Dampak Negatif Reformasi Terhadap Paham Keagamaan

Sudah lazim setiap kondisi membawa sejumlah implikasi terhadap lingkungan di sekitarnya. ‘Iklim tertutup’, misalnya, ada buruk dan ada baiknya. Begitu juga iklim yang ‘terbuka’, ada positif dan tidak kecil negatifnya. Apalagi jika munculnya suatu kondisi, tidak dipersiapkan sebelumnya, maka seringkali apa yang dibayangkan indah sebelumnya berubah menjadi suasana yang mengkhawatirkan. Lain halnya bila perubahan itu memang direncanakan jauh-jauh hari, sehingga segala implikasi negatif memang sudah diprediksi sebelumnya sehingga bisa dilakukan upaya-upaya antisipatif untuk mencegah atau paling tidak meminimalisir ekses yang timbul dari perubahan tersebut. Reformasi di negeri ini tampaknya merupakan suatu perubahan mendadak yang tidak direncanakan oleh seseorang atau sebuah kelompok. Sehingga ekses-ekses negatif yang merupakan konsekuensi dari reformasi tak sempat terfikirkan oleh pencetus-pencetus reformasi, tiba-tiba ia muncul sebagai suatu realita dan fenomena, yang seringkali justru lebih buruk dari kondisi sebelumnya.

Salah satu buah dari reformasi adalah keterbukaan. Setiap orang atau kelompok merasa bebas untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya di tengah alam reformasi ini seperti apapun pendapat itu. Lalu selanjutnya diserahkan ke pasar yang akan merespon ide tersebut, apakah ia diterima lalu mendapatkan dukungan. Atau sebaliknya ditolak sehingga ide itu hanya ibarat angin lalu dan tidak meninggalkan pengaruh. Hal ini berlaku untuk berbagai dataran, seperti politik, budaya, ekonomi, sampai kepada paham keagamaan. Bila kebebasan itu masih dalam dataran politik, barangkali masih dalam kawasan yang dapat diterima, apalagi mengingat munculnya reformasi berangkat dari politik dan kekuasaan. Tetapi bila kebebasan itu telah menerobos rambu-rambu keagamaan dan doktrin-doktrinnya, hal ini akan dapat membahayakan.
Akhir-akhir ini, banyak paham-paham keagamaan yang muncul di masyarakat dengan membawa simbol-simbol Islam. Paham-paham tersebut bila diukur dengan standar Islam yang baku (Al-Qur’an dan Sunnah) jelas-jelas bertentangan dan tidak boleh dibiarkan, karena dapat menyesatkan masyarakat yang masih awam. Sebagian dari paham itu tadinya pada masa orde baru, memang sudah muncul, tetapi tidak menampakkan kegiatannya, karena takut dianggap sebagai faham sesat dan meresahkan masyarakat. Alasan yang terakhir ini dapat mengundang aparat keamanan untuk campur tangan dalam mencegah keresahan masyarakat. Namun ada sebagian ajaran itu dari dulu tidak terdengar sama sekali, mungkin karena sangat rahasia (full secret), tetapi di era keterbukaan ini, dengan menunggangi iklim reformasi, faham-faham itu muncul, mendeklarasikan dirinya dan melaksanakan aktifitasnya dengan sangat terbuka bahkan sebagian diblow-up oleh media massa. Tetapi, pihak-pihak tertentu yang bertanggungjawab menjaga kemurnian ajaran Islam, seperti MUI, ormas-ormas Islam umpamanya, jarang terdengar suaranya dalam merespons faham-faham tersebut. Sehingga tak sedikit umat Islam yang kebingungan, apakah ajaran yang dibawa mereka itu masih tergolong benar atau sudah bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.
Salah satu faham-faham itu ialah aliran Ahmadiyah. Aliran yang lahir pada tahun 1900 ini pada awalnya adalah rekayasa kolonial Inggris yang menjajah India. Dalam ‘Ensiklopedia Agama dan Aliran Modern’ terbitan WAMY, Riyadh, tahun 1989 disebutkan, bahwa target Inggris adalah untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya, khususnya mengenai konsep jihad yang oleh Inggris dirasakan sebagai sumber ancaman dalam agama Islam. Tokoh utama aliran ini ialah Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) yang diyakini pengikutnya sebagai Nabi yang mendapat wahyu dari Allah swt. Dia adalah al-Masih yang dijanjikan Allah. Kenabian (al-Nubuwwah), menurut mereka tidak berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Tetapi kenabian itu berlangsung terus, kapan saja Allah dapat mengutus Rasul-Nya dalam keadaan memaksa. Ghulam Ahmad adalah Nabi yang terbaik. Mereka mendakwakan kitab suci yang diturunkan kepada Ghulam Ahmad di luar al-Qur’an dengan sebuatan ‘al-Kitab al-Mubin’, yang di Indonesia populer dengan sebutan ‘tazkirah’. Kitab ini tak lebih dari pemotongan-pemotongan terhadap ayat al-Qur’an dan merubah-rubah isinya. Ketika umat Islam di Pakistan melakukan perlawanan keras terhadap pengikut Ahmadiyah, akhirnya mereka banyak yang menyingkir ke Inggris –negara induknya- dan mengembangkan ajarannya di sana. Untuk meredam kemarahan umat Islam dan sekaligus sebagai siasat mendekati umat, pimpinan-pimpinan Ahmadiyah merubah sebagian doktrinnya. Kalau tadinya, Ghulam Ahmad diyakini sebagai Nabi, maka sekarang dia diyakini mereka sebagai reformis saja. Akan tetapi, apapun predikat yang disandang oleh Ghulam Ahmad, pasti tidak akan merubah penilaian Ulama dan umat Islam terhadap anggota gerakan ini sebagai orang yang telah keluar dari ajaran pokok Islam. Sejumlah ulama berkaliber internasional yang bermukim di kawasan Asia Selatan itu ikut menghadapi faham ini, seperti Abul Hasan al-Nadawi, Abul A`la al-Maududui, dan ahli-ahli hadits India dan Pakistan.
Di Indonesia, Ahmadiyah sudah dilarang MUI sejak tahun 1980 dan dinyatakan sebagai ajaran sesat dan keluar dari Islam. Tampaknya di masa reformasi ini, ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin mencabut fatwa MUI itu dan menggiring publik opini untuk menganggap Ahmadiyah sebagai bagian dari umat Islam dan perbedaan faham Islam dengan Ahmadiyah hanya soal kecil saja. Oleh karenanya mereka perlu diterima di tengah masyarakat. Apalagi jika benar sinyalemen bahwa ada di antara pejabat tinggi pemerintah sekarang ini yang menganut faham Ahmadiyah.
Akhir-akhir ini sehubungan dengan acara ‘tasyakkuran 75 tahun’ Jema`at Ahmadiyah Indonesia (JAI), Mirza Thahir Ahmad, khalifah IV Ahmadiyah datang ke Indonesia dan menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan oleh International Forum on Islamic Studies (IFIS) yang dipimpin oleh Dawam Rahardjo. Lebih disayangkan lagi adanya upaya untuk menghubungkan antara Ahmadiyah dengan Muhammadiyah. Mirzat dalam kunjungannya ini berhasil menemui Amien Rais yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Presiden Gus Dur. Dalam laporan tabloid Tekad, dikatakan bahwa Ahmadiyah akan menjalin kerjasama positif dengan Muhammadiyah. Sulit dibayangkan secara rasional, mencari titik temu antara Ahmadiyyah dan Muhammadiyah, konon lagi mau menjalin kerjasama. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini dikenal sebagai gerakan anti bid`ah, syirik dan khurafat, bagaimana mungkin bisa bertemu dengan faham yang bukan saja mempelopori bid`ah bahkan mengajarkan kekufuran dan kemurtadan.
Dalam wawancaranya, Mirzat mengatakan bahwa konsep negara dalam Islam lebih dekat dengan negara sekuler sekarang ini, karena menurut dia, Ahmadiyah lebih bisa hidup di Inggris yang sekuler ketimbang di Pakistan yang secara formal sebagai negara Islam. Ini tidak mengherankan. Sebab Inggrislah yang membidani lahirnya faham ini sejak awal. Dan Ahmadiyah memang tidak layak hidup di negara Islam, karena pemerintahan Islam tidak boleh mentolerir faham-faham yang akan merusak ajaran Islam yang murni.
Faham lain yang mulai terdengar di era keterbukaan ini ialah Baha’i. Baha’i sebagai suatu aliran di Timur Tengah memang sudah lama kedengaran. Tetapi di Indonesia, faham ini baru terdengar dalam bulan bulan terakhir ini. Lahir tahun 1844 didalangi oleh sejumlah kekuatan antara lain kolonial Rusia, Yahudi internasional dan Inggris dengan tujuan merusak akidah Islam serta memecahbelah persatuan umat Islam. Karena dengan munculnya faham baru pasti akan menimbulkan pro-kontra di tubuh umat. Yang pro dan kontra akan semakin meruncing sehingga pada saatnya akan menimbulkan konflik. Hal ini sangat menguntungkan bagi kaum kolonial barat. Sekarang ini pengikutnya tersebar di beberapa negara antara lain, yang terbesar ada di Iran, kemudian sebagian kecil di Iraq, Suriah, Libanon, dan Palestina. Pendiri gerakan ini adalah Mirza Ali Muhammad Reza al-Syirazi (1819-1849). Setelah meninggal dia digantikan oleh Mirza Husein `Ali yang digelari al-Baha’. Dari sinilah ajarannya disebut Baha’iyah. Buku karyanya yang dikenal adalah ‘Al-Aqdas’. Ajaran pokoknya antara lain bahwa Mirza Ali adalah al-Bab yang menciptakan segala sesuatu dan dengan ucapannya terjadi segala sesuatu di alam ini. Mereka juga meyakini kebenaran faham hulul dan ittihad (penyatuan antara Tuhan dan makhluk). Angka 19 adalah angka keramat. Mereka mengakui kenabian Budha, Konfuchius, Brahma, Zradasyt dan tokoh-tokoh Persia kuno. Membenarkan penyaliban Nabi Isa. Mengingkari adanya mukjizat para Nabi, Malaikat dan mengingkari adanya syurga dan Neraka. Masih banyak lagi ajaran Baha’i yang jelas-jelas keluar dari Islam.
Sumber ajarannya adalah ramuan dari sejumlah faham dan agama, antara lain : Syi`ah dan turats Persia pra-Islam, Budha, Brahma, Zradasyti, Manu, Mazdak. Juga ada unsur Yahudi, Nasrani dan faham-faham kebatinan lainnya. Di Indonesia faham ini mengklaim punya pengikut di berbagai daerah antara lain di Tasikmalaya dan menuntut agar pemerintah memberi mereka hak untuk tumbuh dan dalam KTP anggotanya agar diizinkan mengisi kolom agama dengan : Baha’i. Disinyalir ada keluarga produser film sinetron populer asal Pakistan adalah aktifis Baha’i.
Jika Ahmadiyah dan Baha’i adalah faham yang diimpor, maka nabi-nabi palsu juga bermunculan di Indonesia. Adalah Lia Aminuddin mengklaim dirinya mendapatkan wahyu dari Jibril melalui mimpi. Dan puteranya adalah al-Masih yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Faham ini mendeklarasikan dirinya sebagai agama ‘Salamullah’. Aliran ini menerima menjadi anggotanya semua penganut agama dan –katanya- mengajarkan hidup damai antar sesama pemeluk agama. Aliran ini mendapat reaksi keras dari umat Islam, namun ada tokoh-tokoh tertentu yang mencoba membela keyakinan Lia Aminuddin yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam.
Meditasi ala Anand Kreshna.
Tak kurang bahayanya bagi ajaran Islam, adalah faham yang akhir-akhir ini dikembangkan oleh Anand Kreshna. Faham ini terbilang baru dari segi baju dan nama, tetapi dari sisi substansi sudah kuno. Pusat aliran ini adalah di India dan pemimpinnya adalah seseorang yang dikenal dengan julukan Baba. Baba ini mempunyai ajaran yang ingin menyatukan semua agama, khususnya Yahudi, Kristen dan Islam. Tampaknya seruan untuk menyatukan tiga agama tersebut adalah sebuah rekayasa Zionis untuk merusak akidah kaum muslimin. Banyak keturunan etnis India di kota-kota besar di Indonesia menganut ajaran Baba ini. Anand Kreshna sendiri terbilang produktif dalam memasarkan ajaran dan faham Baba tersebut. Tak kurang dari tigapuluhan bukunya sudah terbit di Gramedia dan terbilang buku-buku yang laris terjual. Peminat ajaran meditasi ini kebanyakan dari kalangan elit, eksekutif, selebritis yang haus akan ketenangan batin. Tetapi tidak menemukan jalan yang benar melainkan harus menempuh meditasi di bawah bimbingan Anand Kreshna. Banyak dari mereka mengikuti pengajian Kreshna di Paramadina yang menjadi salah satu pos Kreshna.
Ajaran Kreshna bertumpu pada tiga pokok, yaitu : 1. Tuhan adalah aku, Aku adalah Tuhan. 2. Reinkarnasi, 3 Semua agama adalah sama. Dua ajaran pertama merupakan faham yang dianut sekelompok sufi yang sesat pada abad-abad yang silam. Sedangkan ajaran ketiga boleh dibilang baru karena muncul di tengah dominasi Yahudi dalam berbagai sektor kehidupan di dunia kontemporer.
Al-kisah, suatu hari salah satu buku Anand yang berisi ajaran ‘reinkarnasi’ dibedah di rumah ibadah umat Islam, di Masjid Syarif Hidayatullah, Ciputat. Buku dengan judul ‘AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan’ itu dibedah oleh dua orang doktor filsafat, dosen IAIN Jakarta (Komaruddin Hidayat dan Kautsar), ditambah Lia Aminuddin dan Anand sendiri. Ketiga pembicara sepakat menerima dan membenarkan ajaran reinkarnasi yang ditulis oleh Anand dalam buku itu. Orang Islam yang benar imannya pasti akan terusik emosinya dengan pelecehan dan pelesetan Krishna terhadap hokum al-Qur’an. Krishna menulis di halaman 23: "Undang-undang Dasar yang disahkan pada tahun 1945, sudah terasa kadaluwarsa, sudah perlu disempurnakan. Apalagi undang-undang yang sudah berusia sekian abad." Ungkapan ini tidak bisa dipahami selain pelecehan dan penghinaan terhadap Al-Qur’an yang menjadi undang-undang dalam kehidupan seorang muslim. Tapi Anand Krishna dengan leluasa mengembangkan ajaran meditasinya di berbagai tempat, termasuk di Paramadina. Dan hingga saat ini tak terdengar suara yang menantang kesesatan mereka.
Bila diperhatikan aliran-aliran sempalan yang sekarang ini mulai tumbuh di tengah alam kebebasan mempunyai titik temu yang perlu dicermati, yaitu 1. Bersumber dari faham mistisisme-sufi. 2. Ada upaya ke arah menyatukan semua agama dalam faham baru. Kedua unsur ini tak lepas dari pengaruh kuku-kuku Yahudi. Yahudi Zionis berambisi kuat untuk menggabungkan semua agama menjadi satu payung. Arah ini terlihat jelas dalam ajaran Anand Krishna, Baha’i, Lia Aminuddin dan lainnya. Demikian pula muara faham-faham sesat tersebut dari mistisisme sufi yang sejak dulu membuat masalah terus bagi kehidupan ummat Islam dan sikap para Ulama sangat tegas terhadap mereka (khuruj `an al-millah).
Di Indonesia akhir-akhir ini kajian tasawwuf mulai berkembang, setidak-tidaknya dalam dataran media massa. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang menggembirakan dan sama sekali tidak terkait dengan fenomena shahwah islamiyah. Sangat boleh jadi acara-acara ini ditumpangi oleh gerakan tertentu yang memanfaatkan kehausan sebagian masyarakat muslim pada agama. Tujuan mereka adalah untuk semata-mata menanamkan pengkultusan kepada `Ali bin Abi Thalib dan menampakkan rasa permusuhan kepada sahabat-sahabat lainnya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah mentang-mentang adanya keterbukaan dan kebebasan, lantas setiap orang atau kelompok bebas mendeklarasikan fahamnya kendatipun faham itu jelas-jelas menyimpangkan akidah dan ajaran Islam dari sumbernya yang asli. Mereka yang menyebarkan faham-faham aneh itu tidak bisa mengatakan tak ada hubungannya dengan Islam dan ummatnya. Yang mereka jadikan sebagai sasaran adalah kaum Muslimin khususnya yang lemah iman. Dan ajaran-ajaran mereka sedikit banyak menempel-nempel pada Islam atau menggunakan simbol-simbol Islam dengan tujuan buruk yaitu menyimpangkan ajaran Islam yang murni.
Maka dalam kondisi seperti inilah peran MUI justru lebih dirasakan mendesak untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa faham-faham itu adalah sesat dan agar umat islam berhati-hati dan tidak terpengaruh padanya. MUI juga harus mendesak kepada pemerintah untuk melarang penyebaran dan aktifitas faham dan aliran itu. Jika tidak, akan semakin banyak jumlah orang-orang yang tersesat di negeri ini dan ini sedikit banyak merupakan tanggungjawab alim ulama di hari kemudian kelak. Reformasi harus didudukkan pada proporsinya. Bukan mentang-mentang reformasi segala sesuatunya serba boleh dan semua rambu, bebas untuk dilanggar.

TARBIYAH GENERASI RABBANI

Khutbah Jum'at Oleh: Al Sofwah


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Pada hari yang mulia ini, marilah sejenak kita mengingat kebesaran dan keagungan Allah. dan marilah kita bersama meningkatkan ketaqwaan kepadaNya dengan sebenar-benar taqwa. Yaitu berusaha semaksimal mungkin melaksanakan semua perintah-perintahNya, dan sekaligus menjauhi semua larangan-laranganNya. Pada kesempatan ini pula, marilah kita memperbanyak rasa syukur kepada Allah atas karunia yang begitu banyak, dengan satu harapan semoga Allah senantiasa menambah kenikmatan-kenikmatanNYa kepada kita dan penuh berkah.

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita merenungi sebuah hadits dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,


كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang kalian pimpin.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada umatnya, bahwa keberadaan kita di dunia ini berprofesi sebagai murabbi atau pendidik. Setiap kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik orang lain. Seorang kepala keluarga bertanggung jawab mendidik isteri dan anak-anaknya. Seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Seorang guru bertanggung jawab mendidik murid-muridnya, setiap pejabat bertanggung jawab mendidik bawahannya, dan begitulah seterusnya. Pada intinya, semua orang yang adalah murabbi yang memiliki tanggung jawab mendidik orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya. Apabila kita bersungguh-sungguh melaksanakan tugas ini, insya Allah dapat terwujud tatanan kehidupan yang diidam-idamkan di lingkup keluarga maupun masyarakat. Namun sebaliknya, seandainya kita mengabaikan pekerjaan ini, sangat mungkin akan terjadi kerusakan dan kehancuran keluarga ataupun masyarakat. Padahal kita telah mendapatkan amanah dari Allah untuk menjaga mereka semuanya, sebagaiman firmanNya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (Qs At-Tahrim: 6).

Jama’ah sidang Jum’at ‘azzani wa ‘azzakumullah
Ketahuilah, tujuan tarbiyah ialah untuk membentuk pribadi yang cinta Allah dan RasulNya, bersegerah melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan kecintaan kepada Allah, kecuali hanya dengan mengikuti semua tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga akan menghasilkan amaliah keseharian yang mencerminkan akhlak dan pribadi yang mulia dan terpuji tersebut. Allah berfirman,


قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. (Qs Ali Imran: 31).

Oleh karena itu, wajib bagi setiap murabbi mencurahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mensukseskan tarbiyah ini, sekaligus menjauhkan generasi ini dari tarbiyah ala Barat yang hanya memprioritaskan masalah materi dan urusan duniawi semata. Juga menjauhkan dari tarbiyah ala komunis yang melalaikan generasi kita dengan keterkaitannya kepada Allah beserta hukum-hukumNya. Demikian pula harus menjauhkandari model-model tarbiyah lainnya yang jelas merusak dan menyimpang dari tarbiyah Islamiyah yang benar. Ingatlah dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya, Sesungguhnya, Allah pasti akan bertanya kepada setiap penggembala (pemimpin) terhadap apa yang ia pimpin, apakah dia memeliharanya ataukah menyia-nyiakannya? Sampai-sampai seorang laki-laki akan ditanya tentang keluarganya. (Hadits hasan riwayat Nasa`I dari Anas).

Jama’ah sidang Jum’at ‘azzani wa ‘azzamukumullah,
Bukankah kita ingin termasuk dari orang-orang yang mendapatkan berbagai macam fadhilah dan pujian dari Rasulullah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:


فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah! Seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan sebab usahamu, maka sungguh hal itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan seokor unta yang berwarna merah kehitam-hitaman (hewan kebanggaan orang Arab dahulu). (Muttafaqun ‘alaih).

Berdasarkan hadits di atas, maka kita semestinya memiliki keinginan untuk memberikan petunjuk kebenaran kepada para putra-putri kita, anak didik kita, bawahan kita, orang-orang yang menjadi tanggung-jawab kita, agar mereka terhindar dari kesesatan menuju jalan hidayah, sehingga kita akan mendapatkan pahala yang begitu berharga nilainya di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya, Seorang pengajar kebaikan, maka segala sesuatu akan memintakan ampun untuk dirinya sampai ikan-ikan yang ada di lautan. (Shahih riwayat Thabrani).

Jama’ah sidang Jum’at ‘azzani wa ‘azzakumullah,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia telah meninggal, maka semuanya akan terputus kecuali tiga perkara. (Yaitu: ) shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya. (HR Muslim).

Tidakkah terbesit dalam diri kita untuk memiliki anak shalih yang selalu mendo’akan kebaikan bagi kita di dunia dan di akhirat, anak shalih yang selalu menyejukkan ketika diri kita sedang merasakan kegalauan, anak shalih yang membahagiakan kita? Memiliki anak yang shalih merupakan idaman setiap orang tua. Tetapi, usaha mencetak dan membentuk seorang anak menjadi shalih bukanlah pekerjaan mudah, tidak seperti membalikkan kedua telapak tangan. Usaha ini membutuhkan curahan usaha, pikiran, waktu dan harta. Relakah bila melihat anak-anak kita terjerumus ke dalam kubangan maksiat dan kesesatan? Di dunia saja, tidak ada orang tua yang tega menyaksikan anak-anaknya terjebur dalam lilitan api, yang tentunya juga tidak rela bila menyaksikan anak-anaknya nanti dijerumuskan ke dalam kobaran api neraka yang dahsyat!? Na’udzubillah min dzalik.

Lihatlah fenomena yang nampak sekarang ini. Betapa sedikitnya orang tua yang betul-betul berusaha mendidik putra-putrinya dengan Tarbiyah Islamiyah. Yang terjadi saat ini, para orang tua lebih bersemangat memberikan pendidikan umum daripada pendidikan secara Islam. Seakan mereka memiliki persangkaan, jika telah berhasil memberikan pendidikan tinggi dengan mendapatkan gelar atau jabatan tinggi, berarti ia telah berhasil dan sukses mendidik dan memberi tarbiyah kepada anak-anaknya.

Betapa sedikitnya para pendidik di lembaga-lembaga pendidikan yang berusaha sekuat tenaga mengentaskan anak-anak didiknya dari kegelapan menuju jalan kebaikan, bahkan realita membuktikan yang sebaliknya, yaitu pendidikan ala kadarnya saja tanpa dibarengi dengan kesemangatan kerja. Bagaimana mungkin mereka mau memberikan pendidikan yang benar, bila mereka sendiri masih bergelimang dengan berbagai macam dosa dan kemaksiatan. Atau mungkin sebagian mereka telah mengarahkan anak-anak didiknya ke jalan yang baik, namun hal ini tidak dibarengi dengan pengamalan bagi dirinya sendiri terlebih dahulu? Ingatlah firman Allah:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Qs Ash-Shaf: 2,3).

Mayoritas orang tua masih terpedaya dengan keyakinan semu, bahwa semakin tinggi jenjang sekolah yang diraih akan menghasilkan duniawi yang berlebih. Semakin banyak title yang didapat, maka kebahagiaan dunia ada dalam genggaman. Itulah tarbiyah yang hanya memprioritaskan masalah materi semata, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek keluhuran budi pekerti dan akhlak islami. Mereka lalai, bahwa harta dan kedudukan bukanlah segala-segalanya dalam kehidupan. Justru hati dan keimananlah yang merupakan pondasi kebahagian dunia. Dengan ketentraman hati dan kekuatan keimanan, dunia akan terasa lebih luas dan menyenangkan. Sebaliknya, dengan egoisnya hati dan minimnya keimanan, maka dunia akan terasa sempit dan menyesakkan.


كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia bagaikan orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan. (Bukhari)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلى اللهُ عَلَيْه وسَلمَ تَسْليْمًا كَثيْرًا

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Dalam khutbah yang kedua ini, perlu kami sampaikan ringkasan khutbah pertama. Intinya, jika kita ingin memiliki generasi yang baik atau lebih baik dari generasi sekarang ini, maka kuncinya terletak dalam masalah tarbiyah. Dan sebaik-baik generasi yang wajib kita jadikan contoh, yaitu generasi para sahabat, kemudian para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, seperti telah disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya dan setelahnya.

Oleh karena itu, marilah kita becermin kepada mereka yang telah mendapatkan pujian dari Allah dan RasulNya. Mereka adalah generasi yang telah menampilkan perilaku keseharian begitu menakjubkan. Dan mereka, juga telah mampu menguasai dunia. Semua itu disebabkan bagusnya tarbiyah yang diterapkan Rasulullah kepada mereka.

Kami tegaskan sekali lagi, bahwa tujuan Tarbiyah Islamiyah ialah membentuk pribadi-pribadi yang luhur dalam hal aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, adab, da’wah dan amaliah yang sesuai dengan ajaran Islam yang benar, serta jauh dari paham-paham sesat, syirik, khurafat, bid’ah dan maksiat.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Menyaksikan realita sekarang ini, kami menggugah khususnya kepada diri pribadi, dan umumnya kepada jama’ah sekalian, marilah kita bina, kita bimbing dan kita didik putra-putri kita dengan pembinaan yang benar sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jama’ah siding Jum’at hadaniyallahu waiyakum jami’an,
Ketahuilah, bahwa tarbiyah generasi menuju generasi Rabbani yang berilmu, mampu beramal dan berdakwah, serta memahami Sang Pencipta dan hukum-hukumNya, merupakan bagian dari dakwah menuju Allah, sebagaimana firmanNya,


ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik.” (Qs An-Nahl: 125)

Yang dimaksud dengan hikmah ialah dengan ilmu. Yang dimaksud dengan mau’zhah hasanan ialah nasihat yang baik tanpa ada jalan kekerasan yang menyimpang dari syari’at.

Semoga kita semua termasuk pendidik yang sukses dalam memberikan tarbiyah dan selalu dibimbing Allah dalam mendidik keluarga maupun masyarakat. Sehingga kita mampu melahirkan generasi Rabbani yang senantiasa menghabiskan hidupnya di jalan Allah. Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين
وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا لله رَب الْعَالَميْنَ.

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M.

Menyikapi Musibah

Khutbah Jum'at Oleh: Izzuddin Abdul Majid, Lc. 

Musibah banjirdakwatuna.com -Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahi ladzi kholaqo kulla syaiin faqoddarohu taqdiro wajarot al umuru ‘ala ma yasya-u hikmatan watadbiro walillahi mulkussamawati walardli wailahi yurja’ul amru kulluhu walan tajida mindunihi waliyyan wala nashiro waasyhadu al lailaha illallah lahul mulku walahul hamdu wakanallahu bikulli syaiin qodiro waasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu arsalahu baina yadai ssa’ati basyiran wanazdira wada’iyan ila llahi biizdnihi wasirajan munira shallallahu ‘alaihi wa’la ‘alihi waashhabihi waatba’ihim wasallama tasliman katsiro. Amma ba’du

Faya ibadallah, uusikum wanafsi bitaqwallah watha’atihi la’allakum tuflikum.

Hadirin jam’ah shalat jum’ah rahimakumullah.

Secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa pada dirinya, musibah dalam arti suatu kejadian yang tidak menyenangkan, musibah yang menyusahkan atau menyakitkan, baik secara fisik maupun mental.

Yang diinginkan oleh setiap orang adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, melegakan dan sebagainya.

Bagi seorang mukmin, musibah yang terjadi dan menimpa dirinya di pandangnya sebagai ujian hidup. Maka dibalik ujian itulah yang perlu direnungkan, apa hikmah di balik ujian itu?

Karena seorang mukmin dengan konsepsi keimanannya akan mampu memandang persoalan dengan sudut pandang yang berbeda dengan umumnya manusia. Baginya ukuran baik atau buruknya sesuatu, benar atau salah, suka dan dukanya sesuatu semua dikembalikan nilainya kepada Allah swt.

Hal inilah yang menjadikan seoarang mukmin itu senantiasa berpikir positif dan optimis dalam mengarungi kehidupannya, sekalipun harus menghadapi berbagai ujian, atau kenyataan paling pahit dalam hidupnya, ia tidak akan mudah patah dan berputus asa . Karena ia yakin bahwa setiap kejadian pastilah sudah dalam kehendak dan takdir Allah swt.

” Katakan tidak akan menimpa kepada kita suatu musibah apaun kecuali apa-apa yang telah di ditetapkan oleh Allah swt”

Maka tepatlah apa yang di sabdakan Nabi saw :

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin bahwa semua urusannya baik, yang demikaian itu tidak terjadi pada siapapun, kecuali untuk orang mukmin, jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan bersyukurlah ia maka adalah kebaikan baginya, dan jika menimpanya sesuatu yang menyusahkan bersabarlah ia maka adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim )

Hadist ini dapat menjadi landasan paradigma berpikir seorang mukmin sehingga ia senantiasa berada pada jalan kebenaran, ia selalu memiliki pandangan yang lurus kedepan, pandangannya kuat dan mendasar, luas menjangkau dan seimbang dalam mensikapi segala sesuatunya, dengan demikian ia akan memiliki kesiapan secara mental, pemikiran, lahir dan batin dalam menghadapi realita dan berbagai kemungkinan yang akan menimpa di dalam hidupnya.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.

untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan firman Allah swt. yang berbicara tentang perspektif musibah:

” Tidak ada suatu musibah apapun di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis didalam Kitab (Lauhil Mahfuzd) sebelum Kami menciptakannya. Sesunggunya yang demikan itu adalah mudah bagi Allah, (Kami jelaskan yang demkian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu . Dan Allah tidak menyukai orang sombong dan lagi membanggakan diri.” ( QS. Al-hadid . 22-23 )

Di dalam ayat lainnya Allah pun meytebutkan yang artinya :

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.“

Dari kedua surat tersebut diatas dapatlah kita fahami bahwa musibah dalam bentuk apapun tidak mungkin terjadi dan menimpa pada siapapun, kecuali telah terencana dalam ilmu Allah bahkan telah ditetapkan pula dilauhil mahfudz, maka tidak akan pernah terjadi musibah yang salah sasaran, maka musibah apapun yang menimpa seorang mukmin akan difahami oleh seorang mukmim sebagai takdir dan qodho-Nya.

Yang paling penting bagi manusia adalah mengimani segala keputusan dan ketentuan yang telah terjadi karena kesemuanya terjadi tidaklah terlepas dari ” Kebijakan dan Keadilan Allah swt.”

Manusia telah biberi wilayah otoritasnya dalam bentuk kebebasan berfikir, berusaha, beramal untuk menjawab seluruh tantangan hidupnya, mencapai apa yang diinginkannya, menghindari apa yang tidak diinginkannya.

Allah juga telah memberinya seperangkat alat dan modal besar, berupa akal, hati, perasaan dan panca indra, Allahpun telah memberinya petunjuk berupa kitab suci yang telah di jelaskan oleh Nabi-Nya, dengan petunjuk ini seharusnya manusia mampu menjalani kehidupannya dengan sempurna.

Allah telah menundukkan apa yang ada di bumi, untuk menjadi sarana hidup dan kehidupan bagi manusia. Manusia diberi kesempatan untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya apa yang ada di bumi tersebut sebagai bagian kesenangan hidup dan kehidupannya, begitu sempurnanya Allah memberi kenikmatan kepada manusia.

Maka ketika sebuah musibah yang tidak menyenangkan terjadi seharusnya manusia bertanya, mengapa hal ini terjadi ? apa sebab terjadinya musibah yang demikian ini?.

Inilah bentuk- bentuk dan cara Allah swt. memberi ibtila atau ujian kepada manusia. Dengan ujian ini Allah ingin membedakan siapa manusia yang benar-benar beriman dengan orang yang yang benar-benar kafir kepada-Nya.

Dari ujian inilah nantinya Allah akan membedakan siapa di antara manusia yang paling berkualitas keimanan dan amal, bersyukur atas nikmat, istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya atau kufur atas nikmat-Nya dan berputus asa atas cobaan yang menimpanya..

Dengan iman kepada Taqdir Allah, Allah akan membuka pintu hidayah menuju keridhoan-Nya.

Di akhirat nanti Allah akan pisahkan siapa yang termasuk “ahlul yamin” dan siapa yang termasuk “ahlus syimal”, untuk kemudian dibalas dengan surga atau neraka-Nya.

Nabi Ibrahim dipilih oleh Allah swt sebagai pemimpin bagi ummat manusia karena kesempurnaannya dalam mensikapi segala bentuk ujian . Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim di uji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan ) lalu Ibrahim dengan sempurna menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata : ” (dan saya mohon juga) ya Allah dari anak keturunan ku, Allah berfirman:” Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang yang dhalim.” (QS: Al baqoroh. 124-125)

Oleh karenanya tidak ada alasan bagi orang-orang beriman untuk lari atau menghindar dari ujian dan cobaan dalam hidupnya, tidak ada kamus putus asa dalam menghadapi segala macam ujian, karena ujian itu ternyata merupakan cara Allah untuk meningkatkan kualitas orang-orang beriman.

Bahkan ujian yang Allah berikan pada manusia sebagiannya merupakan cara Allah memberi ampunan pada orang-oarang yang sabar dalam menerima cobaan-Nya.

Adapun mengapa Allah swt. menimpakan musibah sementara manusia tidak ada yang menginginkan musibah itu, maka disinilah Allah swt. ingin menunjukkan kekuasaann-Nya yang mutlak, tidak ada seorang pun yang dapat mendekte kehendak-Nya. Ia Maha kuasa atas segala suatu, selain juga Allah ingin memberikan pelajaran pada orang yang mau berpikir tentang sebab terjadinya musibah dan hikmah dibalik musibah tersebut.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah

Cobalah sejenak kita renungkan tentang sebab-sebab bencana dan musibah yang terjadi di negeri kita, adakah kedzaliman Allah dibalik musibah itu ? Ataukah ulah manusia dan kejahatan mereka yang menyebabkan terjadinya musibah tersebut?

Untuk itu marilah kita jadikan seluruh musibah yang menimpa diri kita, keluarga kita atau bangsa kita ini sebagai:

1. Pengingatan agar kita tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya musibah dan bencana yang pernah menimpa umat terdahulu.
2. Sarana instropeksi bagi kita untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu (musyrik), tidak sombong dan merasa aman dari azab Allah.
3. Upaya mendekatkan diri dan tawakkal kita kapada-Nya.
4. Upaya meningkatkan kualitas iman, amal dan taqwa kita untuk mendapatkan ampunan dan surga-Nya.

Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah

Marilah kita jadikan isi khutbah singkat ini sebagai, peringatan, pealajaran, agar kita semakin beriman pada taqdir Allah, semakin yakin dan optimis, semakin yakin dan sabar, berserah diri dan bertawakkal kepada-Nya.

Semoga kita senantiasa mendapat lindungan dari Allah swt. dan terhindar dari segala macam musibah, fitnah dan mara bahaya.

Semoga musibah yang pernah menimpa kita dan saudara kita menjadi cara Allah mengampuni dosa-dosa kita semua, dan menggantinya dengan ampunan, pahala dan surgan-Nya amin.

Barakallahu li walakum filqur’anil ‘dhim ……. []

http://www.dakwatuna.com

MENDIDIK ANAK TAAT SYARIAH

Oleh: Ummu Azkiya 

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”

Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. []

Tips :
Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah
1. Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.
2. Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
3. Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
4. Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
5. Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal       buruknya.
6. Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
7. Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.
8. Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.
9. Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam. []

Al Waie edisi 64

Hakekat dan Kedudukan Tauhid

Oleh: Abu Uzair Boris Tanesia 

Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang merupakan dasar agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan Alloh. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi tiga, berikut penjelasannya.

Mengesakan Alloh dalam Rububiyah-Nya

Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Alloh dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Alloh “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).“ (Ath-Thur: 35-36)

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Alloh, “Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89). Dan yang amat sangat menyedihkan adalah kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang menganggap bahwa seseorang sudah dikatakan beragama Islam jika telah memiliki keyakinan seperti ini. Wallohul musta’an.

Mengesakan Alloh Dalam Uluhiyah-Nya

Maksudnya adalah kita mengesakan Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Alloh mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

Mengesakan Alloh Dalam Nama dan Sifat-Nya

Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna). Sebagaimana firman-Nya “Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.” (Al-Hasyr: 24)

Seseorang baru dapat dikatakan seorang muslim yang tulen jika telah mengesakan Alloh dan tidak berbuat syirik dalam ketiga hal tersebut di atas. Barangsiapa yang menyekutukan Alloh (berbuat syirik) dalam salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia bukan muslim tulen tetapi dia adalah seorang musyrik.

Kedudukan Tauhid

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan Tauhid Uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan sebagainya.

Tauhid Adalah Tujuan Penciptaan Manusia

Alloh berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56) maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Alloh dalam segala macam bentuk ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, seorang sahabat dan ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh saja. Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Alloh “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian.” (Al Anbiya: 16-17). “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun: 115)

Tauhid Adalah Tujuan Diutusnya Para Rosul

Alloh berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh, dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36). Makna dari ayat ini adalah bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam diutus oleh Alloh untuk mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak memepersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah “Sudahkah kita memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam untuk beribadah hanya kepada Alloh semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh terhadap seruan Rosululloh ini?” Tanyakanlah hal ini pada masing-masing kita dan jujurlah…

Tauhid Merupakan Perintah Alloh yang Paling Utama dan Pertama

Alloh berfirman, “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa: 36). Dalam ayat ini Alloh menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia, namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya kepada Alloh semata.

Itulah hakekat dan kedudukan tauhid di agama kita, dan setelah kita mengetahui besarnya hal ini akankah kita tetap bersikap acuh tak acuh untuk mempelajarinya?

Penulis: Abu Uzair Boris Tanesia
Artikel www.muslim.or.id