Sa'i Muslim Movement--Pagi tadi saya
memang berniat datang lebih pagi dari biasanya. Walaupun kenyataannya ketika
sampai di kampus tetap saja seperti jadwal biasanya. Sekitar pukul 07:45.
Tadinya saya berniat lebih pagi karena saya ingin segera membawakan tumpukan
fotokopian buku ajar untuk mahasiswa-mahasiswa saya. Saya memang menawarkan
diri untuk memfotokopikan buku ajar yang menjadi rujukan kuliah saya itu.
Karena saya hanya ingin mereka segera bisa mempelajarinya dan mengerjakan
tugas-tugas resume yang harus mereka kumpulkan minggu depan. Karena saya juga
tahu bahwa tugas resume tersebut tidak sedikit. Asal tahu aja, bukunya lebih
tebal dari batu bata yang mungkin bisa sekaligus cocok untuk nglempar kepala maling jemuran. Belum
lagi, yang lebih ‘mengerikan’ bagi mereka adalah karena buku itu full berbahasa
inggris! Suruh baca yang berbahasa indonesia aja susahnya seperti disuruh minum
jamu, apalagi bahasa inggris. Hmm pasti bikin mual.
“Tidak suka
membaca”, memang problematika yang dialami oleh hampir seluruh manusia di negeri
ini. Mulai yang terlibat dalam aktivitas akademik, maupun yang tidak. Para guru
dan dosen mengeluh, betapa susahnya para mahasiswa dan muridnya untuk mau
membaca. Meskipun sudah diberikan berbagai suntikan motivasi dosis tinggi
kepada mereka. Tetap saja. Membaca masih mereka anggap sebagai aktifitas yang
berat, membebani, dan sama sekali tidak mengasyikkan . Apalagi menjadikan
aktifitas membaca sebagai kebutuhan. Duh! Bisa-bisa ini cuma jadi impian.
Dosen memang
tidak semuanya adalah orang yang literate.
Jika memang kenyataannya ada dosen yang malas belajar –yang salah satunya
adalah dengan membaca—maka satu-satunya pihak paling harus dikasihani adalah:
mahasiswanya. Karena bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengajar yang baik jika
sisi keilmuannya tidak bertambah? Dengan kata lain, apa yang bisa menjadi
‘output’ ilmu dari orang seperti itu kalau tidak ada ‘input’ yang signifikan
kedalam dirinya? Pasti kuliah kering, sepi, jayus, dan saya bisa membayangkan
betapa beratnya perjuangan para mahasiswa yang diajarnya untuk tetap duduk
manis menahan ngantuk. Bagaimana tidak, dosen yang dihadapannya ngajar kuliah
seperti mendiktekan diktat kuliahnya kepada para mahasiswa.
Menyukai
aktivitas membaca memang bukan hobby yang tiba-tiba turun dari langit. Atau
hobby yang mudah ditiru seperti entengnya membalikkan telapak tangan. Tidak.
Membaca merupakan hasil dari proses pembiasaan. Habit. Yang dibangun dan
dilatih terus menerus hingga bertahun-tahun lamanya. Anak-anak yang sejak bayi
sudah dibiasakan untuk mengenal benda bernama buku, dibiasakan familiar
dengannya, lalu didukung dengan orangtuanya yang suka membacakan untuknya, maka
anak tersebut besar kemungkinannya akan tumbuh dewasa seiring dengan
interaksinya dengan buku yang semakin meningkat. Begitu pula sebaliknya. Jika
sejak bayi, pembiasaan yang dilakukan orang tuanya kepada sang anak adalah
mainan, televisi, dan video-game, maka bisa dipastikan mental anak tersebut
ketika dewasa akan jauh dari buku. Ilustrasi yang terakhir inilah yang sekarang
jumlahnya lebih banyak dimasyarakat. Saya jadi ingat lirik lagu band punk
atheis dari California (AS), Bad Religion, ketika mengkritisi generasi muda
sekarang yang sangat malas dan ‘no future’:
“...say I’m a 21st Century Digital BoyI don’t know how to readBut i have a lot of toys.My daddy is lazyMiddle class intelectualMy mommy on valiumSo ineffectual” –21st Century
Digital Boy, Bad Religion
Meski lirik
lagu tidak bisa dijadikan dalil, tapi apa yang mereka katakan memang terjadi
dalam fenomena saat ini. Anak-anak yang lebih mencintai mainan, televisi dan
video-game daripada ilmu. Figur ayah merasa tidak ikut bertanggungjawab atas
pendidikan anak-anaknya. Semua dianggap sang ibu-lah yang menghandle semua
urusan rumah dan pendidikan anak. Ditambah lagi ke-kurangfaham-an orang tua
terhadap pentingnya ilmu yang ditanamkan sejak dini. Sehingga anak-anaknya
tumbuh dewasa justru dengan bimbingan lingkungan pergaulannya disekolah. Tidak
hanya itu, anak-anak tumbuh dengan didikan televisi dan video-game. Wajar jika fenomena
seperti saat ini terjadi.
Mungkin, ini
merupakan dampak buruk modernisasi menjadikan kehidupan generasi saat ini
inginnya serba instan, manja, malas berpikir dan malas bekerja. Mereka mengira
bisa dengan mudah lulus kuliah dengan nilai yang baik tanpa belajar keras
setiap hari. Mereka pikir bisa lulus mendapat gelar dan IPK terbaik yang mereka
inginkan ketika wisuda tanpa harus bergelut dengan tumpukan buku-buku bacaan.
Tidak. Tidak akan mungkin terjadi.
Maka dari itu,
mulailah berkenalan dengan buku-buku. Berbaik hatilah dengannya. Ajak mereka
berkomunikasi. Kenali kepribadiannya. Maka selanjutnya kau akan jatuh cinta
kepadanya. Jadikan mereka sesuatu yang berharga bagimu. Hingga jikalau tak ada
mereka, hatimu terasa tidak lengkap. Sampai akhirnya kau sadar bahwa ketika itu
kau sudah menjadikan aktifitas membaca sebagai kebutuhan primer dalam hidupmu.
Bukan lagi tekanan dan beban seperti hal dahulu.[]
(Abu Hafizh, Catatan Mingguan Ke-3, Rabu, 26
oktober 2011. 9:33 AM)

