
“Apabila media massa tidak berpihak kepada umat, dan bahkan menjadikan umat sebagai komoditas berita, maka sudah saatnya kita bangkitkan jurnalisme Islam!”
Menulis, akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan dalam diskusi-diskusi dan seminar-seminar. Semakin banyak diantara kita yang mulai tertarik untuk bisa menulis, walau tak banyak yang punya motivasi menulis khusus untuk berdakwah. Yeah,…istilah kerennya, “dakwah bil qolam” (tetep aja pake istilah “qolam” walau kenyataannya nulisnya pake mesin ketik atau komputer”-ed). Terus terang saya tidak ingin membahas soal menulis untuk selain berdakwah di tulisan saya ini. Kita akan fokuskan pembicaraan soal menulis untuk dakwah saja dulu. Mau? Mau? Mau?
Kalo ingin berbicara tentang urgensinya, menulis sebagai media dakwah saat ini sudah mencapai hampir puncak. Hal ini disebabkan semakin banyaknya media-media massa di Indonesia –yang menjadi sumber berita bagi mayoritas umat Islam– sudah jauh dari keberpihakannya kepada kepentingan umat Islam. Masyarakat terlanjur terhegemoni oleh kepentingan-kepentingan orang-orang dibalik media melalui agenda media massa, yang ‘celakanya’ sering ditelan mentah-mentah oleh umat Islam di negeri ini yang mayoritas masih awam. Pemberitaan tentang jihad yang selalu ‘miring’ ke teror, gerakan Islam yang selalu ‘radikal’, poligami yang selalu ‘tak adil’, syariat Islam yang ‘egois’, selalu mewarnai tiap tulisan mereka. Saya bersyukur kalo anda tidak lagi percaya dengan pemberitaan media tentang topik Islam, namun ada ratusan juta penduduk Indonesia yang lain masih belum mengerti dan menganggap pemberitaan itu sebagai ‘fakta’. Mungkin akan cukup jelas bagi anda jika anda mau membaca dua buah buku berjudul “Penyesatan Opini” dan “Demonologi Islam”.
Kita bisa mengingat kembali ketika beberapa bulan lalu geger pemberitaan tentang eksekusi Amrozi dkk di media-media massa (terlepas dari ikhtilaf tentang benar-salahnya ijtihad mereka-red). Tidak sedikit yang mengangkatnya sebagai headline news dalam waktu lebih dari tujuh hari. Bagi para ahli ilmu komunikasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa media massa selalu menunjukkan keberpihakan maupun kontra terhadap opini tertentu. Media selalu memiliki kepentingan, yang itu selalu tertuang pada sudut pandang pemberitaan mereka. Apakah terkesan pro atau sebaliknya. Nah,…dalam kasus ini, Amrozi dkk, coba anda baca dan rasakan setiap pemberitaan dimedia massa. Bagaimana pemilihan kata-katanya, bagaimana pengambilan foto-fotonya, bagaimana sudut pandangnya, dll. Anda akan merasakan bahwa pemberitaan itu mengarahkan kita sebagai pembaca untuk menghakimi Amrozi dkk bersalah, lalu judgement itu menurunkan bagi orang awam untuk menilai bahwa orang Islam yang berdandanan dengan celana congkrang dan berjenggot identik dengan teroris, garis keras, dan segudang persepsi lainnya.
Kita juga bisa melihat koran sekelas nasional itu pernah merangkul komunitas utan kayu yang berbasis liberal sebagai pengisi rubrik rutinnya. Dan dengan itu si Ulil jadi lebih bebas menyesatkan para pembaca. Tidak Cuma itu,...penulis buku nyleneh “Ternyata Akhirat tidak Kekal” berkali-kali mendapat ruang untuk mempromosikan karya-karya ‘aneh’-nya.
Sulit bagi muslim ‘abangan’ di negeri ini untuk mendapatkan pemahaman tentang agamanya dengan benar dari media. Sangat jarang kita menemui jurnalis-jurnalis muslim yang benar-benar memperjuangkan agamanya di negeri ini. Kalopun ada, pasti tak akan ada koran yang mau menerimanya sebagai wartawan. Sehingga memang tidak ada cara lain selain tangan kitalah yang harus kita gerakkan untuk mengambil pena dan kertas, atau hidupkan PC dan mengetikkan sesuatu yang bisa membuat perubahan bagi fenomena ini. Suatu karya tulis yang bisa menjelma menjadi senjata pemusnah massal bagi virus-virus pemikiran sesat para orientalis, untuk memberangus usaha-usaha pemurtadan dan mengembalikan umat ini kepada akidah yang benar dan lurus. Seperti yang selalu menjadi doa seorang ikhwah wartawan yang saya kenal di sebuah media dakwah, dia katakan bahwa setiap kali dia berdoa adalah “Ya Allah berikan saya kemampuan untuk membuat tulisan-tulisan yang mampu menggetarkan hati orang-orang kafir...”.
No comments:
Post a Comment