
Hafizhan Faiq Albani…
Abi memberimu nama ini karena abi ingin kelak dirimu menjadi seorang pemelihara umat Islam ini. Sebagai amanah dari Allah Swt untuk memeliharanya dari berbagai kerusakan akhlak dan akidah. Abi juga selalu berdo’a ketika mengingat kata Faiq dalam namamu, agar kelak dirimu juga menjadi seorang muslim yang unggul. Yang mampu memberikan contoh bagi keluarga, bagi masyarakat, bagi umat, memiliki kemandirian, memiliki prestasi yang luar biasa, memiliki banyak ilmu dan mengamalkannya sebagai bekal diakhirat. Yang kelak memberikan keturunan-keturunan yang unggul pula, sehingga kelak Abi dan Bunda bangga melihatmu di akhirat kelak ketika kita semua berkumpul.
Dulu ketika dirimu masih didalam kandungan, Abi dan Bunda selalu membacakan al-Qur’an didekat perut Bundamu. Abi dulu berharap kamu terbiasa mendengarnya walau masih dalam kandungan. Sehingga kelak ketika kau dilahirkan bisa begitu mencintai al-Qur’an. Dulu sering kali ketika perut Bundamu dibacakan al-Qur’an maupun doa dalam al-Ma’surat, kau lalu bergerak-gerak menendang. Kami begitu senang dan tertawa, seolah itu respon darimu dari dalam perut ibumu. Seolah kau menyukai apa yang Abi baca.
Abi dan Bunda rindu memiliki keluarga yang dekat dengan al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, namun keluarga yang berusaha mengerti dan memahami isinya, serta mengamalkannya. Abi dan Bunda memang bukan orang tua yang pandai membaca al-Qur’an, namun ingin rasanya waktu ini diulang sehingga Abi bisa belajar al-Qur’an dengan sebaik-baiknya sejak kecil. Sampai detik ini tekad itu ingin Abi kejar walau harus seiring dengan bertambah dekatnya maut atau berkurangnya usia ini. Maafkan Abi jika ketika mendidikmu masih jauh dari kesempurnaan. Tapi kami tak pernah menyerah untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kami kelak.
Saat hari-hari mendekati persalinan. Betapa rasa sayang Abi membuncah kepada bundamu. Seringkali Abi berdoa kepada Allah Azza wa Jalla semoga dosa-dosa bunda diampuni dan persalinan kelak diberi pahala jihad fi sabilillah. Tak terlukiskan hati Abi saat itu. Antara rasa kasih sayang, takut, dan bahagia menunggu engkau melihat dunia. Saat itu di bulan Ramadhan. Bulan ini begitu penuh dengan berkah. Allah melimpahkan seluruh nikmatnya bagi umat Islam dimuka bumi ini. Abi dan Bunda merasakan salah satu berkah yang sampai kepada kami adalah kelahiranmu dengan selamat.
Hari itu, sejak pagi kami sudah datang di rumah sakit bersalin untuk memeriksa kandungan Bundamu. Sekaligus menjalani proses induksi (meminum obat perangsang kontraksi). Karena kau mundur 4 hari dari jadwalmu dilahirkan. Kalau kau tahu betapa sakitnya Bundamu menjalani proses melahirkan dengan di induksi, mungkin tak akan ada satu kata dan perbuatanmu yang tega menyakiti hati ibundamu. Sejak pukul 9 pagi hingga pukul 15.00 lebih, bundamu kesakitan hampir setiap 5 menit. Dan itu semakin lama semakin cepat jarak waktunya hingga mungkin tiap 15 detik. Seluruh tubuhnya penuh peluh. Bundamu selalu berzikir kepada Allah ketika sakitnya mulai datang, “Astaghfirullah! Astaghfirullah! Sakit sekali, mas!..”. Dan Abi hanya bisa menjawab,”Iya, iya, istighfar ya..” Saat itu hampir tak pernah luput hati dan lisan ini mengingat kebesaran Allah Azza wa Jalla. Berdo’a agar semuanya berjalan lancar.
Kira-kira jam 15.45 akhirnya dirimu lahir, walau harus dibantu alat khusus semacam vacum untuk menarikmu keluar dari rahim bundamu, karena saat detik-detik terakhir bundamu semestinya harus mengejan, malah kehabisan tenaga dan badannya lemas. Subhanallah wal hamdulillah, akhirnya kau selamat dan bundamu pun selamat. Saat aku melihatmu keluar ruang bersalin, kau begitu gemuk dan kulitmu putih dan belum dimandikan. Aku bersujud syukur dihadapan Allah Swt. Tidak sadar air mataku sudah meleleh membasahi pipi. Aku tanya tentang keadaan bundamu, kata suster baik-baik saja. Namun belum boleh ditemui sampai selesai proses menutup dengan jahitan. Lalu kau ditimbang dan Abi mengadzani telingamu. Sebelumnya kamu menangis keras sekali, tapi anehnya, ketika abi bisikkan adzan ditelingamu, langsung kau terdiam seolah mendengarkan. Seolah-olah kau teringat bahwa kalimat tauhid ‘Laa ilaha illallah’ pernah diajarkan oleh Sang Khaliq kepadamu ketika kau dimintai persaksian ketika masih dalam perut ibundamu.
Setelah itu kau dimandikan dan dirawat oleh suster. Aku masuk melihat bundamu. Ketika bundamu melihatku, langsung saja dirinya menangis tersedu-sedu. Aku menangis memeluknya sambil mengucapkan hamdalah yang sudah tak terhitung jumlahnya. Aku mencium pipinya yang tadinya aku takut berpikir tak bisa melakukannya lagi setelah melahirkanmu. Aku jadi teringat betapa besar jasa ibuku melahirkanku. Sampai katanya nyawa ibuku hampir saja berakhir karena mengalami pendarahan. Benar-benar, semua ibu yang solehah, yang melahirkan anak-anaknya dengan ikhlas, layak diberi pahala berjihad. Sangat layak…
Hafizh, Abi tidak pernah tahu apakah nanti ketika kau membaca tulisan ini kami masih bersamamu. Seandainya kami sudah tidak lagi bersamamu secara fisik, minimal dengan tulisan ini kami bisa bersamamu didalam hatimu. Untuk menambahkan kecintaanmu kepada Allah Ta’ala. Untuk bekal ketaqwaan yang tak boleh surut ketika mengingat amanah ini. Do’akan kami disetiap waktu kau bersujud dihadapan Allah. Sampai kita berkumpul kelak diakhirat, menangis tersedu-sedu bersama karena bahagia di surga Allah.
Abimu tercinta,
Aditya Abdurrahman Yani
Abi memberimu nama ini karena abi ingin kelak dirimu menjadi seorang pemelihara umat Islam ini. Sebagai amanah dari Allah Swt untuk memeliharanya dari berbagai kerusakan akhlak dan akidah. Abi juga selalu berdo’a ketika mengingat kata Faiq dalam namamu, agar kelak dirimu juga menjadi seorang muslim yang unggul. Yang mampu memberikan contoh bagi keluarga, bagi masyarakat, bagi umat, memiliki kemandirian, memiliki prestasi yang luar biasa, memiliki banyak ilmu dan mengamalkannya sebagai bekal diakhirat. Yang kelak memberikan keturunan-keturunan yang unggul pula, sehingga kelak Abi dan Bunda bangga melihatmu di akhirat kelak ketika kita semua berkumpul.
Dulu ketika dirimu masih didalam kandungan, Abi dan Bunda selalu membacakan al-Qur’an didekat perut Bundamu. Abi dulu berharap kamu terbiasa mendengarnya walau masih dalam kandungan. Sehingga kelak ketika kau dilahirkan bisa begitu mencintai al-Qur’an. Dulu sering kali ketika perut Bundamu dibacakan al-Qur’an maupun doa dalam al-Ma’surat, kau lalu bergerak-gerak menendang. Kami begitu senang dan tertawa, seolah itu respon darimu dari dalam perut ibumu. Seolah kau menyukai apa yang Abi baca.
Abi dan Bunda rindu memiliki keluarga yang dekat dengan al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, namun keluarga yang berusaha mengerti dan memahami isinya, serta mengamalkannya. Abi dan Bunda memang bukan orang tua yang pandai membaca al-Qur’an, namun ingin rasanya waktu ini diulang sehingga Abi bisa belajar al-Qur’an dengan sebaik-baiknya sejak kecil. Sampai detik ini tekad itu ingin Abi kejar walau harus seiring dengan bertambah dekatnya maut atau berkurangnya usia ini. Maafkan Abi jika ketika mendidikmu masih jauh dari kesempurnaan. Tapi kami tak pernah menyerah untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kami kelak.
Saat hari-hari mendekati persalinan. Betapa rasa sayang Abi membuncah kepada bundamu. Seringkali Abi berdoa kepada Allah Azza wa Jalla semoga dosa-dosa bunda diampuni dan persalinan kelak diberi pahala jihad fi sabilillah. Tak terlukiskan hati Abi saat itu. Antara rasa kasih sayang, takut, dan bahagia menunggu engkau melihat dunia. Saat itu di bulan Ramadhan. Bulan ini begitu penuh dengan berkah. Allah melimpahkan seluruh nikmatnya bagi umat Islam dimuka bumi ini. Abi dan Bunda merasakan salah satu berkah yang sampai kepada kami adalah kelahiranmu dengan selamat.
Hari itu, sejak pagi kami sudah datang di rumah sakit bersalin untuk memeriksa kandungan Bundamu. Sekaligus menjalani proses induksi (meminum obat perangsang kontraksi). Karena kau mundur 4 hari dari jadwalmu dilahirkan. Kalau kau tahu betapa sakitnya Bundamu menjalani proses melahirkan dengan di induksi, mungkin tak akan ada satu kata dan perbuatanmu yang tega menyakiti hati ibundamu. Sejak pukul 9 pagi hingga pukul 15.00 lebih, bundamu kesakitan hampir setiap 5 menit. Dan itu semakin lama semakin cepat jarak waktunya hingga mungkin tiap 15 detik. Seluruh tubuhnya penuh peluh. Bundamu selalu berzikir kepada Allah ketika sakitnya mulai datang, “Astaghfirullah! Astaghfirullah! Sakit sekali, mas!..”. Dan Abi hanya bisa menjawab,”Iya, iya, istighfar ya..” Saat itu hampir tak pernah luput hati dan lisan ini mengingat kebesaran Allah Azza wa Jalla. Berdo’a agar semuanya berjalan lancar.
Kira-kira jam 15.45 akhirnya dirimu lahir, walau harus dibantu alat khusus semacam vacum untuk menarikmu keluar dari rahim bundamu, karena saat detik-detik terakhir bundamu semestinya harus mengejan, malah kehabisan tenaga dan badannya lemas. Subhanallah wal hamdulillah, akhirnya kau selamat dan bundamu pun selamat. Saat aku melihatmu keluar ruang bersalin, kau begitu gemuk dan kulitmu putih dan belum dimandikan. Aku bersujud syukur dihadapan Allah Swt. Tidak sadar air mataku sudah meleleh membasahi pipi. Aku tanya tentang keadaan bundamu, kata suster baik-baik saja. Namun belum boleh ditemui sampai selesai proses menutup dengan jahitan. Lalu kau ditimbang dan Abi mengadzani telingamu. Sebelumnya kamu menangis keras sekali, tapi anehnya, ketika abi bisikkan adzan ditelingamu, langsung kau terdiam seolah mendengarkan. Seolah-olah kau teringat bahwa kalimat tauhid ‘Laa ilaha illallah’ pernah diajarkan oleh Sang Khaliq kepadamu ketika kau dimintai persaksian ketika masih dalam perut ibundamu.
Setelah itu kau dimandikan dan dirawat oleh suster. Aku masuk melihat bundamu. Ketika bundamu melihatku, langsung saja dirinya menangis tersedu-sedu. Aku menangis memeluknya sambil mengucapkan hamdalah yang sudah tak terhitung jumlahnya. Aku mencium pipinya yang tadinya aku takut berpikir tak bisa melakukannya lagi setelah melahirkanmu. Aku jadi teringat betapa besar jasa ibuku melahirkanku. Sampai katanya nyawa ibuku hampir saja berakhir karena mengalami pendarahan. Benar-benar, semua ibu yang solehah, yang melahirkan anak-anaknya dengan ikhlas, layak diberi pahala berjihad. Sangat layak…
Hafizh, Abi tidak pernah tahu apakah nanti ketika kau membaca tulisan ini kami masih bersamamu. Seandainya kami sudah tidak lagi bersamamu secara fisik, minimal dengan tulisan ini kami bisa bersamamu didalam hatimu. Untuk menambahkan kecintaanmu kepada Allah Ta’ala. Untuk bekal ketaqwaan yang tak boleh surut ketika mengingat amanah ini. Do’akan kami disetiap waktu kau bersujud dihadapan Allah. Sampai kita berkumpul kelak diakhirat, menangis tersedu-sedu bersama karena bahagia di surga Allah.
Abimu tercinta,
Aditya Abdurrahman Yani
3 comments:
Bunda ....
Cucuran keringat dan darah kau keluarkan ...
Rasa sakit tak terhingga kau rasakan ...
Tenagamu hampir habis tatkala kau lahirkan aku ...
Bunda ...
Rasa sakitmu ...
Jerih payahmu ...
Duka laramu ...
Selama mengasuhku ...
Pasti tak akan bisa kubalas ...
Bahkan dengan nyawaku sekalipun ..
Bunda ...
Ijinkan anakmu berdo'a ...
Ya Alloh ...
Ampuni segala dosa ayah ibuku ...
ma'afkan segala kesalahannya Ya Robb ...
Jadikan setiap sakit yang beliau derita ...
Setiap tetesan keringat yang mengalir ...
Setiap air mata yang menetes ...
menjadi penyebab turunnya maghfiroh Mu ....
menjadi pelengkap amalnya ...
menjadi tameng dirinya dari api neraka ...
menjadi kendaraan yang memacunya ke jannatun naim.
Ya Robb ...
Setiap amal yang kulakukan .. sekecil apapun itu ...
mohon catat sebagai bagian dari kebajikannya ...
karena dialah yang mengajariku ...
membimbingku ...
tanpa kenal lelah ...
tanpa kenal menyerah ...
Amin Ya Robbal alamin.
Salam,
Sunarno
assalamu'alaikum. wr. wb.
alhamdulillah, kita bisa jumpa lagi walau di dlm dunia yg tidak sebenarnya ini.
maaf, saya terusik dari kata2 antum yang mengatakan anak "lahir mundur dari jadwal". apa benar kelahiran anak itu sudah ditentukan oleh dokter/bidan. apakah tidak sedikit bayi yang lahir lebih dari 10 bulan, bahkan 13 bulan, seperti didaerah/pedesaan. namun kelahiran mereka normal dan sampai masa remaja dan dewasa tidak ada kekurangan. untuk ini saya berharap kita semua sebagai muslim hanya menggantungkan kepada ALLAH segala yang terjadi di dunia ini dan hanya mengharap ridhoNYA belaka. dan tugas kita terhadap anak2 kita adalh mendidik dan saling musabaqah untuk menjadikan anak kita yang terbaik menurut ukuran Allah semata. wallahu a'lam bisshawab. demikian semoga yg menulis dan membaca selalu mendapat bimbingan dari ALLAH SWT. amin
Terimakasih akh Jack
Betul kata antum...semestinya ana tuliskan "mundur 4 hari dari prediksi dokter". memang ana sebelumnya tidak menjelaskan bahwa dokter pun cuma manusia yang tidak tahu kehendak Allah Ta'ala tentang waktu kelahiran.
Jazakumullah khairan katsiran
-Aditya Abdurrahman-
Post a Comment