Belajar Fisika Secara Islami

Written by Usep Mohamad Ishaq

“Apakah Ilmu Fisika mungkin dipelajari tidak secara islami?” Dengan kata lain, “Apakah ada cara mempelajari Fisika yang Islami atau tidak Islami?”.

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, terutama karena ada kesalahfahaman yang menggelayuti banyak orang tentang konsep dan proses Islamisasi ilmu kontemporer. Masih ada saja yang membayangkan bahwa Islamisasi sains berarti membuat “pesawat terbang Islam”, atau “mesin islam”. Atau, masih ada juga yang mengira bahwa Islamisasi hanyalah semata-mata berarti “mencocok-cocokkan” atau menjustifikasi ayat al-Qur’an dengan temuan sains atau sebaliknya (lihat tulisan Budi Handrianto “Meluruskan Konsep Islamisasi Sains”).

Jika memang ada cara tertentu untuk mempelajari Fisika secara Islami, pertanyaan selanjutnya, “Apa perlunya mempelajari ilmu Fisika secara Islami? Hal ini dapat dijawab dari dua sisi. Pertama, bahwa dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.

Tak terkecuali saat seorang Muslim mempelajari Ilmu Fisika. Ia tak hanya bertujuan semata-mata untuk menghasilkan terobosan-terobosan sains atau temuan-temuan ilmiah baru; bukan pula menghasilkan tumpukan jurnal-jurnal ilmiah semata-mata atau gelimang harta kekayaan saja. Tapi, lebih dari itu, seorang Muslim melihat alam semesta sebagai ayat-ayat Alllah. “Ayat” adalah tanda.Tanda untuk menuntun kepada yang ditandai, yakni wujudnya al-Khaliq. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu ayat tanziliyah (wahyu yang verbal, seperti al-Quran) dan ayat-ayat kauniyah, yakni alam semesta. Bahkan, dalam tubuh manusia itu sendiri, terdapat ayat-ayat Allah.

Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi (QS 7:179).

Binatang ternak bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu mati. “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).

Kedua, tujuan pendidikan nasional adalah bahwa ia harus menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,..”. Pertanyaannya, “Apakah pendidikan dan pengajaran sains sudah ditujukan membentuk manusia beriman, bertakwa dan berakhlak mulia?”, “Apakah buku-buku pelajaran dan buku-buku teks Fisika sudah ditujukan untuk hal tersebut?”

*****
Mempelajari Ilmu Fisika secara Islami dimulai dari Islami atau tidaknya fikiran seorang fisikawan. Bagaimana cara pandang seorang fisikawan terhadap alam, bagaimana konsep ia tentang ilmu, dan bagaimana konsepnya tentang Tuhan. Cara pandang inilah yang menentukan apakah ia mempelajari sains secara islami atau tidak, dan cara pandang inilah yang dikenal sebagai pandangan-alam (worldview). Fikiran seorang fisikawan akan memahami benar bahwa ada keterkaitan yang erat antara ilmu (‘ilm), alam (‘alam), dan Pencipta (al-Khaliq).

Kata ‘ilm sendiri berasal dari kata dasar yang terdiri, ‘a-l-m, atau ‘alam. Makna yang dikandungnya adalah ‘alaamah, yang berarti “petunjuk arah”. Menurut al-Raghib al-Isfahani al-‘alam adalah “al-atsar alladzi yu’lam bihi syai’” (jejak yang dengannya diketahui sesuatu). Dalam karyanya Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Rosenthal memberikan pandangan tentang adanya keterkaitan erat secara bahasa antara ilmu pengetahuan dengan petunjuk jalan yaitu bahwa, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particularly close and takes on especial significance in the Arabian environment.

Mengenai keterkaitan antara adanya Pencipta dengan alam, sangat menarik jika kita simak pandangan Dr. Mohd. Zaidi Ismail, pakar Islamic Science, bahwa prototipe dari Natural Science khususnya dalam arti modernnya, dalam tradisi keilmuan dan sains Islam disebut sebagai ‘ilm al-tabii’ah (the science of nature). Kata al-tabii’ah tidak seperti kata bahasa Inggris “nature (alam)” yang menyiratkan keabadian dunia, diambil dari akar kata t-b-’a atau tab’a, yang berarti “dampak atas sesuatu (ta’thir fii…), “penutup (seal), atau “jejak (stamp)” (khatm), maka ia menyiratkan “sifat atau kecenderungan yang dengannya makhluk diciptakan” (al-sajiyyah allatii jubila ‘alayha). Semua arti tersebut “mengasumsikan” adanya Sang Pencipta.

Jadi alam tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab alam adalah “ayat” (tanda). Fisikawan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data ilmiah, tak ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang menunjukkannya pada sesuatu.

Hal ini sejalan dengan makna ilmu dalam Islam seperti ditunjukkan oleh Jurjani dalam at-Ta’rifaat bahwa ilmu adalah “hushuul shurat asy-Syai’ fi al-‘Aql” (sampainya makna sesuatu pada akal) namun juga “wushul an-nafs ilaa ma’na asy-syai’” (tibanya jiwa pada makna sesuatu). Sejalan dengan hal ini, pakar Filsafat Sains, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan:
“Pada hakikatnya sesuatu itu, seperti juga kata, adalah sebuah petunjuk (tanda) atau simbol, dan petunjuk atau simbol adalah sesuatu yang dzhair dan tak terpisahkan dari sesuatu yang lain yang tak dzahir. Sehingga tatkala yang pertama itu sudah dapat ditangkap, dan yang bersifat dengan sifat yang sama dengan yang pertama itu tadi dapat diketahui. Oleh sebab itu kami telah mendefisnisikan ilmu secara epistemologis sebagai sampainya arti sesuatu itu ke dalam jiwa, atau sampainya jiwa pada arti sesuatu itu. “Arti sesuatu itu” berarti artinya benar, dan apa yang kami anggap sebagai arti yang ”benar” itu, pada pandangan kami ditentukan oleh pandangan Islam (Islamic vision) tentang hakikat dan kebenaran sebagaimana yang diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.

Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya besarnya, Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual (lebih lanjut lihat tulisan Wendi Zarman “Fisika dan Metafisika Islam Perlu Disatukan Lagi”)

Konsep-konsep inilah yang akan membentuk cara pandang Fisikawan Muslim, dan dari pandangan-alam (worldview) inilah Fisika bisa dipelajari secara Islami. Aspek-aspek lain dalam dunia ilmiah seperti kejujuran ilmiah, “objektifitas”, sikap ilmiah seperti menerima kritik, mengakui kesalahan dan menerima kebenaran, lahir dari pandangan-alam ini. Sikap ilmiah dalam Islam bukan lahir semata-mata dari etika ilmiah itu sendiri, namun ia lahir dari suatu pandangan-alam (worldview) dan sebagai hasil dari pengenalannya terhadap Pencipta alam (ma’rifatullah). Worldview inilah yang telah membentuk pribadi para saintis Muslim terdahulu beserta karya-karya besar mereka yang gemilang (lihat “Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah”, John Adler).

*****
Konsep Adab terhadap alam juga kemudian lahir dari pandangan-alam Islam (Islamic worldview) ini. Dengannya, seorang saintis akan memperlakukan dan memanfaatkan alam dengan adab yang benar. Lalu lahirlah konsep sikap ramah lingkungan yang Islami, yang didasarkan bukan semata-mata karena alasan keterbatasan sumber daya alam, namun kesadaran bahwa alam ini bukanlah milik manusia, namun ia adalah amanah dan sekaligus juga ayat-ayat Allah. Hanya dengan pandangan-alam seperti inilah, akan lahir manusia beradab dan berakhlak, seperti yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan kita saat ini.
Prof. Naquib al-Attas mengingatkan, bahwa hilangnya adab terhadap alam – sebagai ayat-ayat Allah – inilah yang telah menyebabkan kerusakan besar di alam semesta. Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, alam mengalami kerusakan seperti saat ini, di mana ilmu pengetahuan sekuler merajai dunia ilmu pengetahuan. Akar kerusakan ini adalah ilmu pengetahuan (knowledge) yang disebarkan Barat, yang telah kehilangan tujuan yang benar.
Ilmu yang salah itulah yang menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; ilmu yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism). Bahkan ilmu pengetahuan sekuler ini untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.
Menurut al-Attas, dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), 2:231-240).

Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan sangat pesat, Ilmu Fisika terbukti telah membawa banyak manfaat bagi umat manusia. Wajib sebagian kaum Muslim menguasai ilmu ini. Tetapi, cara pandang dan cara belajar seorang Muslim akan berbeda dengan yang lain. Sebab, bagi Muslim, alam semesta adalah ayat-ayat Allah, yang dipelajari – bukan sekedar untuk mengungkap temuan-temuan baru – tetapi juga untuk mengenal Sang Pancipta. (***)

Mohammad Natsir


Pria yang lahir di Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat tanggal 17 Juli 1908 ini sosoknya lebih dikenal sebagai politisi dan aktivis dakwah. Namun sesungguhnya, pendidikan menjadi perhatian utama sepanjang hayatnya. Baginya pendidikan adalah fondasi utama untuk membangun peradaban dan kemajuan umat.

Pengalaman pendidikannya yang beragam mulai dari sekolah Belanda, pengajian di surau, sampai belajar agama secara khusus kepada A. Hassan, guru utama Persatuan Islam, di Bandung membawanya pada pemikiran-pemikiran penting dalam dunia pendidikan. Pergaulannya dengan para aktivis dan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia semakin menajamkan pandangannya terhadap kondisi riil yang dihadapi umat dan bangsanya.

Cita-cita pendidikan Natsir tersimpul pada satu prinsip dasar, yaitu bahwa pendidikan harus berdasarkan “tauhid”. Pendidikan yang berdasar tauhid ini bukan hanya pendidikan yang mengajarkan agama an sich, melainkan yang mampu memberi dasar pengetahuan Islam yang kuat kepada seluruh pelajar Muslim, apapun yang dipelajarinya; dan pada saat yang sama harus dikembangkan berbagai kepakaran di berbagai lapangan kehidupan. Itu artinya Islam dijadikan basis nilai fundamental dalam pengembangan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Apa yang dipikirkannya itu langsung ia praktikkan. Tahun 1927 ia mendirikan Pendidikan Islam (Pendis) yang membuka HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Bedanya dengan sekolah-sekolah yang sama saat itu adalah pada kurikulum. Natsir merancang pengajaran agama secara intensif di sekolahnya. Ia berharap lulusannya nanti tidak hanya menguasai ilmu-ilmu “umum”, namun lebih dari itu memiliki pengetahua agama ang memadai sebagai pegangan nilai dalam kehidupannya.

Pada saat yang sama Natsir pun men-support didirikannya Pesantren Persatuan Islam oleh A. Hassan, gurunya, pada tahun 1936. Pesantren ini memang menyiapkan calon-calon ahli agama, namun disamping itu diharapkan mereka pun menguasai isu-isu kontemporer yang berkembang. Oleh sebab itu, di pesantren A. Hassan, Natsir diberi tugas untuk mengajarkan pengetahuan-pengetahun umum kepada para santrinya seperti ilmu alam dan ilmu sosial. Tentu saja dalam kadarnya sebagai pengetahuan pelengkap bagi para calon ustadz dan kiai agar cakrawala pandangnya semakin luas.

Prinsip inilah yang terus menginspirasinya di dunia pendidikan. Saat aktif di politik bersama Masyumi, salah satu yang berhasil ia perjuangkan bersama kawan-kawannya adalah mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. Sejak ia menjadi perdana menteri tahun 1950, kebijakan itu diangkat menjadi Peraturan Pemerintah yang baru setahun kemudian(Kabinet Sukiman) disahkan. Tidak hanya itu, Natsir ikut juga memprakarsai berdirinya Universitas Islam Indonesia (sebelumnya Sekolah Tinggi Islam tahun 1945), universitas Islam pertama di Indonesia di Jakarta. Universitas ini menggambarkan bagaimana usaha integrasi ilmu seperti yang dipikirkannya.

Setelah tidak aktif lagi di politik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan semakin tampak. Melalui anjurannya dan bahkan tidak jarang ia ikut andil langsung, berdirilah universitas-universitas Islam di berbagai kota besar: Medan, Jakarta, Bandung, Makassar, dan sebagainya. Melalui Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikannya pada tahun 1967, ia pun menggagas pembaruan kurikulum pesantren. Salah satu tokoh pesantren yang digandengnya adalah K.H. Soleh Iskandar bari Bogor yang dipercaya memimpin lembaga kordinasi pesantren BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia).

Salah satu yang paling monumental adalah gagasannya tentang “dakwah kampus”. Natsir melihat bahwa mahasiswa yang belajar di PT-PT umum, terutama PTN favorit, masih belum terjamah “dakwah”. Melalui training-training bagi dosen-dosen agama dan mahasiswa, Natsir mempersiapkan kader-kader dakwah kampus. Tujuannya satu: agar mahasiswa yang belajar “ilmu-ilmu umum” memiliki pengetahuan agama memadai. Sebab, Natsir tahu bahwa gelombang sekularisme di PT umum yang ada saat itu begitu kuat sehingga agama dikesampingkan.

Atas prakarsa Natsir inilah lahir intelektual-intelektual Islam baru. Mereka berasal dari PT umum seperti UI, ITB, UGM, IPB, Unpad, Undip, Unair, dsb. Kepakaran mereka adalah bidang sains, namun pemahaman mereka terhadap agama cukup memadai sehingga mereka dapat tampil sebagai pemimpin-pemimpin Islam yang penuh komitmen terhadap keislamannya. Secara tidak langsung, melalui gerakannya ini, Natsir telah membuka jalan menuju Islamisasi ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer yang sekuler. (***)

(liat aja aslinya di www.insistnet.com)