CIRI EKONOMI ISLAM

Oleh: Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA 

Pembeda Utama antara Sistem Ekonomi Islam dan Sistem Ekonomi lainnya adalah sumbernya. Sistem Ekonomi Islam lahir dari sumber wahyu, sedang yang lain datang dari sumber akal. Karenanya, ciri Ekonomi Islam sangat khas dan sempurna, yaitu : Ilahiah dan Insaniah.

Berciri ilahiah karena berdiri di atas dasar aqidah, syariat dan akhlaq. Artinya, Ekonomi Islam berlandaskan kepada aqidah yang meyakini bahwa harta benda adalah milik Allah SWT, sedang manusia hanya sebagai khalifah yang mengelolanya (Istikhlaf), sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam surat Al-Hadiid ayat 7. Dan Ekonomi Islam berpijak kepada syariat yang mewajibkan pengelolaan harta benda sesuai aturan Syariat Islam, sebagaimana ditekankan dalam surat Al-Maa-idah ayat 48 bahwa setiap umat para Nabi punya aturan syariat dan sistem.

Serta Ekonomi Islam berdiri di atas pilar akhlaq yang membentuk para pelaku Ekonomi Islam berakhlaqul karimah dalam segala tindak ekonominya, sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan bahwasanya beliau diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlaq.

Berciri insaniah karena memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan sempurna. Sistem Ekonomi Islam tidak membunuh hak individu sebagaimana Allah SWT nyatakan dalam surat Al-Baqarah ayat 29 bahwa semua yang ada di Bumi diciptakan untuk semua orang. Namun pada saat yang sama tetap memelihara hak sosial dengan seimbang, sebagaimana diamanatkan dalam surat Al-Israa ayat 29 bahwa pengelolaan harta tidak boleh kikir, tapi juga tidak boleh boros.

Di samping itu, tetap menjaga hubungan dengan negara sebagaimana diperintahkan dalam surat An-Nisaa ayat 59 yang mewajibkan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ulil Amri yang dalam hal ini boleh diartikan penguasa (pemerintah) selama taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dengan kedua ciri di atas, aktivitas Sistem Ekonomi Islam terbagi dua : Pertama, individual yaitu aktivitas ekonomi yang bertujuan mendapatkan keuntungan materi bagi pelakunya, seperti perniagaan, pertukaran dan perusahaan. Kedua, sosial yaitu aktivitas ekonomi yang bertujuan memberikan keuntungan kepada orang lain, seperti pemberian, pertolongan dan perputaran.

Sekurangnya ada 15 (lima belas) aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat individual, yaitu: Al-Bai’, As-Salam, Ash-Shorf, Asy-Syirkah, Al-Qiradh, Al-Musaqah, Al-Muzara’ah, Al-Mukhabarah, Al-Ijarah, Al-Ujroh, Al-Ji’alah, Asy-Syuf’ah, Ash-Shulhu, Al-Hajru, dan Ihya-ul Mawat.

Kelimabelas aktivitas ekonomi di atas merupakan pintu mencari keuntungan materi yang dihalalkan Syariat Islam. Setiap individu bebas menjadi pelaku aktivitas ekonomi di atas dan bebas pula mengais keuntungan sesuai dengan rukun dan syarat yang ditetapkan syariat untuk tiap-tiap aktivitas tersebut.

Ada pun aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat sosial sekurangnya juga ada 15 (lima belas), yaitu : Ash-Shodaqah, An-Nafaqoh, Al-Hadiyah, Al-Hibah, Al-Waqf, Al-Qordh, Al-Hawalah, Ar-Rahn, Al-‘Ariyah, Al-Wadi’ah, Al-Wakalah, Al-Kafalah, Adh-Dhoman, Al-Luqothoh, dan Al-Laqith.

Dalam kelimabelas aktivitas ekonomi di atas para pelakunya tidak dibenarkan mengambil keuntungan untuk dirinya, melainkan ditujukan untuk memberi keuntungan kepada orang lain. Misalnya, dalam aktivitas Al-Qordh (Utang), si pemilik piutang (yang memberi utang) tidak dibenarkan mengambil ”untung” dengan mensyaratkan ”kelebihan” kepada orang yang berutang dalam pengembalian utangnya, walau satu sen, karena Al-Qordh adalah bentuk bantuan dan pertolongan kepada orang lain, bukan perniagaan, sehingga ”keuntungan” apa pun bagi pemberi utang yang disyaratkan dalam utang menjadi Riba yang diharamkan syariat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ath-Thabrani rhm dalam Al-Mu’jam Al-Kabir.

Menariknya, dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah rhm disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang pemberi utang untuk menerima hadiah atau memanfaatkan pinjaman barang apa pun dari orang yang berutang sebelum utangnya dilunasi, kecuali jika di antara keduanya sudah sering saling memberi hadiah atau meminjamkan barang dari sebelum adanya utang. Salah satu hikmah pelarangan ini adalah untuk menjaga kemurnian nilai sosial dan memelihara kemuliaan jiwa kepedulian tanpa pamrih yang ada dalam aktivitas Al-Qardh.

Selain itu, dalam rangka melindungi keseimbangan individual dan sosial dalam aktivitas ekonomi umat, maka Sistem Ekonomi Islam membuat proteksi yang tinggi dari segala penyimpangan perilaku ekonomi yang mengancam dan membahayakan keseimbangan tersebut. Untuk itu ada 8 (delapan) perilaku ekonomi menyimpang yang diharamkan syariat, yaitu : Ikrah (Pemaksaan), Ghashb (Perampasan), Gharar (Penipuan), Ihtikar (Penimbunan), Talaqqi Rukban (Pertengkulakan), Qimar (Perjudian), Risywah (Suap), dan Riba (Rente).

Lebih dari itu, Sistem Ekonomi Islam tidak hanya menjaga keseimbangan antara hak individu dan hak sosial, bahkan antara hak Khaliq dan hak makhluq. Karenanya, Ekonomi Islam disebut sebagai Ekonomi Wasathiyah (Ekonomi Pertengahan) yaitu sistem ekonomi yang menjaga tawazun (keseimbangan) antara : Hak Allah dan Hak Manusia, Hak Dunia dan Hak Akhirat, Hak Individu dan Hak Sosial, Hak Rakyat dan Hak Negara.

Berbeda dengan Sistem Ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, yang hanya mengenal materi, angka dan untung-rugi, serta hanya bertujuan untuk : Pengendalian Pasar, Mengalahkan Pesaing, Memperkaya Diri dan Merugikan Orang. 

Sepintas memang Kapitalis berbeda dengan Komunis. Kapitalis sangat individualisme dimana secara teori hanya fokus kepada : Membela Individu dan Membunuh Sosial. Sedang Komunis sangat sosialisme dimana secara teori hanya fokus kepada : Membela Sosial dan Membunuh Individu. Namun jika diperhatikan lebih mendalam, ternyata keduanya sama bermadzhab Materialisme yang bertujuan materi semata, dan sama berperisai Demokrasi untuk menghalalkan segala cara agar bebas mengais keuntungan, sehingga pada prakteknya, baik Kapitalis mau pun Komunis, tetap saja sama mengorbankan rakyat kecil.

Landasan sosio-ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, adalah Riba yang merupakan cerminan dari pengambilan, kekejian, kekikiran, keegoisan dan ketamakan. Sedang landasan sosio-ekonomi Islam adalah Sedekah yang merupakan cerminan dari pemberian, kesucian, kemurahan, kesetia-kawanan dan ketulusan.

Dengan demikian, Sistem Ekonomi Islam tidak bisa disamakan dengan Sistem Ekonomi Kapitalis yang kini tampil dengan Ekonomi Neo Liberal nya dan sering mengklaim sebagai Sistem Ekonomi Modern. Dan Sistem Ekonomi Islam juga tidak bisa disamakan dengan Sistem Ekonomi Komunis atau yang kini tampil dengan Ekonomi Neo Sosialis nya dan sering mengklaim sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan.

Sistem Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi sempurna yang sudah teruji dan telah membuktikan kesempurnaan sistemnya selama tidak kurang dari 1300 tahun, yaitu sejak dari awal abad ke 7 Miladiyah saat kepemimpinan Rasulullah SAW s/d awal abad ke 20 Miladiyah saat kejatuhan Kekhilafahan Islam. Dan kini, di Millenium ke-3, Sistem Ekonomi Islam mulai bangkit kembali, dan sistem ini pasti berjaya sebagaimana pernah berjaya sebelumnya. Sedang Sistem Ekonomi Barat yang kini dibanggakan, masih sangat muda sekali umurnya dan belum teruji dengan baik, bahkan kini sedang mengalami kebangkrutan global untuk menuju kehancuran.

Kenapa Sistem Ekonomi Islam mampu berjaya sekian lama ? Jawabnya, karena sistem ini berciri ilahiah dan insaniah, dimana selalu menjaga keseimbangan aktivitas ekonominya. Lihat saja, di negeri-negeri Kapitalis pajak tinggi walau cari uang mudah, dan sebaliknya di negeri-negeri Komunis cari uang susah walau pajak rendah. Jadi, tidak pernah seimbang, selalu di posisi sulit bagi pelaku ekonominya. Sedang di Negara Islam yang berekonomi Islam, alhamdulillah, cari uang mudah dan pajak rendah. Itulah yang ditawarkan oleh Sistem Ekonomi Islam.

Ironisnya, di negeri kita yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia : cari uang susah dan pajak tinggi ! Kasihan betul rakyatnya. Solusinya : Tegakkan Sistem Ekonomi Islam ! Allahu Akbar ! (mj/www.suara-islam.com)

Siyasah Syar'iyyah (Sebuah Ijtihad Selalu Jadi Bulan-bulanan)

Pada suatu waktu Rosul SAW bersabda : “Janganlah kalian sholat ashar kecuali di Bani Kuroidhah”. Para sahabat yang ikut rombongan ke Bani Khuroidhah terpecah menjadi 2 golongan ketika menafsiri sabda Rosul SAW tersebut. Sebagian menafsiri secara tekstual sebagian yg lain menafsirisecara non tekstual (agar rombongan mempercepat perjalanannya ke Bani Khuroidhah). Lantas apa sikap Rosulullah SAW ketika salah satu rombongan sahabat tersebut menanyakan hal itu kepada Nabi SAW??? Ternyata Nabi SAW tidak menyalahkan kedua golongan sahabat itu.

Di lain kisah, dituliskan dengan bijak ketika imam Syafi’i rohimahullah sholat di masjidnya imam Abu Hanifah rohimahullah. Apa yang dilakukan imam Syafi’i ketika menjadi imam sholat subuh di masjid itu??? Yupp..imam Syafi’i meninggalkan ijtihad beliau sendiri (tidak qunut subuh) karena beliau mengerti ijtihad imam Abu Hanifah yang sudah dijadikan dasar amalan keseharian orang-orang di masjid tersebut.

Ikhwahfillah, apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Yang pertama adalah bahwa perbedaan/perselisian pendapat diantara ulama adalah sunnatullah dan itu sudah terjadi ketika zaman dimana Rosul SAW masih berada di tengah-tengah sahabat. Apalagi di zaman sekarang ini, sangat memungkinkan untuk terjadinya ikhtilaf diantara ulama. Kita sekarang ini hanyalah mewarisi perbedaan pendapat para ulama terdahulu saja tapi tidak mewarisi sikap mereka dalam menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut.

Nah, yang jadi permasalahan kemudian adalah ketika mengelompokkan suatu kasus apakah kasus terseut masuk dalam ikhtilaf ushul [perselisian pokok] ataukah ikhtilaf furu’ [perselisian cabang] saja.

Ikhtilaf Ijtihad Siyasi [Politik]
Layaknya ijtihad tentang Qunut subuh, ijtihad siyasi ini juga merupakan ikhtilaf para ulama. Sebagian ulama mengatakan ini termasuk masalah Ushul [prinsip] dan masuk dalam kategori aqidah sehingga menyikapinya adalah dengan kaidah iman atau kufur, wala atau bara’. Sedangkan sebagian ulama yang lain menghukumi ini sebagai masalah furu’ [cabang] yang masuk dalam kategori fiqh siyasah syar’iyah yang kesyariahannya merujuk pada fiqh muazanah [nilai kemaslahatannya].

Hujjah [alasan] 
Kelompok pertama yang menghukumi ini sebagai masalah ushul mengungkapkan hujjah mereka sbb:

• Parlemen-parlemen merupakan entuk kesyirikan kontemporer karena merampas hak prerogatif Allah SWT untuk mementukan aturan hidup.
• Adanya ketundukan terhadap pemimpin kafir dan kelompok-kelompok non syar’i
• Bertentangan dengan jalan dakwah yang telah dilakukan Rosul karena bergabung[musyarokah] di parlemen termasuk kompromi yang sebelumnya tidak pernah Rosul SAW contohkan.
• Kemaslahatan apapaun yang muncul dari musyarokah ini tidak dapat diterima.
• Di dalam dakwah Islam tidak ada Fiqh Tadarruj [pentahapan dalam dakwah] 

Kelompok kedua yang menghukumi ini sebagai masalah furu’ mengemukakakn hujjah mereka yaitu:
• Merupakan mimbar dakwah yang sangat penting dan efektif
• Dakwah harus selalu merujuk pada Fiqh Muazanah, yaitu menimbang dan membandingkan tingkat maslahat dan mudhorot suatu permasalahan. 
• Dalam dakwah ada Fiqh Tadarruj [pentahapan dalam dakwah]

Kisi-kisi pentahapan dakwah adalah sebagai berikut:
Aqidah  Syariah  Hukum  Qishosh  Hudud

Pun juga dalam siyasi, pada awalnya dalam politik penuh dengan mudhorot, penyimpangan dan pelanggaran tapi misi dakwah siyasi adalah meminimalisir kemudhorotan dan kejahiliaan yang ada di politik sedemikian hingga membersihkan poltik dari praktek-praktek penyimpangan dan pelanggaran.

Rosul SAW ketika masih tinggal di Makkah sholat di tempat yg dikelilingi 360-an berhala. Apakah Rosul ridho dengan berhala-berhala itu? Apakah Rosul SAW tidak bisa melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as terhadap berhala-berhala kaumnya? Ato apakah itu karena kondisi dimana kekuatan kaum muslimin masih dalam kondisi yg lemah?

Setelah hijrah ke Madinah dan kekuasaan Islam berkembang pesat maka berhala-berhala yang berdiri puluhan tahun di Makkah itu baru dihancurkan oleh Rosul SAW.

Begitu juga dengan yang dialami oleh aktivis Islam yang masuk dan aktif di pemerintahan/parlemen, apakah berarti mereka setuju dengan sistem non-Islam [baca: Demokrasi] ? ataukah karena masih dalam tahapan yang lemah?

Di bidang pendidikan pun demikian. Seagaimana yang kita ketahui bahwa kebanyakan sistem pendidikan yang ada di sekitar kita adalah sistem sekuler, lalu apakah kita yang ada di ITS atau UNAIR dan yg lainnya rela dan setuju dengan sistem pendidikan ini? Ataukah karena kondisi ummat yang masih lemah dibidang pendidikan sehingga belum adanya pilihan lain selain pendidikan seperti di ITS, UNAIR dsb?

Semoga yang sedikit ini bisa menambah wawasan kita semua sedemikian hingga kita mampu bersikap dengan bijak [sebagaimana tauladan dari imam Syafi'i diatas ketika kita dihadapkan pada masalah-masalah yang ada dalam kawasan ikhtilaf ulama.

[Disarikan dari Kajian Kontemporer oleh Ust. Mudzoffar, MA]

Kemaksiatan dan Pengaruhnya

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur'an, "Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." 
(HR At-Tirmidzi) .

Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum `Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat 
keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An'am: 6)

Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya". Saya berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?" Rasulullah menjawab,"Betul. " "Lalu bagaimana dengan mereka?" Rasul menjawab, "Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah."

Akar Kemaksiatan
Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah. Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat `Ibadurrahman, "Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)." (Al-Furqaan: 68)

Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.

Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu: pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

Pengaruh Maksiat
Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.

Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

1. Lalai dan keras hati
Al-Qur'an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. "Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ma-idah: 13) Berkata Ibnu Mas'ud r.a., "Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan."

Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

2. Terhalang dari ilmu dari rezeki
Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya" (HR Ibnu Majah dan Hakim)

Berkata Imam As-Syafi'i, "Saya mengadu pada Waqi'i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat." Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

3. Kematian hati dan kegelapan di wajah
Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, "Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib."

Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur'an adalah gelap tidak enak dipandang.

4. Terhalang dari penerapan hukum Allah
Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A'raaf: 96)

5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan
Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.

Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: "Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita."

Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. 

Waspadalah!

Sumber http://www.dakwatuna.com

Gerakan-Gerakan yang Mengkonstruksi Peradaban

Ikut andil dalam sebuah proyek mengkonstruksi peradaban adalah dengan membuat sebuah gerakan-gerakan. Disini kami menggunakan istilah 'gerakan' karena 'gerakan' berarti sebuah bentuk aktifitas perpindahan tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Atau bisa diartikan sebagai perpindahan menuju sebuah tujuan yang diimpikan. Aktivitasnya dilakukan bukan sendiri-sendiri dan tidak ada sangkut pautnya antar individu, namun semua lakukan bersama-sama, serempak, dan bahu-membahu. Walaupun dengan 'bendera' kelompoknya masing-masing, tapi tetap merasa satu hati dengan kelompok-kelompok lainnya. 

Gerakan dapat diartikan bahwa setiap aktifitasnya selalu berorientasi pada perubahan. Karena pada dasarnya bergerak berarti berubah posisi. Dari posisi yang lama, yang kurang baik, menuju posisi yang lebih baik. 

Jika setiap individu-individu dari umat Islam ini kembali membuat suatu aksi nyata berupa gerakan-gerakan, entah bergabung dengan gerakan-gerakan Islam yang sudah ada maupun membentuk gerakan baru dengan tujuan yang sama, ibarat kita sedang meletakkan batubata-batubata untuk membangun gedung yang sangat tinggi dan megah. Tanpa batubata-batubata yang kita letakkan itu tidak akan lengkap bangunan itu berdiri. 

Bergabung dengan gerakan-gerakan Islam yang sudah ada memang dianjurkan, selama gerakan itu berorientasi pada tegaknya hukum Allah (Al-Qur'an dan As-Sunnah) dimuka bumi ini, namun disamping itu kita bisa saja membuat aktifitas-aktifitas lain yang bisa dikategorikan dalam gerakan-gerakan kecil. Yang didalamnya kita dapat memodifikasi cara dakwah kita kepada segmen-segmen dakwah yang lebih spesifik. Lebih konkritnya, kami contohkan saja, jika seorang aktifis dakwah sudah bergabung dalam gerakan dakwah A, yang notabene sudah termasuk gerakan dakwah besar berskala nasional atau internasional, masih boleh dan dianjurkan untuk membuat aktifitas-aktifitas dakwah lokal di lingkungannya dimana dia berada. Misalnya, yang masih mahasiswa, dia bisa mengaktifkan lembaga dakwah kampus, atau mengaktifkan lembaga kajian jurusan di kampusnya masing-masing, dan lain sebagainya. Tanpa gerakan-gerakan dakwah lokal tersebut maka segmen dakwah yang mayoritas ada disekeliling kita akan sulit dirangkul. Begitu juga dilingkungan yang lain seperti di kantor, di kampung, di organisasi, dan sebagainya, tidak menutup kemungkinan kita membentuk komunitas-komunitas kecil untuk memulai sebuah gerakan baru.
Apa saja bentuk aksi kita dalam mengambil bagian dalam perjuangan dakwah ini? Jawabnya, banyak sekali! Bisa apa saja, yang penting punya orientasi dakwah didalamnya. Beberapa contoh dan gambaran movement lokal yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut:

Organisasi/ Komunitas Dakwah Mini

 Membentuk komunitas-komunitas kecil yang didalamnya diisi oleh aktifitas-aktifitas yang bermanfaat seperti diskusi tentang topik-topik Islam, bedah buku, nonton bareng film religi, dll. Anda bisa mengajak teman-teman dekat anda. Mungkin cukup bagus jika bisa diikuti oleh 5-10 orang atau lebih. Jadwalkan pertemuan rutin itu berikut tempatnya. Koordinasi aktifitas-aktifitas didalamnya seperti menentukan topik diskusi apa yang akan diangkat, buku mana yang pas untuk dibedah, yang bahasannya ringan, tipis, tapi sarat hikmah. Bentuk aktifitas seperti ini membutuhkan koordinator yang handal, yang bisa terus memotivasi tiap teman-temannya yang bergabung agar tetap semangat. Dia juga harus kreatif tentang format dan suasana disetiap pertemuan yang diadakan. Buat momen-momen yang bisa mendukung aplikasi dari apa-apa yang telah dibahas didalamnya. Bisa dengan banyak cara; bikin resume lalu di up-load di blog, membuat aksi-aksi kecil untuk sosial, belajar berjualan untuk mengisi kas bersama. Santai saja asal mereka solid dan terus semangat berlomba-lomba demi turut andil dalam dakwah.
 Aktifitas model ini mirip halaqoh ilmu. Namun pelaksanaannya berbeda. Mungkin lebih independen. Disini cukup ada orang yang mampu mengkoordinasi teman-temannya tanpa harus ada murobbi yang membimbing materi tarbiyah secara urut dan baku.

Nasyid
 Atau bisa dengan cara membuat tim nasyid, lalu berusaha produktif dengan mengarang lagu-lagu sendiri, lalu mempublikasikannya secara mandiri. Tentunya berbeda dengan tim-tim nasyid yang hanya sekedar ingin menyanyi didepan audiens, tapi yang ini kental dengan nuansa dakwah. Seolah tim nasyidnya adalah medan jihadnya untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Merilis album nasyid secara mandiri (atau saya menyebutnya do it yourself!) bukanlah hal yang sulit. Jangan kira tim nasyid yang kita bentuk bisa selalu dilirik perusahaan rekaman besar lalu dakwah kita meluas ke penjuru negeri. Perusahaan label rekaman di negeri ini mungkin mengharuskan kita punya tampang mirip Ariel Peterpan atau sekalian Ariel Sharon baru kita bisa beken. Selain itu, lewat!
 Btw, studio rekaman amatir sudah sangat banyak di kota ini. Biayanya mungkin juga tidak terlalu mahal, yang penting kalo mic-nya bukan sekualitas mainan anak-anak, saya rasa gak masalah. Menggandakan bisa menggunakan format kaset atau cd, atau bahkan mp3 gratisan saja. Hasilnya bisa juga dijual dengan mengganti ongkos produksi per-kepingnya. Kalo nggak ya bikin promo dengan bagi-bagikan aja, itung-itung pesan dakwahnya tersampaikan. Oh iya, supaya efektif jangan lupa cantumkan lirik lagu dan penjelasannya. Buatlah orang ketika mendengarkan tim nasyid anda, merasa penting untuk tahu apa yang sedang anda ucapkan. Buatlah mereka merasa penting untuk membaca pesan-pesan dakwah dalam lembaran kovernya. Karena jika lirik nasyid anda 'tidak berisi', anda juga tidak menganggapnya penting, maka sia-sia saja berdakwah lewat nasyid. 
 Di kota ini (Surabaya-red) mungkin ada tim-tim nasyid yang bermunculan. Namun saya belum pernah mendengar mereka percaya diri mengarang lagu-lagu dan liriknya sendiri. Menyanyikan lagu-lagu milik tim nasyid lain yang sudah tersohor menjadikan tim nasyid lokal kita mirip-mirip band top40 yang serba bias dan siap menerima re-quest. Sehingga kesannya jadi seperti itu. Udah gitu identiknya manggung di kondangan-kondangan atau walimah nikah saja. (Waduh…)
Bukannya apa-apa, maksud saya, jika kita melihat kembali sejarah kenapa nasyid itu muncul, adalah karena motivasi jihad dan dakwah. Saat ini motivasi itu sudah mulai memudar dan berganti dengan alunan lagu yang mellow plus lirik yang miskin semangat dakwah dan jihad. Mungkin sudah saatnya kita kembalikan lagi semangat nasyid untuk pergerakan Islam. Menjadikan nasyid sebagai soundtrack bagi perjuangan para mujahid-mujahid dimedan pertempuran dan dakwah. Yang membuat kita lebih bersemangat untuk bangkit untuk perbaikan daripada terus berlama-lama termenung menyesali dosa.

Training Center
 Organisasi-organisasi pelatihan atau training center sudah mulai ada disekitar kita. Namun belum banyak, karena memang miskin dukungan. Organisasi yang semacam itu yang bergerak untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan di tingkat sekolah menengah juga kurang mendapat respon yang baik, artinya hanya segelintir sekolah yang mempercayakan murid-muridnya untuk memiliki aktifitas diluar sekolah semacam itu. Padahal jika training-training yang berbasis pengembangan kepribadian (EQ) dan spiritualitas (SQ) itu dikembangkan untuk siswa-siswa sekolah menengah atau mahasiswa, saya sangat yakin dapat berdampak luar biasa. Karena segmen remaja/pemuda-pemudi adalah sasaran dakwah yang empuk dan bergizi tinggi. Potensi mereka sangat luar biasa. Mereka sumber energi dan ide-ide brillian. Itu yang membuat jenis local movement seperti ini efeknya akan besar. InsyaAllah. 
 Pemain-pemainnya tentu harus mereka-mereka yang cukup ilmu untuk bergerak. Dalam bentuk movement ini perlu ada tarbiyah yang bersifat intern, dan waktunya cukup lama di awal, sampai mereka menghasilkan kader-kader yang unggul. Dan jika ingin belajar lebih banyak tentang bagaimana mengembangkan movement jenis ini, kita bisa belajar ke saudara-saudara di Uswah Student Center (Surabaya) maupun Trustco (Surabaya).
 Training-training center mungkin harus mengesampingkan orientasi profit yang berlebihan. Hindari eksklusifitas yang berlebihan sehingga hanya golongan sosial tertentu saja yang bisa ikut. Mereka harus berorientasi pada satu tujuan utama yaitu dakwah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Ada kalanya profit diperlukan namun hanya sebatas uang lelah. Yang nominalnya mungkin tidak terlalu dipermasalahkan, atau mungkin seikhlasnya saja jauh lebih baik.

Toko/ Distro/ Individual Business
 Membuat toko sendiri, entah kecil-kecilan, atau yang besar sekalian, yang memiliki orientasi dakwah, cukup memberikan dampak yang luar biasa pada aspek gaya hidup umat. Semakin umat ini terbiasa menggunakan produk-produk muslim dan muslimah berarti bisa menggantikan ketergantungan mereka terhadap produk-produk milik orang-orang kuffar. Sedangkan bagi yang baru bisa berjualan dari mulut ke mulut, apa yang dilakukannya adalah sebuah pembelajaran yang luar biasa untuk jujur dan ulet. Hal ini terutama bagi yang masih sekolah atau kuliah. Melatih mental pemuda untuk berjiwa wirausaha itu sangat penting. Karena dengan berjualan bukan hanya kejujuran dan keuletan saja yang menjadi aspek penting, tapi kreatifitas seseorang akan terlatih. Kalo mental umat ini hanya menjadi pegawai, maka habis sudah perekonomian umat ini di masa mendatang. Para pemilik modal akan dikuasai orang-orang kafir. Yang menjadi bos kebanyakan orang kristen, orang Islam jadi satpamnya, cleaning service-nya, sopir, dll. Bukan bermaksud mendiskreditkan profesi mereka, namun kita harus melihat secara obyektif, bahwa umat Islam harus kuat, salahsatunya kuat secara ekonomi, yang itu bisa ditempuh dengan berdagang atau berwirausaha. 

Lembaga Pendidikan
 Membuat lembaga pendidikan sendiri, entah berbasis pada Islam atau ilmu-ilmu umum, bisa menjadi sebuah movement yang efektif. Mengingat pentingnya pendidikan bagi generasi umat ini selanjutnya lembaga pendidikan menjadi alternatif bagi sekuleritas sekolah di Indonesia. Orang tua jaman sekarang tidak banyak memberikan bekal aqidah kepada anak-anaknya, pendidikan agama disekolah sangat dangkal, saat kuliah apalagi, sedangkan pergaulan bebas, pacaran, gaya hidup barat mudah sekali diakses. Belum lagi internet yang tinggal klik saja udah keluar tuh gambar-gambar dan video “syetan”. Semua itu menjadi pengingat pentingnya lembaga pendidikan non formal yang dikelola oleh pengemban-pengamban dakwah. Yang mengajarkan betapa pentingnya akhlak dan pondasi aqidah.
 Tidak harus skala besar, seorang saudara saya membentuk sebuah lembaga bimbingan belajar untuk anak-anak yang kurang mampu, awalnya hanya kurang dari 10 siswa, namun hari ini bisa lebih dari 30 siswa. Keistiqomahan yang luar biasa dan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi generasi penerus umat inilah yang membuat hatinya kuat.

Newsletter/ Magazine
 Newsletter atau magazine atau 'zine (disingkat) atau bulletin atau majalah atau selebaran atau apa sajalah bentuknya, selama itu untuk berorientasi dakwah maka sangat penting digalakkan. Media massa yang ada di sekeliling kita tidak bisa menjawab permasalahan-permasalahan dakwah dan umat ini. Kebanyakan dari media massa justru banyak menyudutkan posisi Islam dan mendemonologi (memburukkan wajah) Islam dihadapan publik demi profit. Umat Islam membutuhkan media tandingan, yaitu media yang mempu mengambil alih ketergantungan umat kepada media massa sekuler. Memang tidak masalah kita mengkonsumsi media massa yang ada, namun kita harus pandai-pandai memilah berita serta membentengi diri dari maksud terselubung dari para elit media.
 Jumlah selebaran yang dibagikan ketika shalat Jumat memang sudah tak kurang, namun seringkali yang terjadi menjadi ajang bagi kelompok atau jamaah dakwah tertentu untuk menjatuhkan kelompok atau jamaah sakwah lainnya. Ada yang sukanya mencari aib saudaranya yang berbeda jamaah. Bahkan ada yang sampai memaki-maki. Media dakwah yang seperti ini sangat tidak kami dukung karena orientasinya berbeda dengan kita. Kalo kami berorientasi mengkonstruksi peradaban dengan saling bahu-membahu antar tiap-tiap gerakan dakwah, tapi mereka berorientasi pada dekonstruksi (pengerobohan). Dakwahnya bukan mengajak pada kebaikan, tapi malah menyikuti gerakan-gerakan dakwah lain.
 Menulis, lalu dipublikasikan untuk disebarluaskan melalui media dakwah adalah suatu bentuk dakwah bil qolam (dakwah dengan pena). Itu juga merupakan salah satu indikator keilmuan seseorang dalam Islam. Semakin banyak input yang didapat ketika membaca suatu buku, mendengarkan kajian, diskusi, dll maka semakin banyak materi yang semestinya menjadi bahan dakwahnya.
Membuat media dakwah itu SANGAT gampang. Saya sengaja mencetak tebal karena memang begitu mudahnya hingga banyak organisasi dakwah yang konsisten menerbitkan hampir tiap jumat. Soal teknisnya, akan saya jelaskan di lain waktu. InsyaAllah.

Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh
 Seorang ustadz lulusan doktoral di Saudi Arabia pernah berkata dalam suatu kajian, bahwa seandainya seluruh umat Islam dalam negeri ini mau mengeluarkan zakat secara rutin maka kemiskinan di negeri ini akan terselesaikan. Saya membayangkan kalau itu baru zakat saja. Jika infaq dan shodaqoh juga digalakkan maka memungkinkan kondisi negara ini hidup makmur tanpa hutang luar negeri. Setelah kajian itu saya menjadi yakin suatu saat dunia ini akan memiliki khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz lagi. Yang terkenal kezuhudannya, terkenal keadilannya, dan berhasil membuat masyarakat makmur, sampai-sampai untuk menyalurkan zakat saja harus keliling ke seluruh negerinya dan tak juga menemukan orang yang berhak menerima zakat.
 Mengingat negeri ini mayoritas umat Islam, baru segelintir saja yang sadar zakat. Maraknya lembaga amil zakat yang eksis saat ini belum mampu menyakup seluruh masyarakat negeri untuk sadar zakat. Sangat cocok bagi kita untuk memulai sebuah gerakan yang berbasis manajemen ZIS (Zakat, Infaq, Shodaqoh). Membuatnya lembaga seperti ini sangat mudah. Perijinannya juga tidak sulit. Jika kita ingin memulai, maka modal yang paling besar bagi kita adalah track record kita sebelumnya dihadapan orang lain yaitu kejujuran, kepercayaan, dan tanggungjawab.
 Saat ini lembaga-lembaga amil zakat yang telah ada, seringkali mengadakan training manajemen zakat bagi para calon amil zakat. Event seperti ini sangat luar biasa manfaatnya. Kalau di daerah antum blum ada event semacam ini, maka bisa juga antum konsultasi pada ustadz yang memang ahlinya.

Movement lokal di lingkungan kita tidak hanya terbatas pada bentuk-bentuk seperti yang saya sebutkan diatas saja, masih banyak yang tak tersebutkan disini seperti organisasi remaja masjid, organisasi kajian jurusan di universitas-universitas, atau lainnya. Yang pasti apapun bentuk movement anda yang itu punya satu misi yang sama, maka istiqomahlah! Bersemangatlah anda semua, karena kita sedang melakukan langkah-langkah kecil menuju peradaban yang kita idam-idamkan. Walau seandainya kita tak menikmati kejayaan itu di masa hidup kita, minimal anak keturunan kitalah yang bangga dan bahagia menerima warisan perjuangan yang indah ini dari kita. InsyaAllah..
Wallahu a'lam. [aa]

Sebenarnya Kita ini Arsitek!

Cita-cita besar kejayaan Islam itu bukan hal yang mudah. Yang pasti dibutuhkan kerja keras yang super-ekstra untuk mewujudkannya. Nggak bisa kita cuma mengandalkan para juru dakwah yang sangat minimal jumlahnya di dunia ini, lalu kita sendiri tidak berbuat apa-apa. Berislam dengan merasa cukup soleh hanya dengan sholat, puasa, zakat dan mengaji (itu kalo yang bisa ngaji-pen). Kita lihat saja nanti apa yang terjadi, kalo bukan Islam malah menjadi bulan-bulanan dan bahan ejekan oleh orang kafir. Yah, seperti sekarang ini!
Kerja keras yang super-ekstra untuk mewujudkan kebangkitan Islam salah satunya adalah dengan menumbuhkan rasa tanggungjawab pada diri kita untuk mengambil bagian dalam momen besar kebangkitan tersebut. Yaitu tentang seberapa banyak 'rasa memiliki' dalam diri kita terhadap tegaknya agama ini. Juga tentang seberapa besar andil kita dalam mewujudkan kebangkitan itu. Atau tentang apa saja yang telah kita lakukan demi perjuangan dakwah. Memang, tanpa keberadaan kita dalam barisan dakwah, tidak akan mengubah Sunnatullah bahwa kelak Islam akan bangkit kembali. Islam akan menang kembali. Namun pertanyaan-pertanyaan tadi adalah untuk menjawab seberapa besar kecintaan kita terhadap agama yang mulia ini. Ini yang harus terus kita dengungkan dalam pikiran kita. Jangan sampai ada di antara kita yang ketinggalan momen ini, dimana kejayaan sudah diraih namun tidak ikut berbuat apa-apa. Kalo sudah begitu, pertanyaan yang cocok adalah “Ente Islam apa nggak sih?”. Kalo dia jawab “iya”, pertanyaan selanjutnya,“trus kemana aje lu selama ini?”.
Setiap diri kita adalah 'arsitek'. Arsitek yang ikut membangun terwujudnya peradaban Islam di muka bumi ini. Kita bisa ikut merancang wajah dunia Islam ini seindah mungkin. Dan mungkin, jika ternyata kerja keras kita secara maksimal itu hanya terlihat seperti sebuah batu bata dalam bangunan megah dan tinggi bernama kejayaan dan peradaban, itu sudah hal yang luar biasa. Karena yakinlah, bahwa bangunan yang besar itu tak akan lengkap tanpa satu batu bata itu, yaitu dirimu. Yakinlah bahwa mungkin jika kamu tak ada di situ, bangunan itu akan bertambah rapuh. Semakin banyak individu-individu yang tidak ambil bagian disitu, akan membuat bangunan itu bertambah rapuh. Dan akhirnya bangunan kejayaan dan peradaban hanya angan-angan. Namun sebaliknya, semakin banyak individu-individu yang turut mengokohkan berdirinya peradaban dan kejayaan maka kekuatan dan kekokohan bangunan itu akan lebih dahsyat. Yang mana tak ada satupun yang mampu merobohkannya, karena bangunan itu dibangun atas pondasi Kalimatullah, dan kitalah arsitek sekaligus bahan bakunya!!!

Aditya Abdurrahman