Wooooiiii !!!! SA'I #7 udah keluar!!! serbuuu!!!!

Latest Edition! SA'I 'zine #7
Siapkan dirimu menghadapi issue-issue dalam edisi ini! Kita bakal All-Out memotivasi kita semua untuk istiqomah!


berikut ini adalah flyer untuk antum download, dan sebarkan via email atau fotokopi. dapatkan juga SA'I edisi berapa saja di distributor yang tertulis didalam flyer ini:


kalo mau donlut SA'I zine #7 versi pdf-nya juga bisa,....silahkan ambil di sini:

http://www.4shared.com/file/193192069/aefad398/SAI_7-single_page.html


Ulil Abshar Abdalla “Dihabisi” di Jawa Timur

Acara Dialog dan Tabayyun tersebut dilaksanakan demi mencari kebenaran, seperti yang diterangkan oleh KH. Abdurrahman Navis, M.H.I, yang saat itu didapuk sebagai moderator. Dihadiri oleh sejumlah pengurus serta kader NU Jatim, serta para peminat kajian pemikiran Islam, ada dua poin utama yang menjadi tema dialog adalah (1) Kebebasan beragama dan pluralisme, (2) Desakralisasi Al-Qur’an. Kedua poin utama tersebut diangkat guna meluruskan penyimpangan pemikiran dari Ulil Abshar Abdalla dan teman-temannya di JIL. Dimulai dari tulisan yang dibuat oleh Ulil Abshar Abdalla panda tanggal 18 November 2002 yang dimuat di harian Kompas berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. “Kalangan Nahdliyin merasa terusik dengan pemikiran-pemikiran yang kerap dlontarkan oleh Gus Ulil terlebih lagi ketika menempatkan Gus Ulil sebagai bagian dari komunitas NU”, jelas Gus A’ab.
Lebih lanjut Gus A’ab menjelaskan, bahwa terdapat asumsi-asumsi di kalangan NU ketika mendengar beberapa lontaran ide-ide Ulil. Rupanya kalangan Nahdliyin merasa terganggu dan terusik. Ada yang memvonisnya fasik bahkan kalangan ulama Jawa Barat memberikan vonis halal darahnya (Ulil Abshar, red). Oleh karena itulah Forum Kiai Muda Jatim melakukan tabayyun. Tabayyun ini tentunya tidak berangkat dari sesuatu yang kosong, bukan hanya sekedar informasi, tapi didasarkan pada bacaan atau pemahaman terhadap tulisan-tulisan Ulil sendiri, diantaranya tulisan dalam buku ‘Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam’ yang dimuat di media massa selama beberapa episode. Dari situ ada beberapa catatan yang butuh klarifikasi. Sebuah produk pemikiran, apabila akan dijadikan sebagai bagian dari pemikiran Islam, maka harus didasarkan kepada dalil-dalil yang diakui keabsahannya oleh mayoritas umat Islam sendiri. Yang dianggap sebagai dasar yg disepakati oleh mayoritas umat Islam. Demikian juga dalam kapasitas Ulil sebagai aktivis NU, tentu produk-produk pemikiran yang dilontarkan juga tidak bisa lepas dari koridor-koridor yg telah ditetapkan oleh NU. Aturan-aturan itu sering ditabrak oleh Ulil ketika dia melepaskan pemikirannya dari pemikiran Islam dan identitasnya sebagai aktivis NU masih melekat. Hal ini tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja
Dalam banyak tulisannya, Ulil menganggap kebebasan beragama adalah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Memilih agama bagai memilih baju di toko. Jika suka baju merah ya baju merah dipakai, dan kalau suka baju kuning, ya baju kuning dipakai. Ketika seseorang sudah masuk Islam, maka dia harus mengikuti aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam Islam. Sesuai dengan pemahaman NU, kebebasan bergama adalah bukan kebebasan yang sebebas-bebasnya, tapi pilihan yg beresiko, sesuai dengan Q.S. Al-Baqarah ayat 256. Oleh karena itu orang yang menggunakan fitrahnya secara benar, maka fitrah itu bisa menerima kebenaran, dan dia tidak bisa mengelak menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Memang, jika agama dipaksakan, maka akan berujung kemunafikan, tapi ketika dia tidak menerima fitrahnya itu, maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Jadi, kebebasan ini adalah kebebasan yang berkonsekuensi atau beresiko. Dalam memahami Islam, kita harus mengikuti aturan-aturan main dalam Islam. Menurut pemahaman NU, Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Tetapi keyakinan NU bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, tidak menghalangi NU untuk bertoleransi terhadap penganut agama lain sebatas hal-hal yang bersifat muamalah. “Jadi jangan pernah mengaggap semua agama benar. Kita harus tetap meyakini Islam itu yang benar tanpa harus menafikan kebenaran agama lain sesuai yang diyakini pemeluknya. Dan kita sebagai pemeluk Islam, tidak membenarkan keyakinan agama lain. Jika menganggap semua agama itu benar, maka kita dipaksa mengakui keyakinan agama lain dan hal itu tidak dibenarkan” tukas Gus A’ab.
Sebuah kejadian unik terjadi, ketika salah seorang hadirin bertanya kepada Ulil, “Darimana JIL memperoleh dana? Jangan cuma Saifuddin Zuhri (tersangka aksi terorisme) dan kawan-kawannya saja yang diobok-obok, dicari sumber dana mereka darimana, sementara JIL kok tidak pernah diselidiki darimana sumber dananya?!?”. Mendengar pertanyaan ini, Ulil kontan bereaksi keras. Dengan wajah memerah, Ulil menegaskan, bahwa di era globalisasi seperti sekarang, menerima dana dari founding-founding Amerika itu biasa dan banyak organisasi lain yang menerima bantuan dari Amerika.
Kemudian mengenai desakralisasi Al-Qur’an yang dilontarkan oleh Ulil Abshar dan teman-temannya di JIL, Gus A’ab menyatakan secara tegas bahwa dalam memahami Al-Qur’an ada caranya, ada metodenya. Metode memahami Al-Qur’an tidak lepas dari pemahaman terhadap bahasa Arab, tafsir ayat maupun hadits. Ulil Abshar menyatakan bahwa Al-Qur’an perlu catatan kaki, pandangannya ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam. “Ketika Al-Qur’an harus diberi catatan kaki, lalu Al-Qur’an harus bermanifes (merujuk) kemana Al-Qur’an itu? Padahal Al-Qur’an adalah firman Allah, yang kita yakini pasti benar, termasuk cerita-cerita yang dimuat dalam Al-Qur’an yang kesemuanya merupakan fakta yang tidak boleh diragukan kebenarannya,” imbuh Gus A’ab. Ustadz Idrus Romli (salah satu tim Bahtsul Masail NU Jember, red) yang saat itu mendampingi Gus A’ab menyatakan bahwa keraguan Ulil terhadap kebenaran kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu sangat bermasalah dan menyimpang dari ajaran Islam. “Bahkan seseorang yang membuat hadits maudhu’ (hadits palsu) saja hukumannya neraka, apalagi ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an,” tegas ustadz Idrus Romli.
Gus A’ab (Drs. Abdullah Syamsul Arifin, M.H.I) adalah juru bicara Forum Kiai Muda Jawa Timur. Beliau merupakan Ketua Tim LBM (Lembaga Bahtsul Masail) NU Jember, salah seorang Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim, sekaligus dosen STAIN Jember.
Di sisi lain, ketegasan Gus A’ab agar Ulil Abshar tidak menisbatkan lontaran pemikiran-pemikirannya kepada Islam dan NU, mampu membuat Ulil kian terpojok, setelah sebelumnya Ulil tidak mampu menjawab lontaran-lontaran pertanyaan dari Gus A’ab. Terlebih lagi hadirin banyak yang berteriak marah ketika Ulil lagi-lagi menghidari pernyataannya sendiri di berbagai tulisannya. Padahal, Forum Kiai Muda Jatim membawa segepok foto copy tulisan Ulil yang berisi pemikiran kontroversial itu. Di akhir dialog, Maman Imanulhaq, anggota AKKB yang mendampingi Ulil sempat angkat bicara, menyelamatkan Ulil dari isu mengeluarkan Ulil dari NU, mengingat saat ini Ulil tengah mencalonkan diri menjadi the next leader for PBNU.
Dalam kesempatan ini, beliau (Gus A’ab, red) juga memberi peringatan kepada Ulil agar tidak melakukan ketidakjujuran intelektual dengan mengambil pemikiran ulama untuk menjustifikasi pemikirannya, namun tidak menyajikan secara lengkap kutipan pemikiran ulama tersebut, sehingga menimbulkan kesalahpahaman, bahkan sesat pikir di kalangan awam. Pelanggaran etika ini akademis semacam ini sering sekali dilakukan oleh Ulil dan teman-teman JIL-nya.
Saat Gus Ali Masyhuri ditanya, apakah acara Dialog dan Tabayyun ini diadakan sebagai sinyal dukungan Gus Ali kepada Ulil, beliau menjawab, “Saya sebagai ortu, tidak ada dukung-mendukung. Kalo sekedar mencalonkan diri menjadi Ketua PBNU, siapa saja boleh. Tetapi kita tetap mengacu kepada beberapa kriteria. Pertama, harus punya aqidah yang jelas. Kedua, punya keilmuan yg memadai. Ketiga, punya militansi. Keempat, independensi. Tidak ada intervensi dari kekuatan manapun. Kelima, mampu tampil menjadikan akhlakul karimah menjadi panglima dalam kehidupan sehari-hari. Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada dukung-mendukung! NU harus dipimpin oleh siapapun yang memenuhi lima kriteria tadi”. (kar)

1001 Cara Kristenisasi

Berbagai cara ditempuh untuk melancarkan proyek kristenisasi. Ada yang memalsukan Al-Quran, pendeta mengaku haji, sampai upaya memurtadkan kiai ternama. Ada pula tokoh Muslim yang "mendukung" kristenisasi

Kawin antar-agama hanyalah salah satu cara kristenisasi. Lainnya, banyak. Menurut kristolog Abu Deedat Shihab, kaum misionaris dan zending perlu menempuh berbagai macam cara karena selama ini merasa gagal. Kini, kristenisasi lebih diprioritaskan untuk menjauhkan ummat Islam dari agama, baru kemudian memurtadkannya. Abu Deedat merujuk pada Al-Quran Surat Al-Baqarah: 109, "Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman..." Juga Al-Baqarah: 120, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka."

Sinyalemen Al-Quran itu memang benar. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan, "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai seorang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak berakhlaq sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu."


Plesetan Al-Quran

Al-Quran, sebagai tuntunan hidup ummat Islam, kini dimanfaatkan sebagai sarana kristenisasi. Tentu saja bukan Al-Quran sungguhan, tapi palsu. Salah satunya adalah The True Furqan, yang sempat beredar di internet dan menggegerkan publik Jawa Timur, awal Mei lalu. Dalam Al-Quran buatan Evangelis (Ev) Anis Shorrosh itu, ada surat bernama Al-Iman, At-Tajassud, Al-Muslimun, dan Al-Washaya yang isinya memuji-muji Yesus.

Selain ada Al-Quran palsu, juga bertebaran buku-buku plesetan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. "Cara ini yang sekarang paling banyak terjadi. Pemberian Supermie atau bantuan uang sudah tidak manjur lagi," tutur Abu Deedat.

Kenapa cara itu ditempuh? Dalam wawancara dengan majalah Jemaat Indonesia (edisi 4 Juni 2001), Pdt R Muhamad Nurdin —Muslim murtad— menyebut trik itu sebagai cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. "Saya membuat buku agar dibaca umat Kristen, kemudian disalurkan kepada umat beragama lain. Saya tulis untuk kalangan sendiri, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian bagi orang Yahudi aku seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Itu cara yang hati-hati dalam merebut hati kaum Muslimin. Jangan sampai ada vonis mati seperti untuk Suradi dan Poernama," ujarnya. Dua nama terakhir adalah pendeta yang divonis mati oleh Forum Ulama Ummat (FUU) Bandung karena menghina agama Islam.

Buku-buku Nurdin laku keras. Dalam tiga tahun, 5000 eksemplar ludes. Hasilnya, menurut penuturan Wakil Gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun Jakarta ini, banyak orang Islam yang akhirnya menerima Yesus alias murtad. "Bahkan ada yang menjadi penginjil."

Contoh buku karangan Nurdin adalah Ash-Shadiqul Masdhuq (Kebenaran yang Benar), As-Sirrullahil Akbar (Rahasia Allah yang Paling Besar), dan Ayat-ayat Penting dalam Al-Quran.

Selain buku, juga bermunculan brosur atau pamflet sejenis lembar Jumat. Judul yang dipilih pun seolah-olah Islami.

Misalnya "Allahu Akbar Maulid Nabi Isa as", "Kesaksian Al-Quran tentang Keabsahan Taurat dan Injil", dan "Siapakah yang Bernama Allah itu?" Bertebaran pula stiker kaligrafi Arab yang isinya pujian kepada Yesus.

Buku dan brosur itu diterbitkan oleh Yayasan Jalan Al-Rachmat, Yayasan Christian Center Nehemia Jakarta, Yayasan Pusat Penginjilan Alkitabiah (YPPA), Dakwah Ukhuwah, dan Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim.

Anak-anak sekolah juga menjadi sasaran empuk. Siti Muflikhah, santri Pesantren At-Taqwa Bekasi, pernah mendapat surat berisi komik anak-anak dari sebuah lembaga yang menamakan diri Klab17. Di bagian awal, komik itu berisi cerita keseharian anak-anak. Namun di bagian akhir ada pernyataan, "Saya percaya akan Engkau, Yesus sebagai juruselamat saya."


Mengaku Mantan Haji

Bidang kesehatan juga dibidik. Ini antara lain dialami keluarga Hartono, warga Kupang, Surabaya. Istrinya, Jam'iyah, sakit dan dirawat di RS RKZ Surabaya. Biaya yang harus dikeluarkan selangit sehingga Hartono yang cuma bekerja sebagai mandor kontraktor kebingungan. Datang misionaris menawarkan bantuan biaya pengobatan. Namun ada syaratnya: masuk Kristen. Hartono terpikat. Suami istri itupun akhirnya menjadi penganut Kristen.

Cara yang cukup sulit diidentifikasi adalah tipu daya dengan meniru adat atau kebiasaan komunitas Muslim. Di Cirebon, ada kelompok qasidah yang menyanyikan puji-pujian kepada Yesus.

Hal serupa juga dilakukan jemaat Kanisah (Kristen) Ortodoks Syiria (KOS) yang menyelenggarakan tilawatul Injil, memakai peci, ibadahnya mengamalkan shalat 7 waktu, memakai sajadah, dan mendendangkan qasidah.

Duta-duta Injil (begitu kalangan Kristen menyebutnya —red) juga berani mengaku sebagai mantan ustadz, bertitel haji atau hajjah, atau anak kiai terkenal. Pengakuan-pengakuan seperti itu direkam dalam kaset dan diedarkan di tengah masyarakat.

Misalnya di Cirebon, murtadin Ev Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alias Amin Al-Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian itu palsu.

Ada lagi Ev Hj Christina Fatimah alias Tin Rustini alias Sutini alias Bu Nonot, pemberita Injil dengan memperalat Al-Quran di Gereja Bethel Pasir Koja, Bandung. Mengaku pernah berkali-kali menunaikan ibadah haji. Menurut penuturan Sumarsono, mantan suaminya, Sutini tidak pernah belajar di pesantren. Selama berkeluarga tidak pernah shalat. Memang dia pernah pergi ke Arab Saudi, bukan untuk ibadah haji tetapi menjadi TKW.

Banyak lagi kaset-kaset yang berisi rekaman kesaksian palsu, misalnya kesaksian HA Poernama Winangun alias H Amos, Pdt R Muhamad Nurdin, Pdt M Mathius, Pdt Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F Intan Duana, dan Ev Paulus Marsudi.


Sekolah dan Tawaran Kerja

Biaya sekolah yang kian mahal juga dimanfaatkan untuk menjerumuskan kaum Muslimin. Mereka mendirikan sekolah (yang seolah-olah) Islam, seperti Institut Teologi Kalimatullah Jakarta yang dikelola Yayasan Misi Global Kalimatullah. Juga ada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos Jakarta, yang mempunyai kurikulum Islamologi bermuatan 40 sks.

Lapangan kerja juga menjadi lahan subur. Ini misalnya dilakukan pasangan misionaris Robert Antony Adam dan Traccy Carffer di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Warga Amerika Serikat yang terang-terangan mengaku utusan Yesus itu berhasil memurtadkan 123 orang Minang, dengan bekal jabatan konsultan kehutanan Global Partners Forestry Unit (GPFU). Robert-Traccy yang masuk Pesisir Selatan sejak Desember tahun silam, menawarkan rekayasa teknologi tepat guna pemberdayaan jati emas, pala super, dan kapas transgenik. Robert lantas menjual bibit jati mas, pala, dan kapas dengan harga 50% lebih murah daripada harga pasaran. Kalau mau dapat gratisan, bisa saja. "Asal masuk Kristen," ujar Masrizal, aktivis dakwah di Pesisir Selatan. Banyak warga yang tergiur dan akhirnya menjual keyakinan karena terobsesi keuntungan jutaan rupiah. Untung misionaris ini segera dideportasi karena pelanggaran visa, pertengahan bulan lalu.

Kasus serupa terjadi di Bekasi. Bulan April lalu terbongkar praktik kristenisasi berbungkus lapangan kerja. Sekitar 50 orang Muslim asal Gorontalo dibawa ke Bekasi dengan janji akan dipekerjakan dan diberi beasiswa oleh Yayasan Dian Kaki Emas. "Tapi setelah sampai di sini, mereka dididik dan dipaksa pindah agama Kristen oleh Pendeta Edi Sapto," ungkap Hamdi, Ketua Divisi Khusus Forum Bersama Ummat Islam, dalam acara konferensi pers di Masjid Al Azhar, Klender Jakarta Timur.

Warga Muslim itu disekap, didoktrin ajaran Kristen, disuruh ikut kebaktian, dan dilarang shalat. Mereka juga diwajibkan memelihara babi-babi yang ada di kompleks yang berdiri di atas tanah seluas 5 hektar itu. Akhirnya kompleks kristenisasi terselubung itu digerebeg warga dan aparat.


"Dukungan" Tokoh Muslim Liberal

Proyek kristenisasi ternyata mendapat `dukungan' dari beberapa orang yang sering disebut cendekiawan Muslim. Tokoh-tokoh ini memperkenalkan paham liberalisme dan pluralisme yang kerap mengusung slogan `membangun dunia baru', dengan penyatuan agama dan melepaskan fanatisme agama. Salah satunya adalah Prof DR Said Agil Siradj, MA. Gagasan pluralnya antara lain tampak dalam pengantar buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Buku ini dikarang oleh Bambang Noorsena, pendiri Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) di Indonesia. Di situ Said Agil menulis bahwa KOS tidak berbeda dengan Islam. Secara al-rububiyyah, KOS mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang harus disembah. Secara al'uluhiyyah, telah mengikrarkan Laa ilaha ilallah (Tiada Ilah selain Allah) sebagai ungkapan ketauhidannya. Jadi dari tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak jauh berbeda dengan Islam. Perbedaannya, menurut Said Agil, hanya sedikit. Jika dalam Islam (Sunni) kalam Tuhan yang Qadim itu turun kepada manusia (melalui Muhammad) dalam bentuk Al-Quran, maka dalam KOS kalam Tuhan turun menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan perawan Maryam menjadi Manusia (Yesus). Perbedaan ini tentu saja sangat wajar dalam dunia teologi, termasuk dalam teologi Islam. "Pandangan seperti itu merupakan salah satu bentuk penghancuran aqidah," timpal Abu Deedat.

Tokoh lainnya adalah DR Nurcholis Madjid. Dalam buku Pluralitas Agama, Kerukunan dalam Keragaman, Cak Nur menjelaskan bahwa pengikut Isa Almasih menyebut kitab Injil sebagai Perjanjian Baru berdampingan dengan kitab Taurat yang mereka sebut sebagai Perjanjian Lama. Kaum Yahudi tidak mengakui Isa Almasih dengan kitab Injil-nya, menolak ide Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru itu, namun Al-Quran mengakui keabsahan keduanya sekaligus. Dengan nada agak tinggi, Abu Deedat menyebut pendapat Cak Nur itu sebagai upaya pendangkalan aqidah. "Para pengikut Nabi Isa as (kaum Hawariyun) tidak pernah menyebut Injil sebagai kitab Perjanjian Baru. Nabi Isa sendiri tidak pernah menerima atau mengetahui kitab Perjanjian Baru karena Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa bukanlah Perjanjian Baru yang isinya kebanyakan surat-surat Paulus yang sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Isa itu sendiri," katanya.

Selain kedua tokoh di atas, Abu Deedat juga memasukkan Alwi Shihab sebagai tokoh pluralis. Sementara Adian Husaini dalam Islam Liberal menunjuk beberapa nama seperti dosen-dosen Universitas Paramadina (Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar Rahman, Luthfi As-Syaukanie), dosen UIN Syarif Hidayatullah (Azyumardi Azra, Muhammad Ali, Nasaruddin Umar), dan beberapa nama lain yang menjadi kontributor Jaringan Islam Liberal.

Menurut Adian yang juga anggota Komisi Kerukunan antarumat Beragama MUI, melalui pluralisme, ummat Islam diprovokasi agar melapaskan aqidahnya. Tidak lagi meyakini agamanya saja yang benar, dan kemudian diajak untuk mengakui bahwa agama Kristen juga benar. "Teologi pluralis sebenarnya adalah pembuka pintu bagi misi Kristen dan sejalan dengan imbauan Paus Yohanes Paulus II agar misi Kristen terus dijalankan," ujarnya.

Kaum Kristen juga tak segan-segan "menyerang" tokoh-tokoh Muslim yang dikenal sebagai pejuang tegaknya syariat Islam. Misalnya KH Kholil Ridwan (Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) dan KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Pimpinan As-Syafiiyah, Jakarta).

Sekitar 5 bulan lalu, keduanya mendapat kiriman brosur dari STT Apostolos. "Isinya tidak secara langsung mengajak kepada agama Kristen, namun mengajak saya agar masuk ke dalam Apostolos. Itu artinya Apostolos mengajak saya untuk masuk ke dalam agama Kristen," kata Abdul Rasyid.

Abdul Rasyid segera melaporkan kejadian itu kepada aparat, sebab cara itu sudah melanggar ketentuan hukum, yakni larangan mengajak ummat suatu agama untuk masuk ke agama lain. Kemudian ada pemberitahuan dari aparat bahwa pihak Apostolos melalui Pdt Yusuf Roni membantah telah mengirim surat dan brosur itu.

"Terlepas dari benar tidaknya bantahan itu, yang jelas apa yang saya alami merupakan indikasi bahwa sasaran kristenisasi tidak hanya kalangan akar rumput, tapi juga ulama dan tokoh masyarakat," ujar Abdul Rasyid.


Yerikho 2000 dan Doa 2002

Misi Kristen di Indonesia didukung oleh kekuatan dana yang sangat besar, di antaranya melibatkan konglomerat keturunan Cina, James T Riady (bos Grup Lippo). Seperti terungkap di majalah Fortune (16 Juli 2001), James berencana membangun seribu sekolah di desa-desa miskin di Indonesia. James bekerjasama dengan Pat Robinson (misionaris dunia) juga akan mendirikan organisasi jaringan umat Kristiani. Hebatnya, ummat Islam secara tidak sadar turut mendukung cita-cita besar James T Riady. Antara lain dengan menjadi nasabah Bank Lippo, belanja di Mal Lippo, membeli rumah di Lippo Karawaci dan Cikarang, berobat ke RS Siloam, pelanggan Lippo Shop, Link Net, Lippo Star, Kabel Vision, dan Asuransi Lippo.

Indonesia memang akan dijadikan pusat perkembangan Kristen di Asia Pasifik. Demikian kata Pdt George Anatorae dari The Lord Familly Church Singapore dalam seminar kerjasama Global Mission Singapore dan Galilea Ministry Indonesia, di Hotel Shangrila Jakarta (9-12 Juni 1998). Sejauh mana keberhasilan program itu, perlu diteliti lebih lanjut. Yang pasti, data tahun 1999 menunjukkan jumlah umat Islam di Indonesia anjlok dari 90% menjadi 75% (Siar No 43, 18-24 November 1999).

Keberhasilan itu berkat kerja keras 38 agen kristenisasi, 1573 misionaris pribumi, 62 misionaris asing, dan 421 misionaris lintas kultural (data dari Operation World 2001 yang dihimpun India Missions Association, Japan Evangelical Assocation, dan Korea Research Institute for Missions).

Salah satu lembaga yang gencar melaksanakan kristenisasi adalah Doulos World Mission (DWM). Saat ini DWM sedang melaksanakan Proyek Yerikho 2000, yaitu program pengkristenan wilayah Jawa Barat, dengan sentra kegiatan digerakkan di kawasan pinggiran Jakarta.

Proyek ini bertujuan "mewujudkan Kerajaan Allah di bumi Parahyangan menyongsong abad XXI". Menurut Hendrik Kraemer, peneliti dan penginjil dari Belanda, Jawa Barat adalah wilayah "paling gelap" di Indonesia dan sangat tertutup bagi Injil. Karena itu aktivis DWM bertekad, "Kita harus merebut tanah Pasundan bagi Kristus."

Yerikho 2000 juga digerakkan di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Pusat kegiatan DWM berada di kawasan Rawamangun (Jakarta Timur) dan Tangerang (Banten).

Program lainnya adalah Doa 2002, yang dilaksanakan sejak tanggal 19 Oktober 2001 sampai 6 Desember 2002. Secara khusus program ini menyebut beberapa komunitas Muslim sebagai objek kristenisasi. Di antaranya adalah suku Kaili Ledo (Sulawesi Tengah), Melayu Riau, Betawi, Aceh, Melayu Kalimantan, Tenggarong Kutai, Bima, Maluku, Banda, dan Papua. Rencana program Doa 2002 tertuang dalam buku 40 Hari Doa Bangsa-Bangsa yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa di dunia.

Muslim Betawi misalnya, harus didoakan oleh segenap orang Kristen pada tanggal 9 November 2001 lalu. Itu perlu dilakukan agar hati Bapa mengasihi dan merindukan orang Betawi. Selain itu, agar Bapa mengutus duta-duta kerajaan-Nya untuk mengembangkan pelayanan kesenian Betawi, literatur, dan radio dalam bahasa Betawi. Juga, agar Tuhan mencurahkan kuasa-Nya dan mengubah kehidupan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Betawi, baik para penyanyi, penari, tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan wanita.

Secara khusus, orang Kristen mendoakan Presiden Megawati dan beberapa pemimpin dunia. Harapannya, agar Megawati (dan para pemimpin) mendapat pewahyuan tentang Ketuhanan Yesus dan keluarganya datang mengenal Kristus.

Duta-duta Injil juga sedang menggencarkan ritual Doa 5 Patok. Yakni meningkatkan doa 5 kali sehari dengan pelaksanaan minimal 30 menit lebih awal sebelum waktu shalat (bagi orang Islam). Tujuannya adalah untuk mengadakan penghadangan ruhani sekaligus pembersihan atmosfir ruhani agar kaum Muslimin dapat menerima Yesus.

Ritualnya dilaksanakan sebelum waktu shalat ummat Islam, yakni subuh (mulai 03.15-selesai), pagi (10.30-selesai), siang (14.00-selesai), sore (17.00-selesai), dan malam (18.00-selesai). Pada Kamis malam, dilakukan doa semalaman dan peperangan ruhani sambil berkeliling kota/lokasi tertentu. Awas, hati-hati!• (ahmad, dodi nurja, amz, pam)


Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)

Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.

Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur'an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.

Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.

Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.

Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.

Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.

Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.

Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banden, dll.



Abu Deedat Shihabuddin MH, Ahli Kristologi:

"Kasus Terbanyak, Pemuda Kristen Hamili Gadis Muslimah" Pertengahan bulan lalu, harian Republika menurunkan laporan tentang puluhan sekolah agama di Yogyakarta dan Temanggung yang tidak mau menyelenggarakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) untuk pelajaran agama bagi siswa-siswa beragama lain di sekolah itu. Padahal sudah ada ketentuan hukum yang mengatur hal itu secara tegas yakni Surat Keputusan Bersama (SKB) No. 2/U/SKB/2001.

Namun, SKB yang ditandatangani oleh Mendiknas, Mendagri dan Menag itu sengaja mereka abaikan. Alasan mereka, mengutip pernyataan sejumlah pejabat Diknas setempat, mereka ingin menjaga kekhasan sebagai sekolah agama. Bahkan beberapa yayasan pengelola sekolah-sekolah tersebut secara tegas menolak SKB itu karena ingin mengemban misi tertentu untuk kepentingan agama mereka (Republika, 12/6).

Menanggapi berita tersebut, da'i dan Kristolog (ahli tentang Kristen), Abu Deedat Shihabuddin MH berkomentar enteng. Menurutnya, itu tidak aneh dan belum seberapa gawat, karena sebetulnya masih banyak bentuk-bentuk pembangkangan mereka lainnya yang lebih parah. Yang aneh, bagi Sekjen Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA) itu, justru sikap harian tersebut yang tidak mau secara tegas mengatakan bahwa sekolah-sekolah itu tidak lain adalah sekolah-sekolah Kristen. "Mengapa mesti takut," tanyanya heran.

Sebagai seorang kristolog, ustadz yang biasa dipanggil Abud oleh rekan-rekan seprofesinya itu, memang bukan hanya menguasai disiplin ilmu tentang agama Kristen secara mendalam. Tapi ia juga banyak tahu tentang seluk-beluk dan kiprah licik para misionaris Kristen dalam memurtadkan kaum Muslimin.

Maklum, pria berkaca mata tebal ini sering menangani berbagai kasus pemurtadan di berbagai daerah, baik berupa advokasi maupun terapi langsung. Selain itu Abud juga kerap melakukan investigasi langsung ke 'garis belakang' untuk memperoleh data. Jadi wajar kalau ia tahu banyak.

Sudah banyak murtadin yang terselamatkan kembali ke pangkuan Islam setelah diterapi Abud. Uniknya, para pasien yang ditangani mubaligh
kalem ini bukan hanya dari kalangan Muslim KTP saja. Tapi juga ada yang justru berasal dari kalangan santri. Misalnya, anak seorang kyai
sal Salatiga yang selain dimurtadkan juga dihamili oleh seorang aktivis gereja. "Ini bukti bahwa gerakan pemurtadan memang semakin hebat dan terencana serius," jelasnya prihatin.

Melalui Abud juga, sejumlah pendeta dan aktivis gereja kembali berdiri di bawah panji Syahadat. Mereka mengakui kekeliruan yang ada
ada ajaran mereka setelah berdebat panjang dengan Abud. "Bahkan, ada salah satu pendeta setelah berdebat di rumah saya membanting Injilnya karena kesal," cerita pria yang kutubuku ini.

Di tengah kesibukannya keliling daerah untuk mengisi ceramah, seminar dan pelatihan tentang antisipasi gerakan pemurtadan (harakatul irtidad), mantan aktivis PII ini berkenan meluangkan waktunya untuk diwawancarai Suara Hidayatullah. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, karena dipenuhi ribuan buku serta pakaian, sendal dan sepatu, barang dagangan istrinya, Abud menerima Deka Kurniawan dan reporter lepas Hidayaturrahman.


Berikut petikannya:

Anda begitu mendalami dunia Kristen. Pernahkah terbersit di hati Anda untuk masuk Kristen?

Tidak ada keinginan untuk masuk Kristen walaupun saya sudah banyak sekali membedah Bibel. Justru keyakinan saya terhadap kebenaran Islam semakin kuat, karena setiap saya membaca Bibel selalu ada perbedaan redaksi dalam setiap edisi cetakannya. Misalnya dalam edisi lama ada istilah Tuhan. Tapi di edisi baru pada tempat yang sama ditulis Tuan. Begitu juga istilah Babi diganti menjadi Babi Hutan.

Abud mengoleksi 49 kitab Injil modern dan klasik, termasuk Injil dalam sejumlah bahasa daerah yakni Jawa, Minang dan Sunda. Sebagian besar didapatnya secara cuma-cuma dari diskusi yang dilakukannya bersama pendeta. Selebihnya didapat dari hasil investigasi dan membeli di pasar loak.

Setelah sekian lama menggeluti ajaran Kristen, apakah Anda menemukan sisi positifnya?

Al-Quran sendiri menyatakan, telah terjadi percampuradukan antara yang benar dan yang batil dalam ajaran ahlul kitab. Ini berarti menunjukkan ada juga kebenarannya. Hanya saja memang madu dan racun itu sudah digabung menjadi satu. Seperti ayat-ayat tauhid dalam Markus pasal 12 ayat 25 Yesus berkata, "Dengarlah wahai Bani Israel Tuhan kita dalah Tuhan Esa." Ini menunjukkan Tuhan mereka adalah esa disamping memang ajaran mereka khusus hanya kepada golongan Bani Israel. Tapi ada juga racunnya, apa yang dikatakan Paulus dalam Roma pasal 9 ayat 5 misalnya, "Yesus adalah Allah yang harus disembah." Datanglah ayat Al-quran sebagai korektor bagi mereka, misalnya surah Al-Maidah ayat 72 menyebutkan, "Telah kafir orang yang mengatakan al-Masih adalah Tuhan." Makanya, kalau kita berinteraksi dengan para aktivis Kristen kita jangan hanya mengatakan kitab Injil sudah tidak asli atau palsu, lebih baik kita tunjukkan yang menyimpang dan salah pada Injil tersebut.

Apa yang menyebabkan kaum Nasrani tidak menyadarinya?

Di samping kekuatan dana, mereka ada dogma, bahwa apapun yang terjadi apakah ajaran itu rasional atau tidak, harus diterima karena ia merupakan firman Tuhan. Dan ditanamkan kepada mereka hanya orang Kristen saja yang selamat, yang lain tidak selamat dan harus diselamatkan. Misi inilah yang membuat mereka agresif untuk melakukan pemurtadan. Apalagi misi itu didukung dengan fasilitas yang cukup. Mereka tidak lagi memikirkan urusan kebutuhan keluarga, karena sudah dijamin. Lain dengan dai-dai kita yang dikirim ke pelosok paling hanya digaji Rp 50.000-150.000 per bulan.

Apa yang membuat mereka menerima dogma tersebut, sehingga mereka tetap menjadi ummat terbesar?

Secara umum orang ingin mencari yang gampang. Dan di Kristen itu memang gampang. Kalau melakukan tindakan yang tidak berakhlaq tidak ada masalah karena nantinya akan diampuni juga, dan cukup hanya sekali seminggu datang ke gereja. Paulus mengatakan dalam Roma pasal 5 ayat 20, "Semakin banyak dosa semakin melimpah kurnia Tuhan."

Makanya di Barat kita ketahui kehidupan mereka rusak, terutama dalam kebebasan seks. Dan kerusakan itu mengacu kepada ajaran Bibel yang memang banyak memuat cerita-cerita porno yang vulgar. Misalnya diceritakan bagaimana Nabi Daud sebagai orang yang rusak moralnya
menghamili Batseba istri Uria. Begitu pula Nabi Luth diceritakan menghamili anaknya sendiri. Makanya, Jasmen Alfa, seorang Sosiolog Kristen, mengatakan Bibel itu jangan sampai dibaca anak-anak, lebih baik ia dimasukkan ke dalam peti besi, kemudian petinya dikunci dan kuncinya dibuang ke laut.

Bagaimana reaksi mereka bila mendengar hal itu dari Anda?

Mereka membenarkan dan meyakini kebenaran cerita persundelan itu. Misalnya sebuah acara di televisi pernah menampilkan dua orang pelacur yang menjadi germo kemudian bertaubat menjadi hamba Tuhan. Saya sampaikan bahwa cerita ini mirip dengan apa yang ada dalam Bibel. Pembawa acara yang Kristen itu kemudian membenarkan. Kemudian saya balikkan, berarti Yesus anak pezina karena dalam Matius ayat 1 dan seterusnya menceritakan bahwa silsilah keturunan Yesus bertemu dengan raja Daud yang menzinai Batseba. Tapi telepon saya akhirnya ditutup.

Kalau sudah mentok biasanya apa yang mereka lakukan?

Ada yang jujur dan mengatakan ini PR buat saya. Ada yang tidak jujur dengan cara menghindar dan lari ke masalah lain. Maka kalau debat dengan mereka jangan beri kesempatan buat beralih pembicaraan.

Mereka meyakini semua orang berdosa dari Adam sampai manusia kemudian, kecuali Yesus yang tidak berdosa. Inilah sebenarnya skenario Paulus menjalankan misinya, yang membuat citra bahwa Yesus itu juru selamat.

Apakah Anda hafal Injil sehingga fasih menyebutkan ayat demi ayat?

Tidak hafal. Hanya tahu saja.

Selama beraktivitas di bidang ini Anda sudah terjun kemana?

Seluruh wilayah Jawa Timur sudah, begitu pula Jawa Tengah dan Sumatera juga serta Kalimantan. Program ke depan adalah Irian dan Sulawesi. Kalau ini sudah berarti semua pulau besar sudah. Jadwal terbang Abud memang padat. Ketika kami menemuinya seusai berkhutbah Jumat di sebuah perkan-toran ia mengaku baru tiba dari Kalimantan. Sesudah itu ia punya agenda di dua tempat sampai malam.

Karena waktu yang terbatas wawancara itu urung dilangsungkan. Karena esok siangnya ia berceramah di Universitas Trisakti untuk selanjutnya terbang ke Palembang, Sahid mewawancarainya pagi hari selama waktu menunggu jemputan dan dalam perjalanan menuju lokasi seminar. Itu pun masih sering disela oleh telepon, antara lain dari daerah yang memintanya datang yakni Pekalongan dan Padang.

Apa yang biasanya Anda lakukan di berbagai tempat itu?

Kita memberikan informasi sekitar cara-cara pemurtadan dan kita dorong mereka memperdalam pemahaman keislaman. Jangan sampai nanti kawan dibilang lawan dan lawan dibilang kawan, karena memang gerakan mereka ibarat musang berbulu ayam, lihai dan licik.

Misalnya sekarang di Meruya Ilir (Jakarta) mereka mendirikan Sekolah Tinggi Theologia Kalimatullah, yang semua mahasiswanya memakai kopiah dan mahasiswinya memakai jilbab. SKS Islamologinya yang dulu hanya 20 SKS sekarang menjadi 40 SKS. Semester dua saja mereka sudah dilatih berdiskusi dengan para ustadz. Sedang mahasiswa IAIN saja tidak dipersiapkan untuk menghadapi para pendeta. Ada juga yang mengaku-ngaku anak kiai, mantan ustadz dan lain-lain.

Mereka menggunakan cara-cara itu untuk mencari legitimasi?

Semacam itu. Tidak jarang yang mengaku pernah jadi aktivis Muhammadiyah. Bahkan di rumah sakit pun mereka beraksi. Pasien yang tidak berdaya disuruh beriman kepada Yesus agar sembuh. Padahal kalau mau jujur, saya mempunyai tetangga Katolik yang mengeluh karena habis
biaya untuk berobat strok tapi tidak juga sembuh, terus saya balikkan saja, katanya Tuhan Anda bisa menyembuhkan. Jadi semua akal-akalan
orang Kristen untuk menjerat orang Islam. Kalau sudah menjadi Kristen ya akhirnya diterlantarkan.

Seberapa sering Anda menangani kasus-kasus pemurtadan?

Banyak sekali. Yang paling sering biasanya kasus pemuda Kristen memacari dan menghamili pemudi Muslimah. Ada juga kasus nikah beda agama yang belakangan menim-bulkan masalah besar.

Apa hikmah terbesar menjadi seorang Kristolog?

Di sini saya bisa menguji kemampuan lewat berdebat dengan mereka, kalau ada yang kurang saya pelajari terus. Di samping itu memudahkan saya berda'wah kepada mereka, karena Islam ini juga wajib dida'wahkan kepada mereka. Lihat saja surah Ali-Imron ayat 71. Sementara perintah bagi mereka untuk berdakwah kepada orang Islam itu batal karena dalilnya di Matius pasal 28 ayat 16 dibuat setelah Yesus mati.

Karenanya, kalau Anda didatangi misionaris Kristen, jangan diusir. Da'wahi mereka.

Tapi kan tidak semua orang punya bekal?

Makanya para aktivis da'wah harus menyiapkan bekal itu. Tim FAKTA insya Allah siap membantu. Dimana saja, sampai ke Irian sekalipun, kami siap memberikan bekal.

FAKTA didirikan 1998 dengan latar belakang belum banyaknya lembaga yang secara khusus menangani persoalan Kristenisasi. Dengan fasilitas yang sangat terbatas 7 dari 20 relawan (diantaranya bekas pendeta) yang aktif hingga kini masih rutin melakukan berbagai kegiatan antisipasi pemurtadan antara lain dengan menerbitkan buletin, membuka ruang konsultasi akidah di sebuah majalah Islam, memberikan seminar, ceramah dan pelatihan Kristologi di berbagai kota, dan belakangan di kampus-kampus. Melalui lembaga inilah Abud membangun jaringan anti pemurtadan secara nasional. Sayangnya, untuk kebutuhan operasional FAKTA masih mengandalkan kocek para relawannya sendiri.

Apa saja langkah yang harus diambil jika sebuah masyarakat berhadapan dengan kristenisasi?

Kristenisasi ini bervariasi. Kalau mereka mengadakan santunan sosial, pembagian sembako atau lainnya, maka umat Islam harus melakukan hal yang sama sebagai counternya. Kalau mereka menyerang lewat buku kita juga mempersiapkan buku dan tulisan-tulisan, sekaligus menyerang balik kepada mereka. Tapi kalau kasusnya hipnotis maka kita harus laporkan kepada pihak yang berwajib dan melakukan upaya advokasi bertemu dengan upaya hukum. Aparat juga harus peka. Kalau tak ada langkah hukum masyarakat bisa kehilangan kesabaran.

Kepada para misionaris, langkah pertama, tolak mereka dengan cara yang baik, karena Islam tidak mengajarkan cara kekerasan jika kita tidak diperlakukan keras. Konkritnya kalau menemukan sudah ada bukti-bukti itu, ambil bukti-bukti itu kemudian serahkan kepada ulama setempat dan beritahukan kepada aparat, lantas jelaskan kepada mereka ini melanggar kode etik penyebaran agama. Kalau mereka berbuat zhalim baru kita lakukan hal yang sama tapi tidak boleh berlebihan. Ummat Islam jangan menjadi ummat yang bodoh karena Islam bukan agama yang sempit. Kepada ummat Kristen yang tidak menggangu jangan diganggu pula mereka.

Tindakan ummat Islam selama ini cenderung reaktif terhadap isu-isu kristenisasi, misalnya seperti yang terjadi di Doulos. Bagaimana menurut Anda?

Jangan salah tafsir. Ummat Islam tidak pernah mengadakan aksi. Mereka hanya bereaksi. Karena aksi-aksi Kristen melanggar kode etik maka
ummat Islam bereaksi.

Mungkin, karena begitu concernnya terhadap bidang Kristologi, dosen Institut Agama Islam Al-Ghuraba ini, sampai menamakan anak keduanya dengan seorang tokoh Kristologi terkemuka dari Afrika, Ahmad Deedat. "Saya memang mengaguminya dan ingin agar dia menjadi ulama seperti Ahmad Deedat," jelas Kristolog yang mengaku memiliki kemiripan jalan hidup dengan Ahmad Deedat itu. Itulah sebabnya di kalangan teman-temannya, serta belakangan di kalangan media dan umat, anak ketujuh dari 13 bersaudara pasangan Mahfudz dan Hanafiyah itu lebih sering dikenal sebagai Abu Deedat. Padahal nama aslinya adalah Shihabuddin.

Mengapa Anda tertarik dan tekun menekuni Kristologi?

Saya terjun di dunia Kristologi tahun 1982, ketika bekerja di sebuah perusahaan swasta. Di perusahaan itu kebetulan direkturnya seorang pendeta. Begitu pula para pimpinan lainnya yang memegang posisi penting rata-rata adalah aktivis gereja. Salah satu dari mereka, yakni kepala bagian keuangan berusaha menginjili ('mendakwahkan' injil) para karyawan Muslim melalui berbagai tulisan dan diktat tentang potongan-potongan ayat Qur'an yang terkesan seperti mendukung agama mereka.

Saya penasaran. Maka saya datangi orang itu. Ketika saya tanya, katanya tulisan-tulisan itu disusun oleh orang yang sudah berpuluh-puluh kali naik haji. Saya pun terlibat diskusi kecil-kecilan dengan mereka.

Apa bekal Anda waktu itu?

Bekal saya waktu itu Injil pemberian seorang Kristen Manado yang saya pelajari. Kebetulan juga saya lulusan Fakultas Ushuluddin, jurusan Penyiaran Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana ada mata kuliah khusus tentang Kristologi. Dengan modal itu saya terus menggeluti dunia Kristologi secara otodidak, selain mengikuti kursus-kursus Kristologi secara tertulis. Misalnya di Pelita Hidup tahun 1986 dengan menggunakan nama samaran. Alhamdulillah dari situ saya banyak mendapatkan dokumen penting yang berguna untuk antisipasi gerakan mereka.

Ia dibesarkan di pesantren NU sampai SMP di Tasikmalaya, Jawa Barat. Orang tuanya juga berlatar belakang NU. Karena banyak berinteraksi dengan aktivis Persis, ayahnya lalu banyak mendorong untuk berdakwah. Berbagai diskusi dan kegiatan PII ditekuninya.

Di rumahnya Abud sering meladeni permintaan debat dari para pendeta dan aktivis gereja. Hal yang sama juga dilakukan di berbagai tempat. Dan itu sudah berlangsung ratusan kali. Dari kalangan Budha dan Aliran Kepercayaan ada juga yang pernah menjadi lawan debat Abud. Menurut Abud, banyak di antara mereka yang menyerah tapi tidak mau mengakui kesalahannya. Kalau pun ada yang mengaku salah, mereka khawatir kalau masuk Islam akan miskin. Tidak sedikit juga yang mendapat hidayah.

Buku apa saja yang Anda jadikan pegangan untuk mendebat mereka?

Ketika masih SMU di kampung, saya sudah memiliki referensi buku-buku Islam, kurang lebih 500 judul. Yang pertama saya pelajari adalah dialog Islam-Kristen berjudul "Bibel lawan Bibel" karangan A Hassan dan buku-buku Pak Abdullah Wasian tentang Kristologi.

Bagaimana Anda mendidik anak Anda, Deedat, supata kelak jadi seperti Ahmad Deedat?

Saya sekarang sedang berusaha menyiapkannya menjadi aktivis da'wah. Ketika saya menangani kasus pemurtadan di rumah, saya sengaja menyuruhnya untuk melihat.

Bagaimana mengatur kesibukan da'wah dengan keluarga?

Saya mencoba bagaimana kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi, karenanya saya juga berwiraswasta. Istri saya banyak sekali membantu dan mendorong saya ketika menangani kasus-kasus pemurtadan terutama terhadap Muslimah. Jadi antara saya dan istri sejalan. Dia juga tahu tugas saya, sehingga untuk anak-anak kita beri penjelasan kepada mereka.

Anda pernah mengalami teror?

Iya, sebatas teror telepon dan surat kaleng biasa. Istri saya juga pernah diancam melalui telepon. Berjuang harus ada tantangan dan itulah risiko.

Peristiwa apa yang paling berkesan bagi Anda?

Yang tidak pernah bisa saya lupakan adalah ketika saya mengobati anaknya kiai, di mana seumur hidup baru kali itu saya menceramahi kiai secara langsung. Anaknya kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, dibawa kabur oleh anak pendeta kemudian di-Kristenkan, bahkan sudah dihamili. Akhirnya pak kiai ini mendatangi saya dan minta tolong kepada saya untuk menangani kasus ini. Alhamdulillah, sayapun dapat melakukan penyadaran kepada anak tersebut dan kepada kiai itu sekaligus yang merasa terpukul dengan keadaan anaknya. Kesan lain, ketika saya menghadapi kasus-kasus Muslimah yang termurtadkan. Ini sering membuat saya sedih.

Apakah perhatian yang mendalam itu tidak membuat Anda emosional?

Saya sangat prihatin sekali, karena lembaga yang lain masih sangat minim perhatiannya terhadap masalah seperti ini. Inilah kelemahan di kalangan kita. Kalau kejadian seperti ini belum menimpa keluarga kita sendiri, hal itu dianggap biasa saja. Kalau sudah tertimpa musibah baru merasa. (Deka Kurniawan)


Sepucuk surat tergeletak di meja redaksi kami, Maret lalu. Surat itu dari seberang pulau, Kalimantan Timur. Nama pengirimnya singkat saja, Dewi. Tetapi persoalan yang diadukan tak sesingkat namanya. Coba simak isi surat itu:

"Saya seorang ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami menikah 7
tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga Muslim yang taat, sementara dia pemeluk Protestan. Tapi entahlah, mungkin karena dia tak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya menjadi pacar. Saya benar-benar semakin sayang setelah dia kemudian menerima menikah dalam Islam. Saya benar-benar bahagia sekali." Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua, banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatakan kepada saya. `Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan.'" "Mendengar kata-katanya, saya hampir tidak percaya. Suami saya yang tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya mengikuti jejaknya untuk datang di kebaktian.'

Kisah memilukan itu tidak cuma dialami Dewi, tapi juga seorang ibu asal Palu yang datang ke kantor Suara Hidayatullah (Sahid) Surabaya, Juli lalu. Wanita berperawakan sedang ini datang bersama suaminya dengan wajah sembab. Kepada Sahid, ia menceritakan musibah yang menimpa keluarganya. Singkat cerita, sang adik diketahui hamil di luar nikah sesaat sebelum menyelesaikan gelar sarjananya. Yang membuat musibah itu terasa amat berat, pacar sang adik itu ternyata pemuda beragama lain. "Adik saya dihamili oleh pemuda Kristen," ucapnya sembari menyeka linangan air matanya. Padahal, sang adik dikenal sebagai wanita pendiam dan jarang keluar rumah. Selain itu, selama ini, dia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga Muslim yang sangat taat. Peristiwa memalukan itu memang kemudian bisa dicarikan solusinya. Singkatnya, sang adik akhirnya menikah dengan pacarnya pemuda Kristen dalam upacara Islam. Setelah itu, keduanya pindah kota yang jauh dari keluarga, di Palu. Hanya saja, kepergiannya masih tetap menyisakan luka yang mendalam bagi pihak keluarga. Terutama setelah diketahui bila sang adik telah ikut sang suami menjadi aktifis gereja bersama semua anaknya.

Kisah cinta seperti Dewi dan adik si ibu tadi bukan hal baru di negeri ini. Banyak pemuda dan pemudi pernah mengalami hal serupa. Memiliki teman dekat atau calon suami yang berbeda agama. Ujung-ujungnya, dalam banyak kasus, hubungan keduanya kemudian terhambat karena adanya perbedaan agama. Bagi yang taat pada agama, mereka memutuskan untuk berpisah. Sebagian lagi memilih kompromi, yakni memilih mengikuti salah satu dari agama yang dianut pasangannya. Pada pilihan yang terakhir inilah yang perlu diwaspadai, utamanya para gadis muslimah.


Kejahatan kristenisasi itu, kini dilengkapi dengan kenyataan kristenisasi yang sangat menghina umat Islam, yaitu memperkosa muslimah murid Madrasah Aliyah di Padang yang selanjutnya dimurtadkan. Khairiyah Enisnawati alias Wawah (17 thn) pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Gunung Pangilun, Padang, Sumatera Barat adalah salah satu dari 500 orang Minang yang dimurtadkan. Gadis berjilbab itu diculik, diperkosa dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang Kristen, di rumah Salmon seorang Jemaat Gereja Protestan di Jl. Bagindo Aziz Chan, Padang tempat memaksa Wawah untuk membuka jilbab dan masuk Kristen. Gereja itu dipimpin Pendeta Willy, sedang Salmon adalah jemaat yang juga karyawan PDAM Padang. (lihat Dialog Jumat, 6 Agustus 1999).


Tentu saja saya punya data mengenai itu. khan tinggal kontak FAKTA. untuk pemanasan nich ada data hamilisasi yang pernah terjadi di Tambun - dan Kranji Mbekasi !!

Banyak muslimah telah jadi korban pemurtadan. Hanya orang-orang yang tinggal di selatan Pasar Tambun yang mengenal H Kacep. Mungkin sebab itu, kasus kematian mubaligh kondang untuk ukuran kampungnya yang sungguh mengenaskan, sama sekali luput dari pemberitaan media massa. Kejadiannya sekitar setahun yang lalu. Berawal dari pertemuan puterinya dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut. Kian hari kian akrab. Gadis muslimah itu kian sering dijumpai berduaan dengan sang pemuda. Sang ayah, H. Kacep, suatu waktu memanggil keduanya. Mubaligh itu bagaimana pun tahu bahwa berpacaran adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam. �gWa la taqrabuu zina,�h demikian peringatan Allah SWT dalam al-Qur�fan. Karena hubungan antara puterinya dengan sang pemuda sudah terlihat begitu erat dan berjalan sudah relatif lama, maka sebagai seorang ayah yang bertanggungjawab, H. Kacep berniat untuk meresmikan hubungan kedua insan itu ke dalam jenjang pernikahan.

Secara bijak H. Kacep mengutarakan keinginannya pada sang pemuda. Puterinya menyimak baik-baik apa yang dikatakan ayahnya itu. Hatinya berbunga-bunga. Yakin bahwa sang pemuda pujaan tidak akan keberatan dengan maksud ayahnya. Setelah mendengar penuturan H. Kacep, sang pemuda dengan enteng menjawab, �gYa, saya mau saja menikahi anak bapak. Asalkan pernikahannya dilakukan di gereja!�h
Bagai disamber geledek di siang bolong. Bapak dan anak puterinya terkaget-kaget dibuatnya. Sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa pemuda yang selama ini dekat dengannya ternyata seorang non-Muslim. Padahal dulunya ia pernah bilang bahwa dirinya juga Islam. Dari hari ke hari gadis muslimah tersebut mengurung diri di kamarnya. Hingga suatu hari sosok remaja tersebut ditemukan terbujur kaku dengan mulut berbusa. Sekaleng racun serangga ditemukan tergolek di sampingnya. Besar kemungkinan, sesuatu yang berharga telah dipersembahkan gadis tersebut pada sang pemuda hingga ia memilih mati ketimbang menanggung malu. Kematian puteri tercintanya membuat H. Kacep menangung kesedihan yang amat sangat. Belum lagi kasak-kusuk tetangganya yang kerap terdengar tidak sedap. Akhirnya H. Kacep jatuh sakit. Dua bulan kemudian, sang ayah menyusul puteri tercintanya ke alam baka. Pesantren yang dikelolanya pun bubar... Di daerah Kranji, masih Bekasi, beberapa tahun lalu juga terjadi kasus yang mirip. Seorang Muslimah berteman akrab dengan seorang pemuda. Dari pertemanan tersebut, si gadis pun hamil. Sang ayah yang tahu sedikit banyak tentang Islam pun marah besar. Segera dipanggilnya sang pemuda untuk dimintai pertanggungjawabannya. Juga dengan enteng, si pemuda menjawab, �gSaya mau nikah dengan anak bapak, asal dilakukan di gereja!�h Ayah beranak itu kaget mendengarnya. Sama sekali mereka tak menyangka siapa gerangan pemuda itu. Tapi sikap dan pendirian sang ayah cukup tegas: ketimbang anaknya murtad, lebih baik menolak mentah-mentah syarat sang pemuda Kristen tersebut. Janin yang dikandung anaknya dibiarkan lahir tanpa ayah. �gKini anaknya dirawat oleh orangtua si gadis,�h ujar Drs. Abu Deedat Syihabuddin, MH, Sekjen FAKTA(Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan) Jakarta.


Kristenisasi melalui jalur pemerkosaan gadis-gadis muslimah. Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan. Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen danmenyembah Yesus Kristus. Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri. Adegan ranjang yang telah direncanakan, itu foto oleh kawan pemuda Kristen tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua pilihan: "Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?". Ka!au tidak pindah ke Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib. Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan shalehah terpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat terlarang.

www.hidayatullah.com

Petunjuk Jalan


Inilah buku Ma'alim fith Thariq atau Petunjuk Jalan yang menjadi karya terakhir dan fenomenal dari Sayyid Quthub setelah tafsir Fi Zhilalil Quran.

Dari Buku: Ma'alim fith Thariq atau Petunjuk Jalan.
Penulis: Sayyid Qutb.

Umat manusia sekarang ini berada di tepi jurang kehancuran. Keadaan ini bukanlah berasal dari ancaman maut yang sedang tergantung di atas ubun-ubunnya. Ancaman maut itu adalah satu gejala penyakit dan bukan penyakit itu sendiri.
Sebenarnya puncak dari keadaan ini ialah: bangkrut dan menyimpangnya umat manusia di bidang “nilai” yang menjadi pelindung hidupnya. Hal ini terlalu menonjol di negara-negara blok Barat yang memang sudah tidak punya nilai apa pun yang dapat diberinya kepada umat manusia; bahkan, tidak punya sesuatu pun yang dapat memberi ketenangan hatinya sendiri, untuk merasa perlu hidup lebih lama lagi; setelah sistem “demokrasi” nampaknya berakhir dengan kegagalan dan kebangkrutan, sebab ternyata ia sudah mulai meniru - dengan secara berangsur-angsur - dari sistem negara-negara blok Timur, khususnya di bidang ekonomi, dengan memakai nama sosialisme!
Demikian juga halnya di negara-negara blok Timur itu sendiri. Teori-teori yang bercorak kolektif, terutamanya Marxisme yang telah berhasil menarik perhatian sebahagian besar umat manusia di negara-negara blok Timur itu – dan malah di negara-negara blok Barat juga - dengan sifatnya sebagai suatu isme yang memakai cap akidah juga telah mulai mundur teratur sekali dari segi ‘teori’ hingga hampirlah sekarang ini lingkungannya terbatas di dalam soal-soal ‘sistem kenegaraan’ sahaja dan sudah menyeleweng begitu jauh dari dasar isme yang asal dasar-dasar pokok yang pada umumnya bertentangan dengan fitrah umat manusia dan tidak mungkin berkembang kecuali di dalam masyarakat yang mundur, atau pun masyarakat yang begitu lama menderita di bawah tekanan sistem pemerintahan diktator.
Hatta di dalam masyarakat seperti itu sendiri pun - telah mulai nampak kegagalan di bidang materi dan ekonomi; yaitu bidang yang paling dibanggakan oleh sistem itu sendiri.
Lihat sahaja Russia, negara model dari sistem kolektif itu, telah mulai diancam bahaya kebuluran yang hampir sama dengan keadaan di zaman Tzar dahulu; hingga negara itu telah terpaksa mengimpor gandum dan bahan-bahan makanan serta menjual emas simpanannya untuk membeli bahan makanan itu.
Ini puncak dari kegagalan sistem pertanian kolektif dan sistem ekonomi yang bertentangan dengan fitrah umat manusia. Oleh itu, maka umat manusia mestilah diberikan pimpinan baru!
Sesungguhnya peranan pimpinan manusia barat atas umat manusia ini telah hampir tamat. Ini bukanlah kerana ekonomi Barat itu telah bangkrut dan dari segi benda atau telah lemah dari segi ekonomi dan kekuatan tentara, tetapi sebenarnya karena sistem Barat itu telah tamat tempohnya sebab ia tidak lagi mempunyai stock “nilai” yang melayakkan dia memegang pimpinan.
Umat manusia memerlukan suatu pimpinan yang mampu menyambung terus ekonomi kebendaan seperti yang telah dapat dicapai sekarang melalui ekonomi cara Eropah itu, juga yang mampu memberikan nilai baru yang lengkap, sebanding dengan yang telah ada dan telah popular di dalam masyarakat manusia, juga yang mempunyai program yang aktual, positif dan praktis.
Hanya Islam sajalah yang mempunyai nilai-nilai dan program yang sangat diperlukan itu.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah pun menunaikan tugasnya. Sejak dari zaman kebangkitan di dalam abad keenam belas Masihi dan telah mencapai puncak kemajuannya di dalam abad kedelapan betas dan abad kesembilan belas. Sesudah itu, ekonomi Eropa sudah kehabisan bahan simpanan, untuk disumbangkan kepada umat manusia.
Demikian juga faham-faham “kebangsaan” dan “perkauman” yang telah muncul pada ketika itu, dan beberapa buah negara gabungan telah lahir dan telah memberikan sumbangannya kepada umat manusia tapi faham-faham “kebangsaan” dan perkauman” itu sudah tidak mampu memberikan apa-apa kepada umat manusia, karena sudah kehabisan bahan simpanan…
Pada akhirnya sistem-sistem yang berdasarkan kebebasan individu dengan disusuli pula oleh sistem kolektif telah selesai peranannya dan berakhir dengan kegagalan juga.
Sekarang tibalah pula giliran ISLAM dan peranan “umat” di saat yang paling genting ini. Islam yang tidak memandang remeh dan rendah kepada hasil ciptaan sains yang dilakukan oleh umat manusia sebelum ini dan akan terus dilakukan oleh umat manusia di sepanjang zaman kerana Islam memandang kemajuan di bidang ciptaan sains itu sebagai salah satu tugas utama manusia sejak Allah melantik umat manusia ini menjadi “khalifah” dan pemerintah di bumi ini, dan di bawah syarat-syarat tertentu pula, Islam memandangnya sebagai ibadat kepada Allah, dan sebagai pelaksanaan tujuan hidup manusia:
Firman Allah: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah di muka bumi." (Al-Baqarah: 30)
Dan firman Allah: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariat: 5)
Maka tibalah giliran bagi “UMAT ISLAM” melaksanakan tujuan Allah yang telah melahirkan umat ini ke tengah-tengah masyarakat umat manusia:
"Kamu [umat Islam] adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yaitu kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan dan kamu beriman kepada Allah." (Ali Imraan: 110)
Dan firman Allah: "Dan demikianlah kami jadikan kamu [umat Islam] umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas perbuatan kamu ..." (Al-Baqarah: 143)
Tetapi Islam tidak akan mampu menunaikan tugasnya kecuali bila ia menjelma di dalam sebuah masyarakat, yaitu ia menjadi panduan hidup suatu umat kerana umat manusia tidak mau mendengar - terutama sekali di zaman mutakhir ini - kepada suatu akidah yang kosong, yang tidak dapat dilihat buktinya melalui suatu bentuk hidup yang nyata dan dapat disaksikan sedangkan “wujud” umat Islam itu sendiri boleh dianggap telah terputus -sejak beberapa abad yang lalu.
UMAT ISLAM itu bukanlah seperti sebidang tanah di mana Islam hidup di situ, bukan juga suatu kaum atau golongan orang yang nenek moyang mereka dahulu pernah menghayati Islam sebagai panduan hidup mereka kerana sesungguhnya “umat Islam” itu ialah suatu golongan manusia yang menimba hidup, konsep realiti, nilai hidup mereka dari sumber Islam dan umat ini, dengan ciri-ciri yang disebut di atas, telah terputus wujudnya sejak terhentinya pelaksanaan undang-undang dan syariat Islam dari seluruh muka bumi ini.
Oleh sebab itu maka perlulah dipulihkan wujud umat itu; supaya Islam dapat menunaikan peranan yang sangat diharapkan itu, dalam memimpin umat manusia sekali lagi.
Memanglah umat Islam itu mesti bangkit dari hempasan zaman, konsep hidup yang sesat dan oleh realiti hidup yang menyeleweng, oleh sistem hidup yang pincang dan tiada kena mengena dengan Islam sama sekali, tiada kena mengena dengan program Islam walaupun umat itu masih menganggap dirinya sebagai umat Islam dan masih memanggil negeri tempat tinggal mereka sebagai “dunia Islam.”
Sebenarnya saya paham benar bahwa jarak antara kebangkitan dan “memegang pimpinan” itu masih jauh dan susah dilalui sebab sesungguhnya umat Islam sudah hilang dari “wujud” dan “realiti” begitu lama sekali dan peranan memimpin umat manusia itu telah diambil oleh fikiran yang lain, oleh umat yang lain dan oleh konsep yang lain, juga oleh realiti yang lain berabad-abad lamanya dan materialisme Eropa telah menciptakan, dalam waktu yang begitu lama, banyak perbendaharaan yang berbentuk Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, sistem hidup, dan industri.
Walau bagaimanapun tanpa mengenepikan pertimbangan ini, walau bagaimana jauhnya pun jarak di antara kebangkitan dengan memegang pimpinan, langkah-langkah ke arah kebangkitan itu mesti dijalankan terus dan jangan dilengahkan lagi!
Supaya kita selalu dapat menguasai persoalannya, maka perlu benar kita memahami secara terperinci, apakah syarat-syarat kelayakan yang akan menjadikan umat ini (umat Islam) memegang peranan memimpin umat manusia, supaya kita tidak meraba-raba dalam mencari unsur-unsur yang dapat mencetuskan kebangkitan semula umat ini, di peringkat pertama.
Umat ini sekarang tidak punya kemampuan dan tidak perlu ia mempunyai kemampuan untuk mengemukakan kepada umat manusia keunggulan dan kehandalannya di dalam sektor materi yang membikin orang tunduk dan takut kepadanya dan memaksa umat manusia menerima pimpinannya berdasarkan faktor ini; kerana kemajuan Eropa di lapangan ini telah terlalu jauh mendahuluinya dan memang sulit untuk dilewati dalam beberapa abad ke depan, untuk mengatasi mereka di lapangan ini!
Yang demikian maka mestilah dicari suatu syarat kelayakan yang lain, yaitu syarat kelayakan yang tidak terdapat di dalam materialisme sekarang. Ini tidaklah berarti bahwa kita mesti melupakan dan mesti memandang enteng kepada soal teknologi dan sains. Sebab menjadi kewajiban kita juga untuk berusaha mendapatkannya, tapi bukan dengan anggapan bahwa ia merupakan “syarat kelayakan” asasi yang mesti kita gunakan di dalam memegang pimpinan umat manusia dalam zaman sekarang ini.
Cuma ia diperlukan sekadar untuk menjaga hidup kita dari ancaman dan penindasan dan juga kerana konsep Islam sendiri yang mengajarkan bahwa teknologi adalah sebuah kemestian sebagai syarat menjadi khalifah Allah di muka bumi ini.
Oleh kerana itulah maka wajar kalau ada suatu syarat kelayakan lain, bukan teknologi dan industri, dan sudah pastilah syarat kelayakan itu tidak lain daripada akidah dan Program yang menjadikan manusia memelihara dan mengawal hasil teknologi, di bawah pengawasan suatu konsep lain yang dapat memenuhi hajat fitrah seperti yang telah diperolehi oleh kemajuan sains itu, dan supaya akidah dan program itu menjelma di dalam sebuah perkumpulan manusia, yaitu sebuah masyarakat Islam.
Sesungguhnya, dunia sekarang ini berada di dalam Jahiliyyah dari segi dasar yang menjadi sumber bagi tegaknya kehidupan dan peraturan-peraturannya. Jahiliyah yang tidak dapat menyelesaikan beban hidup hasil dari rekaan baru yang sedang memuncak sekarang.
Jahiliyah ini tegak di atas dasar mengebiri kekuasaan-kekuasaan Allah di muka bumi dan merampas hak istimewa Allah yaitu pemerintahan dan kekuasaan.
Jahiliyah itu menyandarkan pemerintahan kepada umat manusia yang menyebabkan setengah golongan menjadi hamba kepada setengah golongan yang lain bukan sahaja di dalam bentuk primitif seperti yang berlaku di zaman jahiliyah purbakala tetapi lebih dahsyat lagi di dalam bentuk mengakui dan memberi hak membuat konsep-konsep, nilai-nilai, undang-undang, peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan yang jauh menyimpang dari panduan dan program Allah untuk hidup ini; dalam perkara-perkara yang tidak pernah diizin oleh Allah.
Karena itu, hasil dari penyalahgunaan kuasa Allah itu secara otomatis akan menimbulkan pelanggaran atas hak-hak Allah, dan pelanggaran atas hak-hak manusia.
Sebenamya kehinaan yang menimpa umat manusia di dalam sistem kolektif dan juga kekejaman yang menimpa individu dan bangsa terjajah di bawah sistem kapitalis adalah salah satu kesan dari pengebirian manusia atas hak istimewa Allah SWT, juga kerana manusia tidak menghargai kehormatan yang dianugerah oleh Allah kepadanya sejak azali.
Di dalam aspek ini, maka konsep Islam tetap berlainan langsung dengan konsep-konsep bikinan manusia; kerana di bawah sistem yang lain dari Islam, umat manusia itu saling mengabdikan diri di antara satu sama lain, dalam bermacam-macam bentuknya. Sedangkan di bawah sistem Islam, umat manusia bebas sepenuhnya daripada sebarang belenggu pengabdian kepada sesama manusia dengan cara mengabdikan diri kepada Allah SWT saja dan menerima arahan daripada Allah saja; juga tunduk dan patuh kepada Allah saja.
Inilah garis pemisah dan inilah persimpangan jalan. Inilah juga konsep baru yang kita mampu kemukakan kepada umat manusia mengenai konsep ini dan yang rangkaiannya adalah perbendaharaan yang masih belum dimiliki oleh umat manusia; kerana ia bukanlah hasil “pengeluaran” atau “produksi” kilang materialisme Barat dan bukan hasil teknologi Eropa, baik Eropah Barat mahu pun Eropah Timur.
Sesungguhnya kita- tanpa ragu sedikit pun - memang memiliki suatu potensi baru, lengkap dan sempurna; potensi yang masih belum dikenal dan belum mampu dibikin oleh seluruh umat manusia.
Tetapi potensi baru ini, seperti telah kita tegaskan, mestilah menjelma di dalam bentuk realiti yang praktis, mesti menjadi panduan dan darah daging suatu umat bagi lahirnya kebangkitan umat Islam yang akan disusul pula, lambat-launnya, oleh peranan memegang pimpinan seluruh umat manusia.
Tetapi bagaimanakah caranya memulakan operasi kebangkitan Islam itu? Jawabnya : Mesti ada satu golongan pelopor atau “kader” yang menghayati cita-cita ini, dan meneruskan kegiatannya dengan cara menerobos ke dalam alam jahiliyah yang sedang berpengaruh di seluruh permukaan bumi ini dengan memakai dua kaedah: yaitu kaedah memisahkan diri dan kaedah membuat hubungan di bidang lain dengan pihak jahiliyah itu.
Para pelopor dan kader itu tentulah memerlukan panduan-panduan di sepanjang perjalanan mereka; panduan yang memberikan tentang tabiat peranan mereka, hakikat tugas mereka dan inti sari tujuan akhir perjalanan mereka dan juga mengenai garis permulaan di dalam perjalanan jauh itu.
Para pelopor dan kader itu perlu mendapat panduan secukupnya mengenai - jahiliyah yang sedang berpengaruh di dunia sekarang di dalam suasana yang bagaimanakah mereka boleh berjalan seiring dengan jahiliyah dan di dalam suasana yang bagaimanakah pula mereka harus memisahkan diri.
Bagaimana caranya melayani pihak jahiliyah itu dengan menggunakan kaedah Islam dan dalam topik apakah yang perlu dibicarakan? Juga dari mana dan bagaimanakah pula menimba bahan-bahan panduan itu?
Panduan-panduan itu hendaklah diambil dan ditimba dari sumber asal akidah ini, yaitu Al-Quran dan juga dari arahan-arahan Al-Quran yang asasi juga dari konsep yang telah dipancarkan oleh Al-Quran ke dalam jiwa para pelopor dan kader terdahulu (para sahabat Rasulullah saw., red), yang telah diberi penghormatan besar oleh Allah SWT untuk mengubah bentuk sejarah umat manusia mengikut kehendak Allah.
Untuk para pelopor dan kader yang diharapkan dan ditunggu-tunggu kelahirannya itu saya tuliskan "Petunjuk Jalan" ini.
Empat fasal dari buku ini diambil dari buku Di bawah Naungan AL-QURAN (Fi Zhilalil Quran) dengan beberapa pindaan dan tambahan di mana perlu, sesuai dengan judul. Di antara kandungannya juga ialah delapan fasal, selain daripada muqaddimah ini, yang ditulis dalam waktu tertentu saya beroleh kesempatan dan ilham dari sumber Al-Quran Yang Mulia… dan dirangkai menjadi satu, sebagai “Petunjuk” dan panduan di dalam perjalanan, seperti juga buku panduan jalan dakwah yang lain.
Setidaknya, inilah petunjuk dan panduan peringkat pertama. Semoga Allah melimpahkan kurnia-Nya dan petunjuk ini akan disusul lagi oleh petunjuk-petunjuk lain bila saja Allah memberi hidayah kepadaku mengenai petunjuk di sepanjang jalan ini.
Wabillahi - ttaufieq.


Sayyid Quthub


(Dari Buku Ma'alim fith Thariq atau Petunjuk Jalan oleh Sayyid Quthub)

Jilbab ala Quraish Shihab


Tanya :

Assalamualaikum wr.wb.
Pak sewaktu lebaran kemarin saya lihat acara lebaran bersama keluarga Shihab, disana ditampilkan 3 narasumber, yaitu Alwi Shihab, Umar Shihab dan Quraish Shihab. Dibawakan oleh dua presenter yaitu Prabu Revolusi dan Najwa Shihab.
Namun ada satu penyataan dari Pak Quraish yang kurang mengena, ketika seorang ibu berjilbab menanyakan tentang kewajiban menutup aurat muslimah di keluarga Shihab.Najwa pun tersipu malu karena ia merasa tidak berjilbab,bahkan sebagian besar perempuan muda keluarga shihab tidak berjilbab. Si ibu yang memang niat bertanya dibuat bingung dengan pertanyaan balik Pak Quraish tentang jilbab yang dikenakannya. Bahwa itu pun belum cukup. dan masih ada pertentangan pendapat mengenai aurat wanita. Dan diambilah kesimpulan bahwa asalkan sopan(tanpa jilbab) itu sudah menutup aurat.
yang ingin saya tenyakan:
1. Benarkah jawaban yang diutarakan pak Quraish bahwa masih ada pertentangan mengenai aurat wanita.
2. Siapa sebenarnya keluarga Shihab.Bolehkah kita meneladaninya?
3.Apakah islam moderat identik dengan islam liberal?
- akhi -


Jawaban
Wa’alaikummusalam warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga Akhi senantiasa berada dalam lindungan, rahmat serta hidayah Allah Swt. Walau Akhi menanyakan soal keluarga Shihab dan kaitannya dengan pemahaman Quraiys Shihab tentang Jilbab, namun saya tidak ingin mencampuri keluarga mereka. Saya tidak punya hak sedikit pun untuk itu. Bukankah setiap manusia akan mempertanggungjawabkan semua yang dikerjakannya di dunia di hadapan Allah Swt kelak?
Yang ingin saya jawab adalah soal bagaimana kewajiban menutup aurat dalam pandangan Islam, bagaimana keteladanan dalam Islam, dan soal kelompok liberal.
Pertama, Islam mewajibkan semua manusia menutup auratnya. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an dan semua ulama dunia tidak ada berbantah-bantahan mengenainya. Apa batasan aurat dalam Islam? Batasan aurat yang ada di berbagai ayat Allah Swt di dalam al-Qur’an sudah kita ketahui bersama. Saya tidak ingin mempersulit, ada pedoman yang sangat mudah bagi kita daam menentukan mana batasan aurat manusia, yakni: batasan aurat adalah apa yang boleh ditampakkan dalam sholat. Itu pedomannya. Yang berarti jika dia perempuan, maka yang hanya boleh ditampakkan hanyalah telapak tangan dan wajah. Demikian pula dengan batasan aurat pada lelaki.
Nah, jika pakaian kebaya misalkan dianggap cukup sopan, apakah sholat boleh pakai kebaya? Jangan-jangan nanti kita malah dianggap kurang waras. Sebab itu, sebagai mahluk yang dhoif, kita seharusnya tunduk sepenuhnya pada Islam dan bukan sebaliknya, menafsirkan Islam dengan hawa nafsu.
Persoalan menutup aurat atau jilbab juga bukan sekadar persoalan secarik kain semata. Jika ada orang yang mengatakan hal itu, sebaiknya dia mulai mengaji kembali ke materi awalan, yakni Panji Syahadat.
Kedua, umat Islam di mana pun berada sampai kapan pun hanya boleh meneladani Rasulullah SAW. Itu saja. Dia tidak boleh meneladani yang lainnya, walau mungkin orang itu memiliki gelar doktor bidang syariah, akidah, atau hadits, atau mengklaim diri sebagai “Ustadz Kabir” atau yang sebagainya. Semua manusia di bumi ini hanya boleh diikuti jika dia berjalan di atas rel Islam yang benar, dan wajib ditinggalkan jika dia sudah keluar dari rel Islam yang lurus. Inilah tauhid yang shahih. Rasulullah Saw Qudwatuna, itu salah satu kewajiban kita sebagai umat Islam. Bukan yang lain!
Ketiga, Islam adalah Islam. Tidak ada namanya Islam moderat, Islam liberal, Islam literal, Islam ini dan Islam itu. Islam adalah apa yang telah diturunkan Allah Swt lewat Rasulullah Saw. Bahkan sesungguhnya tidak ada itu Islam Sunni atau Islam Syiah. Rasulullah Saw tidak pernah membagi umat-Nya menjadi Sunni atau Syiah Hanya saja, setelah kedatangan Abdullah bin Saba, umat tauhid ini menyebut dirinya sebagai Islam Sunni untuk membedakannya dengan Syiah yang berasal dari tokoh Yahudi dari San’a, Yaman, itu.
Dewasa ini, segolongan orang-orang yang mencantumkan “Islam” dalam KTP-nya mengaku sebagai kelompok “Islam Liberal”. Salah satu yang mereka tentang dengan keras adalah perintah Allah Swt untuk menutup aurat. Saya tekankan di sini bahwa Islam Liberal itu bukanlah bagian dari Islam. Mereka merupakan orang-orang Liberal, kacung-kacung Dajjal, yang memang sengaja atau tidak, disusupkan ke dalam tubuh umat Islam untuk menghancurkan agama Allah Swt ini dari dalam.
Orang-orang Liberal ini tidak hanya bergerak dalam wacana agama, tapi juga dalam bidang ekonomi, politik, budaya, industri opini, dan sebagainya. Yang bergerak dalam bidang ekonomi dan politik sekarang dikenal dengan istilah kaum NeoLib. Merekalah musuh nyata bagi umat Islam dan umat beragama lainnya sekarang ini.
Cita-cita akhir kaum liberal adalah menciptakan satu tatanan dunia baru (The New World Order) dengan satu agama bagi umat manusia yakni Pluralisme. Cita-cita akhir mereka tertera di lembaran mata uang satu dollar AS yang berbunyi “Novus Ordo Seclorum” yang berarti “Satu Tatanan Dunia Baru yang sepenuhnya Sekular”. Lucifer atau Dajjal berada di belakang gerakan liberalis. Sebab itu, jihad fi sabilillah harus ditegakkan umat Islam sedunia untuk menghancurkan mereka.
Di Palestina, Irak, Afghanistan, Chechnya, dan di bumi lainnya di mana mereka menggunakan senjata api, bom, dan senjata pemusnah lainnya, maka lawanlah mereka juga dengan bom, senjata api, dan sebagainya. Sedangkan di Indonesia, di mana mereka memerangi kita dengan kekuatan media massa, ekonomi dan politik, budaya, maka umat Islam Indonesia juga harus melawan mereka dengan kekuatan media massa, ekonomi, politik, dan budaya yang dimiliki.
Dalam pemilu dan pemilihan presiden kemarin misalkan, umat Islam seharusnya tidak memilih mereka yang jelas-jelas Liberal atau NeoLib. Namun apa lacur, berkali-kali umat ini terperosok ke dalam lubang yang sama. Berkali-kali umat ini menjadi pendorong mobil yang mogok. Padahal seekor keledai saja tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama. Apakah ini berarti kita lebih bebal, lebih bodoh, dan lebih pandir, dari seekor keledai? Wallahu’alam bishawab.
Bencana demi bencana silih berganti menghantam negeri ini, padahal sebagai orang beriman kita harus yakin jika bencana merupakan peringatan dari Allah Swt kepada kita semua. Agar kita menyadari semua kesalahan kita, agar kita kembali pada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi-Nya, bukan jalan orang-orang sesat yang bernama liberal, bukan jalan orang-orang yang merampok uang umat yang untuk pelantikan saja harus menghabiskan puluhan miliar rupiah, bukan jalan orang-orang yang rela menjual agamanya demi kursi kekuasaan semata, bukan jalan orang-orang yang menjual umat-Nya demi kesejahteraan hidup keluarga dan kelompoknya sendiri, bukan jalan orang-orang yang lebih takut pada Washington ketimbang takut pada Allah Swt.
Padahal, untuk menghancurkan Irak, Washington memerlukan waktu bertahun-tahun dan sampai kini pun Irak belumlah hancur. Namun Maha Besar Allah Swt, untuk menghancurkan satu negeri, Allah Swt hanya memerlukan waktu dalam hitungan detik dan semuanya pun luluh-lantak. Apakah kita melupakan kisah kaum Luth yang bernama Sodom dan Gomorah? Padahal bencana demi bencana sudah hadir di depan mata kita. Bukan tidak mungkin, sejam lagi atau nanti malam, giliran kita yang dihancurkan. Apakah kita masih bebal untuk terus menjual umat dan agama ini demi kekuasaan dan kelezatan duniawi yang hanya bersifat sementara? Inalillahi wa ina illaihi rojiun.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(dari www.eramuslim.com namun dengan judul yang berbeda)

Media Liberal di Indonesia


Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Tanya:

Singkat saja, di Indonesia ini, adakah media massa, baik itu cetak maupun elektronik yang isi beritanya bebas dari tangan-tangan kaum liberal? Kalau ada, tolong sebutkan semua yang anda ketahui.
Wa’alaykumusalam warahmatullahi wabarakatuh
Makhrus Affandi

Jawaban
Wa’alaykumusalam warahmatullahi wabarakatuh,
Liberalisme, apakah itu berwajah sekuler atau pun berwajah ‘agama’, sesungguhnya sama saja, sama-sama merusak fitrah kemanusiaan. Yang sekuler hendak menjadikan manusia seperti binatang yang bisa berbuat sesukanya sehingga tidak lagi mengindahkan norma-norma etiak dan moral yang berlaku di sekitarnya. Paham Kebebasan (Liberalisme) senantiasa berujung pada anarkhi, baik anarkhi yang bersifat individual maupun anarkhi yang bersifat komunal.
Sedangkan Liberalisme agama merupakan gerakan liberalisme yang hendak menghancurkan nilai-nilai agama itu sendiri namun mengklaim sebagai gerakan membebaskan agama dari penafsiran kaum konservatif, puritan, literalis, dan sejenisnya. Mereka ini dengan seenaknya, bahkan banyak yang sesungguhnya tanpa landasan ilmu-ilmu keagamaan yang mumpuni, menyatakan jika agama itu bersifat “membebaskan” (dalam artian bebas-sebebas-bebasnya bahkan cenderung permisif terhadap segala hal).
Pintu masuk bagi gerakan liberal adalah paham pluralisme, yang berkeyakinan jika semua agama itu sama-sama baik dan menganggap bahwa agama itu ruang privat dan tidak boleh dimasukkan ke dalam ruang publik. Pluralisme merupakan pintu masuk bagi gerakan liberal.
Jika ditanyakan, adakah media massa di negeri ini yang bebas dari tangan-tangan kaum liberal, maka jawabannya mudah saja. Ada satu contoh sederhana, misal dalam liputan media massa Indonesia terhadap kasus provokasi AKKBB terhadap beberapa ormas Islam yang tengah berdemo di Monas, 1 Juni 2008. Banyak media, baik teve maupun cetak, yang menyebut Habib Rizieq Syihab dengan nama Rizieq Syihab saja. Padahal Habib Rizieq merupakan seorang ulama yang cerdas, lurus, sederhana, dan tahan terhadap segala godaan berupa kenikmatan dunia, sesuatu yang kini banyak tokoh dan aktifis Islam hancur kredibilitasnya di mata umat gara-gara tidak tahan terhadap godaan kemewahan dunia ini.
Penghilangan kata ‘Habib” bukanlah sesuatu yang kebetulan, namun disengaja dengan tujuan menanamkan racun ke benak pemirsa atau pembaca jika Habib Rizieq tidaklah pantas dicontoh. Padahal media-media ini dalam memberitakan pentolan liberalis seperti Abdurrahman Wahid selalu saja lengkap menyebut atau menulis sebagai “Kiai Haji Abdurahman Wahid’ atau sebutan ‘Gus Dur’ yang berarti “Dur yang Baik dan Bagus’. Padahal kita semua tahu sendirilah, adakah kebaikan atau kebagusan dari manusia seperti dia? Jawab saja sendiri, he..he..he..
Media massa di Indonesia ada yang visi dan misinya memang menjunjung tinggi paham liberalisme ini. Tidak perlu disebutkan siapa yang dimaksud, namun dapat dengan mudah kita lihat dari acaranya yang banyak menjadi corong media massa AS seperti CNN, VOA, dan sejenisnya. Mereka juga sangat besar meliput pemilu yang di Indonesia ini sudah sangat kebablasan karena dari tingkat Bupati hingga presiden dipilih langsung oleh rajyat sehingga bangsa ini disibukkan oleh kegiatan yang sesungguhnya tidak ada gunanya bagi upaya pencerdasan dan pembangunan karakter bangsa. Pemilu yang kebablasan ini (Pilkada yang selalu rusuh, caleg yang gila-gilaan membohongi rakyat, dan sebagainya) sebenarnya merupakan proyek penghancuran negeri Muslim ini yang didalangi oleh jaringan Yahudi Internasional. Ada grand-design di belakangnya.
Selain media massa, kekuatan atau jaringan liberal juga menyusup ke dalam personal jurnalis yang bekerja di banyak media massa. Sehingga dalam kasus AKKBB misalnya, ada media massa yang tetap menyebut ‘Habib Rizieq’ namun di lain kesempatan hanya menyebut “Rizieq’ saja.
Program-program di teve yang mempromosikan gaya hidup bebas seperti pacaran, cinlok, kontak jodoh, semua idol atau pemilihan artis baru, sinetron yang mempertontonkan kemewahan hidup yang di luar akal sehat serta gaya hidup Barat, acara entertainment yang konyol dalam artian negatif dan sama sekali tidak lucu bahkan memuakkan dengan misalnya menampilkan banci, semua itu merupakan sarana efektif untuk menghancurkan bangsa ini sekaligus menjadi ujung tombak gerakan liberalisme.
Wallahua’am bishawab. Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.


Beda Niat dengan Imam

ustad bolehkah kita beda niat dengan imam dalam shalat..?
dan kalau kita niat shalat nya 2 rakaat, ternyata imamnya shalat 3 rakaat, gimana menyingkapi ini ustad?
nop

Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Diantara rukun shalat adalah niat, yaitu menyengaja dan bermaksud secara sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Atau kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan demi mengharapkan ridho Allah swt dengan mematuhi peraturannya, sebagaimana firman Allah swt :
Artinya : ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)
Niat adalah perbuatan hati semata yang tidak ada sangkut pautnya dengan lisan dan tidak ada anjuran untuk pengucapan niat secara lisan. Niat ini menjadi faktor penentu diterima atau ditolaknya suatu perbuatan atau ibadah seseorang, termasuk shalat. Bagi setiap orang yang melaksanakan shalat apa yang diniatkannya.
Apabila anda ikut melaksanakan shalat bersama imam shalat tiga rakaat sementara anda berniat dua rakaat maka hendaknya anda duduk dalam keadaan tasyahud pada rakaat kedua anda dan tidak perlu ikut bangun bersamanya yang melaksanakan rakaat ketiganya hingga ia duduk tasyahud pada rakaat terakhirnya itu lalu anda ikut salam bersamanya.
Sebagiaman penjelasan diatas bahwa imam akan mendapatkan apa yang diniatkannya dan begitu pula anda mendapatkan apa yang anda niatkan, sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan bagi setiap orang hanyalah apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

MENDENGARKAN AL QURAN DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN BALITA ANDA


Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder.
Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.
Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.
Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar.
Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak.
Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu.
Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir. la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya.
Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.


Sumber : http://blog.abbahatun.com

Interview With Cholis Akbar (redaktur situs hidayatullah.com)

“Ana Adit SA’I …inget?....ana add antum di YM gak aktif-aktif…ana email aja deh…ini ada sedikit pertanyaan buat antum untuk dimasukkan ke SA’I edisi ke5…agak buruan ya ust,…udah telat nih detlainnya…syukron ya,...kita mulai aja...”

Isu apa saja yang lagi ‘in’ di hidayatullah saat ini, ust?

Alhamdulillah, kalau isyu sih banyak dan macam2. Tapi umumnya hal-hal yang berkaitan dengan Islam saja

Sebesar apa urgensi isu itu diangkat?
Ya karena banyak media berfokus pada masalah umum. Kita memilih lebih spesifik saja. Yakni masalah keislaman.

Kalo kita melihat sekian banyak media Islam dengan berbagai genre-nya, menurut saya hidayatullah itu lebih banyak misi ghazwul fikri-nya. Sehingga identiknya dikalangan aktivis kalo cari media yang spesialis meng-counter sekulerisme, pluralisme, dan pemikiran barat lainnya ya Hidayatullah. Bagaimana menurut antum tentang pendapat saya ini?
Mungkin benar dan alasan itu bisa kami dimaklumi. Memang ada beberapa rubrik dan fokus perhatian kita tentang paham sekularisme, pluralisme (kadang-kadang menggunakan istilah multikulturalisme) dan liberalisme ini. Tapi tak dominan isinya melulu itu. Ada rubrik2 akhlaq dan fikih yang itu juga tak kalah penting bagi umat. Tapi secara umum, media ini kami khususkan untuk semua harakah dan semua aktivis Islam. Mau HT, Tarbiyah, Salafi, NU, Muhammadiyah, Tabligh dan sebagainya. Walau tak semua bisa terwakili. Setidaknya, kita disatukan dengan isu bersama atau common enemy. Perasaan bersama itulah yang akan menjaga kita semua.

Apakah konsep awal Hidayatullah itu memang begitu? Apakah lalu konsep tersebut muncul ditengah perkembangan situasi?
Ya sejak lahir memang diniatkan itu. Tetap memang, sebagaimana yang kami sebutkan tadi, tak akan semua bisa terwakili. Kalau dalam istilah fikih, jika tidak bisa meraih semua ya jangan tinggalkan semua (maa yudriku kulluhu, laa yudriku kulluhu)."

Kalau di situs hidayatullah(dot)com, apa saja yang menjadi kendala didalamnya? Apakah berbeda dengan kendala pada media cetaknya?
Pertama, agak berbeda sedikit. Tapi umumnya prinsipnya sama. Kalau di situs ini kan tak perlu mencetak dan tak perlu halaman. Jadi lebih mudah. Kedua, media online tidak perlu menunggu sehari, seminggu atau sebulan. Dengan online kita bisa update tiap jam. InsyaAllah tak ada kendala serius. Kendala serius bagi kami adalah menemukan para reporter/penulis/kontributor bervisi mujjahid. Itu yang tak bisa dicari dalam waktu sekejab.

Menurut pendapat antum, apa yang membuat aktifitas menulis sebagai alat untuk berdakwah menjadi begitu penting (urgent) untuk dilakukan?
Nah, ini pertanyaan sangat menarik. Mengapa aktifitas menulis (khususnya jurnalistik itu penting) karena dengan menulis kita bisa berdakwah. Dengan ilmu jurnalistik kita bisa mengungkap fakta dan kebenaran Islam. Dalam teori komunikasi dikenal istilah komunikasi intrapersonal (pribadi) dan komunikasi massa. Nah, melalui media kita melakukan komunikasi massa yang efeknya luar biasa. Khususnya melalui media massa. Kekuatan tulisan di media massa bisa mengalahkan ceramah dai di mimbar jumat. Kenapa demikian? karena di mimbar jumat hanya didengerin tak lebih dari 5000 orang dan setelah khotbah orang sibu dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan mungkin bisa lupa ceramah sang ustad. Sedangkan dengan menulis di media massa, orang bisa membaca berulang-ulang, mengkopinya, memfarward bahkan mencetak ulang. Sifat inilah yang agak beda jika kita berceramah. Sayangnya, banyak aktifis Islam masih pada minta menulis hal-hal berbau fiksi seperti novel atau cerpen. Padahal banyak jenis menulis di media massa yang jauh lebih penting.

Tulisan-tulisan siapa saja yang selama ini antum suka ? (yang lokal, maupun luar negeri, beserta alasannya kenapa tulisan-tulisan orang-orang tersebut antum sukai)
Banyak lah. Pertama buku-buku karya para ulama salaf. Juga kalau urusan hukum saya terkadang suka para masyayyih-nya Salafy. Tetapi untuk yang kontemporer saya juga suka Syeikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Aid al Qarni dan Syeikh Wahbah Zuhaili. Juga tulisan2 Sayyid Sabiq, dan Ali Audah. Kalau tulisan-tulisan pemikiran Islam serius di Indonesia kami suka mas Adian Husaini, Dr. Hamid Zarkasy dan teman-teman INSISTS. Kadang-kadang untuk tulisan-tulisan Islam yang bergaya funky saya suka tulisannya Emha Ainun Nadjib, tapi dia sudah jarang menulis sibuk nyanyi melulu. 
Tulisan para ulama salaf dan imam mahzab itu jauh lebih dewasa dibanding ulama kita sekarang ini. Antara imam Malik dan Imam Ahmad bisa pendapat soal hukum. Tapi beliau berdua tak pernah saling melakukan takfir atau mengkafir-kafirkan. Bedanya dengan kita, baru ngaji sebulan sudah saling mengkafirkan dan ogah berpelukan karena berbeda "bendera" atau beda harakah. Padahal kalau sudah menyangkut urusan Islam, urusan "bendera" itu sudah harus kita tinggalkan.

Kira-kira apa visi antum ke depan sebagai pimred situs hidayatullah(dot)com?
Saya ingin media Islam menjadi tempat rujukan kaum muslim dan aktivis Islam dalam melihat/mencari referensi sesuatu, khususnya referensi masalah keislaman. Ibaratnya, jangan mencari makanan halal di restoran china. Kecuali restoran itu sudah dalam label "halal" dai MUI. Hehehe. Nah, jika sikap kita masih sembarangan. Misalnya asal mencari makanan yang enak, bukan mencari yang enak dan tayyib (halal), itu artinya kita masih tidak pinter2 dalam urusan agama. Sebab dalam Islam itu tak hanya enaknya yang dicari. Harus enak tapi halal. Umumnya kita cuma cari enaknya bukan cari halalnya. Untuk apa hanya cari yang enak jika di akherat kita diminta pertanggungan jawab. Nah, hidayatullah.com itu kita usahakan ke sana. Bagaimana menjadi "makanan halal" dan "toyyib" bagi kaum Muslim dan aktifis harakah.

Menurut antum, media televisi Al-Jazeera selama ini menjadi petokan tiap berita dari timur tengah, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. selama ini kami belum bisa menilainya secara obyektif karena keterbatasan pengetahuan kami. kalo mau percaya 100% rasanya blum bisa. Mau nggak percaya, juga jaadi serba salah. Mungkin kami masih mempertanyakan bahwa benarkah mereka tidak ikut terhegemoni oleh pemikiran barat? btw, kami juga sempat kaget juga ada banyak reporter Al-Jazeera yang gak berjilbab. Bukan karena reporternya laki-laki lo,...waktu itu asli perempuan. Bagaimana menurut antum sebagai orang yang udah cukup lama di media?
Sumber kami banyak tidak hanya AlJazeera. Jazeera hanya salah satu. Ada Islam Today, Al Mafkarah Al Islami, Islamnemo, Islamonline, Al Arabiya, Qudpress, PressTV, Al misriyoon, Arabnews, ya banyak lah. Belum terhitung sumber-sumber dari Barat. Semisal AP, UP, AFP, Reuter dll.
Tentu bagi media seperti kami, akan mengutamakan berita bersumber dari kantor/media Islam jika menyangkut masalah keislaman. Dan tidak mendahulukan sumber asing. Hal yang sama juga saya sarankan untuk kaum muslim dan para aktifis Islam. Nah, kalau berita teknologi, umum kita baru mendahulukan sumber Barat. Bukan apa-apa, sebab selama ini mereka (memdia Barat) sudah punya maintream dan image buruk sendiri tentang Islam. Dan itu terus terbawa dalam tiap berita dan tulisan-tulisan mereka.

Afwan sebelumnya, ana sekalian tabayyun. ana emang nggak seberapa ngerti soal kepengurusan/hubungan antara Hidayatullah yang pesantren, majalah, BMH, dan cabang-cabang lainnya. Ana nanya soal koperasi Hidayatullah yang ada di keputih (yang namanya cukup dikenal itu-red), mengapa masih menjual produk-produk pro AS-Zionis ya? Apa kira-kira 'ijtihad' mereka hingga sangat kontras dengan ikhwah-ikhwah di Suara Hidayatullah dan para Ustadz yang ada di pesantren Hidayatullah yang ana tahu sangat ketat dalam hal-hal 'berbau darah' gitu....hiiii....
Pertanyaan bagus. Tapi ini harus dijawab agak panjang biar gak salah paham. Banyak gerakan Islam memiliki underbow. Tak hanya Muhammadiyah atau NU. Tabiyah misalnya memiliki underbow seperti PKS, IKADI, BSMI, PKPU, LMI, KAMMI dll, hidayatullah juga sama. Ada BMH di wilayah koordinasi zakat umat. Ada lembaga pendidikan berupa sekolah dan pesantren. Termasuk usaha koperasi berupa supermarker dan usaha bisa media massa berupa majalah dan media online. Hanya saja, masing-masing sangat mandiri dan tidak bisa saling melakukan intervensi.
Betul kami punya kendala. Sebelum mengeluarkan seruan boikot kami sudah melakukan interview beberapa ulama, ahli fikih dan tokoh-tokoh yang sangat pamah syariah. Memang kesimpulannya, dalam hukum jual beli yang penting tidak ada unsur haram. Kita sudah mengukur. Bahkan kalau kita semua jujur. Faktanya belum siap 100%. Saya memahami komentar miring seperti itu. Kita sudah ngobrol sama direkturnya, memang sebagian besar menghabiskan stok lama katanya. Setidaknya, katanya, akan terus diusakan tidak menjual produk seruan boikot yang sebagaimana dikeluarkan situs inminds.com. Sekedar catatan, Inminds.com tahun 2008 tak mencantumkan unilever dalam daftar boikot. Langkah ke depan kita akan terus melakukan edukasi untuk kalangan intern dan masyarakat. Bahwa, kasus ini harus membuat pelajaran bagi kita semua bahwa harus segera mencari produk pengganti dan tidak sekedar menyeru larangan. Saya masih berkhusnudzan dalam kasus ini. Kepada Allah saya beristighfar dan mohon ampunan.

Menurut antum, untuk benar-benar bisa menjadikan situs hidayatullah jadi bener-bener situs dakwah yang antum dambakan, kira-kira butuh berapa personel ? dan apa seharusnya tugas mereka masing-masing? syukron,...ini balasan interview tercepat yang pernah kami terima...
Memang idealnya banyak. Tapi harus bermutu. Yang penting bagi kami adalah baik secara ruhiyah, ilmu dan agamanya. Terakhir memiliki semangat (ruh) jihadiyah. Ketrampilan bisa sambil jalan. Visi kami saat perang Badar. Bahwa seorang "pejuang" muslim itu nilainya harus setara dengan 10 orang-orang kafir. Karenanya kepada teman2 reporter saya sering saya sampaikan begini, "For US, One Man Ten Jobs!". Syukron