
DR. Zakir Naik, seorang ulama dari India pernah mengatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa dalam kurun waktu 150 tahun terakhir ini ada 60.000 buku yang ditulis untuk menghina dan melecehkan Rasulullah Saw di Barat. Tidak hanya itu, majalah-majalah milik Barat kelas dunia macam majalah TIME isinya selalu menyerang dan menyudutkan Islam. Bahkan seorang ulama kristologi tersohor asal Afrika, Ahmed Dedat, pernah mencoba menawarkan untuk membayar berapapun untuk ‘mengiklankan’ tentang prospek Al-Qur’an sebagai hukum masa depan dalam satu halaman saja di majalah tersebut tetap saja ditolak mentah-mentah. Itu berarti tak ada ruang bagi kita di media-media Barat. Mereka akan terus ‘mendandani’ wajah Islam layaknya monster dari waktu ke waktu.
Tetapi ada sesuatu yang ‘aneh’ terjadi. Dampak pencitraan buruk terhadap Islam justru membuat orang-orang di Barat semakin penasaran terhadap Islam. Intinya, semakin Islam dicitrakan buruk, maka semakin membuat orang-orang non-muslim di Barat penasaran untuk mencari tahu apa sebenarnya yang diajarkan dalam Islam. Faktanya, sejak kejadian 9/11, setiap tahun warga Amerika yang menyatakan diri masuk Islam semakin meningkat. Bahkan menurut kabar beberapa tahun terakhir, ada sekitar 20.000 orang warga di negara itu setiap tahunnya memilih Islam sebagai dien-nya. Kata salah satu situs media muslim lokal, mayoritas dari mereka adalah wanita.
Fenomena tersebut sudah bukan fenomena aneh lagi. Kita sudah sering mendengarnya di media-media muslim akhir-akhir ini. Namun yang menjadi menarik untuk dibahas adalah, mengapa hal itu bisa terjadi?
Seperti yang kita ketahui, peradaban Barat merupakan peradaban yang anti-agama. Meskipun mayoritas mereka memeluk kristen, namun sebenarnya sebagian besar dari pemeluk itu bukanlah pemeluk yang taat. Mungkin lebih cocok jika disebut sebagai “kristen KTP”. Dalam hati mereka sebenarnya memberontak terhadap agama. Mengapa bisa demikian? Karena mereka sudah lebih dari 1000 tahun lebih ditindas oleh agama. Dalam konteks ini adalah agama yang mereka anut; Kristen.
Scott Peck, seorang psikiater dan penulis terkenal di Barat mengatakan bahwa orang Barat jika mendengar kata “agama” akan langsung berpersepsi negatif. Hal itu disebabkan latar belakang sejarah mereka yang ratusan tahun lebih dijajah oleh gereja. Maka tidak heran simbol yang mereka pakai sebagai patung adalah “Liberty” yang berarti kebebasan. Bebas dari agama.
Jean Paul Sartre, seorang filosof dan eksistensialis dari Perancis, juga pernah mengatakan bahwa walaupun Tuhan itu ada, tapi lebih baik ide tentang adanya Tuhan itu harus ditolak, karena menurut Sartre hal itu sangat membatasi kebebasan. Begitulah respon Barat terhadap agama.
Namun, sejak 9/11 di tahun 2001 itu menjadi pembuka keingintahuan yang mendalam tentang Islam. Keingintahuan mereka yang tinggi membuat mereka bertanya, membaca, mempelajari apapun tentang Islam. Akhirnya dengan ‘tidak sengaja’ mereka mengetahui bagaimana konsep keTuhanan dalam Islam, bagaimana prinsip-prinsip agama Islam, dan lain sebagainya. Yang mereka harapkan klarifikasi akan buruknya Islam justru mereka mendapat informasi yang sebaliknya bahwa Islam merupakan agama yang paling logis, masuk akal, adil dan jelas konsepnya.
Tidak heran, dalam agama kristen sendiri, konsep keTuhanannya masih tidak jelas. Konsep trinitas begitu membingungkan dan tidak logis bagi mereka. Perdebatan tentang konsep itu sudah ada sejak kristen lahir, hingga detik ini belum juga selesai. Selain itu konsep tentang hak dan kewajiban dalam Islam, khususnya kepada perempuan, sangatlah adil dan logis. Jawaban yang mereka dapat justru bertolak belakang dengan apa yang digambarkan media-media Barat tentang Islam yang syariatnya menindas dan menyudutkan perempuan dibawah laki-laki. Mereka jadi tahu bahwa betapa Islam memuliakan wanita. Menempatkan wanita pada sektor-sektor peran yang penting dan mulia. Bahkan semakin media Barat sering membuat heboh dengan cara menghina Rasulullah Saw melalui karikatur dan isu-isu fitnah, justru membuat orang-orang Barat semakin ingin mengenal siapa sebenarnya Rasulullah Saw, untuk menjawab kebenaran isu tersebut. Dan apa yang mereka dapatkan? Lagi-lagi kajian-kajian tentang kemuliaan dan kehebatan Rasulullah Saw sebagai manusia terbaik yang diutus sebagai Rasul dimuka bumi.
Melempar isu negatif ke publik tentang ‘keburukan’ Islam, memang tetap memiliki dampak negatif pada orang-orang Islam di negara-negara yang justru mayoritas muslim. Mereka muslim namun menjadi phobia terhadap agamanya sendiri. Ikut-ikutan mengekor pada pemahaman Barat tentang Islam karena memang sebagian orang muslim sangat memuja peradaban Barat. Tapi bagi masyarakat di Barat sendiri, fenomena ini sama saja seperti melempar bumerang yang kembali mengenai jidat sendiri. Gereja-gereja semakin sepi ditinggalkan para jemaatnya. Puluhan ribu orang setiap tahunnya berbondong-bondong masuk Islam atas kesadaran sendiri tanpa sedikitpun paksaan. Sungguh kemenangan terasa semakin dekat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr 1-3)
Wallahua’lam
[abu hafizh]
No comments:
Post a Comment