Kroscek, akh…kroscek…

Suatu ketika ana (saya -red) Sholat Jum’at di masjid sebuah kampus di Surabaya. Seperti biasa, ketika selesai berwudhu kalau akan masuk pintu masjid selalu melewati area tempat selebaran-selebaran dakwah ditaruh, dan ana pun mengambil beberapa lembar selebaran dari penerbit yang berbeda. Lalu ana segera mencari shaff yang kosong, lalu sholat Tahiyyatul Masjid. Sambil menunggu adzan dan khotib naik mimbar, ana baca beberapa selebaran tadi.

Sebagian selebaran terlihat jelas penerbitnya dari jamaah-jamaah yang berbeda-beda. Ana bangga dengan mereka yang eksis dengan dakwah di jalannya masing-masing. Namun aku cukup kaget membaca salah satu selebaran itu yang isinya giat memaki-maki kelompok umat Islam yang lain. Saat itu yang jadi bahan makian adalah umat Islam yang sedang konflik di Palestina. Memang waktu itu sedang panas-panasnya konflik antara kubu HAMAS dan FATAH perihal menghadapi penjajah Israel yang sedang ‘menginjak-injak’ Masjidil Aqsha. Dalam selebaran itu betapa banyak makian terhadap pihak umat Islam HAMAS maupun FATAH. Kata-kata yang digunakan sangat kasar, bahkan sampai menghukumi mereka berdua ‘murtad’.

Di waktu yang lain, ketika lagi gencar-gencarnya masyarakat berbicara tentang pemilu dan pilgub, di masjid kampus mulai banyak bulletin jum’at yang menyudutkan umat Islam yang berdakwah melalui partai. Bahkan tidak segan-segan menghukumi kufur mereka yang berpartai karena berhukum pada hukum buatan selain Allah. Memang betul seperti itu karena memang begitu seharusnya akidah kita. Namun sudahkah penuduh-penuduh kufur bagi aktivis dakwah dengan berpartai ini mengkroscek, mengklarifikasi para objek yang dituduh? Betulkah mereka beranggapan bahwa hukum buatan manusia (demokrasi –red) benar-benar lebih baik dari hukum Allah? Jangan-jangan mereka sedang memperjuangkan hukum Allah di tengah masyarakat yang sedang berhukum dengan hukum toghut. Kroscek, akh…kroscek…

Menghukumi dan menuduh tanpa ilmu, tanpa kroscek dahulu dan tanpa etika berbicara sepertinya sedang marak akhir-akhir ini. Membicarakan orang lain tanpa kroscek dahulu seperti orang yang suka ngobrolin berita infotainment. Belum jelas kabarnya tapi sudah berani ‘nyebar brosur’. Bisa malah jadi fitnah.

No comments: