UPCOMING RELEASE : SA'I #5 dan #6




Sedang dalam pengerjaan edisi ke 5 dan 6 dalam sekali release! do'akan semua lancar dan cepat...cuma tinggal layout sih,...tapi itu pekerjaan yang cukup 'moody' untuk dilakukan.

Btw, kalo antum semua blum begitu paham tentang pentingnya media dan jurnalistik sebagai salah satu senjata dakwah, maka zine ini untuk antum!

Sedikit bocoran, didalamnya akan ada interview dengan Ust Cholis Akbar (redaktur Hidayatullah (dot) com) dan Sinta Yudisia (FLP) yang siap bikin kita nggak sabar untuk mencari pena, mesin ketik, keyboard atau apa saja untuk segera menulis, menulis dan menulis!! 

Ada yang mau menjadi distributor tetap di wilayah antum? silahkan kontak kami di email :

saimuslim@gmail.com

adityaabdurrahman@yahoo.co.id

atau SMS ke : 031-60738005

quickly get in touch!

Matinya Perjuangan



Sering orangtua mendidik anak mereka hari ini bukan untuk mempersiapkan menantang masa depan. Akibatnya sering digilas masa depan


Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan.

Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa.

Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." (Al-Qalam: 1-6).

Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.

Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan.

Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit maupun yang Ia munculkan dari bumi.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A’raaf: 96).

Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi. Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau…, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.

Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath (kebablasan). Bisa terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.

Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di dalamnya.

Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik.

Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali, "Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu."

Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, "Dulu bapak begini juga bisa." Atau, "Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil."

Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga berkata, "Ah, apa itu orangtua…! Gagasan mereka semuanya usang!"

Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.

Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan.

Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan "ruh" yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji.

Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat ‘Ali. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.

Teringatlah saya kepada ayat Allah: "Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri." (At-Taubah: 122).

Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi. *

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim *

“Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan“



Selain memerintah syaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah 'azimat' Nabi tatkala memasuki Ramadhan!
 
“Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).