“Ana Adit SA’I …inget?....ana add antum di YM gak aktif-aktif…ana email aja deh…ini ada sedikit pertanyaan buat antum untuk dimasukkan ke SA’I edisi ke5…agak buruan ya ust,…udah telat nih detlainnya…syukron ya,...kita mulai aja...”
Isu apa saja yang lagi ‘in’ di hidayatullah saat ini, ust?
Alhamdulillah, kalau isyu sih banyak dan macam2. Tapi umumnya hal-hal yang berkaitan dengan Islam saja
Sebesar apa urgensi isu itu diangkat?
Ya karena banyak media berfokus pada masalah umum. Kita memilih lebih spesifik saja. Yakni masalah keislaman.
Kalo kita melihat sekian banyak media Islam dengan berbagai genre-nya, menurut saya hidayatullah itu lebih banyak misi ghazwul fikri-nya. Sehingga identiknya dikalangan aktivis kalo cari media yang spesialis meng-counter sekulerisme, pluralisme, dan pemikiran barat lainnya ya Hidayatullah. Bagaimana menurut antum tentang pendapat saya ini?
Mungkin benar dan alasan itu bisa kami dimaklumi. Memang ada beberapa rubrik dan fokus perhatian kita tentang paham sekularisme, pluralisme (kadang-kadang menggunakan istilah multikulturalisme) dan liberalisme ini. Tapi tak dominan isinya melulu itu. Ada rubrik2 akhlaq dan fikih yang itu juga tak kalah penting bagi umat. Tapi secara umum, media ini kami khususkan untuk semua harakah dan semua aktivis Islam. Mau HT, Tarbiyah, Salafi, NU, Muhammadiyah, Tabligh dan sebagainya. Walau tak semua bisa terwakili. Setidaknya, kita disatukan dengan isu bersama atau common enemy. Perasaan bersama itulah yang akan menjaga kita semua.
Apakah konsep awal Hidayatullah itu memang begitu? Apakah lalu konsep tersebut muncul ditengah perkembangan situasi?
Ya sejak lahir memang diniatkan itu. Tetap memang, sebagaimana yang kami sebutkan tadi, tak akan semua bisa terwakili. Kalau dalam istilah fikih, jika tidak bisa meraih semua ya jangan tinggalkan semua (maa yudriku kulluhu, laa yudriku kulluhu)."
Kalau di situs hidayatullah(dot)com, apa saja yang menjadi kendala didalamnya? Apakah berbeda dengan kendala pada media cetaknya?
Pertama, agak berbeda sedikit. Tapi umumnya prinsipnya sama. Kalau di situs ini kan tak perlu mencetak dan tak perlu halaman. Jadi lebih mudah. Kedua, media online tidak perlu menunggu sehari, seminggu atau sebulan. Dengan online kita bisa update tiap jam. InsyaAllah tak ada kendala serius. Kendala serius bagi kami adalah menemukan para reporter/penulis/kontributor bervisi mujjahid. Itu yang tak bisa dicari dalam waktu sekejab.
Menurut pendapat antum, apa yang membuat aktifitas menulis sebagai alat untuk berdakwah menjadi begitu penting (urgent) untuk dilakukan?
Nah, ini pertanyaan sangat menarik. Mengapa aktifitas menulis (khususnya jurnalistik itu penting) karena dengan menulis kita bisa berdakwah. Dengan ilmu jurnalistik kita bisa mengungkap fakta dan kebenaran Islam. Dalam teori komunikasi dikenal istilah komunikasi intrapersonal (pribadi) dan komunikasi massa. Nah, melalui media kita melakukan komunikasi massa yang efeknya luar biasa. Khususnya melalui media massa. Kekuatan tulisan di media massa bisa mengalahkan ceramah dai di mimbar jumat. Kenapa demikian? karena di mimbar jumat hanya didengerin tak lebih dari 5000 orang dan setelah khotbah orang sibu dengan urusannya sendiri-sendiri. Bahkan mungkin bisa lupa ceramah sang ustad. Sedangkan dengan menulis di media massa, orang bisa membaca berulang-ulang, mengkopinya, memfarward bahkan mencetak ulang. Sifat inilah yang agak beda jika kita berceramah. Sayangnya, banyak aktifis Islam masih pada minta menulis hal-hal berbau fiksi seperti novel atau cerpen. Padahal banyak jenis menulis di media massa yang jauh lebih penting.
Tulisan-tulisan siapa saja yang selama ini antum suka ? (yang lokal, maupun luar negeri, beserta alasannya kenapa tulisan-tulisan orang-orang tersebut antum sukai)
Banyak lah. Pertama buku-buku karya para ulama salaf. Juga kalau urusan hukum saya terkadang suka para masyayyih-nya Salafy. Tetapi untuk yang kontemporer saya juga suka Syeikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Aid al Qarni dan Syeikh Wahbah Zuhaili. Juga tulisan2 Sayyid Sabiq, dan Ali Audah. Kalau tulisan-tulisan pemikiran Islam serius di Indonesia kami suka mas Adian Husaini, Dr. Hamid Zarkasy dan teman-teman INSISTS. Kadang-kadang untuk tulisan-tulisan Islam yang bergaya funky saya suka tulisannya Emha Ainun Nadjib, tapi dia sudah jarang menulis sibuk nyanyi melulu.
Tulisan para ulama salaf dan imam mahzab itu jauh lebih dewasa dibanding ulama kita sekarang ini. Antara imam Malik dan Imam Ahmad bisa pendapat soal hukum. Tapi beliau berdua tak pernah saling melakukan takfir atau mengkafir-kafirkan. Bedanya dengan kita, baru ngaji sebulan sudah saling mengkafirkan dan ogah berpelukan karena berbeda "bendera" atau beda harakah. Padahal kalau sudah menyangkut urusan Islam, urusan "bendera" itu sudah harus kita tinggalkan.
Kira-kira apa visi antum ke depan sebagai pimred situs hidayatullah(dot)com?
Saya ingin media Islam menjadi tempat rujukan kaum muslim dan aktivis Islam dalam melihat/mencari referensi sesuatu, khususnya referensi masalah keislaman. Ibaratnya, jangan mencari makanan halal di restoran china. Kecuali restoran itu sudah dalam label "halal" dai MUI. Hehehe. Nah, jika sikap kita masih sembarangan. Misalnya asal mencari makanan yang enak, bukan mencari yang enak dan tayyib (halal), itu artinya kita masih tidak pinter2 dalam urusan agama. Sebab dalam Islam itu tak hanya enaknya yang dicari. Harus enak tapi halal. Umumnya kita cuma cari enaknya bukan cari halalnya. Untuk apa hanya cari yang enak jika di akherat kita diminta pertanggungan jawab. Nah, hidayatullah.com itu kita usahakan ke sana. Bagaimana menjadi "makanan halal" dan "toyyib" bagi kaum Muslim dan aktifis harakah.
Menurut antum, media televisi Al-Jazeera selama ini menjadi petokan tiap berita dari timur tengah, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. selama ini kami belum bisa menilainya secara obyektif karena keterbatasan pengetahuan kami. kalo mau percaya 100% rasanya blum bisa. Mau nggak percaya, juga jaadi serba salah. Mungkin kami masih mempertanyakan bahwa benarkah mereka tidak ikut terhegemoni oleh pemikiran barat? btw, kami juga sempat kaget juga ada banyak reporter Al-Jazeera yang gak berjilbab. Bukan karena reporternya laki-laki lo,...waktu itu asli perempuan. Bagaimana menurut antum sebagai orang yang udah cukup lama di media?
Sumber kami banyak tidak hanya AlJazeera. Jazeera hanya salah satu. Ada Islam Today, Al Mafkarah Al Islami, Islamnemo, Islamonline, Al Arabiya, Qudpress, PressTV, Al misriyoon, Arabnews, ya banyak lah. Belum terhitung sumber-sumber dari Barat. Semisal AP, UP, AFP, Reuter dll.
Tentu bagi media seperti kami, akan mengutamakan berita bersumber dari kantor/media Islam jika menyangkut masalah keislaman. Dan tidak mendahulukan sumber asing. Hal yang sama juga saya sarankan untuk kaum muslim dan para aktifis Islam. Nah, kalau berita teknologi, umum kita baru mendahulukan sumber Barat. Bukan apa-apa, sebab selama ini mereka (memdia Barat) sudah punya maintream dan image buruk sendiri tentang Islam. Dan itu terus terbawa dalam tiap berita dan tulisan-tulisan mereka.
Afwan sebelumnya, ana sekalian tabayyun. ana emang nggak seberapa ngerti soal kepengurusan/hubungan antara Hidayatullah yang pesantren, majalah, BMH, dan cabang-cabang lainnya. Ana nanya soal koperasi Hidayatullah yang ada di keputih (yang namanya cukup dikenal itu-red), mengapa masih menjual produk-produk pro AS-Zionis ya? Apa kira-kira 'ijtihad' mereka hingga sangat kontras dengan ikhwah-ikhwah di Suara Hidayatullah dan para Ustadz yang ada di pesantren Hidayatullah yang ana tahu sangat ketat dalam hal-hal 'berbau darah' gitu....hiiii....
Pertanyaan bagus. Tapi ini harus dijawab agak panjang biar gak salah paham. Banyak gerakan Islam memiliki underbow. Tak hanya Muhammadiyah atau NU. Tabiyah misalnya memiliki underbow seperti PKS, IKADI, BSMI, PKPU, LMI, KAMMI dll, hidayatullah juga sama. Ada BMH di wilayah koordinasi zakat umat. Ada lembaga pendidikan berupa sekolah dan pesantren. Termasuk usaha koperasi berupa supermarker dan usaha bisa media massa berupa majalah dan media online. Hanya saja, masing-masing sangat mandiri dan tidak bisa saling melakukan intervensi.
Betul kami punya kendala. Sebelum mengeluarkan seruan boikot kami sudah melakukan interview beberapa ulama, ahli fikih dan tokoh-tokoh yang sangat pamah syariah. Memang kesimpulannya, dalam hukum jual beli yang penting tidak ada unsur haram. Kita sudah mengukur. Bahkan kalau kita semua jujur. Faktanya belum siap 100%. Saya memahami komentar miring seperti itu. Kita sudah ngobrol sama direkturnya, memang sebagian besar menghabiskan stok lama katanya. Setidaknya, katanya, akan terus diusakan tidak menjual produk seruan boikot yang sebagaimana dikeluarkan situs inminds.com. Sekedar catatan, Inminds.com tahun 2008 tak mencantumkan unilever dalam daftar boikot. Langkah ke depan kita akan terus melakukan edukasi untuk kalangan intern dan masyarakat. Bahwa, kasus ini harus membuat pelajaran bagi kita semua bahwa harus segera mencari produk pengganti dan tidak sekedar menyeru larangan. Saya masih berkhusnudzan dalam kasus ini. Kepada Allah saya beristighfar dan mohon ampunan.
Menurut antum, untuk benar-benar bisa menjadikan situs hidayatullah jadi bener-bener situs dakwah yang antum dambakan, kira-kira butuh berapa personel ? dan apa seharusnya tugas mereka masing-masing? syukron,...ini balasan interview tercepat yang pernah kami terima...
Memang idealnya banyak. Tapi harus bermutu. Yang penting bagi kami adalah baik secara ruhiyah, ilmu dan agamanya. Terakhir memiliki semangat (ruh) jihadiyah. Ketrampilan bisa sambil jalan. Visi kami saat perang Badar. Bahwa seorang "pejuang" muslim itu nilainya harus setara dengan 10 orang-orang kafir. Karenanya kepada teman2 reporter saya sering saya sampaikan begini, "For US, One Man Ten Jobs!". Syukron
SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.
No comments:
Post a Comment