Ikut andil dalam sebuah proyek mengkonstruksi peradaban adalah dengan membuat sebuah gerakan-gerakan. Disini kami menggunakan istilah 'gerakan' karena 'gerakan' berarti sebuah bentuk aktifitas perpindahan tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Atau bisa diartikan sebagai perpindahan menuju sebuah tujuan yang diimpikan. Aktivitasnya dilakukan bukan sendiri-sendiri dan tidak ada sangkut pautnya antar individu, namun semua lakukan bersama-sama, serempak, dan bahu-membahu. Walaupun dengan 'bendera' kelompoknya masing-masing, tapi tetap merasa satu hati dengan kelompok-kelompok lainnya.
Gerakan dapat diartikan bahwa setiap aktifitasnya selalu berorientasi pada perubahan. Karena pada dasarnya bergerak berarti berubah posisi. Dari posisi yang lama, yang kurang baik, menuju posisi yang lebih baik.
Jika setiap individu-individu dari umat Islam ini kembali membuat suatu aksi nyata berupa gerakan-gerakan, entah bergabung dengan gerakan-gerakan Islam yang sudah ada maupun membentuk gerakan baru dengan tujuan yang sama, ibarat kita sedang meletakkan batubata-batubata untuk membangun gedung yang sangat tinggi dan megah. Tanpa batubata-batubata yang kita letakkan itu tidak akan lengkap bangunan itu berdiri.
Bergabung dengan gerakan-gerakan Islam yang sudah ada memang dianjurkan, selama gerakan itu berorientasi pada tegaknya hukum Allah (Al-Qur'an dan As-Sunnah) dimuka bumi ini, namun disamping itu kita bisa saja membuat aktifitas-aktifitas lain yang bisa dikategorikan dalam gerakan-gerakan kecil. Yang didalamnya kita dapat memodifikasi cara dakwah kita kepada segmen-segmen dakwah yang lebih spesifik. Lebih konkritnya, kami contohkan saja, jika seorang aktifis dakwah sudah bergabung dalam gerakan dakwah A, yang notabene sudah termasuk gerakan dakwah besar berskala nasional atau internasional, masih boleh dan dianjurkan untuk membuat aktifitas-aktifitas dakwah lokal di lingkungannya dimana dia berada. Misalnya, yang masih mahasiswa, dia bisa mengaktifkan lembaga dakwah kampus, atau mengaktifkan lembaga kajian jurusan di kampusnya masing-masing, dan lain sebagainya. Tanpa gerakan-gerakan dakwah lokal tersebut maka segmen dakwah yang mayoritas ada disekeliling kita akan sulit dirangkul. Begitu juga dilingkungan yang lain seperti di kantor, di kampung, di organisasi, dan sebagainya, tidak menutup kemungkinan kita membentuk komunitas-komunitas kecil untuk memulai sebuah gerakan baru.
Apa saja bentuk aksi kita dalam mengambil bagian dalam perjuangan dakwah ini? Jawabnya, banyak sekali! Bisa apa saja, yang penting punya orientasi dakwah didalamnya. Beberapa contoh dan gambaran movement lokal yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut:
Organisasi/ Komunitas Dakwah Mini
Membentuk komunitas-komunitas kecil yang didalamnya diisi oleh aktifitas-aktifitas yang bermanfaat seperti diskusi tentang topik-topik Islam, bedah buku, nonton bareng film religi, dll. Anda bisa mengajak teman-teman dekat anda. Mungkin cukup bagus jika bisa diikuti oleh 5-10 orang atau lebih. Jadwalkan pertemuan rutin itu berikut tempatnya. Koordinasi aktifitas-aktifitas didalamnya seperti menentukan topik diskusi apa yang akan diangkat, buku mana yang pas untuk dibedah, yang bahasannya ringan, tipis, tapi sarat hikmah. Bentuk aktifitas seperti ini membutuhkan koordinator yang handal, yang bisa terus memotivasi tiap teman-temannya yang bergabung agar tetap semangat. Dia juga harus kreatif tentang format dan suasana disetiap pertemuan yang diadakan. Buat momen-momen yang bisa mendukung aplikasi dari apa-apa yang telah dibahas didalamnya. Bisa dengan banyak cara; bikin resume lalu di up-load di blog, membuat aksi-aksi kecil untuk sosial, belajar berjualan untuk mengisi kas bersama. Santai saja asal mereka solid dan terus semangat berlomba-lomba demi turut andil dalam dakwah.
Aktifitas model ini mirip halaqoh ilmu. Namun pelaksanaannya berbeda. Mungkin lebih independen. Disini cukup ada orang yang mampu mengkoordinasi teman-temannya tanpa harus ada murobbi yang membimbing materi tarbiyah secara urut dan baku.
Nasyid
Atau bisa dengan cara membuat tim nasyid, lalu berusaha produktif dengan mengarang lagu-lagu sendiri, lalu mempublikasikannya secara mandiri. Tentunya berbeda dengan tim-tim nasyid yang hanya sekedar ingin menyanyi didepan audiens, tapi yang ini kental dengan nuansa dakwah. Seolah tim nasyidnya adalah medan jihadnya untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Merilis album nasyid secara mandiri (atau saya menyebutnya do it yourself!) bukanlah hal yang sulit. Jangan kira tim nasyid yang kita bentuk bisa selalu dilirik perusahaan rekaman besar lalu dakwah kita meluas ke penjuru negeri. Perusahaan label rekaman di negeri ini mungkin mengharuskan kita punya tampang mirip Ariel Peterpan atau sekalian Ariel Sharon baru kita bisa beken. Selain itu, lewat!
Btw, studio rekaman amatir sudah sangat banyak di kota ini. Biayanya mungkin juga tidak terlalu mahal, yang penting kalo mic-nya bukan sekualitas mainan anak-anak, saya rasa gak masalah. Menggandakan bisa menggunakan format kaset atau cd, atau bahkan mp3 gratisan saja. Hasilnya bisa juga dijual dengan mengganti ongkos produksi per-kepingnya. Kalo nggak ya bikin promo dengan bagi-bagikan aja, itung-itung pesan dakwahnya tersampaikan. Oh iya, supaya efektif jangan lupa cantumkan lirik lagu dan penjelasannya. Buatlah orang ketika mendengarkan tim nasyid anda, merasa penting untuk tahu apa yang sedang anda ucapkan. Buatlah mereka merasa penting untuk membaca pesan-pesan dakwah dalam lembaran kovernya. Karena jika lirik nasyid anda 'tidak berisi', anda juga tidak menganggapnya penting, maka sia-sia saja berdakwah lewat nasyid.
Di kota ini (Surabaya-red) mungkin ada tim-tim nasyid yang bermunculan. Namun saya belum pernah mendengar mereka percaya diri mengarang lagu-lagu dan liriknya sendiri. Menyanyikan lagu-lagu milik tim nasyid lain yang sudah tersohor menjadikan tim nasyid lokal kita mirip-mirip band top40 yang serba bias dan siap menerima re-quest. Sehingga kesannya jadi seperti itu. Udah gitu identiknya manggung di kondangan-kondangan atau walimah nikah saja. (Waduh…)
Bukannya apa-apa, maksud saya, jika kita melihat kembali sejarah kenapa nasyid itu muncul, adalah karena motivasi jihad dan dakwah. Saat ini motivasi itu sudah mulai memudar dan berganti dengan alunan lagu yang mellow plus lirik yang miskin semangat dakwah dan jihad. Mungkin sudah saatnya kita kembalikan lagi semangat nasyid untuk pergerakan Islam. Menjadikan nasyid sebagai soundtrack bagi perjuangan para mujahid-mujahid dimedan pertempuran dan dakwah. Yang membuat kita lebih bersemangat untuk bangkit untuk perbaikan daripada terus berlama-lama termenung menyesali dosa.
Training Center
Organisasi-organisasi pelatihan atau training center sudah mulai ada disekitar kita. Namun belum banyak, karena memang miskin dukungan. Organisasi yang semacam itu yang bergerak untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan di tingkat sekolah menengah juga kurang mendapat respon yang baik, artinya hanya segelintir sekolah yang mempercayakan murid-muridnya untuk memiliki aktifitas diluar sekolah semacam itu. Padahal jika training-training yang berbasis pengembangan kepribadian (EQ) dan spiritualitas (SQ) itu dikembangkan untuk siswa-siswa sekolah menengah atau mahasiswa, saya sangat yakin dapat berdampak luar biasa. Karena segmen remaja/pemuda-pemudi adalah sasaran dakwah yang empuk dan bergizi tinggi. Potensi mereka sangat luar biasa. Mereka sumber energi dan ide-ide brillian. Itu yang membuat jenis local movement seperti ini efeknya akan besar. InsyaAllah.
Pemain-pemainnya tentu harus mereka-mereka yang cukup ilmu untuk bergerak. Dalam bentuk movement ini perlu ada tarbiyah yang bersifat intern, dan waktunya cukup lama di awal, sampai mereka menghasilkan kader-kader yang unggul. Dan jika ingin belajar lebih banyak tentang bagaimana mengembangkan movement jenis ini, kita bisa belajar ke saudara-saudara di Uswah Student Center (Surabaya) maupun Trustco (Surabaya).
Training-training center mungkin harus mengesampingkan orientasi profit yang berlebihan. Hindari eksklusifitas yang berlebihan sehingga hanya golongan sosial tertentu saja yang bisa ikut. Mereka harus berorientasi pada satu tujuan utama yaitu dakwah, menyeru kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Ada kalanya profit diperlukan namun hanya sebatas uang lelah. Yang nominalnya mungkin tidak terlalu dipermasalahkan, atau mungkin seikhlasnya saja jauh lebih baik.
Toko/ Distro/ Individual Business
Membuat toko sendiri, entah kecil-kecilan, atau yang besar sekalian, yang memiliki orientasi dakwah, cukup memberikan dampak yang luar biasa pada aspek gaya hidup umat. Semakin umat ini terbiasa menggunakan produk-produk muslim dan muslimah berarti bisa menggantikan ketergantungan mereka terhadap produk-produk milik orang-orang kuffar. Sedangkan bagi yang baru bisa berjualan dari mulut ke mulut, apa yang dilakukannya adalah sebuah pembelajaran yang luar biasa untuk jujur dan ulet. Hal ini terutama bagi yang masih sekolah atau kuliah. Melatih mental pemuda untuk berjiwa wirausaha itu sangat penting. Karena dengan berjualan bukan hanya kejujuran dan keuletan saja yang menjadi aspek penting, tapi kreatifitas seseorang akan terlatih. Kalo mental umat ini hanya menjadi pegawai, maka habis sudah perekonomian umat ini di masa mendatang. Para pemilik modal akan dikuasai orang-orang kafir. Yang menjadi bos kebanyakan orang kristen, orang Islam jadi satpamnya, cleaning service-nya, sopir, dll. Bukan bermaksud mendiskreditkan profesi mereka, namun kita harus melihat secara obyektif, bahwa umat Islam harus kuat, salahsatunya kuat secara ekonomi, yang itu bisa ditempuh dengan berdagang atau berwirausaha.
Lembaga Pendidikan
Membuat lembaga pendidikan sendiri, entah berbasis pada Islam atau ilmu-ilmu umum, bisa menjadi sebuah movement yang efektif. Mengingat pentingnya pendidikan bagi generasi umat ini selanjutnya lembaga pendidikan menjadi alternatif bagi sekuleritas sekolah di Indonesia. Orang tua jaman sekarang tidak banyak memberikan bekal aqidah kepada anak-anaknya, pendidikan agama disekolah sangat dangkal, saat kuliah apalagi, sedangkan pergaulan bebas, pacaran, gaya hidup barat mudah sekali diakses. Belum lagi internet yang tinggal klik saja udah keluar tuh gambar-gambar dan video “syetan”. Semua itu menjadi pengingat pentingnya lembaga pendidikan non formal yang dikelola oleh pengemban-pengamban dakwah. Yang mengajarkan betapa pentingnya akhlak dan pondasi aqidah.
Tidak harus skala besar, seorang saudara saya membentuk sebuah lembaga bimbingan belajar untuk anak-anak yang kurang mampu, awalnya hanya kurang dari 10 siswa, namun hari ini bisa lebih dari 30 siswa. Keistiqomahan yang luar biasa dan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi generasi penerus umat inilah yang membuat hatinya kuat.
Newsletter/ Magazine
Newsletter atau magazine atau 'zine (disingkat) atau bulletin atau majalah atau selebaran atau apa sajalah bentuknya, selama itu untuk berorientasi dakwah maka sangat penting digalakkan. Media massa yang ada di sekeliling kita tidak bisa menjawab permasalahan-permasalahan dakwah dan umat ini. Kebanyakan dari media massa justru banyak menyudutkan posisi Islam dan mendemonologi (memburukkan wajah) Islam dihadapan publik demi profit. Umat Islam membutuhkan media tandingan, yaitu media yang mempu mengambil alih ketergantungan umat kepada media massa sekuler. Memang tidak masalah kita mengkonsumsi media massa yang ada, namun kita harus pandai-pandai memilah berita serta membentengi diri dari maksud terselubung dari para elit media.
Jumlah selebaran yang dibagikan ketika shalat Jumat memang sudah tak kurang, namun seringkali yang terjadi menjadi ajang bagi kelompok atau jamaah dakwah tertentu untuk menjatuhkan kelompok atau jamaah sakwah lainnya. Ada yang sukanya mencari aib saudaranya yang berbeda jamaah. Bahkan ada yang sampai memaki-maki. Media dakwah yang seperti ini sangat tidak kami dukung karena orientasinya berbeda dengan kita. Kalo kami berorientasi mengkonstruksi peradaban dengan saling bahu-membahu antar tiap-tiap gerakan dakwah, tapi mereka berorientasi pada dekonstruksi (pengerobohan). Dakwahnya bukan mengajak pada kebaikan, tapi malah menyikuti gerakan-gerakan dakwah lain.
Menulis, lalu dipublikasikan untuk disebarluaskan melalui media dakwah adalah suatu bentuk dakwah bil qolam (dakwah dengan pena). Itu juga merupakan salah satu indikator keilmuan seseorang dalam Islam. Semakin banyak input yang didapat ketika membaca suatu buku, mendengarkan kajian, diskusi, dll maka semakin banyak materi yang semestinya menjadi bahan dakwahnya.
Membuat media dakwah itu SANGAT gampang. Saya sengaja mencetak tebal karena memang begitu mudahnya hingga banyak organisasi dakwah yang konsisten menerbitkan hampir tiap jumat. Soal teknisnya, akan saya jelaskan di lain waktu. InsyaAllah.
Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh
Seorang ustadz lulusan doktoral di Saudi Arabia pernah berkata dalam suatu kajian, bahwa seandainya seluruh umat Islam dalam negeri ini mau mengeluarkan zakat secara rutin maka kemiskinan di negeri ini akan terselesaikan. Saya membayangkan kalau itu baru zakat saja. Jika infaq dan shodaqoh juga digalakkan maka memungkinkan kondisi negara ini hidup makmur tanpa hutang luar negeri. Setelah kajian itu saya menjadi yakin suatu saat dunia ini akan memiliki khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz lagi. Yang terkenal kezuhudannya, terkenal keadilannya, dan berhasil membuat masyarakat makmur, sampai-sampai untuk menyalurkan zakat saja harus keliling ke seluruh negerinya dan tak juga menemukan orang yang berhak menerima zakat.
Mengingat negeri ini mayoritas umat Islam, baru segelintir saja yang sadar zakat. Maraknya lembaga amil zakat yang eksis saat ini belum mampu menyakup seluruh masyarakat negeri untuk sadar zakat. Sangat cocok bagi kita untuk memulai sebuah gerakan yang berbasis manajemen ZIS (Zakat, Infaq, Shodaqoh). Membuatnya lembaga seperti ini sangat mudah. Perijinannya juga tidak sulit. Jika kita ingin memulai, maka modal yang paling besar bagi kita adalah track record kita sebelumnya dihadapan orang lain yaitu kejujuran, kepercayaan, dan tanggungjawab.
Saat ini lembaga-lembaga amil zakat yang telah ada, seringkali mengadakan training manajemen zakat bagi para calon amil zakat. Event seperti ini sangat luar biasa manfaatnya. Kalau di daerah antum blum ada event semacam ini, maka bisa juga antum konsultasi pada ustadz yang memang ahlinya.
Movement lokal di lingkungan kita tidak hanya terbatas pada bentuk-bentuk seperti yang saya sebutkan diatas saja, masih banyak yang tak tersebutkan disini seperti organisasi remaja masjid, organisasi kajian jurusan di universitas-universitas, atau lainnya. Yang pasti apapun bentuk movement anda yang itu punya satu misi yang sama, maka istiqomahlah! Bersemangatlah anda semua, karena kita sedang melakukan langkah-langkah kecil menuju peradaban yang kita idam-idamkan. Walau seandainya kita tak menikmati kejayaan itu di masa hidup kita, minimal anak keturunan kitalah yang bangga dan bahagia menerima warisan perjuangan yang indah ini dari kita. InsyaAllah..
Wallahu a'lam. [aa]
No comments:
Post a Comment