Yang Bikin Dakwah Ente Jadi Gak Bener

Dakwah dengan cara yang kasar, tidak santun, atau suka menghakimi saudara sendiri dengan vonis sesat, bid’ah, kafir, dan sejenisnya ternyata punya beberapa penyebab utama. Kalau kita kaji lebih dalam, barangkali ini beberapa hal yang boleh dibilang ikut melatar-belakangi sikap-sikap itu, antara lain:

1. Kesalahan Paradigma Dakwah
Harus secara jujur kita akui bahwa masih seringkali kita -siapa pun juga- punya paradigma keliru terhadap dakwah. Rasanya kalau sudah bisa mentahdzir, memperingatkan, atau mengutuk perbuatan orang yang dianggap salah, berarti dakwah sudah selesai. Kalau sudah berhasil mencaci maki habis di media internet, rekaman ceramah atau lewat buku dan majalah, berarti urusan sudah selesai. Sedangkan bagaimana reaksi dan penerimaan mereka yang diingatkan, tidak ada urusan. Biar yang ditahdzir itu merasa terhina sekalian, dan itu memang disengaja, sebab hinaan justru itu dianggap sebagai hukuman atas kesahalannya. Astaghfirullah. Inilah bentuk paradigma yang salah kaprah. Kalau sampai seorang pimpinan kelompok punya pikiran seperti ini, memang masalahnya tidak akan selesai.

2. Rancunya Konsep Mabadi' dan Furu'iyah

Kesalahan kedua adalah tercampur baurnya konsep masalah pokok dengan masalah cabang. Kita sering lihat apa yang dijadikan bahan pertengkaran hanya urusan sepele, tidak jelas ujung pangkalnya. Bahkan para ulama besar pun masih berbeda pendapat. Tapi perbedaan pendapat itulah kemudian yang dijadikan 'amunisi' untuk menyerang saudaranya. Dan dianggapnya bahwa pendapat yang dibelanya itu adalah kebenaran hakiki. Siapa pun yang tidak setuju dengan pendapat dirinya, maka harus jadi musuhnya.
Kita memang harus tegas kepada kelompok yang jelas-jelas menyimpang dari aqidah, misalnya kalangan Ahmadiyah yang bernabi kepada Mirza Ghulam. Atau kepada kalangan Liberalis yang menyatakan semua agama sama dan benar serta diterima Allah. Tapi kalau urusan jenggot, isbal, baju kemeja dikeluarkan, minyak wangi, lebih dekat ke urusan furu'iyah, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah selesai masalahnya.

3. Kepentingan Pribadi
Dari sekian banyak kasus yang kami ketahui tentang perseteruan antar faksi dan kelompok, yang sangat kami sayangkan justru banyak yang dilatar-belakangi urusan pribadi. Ada yang urusan duit, ada juga yang terkait dengan masalah ketersinggungan personal, ada juga yang masalah sengketa keluarga.
Pokoknya, urusan pribadi sering kali ikut juga memperkeruh suasana. Namun tidak etis rasanya kalau contoh kasusnya dibedah di sini. Nanti malah akan jadi MGM. Apa itu MGM? 'Media Ghibah Nasional'.
Dan kasus-kasus model begini tidak lantas hanya dimiliki oleh satu kelompok saja. Coba kita lihat, nyaris hampir di semua kelompok dakwah, baik yang formal atau yang tidak formal, ternyata tidak juga sepi dari kasus dengan latar belakang seperti ini.

4. Faktor Gengsi
Ini penyakit manusia. Seorang bintang di atas panggung biasanya butuh tepuk tangan. Semakin ditepuki semakin bergayalah dia. Semakin bisa menghujat rekannya, maka semakin berkibarlah dia. Betapa banyak perseteruan itu kadang sudah lepas dari akar permasalahannya. Yang tersisa tinggal masalah dendam dan gengsi.
Tapi sekali lagi kami katakan ini justru sangat manusiawi. Rupanya tokoh besar pun juga punya titik-titik kelemahan, salah satunya adalah susahnya melawan gengsi. Tentu masih banyak analisis yang bisa dibedah, insya Allah kapan-kapan kita akan bicarakan lebih panjang, tanpa harus menunjuk hidung, tanpa menyebut nama, tanpa harus ada yang dijatuhkan atau merasa dijatuhkan. Karena penyakit itu adalah penyakit kita bersama, bukan monopoli kalangan tertentu. Semua akan jadi pelajaran penting bagi kita dalam menata umat ini ke depan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(dikutip dari salah satu jawaban konsultasi dalam www.eramuslim.com oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)

2 comments:

Anonymous said...

Betul tuh ...
Anggapan bahwa pendapat dirinya yang paling benar, dan yang lain sesat adalah pokok masalah dari perpecahan umat. Hanya karena masalah furuiyah, kita jadi berantem, tidak akur, tak mau sholat di masjid tertentu karena beda "aliran".
Ah nista banget kita ini, kapan bisa bersatu dan mengimplementasikan sabda Nabi : "Belum beriman diantara kamu sebelum kamu mencintai saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiri".
Untuk Mas Adit, salut deh artikelnya bagus banget.
Salam,
Sunarno

Aditya Abdurrahman (Project Director) said...

Mohon disebarkan di email teman-teman Bpk, agar dakwah ini menyebar. Sangat indah jika umat ini bersatu padu. mari kita usahakan lebih cepat terjadi...
Amin, InsyaAllah.