
Sutradara: Hanung B
Tahun lalu, masih teringat di kepala, saat saya pertama kali menonton film berjudul Perempuan Berkalung Sorban. Dengan menggunakan artis-artis terkenal dan teknik sinematografi yang handal membuat film ini cukup ‘sukses’ untuk mencabik-cabik syariat sembarangan dengan merepresentasikan Islam layaknya agama yang penuh dengan pelanggaran hak asasi manusia. Bagaimana tidak, disana sangat kental dengan cerita dan adegan yang mendiskreditkan wanita, menempatkan wanita sebagai makhluk yang lemah, tertindas, tidak berdaya, hina, dan tidak lebih mulia dibandingkan laki-laki. Dan celakanya, cerita tersebut diangkat dalam nuansa Islam dan terjadi di lingkungan pesantren.
Ketika Hanung Bramantyo, sang sutradara, didebat di salah satu acara televisi swasta, dia mengatakan yang pada intinya film itu dia buat justru untuk mengangkat citra Islam. Dia katakan bahwa alur cerita yang kontroversi tersebut pada akhirnya bermuara pada titik dimana perempuan memperoleh tempat yang mulia dalam agama.
Tapi tetap saja, semua itu tidak membuat Perempuan Berkalung Sorban lalu dianggap sebagai film yang benar dalam membahas mengenai isu gender dalam Islam. Tetap saja parameter kemuliaan wanita disana diukur dengan menempatkan posisi wanita sebagai makhluk yang setara dalam hal peran keduniaan dengan laki-laki.
Sejujurnya, ketika saya menonton film ini, seolah film ini merepresentasikan betapa patriarki-nya kehidupan pesantren pada umumnya di Indonesia. Seolah para ustad dan kyai yang seharusnya dianggap berilmu dan paling memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu semuanya bodoh dan tidak ada yang paham bagaimana Islam memuliakan wanita, hingga didalam film itu mereka semua begitu “membudayakan” perilaku yang mendominasi wanita. Laki-laki direpresentasikan sebagai makhluk yang sadis dalam memperlakukan wanita. Ditambah lagi perilaku-perilaku tersebut berlabelkan atas nama Islam. Seolah Islam-lah yang melegitimasi sikap mereka seperti itu terhadap perempuan. Saya sampai berkali-kali menggelengkan kepala menonton film ini...sambil bergumam,”seandainya ada orang awam yang menonton film seperti ini, apa tidak sama berbahayanya dia nonton film Fitna atau sejenisnya?”. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama film yang asal comot ayat, lalu sembarangan mengartikulasikannya dalam audio visual.
Mungkin ada sedikit rasa husnuzhan ketika mendengar Hanung mengatakan bahwa film itu justru niatnya untuk mengangkat citra Islam. Tapi sayang cara tersebut bisa dibilang sebagai cara terbodoh yang sudah dia lakukan. Buktinya dapat kita lihat sendiri, bagaimanapun di akhir cerita disimpulkan bahwa Islam memuliakan wanita, tapi hampir 80% lebih adegan-adegan sebelumnya telah menampilkan representasi yang buruk terhadap Islam. Dan itu semua tidak bisa dijawab dan ‘dinetralisir’ hanya dengan klimaks cerita yang secuil di akhir! Artinya, seluruh cerita di awal itu telah mengkonstuksi gambaran yang sangat kuat tentang syariat Islam yang sangat tidak berpihak pada perempuan. Kenapa hal itu terjadi? Itu semua karena porsi negatif yang ditampilkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan porsi tentang gambaran positif di akhir cerita. Seperti yang kita tahu, suatu pesan yang bertubi-tubi di’tembak’kan kepada audiens akan sangat mudah tertancap kuat dibenaknya.
Menurut saya, film ini sepertinya salah tempat. Islam tidak pernah berjalan seiring dengan faham-faham feminisme yang berusaha dicampurkan didalamnya. Dan selamanya Islam tidak akan pernah sejalan dengan emansipasi wanita ala HAM yang selalu jadi topik kampanye orang-orang Barat. Karena Islam tidak perlu HAM untuk memuliakan wanita. Karena Islam sudah memuliakan wanita sejak awal Islam itu ada dimuka bumi. [aa]
No comments:
Post a Comment