
Mungkinkah kejayaan dan peradaban Islam akan tampil jika tidak didukung oleh kerangka struktur yang kokoh? Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan strukturalyang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untukberkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fasestrukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, KapitalismeBarat, dan tak boleh dilupakan: Zionisme Internasional.Jika kebangunan (peradaban) Islam modern telah dimulai secaraindividu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani,Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridla, dan seterusnya, maka rintisan pemikiran yang bersifat individual itu disambut secara lebih ter-tata, diantaranya dua tokoh pemuka da'wah yang tidak bisa dilupakanjika berbicara tentang kebangkitan Islam, yaitu Abul A'la Maududi denganJama'at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul Musliminnya.
Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitanIslam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam danmengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalanaqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar. Pembenahannya harus dimulai dari tingkat individu, keluarga,masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah. Kedua tokoh itu pun punyaperbedaan sedikit. Maududi dengan Jama'at Islaminya banyak menunjukkanfigurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi. Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada 'mencetak' kader. Begitu pula pergerakannya yang terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia.
Sekurang-kurangnya pengaruh pemikirannya. Beliau lebih 'mencetak' orangdaripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiranyang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassanal-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. AliJuraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba'io, dan lain-lainnya. Hassan al Banna dalam usianya yang pendek yaitu 43 tahun, memangterlalu singkat untuk sampai pada figurisme. Beliau seolah-olah hidup dandilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakandan da'wah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Musliminpada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh paramuridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.Sementara itu, gelombang kebangkitan Islam terus bergerakdengan tantangan-tantangan yang semakin berat. Fenomena kebangkitanIslam muncul di seluruh dunia. Palestina, tanah waqaf Islam, darisanalah semangat jihad ditiupkan sampai hari kiamat. Tiupan itumenumbuhkan Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit ditumpas olehIsrael dibanding perlawanan negara-negara Arab, Islamic Trend Movementdi Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin diJordan, dan perjuangan Mujahidin Afghanistan yang berjuang mengusirtentara Sovyet. Kebangkitan Islam juga diwarnai dengan berbagai pusat-pusat studi Islam di Barat dan penerbitan buku-buku Islam yang terusmembanjir. Kenyataan ini tentu membangkitkan optimisme, meski tidakmenutup mata terhadap meningkatnya sekularisme dalam berbagai aspekkehidupan.Fenomena kebangkitan Islam di Indonesia juga ditandai dengan beberapahal yang menarik dikaji. Di kota-kota besar, di kampus-kampus, di sebagiankelas menengah, mereka mulai 'belajar' Islam. Isu pembangunan yang dimulaitahun 70-an dan membawa dampak medernisasi dan sekularisme membuat terjadinya arus balik pada tahun 80-an. Mungkin ekses pembangunan yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi menyebabkan manusia kekeringan spiritual. Ini yang menyebabkan munculnya berbagai kajian tentang Islam dengan berbagai modelnya. Fenomena lain sebelum tahun 80-an, jika berbicara tentang Islam dan gerakannya maka orang akan menoleh ke organisasi-organisasi Islam atau partai politik Islam seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII, dan seterusnya. Seolah-olah yang punya Islam dan dakwahnya hanyalah mereka. Gejala ini mulai mencair menjelang tahun 80-an. Memang nasib dakwah Islam tidak bisa diserahkan hanya pada organisasi atau partai politik Islam. Di sisi lain muncul kenyataan: organisasi-organisasi itu semakin kurang cekatan dalam merespons aspirasi-aspirasi Islam. Dalam beberapa segi terjadi beberapa 'keletihan' (fatigue) karena kurangnya terobosan-terobosan pemikiran yang strategis. Organisasi-organisasi itu mulai digugat oleh sebagian pendukungnya karena semakin kabur dalam menentukan tujuan akhir yang hendak dicapai.
Bahkan di kalangan kampus, HMI kurang mendapatkan pasaran bagi mahasiswa yang mau aktif dan mendalami Islam. Juga tidak menutup mata tentang gerak organisasi-organisasi tersebut semakin terbatas. Oleh karenanya muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam bukanlah monopoli ormas dan orpol Islam, tetapi menjadi kewajiban setiap individu Muslim. Apakah ia bergabung atau tidak dalam organisasi tersebut sementara dakwah yang dilakukan secara bebas dalam kelompok-kelompok kecil, yayasan-yayasan terasa lebih lincah. Kritik lain terhadap ormas-orpol Islam itu antara lain: gaya kerja dan manajemen yang 'agak kebarat-baratan' yang melonggarkan nilai-nilai agama yang mereka canangkan sendiri sebagai doktrin. Misalnya, pemahamannya tentang demokrasi yang cenderung liberal.Gejala ini memunculkan kecendurungan baru, munculnya isu 'jama'ah'.Terdapat dua kecendurungan yang saling bertentangan. Satu pihak, mereka yang alergi dengan isu 'jama'ah'. Biasanya mereka yang sudah mapan aktifitasdalam ormas-ormas Islam, atau karena kepentingan politiknya sehinggamenganggap isu 'jama'ah' itu adalah isu politik. Atau mereka yang sudahmerasa cukup dengan mengartikan bahwa perintah berjama'ah itu sudahdilaksanakan dengan melalui ormas-ormas itu. Di pihak lain, merekamenganggap ormas-ormas itu 'bukanlah jama'ah' sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw., baik karena kelakuan, cara berfikir anggotapendukungnya, ataupun karena mekanisme yang tidak sesuai dengan sunnahRasulullah. Gejala lain adalah munculnya fenomena sempalan. Sebab utamanyabisa diduga karena tersumbatnya aspirasi utama kaum Muslimin. Aspirasiutama (mainstream) - karena halangan politis dan birokratis - menyebab-kan aspirasi-aspirasi murni Islam tidak tertampung sehingga muncullahgerakan sempalan, baik di bidang ideologi, pemikiran syari'ah, maupunp ola-pola pergerakan.Melihat kecendurungan di atas, maka harus ada kajian secara mendalam dan dewasa. Dan, untuk itulah buku ini ("Menuju Jama'atulMuslimin" ditulis oleh Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA)
Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitanIslam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam danmengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalanaqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq yang benar. Pembenahannya harus dimulai dari tingkat individu, keluarga,masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah. Kedua tokoh itu pun punyaperbedaan sedikit. Maududi dengan Jama'at Islaminya banyak menunjukkanfigurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi. Maududi lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada 'mencetak' kader. Begitu pula pergerakannya yang terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin, meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia.
Sekurang-kurangnya pengaruh pemikirannya. Beliau lebih 'mencetak' orangdaripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiranyang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassanal-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. AliJuraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba'io, dan lain-lainnya. Hassan al Banna dalam usianya yang pendek yaitu 43 tahun, memangterlalu singkat untuk sampai pada figurisme. Beliau seolah-olah hidup dandilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakandan da'wah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Musliminpada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh paramuridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.Sementara itu, gelombang kebangkitan Islam terus bergerakdengan tantangan-tantangan yang semakin berat. Fenomena kebangkitanIslam muncul di seluruh dunia. Palestina, tanah waqaf Islam, darisanalah semangat jihad ditiupkan sampai hari kiamat. Tiupan itumenumbuhkan Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit ditumpas olehIsrael dibanding perlawanan negara-negara Arab, Islamic Trend Movementdi Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin diJordan, dan perjuangan Mujahidin Afghanistan yang berjuang mengusirtentara Sovyet. Kebangkitan Islam juga diwarnai dengan berbagai pusat-pusat studi Islam di Barat dan penerbitan buku-buku Islam yang terusmembanjir. Kenyataan ini tentu membangkitkan optimisme, meski tidakmenutup mata terhadap meningkatnya sekularisme dalam berbagai aspekkehidupan.Fenomena kebangkitan Islam di Indonesia juga ditandai dengan beberapahal yang menarik dikaji. Di kota-kota besar, di kampus-kampus, di sebagiankelas menengah, mereka mulai 'belajar' Islam. Isu pembangunan yang dimulaitahun 70-an dan membawa dampak medernisasi dan sekularisme membuat terjadinya arus balik pada tahun 80-an. Mungkin ekses pembangunan yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi menyebabkan manusia kekeringan spiritual. Ini yang menyebabkan munculnya berbagai kajian tentang Islam dengan berbagai modelnya. Fenomena lain sebelum tahun 80-an, jika berbicara tentang Islam dan gerakannya maka orang akan menoleh ke organisasi-organisasi Islam atau partai politik Islam seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII, dan seterusnya. Seolah-olah yang punya Islam dan dakwahnya hanyalah mereka. Gejala ini mulai mencair menjelang tahun 80-an. Memang nasib dakwah Islam tidak bisa diserahkan hanya pada organisasi atau partai politik Islam. Di sisi lain muncul kenyataan: organisasi-organisasi itu semakin kurang cekatan dalam merespons aspirasi-aspirasi Islam. Dalam beberapa segi terjadi beberapa 'keletihan' (fatigue) karena kurangnya terobosan-terobosan pemikiran yang strategis. Organisasi-organisasi itu mulai digugat oleh sebagian pendukungnya karena semakin kabur dalam menentukan tujuan akhir yang hendak dicapai.
Bahkan di kalangan kampus, HMI kurang mendapatkan pasaran bagi mahasiswa yang mau aktif dan mendalami Islam. Juga tidak menutup mata tentang gerak organisasi-organisasi tersebut semakin terbatas. Oleh karenanya muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam bukanlah monopoli ormas dan orpol Islam, tetapi menjadi kewajiban setiap individu Muslim. Apakah ia bergabung atau tidak dalam organisasi tersebut sementara dakwah yang dilakukan secara bebas dalam kelompok-kelompok kecil, yayasan-yayasan terasa lebih lincah. Kritik lain terhadap ormas-orpol Islam itu antara lain: gaya kerja dan manajemen yang 'agak kebarat-baratan' yang melonggarkan nilai-nilai agama yang mereka canangkan sendiri sebagai doktrin. Misalnya, pemahamannya tentang demokrasi yang cenderung liberal.Gejala ini memunculkan kecendurungan baru, munculnya isu 'jama'ah'.Terdapat dua kecendurungan yang saling bertentangan. Satu pihak, mereka yang alergi dengan isu 'jama'ah'. Biasanya mereka yang sudah mapan aktifitasdalam ormas-ormas Islam, atau karena kepentingan politiknya sehinggamenganggap isu 'jama'ah' itu adalah isu politik. Atau mereka yang sudahmerasa cukup dengan mengartikan bahwa perintah berjama'ah itu sudahdilaksanakan dengan melalui ormas-ormas itu. Di pihak lain, merekamenganggap ormas-ormas itu 'bukanlah jama'ah' sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw., baik karena kelakuan, cara berfikir anggotapendukungnya, ataupun karena mekanisme yang tidak sesuai dengan sunnahRasulullah. Gejala lain adalah munculnya fenomena sempalan. Sebab utamanyabisa diduga karena tersumbatnya aspirasi utama kaum Muslimin. Aspirasiutama (mainstream) - karena halangan politis dan birokratis - menyebab-kan aspirasi-aspirasi murni Islam tidak tertampung sehingga muncullahgerakan sempalan, baik di bidang ideologi, pemikiran syari'ah, maupunp ola-pola pergerakan.Melihat kecendurungan di atas, maka harus ada kajian secara mendalam dan dewasa. Dan, untuk itulah buku ini ("Menuju Jama'atulMuslimin" ditulis oleh Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA)
No comments:
Post a Comment