"Untuk jadi the great muslim, sepertinya otak kanan perlu lebih gede dikit dari otak kiri" - Aditya Abdurrahman.
Saya sempat sulit mencari kata-kata yang lebih terdengar keren untuk judul tulisan ini yang tadinya seharusnya berjudul “muslim hebat harus kreatif”. Karena kalo judulnya biasa-biasa aja, rasanya kurang nggreget, perlu yang agak keren dikit, agak mirip judul film-film holiwut (asal jangan boliwut), dan yang terdengar lebih anak muda banget, supaya yang ngliat penasaran, lalu baca tulisannku sampe abis. Itu trik, yang butuh porsi mikir lebih banyak, agar bagaimana apa aja yang kita lakukan itu punya posisi yang berbeda dari yang lainnya atau bahkan di atas standar rata-rata.
Pemuda kita, terutama yang tiap hari bergelut dengan ilmu-ilmu dan aktifitas otak kiri seperti rumus-rumus fisika, biologi, matematika (angka-angka), dan lain-lain, kadang lupa mengasah kemampuan otak kanannya. Padahal otak kanan itu basis dari kreatifitas kita. Sedangkan kreatifitas itulah nanti yang paling banyak dipakai untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan ini. Bukan dengan angka-angka, bukan dengan ilmu fisika dan biologi. Menghadapi krisis finansial, bisakah dengan ilmu biologi?
For The Dakwah
Pernah suatu kali saya menghadiri sebuah event kajian Islam di sebuah kampus di Surabaya. Namun nama event itu sama sekali nggak dipoles dengan bahasa yang lebih 'anak muda', lebih bersemangat, lebih terkesan nggak bikin boring, dan bikin orang penasaran. Jadi namanya tetap aja tipikal seperti “Kajian Islam Rutin Jurusan bla-bla-bla”, atau “Majelis Taklim bla-bla-bla”, dan sejenisnya. Terang aja tiap kajian yang dateng 4L alias Lu Lagi Lu Lagi, nggak ada perubahan.
Dalam dakwah sangat perlu adanya kreatifitas-kreatifitas. Supaya syi'ar Islam ini bisa mudah diterima juga dikalangan awam. Kalo kita yang udah totalitas belajar Islam, mungkin kuat berjam-jam duduk dengerin Ustadz memberikan ceramah atau mengkaji kitab, namun bagi masyarakat awam, itu kurang menarik. Mereka jadi sulit diajak untuk mau mendalami Islam jika kita sebagai pendakwah nggak muter otak kanan untuk menemukan metode-metode baru dalam menyampaikan pesan dakwahnya .
For Life
Kreatifitas dalam hidup itu statusnya bukan hanya 'perlu', tapi 'penting'atau 'urgent'. Di era globalisasi dan kemajuan persaingan ini yang nggak kreatif bakal dihabisi oleh orang-orang kreatif (apalagi berduit). Maka dari itu, walaupun masih sekolah atau kuliah, semestinya kita udah harus belajar kreatif dalam menyiasati hidup. Karena ketika kita lulus kuliah, jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang ada, sehingga bisa dipastikan akan banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang nganggur. Udah bisa disimpulkan, sebenarnya orang-orang yang lulusan perguruan tinggi atau bahkan SMU itu kalo sampe nggak bisa dapat penghasilan, itu bisa dikatakan kalo mereka nggak kreatif. Otak kanannya buntu, karena selama sekolah dicekoki ilmu-ilmu yang nggak praktis (tidak bisa dipraktekkan kecuali kalo jadi pegawai ) dan orang tua pun mendidiknya sejak kecil untuk menjadi nggak kreatif pula. Pokoknya, mindset mereka, kalo nggak dapet kerja diperusahaan, maka HABISLAH RIWAYATNYA.
Pertanyaannya, “Benarkah HABIS RIWAYAT KITA KALO NGGAK DAPET KERJA ?”. Jawabnya, “Emang rejeki itu hanya lewat jadi pegawai, hah?!”. Coba mulai puter otak kanan kita sampe 700 keliling! InsyaAllah nemu tuh jawabannya.
Kita dianugerahi Allah otak kanan itu harus disyukuri. Karena ketika manusia kepepet (terdesak) seringkali fungsi otak-kanannya langsung melejit. Ada yang langsung nyoba jualan, buka toko, depot/warung, ada yang nyoba buka konsultan sendiri, ada yang nyoba buka bengkel, dll. Begitu juga yang masih sekolah, harus mulai belajar kreatif menyiasati hidup.
How to be MAXIMUM?
Jika ingin menjadi kreatif, harus bisa berbeda dengan lainnya, namun 'berbeda' yang memiliki nilai positif dan menunjukkan ada keunggulan tertentu yang menonjol dibanding lainnya. Orang kreatif tidak mengambil ide orang lain mentah-mentah lalu menjiplaknya persis. Namun orang kreatif mengambil ide yang sudah ada lalu melakukan 2 hal kepada ide itu: DIRUBAH atau DITAMBAH.
DIRUBAH, artinya tiap ide itu jangan hanya mentah-mentah dijiplak, namun dirubah lebih dahulu beberapa bagiannya menjadi lebih unik, menarik, dan disukai oleh target segmennya. Misalnya, seperti yang kami lakukan di SA'I Magazine dan SA'I Newsletter. Tiap kali saya ke mesjid untuk Juma'atan. Banyak sekali buletin-buletin Jum'at dari jamaah-jamaah maupun gerakan-gerakan Islam disebarkan disitu. Saya sering mengumpulkannya jika topik yang dibahasnya menarik. Namun ada kekurangan yang sangat mendasar dari buletin-buletin ini, yang bikin membacanya agak kurang semangat, diantaranya ada 2 hal : GAYA BAHASANYA dan DESAIN/LAYOUT/TAMPILAN-nya. Dari masalah itu, saya punya cita-cita membuat suatu media dakwah yang gaya bahasanya sesuai dengan segmen yang saya tuju, misalnya jika disebarkan di kalangan remaja, berarti gaya bahasanya harus luwes, gaul, dan nggak mboseni. Disamping itu akan saya buat semenarik mungkin tampilan visualnya. Setelah sekian lama di empet-empet (baca: ditahan-tahan) akhirnya lahir juga SA'I Newsletter #1 sampai saat ini SA'I Newsletter sudah edisi 11 dan SA'I Magazine sampai edisi 3 ini.
Jadi, kesimpulan pertama yang harus diingat adalah,…..DIRUBAH!
Btw, yang berikutnya, DITAMBAH. Ditambah, bisa diartikan, bahwa ide-ide yang lama yang mau diadopsi dapat kita pakai tanpa merubahnya sama sekali namun yang kita lakukan adalah menambahnya dengan ide kita. Misal, mau jualan Pangsit Mie Ayam (hemm…nyem,nyem…ini favorit ane!). kalo mau buka Kedai Mie Ayam jangan hanya bikin masakan mie yang standar aja. Rasa dan penyajiannya sama. Itu nggak kreatif namanya. Yang kreatif itu kalo masakan yang sudah ada itu ditambahkan sesuatu. Mungkin penyajiannya ditambahkan dengan Udang Goreng atau Abon Ikan Tuna, jadilah Pangsit Mie Seafood. Atau jualan bakso, didalem pentol-nya (maaf, emang bahasa Indonesianya pentol apa ya?-pen) dikasih udang atau daging tuna. Wah…sip tuh..
So, inget! …..De-I- Te-A-eM-Be-A-Ha!....DITAMBAH!
Ok, terlalu banyak saya ngomong. Saya juga masih dalam proses menerapkannya dengan baik. Selamat menerapkan with your MAXIMUM RIGHT-BRAIN!!!! [aa]
1 comment:
Absolutely sure!!!
Post a Comment