Cita-cita besar kejayaan Islam itu bukan hal yang mudah. Yang pasti dibutuhkan kerja keras yang super-ekstra untuk mewujudkannya. Nggak bisa kita cuma mengandalkan para juru dakwah yang sangat minimal jumlahnya di dunia ini, lalu kita sendiri tidak berbuat apa-apa. Berislam dengan merasa cukup soleh hanya dengan sholat, puasa, zakat dan mengaji (itu kalo yang bisa ngaji-pen). Kita lihat saja nanti apa yang terjadi, kalo bukan Islam malah menjadi bulan-bulanan dan bahan ejekan oleh orang kafir. Yah, seperti sekarang ini!
Kerja keras yang super-ekstra untuk mewujudkan kebangkitan Islam salah satunya adalah dengan menumbuhkan rasa tanggungjawab pada diri kita untuk mengambil bagian dalam momen besar kebangkitan tersebut. Yaitu tentang seberapa banyak 'rasa memiliki' dalam diri kita terhadap tegaknya agama ini. Juga tentang seberapa besar andil kita dalam mewujudkan kebangkitan itu. Atau tentang apa saja yang telah kita lakukan demi perjuangan dakwah. Memang, tanpa keberadaan kita dalam barisan dakwah, tidak akan mengubah Sunnatullah bahwa kelak Islam akan bangkit kembali. Islam akan menang kembali. Namun pertanyaan-pertanyaan tadi adalah untuk menjawab seberapa besar kecintaan kita terhadap agama yang mulia ini. Ini yang harus terus kita dengungkan dalam pikiran kita. Jangan sampai ada di antara kita yang ketinggalan momen ini, dimana kejayaan sudah diraih namun tidak ikut berbuat apa-apa. Kalo sudah begitu, pertanyaan yang cocok adalah “Ente Islam apa nggak sih?”. Kalo dia jawab “iya”, pertanyaan selanjutnya,“trus kemana aje lu selama ini?”.
Setiap diri kita adalah 'arsitek'. Arsitek yang ikut membangun terwujudnya peradaban Islam di muka bumi ini. Kita bisa ikut merancang wajah dunia Islam ini seindah mungkin. Dan mungkin, jika ternyata kerja keras kita secara maksimal itu hanya terlihat seperti sebuah batu bata dalam bangunan megah dan tinggi bernama kejayaan dan peradaban, itu sudah hal yang luar biasa. Karena yakinlah, bahwa bangunan yang besar itu tak akan lengkap tanpa satu batu bata itu, yaitu dirimu. Yakinlah bahwa mungkin jika kamu tak ada di situ, bangunan itu akan bertambah rapuh. Semakin banyak individu-individu yang tidak ambil bagian disitu, akan membuat bangunan itu bertambah rapuh. Dan akhirnya bangunan kejayaan dan peradaban hanya angan-angan. Namun sebaliknya, semakin banyak individu-individu yang turut mengokohkan berdirinya peradaban dan kejayaan maka kekuatan dan kekokohan bangunan itu akan lebih dahsyat. Yang mana tak ada satupun yang mampu merobohkannya, karena bangunan itu dibangun atas pondasi Kalimatullah, dan kitalah arsitek sekaligus bahan bakunya!!!
Aditya Abdurrahman
No comments:
Post a Comment