
Bismillaahirrohmaanirrohiim...
Ada beberapa pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Ketika kita melihat ratusan anak-anak Palestina dibunuh oleh tentara-tentara Israel dengan sadis di Gaza, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita melihat jasad anak-anak tersebut hancur, hangus, ususnya terburai, atau tanpa kepala, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar ratusan umat Islam di negeri ini dimurtadkan oleh gerakan kristenisasi, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mengetahui berkali-kali Rasulullah Saw kita tercinta dihina dan direndahkan oleh orang-orang kafir, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar Al-Qur’an – sebagai firman Allah Ta’ala- dilecehkan dengan menuduh Al-Qur’an adalah biang kerusakan dimuka bumi (teror-red), apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita tahu Si Ulil (seorang oknum JIL-red) menyebarkan faham liberal-nya meracuni pemikiran umat Islam di negeri ini, apa yang bisa kita lakukan? Dia seenaknya mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits juga perlu dikritik jika tidak rasional, sekali lagi, apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa kita lakukan terhadap musuh-musuh Islam itu? Apa yang bisa kita lakukan untuk membela agama ini?
Jawabannya,....Menulis, menulis dan menulis!
Mungkin saja kita bisa mengirimkan bantuan dana dan obat-obatan ke Gaza, mungkin kita juga bisa mengirimkan bantuan uang untuk menyantuni warga miskin agar tidak terjebak kristenisasi, mungkin kita juga bisa melakukan protes untuk mendesak penguasa agar memberikan solusi. Tapi seberapa besar kekuatan aksi yang bisa kita kontribusikan? Seberapa besar efeknya bagi umat Islam secara keseluruhan? Apakah bisa itu semua memberikan benteng-benteng pertahanan akidah kepada umat Islam?
Dengan menulis, kita bisa melakukan reaksi counter (menentang-red) terhadap pemikiran atau hegemoni musuh. Dengan menulis kita juga bisa melakukan pembentengan terhadap akidah. Dengan menulis kita juga bisa mempengaruhi pemikiran umat Islam untuk ikut bergerak/melakukan aksi nyata dalam membela Islam. Dengan menulis kita juga bisa menggetarkan hati musuh-musuh Allah. Dengan menulis kita juga bisa menyebarkan kebenaran yang haqiqi. Dengan menulis kita juga bisa menggerakkan seluruh umat Islam untuk membantu dengan lebih banyak untuk sasaran-sasaran kristenisasi. Dengan menulis kita bisa meng-edukasi umat Islam. Dan dengan menulis kita bisa menepis pemikiran-pemikiran para orientalis yang suka mengomentari Islam seenak udel-nya.
Kompleksitas urgensi menulis sebagai alat kita untuk berdakwah sudah mencapai puncaknya. Namun seringkali kami sedih mendengar tentang beratnya tangan-tangan umat ini untuk mengangkat pena dan menuliskan sesuatu untuk agama ini. Mereka pikir menulis adalah bakat alami. Mereka juga berdalih dengan bermacam-macam alasan. Yang tak lebih adalah untuk menutupi kemalasannya untuk belajar. Yang lebih parah lagi, jangankan menulis, membuka buku saja alerginya bisa kumat!
Semoga krisis menulis ini tidak berkelanjutan. Semoga di era ini akan lahir para da’i-da’i muda yang pandai menulis. Tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi Sayyid Quthb-Sayyid Quthb muda yang tulisannya mampu menggetarkan musuh-musuh Allah. Atau Imam Nawawi –Imam Nawawi muda yang mampu menulis buku-buku yang terus dipakai rujukan sepanjang sejarah. Amin.
words: aditya abdurrahman
No comments:
Post a Comment