words: aditya abdurrahman
Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara terminologi, simpelnya, media adalah perantara untuk berkomunikasi. Sedangkan media massa, lebih sering diartikan sebagai media perantara untuk melakukan komunikasi terhadap suatu massa atau masyarakat yang sangat luas.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai macam media yang itu semua biasa di kelompokkan dalam 2 kategori saja yaitu; traditional media (media tradisional) dan new media (media baru). Sekedar tahu saja, yang tergolong dalam jenis media tradisional adalah surat kabar, majalah, televisi, dan radio. Sedangkan yang termasuk dalam jenis new media adalah internet. Namun ada yang berpendapat bahwa telepon seluler juga masih tergolong dalam kelompok new media.
Harold Lasswell, pernah menerangkan tentang model komunikasi yang umum dijadikan pedoman bagi siapa saja yang mempelajari ilmu komunikasi yaitu; Siapa (who), Pesannya apa (says what), Saluran yang digunakan (in what channel), Kepada siapa (to whom), dan Apa dampaknya/pengaruhnya (with what effect).
ASPEK KEKUASAAN MEDIA
Ketika kita berbicara tentang media. Maka tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan tentang pengaruh yang dihasilkan oleh media tersebut. Bagaimana media-media massa mempengaruhi kita?
Secara sadar maupun tidak, seluruh gaya hidup masyarakat telah menjadi bukti atas masuknya pengaruh media pada kehidupan sehari-hari. Karena media memiliki aspek kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa dalam masyarakat. Diantaranya adalah:
Menarik dan Mengalihkan Perhatian Publik
Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi heroik aparat kepolision negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.
Satu lagi, masih ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih teroris dengan Amrozi dkk yang masih banyak kontroversi soal benar-salahnya? Tidak!!! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.
Memberikan Persuasi dan Merubah Opini Publik
Media mampu memberikan persuasi dan merubah opini serta kepercayaan masyarakat tentang suatu hal. Masyarakat dibuat seolah tercuci otaknya, dan mau mempercayai apa saja yang dikatakan media tersebut. Ketika media mengatakan ‘tidak’, maka publik akan ikut berkata ‘tidak’. Ketika media mengatakan ‘ya’, maka publik pun akan terpengaruh untuk berkata ‘ya’ pula. Di kondisi seperti ini publik adalah audiens pasif yang cenderung lebih robot bodoh yang menyetujui seluruh apa yang diucapkan media. Setiap pesan yang disampaikan oleh media ibaratnya seperti peluru yang ditembakkan menembus otak kita secara langsung.
Masih ingat pula berita tentang eksekusi Amrozi dkk di penghujung tahun 2008? Saat itu mendadak seluruh media ikut memberitakan tentang isu-isu terorisme. Banyak pula media televisi dan surat kabar yang berusaha membentuk opini publik bahwa Bom Bali dilakukan oleh Amrozi dkk, yang menjadi ‘teroris’ cuma yang beragama Islam dengan jenis aliran tertentu, tersangka ‘teroris’ (Amrozi dkk) adalah orang yang tidak berprikemanusiaan, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, media telah memberitakan itu semua dengan tidak adil. Banyak ratusan fakta memang, yang membuktikan bahwa media massa di negeri ini tidak pernah berpihak pada Islam kecuali hanya untuk profit dan rating saja!
Kalau kita flashback pada ‘tragedi’ 11 september di gedung WTC, Amerika serikat, kita akan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang saat ini sudah bukan rahasia lagi. Kejanggalan-kejanggalan itu, konon merupakan kebohongan yang ditutup-tutupi oleh intelegen AS. Ketika itu seluruh media, bahkan tidak ada satupun media nasional maupun internasional yang memberikan berbeda tentang ‘tragedi’ tersebut. Semua seragam! Seolah semua memang diberi komando untuk meliputnya dari sudut pandang yang sama. Oleh sebab itulah konspirasi konyol ini berhasil dipahami seluruh dunia sebagai ‘tragedi’, padahal tidak lebih dari penipuan belaka. Walaupun banyak buku-buku dan VCD yang beredar diseluruh dunia pada beberapa bulan kemudian yang mengungkap banyak fakta janggal tentang ‘tragedi’ itu, tapi usaha-usaha tersebut tidak terlalu berarti. Karena mereka harus menghadapi musuh dari media-media raksasa yang itu sangat sulit bagi media kecil mengubah opini yang sudah terdoktrin dalam masyarakat melalui media massa.
Media Mempengaruhi Perilaku
Di dalam masyarakat, perilaku setiap orang dapat dipengaruhi oleh apa-apa yang ditayangkan di media. Jadi media bukan hanya sebatas mempengaruhi opini publik saja, namun bisa juga membuat orang berubah perilakunya. Sebut saja channel musik yang dulu pernah booming, MTV. Dulu, waktu saya masih duduk dibangku SMP kelas 2, saya inget benar bagaimana gaya hidup remaja berubah menjadi sok ke barat-baratan, nggak gaul kalo nggak tahu band-band pop/rock yang lagi trend ketika itu. Model pakaian dan model rambut juga jadi patokan. Saat ini misalnya, rata-rata mahasiswa kalo ingin dibilang modis dan gaul minimal harus mengikuti perkembangan fashion dan style yang lagi trend ketika itu. Lagi-lagi bentukan media. Yah, untung model rambut saya nggak ikutan gaya polem seperti kebanyakan personel band-band emo.
Ketika pemilu, para calon yang ingin memenangkan pemilihan mulai melirik berbagai jenis media untuk kampanyenya. Lucu-lucu sih,... kesannya masih awam dan sembarangan. Tapi terbukti, semakin banyak fulus yang dimiliki suatu partai, semakin besar porsi pemakaian media sebagai alat kampanye, semakin mudah menancap dibenak audiens, semakin besar pula pengaruhnya pada perilaku memilih. Yah, kapitalisme lagi nih kayaknya,...yang menang yang duitnya banyak :P
Media dapat mengkonstruksi definisi tentang realitas atau menciptakan realitas sendiri.
Setiap realitas yang kita lihat di media atau yang ditampilkan oleh media kepada kita bukanlah merupakan realitas yang sesungguhnya yang terjadi di dunia nyata (realitas objektif). Bahkan keduanya justru sering bertolak belakang. Sehingga realitas yang kita lihat di media sering disebut sebagai realitas media.
Masih ingat film Rambo yang seri-nya sampai menyaingi sinetron Tersanjung (dari Rambo I sampe Rambo berapa tuh...lupa). Tokoh yang dibintangi Silvester Stalion ini walau cuma berbekal panah dan pisau aja bisa ngalahin ribuan tentara yang bersenjata lengkap. Seolah ribuan tentara musuh itu blo’on semua, nggak ngerti cara nangkep satu orang itu. Atau ingatkah kita dengan film McGyver yang kita dibuat terkagum-kagum karenanya. Ini orang kok pinter banget. Sayangnya realitas itu cuma ada di layar kaca. Mencoba mencari McGyver yang sesungguhnya? Silahkan cari kalau ada.
Belum lagi para ibu yang kerjaannya melototi sinetron di televisi dari sejak jam sholat maghrib sampe jam sebelas malam, nyambung terus acaranya. Mereka secara sadar maupun tidak telah dijejali realitas konyol buatan sutradara keluarga Punjabi itu. Ibu-ibu dibuat gila dengan cerita-cerita kampungan yang tidak masuk akal. Setting sinetron-sinetron itu juga stereotype banget. Lokasinya selalu rumah mewah, masuk rumah selalu bersepatu, bermake-up tebal setiap hari dirumah, semua jadi berlogat “lu gue”, penuh konflik sampai tidak ada kesempatan untuk bernafas, belum lagi yang miskin selalu yang digambarkan merana, yang kaya selalu digambarkan powerful, dan puluhan kejanggalan lain pada realitas dalam tayangan sinetron.
Beberapa tahun terakhir ini tayangan televisi kita dibanjiri satu genre acara konyol lagi, yaitu reality show. Penonton dibuat terharu dan menangis sambil manggut-manggut percaya sepenuhnya setiap kejadian dalam reality show itu nyata tanpa skenario sutradara. Naudzubillah, jangan sampai ada satupun aktivis dakwah yang suka tayangan reality show! Termehek-mehek misalnya, berhasil membuat seluruh pemirsanya menjadi orang gila yang suka menikmati konflik dan aib orang lain. Pemirsa dibuat asyik-asyikan nongkrong didepan tiap episode melihat orang digampar, dicaci maki, dan dijatuhkan martabatnya dimuka umum. Ini acara paling gila yang saya tahu! Selain itu, pernahkah kita menyangka disuatu acara reality show yang mengekspos kemiskinan suatu keluarga, lalu kemudian keluarga tersebut diberi kejutan berupa harta atau hadiah lainnya, jika orang itu tidak menampilkan ekspresi yang dramatis, maka bisa jadi episode itu tidak ditayangkan karena dianggap kurang ‘menggugah’ di hati pemirsa.
Diatas adalah contoh sedikit dari kasus tak terhingga tentang realitas-realitas konyol buatan televisi. Namun media bisa juga mengkonstruksi definisi tentang realitas yang sebenarnya. Namun setelah definisi itu dikonstruksi, akhirnya realitas itu menjadi menyimpang dari definisi yang sebenarnya. Seperti yang dicontohkan pada poin-poin sebelumnya, misalnya tentang fenomena ‘terorisme’ yang sering jadi bahan pembicaraan media. Ketika di suatu koran menampilkan foto Amrozi dkk sedang tersenyum menjelang hari eksekusi, seenaknya media mencoba mengkait-kaitkan dengan anggapan bahwa mereka bertiga (Amrozi dkk) itu mencoba mengejek, atau mungkin kurang waras karena sudah melakukan kejahatan masih saja bisa tersenyum-senyum didepan orang. Nah, hal itu adalah usaha dari pihak media untuk mengkonstruksi sendiri suatu realitas, yang akhirnya menyimpang dari realitas yang seharusnya atau sebenarnya terjadi. Coba jika dulu media sempat menanyakan mengapa mereka bertiga akan dihukum mati tapi kok malah tersenyum-senyum. Pasti jawabannya berbeda dengan apa yang media selama ini kira.
Aspek-aspek yang berkaitan dengan kuasa media ini seharusnya bisa kita tandingi dengan semangat jihad yang tinggi dalam perang besar yaitu perang pemikiran. Umat Islam seharusnya memiliki cara-cara tersendiri yang lebih bijak dalam memanfaatkan media untuk memenangkan agamanya. Bukan cara kotor dan licik yang dipakai oleh para kapitalis dan orang-orang Barat. Umat Islam memiliki Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman. Mari kita bangun dan warnai media kita dengan itu! (aa)
No comments:
Post a Comment