Setiap yang berawal pasti berakhir. Setiap langkah itu ada tangganya. Tidak ada ujian tanpa maksud. Yang tampak belum tentu aslinya, hanya kita seringkali salah mengiranya. Jika ada emas yang terbungkus kotoran, tentu orang tidak melihat emas yang ada di dalamnya.Begitu banyak filosofi kehidupan yang didapat dari fenomena-fenomena kehidupan kita. Tidak jarang yang menyejukkan hati, tapi sering juga yang menyesakkan dada. Semua bergantung pada pribadi yang menerimanya. Padahal barang yang didapat adalah barang yang berharga, banyak orang yang menolak karena buruk rupa luarnya atau salah dalam menilainya.
Terkadang kita berada pada posisi yang kuat. Suatu saat kita berada pada posisi yang lemah. Ada orang yang dengan ksatria menghadapi kehidupannya, namun sebagian besar mencoba-coba untuk menghindari ujian, dengan mencari-cari alasan untuk menghindari tanggung jawabnya.
Semua seperti tangga, sarana untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi.
Setiap orang mempunyai tangga yang berbeda. Ada yang tangganya landai, ada yang curam. Ada yang licin, ada yang enak untuk dipijak. Masing-masing tidaklah lebih dari yang lain, kecuali atas Kehendak Allah SWT. Penyikapan yang benar yang akan membawa seseorang pada hasil yang diinginkan Allah SWT. Sehingga ada yang memilih untuk mantap terus melangkah naik menuju anak tangga yang lebih tinggi, namun tidak jarang yang memilih untuk diam di anak tangga tertentu, entah karena merasa nyaman, atau karena putus asa.
Tangga ini, tangga kehidupan ini, bukan untuk dipijak sendiri. Karena itu Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya, yaitu untuk melalui tangga kehidupan bersama. Tangga itu dapat berupa keluarga, organisasi, masyarakat, atau negara.
Tangga ini adalah milik Allah SWT, pun seperti halnya orang yang menapaki tangganya juga milik Allah SWT
No comments:
Post a Comment