Sa'i Muslim Movement--Profesi utama
saya yang kedua adalah mengajar sebagai dosen. Profesi itu memang urutan kedua
setelah profesi saya sebagai kepala keluarga. Sebagai dosen,
saya mengajar di jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah perguruan tinggi di
Surabaya. Salah satu mata kuliah saya ampu adalah mata kuliah Komunikasi.
Mungkin yang menjadi alasan kenapa saya yang dipilih atasan untuk mengajar
dalam mata kuliah ini adalah latarbelakang S2 saya yang dekat dengan subjek
ini. Saya bersyukur, karena ilmu ini cukup saya pahami. Dan saya suka mengajar
ilmu-ilmu yang memang menjadi expertise saya. Disamping kadang saya merasa
tertantang juga mengajarkan ilmu yang belum terlalu saya kuasai sebelumnya.
Bukan untuk mengajar dengan jurus ngawur ala dewa mabuk, tapi justru karena
tertantang, saya harus secepatnya mempelajari ilmu tersebut, cepat menguasai,
dan siap mentransfer ilmu itu kepada orang lain.
Kembali lagi
tentang saya mengajar komunikasi. Pagi itu sebenarnya saya sudah berniat untuk
tidak mengajar karena alasan yang cukup kuat. Saya sakit agak berat. Semalaman
panas tinggi, pusing berat, dan diare. Tapi berhubung dosen pengganti tidak
siap dengan materi hari itu. Pagi itu saya nekat berangkat ke kampus untuk
mengajar. Mengingat kondisi kelas sudah mulai dipenuhi mahasiswa. Tidak
sedikit, ada 68 mahasiswa jika seluruhnya hadir. Jumlah yang sulit bagi saya
untuk meninggalkannya begitu saja tanpa ada kuliah hari itu.
Saya katakan
kepada teman saya –si dosen pengganti itu—“Ok, saya berangkat sekarang.” Sambil
berusaha menahan sakit saya yang belum terobati.
Materi pagi itu
adalah tentang “Bahasa dan Makna”. Kenapa bab ini penting dan sengaja dipilih
untuk Jurusan DKV? Karena bahasa dan makna memiliki porsi yang sangat besar
ketika seorang desainer komunikasi visual akan menciptakan sebuah karya. Mereka
menggunakan bahasa sebagai tools untuk menyampaikan pesan, dan ‘pemaknaan yang
tepat’-lah adalah apa yang ingin mereka ingin dari audiens yang mereka target.
Dalam kuliah ini
saya memulai dengan topik “History of Language and Meaning”. Disinilah yang
inti topik yang sebenarnya ingin saya bahas dalam tulisan ini. Sejujurnya,
sebelum saya mengajar materi ini, saya telah ‘mengobrak-abrik’ isi buku-buku
yang membahas tentang sejarah bahasa yang digunakan oleh manusia di muka bumi
ini. Satu persatu saya baca dan coba pahami. Sampai akhirnya saya menarik
benang merah kesimpulan, bahwa seluruh literatur sejarah sekuler dari Barat
tidak pernah mengaitkan sejarah bahasa dengan campur tangan Tuhan sebagai pencipta
manusia. Sehingga segala sesuatunya dilihat dari sudut pandang filsafat
positifisme, suatu cara berpikir yang hanya mengakui segala sesuatu yang
terjadi didunia ini pasti ada penyebabnya (sebab-akibat). Sehingga
penelitian-penelitian mereka terkesan konyol dan kering dari spiritualitas.
Kesimpulan yang mereka ambil pun juga tidak melegakan para spiritualis maupun
kaum agamis.
Saya sebagai
dosen yang beragama, Islam. Memiliki tanggungjawab yang besar terhadap apa yang
saya ajarkan kepada mahasiswa saya. Ide-ide Barat yang bodoh dan miskin aspek
spiritual lebih berguna jika saya jadikan bahan untuk lelucon dikelas daripada
sebagai rujukan utama mahasiswa-mahasiswa kuliah ini. Lumayan,...ketika saya
ceritakan bahwa dulu orang-orang Yunani kuno meneliti asal usul bahasa, mereka
mencatat tiap bunyi yang terucap pada bayi yang baru lahir lalu dicari kaitan
maknanya dengan apa yang dia lihat, seluruh mahasiswa sampai tertawa
terbahak-bahak.
Lalu teori apa
yang saya pakai untuk menjelaskan sejarah bahasa manusia? Sebagai seorang
muslim, saya harus mencari jawabannya yang pertama kali adalah dalam ‘buku
panduan’ hidup manusia tertinggi: Al-Qur’an. Saya teringat seorang ulama yang 6
tahun lalu pernah membahasa tafsir di masjid Al-Falah Surabaya, menceritakan tentang
hal ini. Beliau menjelaskan dengan runut tafsir surat Al-Baqarah ayat 30-34
tentang asal-usul bagaimana manusia mengenal setiap kata yang akhirnya
berkembang hingga hari ini menjadi bahasa sehari-hari kita. Allah berfirman:
“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui."”
(QS Al Baqarah
30)
“dan Dia mengajarkan kepada Adam
Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka-kannya kepada Para
Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
(QS Al Baqarah
31)
“mereka menjawab: "Maha suci
Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada
kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
(QS Al Baqarah 32)
“Allah berfirman: "Hai Adam,
beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah
diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman:
"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?"
(QS Al Baqarah
33)
“dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah
mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan
orang-orang yang kafir.”
(QS Al Baqarah
34)
Jelas sudah apa
yang dikemukakan dalam Al-Quran tentang sejarah lahirnya kata-kata yang dipakai
untuk berdialog oleh manusia dimuka bumi ini. Allah-lah yang mengajarkan
semuanya kepada Nabi Adam as pertama kali. Diawali dengan dialog malaikat
dengan Allah Ta’ala tentang pertanyaan malaikat tentang alasan Allah
menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Hingga akhirnya malaikat
mengerti dan hormat kepada Adam (manusia) karena Allah telah mengajarkan
sebagian ilmu-Nya (tentang semua vocabulary
yang ada diseluruh alam semesta ini) kepada Adam as dan itu yang tidak dimiliki
makhluk lainnya seperti malaikat sekalipun.
Ketika saya
mengajarkan materi ini, saya tidak menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum
yang harus (dipaksakan) ditaati seluruh mahasiswa. Tapi sebagai sumber sejarah
yang dapat dijadikan rujukan oleh siapa saja. Bagi mereka yang non-muslim, yang
untungnya masih paham dengan penjelasan saya: kristen, mengakui pula sejarah Nabi
Adam as. Jadi tidak terlalu membingungkan bagi mereka untuk bercerita sejarah
semacam ini. Apalagi ketika pertanyaan saya yang pertama untuk membuka
perkuliahan ini tentang darimana asal-usul bahasa manusia, seorang mahasiswa
beragama Kristen justru yang menjawab : “Adam!” Lebih cerdas daripada rata-rata
yang hanya berpikir berhenti pada kata “nenek moyang".
Suasana kelas
ketika itu cukup mengasikkan. Saya bisa melihat wajah-wajah ketertarikan akan
materi yang disampaikan. Mungkin ini baru bagi mereka. Dan tidak pernah mereka
menyangka sejarah itu ada dalam kitab yang sebagian besar mereka miliki dirumah
dan tertumpuk di rak yang paling dalam posisinya. Yang sudah lama tidak mereka
jamah. Wajah-wajah mereka mungkin mengingatkan pada wajah saya ketika kurang
lebih enam tahun yang lalu mendengar penjelasan almarhum ulama tafsir tentang
ayat yang sama. Ilmu yang sama sekali tidak banyak dijamah oleh para pakar linguistik
dan komunikasi. Ironis.
(Abu Hafizh,
Catatan Mingguan Ke-2, 12-10-2011, 17:05)

1 comment:
Subhanallah Pak Dosen, menginspirasi sekali, andaikan saja Bapak bisa mengajar di DKV STISI Telkom Bandung.
Post a Comment