
Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya apa pentingnya kita mempelajari filsafat. Selain rumit, ada fakta bahwa sejumlah muslim yang belajar filsafat malah jadi anti-tuhan dan anti-agama. Berikut percakapan majalah Al Falah YDSF dengan Dr. Syamsuddin Arif, pakar Filsafat Islam dari International Islamic University Malaysia (IIUM) asal Indonesia. Pria kelahiran Jakarta ini berusaha mendudukkan Filsafat Islam secara proporsional. Berikut petikannya:
Apa manfaat belajar filsafat?
Banyak. Antara lain untuk mengasah daya kritis dan analitis. Sehingga mampu keluar dari fanatik buta. Misalnya ada yang ngomong politik itu kotor. Dengan belajar filsafat, kita tidak akan terima begitu saja. Kita akan teliti secara jernih dan mendalam. Tentu saja ditopang disiplin ilmu terkait seutuhnya.
Orang belajar filsafat akan terus mengejar dengan pertanyaan mengapa. Ia ingin tahu tidak hanya apa dan bagaimana tetapi mengapa suatu perkara atau fenomena itu muncul. Jadi, orang yang memahami filsafat tidak mudah termakan rayuan iklan (tergelak).
Kata orang, filsafat itu rumit dan cenderung menyesatkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, mahasiswa yang mendalami filsafat malah jadi ateis atau justru melecehkan Al Quran dan Rasulullah swt. Tanggapan Anda?
Bagi seorang Muslim, belajar filsafat itu punya dua fungsi. Pertama, membenarkan yang benar (ihqaq al-haqq). Kedua, membatalkan yang batil (ibthal al-bathil). Dan kebenaran yang dimaksud itu terkandung dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
Belajar Filsafat Islam itu seperti Nabi Ibrahim yang ingin tahu bagaimana Allah menghidupkan orang mati. Allah balik bertanya, “Apakah engkau belum percaya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Aku percaya, akan tetapi [aku bertanya] supaya hatiku tentram (mantap).” Jadi, Filsafat itu untuk mengokohkan kebenaran sekaligus menghapus keraguan.
Namun sayang, kini banyak yang keliru mengatakan bahwa kebenaran itu tidak bisa ditemukan, dan hanya bisa dicari atau didekati. Ini jelas perspektif sekuler-liberal yang alergi pada agama. Filsafat sekuler dan liberal itu lahir dari ketegangan antara nilai-nilai agama Kristen dengan nalar. Pada abad ke-16 Masehi, di Eropa terjadi konflik antara pemuka agama Kristen dengan para ilmuwan. Para saintis kala itu menilai doktrin agama Kristen sangat tidak rasional dan sulit dicerna oleh akal sehat.
Pertentangan paling masyhur adalah tentang heliosentris. Dalam Bible, bumi dianggap pusat tata surya (geosentris). Yang menyangkal akan dihukum oleh tokoh-tokoh gereja yang waktu itu memang sangat berkuasa. Tak ayal, beberapa ilmuwan semisal Galileo merasakan hukuman itu.
Apakah Filsafat selalu bertentangan dengan Al Quran?
Tidak ada catatan sejarah bahwa Filsafat Islam itu mempertentangkan wahyu dengan akal. Semua yang tersurat dalam Al Quran sangat rasional. Banyak ayat-ayat Kitabullah yang paralel dengan penemuan ilmiah.
Allah SWT secara eksplisit menyuruh manusia berpikir. Banyak ayat yang bernada tantangan menyelidiki dan merenungi fenomena alam. Misalnya ayat afala ta’qilun ‘Tidakkah kalian berakal (menggunakan akal)?’; afala tatafakkarun ‘Tidakkah kalian mau berpikir?’
Jadi, pertentangan wahyu dan rasio manusia bukanlah masalah utama dalam filsafat Islam. Ini diakui oleh Oliver Leaman, profesor Filsafat dari University of Kentucky (dalam History of Islamic Philosophy, Routledge, 1996, London).
Pertentangan ini merupakan ‘impor’ dari filsafat Kristen. Tak heran jika Tertullian, seorang Bishop (uskup) asal Afrika pernah menyatakan, “Aku percaya justru karena (dogma Kristen) itu tidak masuk diakal (credo quia absurdum)”. Artinya, memang sukar bagi orang Kristen untuk merasionalkan keimanannya. Mereka terpaksa terima saja karena akidahnya sulit dinalar.”
Islam tidaklah demikian. Pikirkan dengan akal sehat secara mendalam, maka kita akan menemukan kebenaran dalam Islam. Kalau ada yang tersesat, mungkin itu ada yang salah dalam niat atau juga proses belajarnya.
Mengapa identitas Filsafat Islam nyaris tergerus oleh Fisafat Liberal?
Semua itu terjadi paska penjajahan negeri-negeri Islam oleh bangsa-bangsa Eropa yang nota bene non-Muslim. Lantas bergulirlah proses de-islamisasi dan sekularisasi pendidikan. Semua kurikulum pendidikan di negeri Islam dijauhkan dari unsur agama. Maka, terjadilah pengenyahan agama. Belajar apapun nggak ada kaitannya dengan agama.
Apa solusinya?
Perlu metodologi pembelajaran filsafat Islam secara utuh dan tuntas. Kita harus menggali turats (kitab rujukan asli) dari pemikiran para filsuf Islam yang berlimpah jumlahnya. Sebutlah karya-karya agung Ibnu Sina, Al Farabi, Imam Al Ghazali, Fakhruddin Ar Razi, dan lain-lain.
Dan untuk itu kita harus punya tradisi ilmu yang kuat. Sumber pustakanya juga harus dari kitab-kitab Islam yang orisinil, bukan saduran atau ringkasan saja. Kalau cuma saduran, mana bisa utuh pemahamannya? Memang, tidak setiap muslim harus belajar Filsafat. Tapi harus ada yang menekuni sebagai fardhu kifayah.
Tapi, sekali lagi, mesti berangkat dari sumber aslinya. Baru kita bisa merumuskan nilai-nilai Filsafat Islam yang komprehensif. Dengan demikian insya Allah kita tidak akan tergerus oleh filsafat Barat yang menggerogoti nilai-nilai esensial Islam.
(di'curi' dari situs YDSF)
No comments:
Post a Comment