya kembali berdo’a agar Allah Swt memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Saya memohon dengan sangat agar jangan sampai nyawa ini dicabut-Nya sebelum mempertemukan saya kembali dengan bulan yang indah itu, dan membimbing saya melakukan segala ibadah dibulan tersebut semaksimal mungkin.

Amin Ya Rabb...

***

Sekarang, ketika saya tulis catatan ini, Ramadhan sudah menunggu di depan mata. Dua minggu lagi jutaan rahmat dan pahala sudah Allah siapkan untuk ditaburkan dimuka bumi. Dan kita bebas memanen pahala sebanyak mungkin disana. Tiba-tiba saya teringat tentang apa saja yang harus kulakukan. Saya juga teringat tentang doa yang pernah saya panjatkan ketika akhir Ramadhan tahun lalu. Jika Ramadhan yang tahun lalu saya belum beribadah dengan sekuat tenaga, maka Ramadhan ini saya harus melakukannya dengan maksimal! Tidak boleh ada yang miss lagi kali ini! Dan dalam dua minggu ini akan saya siapkan lebih dulu ‘perbekalan’ untuk menghadapinya. Karena akan datang sebuah ‘perang’ besar. Perang untuk ‘menaklukkan’ diriku sendiri. Perang untuk memenangkan ganjaran surga! Maka sekali lagi,...TAK BOLEH ADA MISS DALAM RAMADHAN KALI INI!!! []

[Curhat Mingguan Abu Hafizh ke-41, menjelang Ramadhan, 9 Juli 2012, 05:53]

Penulis : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh
Editor : Bey Erest

(Andaikan) Ini Ramadhan Terakhirku...


Hari ini (21/07/2012) adalah hari pertama saya melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa ormas Islam di Indonesia sudah mulai berpuasa sejak kemarin. Seperti biasa, sebagian orang yang tahu ingin mendapat pahala besar dari Allah Swt pasti akan memiliki target-target yang harus dicapai selama bulan mulia ini berjalan. Ada yang bertekad mengkhatamkan Al-Quran. Entah satu kali, dua, atau tiga. Ada yang bertekad untuk memperbanyak shalat sunnah. Ada yang bertekad untuk selalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk Qiyamul Lail. Mengisi setiap detik mereka dengan hal-hal yang bernilai ibadah. Jangankan diisi dengan yang haram, yang mubah saja bagi orang-orang yang mengerti potensi Ramadhan akan merasa sayang. Pokoknya setiap detik harus berpahala! Gitu kira-kira.

Namun pada pelaksanaannya, target-target Ramadhan tidaklah semudah yang dikatakan. Umumnya orang akan semangat 45 di awal-awal Ramadhan saja. Semakin berkurang hari-hari akhir Ramadhan. Lihat saja jamaah shalat Tarawih. Bandingkan saja ketika awal Ramadhan dengan akhir Ramadhan. Semua orang semakin hari semakin loyo untuk mengejar potensi bulan ini yang padahal sudah jelas-jelas sudah mereka dipahami sejak awal. Mengapa itu terjadi?

***

Siang itu saya ikut sebuah kajian Islam. Meski topiknya bukan tentang Ramadhan, tapi sang pembicara mengingatkan satu hal begitu besar manfaatnya untuk memacu diri di bulan yang suci ini. Dia mengatakan jika kita masih berpikir kalau kita masih akan bertemu dengan Ramadhan-ramadhan ditahun-tahun berikutnya, maka itu akan membuat kita lebih santai dalam melihat potensi Ramadhan kali ini. Namun jika kita mampu me-mindsetkan diri kita bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka sudah bisa dipastikan kita akan berjuang mati-matian untuk mengisi setiap detik waktu kita dengan hal-hal yang berpotensi pahala, bertaubat memohon ampun atas seluruh dosa-dosa yang kita pernah lakukan.

Seketika itu hati saya terhentak! Benar sekali apa yang pembicara ini katakan. Mungkin keyword ini yang saya cari selama ini untuk menstabilkan motivasi saya beribadah di bulan Ramadhan ini sampai detik-detik penghabisan. Saya jadi ingat bagaimana Rasulullah Saw berwasiat kepada kita dalam haditsnya,

"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu (ibadah) seolah-olah kamu akan mati besok pagi" (HR. Imam Al Baihaqi)

Sebuah hadits yang sangat populer. Siapapun pernah mendengar hadits ini. Namun ternyata bisa menjadi kunci untuk mengkonsistenkan semangat kita hingga akhir Ramadhan. Karena mungkin Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita! Bisa jadi usia kita tidak sampai pada Ramadhan tahun depan! Maka jangan pernah lewatkan sedikitpun waktu tanpa potensi pahala! Sampai akhir!

***

Ya Allah,...Jangan biarkan aku mati sebelum Engkau ampuni seluruh dosa-dosaku. Jangan biarkan aku menjadi orang yang merugi setelah Engkau anugerahkan Ramadhan ini kepadaku... Amin. []

[Curhat Mingguan Ke-43, Abu Hafizh, 21 Juli 2012, 20:51]

Penulis : Aditya Abdurrahman
Editor : Faiq

Membaca: Beban atau Kebutuhan?




Sa'i Muslim Movement--Pagi tadi saya memang berniat datang lebih pagi dari biasanya. Walaupun kenyataannya ketika sampai di kampus tetap saja seperti jadwal biasanya. Sekitar pukul 07:45. Tadinya saya berniat lebih pagi karena saya ingin segera membawakan tumpukan fotokopian buku ajar untuk mahasiswa-mahasiswa saya. Saya memang menawarkan diri untuk memfotokopikan buku ajar yang menjadi rujukan kuliah saya itu. Karena saya hanya ingin mereka segera bisa mempelajarinya dan mengerjakan tugas-tugas resume yang harus mereka kumpulkan minggu depan. Karena saya juga tahu bahwa tugas resume tersebut tidak sedikit. Asal tahu aja, bukunya lebih tebal dari batu bata yang mungkin bisa sekaligus cocok untuk nglempar kepala maling jemuran. Belum lagi, yang lebih ‘mengerikan’ bagi mereka adalah karena buku itu full berbahasa inggris! Suruh baca yang berbahasa indonesia aja susahnya seperti disuruh minum jamu, apalagi bahasa inggris. Hmm pasti bikin mual.  
“Tidak suka membaca”, memang problematika yang dialami oleh hampir seluruh manusia di negeri ini. Mulai yang terlibat dalam aktivitas akademik, maupun yang tidak. Para guru dan dosen mengeluh, betapa susahnya para mahasiswa dan muridnya untuk mau membaca. Meskipun sudah diberikan berbagai suntikan motivasi dosis tinggi kepada mereka. Tetap saja. Membaca masih mereka anggap sebagai aktifitas yang berat, membebani, dan sama sekali tidak mengasyikkan . Apalagi menjadikan aktifitas membaca sebagai kebutuhan. Duh! Bisa-bisa ini cuma jadi impian.
Dosen memang tidak semuanya adalah orang yang literate. Jika memang kenyataannya ada dosen yang malas belajar –yang salah satunya adalah dengan membaca—maka satu-satunya pihak paling harus dikasihani adalah: mahasiswanya. Karena bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengajar yang baik jika sisi keilmuannya tidak bertambah? Dengan kata lain, apa yang bisa menjadi ‘output’ ilmu dari orang seperti itu kalau tidak ada ‘input’ yang signifikan kedalam dirinya? Pasti kuliah kering, sepi, jayus, dan saya bisa membayangkan betapa beratnya perjuangan para mahasiswa yang diajarnya untuk tetap duduk manis menahan ngantuk. Bagaimana tidak, dosen yang dihadapannya ngajar kuliah seperti mendiktekan diktat kuliahnya kepada para mahasiswa.
Menyukai aktivitas membaca memang bukan hobby yang tiba-tiba turun dari langit. Atau hobby yang mudah ditiru seperti entengnya membalikkan telapak tangan. Tidak. Membaca merupakan hasil dari proses pembiasaan. Habit. Yang dibangun dan dilatih terus menerus hingga bertahun-tahun lamanya. Anak-anak yang sejak bayi sudah dibiasakan untuk mengenal benda bernama buku, dibiasakan familiar dengannya, lalu didukung dengan orangtuanya yang suka membacakan untuknya, maka anak tersebut besar kemungkinannya akan tumbuh dewasa seiring dengan interaksinya dengan buku yang semakin meningkat. Begitu pula sebaliknya. Jika sejak bayi, pembiasaan yang dilakukan orang tuanya kepada sang anak adalah mainan, televisi, dan video-game, maka bisa dipastikan mental anak tersebut ketika dewasa akan jauh dari buku. Ilustrasi yang terakhir inilah yang sekarang jumlahnya lebih banyak dimasyarakat. Saya jadi ingat lirik lagu band punk atheis dari California (AS), Bad Religion, ketika mengkritisi generasi muda sekarang yang sangat malas dan ‘no future’:
“...say I’m a 21st Century Digital BoyI don’t know how to readBut i have a lot of toys.My daddy is lazyMiddle class intelectualMy mommy on valiumSo ineffectual” –21st Century Digital Boy, Bad Religion
Meski lirik lagu tidak bisa dijadikan dalil, tapi apa yang mereka katakan memang terjadi dalam fenomena saat ini. Anak-anak yang lebih mencintai mainan, televisi dan video-game daripada ilmu. Figur ayah merasa tidak ikut bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya. Semua dianggap sang ibu-lah yang menghandle semua urusan rumah dan pendidikan anak. Ditambah lagi ke-kurangfaham-an orang tua terhadap pentingnya ilmu yang ditanamkan sejak dini. Sehingga anak-anaknya tumbuh dewasa justru dengan bimbingan lingkungan pergaulannya disekolah. Tidak hanya itu, anak-anak tumbuh dengan didikan televisi dan video-game. Wajar jika fenomena seperti saat ini terjadi.
Mungkin, ini merupakan dampak buruk modernisasi menjadikan kehidupan generasi saat ini inginnya serba instan, manja, malas berpikir dan malas bekerja. Mereka mengira bisa dengan mudah lulus kuliah dengan nilai yang baik tanpa belajar keras setiap hari. Mereka pikir bisa lulus mendapat gelar dan IPK terbaik yang mereka inginkan ketika wisuda tanpa harus bergelut dengan tumpukan buku-buku bacaan. Tidak. Tidak akan mungkin terjadi.
Maka dari itu, mulailah berkenalan dengan buku-buku. Berbaik hatilah dengannya. Ajak mereka berkomunikasi. Kenali kepribadiannya. Maka selanjutnya kau akan jatuh cinta kepadanya. Jadikan mereka sesuatu yang berharga bagimu. Hingga jikalau tak ada mereka, hatimu terasa tidak lengkap. Sampai akhirnya kau sadar bahwa ketika itu kau sudah menjadikan aktifitas membaca sebagai kebutuhan primer dalam hidupmu. Bukan lagi tekanan dan beban seperti hal dahulu.[]
(Abu Hafizh, Catatan Mingguan Ke-3, Rabu, 26 oktober 2011. 9:33 AM)

Suatu Hari di Kelas Komunikasi




Sa'i Muslim Movement--Profesi utama saya yang kedua adalah mengajar sebagai dosen. Profesi itu memang urutan kedua setelah profesi saya sebagai kepala keluarga. Sebagai dosen, saya mengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Salah satu mata kuliah saya ampu adalah mata kuliah Komunikasi. Mungkin yang menjadi alasan kenapa saya yang dipilih atasan untuk mengajar dalam mata kuliah ini adalah latarbelakang S2 saya yang dekat dengan subjek ini. Saya bersyukur, karena ilmu ini cukup saya pahami. Dan saya suka mengajar ilmu-ilmu yang memang menjadi expertise saya. Disamping kadang saya merasa tertantang juga mengajarkan ilmu yang belum terlalu saya kuasai sebelumnya. Bukan untuk mengajar dengan jurus ngawur ala dewa mabuk, tapi justru karena tertantang, saya harus secepatnya mempelajari ilmu tersebut, cepat menguasai, dan siap mentransfer ilmu itu kepada orang lain.

Kembali lagi tentang saya mengajar komunikasi. Pagi itu sebenarnya saya sudah berniat untuk tidak mengajar karena alasan yang cukup kuat. Saya sakit agak berat. Semalaman panas tinggi, pusing berat, dan diare. Tapi berhubung dosen pengganti tidak siap dengan materi hari itu. Pagi itu saya nekat berangkat ke kampus untuk mengajar. Mengingat kondisi kelas sudah mulai dipenuhi mahasiswa. Tidak sedikit, ada 68 mahasiswa jika seluruhnya hadir. Jumlah yang sulit bagi saya untuk meninggalkannya begitu saja tanpa ada kuliah hari itu.

Saya katakan kepada teman saya –si dosen pengganti itu—“Ok, saya berangkat sekarang.” Sambil berusaha menahan sakit saya yang belum terobati.

Materi pagi itu adalah tentang “Bahasa dan Makna”. Kenapa bab ini penting dan sengaja dipilih untuk Jurusan DKV? Karena bahasa dan makna memiliki porsi yang sangat besar ketika seorang desainer komunikasi visual akan menciptakan sebuah karya. Mereka menggunakan bahasa sebagai tools untuk menyampaikan pesan, dan ‘pemaknaan yang tepat’-lah adalah apa yang ingin mereka ingin dari audiens yang mereka target.

Dalam kuliah ini saya memulai dengan topik “History of Language and Meaning”. Disinilah yang inti topik yang sebenarnya ingin saya bahas dalam tulisan ini. Sejujurnya, sebelum saya mengajar materi ini, saya telah ‘mengobrak-abrik’ isi buku-buku yang membahas tentang sejarah bahasa yang digunakan oleh manusia di muka bumi ini. Satu persatu saya baca dan coba pahami. Sampai akhirnya saya menarik benang merah kesimpulan, bahwa seluruh literatur sejarah sekuler dari Barat tidak pernah mengaitkan sejarah bahasa dengan campur tangan Tuhan sebagai pencipta manusia. Sehingga segala sesuatunya dilihat dari sudut pandang filsafat positifisme, suatu cara berpikir yang hanya mengakui segala sesuatu yang terjadi didunia ini pasti ada penyebabnya (sebab-akibat). Sehingga penelitian-penelitian mereka terkesan konyol dan kering dari spiritualitas. Kesimpulan yang mereka ambil pun juga tidak melegakan para spiritualis maupun kaum agamis.

Saya sebagai dosen yang beragama, Islam. Memiliki tanggungjawab yang besar terhadap apa yang saya ajarkan kepada mahasiswa saya. Ide-ide Barat yang bodoh dan miskin aspek spiritual lebih berguna jika saya jadikan bahan untuk lelucon dikelas daripada sebagai rujukan utama mahasiswa-mahasiswa kuliah ini. Lumayan,...ketika saya ceritakan bahwa dulu orang-orang Yunani kuno meneliti asal usul bahasa, mereka mencatat tiap bunyi yang terucap pada bayi yang baru lahir lalu dicari kaitan maknanya dengan apa yang dia lihat, seluruh mahasiswa sampai tertawa terbahak-bahak.

Lalu teori apa yang saya pakai untuk menjelaskan sejarah bahasa manusia? Sebagai seorang muslim, saya harus mencari jawabannya yang pertama kali adalah dalam ‘buku panduan’ hidup manusia tertinggi: Al-Qur’an. Saya teringat seorang ulama yang 6 tahun lalu pernah membahasa tafsir di masjid Al-Falah Surabaya, menceritakan tentang hal ini. Beliau menjelaskan dengan runut tafsir surat Al-Baqarah ayat 30-34 tentang asal-usul bagaimana manusia mengenal setiap kata yang akhirnya berkembang hingga hari ini menjadi bahasa sehari-hari kita. Allah berfirman:

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."”
(QS Al Baqarah 30)

“dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka-kannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
(QS Al Baqarah 31)

“mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al Baqarah 32)

“Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
(QS Al Baqarah 33)

“dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
(QS Al Baqarah 34)

Jelas sudah apa yang dikemukakan dalam Al-Quran tentang sejarah lahirnya kata-kata yang dipakai untuk berdialog oleh manusia dimuka bumi ini. Allah-lah yang mengajarkan semuanya kepada Nabi Adam as pertama kali. Diawali dengan dialog malaikat dengan Allah Ta’ala tentang pertanyaan malaikat tentang alasan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Hingga akhirnya malaikat mengerti dan hormat kepada Adam (manusia) karena Allah telah mengajarkan sebagian ilmu-Nya (tentang semua vocabulary yang ada diseluruh alam semesta ini) kepada Adam as dan itu yang tidak dimiliki makhluk lainnya seperti malaikat sekalipun.

Ketika saya mengajarkan materi ini, saya tidak menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum yang harus (dipaksakan) ditaati seluruh mahasiswa. Tapi sebagai sumber sejarah yang dapat dijadikan rujukan oleh siapa saja. Bagi mereka yang non-muslim, yang untungnya masih paham dengan penjelasan saya: kristen, mengakui pula sejarah Nabi Adam as. Jadi tidak terlalu membingungkan bagi mereka untuk bercerita sejarah semacam ini. Apalagi ketika pertanyaan saya yang pertama untuk membuka perkuliahan ini tentang darimana asal-usul bahasa manusia, seorang mahasiswa beragama Kristen justru yang menjawab : “Adam!” Lebih cerdas daripada rata-rata yang hanya berpikir berhenti pada kata “nenek moyang".

Suasana kelas ketika itu cukup mengasikkan. Saya bisa melihat wajah-wajah ketertarikan akan materi yang disampaikan. Mungkin ini baru bagi mereka. Dan tidak pernah mereka menyangka sejarah itu ada dalam kitab yang sebagian besar mereka miliki dirumah dan tertumpuk di rak yang paling dalam posisinya. Yang sudah lama tidak mereka jamah. Wajah-wajah mereka mungkin mengingatkan pada wajah saya ketika kurang lebih enam tahun yang lalu mendengar penjelasan almarhum ulama tafsir tentang ayat yang sama. Ilmu yang sama sekali tidak banyak dijamah oleh para pakar linguistik dan komunikasi. Ironis.

(Abu Hafizh, Catatan Mingguan Ke-2, 12-10-2011, 17:05)

Fikih Pertemanan di Komunitas Musik Underground


SA'I MUSLIM MOVEMENT—Komunitas musik Underground dan berbagai sub-komunitas lain yang ada didalamnya (punk, hardcore, metal, dll) sebenarnya bukanlah suatu komunitas yang berisi orang-orang yang dekat dengan agamanya. Terlebih lagi dekat dengan Allah Swt. Jika kita mau melihat dan jujur, dalam komunitas underground justru lebih banyak orang-orang yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Seperti misalnya minum-minuman keras, merokok, ganja, obat bius, tato, maupun pergaulan bebas seringkali mewarnai kehidupan di scene Underground dimanapun diseluruh dunia. Dan sudah pasti pergerakan semacam Ghurabaa Militan Tauhid ini akan dianggap sesuatu yang aneh, asing, dan bahkan mungkin beberapa diantara mereka akan mengejek “kalian salah tempat jika berbicara agama di komunitas ini!”.

Setiap muslim ketika melihat suatu kemungkaran atau kemaksiatan maka sudah menjadi kewajibannya untuk mengingkarinya. Bahkan kaidah umumnya, kita tidaklah diperkenankan untuk berada ditengah-tengah kemungkaran itu kecuali dengan niat mendakwahinya. Bukan justru tergelincir kedalamnya dan ikut-ikutan teman-teman yang berada didalam komunitas itu untuk berbuat hal-hal negatif.

Begitu pula dengan kaidah-kaidah berteman, yang semua itu sudah diatut didalam ajaran Islam. Didalam agama ini kita dilarang menjadikan orang-orang yang jauh dari Allah Swt sebagai teman-teman dekat kita yang kita berloyal kepadanya.

Rasulullah Saw dalam sebuah hadits shahih bersabda,”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidak-tidaknya engkau akan mendapatkan bau semerbak wangi (dari minyak wangi yang ia jual). Adapun bersama tukang pandai besi, engkau bisa terbakar karena apinya, atau jika tidak engkau pasti akan mendapati bau angus.”
Dalam sabda ini, Rasulullah Saw menjelaskan manfaat yang akan kita dapatkan jika kita gemar berteman dengan orang yang baik. Sebaliknya, beliau juga menjelaskan kerugian yang akan kita dapatkan jika kita berteman dengan orang yang buruk perangainya. Ini secara tidak langsung merupakan perintah dari Rasulullah Saw agar kita memilih orang yang baik sebagai teman karib atau teman dekat kita. Sebaliknya, beliau melarang kita untuk menjadikan orang-orang yang jahat sebagai teman karib kita.

Ustad Muhammad Shaleh Drehem pernah menjelaskan tentang bagaimana pendapat ulama tentang aturan pergaulan dalam Islam. Mereka (para ulama) membagi teman menjadi empat macam. Pertama, teman yang seperti makanan. Kita setiap hari pasti membutuhkan makanan. Tanpa makanan, kita akan mati. Makanan adalah sesuatu yang bisa membuat kita terus bertahan hidup. Demikian pula, kita membutuhkan teman yang seperti ini. Teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara ruhani. Rekan kerja dan rekan bisnis kita adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara jasmani. Ulama, pembimbing dan guru adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara ruhani. Itulah teman-teman yang senantiasa kita butuhkan setiap saat.

Kedua, teman yang seperti obat. Namanya obat pasti hanya kita perlukan saat sakit saja. Disamping itu, jenis obat yang kita konsumsi pun harus sesuai dengan sakit yang kita derita. Demikian pula takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan. Seperti inilah teman yang hanya kita butuhkan pada saat-saat tertentu saja. Tidak setiap saat kita membutuhkan kehadirannya. Demikian pula kita hanya perlu berhubungan dengannya seperlunya saja dan tidak boleh sampai berlebihan.
Teman macam pertama dan kedua inilah yang bisa kita jadikan sebagai teman karib atau teman dekat.

Ketiga, teman yang seperti penyakit. Tentu saja teman seperti ini tidak bisa kita jadikan sebagai teman karib. Akan tetapi, bukan berarti kita sama sekali memutus hubungan dengannya. Sebaliknya, kita memiliki kewajiban untuk berusaha menyembuhkannya. Sebagaimana penyakit ada yang ringan, ada yang sedang, dan ada yang parah, demikian pula teman yang satu ini. Keadaannya berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Namun bagaimanapun, ia tetap berpotensi menularkan penyakitnya kepada diri kita. Karena itu kita harus tetap berhati-hati ketika berinteraksi dengannya.

Keempat, teman yang seperti racun. Ini adalah teman yang mematikan! Sama sekali tidak ada kebaikannya bagi diri kita. Ia juga hampir-hampir tidak memiliki peluang lagi untuk berubah menjadi baik. Karena itu, kita harus ekstra waspada terhadap orang-orang semacam ini.

Pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan meningkatkan keimanan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Berbagai hal yang bermanfaat juga akan tercipta dari pertemanan dengan mereka.
Sebaliknya, pertemanan dengan orang-orang yang suka bermaksiat dan dalam rangka kemaksiatan adalah fatamorgana. Pertemanan dengan mereka adalah pertemanan yang bersifat semu. Sekalipun di dunia ini pertemanan semacam ini bisa berlangsung akrab, akan tetapi pada hari kiamat kelak justru akan menjadi penyesalan. ”Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Fulan sebagai teman akrabku.”

Ketika itu, satu orang dengan yang lainnya akan saling berlepas tangan. Seperti dalam firman Allah Swt :

“Ketika orang-orang yang diikuti (kesesatannya) berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (kesesatan temannya): ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka (teman-teman yang telah menyesatkan aku), sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah: 166-167)

Bahkan, pada hari kiamat itu orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling mempersalahkan. Allah Swt berfirman:

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67).

Wallahu a’lam


(Aik, vokalis band hardcorepunk, The Fourty’s Accident)

Hati-hati! Media Massa Mampu Mengalihkan Perhatian Publik!

SA'I MUSLIM MOVEMENT--Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media massa mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Seperti yang baru-baru ini terjadi, pemberitaan di media tentang kasus korupsi yang melilit tokoh-tokoh partai Demokrat belum terselesaikan, tiba-tiba isu tentang pembubaran FPI muncul di media-media massa. Dimana-mana diskursus pembubaran FPI menjadi topik pembicaraan yang hangat gara-gara selalu dimunculkan sebagai headline atau topik utama pemberitaan.

Sebenarnya contoh-contoh yang bisa kita temui sangatlah banyak. Bukan hanya sesekali, tapi mengalihan isu media sudah berkali-kali terjadi jika media memiliki motif kepentingan atau politik terhadap pemberitaan tersebut. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi ‘heroik’ aparat kepolisian negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang kecurangan-kecurangan dalam pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.

Satu contoh lagi, masihkah ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih cocok dibilang teroris dengan pemberitaan hukuman mati bagi Amrozi dkk? Padahal fakta tentang Amrozi dkk sebagai ‘bomber’ masih belum jelas dan banyak kejanggalan, sedangkan Tibo sudah jelas! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.

Isu perlawanan umat Islam terhadap kaum liberal yang saat ini sedang panas dibicarakan merupakan reaksi yang tepat di sebagian masyarakat. Karena masyarakat sudah mampu membaca siapakah yang berperan dibalik isu pembubaran FPI di Indonesia. Kita tahu bahwa rencana busuk para aktivis liberal adalah menghilangkan ‘musuh besar’ mereka yaitu FPI, yang selama ini dianggap penghambat kebebasan mereka untuk bermaksiat.

Maka dari itu, jangan pernah diri kita dibodoh-bodohi oleh media massa. Jadilah audiens yang aktif dan kritis melihat suatu isu pemberitaan. Jangan mudah percaya dengan pemberitaan tentang Islam di media. Karena bisa saja itu semua adalah strategi media yang memiliki kepentingan politik untuk mengalihkan isu-isu di masyarakat.

[Curhat Mingguan ke-24, Abu Hafizh, 25-02-2012, 23:25]

Antara Punk, Anarkisme dan Islam




“Membangun arsitektur ketidakmungkinan”—Pam, Mempersenjatai Imajinasi #1.

Anarkisme merupakan sebuah konsep pemikiran yang sering melekat pada siapapun yang berada dalam komunitas atau sub-culture punk. Menurut sejarahnya, punk muncul karena adanya penindasan dan ketidakadilan pemerintah Inggris ketika awal tahun 70-an. Gerakan itu juga ditengarai munculnya band-band seperti Sex Pistols, The Clash, The Damned, dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya diikuti dengan muncul gerakanpunk gelombang kedua pada awal tahun 80-an di Eropa dan Amerika. Pada gelombang ini, punk muncul dengan pemikiran anarkisme yang lebih kritis. Kita bisa mengetahuinya dalam sikap dan pemikiran band-band punk seperti Crass, Conflict, Discharge, MDC, Dead Kennedys dan masih banyak lagi.

Namun bukan definisi anarkisme bentukan media massa yang sedang saya bahas di sini, namun definisi anarkisme yang diakui oleh para pemikir dan pencetusnya sendiri. Karena media massa sering mengartikan secara sempit, yaitu: kekerasan adalah anarki, anarki adalah kekerasan. Salah satu pemikir anarkis yang membantah keterkaitan anarkisme dengan kekerasan adalah Alexander Berkman, dalam pengantar tulisannya yang berjudul“What is Communist-Anarchism?”:

“Therefore I must tell you, first of all, what Anarchism is not.
It is not bombs, disorder, or chaos.
It is not robbery and murder.
It is not a war of each against all.
It is not a return to barbarism or to the wild state of man.
Anarchism is the very opposite of all that.
Anarchism means that you should be free; that no one should enslave you, boss you, rob you, or impose upon you.”

Menurut Rudolph Rocker, seorang pemikir anarkis asal Jerman, dalam bukunya yang berjudul “Anarkisme & Anarko-Sindikalisme”, anarkisme merupakan arus intelektual, dan filsafat yang menyokong permusnahan monopoli ekonomi kapitalis. Menurutnya, anarkisme bukanlah ide utopia hasil dari pemikiran imajinatif seseorang, tapi merupakan kesimpulan logika dari penelitian tentang kebobrokan sistem sosial yang ada saat ini (Rocker, 2001: 21).

Dalam versi lain, Arian 13 –vokalis band Seringai dan mantan editor Tigasbelas ‘zine– pernah menuliskan tentang apa itu anarki dan anarkisme dalam zine buatannya itu. Dia mengutip definisi dalam kamus Webster tentang anarki, di situ dikatakan, bahwa anarki adalah kekosongan pemerintahan, sebuah keadaan ketiadaan hukum atau kekacauan politik sehubungan dengan kekosongan pemerintahan. Dan disitu ditegaskan bahwa anarkisme bukanlah suatu ideologi, namun lebih berarti suatu pergerakan yang menentang hirarki. Yaitu suatu struktur dari pengorganisasian yang memiliki otoritas, yang mendasari bentuk penguasaan didalamnya.

Jadi singkatnya, ada satu hal yang jelas ditentang oleh anarkis. Yaitu HIRARKI.

Anarkis sangat membenci satu hal itu. Mereka menganggap bahwa keluruh ketidakadilan yang terjadi didunia ini bermuara pada satu kata itu: hirarki!. Titik. Sehingga seluruh pikiran, tenaga, waktu dan upaya mereka dipusatkan pada satu tujuan, yaitu untuk menghapuskan hirarki dimuka bumi ini.

Dalam Mempersenjatai Imajinasi #1 dikatakan;
“Kalau kamu suka sama sekolah, kamu bakalan cinta sama dunia kerja. Kekuasaan yang kejam, sudah disalahgunakan dengan absurd, penguasa yang sangat nikmatin kekuasaannya atas diri kamu direpresentasikan oleh guru dan dosen, dan itu semua nggak akan berhenti begitu kamu lulus. Kalau kamu pikir waktu itu kamu kehilangan kebebasan kamu, tunggu aja sampai kamu harus tunduk sama manajer, tuan tanah, pemilik properti, pengumpul pajak, pegawai pemerintah, petugas hukum, dan polisi…. Darimana dan gimana mereka semua bisa dapat kekuatan itu? Jawabnya hanya satu: hirarki.” (Sebuah pengantar dalam zine Mempersenjatai Imajinasi #1, hal.2, Desember 2001)

Dari tulisan tersebut sudah pasti bahwa anarkis menggambarkan kehidupan ini begitu buruk, mencekam, dan sangat-sangat merugi jika kita masih ada dalam kehidupan yang sarat dengan hirarki. Karena menurut Pam, sang editor zine ini, hirarki adalah sebuah sistem nilai di mana diri kita dinilai dari jumlah orang atau benda lain yang ada dibawah kontrol kita, dan tentang bagaimana kita harus nurut kepada orang yang ada diatas kita atau yang mengontrol kita (Pam, 2001: 2).



Anarkisme antara takdir dan sunnatullah

Secara manusiawi kita memang sangat membenci setiap ketidakadilan. Sesuatu yang menindas dan zhalim terhadap sesama merupakan sesuatu yang memang menyalahi sunnatullah (baca: ketentuan Allah Swt). Jika kita berbicara ketidakadilan, maka sudah bisa dipastikan itu merupakan musuh bersama. Saya sepakat. Dan saya yakin Andapun demikian. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah memang anarkisme merupakan solusi yang tepat dalam menyikapi kondisi itu? Konsep “meniadakan hirarki” atau “melawan hirarki” ala anarkisme apakah bisa direalisasikan dikehidupan nyata? Lalu apakah setiap ada hirarki selalu ada ketidakadilan? Apakah jika keadilan dalam suatu masyarakat hirarkis itu bisa terlaksana akankah anarkisme masih relevan untuk diterapkan?

Sebelum membahas hal ini, saya ingin mengutip statemen-statemen yang diungkapkan para pemikir anarkis tentang cita-cita mereka dalam hal ini. Pam sendiri pernah menuliskan dalam artikelnya berjudul“Anti-hirarki = Anarki, Redefinisi Anarkisme sebagai Pendekatan Personal pada Hidup” seperti ini;

“Berhentilah mikir anarkisme sebagai ‘tatanan masyarakat’ yang lain, atau sebagai sistem sosial yang lain. Dari tempat kita berada, di dunia yang sangat penuh sama dominasi dan kontrol, susah bahkan kayaknya nggak akan mungkin untuk ngebayangin hidup tanpa pemerintahan sama sekali, tanpa hukum apapun atau pemerintahan manapun. Nggak heran kalo kemudian anarkisme jadi nggak pernah dianggap serius sebagai program sosial atau politis yang skalanya gede: nggak ada orang yang ngebayangin gimana dan bakalan seperti apa nantinya, atau nggak cara nerapinnya – bahkan juga mereka sendiri yang ngaku dirinya anarkis”.

Kalimat yang terungkap itu selain bentuk manifestasi sang editor zine itu tentang redefinisi yang sudah dia buat, sekaligus sebagai bentuk pengungkapan atas ketidakyakinan dia bahwa konsep anarkisme mampu menjadi solusi untuk problematika yang dihadapi di masyarakat. Mengapa dia pesimis anarkisme diterapkan disuatu masyarakat yang luas? Ternyata hal itu sendiri juga dirasakan oleh Rudolph Rocker sendiri. Dia berkata:

“Anarki dapat pula berarti sebuah lingkungan utopis yang terdiri dari individu-individu yang tidak memiliki pemerintahan dan menikmati kebebasan mutlak”.

Statemen-statemen tersebut merupakan sebuah pernyataan bahwa mewujudkan masyarakat tanpa hirarki adalah sekedar mimpi saja (utopia). Tidak akan pernah terwujud. Alias sangat-sangat tidak mungkin. Karena mereka sebenarnya mengerti bahwa adanya hirarki di kehidupan sosial merupakan suatu keniscayaan. Namun karena filsafat anarkisme harus jauh dari konsep ke-Tuhanan, maka tidak ada istilah “takdir” dan “Sunnatullah” dalam kamus mereka. Karena kalau sampai konsep takdir ini masuk dalam wilayah pemikiran ini sudah jelas hal itu akan menghambat bahkan sampai memberhentikan perjuangan mereka. Semua akan stop sampai disini. Dan semua ‘menyerah’ pada takdir.

Sesungguhnya, andaikata manusia mau beriman pada Al-Qur’an, seluruh jawaban bagi seluruh permasalahan hidup sudah tersedia solusinya. Terlebih masalah sosial kemasyarakatan. Sangat banyak ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang memberikan solusi logis dan terbukti berhasil diterapkan dimasa lalu.

Dalam sejarah pemerintahan Islam, ekspansi yang dilakukan untuk memperluas wilayah selalu bermotif “pembebasan”, karena latar belakang daerah-daerah tersebut sedang dalam keadaan ditindas oleh penguasa Eropa yang zhalim. Bahkan masyarakat di suatu wilayah yang direbut oleh pemerintahan Islam ketika itu justru menunjukkan kerelaannya, karena Islam menawarkan konsep masyarakat yang lebih adil. Pada periode Daulat Umayyah (661-750M), di bawah pemerintahan Khalifah Al Walid Bin Abdul Malik, Islam melakukan ekspansi ke Eropa.

Dalam buku “Jejak Kegemilangan Umat Islam Dalam Pentas Sejarah Dunia” sebagai berikut: Budi Suherdiman menjelaskan, ketika Islam datang ke Eropa, justru disambut penduduknya, tanpa terjadi anarkis;

“Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordova, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Sevi’e, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.”

Peradaban Islam dapat berdiri berabad-abad karena menerapkan nilai-nilai Qur’ani. Dan sudah bisa dipastikan keruntuhannya juga disebabkan karena jauhnya umat Islam dari nilai-nilai tersebut. Ibn Khaldun, seorang ulama yang ahli dalam masalah sosial kemasyarakatan juga menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul ”al-Muqaddimah” bahwa jatuhnya sebuah negara utamanya disebabkan oleh tirani dan kezaliman penguasa. Hal tersebut didukung kuat oleh penjelasan Henri Shalahudin dalam tulisan beliau berjudul “Moral dan Peradaban Menurut Ibnu Khaldun” bahwa perbuatan fasik (maksiat besar) yang dilakukan oleh individu masyarakat tidak akan langsung menyebabkan hancurnya peradaban, jika dibandingkan dengan perbuatan tirani yang dilakukan penguasa.

Memang adakalanya perbuatan maksiat besar bisa menyebabkan runtuhnya peradaban jika pelakunya adalah penguasa negara yang tidak terjamah hukum. Hal ini berarti bahwa dalam Islam menegaskan jika ada seorang penguasa berbuat zhalim, dan jauh dari nilai-nilai Qur’ani, maka sudah bisa dipastikan akan menimbulkan kehancuran dalam pemerintahannya.



Islam dan Keadilan

Selain itu, berbicara soal kata “adil”, seharusnya Islam lebih berhak untuk mendefinisikannya. Saya berpendapat demikian karena asal-usul kata “adil” tersebut berasal dari Islam yang memiliki makna khusus. Dan itu hanya bisa dipahami dengan tepat jika dirunut menurut worldview Islam. “Adil” merupakan istilah yang khas yang terdapat dalam banyak sekali ayat dalam Al-Quran. Salah satu contoh saja dalam Surat An-Nahl:90 , Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl :90).

Prof. Hamka dalam tafsirnya yang tersohor, Al-Azhar, menjelaskan makna adil dalam ayat tersebut yakni “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan berlaku zalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah zalim. Yang artinya memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri; mempertahankan perbuatan yang salah, sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri. Maka benang merahnya, menurut Hamka, selama keadilan itu masih ada di masyarakat, pergaulan hidup hidup manusia, maka selama itu pula pergaulan akan aman sentosa, timbul amanat dan percaya-mempercayai.

Adil dalam Islam bukan “sama rata, sama rasa”. Menurut Dr. Adian Husaini, konsep adil itu adalah konsep khas Islam, jadi seharusnya dipahami dalam perpektif worldview Islam pula. Jika ini dimaknai menurut worldview Barat, maka akan berubahlah maknanya. Seperti contohnya konsep keadilan atau kesetaraan gender menurut Barat. Konsep ini menggugat pandangan Islam yang mereka tuduh diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hal aqiqoh, waris, imam shalat, dan lain sebagainya. Mengapa begitu? karena konsep keadilan yang Barat anut bukan pada konsep keadilan menurut worldview Islam. Dan semua itu sulit untuk dipahami jika sejak awal dalam hati seseorang memang tidak ada iman sedikitpun.

Seorang ulama Al Ikhwan al Muslimun, Sayyid Quthb, sudah pernah membahas tentang solusi Islam dalam menghadapi ketidakadilan sosial di masyarakat. Hal itu dia beberkan dalam tafsirnya yang terkenal, Fii Zhilalil Qur’an yang beliau tulis ketika bertahun-tahun dia dipenjara oleh pemerintah Mesir yang zhalim dan korup. Bahkan dalam bukunya berjudul Al-‘Adalah al-Ijtima‘iyyah fi al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam), Sayyid Quthb tidak menafsirkan Islam sebagai sistem moralitas yang usang. Malah justru Islam adalah kekuatan sosial dan politik yang sangat aplikatif (konkret) direalitas nyata. Di sini Quthb membantah pemikiran Ali Abd al-Raziq dan Taha Hussein yang sekuler. Karena keduanya pernah menyatakan bahwa Islam dan politik itu tidak ada kecocokannya. Sayyid Quthb menyatakan bahwa tidak adanya alasan yang logis untuk memisahkan Islam dari urusan sosial kemasyarakatan dan politik.

Seorang Dosen UIN Bandung, Taufiq Rahman, juga pernah membahas ini dalam suatu tulisan khusus tentang “Sayyid Quthb, Keadilan Sosial dan Islam sebagai Solusi”. Menurutnya, Quthb memberikan resep yang telah dijalani oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yaitu membentuk jama‘ah kecil yang berkomitmen kepada Islam dalam segala aspek kehidupannya, melakukan pemisahan emosional (‘uzla shu‘uriyya), kemudian membentuk generasi Qur‘ani, dan selanjutnya menyiapkan tatanan hukum sosial atau membina masyarakat. Semua itu dijelaskan Sayyid Quthb dalam karya fenomenalnya, Ma‘alim fi al-Tariq.

Taufiq Rahman juga menjelaskan dalam tulisannya tentang teori Sayyid Quthb tersebut:
“Pemikirannya tentang keadilan sosial dalam Islam hampir murni dari kritik. Ini karena Quthb menyajikan bahwa untuk sebuah himbauan moral, Islam pun mempunyai dasar-dasar etis tentang keadilan sosial. Bukannya kritik yang ada, bahkan peniruan atas atau penghampiran dengan teori Quthb yang kemudian bermunculan. Semua buku atau artikel yang ada tentang keadilan sosial dalam Islam adalah kurang lebih sama dengan apa yang ditulis Qutb. Hamid Algar menyebut bahwa setelah buku Sayyid Quthb ini (1949) muncul buku senada dari Suriah yaitu Ishtirakiyyat al-Islam (Sosialisme Islam) (1951) oleh Mustafa al-Siba‘i, Keadilan Sosial dalam Islam (1951) oleh Hamka dari Indonesia, dan Iqtisaduna (Ekonomi Kita) oleh Ayatullah Muhammad Baqir al-Sadr dari Iran.”

Solusi ini sudah terbukti berhasil diterapkan. Bukan hanya impian atau utopia belaka. Memperjuangkannya pun lebih memberikan harapan yang kuat dalam hati bahwa konsep ini akan terwujud dikemudian hari di dalam kehidupan bermasyarakat kita. Jadi ini sama dengan membangun arsitektur yang sangat memungkinkan untuk dibangun. Suatu keadilan sosial dalam masyarakat. Tanpa harus menafikan Sunnatullah adanya hirarki sosial di dalam masyarakat itu. Agar perjuangan kita mewujudkan masyarakat yang lebih baik itu semakin jelas gambarannya. Bukan hanya diangan-angan seperti impian kaum anarkis yang sering dipuja-puja oleh penganut punk. Karena sudah bisa dipastikan bahwa kelak mereka akan berhenti kelelahan, karena upaya yang dilakukan telah menguras tenaga, pikiran, dana dan waktu. Padahal hasilnya sudah mereka akui sendiri, bahwa hal itu merupakan KETIDAKMUNGKINAN YANG PASTI. Wallahu a’lam.*



[Aik, Seorang Punk, Editor Subchaos zine, 22-01-2012, 17:52]

Rasisme dan Bagaimana Islam Menghadapinya



“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum 22)

Kita semua mungkin sudah hafal diluar kepala, bahwa rasisme merupakan faham yang sangat ditentang dalam scene Punk/HC, khususnya para pengusung anarkisme. Hampir setiap literatur berupa zine-zine lokal tentang anarkisme dan punk membahas soal penolakan mereka terhadap faham diskriminatif ini. Karena memang dalam pandangan umum yang manusiawi, rasisme layak untuk ditentang.

Rasisme berpikir bahwa ras tertentu adalah superior, diatas ras lainnya. Dalam kata lain, rasisme mengajarkan bahwa ras lain selain ras-nya adalah lebih rendah derajatnya dan layak untuk diperlakukan semena-mena, ditindas, dan dianiaya.

Di Palestina, etnis Arab disana sudah menjadi korban kekerasan rasial sejak tahun 1944 oleh kekejaman etnis Yahudi yang merasa ras-nya superior (zionis). Etnis Arab disana berpuluh-puluh tahun merasakan diusir dari kampung halamannya sendiri, rumah-rumah mereka digusur, sawah-ladang mereka dilindas dengan mesin-mesin berat Caterpillar, yang melawan itu semua harus bersiap menjemput ajal. Para etnis Yahudi garis keras yang rasis tersebut menyebarkan isu-isu rasial yang luar biasa kental dengan aroma kebencian. Hingga akhirnya terus bermunculan tragedi-tragedi pemberangusan etnis Arab di Palestina demi berdirinya negara mereka, Israel.

Kita bisa dengan mudah melihat dokumentasi-dokumentasi pembantaian rasial yang dilakukan tentara Israel kepada warga palestina di youtube. Tinggal ketik saja kata kunci “Sabra Shatila massacre” atau cari saja dokumen lain di Google tentang itu. Didalamnya kita bisa menatap dengan jelas bagaimana anak-anak kecil etnis Arab dipukuli tentara Israel tanpa ampun, ayah-ibunya digorok didepan mata, sampai mengubur hidup-hidup seluruh warga desa. Yang lebih sadis, tentara-tentara rasis tersebut mengumpulkan warga kedalam satu rumah, lalu diledakkan dengan bom.

Bangsa Yahudi sendiri mengaku menjadi korban rasisme pada paruh abad ke-20. Mereka juga pernah mengalami pembantaian besar-besaran dan pemusnahan ras oleh Nazi. Terlepas dari konspirasi lebay yang dilakukan orang-orang Yahudi demi mengambil belas-kasihan dari warga dunia atas tragedi holocaust itu, nyatanya saat ini justru bangsa Yahudi (garis keras) sendiri yang melakukan praktek kekerasan yang lebih parah dan brutal kepada etnis lain (baca: Arab).

Dalam sumber lain, orang-orang Barat sering merepresentasikan etnis Arab dengan figur-figur yang buruk dalam film-filmnya. Dalam buku berjudul “Reel Bad Arabs: How Holywood Vilifies a People”, Jack Shaheen, penulis buku ini mengungkap ratusan film Holywood yang berusaha mencitrakan buruk etnis Arab didalamnya. Sutradara-sutradara Holywood berusaha membuat stereotip negatif bahwa orang Arab itu bodoh, tergila-gila dengan uang, suka main perempuan, jahat, licik, suka hura-hura, dan cenderung emosional. Dan hal itu bukan cuma dicitrakan kepada pemirsa dewasa saja, namun juga sudah mulai dicitrakan kepada audiens yang masih anak-anak sekalipun melalui film-film kartunnya. Upaya pencitraan tersebut jelas adalah praktek rasisme yang nyata di Barat.

Selain etnis Arab yang menjadi sasaran diskriminasi rasial di Barat, ada juga orang kulit hitam. Di Amerika misalnya, orang kulit hitam selalu menjadi bulan-bulanan dimana-mana. Meski saat ini presiden mereka berasal dari kulit hitam, hal itu tidak mengubah dengan mudah stereotip yang sudah mengakar dalam masyarakat. Begitu pula dengan sejarah perampasan tanah milik orang-orang Indian (kulit merah) yang dilakukan imperalis Amerika juga tidak luput dengan motif rasisme.

Sebelum tulisan ini saya lanjutkan, ada dua hal yang mesti saya jelaskan secara singkat.Pertama, perlu kita ketahui, memang tidak seluruh orang yahudi selalu menganut rasisme dan fasisme layaknya zionis. Karenanya saya tidak akan membahas umat Yahudi yang “baik-baik saja”. Saya akan lebih fokus pada mereka yang mempraktekkan rasisme kepada etnis Arab saja.Kedua, saya tidak sedang melihat hal ini dari sisi hak asasi manusia. Karena menurut saya itu sudah terlalu banyak yang membahas. Orang-orang penganut liberalisme dan sosialisme sudah biasa menggunakan parameter itu. Kali ini saya akan sedikit membahasnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu menurut agama saya, Islam. Dan mungkin juga agama anda, yang sudah anda anut puluhan tahun sejak kecil lalu terabaikan begitu saja.

Rasisme dalam pandangan Islam.

Didalam ajaran Islam sama sekali tidak memberikan celah untuk praktek rasisme. Islam sangat mengecam dan mengikis habis berbagai bentuk penindasan atau penzaliman atas nama ras. Dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 22 dijelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda rupa dan warna kulitnya, serta masing-masing memiliki bahasa dan budaya sendiri. Adanya keanekaragaman ras, etnis dan suku justru seharusnya bisa mendorong manusia untuk saling mengenal satu sama lain, saling menghargai dan menghormati, dan saling melindungi (lihat QS. Al Hujuraat 13). Disamping itu dalam surat lain ditambahkan agar kita bisa saling bekerjasama, tolong menolong dan bahu-membahu dalam meraih kebahagiaan,serta mengatasi masalah bersama (lihat QS. Al Maidah 2).

Islam menganggap kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi derajat ras atau silsilah nenek moyangnya, namun ukuran kemuliaan dilihat dari seberapa besar ketaqwaannya (lihat QS. Al Hujuraat 13). Karenanya Islam juga melarang keras perilaku mengejek, melecehkan atau menjatuhkan ras lain.
Islam juga menekankan perintah untuk berlaku adil dan baik kepada manusia, apapun rasnya dan tidak diperkenan berbuat zalim, munkar, keji dan melampaui batas (ghuluw)(QS. An Nahl 90). Dalam Surat Al-Isra’ 33, bahkan ada larangan keras membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan. Jangankan membunuh, melakukan penindasan saja sudah diharamkan, merampas hak orang lain pun demikian.

Bukti-bukti yang ada tentang agama-agama didunia, Islam adalah satu-satunya agama yang dengan tegas menentang dan berupaya melepaskan manusia dari belenggu perbudakan. Bagi anda yang bukan beragama Islam, mungkin bisa saja mengatakan tulisan ini cuma “ngecap” yang selalu bilang nomor satu. Tapi bukti-bukti sejarah-lah yang berbicara. Dalam Islam, jika ada yang bisa membebaskan budak, maka disediakan ganjaran yang luar biasa besar oleh Allah Swt. Ketika Rasulullah Saw masih hidup, beliau gencar mengkampanyekan pembebasan budak. Tidak sedikit para sahabat yang berlomba-lomba memerdekakan budak ketika itu. Rasulullah Saw sendiri membebaskan 63 budak selama hidupnya. Istri beliau, Aisyah r.a. memerdekakan 67 budak. Abdullah bin Umar, membebaskan 1000 orang budak, dan yang luar biasa Abdurrahman bin Auf sampai membeli 30.000 budak kemudian dimerdekakan.

Ketika Rasulullah Saw melakukan haji yang terakhir kalinya (yang dikenal sebagai Haji Wada’), beliau Saw berkhutbah dengan pesan-pesan yang luar biasa hikmahnya. Khutbah ini begitu menggetarkan hati karena para sahabat mulai merasa bahwa khutbah tersebut adalah khutbah perpisahan sebelum beliau Saw meninggal dunia. Waktu itu di bukit Arafah, tepat pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10 Hijriah, disaksikan ribuan jamaah haji lainnya, beliau berkata,”

Wahai manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan aku katakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini….Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang selain Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah; kecuali karena taqwa dan amal shalihnya. Ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara bagi orang muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzalimi. Ingatlah satu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban, dll)

DR. Syamsuddin Arif, seorang pemikir Islam yang berdomisili di Malaysia, pernah menulis tentang makna khutbah ini:
“Khutbah ini merupakan menumen dalam sejarah pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM), dideklarasikan 1300 tahun silam sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948.”
Memang kita bisa memaknai secara langsung bahwa 1400 tahun yang lalu Rasulullah Saw sudah menolak tindakan rasisme dalam bentuk apapun. Mulai superioritas sampai diskriminasi dan perampasan hak. DR. Syamsuddin Arif juga menambahkan, bahwa Rasulullah Saw menyeru tentang kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan jauh lebih awal sebelum Revolusi Perancis meneriakkan jargon “liberte, egalite, fraternite.” Ini juga berarti apa yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat terhadap kebebasan hak-hak setiap manusia merupakan aksi yang sangat revolusioner. Bahkan lebih revolusioner dibandingkan revolusi apapun yang pernah ada didunia setelah itu.

[An 'Unimportant' Essay, Abu Hafizh, 02-02-2012, pukul 23:15]dimuat disini juga http://www.undergroundtauhid.com/rasisme-dan-bagaimana-islam-menghadapinya/