Interview dengan Adian Husaini

Saya mulai tahu tulisan-tulisan beliau ketika sering dimuat di majalah Suara Hidayatullah. Dari awal saya sudah mengira bahwa beliau punya spesialisasi dakwah di bidang pemikiran. Diluar itu, ternyata beliau juga menulis buku dengan cukup produktif. Beberapa judul yang menurut saya buku tersebut luar biasa adalah “Penyesatan Opini”, “Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam”, dan “Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran”. Beliau juga menulis catatan akhir pekan yang selalu update di dalam situsnya. Menarik, karena pengalaman dan wawasan beliau sangat luas.

 Nah, suatu hari saya menghampiri beliau selesai suatu kajian tentang peradaban Barat. Saya mencoba untuk berkenalan dan meminta kontaknya. Sambil sekalian waktu itu saya keluarkan beberapa eksemplar Sa’i zine untuk saya berikan kepada beliau. Syukur-syukur kalo dibaca. Kalo enggak, pasti karena nggak sempet, bukan nggak mau J.Beberapa hari kemudian saya kirim pertanyaan-pertanyaan ini via email, lalu saya sms beliau agar beliau menyempatkan diri untuk menjawabnya. Diluar dugaan, beberapa jam kemudian email masuk sudah berisi jawaban. Itu yang saya ingin bagikan sekarang.

 

Assalamualaikum wrwb. Saya dari SA’I ‘zine, ingin ngobrol-ngobrol sama antum, ust. Terutama tentang permasalahan media dan umat Islam. Menurut antum, seberapa penting peran media dalam dakwah? Selama ini sampai dimana posisi kita dalam memanfaatkan media sebagai sarana untuk berdakwah?

Jawab: Kita telah banyak memanfaatkannya. Tapi, masih belum benar-benar optimal. Untuk itu, perlu orang-orang yang profesional dalam media, sekaligus menguasai pemikiran Islam dengan baik, dan berjiwa dakwah yang tinggi. Di sini masih ada kesenjangan. pelaku dan praktisi media bnanyak yang tidak memahami pemikiran Islam dengan baik, begitu juga sebaliknya, banyak mubaligh, ulama, atau ustad yang tidak memahami ilmu media dan tidak punya ketrampilan memainkan media dengan baik. ini yang perlu diwujudkan.

 

Selama ini saya merasa kajian-kajian media (terutama disiplin-disiplin ilmu di perguruan tinggi) banyak berbasis ilmu sosial yang sekuler. Apakah karena sebab itu akhirnya hubungan media dengan Islam tidak begitu dekat, atau dengan kata lain, umat Islam tidak terlalu berpikir untuk melek media?

Jawab: Tentu saja pada semua bidang ilmu sekarang Barat yang sekuler dominan. karena itulah diperlukan ilomuwan dan praktisi media yang memahami Islam dengan baik, sehingga dia bisa mengislamkan ilmu media massa.

 

Yahudi sendiri dalam protokol of zion-nya pernah mengatakan bahwa target utama mereka adalah menguasai media massa di dunia. Hasilnya, seperti yang kita tahu, begitu banyak media massa international telah berhasil di kuasai Yahudi. Masihkah ada harapan bagi kita untuk mengungguli mereka? Usaha apa yang bisa kita lakukan untuk itu?

Jawab: Yahudi berkuasa di sektor ini karena kerja keras. Umat Islam juga bisa, kalau mau kerja keras. Media massa sekarang bisa eksis bukan hanya terkait dengan ilmu media saja, tetapi juga terkait dengan mentalitas masyarakat dan perekonomian nasional/global. sektor media perlu penanganan yang simultan. karena media bisa hidup kalau didukung oleh umat Islam. untuk itu perlu ada kaitan erat antara berbagai sektor. sekarang, di era informasi yang sangat terbuka, media internet/HP sangat terbuka untuk digunakan sebagai media dakwah yang sangat canggih. Yang masih berat bagi kita adalah TV. tapi, ini juga akan sangat mungkin kita masuki jika ada dukungan yang kuat dari kaum Muslim dari berbagai sektor. Insyaallah tidak lama lagi, kita akan bisa masuk ke sini.

 

Bagaimana dengan media internet, ust? Seberapa efektif penggunaan internet (blog, fesbuk, e-mail) sebagai media dakwah?

Jawab: Tentu saja, sangat potensial untuk digunakan sebagai media dakwah. sekali lagi, hyang diperlukan saat ini, utamanya adalah SDM yang menguasai teknologi informasi dan sekaligus pemikiran Islam, punya ketremapilan media yang tinggi, sehingga dia dapat mengolah informasi dengan baik.

 

Menurut antum, mungkinkah media internet suatu saat nanti menggantikan peran media cetak?

Jawab: Media internet jelas berdqampak besar terhadap media cetak. Ini sudah terjadi. tetapi tidak akan mengganti8kan sepenuhnya, karena masing-masing punya keunggulan. media cetak lebih mudah dan nyaman untuk dibaca. di Barat pun, media cetak tetap terbit, sekalipun didukung oleh internet.

 

Saya pernah membayangkan kelak umat Islam punya stasiun televisi sendiri J. Lalu saya berpikir tentang biayanya sangat besar dan juga sumber biaya tersebut melalui iklan-iklan. Sedangkan kita tahu sendiri iklan-iklan di tv kita sehari-hari punya banyak dampak negatif. Lalu bagaimana cara tv itu bertahan tanpa iklan? Mungkinkah yang beriklan hanya perusahaan yang bernuansa Islami saja? (pertanyaan awam ya? J)

Jawab: Ini tantangan besar. Ini ada kaitannya dengan gerakan pe,mberdayaan potensi ekonomi umat islam sebagai konsumen. banyak produsen yang sekarang non-muslim atau yang sekuler. kalau konsumen kita berdayakan secara Islami, maka mereka yang akan menentukan sikap terhadap suatu produk. jadi, TV Islam akan hidup bersamaan dengan program pemberdayaan konsumen Muslim. Kalau konsumen MUslim tidak mau membeli produk-produk yang pemiliknya tidak bersahabat dengan Islam -- termasuk dengan media Islam -- maka produsen itu akan terpaksa menghidupi juga TV Islam.

 

Saya pernah mendengar bahwa Ulil Abshar sedang membentuk semacam organisasi pers/wartawan liberal, ya? Bagaimana itu, ust? Saya sendiri kurang tahu berita itu? Bisa jelaskan? Lalu bagaimana antum dkk menyikapi ini?

Jawab: Maaf saya juga kurang mendalam dalam memahami ini. hanya baca sekilas.

 

Bagaimana kondisi media massa negeri ini sekarang dibandingkan dengan kondisi 20 tahun yang lalu? (tentang pandangan-pandangan mereka thd Islam, keliberalan mereka, dll)

Jawab: Banyak media yang masih tergantung pada iklan yang dikeluarkan oleh Biro Iklan atau produisen yang non-Muslim atau sekular. Sekarang media sangat tergantung kepada selera pasar yang memuja syahwat. jadi, banyak yang ikut arus. tapi ini juga ada kaitan dengan para praktisi media yang berpikiran sekular/liberal. secara prinsip, tidak banyak berubah. hanya sekjarang jah lebih bebas dan terbuka, karena media hanya bergantunjg kepada pemilik modal.

 

Bisa menyebutkan 5 judul buku terfavorit antum selama ini dan siapa penulisnya?

1. Islam and Secularism (Prof. Naquib al-Attas)

2. Islam at the Crossroads (Muhammad Asad)

3. Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa Hakadza 'Adat al-Quds (Dr. Majid Irsan al-Kilani).

4. Dll, agak susah disebut...

 

The last,...jazakumullah khair, ust. Kapan-kapan disambung lagi.

1 comment:

Fik said...

Assalamu'alaykum,,. salam kenal, afwan lgsg saaja,. saya dan kawan2 sedang membutuhkan contact person dari ust.Adian (no.hape&email),. jika antum punya, mohon berkenan untuk membaginya.


email saya: fik.assaif@gmail.com

syukon.