The Power Of Believe

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Hampir setiap cermah, khotbah jumat, dan kajian-kajian Islam, seringkali ayat diatas dibacakan. Saya sangat yakin sebagian besar dari umat Islam pernah mendengar ayat ini sebelumnya. Ayat yang Allah memuji hambanya sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan beriman kepada Allah Ta’ala. Betapa Allah telah memberikan gelar kepada kita untuk masuk dalam kategori yang sangat mulia. Sangat terpuji. Sangat hebat. The Greatest Ummah! Tapi celakanya, TIDAK SEMUA YANG TAHU AYAT INI YAKIN BAHWA DIRINYA ADALAH UMAT YANG TERBAIK! Buktinya?! Lihat saja umat ini jadi jarang berprestasi. Bukankah keyakinan akan menumbuhkan motivasi yang luar biasa untuk melakukan sesuatu yang diyakininya itu? Tapi mana? Pemuda-pemuda muslim kita, (maaf)….mlempem.

Dengan meyakini bahwa kita adalah “umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” akan dapat menguatkan percaya diri kita. Kita akan merasa bangga berada dalam agama yang mulia ini. Kita akan memiliki kemauan yang kuat untuk membuktikan kepada setiap orang dan umat lain bahwa benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Dengan meyakini kita adalah umat yang terbaik tidak akan membuat diri kita lemah, tertinggal dan miskin prestasi.

Tanpa keyakinan yang kuat, tidak akan menghasilkan pribadi-pribadi yang memiliki strong will (Kemauan yang kuat). Tanpa keyakinan tidak akan lahir pribadi-pribadi yang kuat, optimis, unstoppable (takterhentikan) dan semangat 45 dalam meraih prestasi-prestasi yang pahalanya telah disiapkan oleh Allah Ta’ala.

Umat Islam ini dalam sejarah memiliki banyak prestasi yang luar biasa dalam hal peperangan melawan kaum kuffar yang zholim. Dalam yang sangat fenomenal sepanjang sejarang umat Islam, Perang Badar. Pasukan muslim yang hanya 300 orang ternyata bisa mengalahkan 1000 tentara kafir. Hal ini tidak akan terjadi tanpa KEYAKINAN DAN KEMAUAN YANG KUAT. Keyakinan dalam Islam bisa berupa keyakinan akan ketauhidan Allah Ta’ala, keyakinan akan Rasulullah Saw sebagai utusan yang mulia, keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, keyakinan bahwa Jihad adalah perintah mulia yang diberikan Allah Swt, keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambanya yang bertaqwa, keyakinan akan kemenangan Islam, keyakinan akan surga dan neraka, dan seterusnya, semuanya dapat menghasilkan Strong Will yang ber-output pada aksi nyata.

Afghanistan, Negara yang kecil jika dibandingkan dengan Rusia. Walaupun kecil, Afghanistan mampu mengalahkan Rusia dengan modal keyakinan yang kuat akan pahala syahid di sisi Allah Ta’ala. Saya pernah mendengar cerita bahwa ketika tentara-tentara Rusia itu bersiap akan berangkat perang melawan Afghanistan, banyak diantara mereka yang merasa gentar dan ketakutan. Mengapa? Apa yang ada dalam benak mereka? Ternyata karena mereka membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan berperang menghadapi tentara-tentara yang cita-cita tertingginya adalah MATI (baca: syahid –ed). Disini kita bisa mengukur betapa kadar keyakinan menumbuhkan pribadi-pribadi yang kuat. Yang mana musuh-musuh pun ikut digentarkan hatinya oleh Allah.

Begitu juga dalam hal ibadah, jika kita YAKIN bahwa Allah akan memberikan pahala surga bagi orang yang bertaqwa, maka setiap ibadah kita akan kita laksanakan dengan sepenuh hati. Pantang untuk menyia-nyiakan saat-saat bisa beribadah dengan maksimal. Tak ingin melewatkan setiap kekhusyukan pada tiap bermunujat kepada Allah. Karena tahu bahwa waktu tak akan terulang kembali. Setiap sholat wajib kita yang dilakukan dengan asal-asalan tak akan bisa ulangi lagi sewaktu-waktu. Kita juga akan memiliki tekad untuk menambah ibadah-ibadah sunnah untuk menutupi ketidaksempurnaan ibadah wajib kita. Hati kita akan terus merasa kurang dalam memaksimalkan potensi ibadah kita, sehingga berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki kualitasnya dan menambah kuantitasnya. Wallahu a’lam[aa]

No comments: