
Televisi. Aku dulu pernah merasakan bagaimana bahagianya memiliki pesawat televisi baru. Ketika awalnya keluarga kami hanya punya TV tua, kecil, dan ketinggalan jaman, lalu tiba-tiba berubah memiliki TV 12”,betapa senangnya ketika melihat gambarnya menjadi lebar, tajam, dan lebih bersih. Tak pernah aku sadari bahwa biang kerusakan akhlak bangsa ini berawal dari benda yang satu itu.
Televisi. Begitu banyak orang mengatakan betapa penting rumahnya harus ada televisi. Karena adanya televisi sudah menjadi standar minimal setiap rumah. Awalnya televisi memang dibuat untuk tujuan menyampaikan informasi dengan suara dan visual (gambar). Namun fungsi televisi sebagai media informasi telah lama melenceng dan berubah menjadi media hiburan bagi pemirsanya. Perubahan fungsi ini menjadi sangat fatal. Tayangan-tayangan yang bersifat informasi positif bagi masyarakat telah berubah menjadi tayangan-tayangan infotainment yang hampir total adalah ghibah (gunjingan) dan fitnah. Bahkan lebih mengarah kepada membuka aib seseorang kepada publik. Begitu juga tayangan sinetron keluarga yang hampir tidak ada sama sekali manfaat yang kita dapatkan setelah menontonnya. Bukan cuma itu, tayangan sinetron secara tidak kita sadari telah mengajarkan lifestyle (gaya hidup) negatif sekalipun sinetron tersebut adalah sinetron religius.
Seperti yang dialami orang-orang disekitar saya, terlebih lingkungan keluarga saya sendiri. Para orang tua mengeluhkan betapa nakal anaknya, dari yang suka melawan perintah orang tua, suka usil kepada adik-adiknya, suka rewel, menangis hingga berteriak-teriak sampai berjam-jam lamanya. Mereka belum sadar bahwa semua itu sangat berhubungan dengan efek sebuah benda elektronik yang mereka pelototi setiap hari. Sang anak pun tak mungkin mau dengan ikhlas menekan tombol off pada televisi jika masih sering melihat orang tuanya sering ‘bertapa’ didepan televisi. Para orang tua pun beralasan bahwa nonton televisi adalah hiburan setelah seharian bekerja. Seolah pelampiasan setelah seharian harus melaksanakan kewajiban yang sebenarnya justru disitulah letak parameter keikhlasan dia bekerja.
Ustadz Mohammad Faudzil Adhim pernah menulis dalam bukunya, “Ada benarnya juga ketika ada yang mengatakan bahwa televisi sekarang ini bukan lagi menjadi The Second God ( Tuhan Kedua ), melainkan sudah menjadi The First God ( Tuhan Pertama ). Ia lebih ditaati manusia daripada Rabb Yang Maha Menciptakan.”
Disaat yang sama televisi juga telah menjadi Nabi. Bagaimana mungkin televisi tidak menjadi Nabi baru jika anak-anak saat ini lebih mengenal siapa Naruto dan bagaimana masa lalunya, daripada Rasulullah Saw yang memperjuangkan Islam ini hingga kita bisa memeluk agama ini dengan sempurna. Tak pernah terpikir sebagai orang tua juga menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Rasulullah Saw kepada anak-anaknya sejak dini. Mereka menganggap dengan menyekolahkan anaknya di sekolahan Islam sudah cukup mampu meng’handle’ kewajibannya sebagai orang tua yang menginginkan anaknya jadi anak soleh.
Televisi bahkan lebih ditaati daripada perintah Allah dalam Al-Qur’an. Jika remaja saat ini lebih PD berdandan seperti artis televisi daripada harus mengikuti syariat berjilbab. Orang-orang lebih terbiasa dengan kasus perselingkuhan, zina, dll dan secara tidak langsung menganggapnya menjadi hal biasa ketimbang harus menerima syariat poligami dalam Al-Qur’an. Betapa banyak orang tua yang santai melihat anak laki-lakinya mengajak pacarnya masuk kamar, tapi ketika mendengar kata poligami langsung antipati.
Saya sendiri sering merasa sedih mengapa saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Ketika umur sudah tak mungkin terulang lagi. Ketika mengingat betapa televisi telah membuat hidup saya jauh dari Allah. Jauh dari mengenal Rasulullah Saw. Sering mengingkari amanah orang tua. Sering terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Astaghfirullah…Jangan engkau jadikan generasi setelah kami ini mengulang kesalahan kami yang lalu. Jangan biarkan anak-anak kami lebih mencintai dunia daripada berjihad dijalanmu. Jauhkan mereka dari ke-jahiliah-an. Tanamkan ke dalam hatinya untuk mencintai ilmu-Mu. Amin, Allahumma Amin…
No comments:
Post a Comment