Ramadhan Kali Ini, Nggak Boleh Ada yang Miss!


Hari-hari yang sangat ditunggu dalam bulan yang indah ini sebentar lagi datang. Memori tentang Ramadhan yang lalu-lalu rasanya kembali hadir di ingatan. Setiap tahun ke tahun, Ramadhan selalu memberikan kesan yang indah bagi aku. Mulai saat-saat masih Sekolah Dasar, disekolah selalu diadakan acara “Pondok Romadhon” yang mengharuskan siswa untuk mengikuti program tarbiyah Ramadhan dari pagi hari hingga keesokan harinya. Malah terkadang bisa sampai menginap tiga hari lebih. Perasaan yang membahagiakan karena berkumpul bersama teman-teman, rasa senang ketika bisa memakai baju muslim bebas, kenikmatan ketika berbuka bersama, termasuk pula rasa bosan ketika harus mengaji dan shalat tarawih sebelas rakaat serta mendengarkan ceramahnya yang panjang, semuanya masih melekat hingga saat ini. Haha!...Walaupun dulu belum terlalu memahami arti bulan Ramadhan yang sesungguhnya, tapi cukuplah pengalaman itu memberikan kesan yang mendalam. Dan memang setiap Ramadhan dari tahun ke tahun punya kesan tersendiri.

Bukan hanya soal Pondok Ramadhan,…tapi memang setiap Ramadhan yang pernah saya lewati dari tahun ke tahun bersama keluarga dari tahun ke tahun memang memilki kesan tersendiri. Hal itu membekas didalam dada. Indahnya suasana keluarga ketika itu yang masing-masing saling berlomba-lomba dalam beribadah, selalu menyempatkan untuk berbuka dan sahur bersama meski mata ini mengantuk, mendengarkan tausiyah-tausiyah di televisi setelah Subuh, dan bercengkrama bersama keluarga sambil menunggu adzan Maghrib adalah saat-saat yang tidak pernah terlupa. Keindahan-keindahan suasana Ramadhan itulah yang seringkali membuat air mata orang-orang yang beriman harus menetes mengalir di pipi ketika bulan itu berakhir.

Karena hanya orang-orang beriman-lah yang selalu bahagia menyambut kedatangan bulan tersebut. Dan hanya orang-orang beriman-lah yang sedih ketika berpisah dengannya. Mereka adalah orang-orang yang paham betul betapa dahsyatnya rahmat Allah Ta’ala didalam bulan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa didalam bulan tersebut Allah Ta’ala mengobral surga untuk hamba-hambaNya dan menyebar ampunan seluas-luasnya. Oleh karenanya orang beriman tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya bulan ini. Mereka adalah orang yang takut waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan tidak membuat mereka terampuni dosa-dosanya. Mereka takut tidak mendapat peluang surga yang dijanjikan Allah Swt lewat hadirnya bulan ini.

Mungkin saya bukanlah orang yang belum memiliki kesempurnaan iman. Karena nyatanya saya masih saja luput dalam memanfaatkan Ramadhan. Dan penyesalan baru saya rasakan ketika bulan berkah itu sudah di penghujungnya. Saat itu, di akhir Ramadhan tahun lalu, saya berdo’a kepada Allah Ta’ala agar kiranya mengampuni dosa-dosa yang pernah saya perbuat. Dosa karena telah ‘mengecewakan’-Nya, atas pemberian bulan Ramadhan yang ketika itu tidak saya manfaatkan dengan yang amal-amal terbaik. Saat itu, semua kata hanya mampu terucapkan dalam hati. Sulit bagi lisan saya untuk mengungkapkan penyesalan-penyesalan itu. Saya sadar semua itu telah berlalu. Tak akan mungkin waktu yang telah terlewat bisa diulang kembali. Oleh karenanya kemudian saya kembali berdo’a agar Allah Swt memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Saya memohon dengan sangat agar jangan sampai nyawa ini dicabut-Nya sebelum mempertemukan saya kembali dengan bulan yang indah itu, dan membimbing saya melakukan segala ibadah dibulan tersebut semaksimal mungkin.

Amin Ya Rabb...

***

Sekarang, ketika saya tulis catatan ini, Ramadhan sudah menunggu di depan mata. Dua minggu lagi jutaan rahmat dan pahala sudah Allah siapkan untuk ditaburkan dimuka bumi. Dan kita bebas memanen pahala sebanyak mungkin disana. Tiba-tiba saya teringat tentang apa saja yang harus kulakukan. Saya juga teringat tentang doa yang pernah saya panjatkan ketika akhir Ramadhan tahun lalu. Jika Ramadhan yang tahun lalu saya belum beribadah dengan sekuat tenaga, maka Ramadhan ini saya harus melakukannya dengan maksimal! Tidak boleh ada yang miss lagi kali ini! Dan dalam dua minggu ini akan saya siapkan lebih dulu ‘perbekalan’ untuk menghadapinya. Karena akan datang sebuah ‘perang’ besar. Perang untuk ‘menaklukkan’ diriku sendiri. Perang untuk memenangkan ganjaran surga! Maka sekali lagi,...TAK BOLEH ADA MISS DALAM RAMADHAN KALI INI!!! []

[Curhat Mingguan Abu Hafizh ke-41, menjelang Ramadhan, 9 Juli 2012, 05:53]

Penulis : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh
Editor : Bey Erest

(Andaikan) Ini Ramadhan Terakhirku...


Hari ini (21/07/2012) adalah hari pertama saya melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini. Beberapa ormas Islam di Indonesia sudah mulai berpuasa sejak kemarin. Seperti biasa, sebagian orang yang tahu ingin mendapat pahala besar dari Allah Swt pasti akan memiliki target-target yang harus dicapai selama bulan mulia ini berjalan. Ada yang bertekad mengkhatamkan Al-Quran. Entah satu kali, dua, atau tiga. Ada yang bertekad untuk memperbanyak shalat sunnah. Ada yang bertekad untuk selalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk Qiyamul Lail. Mengisi setiap detik mereka dengan hal-hal yang bernilai ibadah. Jangankan diisi dengan yang haram, yang mubah saja bagi orang-orang yang mengerti potensi Ramadhan akan merasa sayang. Pokoknya setiap detik harus berpahala! Gitu kira-kira.

Namun pada pelaksanaannya, target-target Ramadhan tidaklah semudah yang dikatakan. Umumnya orang akan semangat 45 di awal-awal Ramadhan saja. Semakin berkurang hari-hari akhir Ramadhan. Lihat saja jamaah shalat Tarawih. Bandingkan saja ketika awal Ramadhan dengan akhir Ramadhan. Semua orang semakin hari semakin loyo untuk mengejar potensi bulan ini yang padahal sudah jelas-jelas sudah mereka dipahami sejak awal. Mengapa itu terjadi?

***

Siang itu saya ikut sebuah kajian Islam. Meski topiknya bukan tentang Ramadhan, tapi sang pembicara mengingatkan satu hal begitu besar manfaatnya untuk memacu diri di bulan yang suci ini. Dia mengatakan jika kita masih berpikir kalau kita masih akan bertemu dengan Ramadhan-ramadhan ditahun-tahun berikutnya, maka itu akan membuat kita lebih santai dalam melihat potensi Ramadhan kali ini. Namun jika kita mampu me-mindsetkan diri kita bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka sudah bisa dipastikan kita akan berjuang mati-matian untuk mengisi setiap detik waktu kita dengan hal-hal yang berpotensi pahala, bertaubat memohon ampun atas seluruh dosa-dosa yang kita pernah lakukan.

Seketika itu hati saya terhentak! Benar sekali apa yang pembicara ini katakan. Mungkin keyword ini yang saya cari selama ini untuk menstabilkan motivasi saya beribadah di bulan Ramadhan ini sampai detik-detik penghabisan. Saya jadi ingat bagaimana Rasulullah Saw berwasiat kepada kita dalam haditsnya,

"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu (ibadah) seolah-olah kamu akan mati besok pagi" (HR. Imam Al Baihaqi)

Sebuah hadits yang sangat populer. Siapapun pernah mendengar hadits ini. Namun ternyata bisa menjadi kunci untuk mengkonsistenkan semangat kita hingga akhir Ramadhan. Karena mungkin Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita! Bisa jadi usia kita tidak sampai pada Ramadhan tahun depan! Maka jangan pernah lewatkan sedikitpun waktu tanpa potensi pahala! Sampai akhir!

***

Ya Allah,...Jangan biarkan aku mati sebelum Engkau ampuni seluruh dosa-dosaku. Jangan biarkan aku menjadi orang yang merugi setelah Engkau anugerahkan Ramadhan ini kepadaku... Amin. []

[Curhat Mingguan Ke-43, Abu Hafizh, 21 Juli 2012, 20:51]

Penulis : Aditya Abdurrahman
Editor : Faiq