SA'I adalah nama sebuah komunitas, perkumpulan, gerakan, kursus gratis, taman bacaan dan zine yang fokus bergerak dibidang media independen, jurnalistik, dan pemikiran Islam. SA'I didirikan sejak tahun 2006 awalnya berupa organisasi yang memfasilitasi training motivasi khusus remaja muslim, kemudian berkembang menjadi pusat diskusi dan kursus mingguan gratis untuk remaja agar lebih mengenal cara membuat media dakwah independen, sekaligus praktek dan manajemennya.
Dra. Sirikit Syah, MA : Media Idealis Hampir Tak ada Lagi
Drama penggrebekan Densus 88 di Temanggung, Jawa Tengah, yang memakan waktu 18 jam dan penggrebekan di Jati Asih-Bekasi yang diliput berbagai media, menjadi tontonan gratis sebagian besar orang. Seakan-akan sebuah tayangan yang layak ditonton, atau perlu dipertontonkan. Peliputan tersebut lantas menyisakan banyak pertanyaan penting bagi mantan Ketua Presidium Dewan Kesenian Surabaya, Dra. Sirikit Syah, MA (49).
Perempuan yang pernah mengkampanyekan jurnalisme perdamaian (peace journalism) melalui lembaganya Lembaga Konsumen Media (LKM) --yang merupakan organisasi pemantau media pertama di Indonesia— seolah kecewa terhadap liputan berbagai media (khususnya TV) yang dirasakan lebih cenderung menjadi corong polisi dan kurang independen. “Seperti suting sinetron,” ujar alumnus Westminster University, London (2002) ini. Inilah petikan wawancaranya dengan www.hidayatullah.com.
Urgensi Dakwah Bil Qolam!

“Apabila media massa tidak berpihak kepada umat, dan bahkan menjadikan umat sebagai komoditas berita, maka sudah saatnya kita bangkitkan jurnalisme Islam!”
Menulis, akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan dalam diskusi-diskusi dan seminar-seminar. Semakin banyak diantara kita yang mulai tertarik untuk bisa menulis, walau tak banyak yang punya motivasi menulis khusus untuk berdakwah. Yeah,…istilah kerennya, “dakwah bil qolam” (tetep aja pake istilah “qolam” walau kenyataannya nulisnya pake mesin ketik atau komputer”-ed). Terus terang saya tidak ingin membahas soal menulis untuk selain berdakwah di tulisan saya ini. Kita akan fokuskan pembicaraan soal menulis untuk dakwah saja dulu. Mau? Mau? Mau?
Kalo ingin berbicara tentang urgensinya, menulis sebagai media dakwah saat ini sudah mencapai hampir puncak. Hal ini disebabkan semakin banyaknya media-media massa di Indonesia –yang menjadi sumber berita bagi mayoritas umat Islam– sudah jauh dari keberpihakannya kepada kepentingan umat Islam. Masyarakat terlanjur terhegemoni oleh kepentingan-kepentingan orang-orang dibalik media melalui agenda media massa, yang ‘celakanya’ sering ditelan mentah-mentah oleh umat Islam di negeri ini yang mayoritas masih awam. Pemberitaan tentang jihad yang selalu ‘miring’ ke teror, gerakan Islam yang selalu ‘radikal’, poligami yang selalu ‘tak adil’, syariat Islam yang ‘egois’, selalu mewarnai tiap tulisan mereka. Saya bersyukur kalo anda tidak lagi percaya dengan pemberitaan media tentang topik Islam, namun ada ratusan juta penduduk Indonesia yang lain masih belum mengerti dan menganggap pemberitaan itu sebagai ‘fakta’. Mungkin akan cukup jelas bagi anda jika anda mau membaca dua buah buku berjudul “Penyesatan Opini” dan “Demonologi Islam”.
Kita bisa mengingat kembali ketika beberapa bulan lalu geger pemberitaan tentang eksekusi Amrozi dkk di media-media massa (terlepas dari ikhtilaf tentang benar-salahnya ijtihad mereka-red). Tidak sedikit yang mengangkatnya sebagai headline news dalam waktu lebih dari tujuh hari. Bagi para ahli ilmu komunikasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa media massa selalu menunjukkan keberpihakan maupun kontra terhadap opini tertentu. Media selalu memiliki kepentingan, yang itu selalu tertuang pada sudut pandang pemberitaan mereka. Apakah terkesan pro atau sebaliknya. Nah,…dalam kasus ini, Amrozi dkk, coba anda baca dan rasakan setiap pemberitaan dimedia massa. Bagaimana pemilihan kata-katanya, bagaimana pengambilan foto-fotonya, bagaimana sudut pandangnya, dll. Anda akan merasakan bahwa pemberitaan itu mengarahkan kita sebagai pembaca untuk menghakimi Amrozi dkk bersalah, lalu judgement itu menurunkan bagi orang awam untuk menilai bahwa orang Islam yang berdandanan dengan celana congkrang dan berjenggot identik dengan teroris, garis keras, dan segudang persepsi lainnya.
Kita juga bisa melihat koran sekelas nasional itu pernah merangkul komunitas utan kayu yang berbasis liberal sebagai pengisi rubrik rutinnya. Dan dengan itu si Ulil jadi lebih bebas menyesatkan para pembaca. Tidak Cuma itu,...penulis buku nyleneh “Ternyata Akhirat tidak Kekal” berkali-kali mendapat ruang untuk mempromosikan karya-karya ‘aneh’-nya.
Sulit bagi muslim ‘abangan’ di negeri ini untuk mendapatkan pemahaman tentang agamanya dengan benar dari media. Sangat jarang kita menemui jurnalis-jurnalis muslim yang benar-benar memperjuangkan agamanya di negeri ini. Kalopun ada, pasti tak akan ada koran yang mau menerimanya sebagai wartawan. Sehingga memang tidak ada cara lain selain tangan kitalah yang harus kita gerakkan untuk mengambil pena dan kertas, atau hidupkan PC dan mengetikkan sesuatu yang bisa membuat perubahan bagi fenomena ini. Suatu karya tulis yang bisa menjelma menjadi senjata pemusnah massal bagi virus-virus pemikiran sesat para orientalis, untuk memberangus usaha-usaha pemurtadan dan mengembalikan umat ini kepada akidah yang benar dan lurus. Seperti yang selalu menjadi doa seorang ikhwah wartawan yang saya kenal di sebuah media dakwah, dia katakan bahwa setiap kali dia berdoa adalah “Ya Allah berikan saya kemampuan untuk membuat tulisan-tulisan yang mampu menggetarkan hati orang-orang kafir...”.
Make A ‘Zine Is Very Easy!
Kalo masalah malas dan rentetan alasan lain dalam membuat media dakwah, itu sudah merupakan hal yang biasa. Semua orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Namun kebanyakan yang berhasil adalah dengan melewatinya dengan penuh percaya diri. Nah, soal percaya diri ini memang selalu jadi masalah. Pernah beberapa kali saya memberikan motivasi dan pelatihan langsung tentang membuat media dakwah, namun hasilnya hampir nihil! Atau mungkin bisa dibilang hampir gagal total! Kenapa ada kata ‘hampir’? iya, karena untungnya masih ada satu-dua orang dari sekian banyak ikhwah yang akhirnya benar-benar merealisasikan media dakwah di organisasinya.
Ok, sekarang mari kita berbincang tentang membuat sebuah media dakwah. Saya lebih suka memakai istilah ‘zine’ untuk menamakan media seperti SA’I ini. Karena mau dibilang ‘magazine’ juga blum pantes. Mau dibilang bulletin atau newsletter tapi kok halamannya lumayan banyak. Ya, mungkin yang paling pas ya ‘zine’.
Dalam membuat zine untuk mempublikasikan tulisan-tulisan sendiri (seperti ini) tidak terlalu rumit yang dilakukan. Bahkan boleh dibilang kalo membuat zine itu sangat-sangat-sangatlah mudah! Nggak perlu banyak orang, bahkan satu orang pun bisa membuat media dakwah yang sederhana. Asal dia mampu meng-cover seluruh aktifitas yang saya sebutkan dibawah ini. Nah, inilah step-by-step bagi anda yang ingin memulai membuat media dakwah sendiri (personal) :
1. Tentukan Namanya
Nama dari media yang nantinya kita buat itu sangat mempengaruhi keberhasilan apakah media tersebut mudah dikenal dan diingat atau tidak. Sebaiknya pemilihan nama dipikirkan dengan matang-matang. Karena kadang nama yang sulit diucapkan menjadi sulit untuk diingat, sehingga kurang menancap di benak pembacanya.
2. Tentukan formatnya
Kita bisa memilih media tersebut berformat seperti apa. Apakah ukuran A4, atau separuhnya (A5), ataukah yang lainnya. Lalu berapa halaman? Dicetak dengan cara apa? Apakah dicetak offset? Full colour atau hitam putih? Atau cuma di fotokopi aja juga tidak masalah. Untuk yang terakhir ini jangan diremehkan, karena cikal-bakal SA’I dulunya hanya dengan dicetak fotokopi saja. Targetnya adalah “terbit!”. Jadi, nggak masalah walau cuma fotokopian.
Yang perlu kita perhatikan dari format media dakwah adalah efisiensi dan kemungkinannya untuk didokumentasikan oleh si pembaca. Saya sebenarnya prihatin melihat di masjid-masjid besar ketika selesai Shalat Jum’at seringkali berserakan bulletin-bulletin dakwah. Bahkan sering diinjak-injak di lokasi sepatu dan sandal. Selain karena kurangnya penghargaan yang dilakukan pembaca setelah mengambil bulletin itu, juga karena kurangnya pembuat bulletin tersebut untuk mengevaluasi apakah format media yang dipakai untuk berdakwah sudah efektif. Saya rasa pembaca akan malas mendokumentasikan/ menyimpan bulletin tersebut jika hanya berupa kertas satu lembaran saja.
3. Tentukan target segmennya
Kita harus tentukan lebih dahulu siapa yang menjadi sasaran pembaca media kita ini. Ini seringkali kelupaan, atau bahkan seringkali tidak diperhatikan. Jika kita memiliki sasaran pembaca adalah orang dewasa, masih perlu dibagi lagi menjadi 2 kategori; yang masih awam tentang Islam dan yang telah memiliki background pengetahuan yang baik tentang Islam (aktifis dakwah misalnya). Tentunya hal itu mempengaruhi bagaimana memilih topik yang diangkat serta cara kita bertutur/ menyampaikan pesan-pesan dakwah didalam media kita. Begitu juga dengan sumber-sumber rujukan yang diambil juga harus yang terpilih untuk sekiranya disukai oleh sasaran pembacanya. Jika sasaran pembacanya remaja, mahasiswa, dan masih awam tentang Islam, maka jangan sampai kita menggunakan bahasa yang terlalu formal, kaku dan topik-topik yaang berat untuk dimengerti mereka. Cara bertuturnya juga jangan terlalu keras, karena itu malah membuat mereka ‘lari’. Tapi dikondisi tersebut, berdakwahlah dengan cara merangkul mereka atau mengajak mereka. Bukan menakut-nakuti mereka.
4. Mulailah menjadi jurnalis independent
Setelah perencanaan awal selesai, mulailah menjadi jurnalis amatir yang berdiri sendiri (karena memang nggak ada yang menggaji kita-red). Mulailah menulis dan mengumpulkan tulisan-tulisan dari berbagai sumber. Dalam kita menulis, kita bisa mengawalinya dengan memilih isu apa yang ingin diangkat. Lalu carilah fenomena apa yang terjadi disekitar kita yang terkait dengan isu tersebut. Lalu carilah sumber yang ahli untuk kita kutip kata-katanya/ tulisannya. Jika memang memungkinkan, kita juga bisa mewawancara sumber melalui media telekomunikasi, email, telepon atau bahkan menemuinya secara langsung.
Buatlah tulisan sebanyak mungkin untuk stok anda. Sehingga sewaktu-waktu diperlukan, tulisan tersebut tinggal diterbitkan saja. Apakah pekerjaan seperti ini perlu team? Iya, jika memungkinkan! Tapi jika dalam team tersebut ada yang bergerak lambat, justru akan menghambat karena akan saling menunggu. Saran saya, lakukan saja sendiri terlebih dulu! Jika anda telah menunjukkan hasil, maka mereka yang memiliki kemauan dan keseriusan akan mendatangi anda sambil mengatakan,”gimana caranya saya bisa bergabung?”.
5. Lay-outing/ Designing
Jangan harap mendapatkan respon yang bagus dengan menerbitkan media tanpa mengemasnya dengan visual yang menarik. Masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat interest dengan visualisasi. Lagipula media yang menggunakan tulisan disertai lay-out/ design yang menarik setidaknya mampu menambah daya ingat bagi pembacanya hingga 30%.
Tinggalkan microsoft word dalam melakukan Lay-outing! Program itu bukan untuk melay-out media cetak macam bulletin dan majalah. Cobalah untuk mempelajari minimal adalah program Adobe Photoshop atau Corel Draw. Buku pembelajaran kedua program ini tidak mahal. Jika ingin maju, maka beli dan pelajari. Atau mintalah teman kita untuk mengajarinya, itu lebih murah meriah.
Di Indonesia, pernah ada sebuah komunitas anak-anak punk yang mereka sangat aktif dalam membuat media (baca: zine) dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran anarkisme-nya. Mereka tidak pernah merasa terbatas dengan kondisi diri mereka. Bahkan jika mereka tidak punya komputer, mereka membuat zine yang berisi lebih 24 halaman (mirip seperti SA’I zine ini-pen) hanya dengan menggunakan tulisan manual yaitu dengan spidol dan bolpoint. Mereka menggunting-tempel (cut-paste) visual-visual yang mereka ambil dari majalah maupun koran bekas. Hasilnya? Cukup baik, bahkan jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan apa-apa! Zine-zine seperti itu dahulu sangat mudah ditemukan di komunitas punk di Indonesia, dan pembuatnya sangat dihargai disana. Pembacanya, yang juga sesama dalam komunitas, dengan rela mengeluarkan Rp.1000 – 3000 untuk mensupport pembuat zine itu demi mengganti ongkos fotokopinya. Kadang juga mereka saling trade (saling tukar-menukar) zine. Apa saja dilakukan untuk memberikan dukungan.
Btw, afwan kalo terlalu melebar pembahasannya. The next,...
6. Last Correction
Lakukan koreksi dengan teliti pada hasil desain atau lay-out yang dilakukan dengan terlebih dahulu mencetaknya pake printer. Dari situ biasanya akan kita temukan beberapa kesalahan penulisan maupun editing yang terlewatkan. Setelah semua ok, tinggal tentukan dengan cara apa zine ini dicetak/ digandakan? Jika dengan fotokopi maka, buatlah masternya dengan menggunakan printer laser hitam-putih yang baik. Jika dicetak dengan mesin offset, maka konsultasikan file (softcopy) anda ke percetakan. Kelebihan fotokopi adalah kita bisa bebas menentukan jumlah yang sedikit terlebih dulu alias menyesuaikan dananya dengan jumlah eksemplarnya. Kalo di cetak offset, paling tidak minimal harus dicetak 500 eksemplar, dan itu cukup menguras kantong anda. Tapi jangan kuatir, anda juga bisa mencari sponsor untuk itu!
Selamat mencoba!
words: aditya abdurrahman
Berperang dengan Pena

Bismillaahirrohmaanirrohiim...
Ada beberapa pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Ketika kita melihat ratusan anak-anak Palestina dibunuh oleh tentara-tentara Israel dengan sadis di Gaza, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita melihat jasad anak-anak tersebut hancur, hangus, ususnya terburai, atau tanpa kepala, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar ratusan umat Islam di negeri ini dimurtadkan oleh gerakan kristenisasi, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mengetahui berkali-kali Rasulullah Saw kita tercinta dihina dan direndahkan oleh orang-orang kafir, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita mendengar Al-Qur’an – sebagai firman Allah Ta’ala- dilecehkan dengan menuduh Al-Qur’an adalah biang kerusakan dimuka bumi (teror-red), apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita tahu Si Ulil (seorang oknum JIL-red) menyebarkan faham liberal-nya meracuni pemikiran umat Islam di negeri ini, apa yang bisa kita lakukan? Dia seenaknya mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits juga perlu dikritik jika tidak rasional, sekali lagi, apa yang bisa kita lakukan? Apa yang bisa kita lakukan terhadap musuh-musuh Islam itu? Apa yang bisa kita lakukan untuk membela agama ini?
Jawabannya,....Menulis, menulis dan menulis!
Mungkin saja kita bisa mengirimkan bantuan dana dan obat-obatan ke Gaza, mungkin kita juga bisa mengirimkan bantuan uang untuk menyantuni warga miskin agar tidak terjebak kristenisasi, mungkin kita juga bisa melakukan protes untuk mendesak penguasa agar memberikan solusi. Tapi seberapa besar kekuatan aksi yang bisa kita kontribusikan? Seberapa besar efeknya bagi umat Islam secara keseluruhan? Apakah bisa itu semua memberikan benteng-benteng pertahanan akidah kepada umat Islam?
Dengan menulis, kita bisa melakukan reaksi counter (menentang-red) terhadap pemikiran atau hegemoni musuh. Dengan menulis kita juga bisa melakukan pembentengan terhadap akidah. Dengan menulis kita juga bisa mempengaruhi pemikiran umat Islam untuk ikut bergerak/melakukan aksi nyata dalam membela Islam. Dengan menulis kita juga bisa menggetarkan hati musuh-musuh Allah. Dengan menulis kita juga bisa menyebarkan kebenaran yang haqiqi. Dengan menulis kita juga bisa menggerakkan seluruh umat Islam untuk membantu dengan lebih banyak untuk sasaran-sasaran kristenisasi. Dengan menulis kita bisa meng-edukasi umat Islam. Dan dengan menulis kita bisa menepis pemikiran-pemikiran para orientalis yang suka mengomentari Islam seenak udel-nya.
Kompleksitas urgensi menulis sebagai alat kita untuk berdakwah sudah mencapai puncaknya. Namun seringkali kami sedih mendengar tentang beratnya tangan-tangan umat ini untuk mengangkat pena dan menuliskan sesuatu untuk agama ini. Mereka pikir menulis adalah bakat alami. Mereka juga berdalih dengan bermacam-macam alasan. Yang tak lebih adalah untuk menutupi kemalasannya untuk belajar. Yang lebih parah lagi, jangankan menulis, membuka buku saja alerginya bisa kumat!
Semoga krisis menulis ini tidak berkelanjutan. Semoga di era ini akan lahir para da’i-da’i muda yang pandai menulis. Tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi Sayyid Quthb-Sayyid Quthb muda yang tulisannya mampu menggetarkan musuh-musuh Allah. Atau Imam Nawawi –Imam Nawawi muda yang mampu menulis buku-buku yang terus dipakai rujukan sepanjang sejarah. Amin.
words: aditya abdurrahman
Antara ”Miss Universe ” dan” Sapi Perah”

Tak akan ada gadis sumbing terpilih menjadi ratu kecantikan, meski IQ-nya tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-268
Oleh: Dr. Adian Husaini*
Hidayatullah.com--Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (Miss Universe) 2009.
Hasil jajak pendapat di missuniverse.com pada Kamis (20/8/2009) menunjukkan, Zizi – panggilan Zivanna – menduduki peringkat ketiga, satu prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang secara terbuka bangga dan berharap, Zizi akan menang dalam kontes Miss Universe tersebut.
Menariknya, hampir tidak tampak lagi suara yang mempersoalkan keikutsertaan wakil Indonesia tersebut di pentas pemilihan Ratu Sejagad. Nyaris tak terdengar suara MUI, Departemen Agama, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Seolah-olah kehadiran Zizi di pentas kecantikan internasional itu memang sudah direstui oleh bangsa Indonesia. Padahal, dalam kontes tersebut, Zizi menampilkan pakaian bikini yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu mengundang kontroversi.
Begitu kuatnya arus global informasi tersebut, sehingga mampu menyekat suara-suara yang berbeda. Semua seperti digiring untuk bungkam. Seolah-olah banyak yang sudah tahu akan resiko yang dihadapi jika berani mempersoalkan hal-hal seperti ini, maka akan dengan mudah dikecam sebagai manusia yang sok moralis, menghambat kebebasan berekspresi, kaum radikal, dan sebagainya.
Mungkin, sadar akan kekuatan besar seperti itulah, maka banyak yang memilih diam, atau enggan berkomentar. Semua seperti sadar bahwa sekarang adalah zaman kebebasan. Ini zaman liberal. Semua serba boleh. Maksiat atau tidak maksiat tidak peduli lagi. Yang penting seru! Yang penting enak ditonton! Yang penting menghibur! Yang penting menghasilkan uang! Persetan dengan semua nilai moral atau agama!
Padahal, diukur dari sudut pandang Islam, jelas keikutsertaan dalam kontes kecantikan seperti kontes Miss Universe adalah perbuatan haram. Itu jelas dosa! Itulah kemungkaran yang sangat nyata; mengumbar aurat di muka umum. Mungkin Zizi dan para pendukungnya berpikir bahwa tubuh yang dimilikinya adalah miliknya sendiri, dan dia merasa seratus persen berhak menggunakannya untuk tujuan apa saja sesuai kehendaknya. Tidak ada urusan dengan aturan Allah SWT. Mungkin, mereka juga berpikir, bahwa toh, tindakan itu tidak merugikan orang lain! Tidak mengganggu lain. Apa salahnya!
Salah satu media internet yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia dalam ajang Miss Universe 2009 itu adalah www.voa-islam.com. Situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban di mana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Saw? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban, di mana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”
Dalam suasana gegap gempitanya paham kebebasan dan – meminjam istilah Taufik Ismail -- ”Gerakan Syahwat Merdeka” di Indonesia, memang suara-suara yang menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia-manusia yang lebih adil dan beradab menjadi tenggelam. Padahal, ada al-Quran sudah mengajak perempuan untuk menutup auratnya: "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya" (QS An-Nur:31).
Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain, dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)
Betapa pun, Zizi adalah Muslimah. Bahkan, konon, ia adalah lulusan sebuah SMU Islam di Jakarta. Yang harus dilakukan jika seorang Muslim/Muslimah ketika melakukan tindakan dosa adalah bertobat. Bukan malah bangga dengan tindakannya dan mengajak orang lain untuk mengikuti tindakan dosanya. Apakah Zizi, kedua orang tua, dan pendukungnya yang Muslim tidak tahu bahwa tindakan mengumbar aurat seperti itu adalah tindakan dosa? Sebagai sesama Muslim, kita WAJIB mengimbau dan menasehatinya. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Masing-masing kita akan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri di hadapan Allah.
Sapi perah
Jika Zizi dan para pendukungnya enggan mendengar pendapat yang masih berbau agama, ada baiknya juga disimak pendapat Dr. Daoed Joesoef, seorang cendekiawan yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh sekular. Daoed Joesoef pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) selama satu periode (1977-1982). Semasa hidupnya, Daoed Joesoef dikenal dengan pemikirannya yang sekular.
Pemikirannya yang sekular telah banyak mengundang kritik dari para tokoh Islam. Tetapi, ada satu sisi pemikirannya sejalan dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, yaitu kritik-kritiknya yang keras dan tajam terhadap keberadaan kontes ratu-ratuan. Daoed Joesoef adalah doktor lulusan Sorbonne Perancis (1972) dan Ketua Dewan Direktur CSIS (1972-1998). Ia juga pernah menjadi anggota pengurus organisasi ”Angkatan Seni Rupa Indonesia” di Medan (1946), dan Ketua cabang Yogyakarta untuk organisasi ”Seniman Indonesia Muda” (1946-1947).
Betapa sekularnya pemikiran Daoed Joesoef bisa disimak dari sikapnya yang tidak mau mengucapkan salam Islam saat menjabat Menteri P&K. Dalam memoarnya yang terbit tahun 2006 berjudul ”Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran”, Daoed Joesoef memberikan alasan: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan negara agama dan pasti bukan negara Islam.”
Tentu saja, jika diukur pada tataran sekarang, pandangan dan sikap Daoed Joesoef semacam itu tampak ganjil. Tetapi, tidak semua pendapat Daoed Joesoef perlu ditolak. Ada pendapatnya yang sangat menarik untuk disimak dan direnungkan. Sebagai cendekiawan, pandangannya terhadap berbagai jenis kontes ratu kecantikan, bisa dikatakan sangat tajam dan mendasar.
Saat menjadi Menteri P&K pula, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Ketika itu memang sedang marak-maraknya promosi aneka ragam miss, ada Miss Kacamata Rayban, Miss Jengki, Miss Fiat, Miss Pantai, di samping pemilihan ratu ayu daerah, ratu ayu Indonesia, yang langsung dikaitkan dengan berbagai jenis keratuan internasional. Dan semuanya, tulis Daoed Joesoef, ”menyatakan demi manfaat dan kegunaan (pariwisata) serta keharuman nama dan martabat Indonesia.”
Apa kata Daoed Joesoef tentang semua jenis ratu-ratuan tersebut? ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.
Menurut mantan dosen FE-UI ini, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Lebih jauh, Daoed Joesoef menyampaikan kritik pedasnya: ”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”
Dari 900 halaman lebih memoarnya tersebut, Daoed Joesoef memberikan porsi cukup panjang (hal. 649-657) untuk menguraikan buruknya praktik-praktik ratu-ratuan bagi perempuan itu sendiri. Perempuan tentu boleh tampil cantik. Tapi, Daoed Joesoef mengingatkan tiga hal. Pertama, jangan ia diumbar, dibiarkan untuk dieksploitasi seenaknya oleh orang/pihak lain hingga membahayakan dirinya sendiri. Kedua, jangan memupuknya secara berlebihan, karena bagaimana pun kecantikan itu hanya setebal kulit. Ketiga, kecantikan yang dipupuk dan lalu dijadikan standar personalitas perempuan berpotensi menjadi liang kubur perempuan yang bersangkutan. Bila kecantikan itu redup, karena hanya setebal kulit, berarti perempuan itu tidak dapat lagi memenuhi standar yang telah dipatoknya sendiri. Orang lain, termasuk suaminya, akan membelakanginya, lalu berpaling ke perempuan cantik lain.
Semasa belajar di Paris, Daoed Joesoef mengaku pernah membaca sebuah kasus seorang guru matematika dipecat oleh Menteri Pendidikan Nasional Perancis, gara-gara guru tersebut mengikuti kontes ratu kecantikan daerah yang merupakan awal dari pemilihan ratu kecantikan nasional. Ketika itu tidak ada media yang membelanya, karena publik menganggap kegiatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang guru. Karena itu, menurutnya, jika ada pendidik yang membela kegiatan pemilihan ratu ayu, pantas sekali dipertanyakan bagaimana keadaan nuraninya.
”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,” tulis Daoed Joesoef.
Daoed Joesoef menolak argumentasi bahwa kontes kecantikan juga menonjolkan sisi-sisi intelektual perempuan dan banyak pesertanya yang mahasiswi. Juga ia menolak alasan bahwa penggunaan pakaian renang dalam kontes semacam itu adalah hal yang biasa. ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang,” tulis Daoed Joesoef lebih jauh.
Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: ”setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”
Terhadap orang yang menyatakan bahwa yang dinilai dalam kontes kecantikan bukan hanya kecantikannya, tetapi juga otaknya, sikapnya, dan keberaniannya, Daoed Joesoef menyatakan, bahwa semua itu hanya embel-embel guna menutupi kriterium kecantikan yang tetap diunggulkan. ”Percayalah, tidak akan ada gadis sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapa pun tinggi IQ-nya, terpuji sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan,” tulisnya.
Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai wishful thinking belaka, untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa on time, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa menarik wisatawan.
Lalu, apa jalan keluarnya? ”Stop all those nonsense! Hentikan semua kegiatan pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti merendahkan martabatnya!” seru Daoed Joesoef. “Namun,” lanjutnya, “kalau perempuan sendiri bergairah melakukan perbuatan yang tercela itu karena kepentingan materi sesaat tanpa mempedulikan masa depan anak-anak, ya mau bilang apa lagi!”.
Meskipun kita tidak sependapat dengan banyak pemikiran sekular Daoed Joesoef, tetapi pandangannya tentang ratu-ratuan ini patut kita acungi jempol. Kini, di tengah-tengah semakin menguatnya hegemoni liberalisme nilai-nilai moral dan menghunjamnya paham materialisme, pendapat jernih Daoed Joesoef dalam soal peran dan kedudukan perempuan perlu diperhatikan, khususnya bagi pejabat dan pemuka masyarakat. Secara terbuka Daoed Joesoef mengimbau:
“Kalaupun gadis-gadis kita yang cantik jelita lagi terpelajar, cerdas dan terampil serta berbudi pekerti terpuji dan berani, masih berhasrat menyalurkan energinya yang menggebu-gebu ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, siapkanlah diri mereka agar menjadi IBU yang ideal, memenuhi perempuan yang sebenarnya dalam keluarga, perannya yang paling alami. Jadi bukan peran sembarangan, karena mendidik makhluk ciptaan Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Jangan anggap bahwa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak secara benar bukan suatu pekerjaan yang terhormat. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan uang, pasti tidak membuahkan popularitas, tentu tidak akan ditampilkan oleh media massa dengan penuh kemegahan, tetapi ia pasti mengandung suatu misi yang suci…”
Demikianlah, sebuah contoh pemikiran yang jernih tentang kedudukan dan martabat perempuan. Mudah-mudahan masih ada petinggi negara dan elite masyarakat yang mendukung pemikiran semacam ini, dan kemudian berani melakukan tindakan untuk menegakkan kebenaran, meskipun resikonya, dia bisa jadi tidak akan populer. [Depok, 20 Agustus 2009/www.hidayatullah.com].
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com