SA'I MUSLIM MOVEMENT--Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, media massa mampu menarik dan mengarahkan perhatian publik terhadap isu-isu tertentu yang dipilihnya sendiri. Publik seolah menjadi audiens yang pasif, yang ‘patuh’ dengan segala apa yang diagendakan dalam media massa. Seperti yang baru-baru ini terjadi, pemberitaan di media tentang kasus korupsi yang melilit tokoh-tokoh partai Demokrat belum terselesaikan, tiba-tiba isu tentang pembubaran FPI muncul di media-media massa. Dimana-mana diskursus pembubaran FPI menjadi topik pembicaraan yang hangat gara-gara selalu dimunculkan sebagai headline atau topik utama pemberitaan.
Sebenarnya contoh-contoh yang bisa kita temui sangatlah banyak. Bukan hanya sesekali, tapi mengalihan isu media sudah berkali-kali terjadi jika media memiliki motif kepentingan atau politik terhadap pemberitaan tersebut. Misalnya, sekitar bulan ke 7 tahun 2009, ketika isu mengenai penangkapan Noodin M.Top diangkat kembali ke publik, banyak media-media massa di negeri ini berlomba-lomba membahas berita tentang ‘terorisme’. Berita-berita tentang aksi-aksi ‘heroik’ aparat kepolisian negeri ini menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan isu-isu lain yang sangat mungkin lebih penting posisinya untuk dibahas. Seperti tentang kecurangan-kecurangan dalam pemilu, pilpres, kasus korupsi, dan lain sebagainya yang belum tuntas. Yang terjadi seperti semacam pengalihan perhatian publik terhadap suatu isu atas isu-isu yang lain.
Satu contoh lagi, masihkah ingat tentang konflik di Ambon? Masih ingat seorang yang bernama Tibo, yang telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan fitnah perpecahan umat Islam-Kristen disana, sampai akhirnya berdampak pada pembantaian masal terhadap warga muslim di Ambon? Cobalah ingat-ingat lagi, dan cobalah mengkaitkannya dengan terorisme yang sering dibahas beberapa tahun terakhir. Samakah porsinya?! Samakah porsi berita tentang eksekusi Tibo yang jelas-jelas lebih cocok dibilang teroris dengan pemberitaan hukuman mati bagi Amrozi dkk? Padahal fakta tentang Amrozi dkk sebagai ‘bomber’ masih belum jelas dan banyak kejanggalan, sedangkan Tibo sudah jelas! Ketidaksamaan porsi dalam mengangkat topik tentang terorisme di negeri ini merupakan bukti pengalihan perhatian yang dilakukan oleh media. Isu ‘terorisme’ yang dituduhkan dari pihak Islam lebih diperbanyak dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan dan teror lain yang dilakukan oleh pihak non-muslim.
Isu perlawanan umat Islam terhadap kaum liberal yang saat ini sedang panas dibicarakan merupakan reaksi yang tepat di sebagian masyarakat. Karena masyarakat sudah mampu membaca siapakah yang berperan dibalik isu pembubaran FPI di Indonesia. Kita tahu bahwa rencana busuk para aktivis liberal adalah menghilangkan ‘musuh besar’ mereka yaitu FPI, yang selama ini dianggap penghambat kebebasan mereka untuk bermaksiat.
Maka dari itu, jangan pernah diri kita dibodoh-bodohi oleh media massa. Jadilah audiens yang aktif dan kritis melihat suatu isu pemberitaan. Jangan mudah percaya dengan pemberitaan tentang Islam di media. Karena bisa saja itu semua adalah strategi media yang memiliki kepentingan politik untuk mengalihkan isu-isu di masyarakat.
[Curhat Mingguan ke-24, Abu Hafizh, 25-02-2012, 23:25]
1 comment:
Itulah mengapa suatu saat kita harus memegang media karena dengan media kita mampu mencitrakan balik tentang Islam.
Post a Comment