Make A ‘Zine Is Very Easy!

Setelah beberapa kali berdiskusi dengan saudara-saudara di salah satu kampus, saya mendapati beberapa orang yang ingin sekali bisa membuat sebuah media dakwah yang bagus. Namun ketika saya katakan kepada mereka, “Ya sudah, kenapa nggak bikin sendiri aja?”. Jawabannya seragam, “Nah, itu masalahnya,...bla-bla-bla...dst”. Berbagai alasan yang intinya benang merahnya sama, yaitu malas, nggak berani mencoba, nggak ngerti caranya, nggak ada dana, nggak ada yang ngurusi, trus gak tau bagaimana perencanaannya, dan lain sebagainya. Sehingga mereka sendiri menyadari bahwa media dakwah Islam itu langka. Kalaupun ada ya mereka yang memang sudah profesional, itupun bisa dihitung dengan jari. Jarang ada media-media dakwah dalam skup kecil yang mampu istiqomah, mandiri dan bersemangat.
Kalo masalah malas dan rentetan alasan lain dalam membuat media dakwah, itu sudah merupakan hal yang biasa. Semua orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Namun kebanyakan yang berhasil adalah dengan melewatinya dengan penuh percaya diri. Nah, soal percaya diri ini memang selalu jadi masalah. Pernah beberapa kali saya memberikan motivasi dan pelatihan langsung tentang membuat media dakwah, namun hasilnya hampir nihil! Atau mungkin bisa dibilang hampir gagal total! Kenapa ada kata ‘hampir’? iya, karena untungnya masih ada satu-dua orang dari sekian banyak ikhwah yang akhirnya benar-benar merealisasikan media dakwah di organisasinya.
Ok, sekarang mari kita berbincang tentang membuat sebuah media dakwah. Saya lebih suka memakai istilah ‘zine’ untuk menamakan media seperti SA’I ini. Karena mau dibilang ‘magazine’ juga blum pantes. Mau dibilang bulletin atau newsletter tapi kok halamannya lumayan banyak. Ya, mungkin yang paling pas ya ‘zine’.
Dalam membuat zine untuk mempublikasikan tulisan-tulisan sendiri (seperti ini) tidak terlalu rumit yang dilakukan. Bahkan boleh dibilang kalo membuat zine itu sangat-sangat-sangatlah mudah! Nggak perlu banyak orang, bahkan satu orang pun bisa membuat media dakwah yang sederhana. Asal dia mampu meng-cover seluruh aktifitas yang saya sebutkan dibawah ini. Nah, inilah step-by-step bagi anda yang ingin memulai membuat media dakwah sendiri (personal) :
1. Tentukan Namanya
Nama dari media yang nantinya kita buat itu sangat mempengaruhi keberhasilan apakah media tersebut mudah dikenal dan diingat atau tidak. Sebaiknya pemilihan nama dipikirkan dengan matang-matang. Karena kadang nama yang sulit diucapkan menjadi sulit untuk diingat, sehingga kurang menancap di benak pembacanya.
2. Tentukan formatnya
Kita bisa memilih media tersebut berformat seperti apa. Apakah ukuran A4, atau separuhnya (A5), ataukah yang lainnya. Lalu berapa halaman? Dicetak dengan cara apa? Apakah dicetak offset? Full colour atau hitam putih? Atau cuma di fotokopi aja juga tidak masalah. Untuk yang terakhir ini jangan diremehkan, karena cikal-bakal SA’I dulunya hanya dengan dicetak fotokopi saja. Targetnya adalah “terbit!”. Jadi, nggak masalah walau cuma fotokopian.
Yang perlu kita perhatikan dari format media dakwah adalah efisiensi dan kemungkinannya untuk didokumentasikan oleh si pembaca. Saya sebenarnya prihatin melihat di masjid-masjid besar ketika selesai Shalat Jum’at seringkali berserakan bulletin-bulletin dakwah. Bahkan sering diinjak-injak di lokasi sepatu dan sandal. Selain karena kurangnya penghargaan yang dilakukan pembaca setelah mengambil bulletin itu, juga karena kurangnya pembuat bulletin tersebut untuk mengevaluasi apakah format media yang dipakai untuk berdakwah sudah efektif. Saya rasa pembaca akan malas mendokumentasikan/ menyimpan bulletin tersebut jika hanya berupa kertas satu lembaran saja.
3. Tentukan target segmennya
Kita harus tentukan lebih dahulu siapa yang menjadi sasaran pembaca media kita ini. Ini seringkali kelupaan, atau bahkan seringkali tidak diperhatikan. Jika kita memiliki sasaran pembaca adalah orang dewasa, masih perlu dibagi lagi menjadi 2 kategori; yang masih awam tentang Islam dan yang telah memiliki background pengetahuan yang baik tentang Islam (aktifis dakwah misalnya). Tentunya hal itu mempengaruhi bagaimana memilih topik yang diangkat serta cara kita bertutur/ menyampaikan pesan-pesan dakwah didalam media kita. Begitu juga dengan sumber-sumber rujukan yang diambil juga harus yang terpilih untuk sekiranya disukai oleh sasaran pembacanya. Jika sasaran pembacanya remaja, mahasiswa, dan masih awam tentang Islam, maka jangan sampai kita menggunakan bahasa yang terlalu formal, kaku dan topik-topik yaang berat untuk dimengerti mereka. Cara bertuturnya juga jangan terlalu keras, karena itu malah membuat mereka ‘lari’. Tapi dikondisi tersebut, berdakwahlah dengan cara merangkul mereka atau mengajak mereka. Bukan menakut-nakuti mereka.
4. Mulailah menjadi jurnalis independent
Setelah perencanaan awal selesai, mulailah menjadi jurnalis amatir yang berdiri sendiri (karena memang nggak ada yang menggaji kita-red). Mulailah menulis dan mengumpulkan tulisan-tulisan dari berbagai sumber. Dalam kita menulis, kita bisa mengawalinya dengan memilih isu apa yang ingin diangkat. Lalu carilah fenomena apa yang terjadi disekitar kita yang terkait dengan isu tersebut. Lalu carilah sumber yang ahli untuk kita kutip kata-katanya/ tulisannya. Jika memang memungkinkan, kita juga bisa mewawancara sumber melalui media telekomunikasi, email, telepon atau bahkan menemuinya secara langsung.
Buatlah tulisan sebanyak mungkin untuk stok anda. Sehingga sewaktu-waktu diperlukan, tulisan tersebut tinggal diterbitkan saja. Apakah pekerjaan seperti ini perlu team? Iya, jika memungkinkan! Tapi jika dalam team tersebut ada yang bergerak lambat, justru akan menghambat karena akan saling menunggu. Saran saya, lakukan saja sendiri terlebih dulu! Jika anda telah menunjukkan hasil, maka mereka yang memiliki kemauan dan keseriusan akan mendatangi anda sambil mengatakan,”gimana caranya saya bisa bergabung?”.
5. Lay-outing/ Designing
Jangan harap mendapatkan respon yang bagus dengan menerbitkan media tanpa mengemasnya dengan visual yang menarik. Masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat interest dengan visualisasi. Lagipula media yang menggunakan tulisan disertai lay-out/ design yang menarik setidaknya mampu menambah daya ingat bagi pembacanya hingga 30%. 
Tinggalkan microsoft word dalam melakukan Lay-outing! Program itu bukan untuk melay-out media cetak macam bulletin dan majalah. Cobalah untuk mempelajari minimal adalah program Adobe Photoshop atau Corel Draw. Buku pembelajaran kedua program ini tidak mahal. Jika ingin maju, maka beli dan pelajari. Atau mintalah teman kita untuk mengajarinya, itu lebih murah meriah.
Di Indonesia, pernah ada sebuah komunitas anak-anak punk yang mereka sangat aktif dalam membuat media (baca: zine) dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran anarkisme-nya. Mereka tidak pernah merasa terbatas dengan kondisi diri mereka. Bahkan jika mereka tidak punya komputer, mereka membuat zine yang berisi lebih 24 halaman (mirip seperti SA’I zine ini-pen) hanya dengan menggunakan tulisan manual yaitu dengan spidol dan bolpoint. Mereka menggunting-tempel (cut-paste) visual-visual yang mereka ambil dari majalah maupun koran bekas. Hasilnya? Cukup baik, bahkan jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan apa-apa! Zine-zine seperti itu dahulu sangat mudah ditemukan di komunitas punk di Indonesia, dan pembuatnya sangat dihargai disana. Pembacanya, yang juga sesama dalam komunitas, dengan rela mengeluarkan Rp.1000 – 3000 untuk mensupport pembuat zine itu demi mengganti ongkos fotokopinya. Kadang juga mereka saling trade (saling tukar-menukar) zine. Apa saja dilakukan untuk memberikan dukungan.
Btw, afwan kalo terlalu melebar pembahasannya. The next,...
6. Last Correction
Lakukan koreksi dengan teliti pada hasil desain atau lay-out yang dilakukan dengan terlebih dahulu mencetaknya pake printer. Dari situ biasanya akan kita temukan beberapa kesalahan penulisan maupun editing yang terlewatkan. Setelah semua ok, tinggal tentukan dengan cara apa zine ini dicetak/ digandakan? Jika dengan fotokopi maka, buatlah masternya dengan menggunakan printer laser hitam-putih yang baik. Jika dicetak dengan mesin offset, maka konsultasikan file (softcopy) anda ke percetakan. Kelebihan fotokopi adalah kita bisa bebas menentukan jumlah yang sedikit terlebih dulu alias menyesuaikan dananya dengan jumlah eksemplarnya. Kalo di cetak offset, paling tidak minimal harus dicetak 500 eksemplar, dan itu cukup menguras kantong anda. Tapi jangan kuatir, anda juga bisa mencari sponsor untuk itu!

Selamat mencoba!

words: aditya abdurrahman

No comments: