Liputan Urban Garage Festival





Jangan ngaku metal kalau nggak shalat. Ketika Islam berfungsi sebagai kendali, banyak anak metal di komunitas underground menjemput hidayah. Mereka tidak menolak modernisasi, tapi menjegal westernisasi. Ada komitmen yang dibangun: No Drugs, No Alcohol, No Violence dan No Free sex. Just Metal.Menjelang malam, anak-anak metal itu sudah berkumpul di pelataran Gedung Rossi Musik di Jalan Fatmawati No. 30, Jakarta Selatan untuk menyaksikan pagelaran musik sekaligus penggalangan dana untuk Palestina. Konser musik yang bertajuk ”Urban Garage Festival” itu diorganize oleh Berandalan Puritan dan Mogers Infantry.Saat menanti band kesayangan mereka, azan Maghrib berkumandang. Siapa nyana, sebagian dari mereka berbondong-bondong menuju masjid, lalu segera membasuh wajah-wajah kumel itu dengan air wudhu. Sabili turut menyaksikan, anak-anak metal tengah merapikan shaftnya untuk shalat berjamaah. ”Sebagian dari mereka, anak-anak Mogers, sebuah komunitas fans band metal legendaris Purgatory,” kata salah seorang komunitas underground.Performance mereka memang eksentrik dan tampak cuek. Sekilas, seperti individu yang tak mau tahu dengan urusan agama. Tapi, lihatlah paradigma baru anak Metal hari ini. Mereka mulai bangga menunjukkan jatidirinya sebagai Muslim sejati. Jangan ngaku anak metal, kalau nggak shalat. Jangan sok metal kalau masih suka mabok (ngedrugs) dan free sex. ”Menyedihkan banget, jika anak metal malu menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Karena gengsi, mau shalat saja, bilangnya mau ke depan untuk beli rokok,” tukas Bonty, salah seorang personil Purgatory.Tak dipungkiri band metal lahir dari peradaban Barat yang bobrok. Peradaban itu memengaruhi jiwa anak-anak muda yang gelap. Mereka larut menjadi individu yang bingung menatap masa depan, tertipu oleh propaganda sesat kaum laknat, hingga menjadi pemuja setan, syahwat, anti kemapanan, bahkan mengabaikan Tuhan. Ketika hidayah Islam datang, pondasi itu terguncang.




Anak-anak Metal yang terlahir sebagai Muslim, mulai menyadari, bahwa mereka secara kultur dan karakter sudah dijadikan ’hamba-hamba sahaya’ yang terjajah. Eksistensi tumbuh, ketika Islam menjadi ideologi, kesadaran baru dan amaliyah mereka.Adalah Tengkorak dan Purgatory, dua kelompok band metal paling senior dan legendaris di kalangan underground, tampil sebagai pendobrak yang mengguncang ideologi band cadas keluar dari pakemnya, yakni dengan menjadikan Islam sebagai nafas hidup mereka. Eksistensi ”sang legend” sebagai agen perubahan menginspirasi generasi metal selanjutnya. Sebut saja seperti The Roots of Madinah, Punk Muslim, AfterMath, Keep it True, Stranded, Qishash, Salameh Hamzah, dan Barat Hijau Indonesia.Kesatuan visi inilah yang mempersaudarakan mereka sebagai komunitas yang unik dan berbeda.


Dari sinilah tercetus “Urban Garage Festival”, semacam forum mereka untuk berkumpul dan berkreasi, bahkan berdakwah dengan pendekatan yang mereka pahami. Dalam kapasitas itu, mereka tak sekadar tampil sebagai musisi beraliran cadas, melainkan juga sebagai dai.Kontra KulturTeman-teman aktivis harokah mungkin merasa aneh dengan fenomena baru ini. Namun, bagi yang belum mengenal komunitas ini dari dekat, jangan su’udzan dulu, apalagi melempar tuduhan anak metal melecehkan Islam. Sedikit yang tahu, bahwa anak metal pun berdakwah. Komunitas metal ini memang berbeda dengan komunitas metal yang lain. Mereka berniat untuk membentuk genre baru ke arah yang lebih Islami. Pertanyaan pun muncul, ini kebangkitan atau degradasi? Kok Muslim ”bermetal-metal ria”?Wawan, vokalis Aftermath, pernah berkonsultasi dengan rekan seniornya seputar stigma buruk yang dilekatkan pada musisi metal muslim. ”Setelah berkonsultasi, saya mendapat jawaban, bahwa segala sesuatu bergantung niatnya. Saya melihat fenomena ini sangat positif.




Apakah salah kalau kami mendekati ajaran-ajaran yang mendekati sang Khalik ke arah yang lebih Islami melalui musik? Saya sendiri lahir dari keluarga Muslim,” ungkap Wawan yang juga seorang enginer.Berangkat sebagai musisi, Wawan mengakui, sebatas inilah kontribusi yang bisa ia berikan untuk sementara waktu. ”Jika hari ini kami memperjuangkan Islam dengan mick dan gitar, kelak kami akan berjihad di jalan Allah dengan pedang dan senjata. Inilah cara kami memberi makan kepada jiwa ini melalui musik. Sebagai Muslim, tentu kami memimpikan tatanan dunia baru, di bawah kepemimpinan Islam dan khilafah,” ujar Wawan bersemangat.Menurut penggagas Urban Garage Festival, Thufail al Ghifari, yang juga vokalis The Roots of Madinah, kegiatan bermusik ini ingin membangun sebuah kontra-kultur untuk membuktikan, bahwa di komunitas ini ruangnya positif, band-bandnya pun bicara atas dasar Islam. ”Kita berangkat dari seorang Muslim yang punya visi untuk membangun komunitas musisi metal yang jauh dari drugs, alcohol, dan free sex. Inilah niat dan tujuan kami. Kita ingin mengembalikan identitas Indonesia atau ketimuran. Jangan berlagak Amrik. Kita Metal, tapi ada filter, tidak sampai tercerabut ketimuran kita sebagai jatidiri.”Senada dengan vokalis Tengkorak, Ombat. ”Penjajahan budaya oleh Barat memang lewat musik metal kayak gini, musik underground yang notebene keras dan brutal. Terus terang, saat ngeband, kita banyak lupanya, ya lupa shalat, lupa diri dan segala macam. Tapi, saat kita sadar, tatkala generasi ini menjadi santapan empuk zionis, maka inilah moment untuk mengubah paradigma lama menuju paradigma baru. Ngeband, tapi tetap menjalankan shalat lima waktu, dan rukun Islam lainnya.”Sejak metal lahir, kata Ombat, propaganda satanisme menjadi momok dan berkembang pesat di seluruh dunia. Ibarat di Medan Perang, jika musuh memerangi dengan senjata, maka harus dilawan dengan senjata. Begitu juga, jika musuh memerangi generasi muda dengan metal, maka kita lawan dengan metal pula. ”Melalui metal, kita bisa lakukan kickback,” kata Ombat.Bonty, personil Purgatory, berpendapat, dulu walisongo pun menyampaikan pesan dakwah dan syiar Islam dengan menggunakan wayang, sekarang eranya Metal sebagai media. ”Yang jelas, gue prihatin, jika generasi Islam di Timur Tengah malah bermetal ria dengan westernisasi-nya, sedangkan Purgatory justru ingin memanfaatkan Metal.”Sebagai musisi Muslim, konsep yang diusung Purgatory dalam bermusik cuma satu, yakni Islam. Prisipnya, Islam bukan dibawa ke dalam metal, tapi Islam itu dasar dari semua hal. ”Apapun yang kita lakukan harus berdasarkan Islam. Artinya, ketika bermusik, tidak pake yang haram-haram.




Pendekatan dakwah kami, nggak pake setting ala kelompok tarbiyah. Kuncinya adalah silaturahim. Biasanya, suatu komunitas tidak akan kuat, kalau silaturahimnya lemah,” tandas Bonty.Gitaris Purgatory ini juga mempertanyakan, jika pakem underground itu anti sistem, tapi kenapa mereka membuat sistem sendiri, seolah kalau metal harus mabok. Bagi anak band, awalnya, agama memang dianggap sebagai sesuatu hal yang privacy (pribadi). Komunitas Purgatory yang dinamakan Mogers sendiri, bukan orang-orang hebat dalam beragama. ”Kami lebih tepat disebut orang yang hijrah. Di komunitas ini, kami ingin mengajak agar generasi muda kembali pada Islam, dan mau mempelajari agamanya sendiri. Apa yang kita sampaikan ke public tentang Islam adalah apa yang kita tahu saja dan sudah dibuktikan. Yang jelas, kita tidak mau melakukan hal yang sia-sia. Kita hanya ingin belajar.”Pernah ada yang meledek Purgatory dengan pendekatan dakwahnya yang unik. ”Ngapain loh ngajak anak-anak yang sudah berantakan. Padahal untuk menolong orang yang tenggelam itu harus nyemplung. Apalagi pengetahuan agama mereka diakui sangat kurang,” kata Bonty berfalsafah.Pendekatan yang sama dilakukan Ahmad Zaki yang selama ini membina komunitas Punk Muslim. ”Ketika fase jemu, bingung itu menyatu, saya mencoba memberikan banyak alternatif dan energi positif.




Ternyata mereka welcome dan punya keinginan untuk bertobat dan merubah diri. Sebagian ada yang berubah drastis 80 derajat, ada juga yang baru 45-60 derajat.”Diakui Zaki, belakangan komunitas Punk Muslim banyak mengislamkan teman-teman punk di jalanan. ”Sejak menjadi Muslim, beberapa diantara mereka, ada yang meninggalkan kebiasaan Mohawk (gaya rambut berdiri) dan piercing (tindik di sejumlah anggota tubuh).




Bahkan, diantara mereka, ada yang nekad menghilangkan tato dengan menggunakan soda api atau PK, kendati resikonya bisa merusak kulit mereka,” ungkap Zaki.Metal pun BerdakwahIngin tahu, pendekatan dan model dakwah yang dilakukan komunitas metal yang satu ini? Hasil pengamatan Sabili di sarang underground, komunitas ini memang berbeda. Dalam hal performance, kaos-kaos distro yang mereka yang kenakan, terutama beberapa vokalis-nya, justru menunjukkan militansi dengan identitas keislamannya. Misalnya saja, kata Allahu Akbar (dalam bahasa Arab) pada kaos mereka. Pekikan Allahu Akbar mewarnai ”Urban Garage Festival” malam itu.Lirik-lirik yang mereka muntahkan lewat musik cadas ini sebagian besar mengecam sikap barbar Barat dan zionis Israel terhadap umat Islam di Palestina dan dunia Islam. Satu hal, mereka sangat membenci kemunafikan. Beberapa lirik mereka, ada yang terkesan ”utopia”, sebuah kerinduan tentang khilafah.Juga lihatlah teaterikal yang diperlihatkan personil Purgatory dengan topeng ”monsternya” di atas panggung. Band metal mana yang melafadzkan kalimah syahadat, selain yang satu ini. Asyhadualla, ilaaha illallah. Waasyhadu anna Muhammadarrasulullah. Nyeleneh? Tidak. Mereka tidak sedang melecehkan Islam. Inilah cara dakwah dan syiar Islam yang mereka pahami. Bukan hanya syahadat, mereka mengajak fans yang hadir untuk bersholawat.Yang menarik, Ombat, sang vokalis band Tengkorak, tak sungkan mengajak istrinya yang berjilbab bergabung di komunitas ini. Saat berinteraksi, Ombat, bukan sekadar growling (suara mengeram khas Metal), tapi layaknya dai yang berdakwah. Ia mengajak anak-anak muda untuk bangga sebagai muslim dan tidak meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan ia mengajak komunitasnya untuk mengubah posisi tangan metal dengan telunjuk ke arah langit, sebagai simbol ketauhidan.Awalnya mungkin ikut-ikutan, tapi kelak kesadaran baru itu tumbuh. Ombat yakin, komunitas metal muslim ini akan menjadi sebuah jamaah yang besar. ”Ini semua karena hidayah dari Allah. Sesama Muslim, sejatinya saling menasehati. Tak soal, jika bermula dari skala kecil lebih dulu. Jika berangkat dari yang besar, biasanya cepat tenggelam. Tapi kalau dipupuk, dari kecil hingga besar susah punahnya. Inilah tonggak awal, sejarah baru dari sebuah komunitas yang menjadikan Islam sebagai ideologi. Harus diakui, dulu kita pernah jadi korbannya, maka hari ini kita tunjukkan, kita metal, tapi tetap punya otak, punya akidah,” ujar lelaki botak yang berprofesi sebagai pengacara dari LBH Muslim ini.Bagaimanapun, harokah Islam harus menghargai ”ijthad” anak-anak metal yang ingin menjadikan Islam sebagai pondasi mereka dalam bermusik. Apalagi, ketika sebagian uang dari setiap lembar tiket yang terjual dalam konser musik itu disumbangkan untuk perjuangan rakyat Palestina.




Subhanallah. Siapa nyana, dibalik ruang yang pengap, masih ada yang menyerukan kebajikan, kendati dengan cara mereka sendiri. Tak terbayangkan, di sebuah komunitas underground, ada pelita yang menerangi jiwa-jiwa yang gelap. Ketika Islam menjadi nafas hidupnya, militansi mereka tak kalah dahsyat dengan aktivis harokah yang ada. Insya Allah. (dipaok, dicolong dari tulisan Adhes Satria. Sabili)

Interview dengan Adian Husaini

Saya mulai tahu tulisan-tulisan beliau ketika sering dimuat di majalah Suara Hidayatullah. Dari awal saya sudah mengira bahwa beliau punya spesialisasi dakwah di bidang pemikiran. Diluar itu, ternyata beliau juga menulis buku dengan cukup produktif. Beberapa judul yang menurut saya buku tersebut luar biasa adalah “Penyesatan Opini”, “Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam”, dan “Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran”. Beliau juga menulis catatan akhir pekan yang selalu update di dalam situsnya. Menarik, karena pengalaman dan wawasan beliau sangat luas.

 Nah, suatu hari saya menghampiri beliau selesai suatu kajian tentang peradaban Barat. Saya mencoba untuk berkenalan dan meminta kontaknya. Sambil sekalian waktu itu saya keluarkan beberapa eksemplar Sa’i zine untuk saya berikan kepada beliau. Syukur-syukur kalo dibaca. Kalo enggak, pasti karena nggak sempet, bukan nggak mau J.Beberapa hari kemudian saya kirim pertanyaan-pertanyaan ini via email, lalu saya sms beliau agar beliau menyempatkan diri untuk menjawabnya. Diluar dugaan, beberapa jam kemudian email masuk sudah berisi jawaban. Itu yang saya ingin bagikan sekarang.

 

Assalamualaikum wrwb. Saya dari SA’I ‘zine, ingin ngobrol-ngobrol sama antum, ust. Terutama tentang permasalahan media dan umat Islam. Menurut antum, seberapa penting peran media dalam dakwah? Selama ini sampai dimana posisi kita dalam memanfaatkan media sebagai sarana untuk berdakwah?

Jawab: Kita telah banyak memanfaatkannya. Tapi, masih belum benar-benar optimal. Untuk itu, perlu orang-orang yang profesional dalam media, sekaligus menguasai pemikiran Islam dengan baik, dan berjiwa dakwah yang tinggi. Di sini masih ada kesenjangan. pelaku dan praktisi media bnanyak yang tidak memahami pemikiran Islam dengan baik, begitu juga sebaliknya, banyak mubaligh, ulama, atau ustad yang tidak memahami ilmu media dan tidak punya ketrampilan memainkan media dengan baik. ini yang perlu diwujudkan.

 

Selama ini saya merasa kajian-kajian media (terutama disiplin-disiplin ilmu di perguruan tinggi) banyak berbasis ilmu sosial yang sekuler. Apakah karena sebab itu akhirnya hubungan media dengan Islam tidak begitu dekat, atau dengan kata lain, umat Islam tidak terlalu berpikir untuk melek media?

Jawab: Tentu saja pada semua bidang ilmu sekarang Barat yang sekuler dominan. karena itulah diperlukan ilomuwan dan praktisi media yang memahami Islam dengan baik, sehingga dia bisa mengislamkan ilmu media massa.

 

Yahudi sendiri dalam protokol of zion-nya pernah mengatakan bahwa target utama mereka adalah menguasai media massa di dunia. Hasilnya, seperti yang kita tahu, begitu banyak media massa international telah berhasil di kuasai Yahudi. Masihkah ada harapan bagi kita untuk mengungguli mereka? Usaha apa yang bisa kita lakukan untuk itu?

Jawab: Yahudi berkuasa di sektor ini karena kerja keras. Umat Islam juga bisa, kalau mau kerja keras. Media massa sekarang bisa eksis bukan hanya terkait dengan ilmu media saja, tetapi juga terkait dengan mentalitas masyarakat dan perekonomian nasional/global. sektor media perlu penanganan yang simultan. karena media bisa hidup kalau didukung oleh umat Islam. untuk itu perlu ada kaitan erat antara berbagai sektor. sekarang, di era informasi yang sangat terbuka, media internet/HP sangat terbuka untuk digunakan sebagai media dakwah yang sangat canggih. Yang masih berat bagi kita adalah TV. tapi, ini juga akan sangat mungkin kita masuki jika ada dukungan yang kuat dari kaum Muslim dari berbagai sektor. Insyaallah tidak lama lagi, kita akan bisa masuk ke sini.

 

Bagaimana dengan media internet, ust? Seberapa efektif penggunaan internet (blog, fesbuk, e-mail) sebagai media dakwah?

Jawab: Tentu saja, sangat potensial untuk digunakan sebagai media dakwah. sekali lagi, hyang diperlukan saat ini, utamanya adalah SDM yang menguasai teknologi informasi dan sekaligus pemikiran Islam, punya ketremapilan media yang tinggi, sehingga dia dapat mengolah informasi dengan baik.

 

Menurut antum, mungkinkah media internet suatu saat nanti menggantikan peran media cetak?

Jawab: Media internet jelas berdqampak besar terhadap media cetak. Ini sudah terjadi. tetapi tidak akan mengganti8kan sepenuhnya, karena masing-masing punya keunggulan. media cetak lebih mudah dan nyaman untuk dibaca. di Barat pun, media cetak tetap terbit, sekalipun didukung oleh internet.

 

Saya pernah membayangkan kelak umat Islam punya stasiun televisi sendiri J. Lalu saya berpikir tentang biayanya sangat besar dan juga sumber biaya tersebut melalui iklan-iklan. Sedangkan kita tahu sendiri iklan-iklan di tv kita sehari-hari punya banyak dampak negatif. Lalu bagaimana cara tv itu bertahan tanpa iklan? Mungkinkah yang beriklan hanya perusahaan yang bernuansa Islami saja? (pertanyaan awam ya? J)

Jawab: Ini tantangan besar. Ini ada kaitannya dengan gerakan pe,mberdayaan potensi ekonomi umat islam sebagai konsumen. banyak produsen yang sekarang non-muslim atau yang sekuler. kalau konsumen kita berdayakan secara Islami, maka mereka yang akan menentukan sikap terhadap suatu produk. jadi, TV Islam akan hidup bersamaan dengan program pemberdayaan konsumen Muslim. Kalau konsumen MUslim tidak mau membeli produk-produk yang pemiliknya tidak bersahabat dengan Islam -- termasuk dengan media Islam -- maka produsen itu akan terpaksa menghidupi juga TV Islam.

 

Saya pernah mendengar bahwa Ulil Abshar sedang membentuk semacam organisasi pers/wartawan liberal, ya? Bagaimana itu, ust? Saya sendiri kurang tahu berita itu? Bisa jelaskan? Lalu bagaimana antum dkk menyikapi ini?

Jawab: Maaf saya juga kurang mendalam dalam memahami ini. hanya baca sekilas.

 

Bagaimana kondisi media massa negeri ini sekarang dibandingkan dengan kondisi 20 tahun yang lalu? (tentang pandangan-pandangan mereka thd Islam, keliberalan mereka, dll)

Jawab: Banyak media yang masih tergantung pada iklan yang dikeluarkan oleh Biro Iklan atau produisen yang non-Muslim atau sekular. Sekarang media sangat tergantung kepada selera pasar yang memuja syahwat. jadi, banyak yang ikut arus. tapi ini juga ada kaitan dengan para praktisi media yang berpikiran sekular/liberal. secara prinsip, tidak banyak berubah. hanya sekjarang jah lebih bebas dan terbuka, karena media hanya bergantunjg kepada pemilik modal.

 

Bisa menyebutkan 5 judul buku terfavorit antum selama ini dan siapa penulisnya?

1. Islam and Secularism (Prof. Naquib al-Attas)

2. Islam at the Crossroads (Muhammad Asad)

3. Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa Hakadza 'Adat al-Quds (Dr. Majid Irsan al-Kilani).

4. Dll, agak susah disebut...

 

The last,...jazakumullah khair, ust. Kapan-kapan disambung lagi.

UNDERSTANDING MEDIA

words: aditya abdurrahman

 Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara terminologi, simpelnya, media adalah perantara untuk berkomunikasi. Sedangkan media massa, lebih sering diartikan sebagai media perantara untuk melakukan komunikasi terhadap suatu massa atau masyarakat yang sangat luas. 

 Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai macam media yang itu semua biasa di kelompokkan dalam 2 kategori saja yaitu; traditional media (media tradisional) dan new media (media baru). Sekedar tahu saja, yang tergolong dalam jenis media tradisional adalah surat kabar, majalah, televisi, dan radio. Sedangkan yang termasuk dalam jenis new media adalah internet. Namun ada yang berpendapat bahwa telepon seluler juga masih tergolong dalam kelompok new media.

 Harold Lasswell, pernah menerangkan tentang model komunikasi yang umum dijadikan pedoman bagi siapa saja yang mempelajari ilmu komunikasi yaitu; Siapa (who), Pesannya apa (says what), Saluran yang digunakan (in what channel), Kepada siapa (to whom), dan Apa dampaknya/pengaruhnya (with what effect).

 

ASPEK KEKUASAAN MEDIA

 Ketika kita berbicara tentang media. Maka tidak akan pernah terlepas dari pembicaraan tentang pengaruh yang dihasilkan oleh media tersebut. Bagaimana media-media massa mempengaruhi kita?

 Secara sadar maupun tidak, seluruh gaya hidup masyarakat telah menjadi bukti atas masuknya pengaruh media pada kehidupan sehari-hari. Karena media memiliki aspek kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa dalam masyarakat. Diantaranya adalah:

 

Menarik dan Mengalihkan Perhatian Publik

 Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi heroik aparat kepolision negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.

 Satu lagi, masih ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih teroris dengan Amrozi dkk yang masih banyak kontroversi soal benar-salahnya? Tidak!!! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.

 

Memberikan Persuasi dan Merubah Opini Publik

 Media mampu memberikan persuasi dan merubah opini serta kepercayaan masyarakat tentang suatu hal. Masyarakat dibuat seolah tercuci otaknya, dan mau mempercayai apa saja yang dikatakan media tersebut. Ketika media mengatakan ‘tidak’, maka publik akan ikut berkata ‘tidak’. Ketika media mengatakan ‘ya’, maka publik pun akan terpengaruh untuk berkata ‘ya’ pula. Di kondisi seperti ini publik adalah audiens pasif yang cenderung lebih robot bodoh yang menyetujui seluruh apa yang diucapkan media. Setiap pesan yang disampaikan oleh media ibaratnya seperti peluru yang ditembakkan menembus otak kita secara langsung.

 Masih ingat pula berita tentang eksekusi Amrozi dkk di penghujung tahun 2008? Saat itu mendadak seluruh media ikut memberitakan tentang isu-isu terorisme. Banyak pula media televisi dan surat kabar yang berusaha membentuk opini publik bahwa Bom Bali dilakukan oleh Amrozi dkk, yang menjadi ‘teroris’ cuma yang beragama Islam dengan jenis aliran tertentu, tersangka ‘teroris’ (Amrozi dkk) adalah orang yang tidak berprikemanusiaan, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, media telah memberitakan itu semua dengan tidak adil. Banyak ratusan fakta memang, yang membuktikan bahwa media massa di negeri ini tidak pernah berpihak pada Islam kecuali hanya untuk profit dan rating saja!

 Kalau kita flashback pada ‘tragedi’ 11 september di gedung WTC, Amerika serikat, kita akan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang saat ini sudah bukan rahasia lagi. Kejanggalan-kejanggalan itu, konon merupakan kebohongan yang ditutup-tutupi oleh intelegen AS. Ketika itu seluruh media, bahkan tidak ada satupun media nasional maupun internasional yang memberikan berbeda tentang ‘tragedi’ tersebut. Semua seragam! Seolah semua memang diberi komando untuk meliputnya dari sudut pandang yang sama. Oleh sebab itulah konspirasi konyol ini berhasil dipahami seluruh dunia sebagai ‘tragedi’, padahal tidak lebih dari penipuan belaka. Walaupun banyak buku-buku dan VCD yang beredar diseluruh dunia pada beberapa bulan kemudian yang mengungkap banyak fakta janggal tentang ‘tragedi’ itu, tapi usaha-usaha tersebut tidak terlalu berarti. Karena mereka harus menghadapi musuh dari media-media raksasa yang itu sangat sulit bagi media kecil mengubah opini yang sudah terdoktrin dalam masyarakat melalui media massa. 

 

Media Mempengaruhi Perilaku

 Di dalam masyarakat, perilaku setiap orang dapat dipengaruhi oleh apa-apa yang ditayangkan di media. Jadi media bukan hanya sebatas mempengaruhi opini publik saja, namun bisa juga membuat orang berubah perilakunya. Sebut saja channel musik yang dulu pernah booming, MTV. Dulu, waktu saya masih duduk dibangku SMP kelas 2, saya inget benar bagaimana gaya hidup remaja berubah menjadi sok ke barat-baratan, nggak gaul kalo nggak tahu band-band pop/rock yang lagi trend ketika itu. Model pakaian dan model rambut juga jadi patokan. Saat ini misalnya, rata-rata mahasiswa kalo ingin dibilang modis dan gaul minimal harus mengikuti perkembangan fashion dan style yang lagi trend ketika itu. Lagi-lagi bentukan media. Yah, untung model rambut saya nggak ikutan gaya polem seperti kebanyakan personel band-band emo.

 Ketika pemilu, para calon yang ingin memenangkan pemilihan mulai melirik berbagai jenis media untuk kampanyenya. Lucu-lucu sih,... kesannya masih awam dan sembarangan. Tapi terbukti, semakin banyak fulus yang dimiliki suatu partai, semakin besar porsi pemakaian media sebagai alat kampanye, semakin mudah menancap dibenak audiens, semakin besar pula pengaruhnya pada perilaku memilih. Yah, kapitalisme lagi nih kayaknya,...yang menang yang duitnya banyak :P

 

Media dapat mengkonstruksi definisi tentang realitas atau menciptakan realitas sendiri.

 Setiap realitas yang kita lihat di media atau yang ditampilkan oleh media kepada kita bukanlah merupakan realitas yang sesungguhnya yang terjadi di dunia nyata (realitas objektif). Bahkan keduanya justru sering bertolak belakang. Sehingga realitas yang kita lihat di media sering disebut sebagai realitas media.

 Masih ingat film Rambo yang seri-nya sampai menyaingi sinetron Tersanjung (dari Rambo I sampe Rambo berapa tuh...lupa). Tokoh yang dibintangi Silvester Stalion ini walau cuma berbekal panah dan pisau aja bisa ngalahin ribuan tentara yang bersenjata lengkap. Seolah ribuan tentara musuh itu blo’on semua, nggak ngerti cara nangkep satu orang itu. Atau ingatkah kita dengan film McGyver yang kita dibuat terkagum-kagum karenanya. Ini orang kok pinter banget. Sayangnya realitas itu cuma ada di layar kaca. Mencoba mencari McGyver yang sesungguhnya? Silahkan cari kalau ada.

 Belum lagi para ibu yang kerjaannya melototi sinetron di televisi dari sejak jam sholat maghrib sampe jam sebelas malam, nyambung terus acaranya. Mereka secara sadar maupun tidak telah dijejali realitas konyol buatan sutradara keluarga Punjabi itu. Ibu-ibu dibuat gila dengan cerita-cerita kampungan yang tidak masuk akal. Setting sinetron-sinetron itu juga stereotype banget. Lokasinya selalu rumah mewah, masuk rumah selalu bersepatu, bermake-up tebal setiap hari dirumah, semua jadi berlogat “lu gue”, penuh konflik sampai tidak ada kesempatan untuk bernafas, belum lagi yang miskin selalu yang digambarkan merana, yang kaya selalu digambarkan powerful, dan puluhan kejanggalan lain pada realitas dalam tayangan sinetron.

 Beberapa tahun terakhir ini tayangan televisi kita dibanjiri satu genre acara konyol lagi, yaitu reality show. Penonton dibuat terharu dan menangis sambil manggut-manggut percaya sepenuhnya setiap kejadian dalam reality show itu nyata tanpa skenario sutradara. Naudzubillah, jangan sampai ada satupun aktivis dakwah yang suka tayangan reality show! Termehek-mehek misalnya, berhasil membuat seluruh pemirsanya menjadi orang gila yang suka menikmati konflik dan aib orang lain. Pemirsa dibuat asyik-asyikan nongkrong didepan tiap episode melihat orang digampar, dicaci maki, dan dijatuhkan martabatnya dimuka umum. Ini acara paling gila yang saya tahu! Selain itu, pernahkah kita menyangka disuatu acara reality show yang mengekspos kemiskinan suatu keluarga, lalu kemudian keluarga tersebut diberi kejutan berupa harta atau hadiah lainnya, jika orang itu tidak menampilkan ekspresi yang dramatis, maka bisa jadi episode itu tidak ditayangkan karena dianggap kurang ‘menggugah’ di hati pemirsa.

 Diatas adalah contoh sedikit dari kasus tak terhingga tentang realitas-realitas konyol buatan televisi. Namun media bisa juga mengkonstruksi definisi tentang realitas yang sebenarnya. Namun setelah definisi itu dikonstruksi, akhirnya realitas itu menjadi menyimpang dari definisi yang sebenarnya. Seperti yang dicontohkan pada poin-poin sebelumnya, misalnya tentang fenomena ‘terorisme’ yang sering jadi bahan pembicaraan media. Ketika di suatu koran menampilkan foto Amrozi dkk sedang tersenyum menjelang hari eksekusi, seenaknya media mencoba mengkait-kaitkan dengan anggapan bahwa mereka bertiga (Amrozi dkk) itu mencoba mengejek, atau mungkin kurang waras karena sudah melakukan kejahatan masih saja bisa tersenyum-senyum didepan orang. Nah, hal itu adalah usaha dari pihak media untuk mengkonstruksi sendiri suatu realitas, yang akhirnya menyimpang dari realitas yang seharusnya atau sebenarnya terjadi. Coba jika dulu media sempat menanyakan mengapa mereka bertiga akan dihukum mati tapi kok malah tersenyum-senyum. Pasti jawabannya berbeda dengan apa yang media selama ini kira.

 Aspek-aspek yang berkaitan dengan kuasa media ini seharusnya bisa kita tandingi dengan semangat jihad yang tinggi dalam perang besar yaitu perang pemikiran. Umat Islam seharusnya memiliki cara-cara tersendiri yang lebih bijak dalam memanfaatkan media untuk memenangkan agamanya. Bukan cara kotor dan licik yang dipakai oleh para kapitalis dan orang-orang Barat. Umat Islam memiliki Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman. Mari kita bangun dan warnai media kita dengan itu! (aa)

Antara Media Massa dan Yahudi

Topik tentang media massa di dunia serta kaitannya dengan Yahudi merupakan topik yang sudah sering kita dengar. Kita bahkan sudah sering tahu stasiun-stasiun televisi mana, koran-koran mana, atau majalah-majalah dan situs-situs mana yang merupakan milik Yahudi. Tapi pernahkah kita mencoba menelaah kembali misi-misi mereka secara langsung mengenai pandangan mereka tentang media massa. Mengungkap langsung apa-apa yang pernah mereka terang-terang katakan hingga mereka bisa-bisanya sukses besar dalam menguasai media massa di dunia. 

 Umat Yahudi yang sering kita dengar dalam Al-Qur’an sebagai umat yang terkutuk itu sebenarnya memiliki obsesi yang sangat besar. Yang ada dibenak mereka selalu tertanam tujuan untuk menguasai dunia dan menghancurkan semua agama. Pernah dengar “Protocols of Learned Elders of Zion”? Kebanyakan pasti tahu...itu adalah dokumen rahasia yang berisi ambisi-ambisi Yahudi Zionis dalam kongres yang mereka adakan di tahun 1895 di Basel, Swiss. Kongres ini dipimpin oleh Theodore Hertzl dan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai bidang semua organisasi Yahudi. Dan sekali lagi, perlu kita ingat, bahwa dalam kongres ini merancang rencana besar untuk menghancurkan agama dan akan membuat seluruh bangsa tunduk di bawah kendali Yahudi! Dan tahukan anda, sebagian besar rencana itu hanya bisa berhasil jika media massa seluruh dunia ada ditangan mereka!!

 Dokumen ini terdiri dari 24 pasal yang sangat dirahasiakan dan (awalnya-red) hanya diketahui oleh para tokoh Zionis peringkat atas saja. Tapi kemudian bocor oleh seorang Perancis yang mencurinya dari seorang tokoh organisasi Freemasonry di Perancis. Dari situlah akhirnya sampai ke tangan pendeta Orthodox di Rusia, diterjemahkan lalu menyebar kemana-mana. Sekarang sudah bukan rahasia lagi namanya. Karena kalau kita tanya ‘mbah Google’ pasti akan langsung dijawab.

 Beberapa misi mereka yang jelas menggunakan media sebagai alat untuk mencapai keberhasilan adalah sebagai berikut:

 ·         Dalam pasal V mereka mengatakan bahwa misi mereka adalah mencemarkan nama para pendeta dan ulama. Agar keduanya dipandang hina oleh publik. Memang disini musuh mereka bukan hanya umat Islam, tapi umat-umat lainnya pula.

 Untuk mewujudkan itu mereka menggunakan media sebagai penyebar opini umum yang bisa menggoyahkan keyakinan-keyakinan para ulama. Mereka terang-terangan akan melakukan aksi yang membuat bobrok mental umat Islam dan umat lainnya. Semua itu agar terjadi kekacauan, konflik, antar umat-umat yang rusak tersebut. Dan akhirnya agar mereka lupa bahwa umat Yahudi semakin kuat menghimpun kekuatan. Ketika itu Yahudi akan dipandang sebagai kaum yang paling ‘stabil’, yang tenang-tenang saja tanpa konflik dan kekacauan. Nah, dari situ target mereka adalah ditunjuk untuk memimpin dunia!!! (What the hell!)...Wallahi! tulisan mereka terlalu jelas dan gamblang untuk saya maknai berbeda.

 ·         Dalam pasal VII, mereka mengatakan lagi,”Agar segala rencana dapat tercapai, maka kita harus mampu membentuk opini masyarakat dunia. Tampaknya hal itu mudah kita capai, karena sarana yang paling efektif telah kita kuasai, yaitu surat kabar yang setiap hari terbit dalam oplah yang besar.”

 Di poin ini mereka terang-terangan sengaja menguasai media massa dunia untuk melancarkan misi-misi mereka. Yang mereka lakukan bukanlah hal yang bodoh, karena memang tidak ada alat lain yang lebih efektif dari media massa dalam menyebarkan ideologi, menyuntikkan gaya hidup, melemahkan akidah, merontokkan semangat jihad, memutarbalikkan fakta, memanipulasi berita, mengubah-ubah definisi tentang Islam seenaknya. Kini tokoh-tokoh mereka telah tersebar diseluruh media massa-media massa raksasa di dunia. Setiap hari, seluruh umat manusia mengkonsumsi setiap kata, setiap kalimat, setiap ideologi yang dibawa oleh media tersebut. Umat Islam lebih banyak yang terlena, tak sadarkan diri, ketika menerima setiap informasi dari media mereka yang dilakukan hanya manggut-manggut. Di Indonesia, siapa yang menyangka pemilik-pemilik saham media massa negeri ini terdapat deretan nama-nama pemain-pemain konspirasi Yahudi. Duit Rupert Murdoch ternyata sudah nyelip di tivi-tivi swasta negeri ini. Media kita, tidak ada satupun yang tidak berkiblat pada media-media Yahudi. Dalam memilih berita, memilih isu, memilih sudut pandang pemberitaan, memilih keberpihakan, memilih cara bertutur, memilih penggunaan kata dan istilah, semuanya acuannya adalah media massa milik Yahudi. Well, saya tidak akan menuliskan satu-persatu kantor berita mana saja yang jelas-jelas milik Yahudi. Tanya saja sama ‘mbah google’ pasti akan dijawab dalam hitungan detik. Itu sudah bukan rahasia lagi.

 ·         Poin ke IX, “Kita harus mampu mengarahkan misi surat kabar, disamping menguasai departemen pendidikan. Karena pendidikan merupakan tonggak terpenting dalam kehidupan yang merdeka. Kini aktivis kita telah mampu menodai masa depan generasi mendatang dan mencemari generasi masa kini dengan pandangan-pandangan yang mengandung unsur merusak citra bangsa.”

 Para Zionis nyebelin itu tahu betul kalau selain institusi media yang harus mereka kuasai, masih ada institusi pendidikan yang memberi porsi besar dalam usaha penyesatan opini. Dalam konteks ini, pendidikan bisa dibilang sebagai media juga. Jika kurikulum-kurikulum pendidikan kita mengacu pada standar mereka, maka persis kondisinya seperti yang sedang terjadi di Indonesia ini. Dulu, ketika saya masih sekolah, seluruh pelajar dicekoki oleh teori-teori Darwin yang saat ini sudah kita sadari bahwa teori itu menggelikan, belum lagi tentang kekonyolan Hukum Kekekalan Energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan energi tidak dapat dimusnahkan,...well, ini apa bedanya sama kekekalan Rabb semesta alam? Belum lagi kita dicekoki hebatnya jasa-jasa Budi Oetomo tanpa tahu misi apa yang ada dibalik semua itu, ditambah lagi pendidikan agama yang dangkal dan cenderung liberal. Bahkan akhir-akhir ini terdengar isu tentang usaha para ‘murid-murid’ Yahudi di Barat sedang memperjuangkan kurikulum pendidikan agama berbasis multikulturalisme (alias pluralisme). Kalo ada yang bilang, “tambah sip aja mereka?”. Maka saya akan jawab, “sip gundulmu!”.

 ·         Pasal XII, “ Dominasi kita harus merambah surat kabar yang membawa misi partai (baca: zionis). Selain itu kita harus mampu mengontrolnya sebelum berita itu diedarkan, agar tidak mengungkap misi kita. Segala berita yang akan disiarkan lewat radio harus melalui pengawasan kita. Buku-buku berbobot harus dikenakan pajak yang tinggi, sedangkan buku murahan tidak dikenakan pajak, agar para sarjana enggan menulis buku.

 Perusahaan Surat Kabar akan kita beli untuk mengimbangi dan menjawab isi surat kabar independen yang lepas dari genggaman kita.”

 Lagi-lagi soal media massa. Usaha untuk mengontrol kantor-kantor berita didunia ini memang saya akui luar biasa. Para pembawa misi zionis yang menyebalkan itu memang sudah tersebar rata diberbagai bidang yang sulit kita (umat Islam) untuk menjangkaunya. Karena kebodohan kita, makanya kita baru sadar sekarang! Satu contoh kongkret keberhasilan mereka mengontrol media massa dunia secara serentak dan seragam adalah ketika pemberitaan ‘tragedi’ WTC. Dalam hitungan detik dan menit, seluruh media memberitakan secara seragam tanpa ada cacat! Sempat ada satu media yang berskala regional di AS yang memberitakan sedikit berbeda, men-shoot gambar kejadian dari sudut pandang yang berbeda, yang memungkinkan terpicunya pertanyaan-pertanyaan janggal, akhirnya juga langsung diralat dan tidak lagi diberitakan dari sisi itu. 

 Bukan hanya itu, pemberitaan tentang sejarah dagelan Holocaust benar-benar menyihir seluruh umat manusia di dunia untuk mengasihani Yahudi sebagai bangsa yang merana dan butuh diberi simpati oleh publik. Walaupun banyak kejanggalan terungkap, namun media-media kecil yang berusaha mengembalikan kebenaran pada tempatnya harus head-to-head bertarung melawan hegemoni media-media raksasa. Bisa ditebak; siapa yang menang?

 Mereka menganggap media-media muslim saat ini tidak terlalu menjadi ancaman besar bagi mereka. Mereka mungkin menganggap media kita masih kelas kroco alias kelas teri yang badannya lebih kurusan lagi. Sama sekali tidak menakutkan bagi mereka. Hal ini juga disebabkan mereka juga mengerti betul bahwa umat Islam itu malas membaca dan sangat alergi menulis buku-buku atau artikel yang bermanfaat. Penulis-penulis handal bisa dihitung dengan jari, yang mereka-mereka itu makin lama makin tua dan tinggal menunggu ajalnya saja tanpa generasi penerus.

 Dari poin-poin Protocol of Zion yang dijabarkan di atas, kita harusnya memahami bahwa urgensi umat Islam untuk memahami peran media dalam dakwah itu sungguh luar biasa besarnya. Orang-orang kita saat ini tidak banyak yang punya minat untuk menekuni bidang kemediaan. Sehingga orang-orang yang ahli dibidang media hanyalah orang-orang yang berbasis keilmuan filsafat dan sejenisnya. Ilmu ini dianggap cuma bisa dilihat dari perspektif sosial saja yang notabene kental dengan kajian filsafat. Ditambah lagi umat ini ketika mendengar kata ‘filsafat’ langsung alerginya kambuh, alias gatal-gatal. Memang ilmu filsafat itu cacat! Tapi saat ini, keilmuan media perlu kita pelajari dari mereka. Tugas kita menguatkan benteng akidah, lalu pelajari ilmu tentang media! Karena generasi selanjutnya membutuhkan aktivis-aktivis dalam bidang media dari kalangan kita, kalangan yang manhaj yang benar. Wallahu a’lam. (aa)

Media Mainstream VS. Media Muslim


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat:6)

 Ayat diatas merupakan dalil yang sangat jelas tentang penyikapan kita terhadap media-media massa ada ada disekitar kita saat ini. Kita sebagai umat Islam sudah diberikan bekal oleh Allah yang berupa rules atau rambu-rambu dalam menyikapi fenomena-fenomena media sejak 14 abad yang lalu. Agar kita waspada. Agar kita tidak dibodohi. Agar kita tidak tersesat. Agar kita tidak begitu saja percaya terhadap berita atau kabar yang dibawa oleh orang-orang fasik.

 Poin utamanya adalah bahwa kita, umat Islam, diperintah untuk meng-kroscek kebenaran dari berita tersebut. Tidak langsung percaya begitu saja. Tapi kita juga perlu tahu sampai pada perihal siapa yang membawa berita tersebut, dan berita apa yang dibawanya.

 Dalam berbagai dalil al-Qur’an dan Hadits serta pendapat para ulama, orang fasik sering dipahami sebagai orang yang terlarang dalam memegang suatu amanah, jabatan atau hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan. Sedangkan profesi sebagai jurnalis atau wartawan di suatu media sangatlah membutuhkan kejujuran dalam menyampaikan kebenaran. Jika orang fasik yang memegang kendali dalam sebagian jurnalis media-media massa, maka sangatlah besar potensinya bagi mereka untuk menyimpangkan kebenaran. Fakta-fakta yang ada bisa dimanipulasi, ditutup-tutupi, direkayasa, demi kepentingan dirinya atau penguasa media.

 Lalu bagaimana jika masyarakat mengkonsumsi kebohongan-kebohongan yang mereka sebut ‘fakta’ itu? Bagaimana jika mayoritas umat Islam di Indonesia ini menelan mentah-mentah berita-berita di media yang setiap hari mereka baca dan tonton di televisi?

 Di dalam Islam, jika kita mau menilik kembali, betapa luar biasanya imam-imam ahli hadits dalam mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits tersebut. Dalam penyeleksian itu mereka memiliki banyak kriteria yang ketat untuk periwayat hadits, sampai akhirnya hadits itu bisa dikategorikan sebagai hadits yang shahih, hasan, dhaif atau maudhu’. Begitu telitinya ulama-ulama kita, sampai dalam suatu riwayat, pernah Imam Bukhari menempuh perjalanan untuk menemui seseorang yang dikabarkan dia meriwayatkan suatu hadits. Ketika sampai pada tempat orang tersebut, sang Imam melihat orang itu memanggil kudanya dengan cara melambai-lambaikan tempat makanan kuda yang kosong seolah-olah kuda tersebut akan diberi makan. Dia melakukan itu untuk ‘menipu’ kuda itu supaya mau memenuhi panggilannya. Apa yang dilakukan oleh Imam Bukhari? Melihat hal tersebut, Imam Bukhari langsung saja meninggalkannya! Hal itu dilakukan karena begitu ketatnya kriteria kredibilitas kejujuran seseorang dalam membawa hadits.

 Sekarang, kalau mau jujur, tidak satupun wartawan/jurnalis media yang mampu memiliki kredibilitas seperti itu! Namun paling tidak, tidak boleh ada wartawan yang melakukan rekayasa terhadap kebenaran! Itu saja sebenarnya belum cukup, perlu juga diantara media-media tersebut memiliki wartawan-wartawan yang memegang teguh prinsip keimanan dan ketaqwaan. Ada semangat jihad yang menggelora untuk menyampaikan apa yang disebut sebagai kebenaran. Tanpa rekayasa. Tanpa kepentingan modal. Tanpa kepentingan politik tertentu. Tanpa niat lain selain karena Allah Ta’ala menyuruhnya berbuat sejujur-jujurnya.

 Oleh karena itu, itulah kenapa, sering saya prihatin melihat minimnya dukungan umat Islam kepada media-media muslim yang jelas-jelas kredibel. Langganan media mainstream seperti koran, majalah, tv kabel, dan lain lain dianggap biasa, sedangkan membeli majalah bulanan milik kantor media muslim terasa berat sekali. Bukankah itu ironis sekali, saudaraku?

 Para wartawan media muslim kita, telah banyak berjasa dalam mencari berita dan informasi. Pernah saya bertanya langsung bagaimana kinerja jurnalis muslim dalam suatu media berlabel Islam di Surabaya. Seorang diantara mereka menjawab bahwa tidak mudah menjadi jurnalis yang punya semangat jihad. Mereka sering mengistikharahi sumber-sumber beritanya agar diberikan petunjuk apabila sumber tersebut salah, kurang menjaga amanah atau kurang qualified maka segeralah ditunjukkan, lalu dibatalkan saja. Mereka juga benar-benar selektif dalam menentukan sumber-sumber yang akan diangkat profilnya. Jangan sampai salah orang. Semua itu mereka lakukan dengan diiringi do’a-do’a dalam setiap solatnya. Subhanallah...pantaskah pekerjaan mereka hanya kita hargai dengan nilai yang murah dan sedikit?

 Mulailah menghitung-hitung porsi dukungan kita terhadap media lebih mengarah ke mana. Apakah selama ini sudah lebih banyak mendukung media muslim atau justru malah mengabaikannya dan merasa nyaman dengan mengkonsumsi media mainstream? Kita sendiri yang tahu, kita sendiri yang mengukur, kita sendiri juga yang mampu mengubahnya. (aa)