
Api, ...untuk menyalakannya membutuhkan bahan bakar. Sedangka bahan bakar sendiri memiliki berbagai macam karakteristik. Ada yang hanya mampu menyalakan api kecil dalam waktu singkat saja, ada yang mampu menyalakan api kecil namun mampu bertahan hingga lama. Ada juga bahan bakar yang mampu menyalakan api hingga api tersebut besar berkobar. Namun hanya sebentar. Tapi ada juga yang mampu membuatnya berkobar dan bertahan begitu lama. Memang sesekali agak meredup, namun hanya sebentar, lalu api kembali berkobar.
Tak ada bedanya dengan diri kita. Ada kalanya kita menemui diri kita dan orang-orang disekitar kita memiliki berbagai jenis kobaran api keimanan dan ketaqwaan. Seringkali saya menemui teman-teman lama yang dulunya hidupnya belum mengenal hijab, namun saat ini telah diberi hidayah oleh Allah untuk menjaga kehormatannya dengan jilbab. Ada pula yang dulu hanya seminggu sekali menginjakkan kakinya di masjid ketika shalat Jum’at, namun sekarang kami sering bertemu dideretan jamaah shalat dhuhur dan ashar di masjid disekitar kantor. Bahkan ada pula yang dulu bergelimang isme-isme hasil produksi barat, saat ini getol (baca: ulet) berdakwah memperjuangkan Islam.
Bagi diri kita sendiri,...jangan terlalu bangga dulu dengan diri kita. Mungkin kita tidak seredup api iman dan ketaqwaan yang dirasakan contoh-contoh diatas, namun harus kita akui betapa beratnya menjaga ‘api’ keimanan ini untuk tetap dalam kondisi puncak. Berapa gunung dosa-dosa kecil yang kita tumpuk setiap harinya? Masih untung bagi kita yang tidak bergelimang dosa-dosa besar dalam keseharian kita. But, siapa yang menjamin diri kita bisa bertahan untuk menghindarinya?
Memang benar-benar berat bagi setiap muslim untuk terus menjaga kobaran semangatnya. Begitu pula yang saya rasakan setiap saat dan setiap waktu. Syetan terus mengutus anak buahnya untuk menggoda manusia untuk berbuat dosa dengan memercikkan (bahkan kadang menyiramkan-pen) air kearah bara api itu. Hanya yang memiliki unshakeable mentality yang mampu memenangkan pertarungan. Selain itu akan mudah sekali KO, futur, menyerah pada keadaan, dan akhirnya tersedot lebih dalam lagi ke arah dosa yang lebih berat.
Rasanya tidak ada lagi rumus yang paling tepat selain terus mengisi seluruh ruang dalam diri kita dengan mendekatkan diri kita kepada Allah. Carilah sesuatu dalam diri kita yang bisa memicu unshakeable mentality (mental yang tak tergoyahkan). Bagaikan sumber minyak yang tak ada habisnya. Yang terus mengalir keluar dan membuat api terus berkobar tanpa henti.

