
“Ratusan tulisan dan pidatonya mampu menghidupkan ruh baru dalam diri umat islam. Seolah-olah beliau dipilih oleh Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan oleh sebagian besar umat islam, yaitu Jihad,” begitu komentar Dr Dahba Zahely, cendekiawan muslim asal Malaysia tentang Dr Abdullah Azzam.
Jum’at memang menjadi hari yang suci. Hari itu juga, seorang pejuang bersuci dengan darahnya. Tepat ketika sholat Jum’at akan ditegakkan. Dua puluh tahun yang lalu, seorang panglima kebanggaan umat telah pergi untuk selamanya. Cita-cita seorang mujahid memang tak pernah berubah. Ketika kematian menjadi sebuah kenikmatan dan ketika jasad dibumbui wangi syurga. Walaupun mobilnya diguncang, tubuh sang syuhada’ tetap rapih tanpa cacat.
Dilahirkan tahun 1941 di desa Silah Al Haristiya yang dikenal sebagai Qaryatul Jihad (desa jihad). Karena desa itu pernah melahirkan Mujahid bernama Yusuf Sa’id Abu Durrah. Kemudian pernah juga menjadi markas Mujahid legendaris Syaikh Izzuddin Al Qossam. Ia berasal dari keluarga yang religius, ia menjadi pribadi yang menarik bagi orang di sekitarnya. Ia dibiasakan orang tuanya untuk menghafal Qur’an, mengaji dan dekat interkasi dengan masjid. Azzam kecil dikenal sebagai sosok pemimpin yang cerdas, tegas, dan berani.
Sejak kelas 1 SMP, ia sudah bergabung dengan Persaudaraan Islam (Ikhwanul Muslimin). Bahkan ia langsung membentuk kelompok-kelompok dakwah yang berisikan teman-teman dekatnya. Ia pun semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti mengunpulkan dana sosial untuk anak yatim, janda dan fakir miskin serta membuka ladang-ladang dakwah baru.
Kesibukkannya dalam aktivitas dakwah bukan berarti ia lupa akan jihad akademiknya. Ia lulus di Fakultas Syariah Universitas Damaskus dengan predikat jayyid jiddan (baik sekali). Bahkan ketika ia disibukkan dengan aktivitas jihadnya melawan Israel di Palestina, ia mampu menyabet gelar Doktor dalam bidang Fiqh di Universitas Al Azhar dengan predikat Imtiyaz Bimartabah Syaraf ‘Ula (Cumlaude dengan pernghargaan tingkat pertama). Luar biasa…
Seandainya ia mau hidup mapan, mudah saja. Beberapa kali ia diminta untuk menjadi dosen dintaranya Universitas King Abdul Aziz. Tapi darah pejuang terlanjur mengalir dalam jiwanya. Ia berprinsip,“Berdiri satu jam dalam pertempuran di jalan Allah SWT, lebih baik daripada berdiri menunaikan sholat selama enam puluh tahun,”. Akhirnya, ia putuskan untuk menjadi ayah bagi para mujahidin Afghanistan.
Kemampuan orasinya, tulisannya, akhlaknya mampu menyihir pemuda-pemuda islam di kolong jagat raya. Yang paling top ya bukunya. Beberapa bukunya yang populer dalam membangkitkan semangat para mujahidin adalah Signs of Ar Rahman in the jihad of Afghan, Join the Caravan, Defence of the Moslem land and lovers of the Paradise Maidens. Tulisan-tulisan itu dibuat dibawah desing mortir dan dentum bom.
Apresiasi khusus untuk buku berjudul Ayatur Rahman fii Jihadil Afghan atau tanda-tanda keajaiban ayat-ayat Allah pada jihad di Afghanistan. Buku itu yang mengajak ribuan pemuda islam untuk berangkat jihad ke Afghanistan. Mereka ingin benar-benar menjadi saksi keajaiban itu.
Ajaib dimana ada cerita tentang dua puluhan orang mujahidin yang sukses membuat ribuan pasukan Rusia bersenjata lengkap, kocar-kacir. Atau kisah seorang bocah yang memamerkan korek api di depan tank Rusia yang sudah siap tembak. Mereka juga lari terbirit-birit. Atau kisah satu kuadron jet tempur Rusia yang jatuh karena tembakan sebuah pistol yang dibumbui kalimat takbir, Allahuakbar!!!.
Gimana nggak bergetar kalau membaca buku ini. Tulisan Dr Azzam memang sangat menginspirasikan. Tidak terkecuali, buku berseri berjudul Tarbiyah Jihadiyah. Sekali lagi, semua itu ditulis ketika ia sedang berperang. Bukan sedang bersantai. Kok bisa ya…sempat-sempatnya menulis. Beda dengan kita yang tidak produktif, padahal dalam kondisi damai.
Satu kalimat yang menarik dari beliau,”Islam diwarnai oleh dua hal. Hitam tinta para Ulama dan merah darah para Syuhada’,”. Sekali lagi saya bersepakat dengan pendapat beliau. Tinta-tinta orang yang berilmu tidak akan pernah luntur. Dan pahala seorang penulis tetap mengalir. Saya pun masih kesengsem dengan gaya tulisan Dr Azzam yang lugas, argumentatif, jujur dan terkesan merangkul pembaca.
Walau jasadnya tiada, ia tetap meninggalkan kenangan. Saksinya adalah 17 buku, 300 kaset ceramah, 50 video ceramah, dan ratusan tulisan pembela islam di media massa seantero dunia. Benar-benar seorang ulama yang komplit. Wahai Pemuda, Siapakah diantara kita yang ingin segera mengikuti jejaknya?
By: Bey erest
1 comment:
salam,,,
mintak izin copy yo.
Post a Comment