Kita memang diperintah untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal kita didunia dan di akhirat. Namun menuntut ilmu pun kita dituntut untuk pandai dan berhati-hati. Kaidah terpenting kita berparameter pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebanyak apapun kajian yang pernah kita ikuti, sebanyak apapun buku yang kita habisi, kalo kita lupa bahwa kaidah dan rambu-rambu kita mempelajari itu adalah al-Qur’an dan As-Sunnah maka kemungkinan kita terjerumus dalam kesesatan lebih besar.
Di negeri ini menulis buku bertopik religius bisa dikatakan bebas. Selain dampak positifnya ada, tapi dampak buruknya adalah banyaknya peredaran buku-buku yang memiliki muatan penyimpangan. Di masyarakat yang minim akan ilmu ini, ketika ingin belajar Islam seringkali menuju rujukan yang salah. Ingin bisa giat berzikir, cari buku tentang zikir, ternyata yang beredar di pasaran banyak juga buku-buku yang menyarankan zikir-zikir yang tidak punya dalil. Ada yang ingin belajar mengimani Alam Ghaib, yang beredar dimana-mana buku yang ditulis oleh paranormal dan sejenisnya. Dan banyak lagi contoh lainnya, bahkan sampai pada buku-buku penyimpangan akidah pun bisa mudah kita temui.
Ya memang seharusnya bisa berhati-hati. Karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah ada sejak jaman Rasulullah Saw. Selalu ada saja pengikutnya. Anda bisa bayangkan ketika itu jaman ketika Al-Qur’an baru aja diturunkan. As-Sunnah masih ‘hangat’ lahir dari perilaku Rasulullah Saw. Tapi tetap saja ada penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak ikhlas karena Allah Ta’ala, dan tidak memahami Kitabullah dan Sunnah Nabi Saw. Apalagi saat ini ?! Ketika di negeri ini cari rujukan sulit, ulama sangat minimal, yang minimal itu pun tersebar di berbagai kelompok-kelompok. Akhirnya masalah keilmuan umat Islam di Indonesia banyak yang di ambil alih oleh ‘ustadz-ustadz’ bersurban yang dirumahnya punya simpanan keris, paranormal, orang pinter dan lain sebagainya.
Kebebasan para penulis dan penerbit untuk mengedarkan buku-bukunya sekarang ini akhirnya memberikan rongga bagi orang-orang yang bukan AHLINYA atau orang yang tidak ber-spesialisasi berani menulis ilmu-ilmu agama yang seharusnya bukan bagiannya. Akhirnya banyak kita temui ada sarjana nuklir, tidak pernah punya pengakuan secara keilmuan akidah berani menulis pemikirannya tentang akidah Islam. Hasilnya ? Kemungkinan besarnya akan terjadi banyak kesalahan-kesalahan. Masalahnya hanya satu…ingat kaidah ini :
“Siapapun yang ingin mempelajari suatu ilmu, merujuklah pada ahlinya”.
Karena kalo anda sekolah kedokteran tidak akan pernah jadi dokter yang baik jika berguru kepada seorang Arsitek. Bener nggak, coy?! (kriuk…kriuk…-red)
Contoh Kasus Penyimpangan
Suatu hari saya berkenalan dengan seseorang. Waktu itu saya sedang berjualan buku di sebuah bazaar kecil-kecilan. Sebut saja namanya A. Seperti biasa, saya sangat menyukai obrolan mengenai buku. Saya sering bercerita tentang buku-buku yang saya jual, yang kebetulan dulu pernah punya untuk saya baca sendiri. Agak lama kami bicara tentang buku-buku Islami yang bagus topiknya. Lalu kebetulan saya membicarakan tentang banyaknya beredar buku-buku Islam yang pemahamannya menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Waktu itu saya menyebut salah satu judul buku ‘menyimpang’ yang laris manis seperti kacang sukro, yaitu buku karangan Agus Mustofa – “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”.
Waktu itu si A kaget sambil ngomong,”Lho! Iya to?”. Dia gak nyangka kalo buku itu ternyata masuk dalam kategori menyimpang, padahal dia baru aja mau cerita kalo buku itu bagus karena dia udah baca. Weleh..weleh...saya katakan bahwa saya juga pernah baca. Tapi ternyata dibalik keahliannya menulis, gaya bahasanya, kutipan-kutipan ayat-ayat Qur’an-nya banyak yang asal ‘comot’ lalu asal ‘tempel’.
Btw, saat ini betapa banyak faham Islam yang menyimpang di negeri ini?! Mulai sholat bilingual, pluralisme, liberalisme, ahmadiyah, LDII/Lemkari/Islam Jamaah, sampe yang ngaku Jibril, Imam Mahdi, dan Nabi seperti Aliran Eden dan Al-Qiyadah. Semua subur, bok, di negeri ini! Bahkan sampai berakar dalam sekali. Mungkin kalo ada yang bikin Sekte Islam Penyembah Kucing, juga bakal banyak pengikutnya....yah inilah Indonesia...
Kalo tentang buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” itu memang udah lama jadi kontroversi. Banyak sekali kajian-kajian Islam yang membahas penyimpangan buku yang satu ini. Disamping memang begitu marak di negeri ini anggapan bahwa setiap orang bebas menafsiri Al-Qur’an tanpa ilmu. Penafsiran yang ngawur ala Barat, ala orang Yahudi dan Nasrani. Antum semua pasti sering membaca dalam Al-Qur’an. Betapa Allah berulang-ulang menyebutkan bahwa akhirat itu (atas seijin Allah Ta’ala) adalah kekal, surga kekal, neraka kekal. Bahkan firqoh-firqoh (aliran Islam sempalan) yang sudah ada sejak jaman Nabi dan tabi’in dahulu, sesesat apapun mereka, mereka masih meyakini bahwa akhirat itu kekal. Lha ini ada orang tanpa ilmu mengatakan akhirat tidak kekal. Sebenarnya konyol, kan? TAPI KOK BISA LARIS YA?!
Penyimpangan pemikiran yang dihasilkan penulis buku itu, Agus Mustofa, dinilai cukup fatal oleh para ulama. Penyimpangannya sangat prinsip, yaitu penyimpangan akidah, iman kepada hari akhir, yang dalam hal ini setiap perbedaan tidak dapat ditolerir. Seluruh umat Islam sejak jaman Rasulullah Saw, para sahabat tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama besar, ulama 4 mahzab, semua sepakat bahwa akhirat itu kekal.
Kami memutuskan mengangkat masalah ini setelah kami tahu bahwa Agus Mustofa telah sering dikontak langsung, didakwahi secara baik-baik oleh beberapa Ustadz untuk meralat pemikiran dan kata-katanya. Namun beliau tidak juga berubah, malah menulis semakin banyak buku lain yang juga kontroversi.
Kaidah-Kaidah dan Rambu-Rambu Penting Dalam Memahami Al-Qur’an
Btw, menafsiri Al-Qur’an, firman Allah Ta’ala, memang gak boleh sembarangan. Karena ini bukan Bibel atau Taurat jaman sekarang yang bebas digunting, ditafsiri sembarangan dan diubah-ubah seenak udel umat Kristen dan Yahudi. Kalo menafsiri Al-Qur’an itu harus diserahkan kepada AHLINYA. Siapa ? Ya ulama-ulama tafsir yang diakui. Contoh paling mudah, Ibnu Katsir.
Berikut ini adalah kutipan dari materi yang kami dapat dari sebuah Dauroh Fahmil Qur’an. Ust. Muzhaffar, MA (PUSDA-Sby) meringkas dari berbagai sumber yang dipercaya. Yang dikutip ini hanya intisarinya saja. Selengkapnya antum bisa email ke kami (redaksi), maka kami akan kirim soft copy-nya.
Kaidah-kaidah dan rambu-rambu dalam memahami Al-Qur’an sangatlah penting karena sedemikian melemahnya pemahaman masyarakat muslim saat ini tentang Al-Qur’an, bahkan dalam hal-hal yang sangat prinsipil. Diantara kaidah-kaidah dan rambu-rambu tersebut adalah :
· mengimani Al-Qur’an dengan benar;
· berbekal kemampuan Bahasa Arab yang memadai;
· berbekal penguasaan dasar-dasar ilmu tafsir;
· memadukan metode riwayah dan dirayah;
· memahami Al-Qur’an melalui Al-Qur’an;
· memahami Al-Qur’an melalui hadits shahih;
· memahami Al-Qur’an melalui pemahaman as-salafush shalih;
· memahami Al-Qur’an dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir yang diakui;
· memperhatikan dan mengikuti tahapan-tahapan berinteraksi dengan Al-Qur’an;
· menjadikan Al-Qur’an sebagai imam bukan makmum;
· memiliki pandangan atau persepsi global dan menyeluruh tentang Al-Qur’an;
· memadukan antara ilmu, amal dan dakwah;
· membebaskan pemahaman terhadap Al-Qur’an dari batasan-batasan zaman dan tempat;
· melakukan perenungan dan pengkajian berulang-ulang terhadap ayat-ayat Al-Qur’an;
· menyadari dan merasa bahwa Al-Qur’an ditujukan kepada pembaca;
· berada dalam iklim dan nuansa Al-Qur’an;
· memahami ”kepribadian” dan ”karakter” khusus setiap surat Al-Qur’an;
· dan memanfaatkan berbagai ilmu pengetahuan modern.
Selain itu jika ingin lebih lengkap lagi ada sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Yusuf Al-Qardhawy berjudul “Berinteraksi Dengan Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Wallahua’alam
No comments:
Post a Comment